TUJUH BELAS

"People live their lives bound by what they accept as correct and true… that is how they define reality. But what does it mean to be correct or true?

Merely vague concepts… their reality may all be an illusions."

-Uchiha Itachi, chapter 385


Manchester, Inggris, 10 tahun yang lalu.

Jenius mendekati gila.

Itu yang semua orang katakan tentangnya. Anak muda yang sudah menyelesaikan pendidikan sekolahnya di umur yang begitu muda. Demi Tuhan, kau baru 12, atau 13 tahun? Tidakkah kau memiliki hal lain yang lebih menyenangkan untuk dikerjakan, selain belajar? Begitulah teman-temannya mencemoohnya. Di saat anak lain berada di awal tahun remaja mereka, Itachi sudah sibuk menyortir panggilan kampus-kampus ternama dunia yang menginginkannya.

Itachi tengah menikmati waktu luangnya setelah menyelesaikan pendidikan setara SMA di Jepang. Masih beberapa bulan lagi hingga tenggat waktunya untuk menjawab panggilan-panggilan kampus-kampus besar yang menginginkannya. Bisnis sudah jelas menjadi jalan takdirnya, kini ia hanya harus memilih kampus mana yang kira-kira akan memuaskan hasrat ayahnya.

Akhir-akhir ini berita bisnis dunia tengah menyoroti perekonomian Jepang, termasuk perusahaan raksasa Uchiha. Itachi sadar ada sesuatu yang berat tengah menghadang perusahaan, tapi karena ia belum cukup umur untuk ikut campur, tak seorangpun yang meminta pendapatnya atau sekedar menerangkan masalah utama dari pihak dalam. Untuk itu pulang ke Jepang merupakan rencana utamanya. Sudah berapa lama sejak terakhir kali ia menemui keluarganya, adiknya tersayang? Senyum Itachi terkulum mengingat-ingat Sasuke kecil. Sudah tambah tinggi kah adiknya itu? Terakhir kali ia pulang sebelum berangkat ke Eropa, Sasuke masih bocah kecil yang merengek minta perhatiannya. Itachi menghembuskan nafas panjang, siap-siap mengistirahatkan dirinya sebelum menempuh perjalanan pulang yang panjang besok.

Telepon berdering panjang, menghentikan niatnya untuk mematikan lampu dan menyudahi hari. Itachi mengerutkan kening, jam weker di samping tempat tidurnya menunjukkan pukul 11 malam, siapa yang kira-kira butuh bicara dengannya selarut ini? Sepanjang ingatannya, ia tak pernah punya teman dekat. Hanya telepon iseng atau salah sambung, pikirnya sambil mengambil ponsel di meja.

Nomor yang tertera membuat matanya membulat. Itu panggilan internasional.

Itachi tahu siapa yang kira-kira punya kepentingan meneleponnya malam-malam begini. Dan benar saja, suara riang Ibunya menyambut di ujung sana. Tiba-tiba malam tidak lagi terasa sunyi dan membosankan dengan hadirnya suara itu dalam apartemennya. Mikoto Uchiha, wanita paling mengagumkan dalam hidupnya, tengah menanyai keadaannya seperti layaknya ibu yang baik. Itachi tak bisa menyembunyikan senyumnya tiap mendengar suara Ibunya.

"Kau akan pulang besok?" tanya Ibunya setelah basa-basi panjang tentang kelulusannya.

"Ya. Penerbangan sore. Aku akan sampai di Jepang pagi hari." Ada jeda yang cukup panjang di ujung telepon. Itachi bisa mendengar suara batuk pelan ayahnya.

"Kau selalu jadi yang paling membanggakan, Itachi.." Mikoto berkata lirih. "Sasuke merindukanmu, Itachi. Kami semua." Tiba-tiba ibunya merendahkan suaranya, nada riangnya berubah murung. "ayahmu ingin bicara."

Dalam sekejap, suara riang itu hilang, digantikan suara berat dan berwibawa milik Fugaku Uchiha. Fugaku hanya menanyakan sekilas tentang keadaannya, bagaimana studinya, dan universitas mana yang akan ditujunya. Selama studinya di Eropa, mungkin ini pertama kalinya ayahnya berbicara padanya via telepon.

"Jangan pulang." Fugaku berkata pelan. Itachi terdiam. Suasana hening untuk beberapa saat. Itachi kenal ayahnya, sekali Fugaku memberikan perintah, akan lebih baik baginya untuk tidak bertanya macam-macam.

