"Sometimes the past is something you just can't let go of.

Sometimes the past is something we'll do anything to forget.

And sometimes we learn something new about the past that changes everything we know about the present."

-Grey's Anatomy

-.-.-.-

LIMA BELAS

Kiss the Rain gubahan Yiruma memenuhi Aula ruang musik KHS. Tsunade berdiri dengan tangan terlipat di depan pintu, matanya menatap sosok yang tengah menarikan jari jemarinya di Grand Piano.

"Sasuke kecelakaan." Sosok berambut hitam kecokelatan yang dikuncir satu itu tidak memelankan lantunan melodinya sedikitpun. Tsunade menghela nafas panjang, langkahnya berat menuju di pemain piano.

"Itachi Uchiha, aku bicara denganmu." Ucapan Tsunade terdengar seperti sebuah ancaman dingin. Itachi berhenti sebentar, mengambil jeda agak lama pada preludenya, perlahan-lahan melodi itu menjadi semakin pelan, dan berhenti. Itachi mengerjapkan mata hitamnya, perhatiaannya masih tertuju pada barisan not balok di hadapannya.

"Aku tahu." Itachi bangkit dari tempat duduk, menutup Grand Piano itu. "aku sudah dengar soal kecelakaannya dari Naruto."

"Lalu?" Tsunade memicingkan mata mengikuti putra tertua keluarga Uchiha itu. Itachi melayangkan sejenak pandangannya, mata hitamnya menyapu Aula musik. Tangannya menyisir saksophone yang terpajang rapi di meja.

"Sudah lama aku tak memainkan ini." Alunan nada kembali terdengar begitu Itachi menempelkan bibirnya di alat musik aerophone itu. Bukan pertama kalinya Tsunade melihat kemahiran Itachi yang dikenal mampu memaikan hampir segala macam alat musik itu. Uchiha Itachi yang legendaris bukanlah anak muda biasa, semenjak ia menginjakkan kaki di Konoha ini.

"Bagaimana dengan Sakura?" Itachi melepaskan alat musik itu, kali ini tangannya membuka-buka buku kumpulan lagu yang terletak di meja tak jauh dari saksophone.

"Yamanaka barusan mengabariku bahwa saat ini ia baik-baik saja. Tch, sampai kapan kau mau bersikap seperti ini?" Itachi berhenti membolak-balik halaman buku itu, keningnya berkerut. "kau tidak datang mengetuk pintuku pagi-pagi hanya untuk mendengarkanmu bermain, Uchiha."

Itachi menghela nafas, menegakkan badannya. "Kau tahu kenapa aku melakukan ini, Tsunade-sama."

Pukulan keras menghantam meja di dekat Tsunade, kepala sekolah itu terlihat marah pada sosok yang memunggunginya.

"DIA ADIKMU, ITACHI! Kau membahayakannnya seperti ini!" Kepalan tangan Tsuande makin mengerat. "Sasuke dan Sakura, mereka di bawah tanggungjawabku sekarang! Apapun kegilaan yang tengah kau lakukan, kau tidak boleh membahayakan mereka!"

Itachi masih diam membeku.

"Menghilang begitu saja, mengabaikan tanggungjawabmu sebagai wali Sakura, membahayakan Sasuke dan perusahaan kalian! Apa yang sebenarnya tengah kau lakukan, Itachi?! Aku menghubungimu belasan kali! Mikoto dan Fugaku akan kecewa dengan sikapmu kalau seperti ini terus!"

Petir menyambar di luar sana, mengirimkan siluet Itachi Uchiha yang kurus dan tampak lelah.

"Tsunade-sama…" Itachi menatap langit yang masih meneteskan hujan di luar sana. "waktuku sudah hampir habis…"

-.-.-.-

"Kau sudah bangun?" Sakura mengerjapkan matanya sekali lagi, memastikan sosok yang tengah bertanya padanya bukan seseorang yang hatinya rindukan saat ini. Bukan, sosok itu tidak berambut dan bermata hitam.

"Sasori-senpai…" Sasori menarik kursi mendekat, duduk di samping ranjang Sakura.

"Ino menghubungiku, aku langsung ke sini."

"Maaf merepotkan."

"Tidak apa…" Tangan Sasori mengepal, rasanya semakin susah untuk menahan diri agar tidak menyentuh tangan Sakura yang terbaring di atas kasur. "Kata Dokter, kau harus minum obatmu dengan teratur. Kalau tidak kondisimu akan memburuk lagi."

Sakura tersenyum sayu menanggapinya. Matanya berpindah dari sosok Sasori, mengintari ruangan. "Mana Ino?"

