ENAM BELAS

I wanna hide the truth, I wanna shelter you;

but with the beast inside, there's no way we can hide.

-Demons, Imagine Dragons

Konoha diguyur hujan deras yang sangat lebat. Badai semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya. Angin kencang membentur jendela-jendela di rumah sakit Konoha, mengakibatkan beberapa lampu berkedap-kedip karena konslet.

Hyuuga Hinata merapatkan jaketnya, giginya gemeletuk menahan dingin. Mungkin daya tahan tubuhnya melemah di cuaca sedingin ini, atau hanya karean kelelahan akibat semua yang terjadi akhir-akhir ini. Setelah menemui Itachi sore tadi, Hinata memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Penolakannya terhadap keputusan Hiashi pasti akan berujung pertengkaran panjang dan melelahkan di rumah. Hiashi bukan seorang pria yang puas hanya dari sekali argumentasi. Butuh percakapan panjang yang tak urung berujung tangisan untuk memperjuangakan apa yang dipilihnya.

Mungkin saja Hiashi akan mencoret namanya dari daftar pewaris.

Tiba-tiba saja guntur menggelegar, kilatan cahayanya membutakan Hinata dan kontan gadis itu menutup mata dan menjerit kaget karena tepat berada di sambil jendela. Hinata spontan merunduk, menutup telinganya erat-erat, nafasnya tersengal. Saat matanya terbuka, kegelapan total menyelimutinya.

Koridor ini mati lampu.

Hinata merogoh kantungnya, mencari handphonenya untuk penerangan. Tangannya tak menemukan benda itu, kegelisahan menyelimutinya. Jangan-jangan tertinggal di rumah, pikirnnya kalut.

Hinata mulai panik, tanpa secercah penerangan pun, bagaimana ia bisa menemukan jalan ke kamar Naruto? Apa dia harus terduduk sendirian di sini, ditengah dingin dan kegelapan, meruntuki nasibnya?

Mungkin Kami-sama memang tengah menghukumnya…

Samar-samar Hinata mendengar suara langkah kaki yang agak diseret. Bulu kuduknya meremang. Tangannya yang mengepal gemetaran. Bagaimana jika ada orang jahat? Bagaimana jika ada pembunuh berantai berkeliaran…

"ADUH!" ketakutan itu tergantikan oleh hempasan menyakitkan yang menendang lututnya hingga ia terjatuh menabrak sesuatu di depannya. Hinata bisa merasakan ia jatuh menimpa seseorang.

"Gomen ne…" suara itu dikenalnya. Saat kilat berikutnya menyinari jendela, Hinata bisa melihat dengan jelas keadaannya. Wajah Naruto menatapnya bingung, disusul gemuruh yang membuat Hinata memekik dan memeluk pria dihadapannya dengan erat.

"H-Hinata? Apa yang kau-" alih-alih berusaha bangun, Naruto gelagapan karena Hinata terlihat sangat ketakutan.

"K-kilatnya menakutkan." Ucap gadis itu lirih. "a-aku tidak bisa melihat apapun."

"Aku juga... tunggu, rasanya aku bisa melihat matamu. Ya, matamu selalu bersinar walau dalam kegelapan sekalipun," ujarnya ringan, tanpa sadar membuat Hinata bersemu merah. Hinata buru-buru bangun, mencoba mencari posisi tanpa menindih Naruto.

Tiba-tiba saja Naruto mengeluarkan suara geraman pendek.

"N-Naruto-kun?"

"Uhm… Hinata-chan… bisa kau pindahkan tanganmu?" nada suara Naruto terdengar tidak nyamna. Karena sesungguhnya, tanpa sadar dalam kegelapan tangan Hinata menyentuh batangnya, dan mengakibatkan sensasi tertentu pada pemuda itu.