Tapi astaga, ini kepulangannya yang pertama setelah bertahun-tahun di Eropa. Orang tua macam apa yang tidak menginginkan anaknya pulang? Pasti ada sesuatu.

"Ada apa?" Fugaku menelan ludah di ujung telepon. Ia tidak menjawab, melainkan mengalihkan pembicaraan mengenai kampus pilihan Itachi. "Ayah, aku ingin bicara dengan Ibu." Itachi memotong ayahnya, ada perasaan tidak mengenakkan yang hinggap di hatinya.

"Kau akan pulang jika aku mengatakan kau bisa." Jawaban ayahnya mengakhiri panggilan internasional itu. Itachi mungkin masih anak-anak dalam segi umur, tapi pikirannya sudah sedemikian maju untuk mencocokkan puzzle bahwa ada hal penting yang tengah berlangsung di Jepang. Hal yang tidak seharusnya ia tahu.

Itachi menatap hampa telepon selulernya. Ia kenal ayahnya. Semua keinginan ayahnya adalah komando yang tidak dapat diabaikan. Suara jam dinding menemani keheningan malam itu, sebelum Itachi memutuskan membuat panggilan darurat pada pemilik apartemen.

"Saya tahu ini sudah larut, tapi bisakah anda panggilkan taksi untuk saya ke bandara sekarang juga?"


Bahkan untuk ukuran seorang jenius sekalipun, Itachi tetap anak kecil di mata semua orang. Dengan keterbatasannya itu, ia butuh bantuan saat menghadapi situasi-situasi tertentu.

"Tuan Muda, apa yang tengah kau lakukan?" salah satu orang yang dipercayainya di perusahaan Uchiha baru saja menjemputnya di bandara Haneda, Jepang, setelah perjalanan panjang berjam-jam dari Inggris. "kenapa Anda meminta saya merahasiakan kedatangan Anda dari Tuan Fugaku?" tanya pria itu, sesekali melirik Itachi yang duduk di sampingnya di bangku pengemudi.

"Antarkan aku langsung ke Perusahaan." Itachi memilih mengabaikan pertanyaannya. Siang hari begini Fugaku tidak mungkin berleha-leha di Uchiha mansion, kalau tidak di perusahaan induk pasti tengah menghadiri rapat di gedung lain. Itachi akan menunggu ayahnya di sana, ia tidak ingin membuat Ibunya khawatir dengan kemunculannya yang tiba-tiba.

Bertahun-tahun Itachi memendam semua kata yang tak bisa diucapkan pada ayahnya. Headline-headline berita bisnis itu hilang timbul dalam kepalanya. Benarkah perusahaan ayahnya kini tengah diujung tanduk? Kenapa Fugaku tak pernah menceritakan apapun?

Volvo hitam itu berhenti di lobby utama, menurunkan pria muda yang segera masuk tanpa menghiraukan pandangan heran penjaga lobby. Tentu saja semua orang di kantor mengenal Itachi, dan sudah sering Sasuke keluar-masuk perusahaan begitu saja tanpa didampingi. Tapi sepanjang pengetahuan mereka, putra tertua pemilik perusahaan itu sedang studi di luar negeri, tentu saja kehadiran Itachi membuat mereka bingung.

"Tuan Muda Itachi…" sekretaris ayahnya berdiri dari kursinya begitu melihat Itachi melintasi ruangan.

"Apa ada ayah di dalam?" tanya Itachi pada perempuan setengah baya itu.

"T-Tuan Fugaku tengah menghadiri rapat di perusahaan lain…"

"Aku akan menunggunya di dalam." Tanpa mampu mencegah, Itachi sudah keburu masuk ke dalam kantor ayahnya.

Luas dan megah, itu hal pertama yang terlintas di kepalanya. Khas Fugaku, segala hal dibuat seminimalis dan seintimidatif mungkin. Tidak ada sofa santai di ruangan. Hanya ada kursi yang langsung berhadapan dengan kursi sang Presdir. Aura yang dipancarkan ruangan itu adalah; jika kau tak sanggup berhadapan langsung dengan Fugaku Uchiha, silahkan keluar.