Dalam hatinya, Sasori tahu bukan Yamanaka yang dicari Sakura. Saat kau terbaring sakit di Rumah Sakit, siapa sosok yang paling kau inginkan untuk ada di dekatmu ketika kau membuka matamu?

Sosok yang kau cintai.

"Yamanaka sedang keluar. Aku akan berjaga di sini sampai dia kembali."

"Tidak usah senpai, aku bisa sendi-" Sakura terdiam. Tangan Sasori menggenggam tangannya di tempat tidur. Mata Sakura perlahan memandang kembali tepat ke kedua mata Sasori.

"Aku mengkhawatirkanmu, Sakura." Sakura bisa merasakan dirinya menahan nafas. Sasori yang dihadapannya bukan Sasori yang biasa. Mata itu bukan mata yang biasa menatapnya sebagai seorang senior pada juniornya.

Mata itu mata yang sedih, yang menatapnya seperti seorang kekasih yang baru saja kehilangan.

Bibir Sakura tercekat. "Senpa-"

"Aku bukan senpai-mu lagi." Potong Sasori cepat. "Sekolah sudah usai, Sakura. Kau tahu aku tidak pernah memandangmu sebagai juniorku semata."

Ruangan sunyi sejenak. Tangan Sasori yang meremasnya terasa hangat.

"Aku minta maaf soal ciuman itu. Aku tahu kau… bersama Sasuke. Aku tahu kau tidak mungkin membalas perasaanku. Kupikir aku hanya harus mengungkapkan perasaan selama ini dan melepaskanmu…" Sasori menarik nafas. "Tapi hari ini, mendengarmu kecelakaan, kau tahu apa yang kupikirkan? Aku khawatir, Sakura. Aku ketakutan. Aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja. Aku tahu ini terdengar egois, tapi…"

Mata Sasori menatap dalam padanya.

"Tapi akan kukatakan berulang kali, sampai kau bosan, sampai kau mungkin membenciku; aku bisa mencintaimu lebih dari ini, Sakura."

Sasori menahan nafas. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ia sadar ia seperti baru saja mengeluarkan perasaan yang terkekang dalam hatinya selama ini. Bagaimana jika Sakura menganggapnya gila? Bagaimana jika Sakura malah menjauhinya?

Tangan Sakura yang berada dalam genggaman Sasori bergerak, menyadarkan Sasori. Gadis itu meremas genggamannya balik.

"Terimakasih, Sasori…"

-.-.-

Ino berlari dengan sandal jepit yang dibelinya dipinggir jalan, tangannya menjinjing sepatu hak tingginya, tidak memedulikan orang-orang yang berkomentar melihatnya. Setengah basah kuyup, Ino meletakkan payungnya dengan asal di dekat pintu, mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Dengan sisa kekuatannya, Ino mengetuk pintu sekuat tenaga.

Pintu terbuka, menampakkan Shikamaru yang memandangnya dari kepala sampai ujung kaki dengan mulut terbuka.

"Apa-"

"Kenapa kau memberiku Earl Grey tadi pagi?" potong Ino cepat. "Bagaimana kau tahu aku sering ke café itu? Bagaimana kau tahu itu teh kesukaanku?"

Shikamaru menutup bibirnya, senyum tipisnya terlihat. "Kenapa kau tidak masuk dulu dan rapikan dirimu?"

"Shika, aku tidak menemui pria biasa dengan sandal jepit, setengah basah kuyup, dan menjinjing sepatu mahalku hanya untuk basa-basi semata. Kau menghilang dan tak mau menerima panggilanku-"

Ino berhenti mendadak karena Shikamaru melepaskan kemejanya dan melampirkannya di tubuh Ino.

"Aku bisa melakukannya lebih baik jika kau mau masuk dan mengeringkan dirimu." Ucap putra tunggal keluarga Nara itu. Melihat Ino yang masih kaget dengan sikapnya, Shikamaru menghela nafas lalu mengambil sepatu hak tinggi Ino dari tangannya. "Masuklah, tak enak dilihat tetangga tahu."

Ino menggembungkan pipinya, huh kupikir dia sudah berubah jadi seorang gentleman! Pikir Ino kesal dalam hati.

"Aku juga tidak mengizinkan seorang gadis biasa masuk ke rumahku hanya untuk basa-basi, Ino." Ino menoleh, menatap Shikamaru dan menyunggingkan senyum tipisnya. "kau lebih menyenangkan untuk dilihat mengenakan sandal jepit daripada sepatu mahal ini."

Mau tak mau Ino tertawa kecil. Shikamaru yang dikenalnya, yang menghilang beberapa hari ini, sudah kembali di hadapannya.