"G-gomen ne! apa aku menindih kakimu yang sakit?" Bukan kakiku tepatnya, pikir Naruto. Hinata yang panik, takut kalau-kalau tangannya menindih kaki Naruto yang sakit malah meraba-raba sekitarnya, berusaha mencari gips yang dipakai Naruto agar tidak ia tindih. Tapi gerakan tangannya itu justru seolah-olah memijat batang kemaluan yang kebetulan berada di dekat tangannya.

"Hinata… kau…" Naruto menahan keinginan untuk menggeram, kehilangan kemampuan untuk melihat malah menajamkan inderanya yang lain, termasuk indera perasa. "uhm, bisa kau bangun sebentar?"

"Ah… baik. A-apa ini tanganmu? Mau kubantu bangun?" sialnya, Hinata malah mencengkeram bagian itu dan berusaha menariknya bangun. Kontan Naruto tidak tangan lagi dan menarik gadis itu jatuh ke pelukannya sekali lagi.

Hinata memekik kaget saat tubuhnya ditarik jatuh sekali lagi diatas Naruto. Pria itu memeluknya erat, menyelusupkan kepalanya ke leher Hinata, hangat nafasnya menggelitik leher gadis itu.

Kilat menyambar sekali lagi, dan Naruto bisa melihat keadaan krusial; Hinata memakai rok. Rok pendek. Dan sudah terangkat naik jadi dia bisa melihat paha putih gadis itu… dan sebagian celana pinknya. Tangannya menangkup pinggul Hinata. Hinata tidak dapat melihat wajah Naruto yang merah padam.

"N-Naruto-kun? Kenapa kau menarikku jatuh lagi? Kukira kau mau aku bangun…"

Oh sialan, betapa Naruto berharap mereka berada di kamarnya yang terkunci saja daripada di koridor terbuka begini.

Naruto ingin meledak rasanya. Batangnya mengeras dan memanjang, ia bisa merasakannya menyentuh celah di celana Hinata. Tangannya perlahan turun menuruti instingnya, membuatnya menyentuh kulit paha gadis itu. Hinata menahan nafas, menyadari sesuatu menyentuhnya.

"N-Naruto-kun…"

Dan suara Hinata semakin membuatnya diluar kendali. Kami-sama, kenapa harus mati lampu disaat seperti ini, sih?!

Tiba-tiba Naruto bisa merasakan tangan Hinata bergerak, memeluk lehernya, membuat gadis itu menyandarkan kepalanya di dadanya. Harum rambut Hinata menyeruak memenuhi hidungnya.

"…maafkan aku…" ujar Hinata lirih. Oke, sudah cukup absurd kami bertabrakan di tengah kegelapan begini, sekarang tiba-tiba Hinata minta maaf tanpa alasan. Ada apa dengan para wanita, sih? Kenapa mereka selalu mengatakan hal-hal aneh di saat-saat seperti ini? Rasanya sampai kapanpun Naruto tidak akan pernah mengerti wanita.

"Kenapa minta maaf…?" ragu, Naruto balas menyentuh punggung gadis itu, mencoba menarik tangannya menjauh dari kulit paha Hinata. Dinginnya lantai rumah sakit yang bersentuhan dengan punggung Naruto rasanya tidak ada apa-apanya disbanding tubuhnya yang terbakar karena memeluk Hinata.

"Hari ini… aku mengatakan banyak hal bodoh…" Naruto bisa merasakan jari gadis itu menyentuh dadanya, efek yang ditinggalkan rasanya seperti terbakar. Semakin lirih Hinata berucap, semakin tajam efeknya di telinga Naruto. Suara gadisnya begitu lembut, seperti bulu malaikat yang jatuh ke bumi.

Tangan Hinata meremas baju Naruto, dan pelan-pelan Naruto bisa merasakan gadis itu terisak di dadanya.

"Hinata… jangan menangis, oke? Aku juga minta maaf…" Naruto ingin mengusap pipi gadisnya, tapi dalam kegelapan Ia hanya mampu mengelus rambut panjang Hinata, berusaha menenangkannya. "maaf mencurigaimu dan Itachi. Aku… kau tahu…"

Naruto terdiam, rasanya lehernya tercekat. Bicara dengan Hinata kadang tidak semudah bicara dengan Sasuke. Kenapa? Karena saat bicara dengan Hinata, Naruto menggunakan seluruh perasaannya. Dia menunjukkan sisi terlemahnya pada gadis itu, hanya pada gadis itu.