Itachi memanjat kursi besar ayahnya, duduk tanpa rasa takut di sana. Komputer ayahnya masih menyala dan kertas berserakan di meja, padahal tidak biasanya Fugaku meninggalkan ruangan tanpa merapikan barangnya. Pasti pertemuan mendadak dan sangat penting, pikir Itachi.

Judul kertas itu menarik perhatiannya. Laporan bulanan keuangan perusahaan. Segala macam laporan berserakan di meja. Rasa ingin tahu menguasai dirinya, dalam sekejap Itachi sudah membaca kertas-kertas yang berserakan itu.

Dan ia kini tahu kenapa Fugaku tidak menginginkannya untuk pulang.

Semua headline berita itu bohong. Perushaan ayahnya bukan tengah kesulitan uang… perusahaan Uchiha tengah menghadapi gugatan hukum karena illegal funding.


"Kenapa ayah tidak bilang?!" ini pertama kalinya Itachi lepas kendali di depan ayahnya. Setelah Fugaku muncul dengan kemarahan karena sekretarisnya membertahu kedatangan tak diundang ayahnya, Itachi menerima guncangan keras dari ayahnya. Pintu kantor segera dikunci dan konfrontasi ayah dan anak itu tidak terelakkan.

"Lupakan apa kau baca." Suara Fugaku tertahan, tangannya mencengkram eram kedua bahu anaknya. Ia tidak pernah menggunakan hukuman fisik dalam menghadapi anak-anaknya, tapi sikap Itachi memaksanya untuk nyaris lepas kendali.

Itachi merasa lebih terkhianati karena sikap dingin ayahnya.

"Apa Ibu tahu hal ini? Apa Ibu tahu bahwa kita tengah menghadapi resiko masuk penjara, atau yang lebih buruk lagi, hukuman mati?! Ini kasus korupsi yang besar!"

"JAGA MULUTMU, ITACHI!" kedua ayah dan anak itu sama-sama kesulitan mengatur nafas. Begitu banyak emosi yang tengah berkecamuk dalam diri Itachi. Semua kemarahannya, rahasia yang disimpan ayahnya, kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi…

Apa keluarga ini bisa lebih rusak lagi dari ini? Itachi berteriak marah dalam kepalanya.

"…apa yang sudah ayah lakukan…?" Itachi bisa mendengar retakan dalam suaranya sendiri. Saat ia memutuskan untuk menanggung beban adiknya, menjadi yang terbaik dalam keluarga, ia tak pernah menangis.

Ini bukan saat yang tepat untuk meruntuhkan dinding emosi yang dibangunnya dengan sangat hati-hati.

Pelan-pelan, tangan Fugaku meraihnya. Butuh waktu bagi Itachi untuk mengerti apa yang baru saja terjadi. Untuk pertama kalinya, ayahnya memeluknya. Tangan Fugaku mengelus kepalanya, mengacak rambutnya dengan lembut, sementara tangan satunya memeluknya erat. Dari pelukan itu, Itachi tahu Fugaku berusaha menguatkan dirinya sendiri.

"Ayah berbuat kesalahan, nak." Itachi tidak mau mendengar. Itachi tidak mau mendengar ayah yang selama ini selalu jadi punggung yang harus dikejarnya itu mengakui bahwa ia baru saja membawa keluarganya dalam bahaya besar.

Tapi sekali lagi, Itachi baru 13 tahun. Tidak banyak yang bisa dilakukannya dengan dirinya yang sekarang.

"Tapi ayah akan mengembalikan keadaan jadi lebih baik. Karena itu… kamu fokuslah belajar agar mampu memegang perusahaan ini ke depannya." Itachi menutup matanya, memisahkan diri dari segala emosi yang masih melekat dalam dirinya. Fugaku melepaskan pelukannya, berjongkok untuk menatap langsung mata Itachi.

"Percayalah pada ayah."

Itachi tidak tahu apa lagi yang bisa ia percayai.


Boston, Harvard Business School's Library, setahun sebelum kecelakaan

Dua tahun berlalu semenjak kepulangannya yang terakhir ke Jepang, dan dalam waktu dua tahun itu Itachi sudah menamatkan studinya. Minggu depan adalah wisuda kelulusan perguruan tinggi. Harvard Bussiness School telah menetapkannya sebagai salah satu pembicara di wisuda kelulusan, sebagai pemegang summa cum laude, Itachi mendapat kehormatan untuk berdiri di podium dan memberikan pidato kelulusan.