-.-.-.-

Aku harus minta maaf pada Hinata! Naruto menghembuskan nafas, membulatkan tekadnya. Naruto bangun dari tempat tidurnya dan mulai membereskan barangnya.

"Kau masih harus istirahat, Naruto." Bulu kuduk Naruto meremang. Suara itu sangat dikenalnya. Dengan kaku, Naruto menoleh, menatap Ayahnya yang tengah bersandar di pintu, melipat tangan sambil tersenyum.

Mati aku. Itu hal pertama yang terlintas di pikirannya saat Naruto menatap bayangan kemarahan di balik ayahnya. Rambut merah menyala yang tak mungkin dihindari.

"O…otousan, okaasan! A…apa kabar?"

"Apa… kabar… katamu?" tanpa efek angin yang menyebabkan rambut Kushina melayang di sekelilingnya saja Ibunya sudah terlihat menyeramkan. Apalagi sekarang, dengan aura hitam yang melingkupinya.

"A…aku bisa jelaskan! Aku hanya terjatuh, dan-" Naruto terdiam. Tidak seperti biasanya, Ibunya yang akan segera menjewernya dan mengomelinya sepanjang malam, tidak melampiaskan kekesalan pada kebodohannya.

Kushina memeluknya dengan erat.

"Kau membuat kami khawatir! Biarpun hanya terjatuh atau tergores, kau tetap harus katakan pada orang tuamu, Naruto!"

Minato tersenyum padanya di dekat pintu, menatap penuh arti. Naruto memeluk balik Ibunya, merasakan kekhawatiran seorang Ibu melingkupinya.

"Maaf…"

"Sekarang, apa kakimu baik-baik saja?" Kushina mengacak rambut putra semata wayangnya. Naruto memindahkan pandangan dari ayahnya, ke ibunya.

"Ayah benar tentang istirahat." Jawabnya. "Tapi aku harus menemui Hinata hari ini." Kushina dan Minato berpandangan.

"Soal itu…" Minato meletakkan tangannya di bahu Kushina, matanya mengisyaratkan agar istrinya tidak melanjutkan kata-katanya.

"Naruto, bisa kita bicara sebentar?"

-.-.-.-

"Ke… ke Inggris?" Hinata mengatakannya dengan terbata-bata. Ayahnya, Hyuuga Hiashi, mengangguk pelan dari ujung ruangan. Harusnya ini acara minum teh sore hari yang biasa dengan ayahnya, namun tiba-tiba Hiashi seperti baru saja menjatuhkan bom baginya.

Kuliah di Inggris? Tapi… tapi ia sudah janji akan masuk Universitas yang sama dengan Naruto-kun di Tokyo!

"Ke-kenapa tiba-tiba otousan…?"

"Itachi Uchiha kemarin menawarkan kesempatan bagus ini. Lulusan terbaik universitas nomor satu dunia tidak mungkin salah pilih."

"Ta-tapi…"

"Tidak ada tapi-tapian Hinata. Kudengar dari Hanabi hubunganmu dengan Naruto juga sedang memburuk." Hinata mengepalkan tangannya, tak bisa membalas ucapan ayahnya.

"A-aku..."

"Mana yang lebih kau pilih, Hinata? Masa depan secerah ini atau anak muda ceroboh itu?" ujar Hiashi, menatap anak perempuannya. "nilai-nilainya juga tidak luar biasa. Punya keahlian apa anak itu? Hanya karena dia putra Minato bukan berarti dia mampu memimpin kota ini sebaik ayahnya."

Hinata menatap tatami, menarik nafas panjang.

"Ayah salah… Naruto-kun akan melakukan yang terbaik untuk kota ini, untuk semua yang percaya padanya." Hiashi memicingkan mata. Ini pertama kalinya Hinata yang selalu takut berargumentasi dengannya berani membantahnya.

Semua itu karena pemuda Uzumaki itu?

"Hinata." Hinata menatap ayahnya. "Kau sungguh mau melepaskan kesempatan emas ini, masa depanmu, demi anak itu?"

Hinata menelan ludah.

"Masa depanku adalah Naruto-kun."

-.-.-.-

Nara Shikaku mengamati kedua anak yang tengah duduk di hadapannya. Matanya berpindah-pindah antara keduanya dan papan shogi diantara mereka. Menghela nafas, Shikaku meletakkan korannya.

"Baiklah, aku pergi." Shikamaru dan Ino tidak bergeming sampai pintu tertutup.

"Ayah masih akan berdiri di pintu dan mendengarkan semua percakapan kita." Ucap Shikamaru, memindahkan bidaknya. Ino menatap lawannya, lalu memandang pintu.

"Kau itu benar-benar tak pernah punya pacar ya?"