"…aku mungkin tidak akan bisa main sepak bola lagi…"

Hinata tersentak, genggamannya pada baju Naruto mengendur. "Kenapa?" ujarnya cepat. "apa kata Tsunade-sama? Apa kakimu…?" Hinata tidak mampu melanjutkan.

Naruto mencoba tertawa pelan untuk menyamarkan ketidaknyamanannya. Laki-laki tidak diciptakan untuk menunjukkan kelemahannya pada dunia, kan, pikirnya sok kuat. "Entahlah… tampaknya butuh waktu lebih lama dari yang kubayangkan. Ujian penerimaan beasiswa sekolah bola tidak akan mau menunggu hanya untuk satu pemain, Hinata."

Ya, isi surat yang diberikan Minato pada Naruto menyatakan dengan jelas bahwa jika tidak mampu memenuhi kehadiran pada tanggal yang sudah diminta, calon penerima beasiswa otomatis akan didiskualifikasi. Pupus sudah harapannya untuk berlaga di Liga Jepang Junior secepatnya. Tsunade sendiri masih belum mampu memberi kepastian kapan kakinya akan sembuh. Mungkin bulan depan. Atau tahun depan. Atau mungkin ia tidak akan mampu berlari secepat angin, memimpin timnya menuju kemenangan sekali lagi.

Semua pikiran itu rasanya mulai mematahkan pundak Naruto perlahan-lahan.

"Yah, aku tetap akan mencoba tahun depan, mimpi itu pantas untuk diperjuangkan kan hahaha…"

Hinata memeluk Naruto begitu suara tawa lemah pria itu menggema. Erat sekali, sampai Naruto kaget ini kali pertama Hinata memeluknya seerat itu. Hinata terisak tertahan di lehernya, nafasnya tersengal.

"Naruto-kun bodoh! Kenapa berhenti disini? Kenapa menyerah pada satu kemungkinan saja?! Kalau pengobatan di Jepang tidak memadai, kita bisa ke luar negeri! Kita bisa ke sekolah sepak bola di eropa sana! Naruto-kun… selalu, selalu jadi impianku… punggung yang aku kagumi…" Dan melihat punggung itu menunduk, tak mampu berlari lagi… Hati Hinata patah berkeping-keping rasanya.

"Aku selalu bermimpi suatu saat nanti mampu berdiri disamping Naruto-kun, berlari bersama mengejar impian kita… Naruto-kun selalu jadi penyemangatku…" Naruto bisa merasakan Hinata air mata Hinata membasahi leher dan bajunya, dan genggaman gadis itu semakin erat. "aku… tidak peduli sekecil apa kemungkinannya… tak peduli berapa lama Naruto-kun akan sembuh…aku percaya… Naruto-kun mampu…"

Hinata menarik diri, kedua mata mereka bertemu. Biru terang dengan lavender. Di kedua mata yang selalu bersinar itu Naruto melihat pantulan dirinya sendiri. Dirinya yang lelah menutupi kekecewaannya, berusaha kuat di depan semua orang.

Hinata mampu melihat jauh ke dalam dirinya, Naruto menyadari hal itu.

"…Naruto-kun tidak sendirian… aku yang akan jadi kekuatanmu…."

Hujan di luar perlahan mereda, membiarkan mereka berdua dilingkupi diam yang menyesakkan. Dalam pelukan Hinata, untuk pertama kalinya Naruto membiarkan dinding yang sudah dibangunnya itu perlahan-lahan retak.


Ponselnya terus berbunyi, tapi Sakura mengabaikan itu semua. Kepalanya bising, terlalu bising untuk membiarkan informasi apapun masuk. Jadi, selama ini, semua itu benar? Bahwa orang tuanya pembunuh, terlebih lagi, membunuh kedua orang tua pria yang selama ini dicintainya?