Shikamaru mengangkat alis pada pertanyaan Ino. "Memangnya aku harus?"

"Apa asiknya melakukan segala hal sendirian…" kali ini Ino memindahkan bidaknya, yang dengan cepat dihabisi bidak milik Shikamaru. "akh! Sudahlah, aku juga tak akan menang melawanmu!"

"Kau itu terlalu cepat menyimpulkan segala hal."

"Memang ada yang salah dari pernyataanku barusan?!" tak diduganya, Shikamaru terkekeh. "Kau… kenapa kau tertawa? Dasar aneh! Katamu tidak akan berbasa-basi, tapi kau malah mengajakku main shogi di depan ayahmu!"

"Kau sendiri, kenapa kau ke sini, Ino? Hujan-hujan begini, sampai membeli sandal jepit baru. Itu bukan keputusan yang terencana." Huh, Shikamaru dan deduksinya. Menyebalkaan!

"…menurutmu?" Ino menatap Shikamaru dari balik bulu matanya yang panjang. Shikamaru menghela nafas panjang.

"Kau itu benar-benar menyusahkan." Ino mengerjapkan mata mendengarnya. Shikamaru mengalihkan pandangannya, wajahnya bersemu. "Jangan buat aku menghentikanmu di bandara."

Ino bisa menatapnya.

"Kau bahkan tahu tentang Deidara mengajakku pergi. Kenapa kau tak coba hentikan aku, Shikamaru?" Ino menggigit bibirnya. Kenapa Shikamaru tidak memperjuangkannya? Kenapa hanya memperhatikannya dengan diam-diam? Ino jelas-jelas menyukainya, kenapa pria ini tidak juga membalasnua? "Kenapa kau tak coba beri aku alasan untuk tetap tinggal?"

Shikamaru menatap Ino sejenak, lalu mengalihkan perhatiannya kembali ke papan shogi. Ia memindahkan satu bidak. Seharusnya bidaknya bisa membunuh bidak lawan, tapi Shikamaru membiarkan kesempatan itu lewat.

"Karena kita memilih jalan yang berbeda, Ino…"

-.-.-.-

"Eeh? Ke Inggris?" Minato mengangguk perlahan. "Tapi…kupikir…"

Naruto menatap ayahnya, masih tidak percaya. Minato baru saja mengumumkan pada putranya bahwa Hiashi Hyuuga telah menetapkan keputusan untuk mengirim putri sulungnya kuliah di Inggris.

"Hiashi baru saja datang padaku tadi."

"Hinata tidak bilang apapun padaku…" Naruto menatap rumput dengan sedih. Orang-orang lalu lalang di taman rumah sakit, kakek-kakek tua di kursi roda, sampai anak kecil yang belajar jalan dengan kruk.

Ingatan Naruto kembali pada pagi tadi. Pertengkarannya dengan Hinata. Itachi yang memberikan penawaran pada Hinata. Apa Itachi sudah menemui Hiashi? Apa Hinata sudah menyetujui ini?

Naruto mengepalkan tangannya.

apa Hinata memilih untuk meninggalkannya?

"Ayah, aku-" Naruto yang bangkit tiba-tiba langsung limbung, untunglah Minato segera menangkapnya sebelum terjatuh menghantam tanah. "ukh…sialan, kenapa sakit lagi…"

Minato menatap putranya dengan sedih. "Ada hal lain yang harus kubicarakan."

Naruto kembali duduk, mengabaikan rasa sakit di kakinya yang masih diperban. Minato memikirkan masak-masak bagaimana cara menyampaikan hal ini.

"Kau ingat formulir beasiswa sekolah sepak bola yang kau inginkan itu…?"

"Ya, kenapa?"

"Mereka mendengar kabar kecelakaanmu, lantas menemui dokter yang bersangkutan untuk mengetahui keadaanmu…" angin bertiup di taman Rumah Sakit Konoha. "…mereka memutuskan untuk menolakmu…"

-.-.-.-

Itachi menatap rambut indigo panjang Hinata tertiup angin, sekali lagi, seperti di rumah sakit tadi pagi. Matahari sore mulai menghilang di batas horizon di kediaman Hyuuga.

"Ada apa memanggilku ke sini, Hinata?"

Hinata menoleh, menunduk memberi hormat pada Itachi. "Maaf merepotkan meminta datang ke sini…"

Itachi sudah dengar dari Hanabi, Hinata baru saja dikenai hukuman tidak boleh keluar rumah mulai hari ini sampai batas waktu entah kapan. Penyebabnya jelas; argumentasi tadi siang dengan Ayahnya berbuntut kemarahan Hiashi.

"Tidak apa." Jawab Itachi sekenanya. Bukan hal yang biasa kalau Hinata menghubunginya duluan, sampai memintanya datang ke sini. Pasti ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan putri pewaris klan Hyuuga ini padanya.

"Mengenai tawaran Itachi-san…maaf aku tak bisa menerimanya." Sejujurnya, Itachi sudah bisa menduga hal itu. "maaf… terimakasih sudah berbaik hati menawarkan."

Hinata menunduk hormat sekali lagi. Itachi melangkah maju, berhenti tepat di depan Hinata.

"Boleh aku bertanya, Hinata?" Hinata menegakkan dirinya, menatap sosok Itachi di hadapannya. Itachi, sama seperti yang selalu Hinata lihat ketika kecil; tinggi, kurus, dan selalu kelihatan lebih tua dan lelah daripada usianya.

"Ya."

"Kenapa kau memilih Naruto?" Hinata terdiam. Apakah Hanabi menceritakannya pada Itachi? Atau Itachi hanya sekedar menebak saja? Tapi…

"Itachi-san pernah menyukai seseorang? Ah… mencintainya?" Itachi tidak bergeming pada pertanyaan itu. "beberapa hari yang kulewatkan dengan Itachi-san sangat menyenangkan. Aku belajar banyak hal baru."

Keberanian. Dunia luar. Pilihan-pilihan.

"Naruto-kun… membuatku bukan hanya belajar, tapi juga merasakan. Aku… tidak akan pernah bisa jadi seperti ini tanpa dirinya."

Walaupun terkadang ia masih menatap Sakura-chan… walaupun kadang ia lupa dengan perasaanku… Hinata bisa merasakan air mata mengalir dari sudut matanya, mengingat pertengkarannya dengan Naruto tadi.

"Aku mencintainya kemarin, juga hari ini…" Jika harus memilih… Hinata menghapus air matanya, menatap Itachi dengan sungguh-sungguh. "…dan aku ingin tetap mencintainya besok, hingga seterusnya."

Itachi balik menatapnya. Hinata bisa melihat pantulan dirinya di mata hitam Itachi.

"Naruto-kun adalah masa depanku. Tidak ada artinya hari esok buatku jika tanpanya." Senyum Hinata mengembang di wajahnya.

Senyum tipis terbentuk di wajah Itachi. "…aku mengerti." Tanpa bertarung dengan Naruto pun, ia sudah kalah. Hyuuga Hinata tak akan membukakan hatinya sedikit pun untuk pria lain.

Pria yang beruntung, pikir Itachi. "Kalau begitu aku pamit dulu. Sampaikan salamku untuk Naruto, Hinata."

"Tunggu!" Itachi berbalik, menatapnya. "Sampai kapan Itachi-san akan merahasiakan sakitnya pada Sasuke?"

Itachi hanya memberikan senyuman misteriusnya yang biasa. "Hal itu tak usah kau pikirkan, Hinata."

Pria itu mengangguk pamit lalu berjalan pergi. Bagi Hinata Hyuuga, sosok Itachi Uchiha sendiri adalah sebuah misteri.

-.-.-.-

"…Na…ruto?" mata biru cerulean Naruto menatap sekilas sahabatnya yang baru membuka mata.

"Selamat datang kembali di dunia yang gila, kawan. Kau melewatkan kereta menuju surga." Ujar si pirang sambil terkekeh.

"Yah, ku bilang pada masinisnya untuk menjemputmu lebih dulu." Balas Sasuke, seringainya yang biasa mulai tampak mendengar humor Naruto. "bagaimana keadaan-"

"Tulang-tulangmu sudah kembali ke tempatnya, tapi aku tak tahu apa mereka lupa meletakkan hatimu atau tidak."

"Aku tidak tanya tentang keadaanku, bodoh."

"Oh, Sakura-chan. Tadi aku sempat menemuinya sebentar, kata Ino dia baik-baik saja. Lalu Sasori-senpai datang…" mata Sasuke menatap tajam Naruto. "…teme, kau bisa membunuhku dengan pandanganmu."

"Kalau bisa sudah kulakukan dari dulu. Apa yang si rambut merah itu inginkan?"

"Menunggui Sakura-chan, kurasa." Sasuke menghela nafas kesal. "kau sedang ada masalah dengan Sakura-chan?"

Sasuke menghindari menatap Naruto. "Banyak hal yang terjadi… tunggu, kau bilang Itachi di Konoha?!" Sasuke bangun dengan tiba-tiba, sampai tulang-tulangnya terasa menghantam organ-organnya dari dalam.