Semesta lucu sekali malam ini, pikirnya pahit.

Sakura memeluk dirinya sendiri, pikirannya nyalang, sebagian dirinya ingin marah pada kedua orang tuanya, sebagian lagi begitu merindukan mereka. Sakura merasa sendirian, sangat sendirian. Jadi itu alasan Sasuke menjauhi belakang ini. Karena Sasuke sudah tahu kenyataan pahit dibalik ini semua.

Mungkin sehabis malam ini, aku akan hidup menggelandang. Hati Sakura sakit memikirkan betapa manis hari-hari yang sudah mereka lewati berdua selama ini. Semua debaran jantung itu, semua ciuman manis itu…

Sasuke pantas membencinya. Sasuke pantas meninggalkannya.

Sakura menarik nafas panjang, menutup matanya. Hujan di luar sana mulai mereda, menyisakan rintik yang tidak sederas tadi. Gadis berambut pink itu menatap ponselnya yang terus menerus menyorotkan nama Ino dan Sasori bergantian. Semenjak bertemu dengan Sasuke dan Naruto di koridor tadi, Sakura membiarkan kakinya membawanya ke manapun selain kamarnya.

Sudah berjam-jam ia mengurung diri di ruang penyimpanan alat-alat kebersihan, duduk termenung ditemani suara hujan di luar sana. Mata hijaunya meredup saat gadis itu berdiri, memutar pegangan pintu dan memutuskan untuk menghadapi dunia luar.

Ponselnya bergetar sekali lagi di lantai yang dingin. Sakura tidak sekalipun memandangnya saat meninggalkannya di balik pintu tertutup. Ia tidak ingin dicari, terlebih lagi ditemukan.

Satu hal yang Ia tahu, Ia harus minta maaf pada Sasuke.


Jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam saat Itachi Uchiha memasuki parkiran rumah sakit. Sepanjang jalan hujan mengamuk seperti singa yang dilepaskan dari kurungannya. Itachi tertawa kecil memikirkan ironi itu, menarik nafas panjang begitu mobil sport hitamnya sudah terparkir rapi. Mobil ini seperti kerajaan bisnis keluarga Uchiha, pikirnya. Saat ini mungkin akulah setir yang mengarahkan mobil ini… tapi… Sasuke-lah rem tangannya, yang menahan mobil ini agar tidak meluncur jatuh. Sekali lagi, Itachi tertawa getir dengan kemampuannya untuk memetaforakan segala sesuatu.

Itachi menarik jaket panjangnya dari kursi belakang, memakainya saat keluar dari mobil. Cuaca malam ini buruk. Sepatu pantofel mahalnya bergema saat menyentuh ubin-ubin rumah sakit yang penerangannya berkedap-kedip karena badai. Itachi merapatkan jaketnya, bibirnya berkedut saat serangan rasa sakit itu melandanya lagi.

Tahan. Bibirnya terkatup rapat namun pikirannya berteriak; tahan, sebentar lagi…

Kakinya mulai goyah karena rasa sakit yang ditahannya mulai membludak, tapi Itachi Uchiha tidak pernah berjalan mundur. Sudah terlambat untuk berbalik arah. Pilihannya kini hanya maju atau mati ditempat.

Lagi, untuk kesekian, kalinya, Itachi tersenyum kecil karena kegetiran ironi itu.


Uchiha Mansion, 12 tahun yang lalu, Itachi pov.

Itachi menatap susunan upacara minum teh sederhana yang dijejer rapi dihadapannya. Gelas-gelas itu masih terbalik, walau pot berisi teh panas sudah terisi penuh di sampingnya. Hanya ada dua gelas, tidak ada gula sedikit pun. Itachi tahu pembicaraan kali ini tidak akan manis.

"Kau tahu alasanmu dipanggil ke sini."

Dan jelas hidup sebagai putra tertua Uchiha membuatnya nyaris tidak akan pernah mencecap perbincangan manis sata bicara empat mata dengan ayahnya.