"H-hei, kau itu baru operasi! Kalau tulang-tulangmu bergeser lagi bisa-bisa aku yang kena marah Tsunade baa-chan!" ujar Naruto, membantu sahabatnya duduk.

"Di…mana… Itachi?" wajah Naruto berubah muram.

"Entah. Banyak hal yang terjadi, Sasuke. Kau juga menghilang beberapa hari ini. Dan tiba-tiba saja kau muncul berlumuran darah-"

"Ceritakan apa yang kau ketahui, akan kuceritakan apa yang terjadi padaku." Naruto menatapnya, sebagai jawaban pria itu menarik kursi untuk duduk di sebelah kasur Sasuke.

"Pertama-tama, kusampaikan padamu aku tidak akan jadi pemain bola."

-.-.-.-

Rintik hujan masih terus mengguyur kediaman keluarga Nara.

"…maksudmu berbeda?" Shikamaru membereskan papan shoginya, membiarkan permainannya menggantung di tengah jalan. Diteruskan pun mereka sudah tahu siapa pemenangnya.

"Apa yang kau inginkan dariku, Ino? Kau meminta lebih banyak dari yang bisa kuberikan." Ino membiarkan kata-kata itu mengambang di pikirannya. Apa Shikamaru Nara baru saja menolaknya? Tapi bahkan mereka berdua tidak saling menyatakan perasaan. Kenapa segala hal jadi rumit kalau berhubungan dengan si pemalas Nara ini?

"Bukankah kau yang terlalu cepat mengambil kesimpulan, Shika? Memangnya kau tahu apa yang kuinginkan?" karena bahkan aku sendiri tidak tahu, jawab Ino dalam hati. Aku bahkan tidak tahu apakah aku menyukaimu sebagai teman atau lebih dari itu. Yang kutahu hanya…

"Kita berdua tahu jawabannya." …aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Itu saja.

"…kalau begitu, menurutmu tidak apa-apa aku pergi?"

"Ino-"

"Apa kau bisa menjawabnya saat ini juga, Shikamaru?" Shikamaru menatap mata biru Ino.

"Apa kau benar-benar butuh jawaban?"

"Iya!" Lagi-lagi Shikamaru menghela nafas menghadapi kekeraskepalaan Ino. Shikamaru berjongkok di depan Ino, menatapnya dalam-dalam.

"Tidak. Aku mau kau tetap di sini dan jauhi si pianis pirang itu." Sebelum Ino memotongnya, Shikamaru menciumnya sekilas, tepat di bibir. Mata Ino membuka saat pria itu melepaskan bibir mereka dan berbisik pelan;

"…apa itu belum cukup bagimu?"

-.-.-.-

"Sasori, Nenek Chiyo mem-" Konan berhenti bicara saat matanya tertuju pada Sasori, Sakura yang sudah sadar, lalu berpindah ke kedua tangan mereka yang saling mengenggam. "…kurasa aku salah masuk kamar."

Dan dengan bodohnya menutup pintu lagi.

Sasori buru-buru melepas genggamannya pada tangan Sakura. "Maaf, itu temanku baru datang dari Amerika. Sebaiknya aku bicara padanya dulu sebelum dia melakukan hal bodoh lainnya." Sakura mengangguk.

Begitu di koridor, Konan sudah menunggu dengan senyuman jahilnya yang biasa.

"Seseorang sedang bahagia." Sasori menghembuskan nafas kesal mendengarnya. "bukan salahku ya, kau yang tidak mengunci pintu."

"Ketuk pintu dulu kan bisa. Sudahlah, ada apa kemari?"

"Nenek Chiyo mencarimu, katanya kau tiba-tiba saja menghilang pamit ke Rumah Sakit, sudah malam belum memberi kabar. Jadi aku yang disuruh menjemput." Sasori baru ingat kebodohannya. Gara-gara sedari tadi ngobrol dengan Sakura sambil menikmati menggenggam tangannya, Sasori jadi lupa memberi kabar ke rumah.

"Sebentar lagi, aku masih menunggu Yamanaka datang."

"Ngomong-ngomong, kalian sudah resmi pacaran nih? Memangnya dia sudah putus dengan pacarnya yang terdahulu?" Sasori menghela nafas.

"Kami kembali ke titik nol kurasa. Lebih baik daripada dia menjauhiku." Konan menatapnya sekilas, lalu tiba-tiba mengacak-acak rambut Sasori.

"Hei! Apa yang kau-"

"Supaya otakmu kembali jernih. Kukatakan sekali lagi loh ya, jangan merebut pacar orang kalau kau tidak mau pacarmu suatu saat direbut." Sasori mengerjapkan mata mendengarnya. "eh iya, kudengar Deidara berangkat besok pagi ya? Mungkin aku mengantarnya, kau mau ikut?"

Sasori sampai lupa bahwa sahabatnya, si pianis gila itu akan berangkat ke luar negeri besok. Deidara bisa membunuhnya kalau sampai ia lupa mengantarkan kepergiannya.

"Entahlah, tapi kurasa…"

Pintu berderik, Sakura tersenyum di balik pintu.

"Halo! Aku membaca banyak tentangmu-" Sasori buru-buru menutup mulut Konan sebelum ia keceplosan bahwa Sasori banyak menulis tentang Sakura di laptopnya.

"Abaikan dia. Kau mau kemana, Sakura?

"Ke kafetaria sebentar…"

"Aku bisa belikan-"

"Tidak usah. Aku sedang ingin berjalan-jalan."

"Tapi-" Sasori bisa merasakan kaki Konan menginjaknya keras saat Sakura berbalik pergi. "Sakit tahu! Kau ini kenapa sih?!"

"Kau tak sadar juga? Dia ingin mencari kekasihnya! Sasuke Uchiha kan masuk Rumah Sakit juga!"

"Soal itu aku tahu… tapi kau kan tak perlu menginjakku!" balas Sasori kesal. Punggung Sakura menghilang di tikungan. Mata Sasori menatapnya sedih. "Konan… menurutmu apa yang kulakukan ini salah?"

Konan melipat tangan, menatap Sasori yang tampak begitu sedih.

"Kau sendiri yang tahu jawabannya, Sasori."

-.-.-.-

"KAU GILA!" Karin melempar tasnya untuk membungkan Suigetsu.

"Pelankan suaramu bodoh! Kita di rumah sakit!" pekik perempuan berambut merah itu. "huh, tahu begini kau tidak akan kuberitahu apa-apa."

Gigi-gigi Suigetsu menggeletuk. Lama-lama ia bisa gila juga kalau kelamaan berteman dengan perempuan gila ini. Sudah repot ia mengurus kecelakaan Sasuke, memindahkan mobil, mengurus asuransi secepatnya dan lain-lain, masih harus menjemput Karin yang rewel minta diantarkan menemui Sasuke di rumah sakit. Daripada Suigetsu semakin pusing, ia melarang Karin menemui Sasuke untuk saat ini. Entah apa yang perempuan itu bisa perbuat pada Sasuke yang baru selesai operasi.

"Apa kau tahu apa yang sudah kau perbuat?! Apa kau tak lihat Sasuke sampai kecelakaan begini? Sakura kambuh penyakitnya? Kau mau bunuh berapa orang lagi sih?!"

"Kau yang bodoh! Kau pikir aku peduli tentang itu?! Kau pikir si pinky itu pantas mendapatkan Sasuke?!" bentak Karin pada teman sepermainannya sejak kecil itu.

"Itu sudah masa lalu, kenapa kau harus membukanya sekarang-" Karin menarik kerah Suigetsu, menatapnya dengan pandangan tajam.

"Kau tahu kalau kecelakaan tujuh tahun yang lalu itu adalah pembunuhan terencana? Kalau sidik jari satu-satunya yang ditemukan di rem yang terpotong memang milik Kizashi Haruno?! Kau tahu apa artinya itu?!"

"Karin-"

"Kau tahu yang menghapus semua dokumen itu?! Kau tahu siapa yang menghilangkan bukti-bukti ini? Itachi Uchiha! Pria yang mengambil hak asuh Sakura dan membiarkan yatim piatu sialan itu menghabiskan waktu di mansion Uchiha!"

"Karin, sudah-"

"Kau pikir aku bisa terima hal itu?! Sasuke, pacaran dengan anak sialan itu?!" Suigetsu belum pernah melihat Karin sekalap ini sebelumnya. "Sasuke, terus-terusan berusaha mencari bukti lain, bahwa bukan orang tua Sakura pembunuhnya… huh, memuakkan! Sampai dia kecelakaan begini, terus saja Sakura yang dia coba lindungi! Harusnya si yatim piatu itu tahu diri!"

Karin dan Suigetsu tidak tahu, ada sosok-sosok lain yang mendengarkan percakapan mereka sedari tadi. Di balik pintu yang tidak tertutup sepenuhnya, Sakura, Sasuke, dan Naruto saling pandang.

Sakura baru saja melewati ruangan itu saat ia mendengar suara amukan Karin. Karena penasaran ia berhenti sebentar di sana dan mendengarkan. Hingga Karin mengatakan bahwa selama ini Sasuke berusaha mencari bukti lain… pikiran Sakura baru sadar bahwa selama ini Sasuke menghilang karena itu.