Itachi mengangguk sopan sebagai jawaban, tangan kecilnya mulai mengerjakan proses pembuatan teh. Bubuk teh yang sangat halus, diaduk searah jarum jam, dengan takaran yang sesuai… tepat seperti yang ayahnya inginkan. Fugaku tahu laki-laki berumur 11 tahun yang menuangkan teh dihadapannya tahu pembicaraan macam apa yang akan terjadi.

"Kau putra tertua keluarga Uchiha." Lagi-lagi, Itachi hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia meletakkan gelas ayahnya dengan sopan dihadapan Fugaku. Gelasnya sendiri masih terbalik, jelas sekali jawaban yang diberikan putra sulung Uchiha itu. Fugaku tidak melepaskan pandangannya dari wajah putranya. "kau tahu tanggungjawabmu."

"Iya." Itachi memutuskan untuk bersuara. "aku akan menanggung semuanya, tapi biarkan Sasuke seperti anak lainnya."

Fugaku tahu kejeniusan anak pertamanya dibarengi dengan kerasnya hati pemuda itu. Di dunia ini, tak ada yang lebih disayang Itachi melebihi adiknya.

"Aku akan masuk sekolah bisnis terbaik dan menyelesaikan pendidikan secepatnya. Aku akan jadi tangan kanan terbaik ayah." Itachi menggumamkannya seperti robot yang sudah dilatih berulang kali. "tapi biarkan Sasuke tumbuh seperti anak lainnya dan memiliki kehidupan selayaknya."

Bibir Fugaku berkedut, tapi ia tidak mengatakan apapun.

"Sasuke… hanya ingin ayah dan ibu bangga padanya." Kalimat terakhir Itachi membuat suasana semakin berat di ruangan itu. "biarkan dia bahagia."

Keheningan yang melanda dipecahkan oleh derap kaki yang riuh dari luar. Tiba-tiba saja pintu geser dihentakkan dengan penuh semangat oleh bocah berambut hitam bermata besar.

"Tou-san, lihat, lihat!" pandangan ketiganya bertemu. "Itachi-nii!"

Dengan segera bocah lelaki itu menghambur masuk, berdiri di samping Itachi dengan senyum sumringah, mulut bawelnya siap mencerocos lagi. Itachi menahan senyum, jarinya menyentik dahi si kecil.

"Sakit, aniki! Kenapa kau selalu lakukan itu?"

"Tidak baik berteriak dalam rumah, Sasuke."

Fugaku berdeham, menyadarkan kedua putranya akan kehadirannya.

"Tou-san! Lihat apa yang kubuat!" Sasuke memamerkan sebuah miniatur pesawat dengan detail yang cukup rumit. "aku membuatnya sendiri dari bahan-bahan bekas! Lihat, ini persis seperti yang sering kita gunakan saat bepergian!" jari telunjuk kecilnya menekan lambang Uchiha di ekor pesawat yang terlihat jelas.

Mata Fugaku Uchiha memandangi benda di tangan Sasuke, menelusuri dari kepala hingga ekor pesawat. Itachi balik mengamatinya dari sudut matanya, mengantisipasi jawaban macam apa yang mungkin keluar dari mulut ayahnya. Karena jelas Fugaku Uchiha tidak hidup untuk selalu memuji jerih payah kedua putranya.

"…buang sampah itu, Sasuke." Itachi bisa melihat perubahan wajah yang kentara pada raut adiknya. "Kalau kau mau mainan baru kau tinggal meminta, tak perlu memunguti sampah untuk membuat sampah."

Miniatur pesawat itu terjatuh dari genggaman Sasuke. Sebelum menghantam lantai, Itachi menangkapnya dan mengirim pandangan dingin pada ayahnya, lalu berdiri dan menarik tangan Sasuke yang terdiam.

"Ayo pergi, Sasuke." Ayah sudah keterlaluan pada Sasuke, pikirnya getir.