Selama ini… Sasuke berusaha membelanya…

Saat itu juga semesta tengah mempermainkan mereka. Sasuke dan Naruto tengah berjalan bersama di koridor, berpapasan dengan Sakura.

"Karin, hentikan-"

"HARUSNYA DIA TAHU BAHWA ORANG TUANYA PEMBUNUH!"

Waktu berhenti bernafas. Sasuke menatapnya, lalu berbalik. Punggung itu berjalan menjauh. Semuanya terasa berjalan begitu lambat. Naruto kebingungan menatap Sasuke yang berbalik menjauh dengan Sakura yang menatap kosong.

Sasuke… meninggalkannya.

Saat ketakutan terbesarnya mewujud, kegelapan itu semakin nyata. Dengan setiap langkah menjauh yang Sasuke ambil, Sakura merasa dunianya semakin runtuh.

Dia anak pembunuh.

-.-.-.-

A/N : uh… maaf ya telat update ._.

Sejujurnya di chap ini tadinya mau dimasukin tentang Itachi juga, semua yang Itachi sembunyikan. Tapi kepanjangan, bisa mencapai 25 page, jadinya dipotong di sini dulu ya _

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kemarin; Iya, telepon misterius itu suruhan Karin. Kartu ASnya itu karena Karin tahu kenyataan yang disembunyikan Itachi selama ini. Sasuke tadinya ga mau percaya makanya dia repot-repot nyari bukti lain. Di chap ini aku bikin closure masalahnya Ita-Hina-Naru sama Ino-Shika-Dei dulu ya. Chap depan tentang sasusakusaso dan Itachi yaa.

Setuju?

Natsumo Kagerou : semoga chap yg ini terasa lebih ringan ya hehe

Aiko : aku baru dapet libur semester T_T maaf ya belum bisa update kilat kmrn2

Hachikodesuka : siaap! Aku juga suka fic yg endingnya bahagia

Poca : Iyaaa bentar lagi itu entah berapa chapter lagi ._.

UchiHaruno : ups, telat dua bulan updatenya T_T gomen minna

shiina namikaze : gimana ya… *evil smirk* hahaha

sarah : iya hehe, tipe dark-tall-handsome banget kan haha

petitfleur : iyaa, diusahakan begitu. Yang fic satunya, aftermath draftnya udh selesai sampai ending malah, tapi proofreadingnya yang lama -_- semoga yang ini bisa selesai duluan hehe

Sasusaku kira : terimakasih banyaaak _

Sasusaku : terimakasih masukannya hehe :)

NE : iya begitulah hehe

Sachi : halo, salam kenal juga ;) terimakasih ya, reviewnya menyenangkan untuk dibaca hehe

Hana-chan noBaka : halo Hana… typo itu kesalahan penulisan/ejaan. Misalnya angin jadi angina

Kimdihyun chan : sedang diusahakaan hehe

seorang Nara : hihi ini fic solo beneran kok, bukan colab :) kerenkan ya, manusia ternyata memang punya banyak sisi dan kemungkinan tak terbatas dalam setiap individu hehe. Boleh percaya boleh engga kok hehe. Saat udah jadi mahasiswa kedokteran sekarangpun saya masih percaya unicorn itu ada, entah di belahan dunia mana hehe. Makasih ya reviewnya!

chyka : makasih reviewnya yaa

ya-channs : soalnya… saya mau jadi dokter. *Ini alasan klise ya?* aaaa makasih semangatnya! Semangat untukmu juga! :)

Orenji Fokkusu : halo, salam kenal juga :) terimakasih reviewnya ya. Insyaallah ga akan discontinue kok, tapi telat update masih mungkin hehe

Dwita-chan : ini udah sampai puncaknya kok :) hehe

Ria : nanti part nya Itachi lebih complicated kayanya ._. *uhuk*

harakim98 : thank you _

Tami-chan : chapter selanjutnya… secepatnya :)

Akasuna girl : yang keren authornya apa ceritanya? ._. Hahaha makasih banyak ya, kamu juga keren banget! Orang-orang yang mau meluangkan waktu mereview sebuah cerita itu keren banget banget

Uchiha girl : haloo :) wah bagian itu kayanya agak susah, soalnya Itachi kan ga kenal sama Konan hehe. Sebagian dari perasaannya Sasuke masih belum dikasih tahu di sini.

Salam tahun baru untuk semua!

"Aku mencintainya kemarin, juga hari ini…dan aku ingin tetap mencintainya besok, hingga seterusnya." –Hinata, Living in Uchiha Mansion chap 15

Kapan ya bisa punya orang yang mengatakan hal seperti ini? ;) hahahaha

_PHYLAPHY