"Kita belum selesai dengan ini semua, Itachi." Suara Fugaku terdengar di balik punggung kedua anak lelakinya.

Tangan Itachi yang memeluk bahu Sasuke mengerat. Pria muda yang baru berumur 10 tahun itu menatap ayahnya dari balik punggungnya.

"Tapi aku sudah selesai."

Itachi tidak pernah menyesali keputusan untuk tidak menengok lagi.

...

Munich, German, 11 tahun yang lalu

Itachi menikmati duduk di menara tertinggi asramanya. Selain karena dari tempat ini ia bisa melihat seluruh Kota Munich, Ia juga terbebas dari gangguan konyol teman-temannya. Bukannya antisosial, Itachi hanya lebih suka sendirian.

Matanya menatap kumpulan burung yang terbang melintasi matahari senja, siap terbenam di horizon. Ia ingin bertanya pada mereka, apa rasanya terbang? Apa rasanya kebebasan? Apa rasanya bebas menentukan mau kemana membawa hidup kita?

Itachi menatap jauh ke bawah, ke pagar tinggi pembatas asrama dengan dunia luar. Di ujung jalan sana ia bisa melihat pasar yang ramai. Sedikit banyak naluri anak-anaknya muncul ke permukaan; ia bisa melompati pagar. Ia bisa membuat lubang. Ia bisa kabur.

Ia bisa berlari jauh, jauh dari sini. Dan tidak akan ada yang bisa menahannya lagi.

Seketika ia bisa melihat bayangan adik laki-laki kesayangannya. Bermain. Tertawa. Itachi tersenyum getir. Diurungkannya niatnya untuk mencicipi kebebasan itu. Bahagia bukan haknya. Bahagia itu milik adiknya. Tugasnya hanya menyiapkan gerbang itu untuk suatu saat Sasuke mampu membukanya sendiri…

Karena tidak ada satu hal pun di dunia ini yang lebih membahagiakannya selain kebahagiaan adiknya, walau harus dibayar dengan kebebasannya sendiri.

Manchester, Inggris, 10 tahun yang lalu.

Oxford, atau Harvard. Hanya itu pilihan yang diberikan ayahnya. Masuk ke universitas terbaik atau pulang dan melihat adikmu yang dipaksa untuk berada di posisimu. Dua tahun menjelajah benua Eropa mencicipi pendidikan terbaik sudah mengikis banyak sisi humanis dari dirinya, Itachi menyadari hal itu. Ketakutan bukan jadi salah satu hal yang dimilikinya lagi.

Itachi baru 12 tahun saat telepon SLInya berdering di tengah malam. Di ujung telepon, di balik dunia, Mikoto menyambutnya penuh rasa sayang. Wanita tercantik dalam hidupnya itu menanyakan segala hal yang seorang Ibu patut tanyakan, tentang keadaannya, tentang hidupnya di tanah nun jauh di sana. Seharusnya Itachi tahu, ada yang tidak beres. Seharusnya Itachi tahu, telepon tengah malam itu tidak pernah berujung baik.

Tapi saat itu, Itachi memilih untuk mengesampingkan semuanya demi mendengar Ibunya mengatakan bahwa ia anak laki-laki terhebat yang pernah dimilikinya.

Seharusnya Itachi mempercayai instingnya saja malam itu.

Karena bulan-bulan berikutnya masalah yang akan berujung pada kecelakaan naas itu mulai menyeruak…

End of Itachi flashback


Pintu itu berderit saat Itachi mendorongnya sehalus mungkin. Senyum terkulum dalam bibirnya. Khas sekali, Sasuke selalu mendramatisir segala sesuatu. Mungkin ruangan gelap dan pintu yang berderit menghidupkan kembali fantasi adik laki-lakinya itu.

"Akan lebih baik jika kau menyalakan lampu, Sasuke." Itachi mencoba meringankan suasana, tangannya menekan tombol lampu.

Itachi tidak mengharapkan akan melihat adiknya terbaring menyedihkan di tempat tidur. Ia bahkan tidak mengharapkan ruangan ini akan diisi tempat tidur. Dan memang kenyataannya sesuai dengan antisipasinya. Di ujung ruangan, duduk dengan kedua mata yang menatap lurus padanya, Sasuke Uchiha.

Ini ruang pertemuan. Hanya ada meja panjang dengan dua kursi pada ujungnya, saling berhadapan. Seperti ruangan yang biasa dipakai untuk rapat para dokter atau pejabat rumah sakit. Sasuke sudah mengirim fax ke kantor Tsunade sore ini, begitu Shizune mengatakan Itachi ada di KHS. Isi pesan itu singkat, hanya petunjuk kamar tempatnya dirawat. Di koridor yang gelap dan tanpa petunjuk, Itachi mempercayakan sepenuhnya pada fax yang ditandatangi adiknya itu.

Ia tahu ia sudah tak bisa lari dan bersembunyi lagi. Waktu sudah menghimpitnya.

"Bagaimana keadaanmu?" Itachi mengucapkan kalimat itu seperti bertanya tentang cuaca. Namun Sasuke, di ujung meja, tidak menanggapi apapun. Bibirnya membentuk garis tipis, raut yang sangat Itachi kenal saat Sasuke benar-benar marah.

Suara jam berdentang menunjukkan pukul dua belas malam. Keheningan melingkupi mereka saat lonceng berdentang dua belas kali di rumah sakit. Hujan tidak mampu menyamarkan beratnya atmosfer yang menggelayuti ruangan itu.

"Kabuto memberitahuku segalanya." Sasuke memecah hening. "seseorang memaksanya tutup mulut dan mengaburkan semua bukti bahwa sidik jari Kizashi Haruno terbukti memotong rem mobil. Menutup kasus dengan kebenaran yang menggantung."

Suara Sasuke menjadi semakin berat.

"Kau menutupi kesalahan Kizashi Haruno."

Ternyata walau disimpan bertahun-tahun dengan baikpun masih saja ada informasi yang lolos. Itachi tersenyum kecil. Toh memang sudah saatnya.

Rahang Sasuke mengeras saat pria itu mengucapkan kalimat finalnya;

"…aku mau kebenaran, Itachi."

Lelaki yang duduk di hadapan Itachi bukanlah adik kecilnya yang cerewet dan penuh semangat. Bukan juga laki-laki temperamental yang selalu galak pada Sakura. Bukan anak laki-laki yang berusaha menarik perhatian kedua orang tuanya.

Lelaki yang duduk di hadapannya adalah pria muda yang siap mendengar kebenaran yang selama ini disembunyikannya. Sasuke Uchiha sudah tumbuh jadi seorang pria.

Itachi tidak dapat menyembunyikan rasa harunya, untuk hari yang sudah sangat lama ditunggu-tunggunya. Untuk semua rahasia yang disimpannya rapat-rapat, untuk semua rasa sakit yang harus ditahannya demi saat ini…

"Pertama-tama, kuucapkan selamat ulang tahun, Sasuke…"

…dan Uchiha Itachi pun memulai kisahnya.


A/N : Nah, untuk tahu apa yang terjadi sebenarnya dari kecelakaan yang melibatkan kedua orang tua Sasuke dan Sakura, kita butuh untuk mengenal Itachi dulu, melihat semua dari sudut pandangnya. Apa yang Itachi sembunyikan dan alasan dia melakukannya. Di sini sebagian sudah kutulis awal mulanya. Masih ingat chapter awal waktu flashback masa kecil Sasuke? Di sini kuulangi, tapi dari sudut pandang Itachi. Di chap ini kita selesaikan dulu ya masalah Naruhina :)

Chapter berikutnya mungkin full dengan Itachi dan apa yang sebenarnya terjadi.

Maaf lama hiatus, sebenarnya cerita ini sudah saya selesaikan, tapi flashdisk yang berisi file hilang di kampus dan tidak dapat ditemukan, jadi harus buat ulang lagi…

Sampai jumpa chap berikutnya,

.Phy