Dua tahun semenjak hari itu di kantor ayahnya, Itachi tak pernah melepas pandangan dari berita perekonomian Jepang. Ayahnya masih Fugaku Uchiha yang sama yang tak pernah bercerita panjang lebar padanya, jadi mau tak mau ia harus mencari jalan untuk mendapatkan informasi sendiri.

Dari semua informasi yang diperoleh, Itachi mau tak mau merasa adanya kejanggalan. Dua dua tahun ia mengamati detail perkembangan perusahaan Uchiha, dan jika perhitungannya tidak salah, seharusnya grafiknya tidak seperti ini. Terlalu dini jika tiba-tiba chart menunjukkan progresitivas yang meroket jika hanya dari satu perusahaan. Tapi ayahnya tak pernah mengatakan tentang kerjasama atau joint venture apapun.

Ada sesuatu yang salah, tapi Itachi tidak tahu apa itu.

Dalam kegelisahannya sendiri, Itachi hanya bisa berdoa semoga saja ayahnya tidak melakukan kesalahan apapun lagi kali ini.


New York, Apartemen Itachi, 6 bulan sebelum kecelakaan

Itachi resmi memegang jabatan sebagai kepala operasional perusahaan Uchiha di Amerika. Hidup berjalan lancar, semua sesuai dengan rencananya. Seharusnya Sasuke tengah menjalani kehidupan sekolah dasarnya dengan bahagia sekarang, karena Itachi sebentar lagi akan memegang utuh perusahaan Uchiha begitu umurnya menginjak 18 tahun. Saham penuh atas nama ayahnya akan diberikan padanya, itu berarti Sasuke tidak perlu susah mengemban beban hidup seperti yang dialaminya selama ini.

Seharusnya.

Tapi hidup sepertinya belum selesai dengan Itachi Uchiha. Setelah (setengah dipaksa oleh para sahabatnya semasa kuliah) menghadiri salah satu perayaan natal di Rockefeller dan pulang dengan kepala setengah bedenging karena alkohol (yang dipaksa minum oleh teman-temannya juga), ponselnya berbunyi. Itachi setengah tidur mencari dimana benda sialan yang terus bordering itu. Dengan kondisi kepala yang seperti ini, agak susah bagi kepalanya untuk menerima informasi dari barisan angka di ponselnya itu.

"Halo?"

"…kau di apartemenmu?" siapa lagi yang punya authoritas untuk menelepon tengah malam dan tanpa basa-basi bertanya seperti itu kalau bukan ayahnya.

"Ya." Itachi menghidupkan lampu dan mulai mengacak laci untuk menemukan obat sakit kepala.

"Ayah di depan. Bukakah pintu." Panggilan diputus. Menghela nafas panjang, Itachi menelan obat dengan buru-buru sebelum menyeret dirinya untuk membuka pintu depan apartemennya. Berdiri dengan arogansi yang sama seperti yang terakhir di lihat Itachi 2,5 tahun yang lalu, Fugaku Uchiha.

"Kau minum alkohol?" Fugaku menaikkan alisnya menatap anak muda di hadapannya. Itachi tidak menjawab, ia membukakan pintu lebih lebar agar ayahnya bisa masuk. Tanpa koper, berarti Fugaku hanya sebentar mampir ke apartemennya. "tampaknya kau punya banyak waktu untuk bersenang-senang sambil mengurus perusahaan."

"Ayah." Itachi menutup pintu, sedikit kesal. Kata-kata ayahnya barusan terdengar seperti sindiran baginya. "kenapa datang tengah malam begini? Tak bisakah menelpon dulu?"

"Ayah meneleponmu barusan." Itachi tidak mengerti apa mungkin selera humor yang buruk memang sudah mengental dalam darah keluarga Uchiha. Memaksa dirinya untuk sepenuhnya terbangun, Itachi meletakkan dua kaleng soda di meja makan, tempat ayahnya mengambil tempat dengan santai.

"Ada apa ayah ke New York? Apa Ibu ikut?" Itachi duduk di hadapan ayahnya, mengamati pria yang semakin tua itu.

Banyak orang bilang Itachi adalah potret persis ayahnya. Dari garis wajah mereka yang serius dan rahang yang keras. Mata hitam kecokelatan, hingga warna rambut yang sama. Sementara Sasuke mirip dengan Mikoto. Itachi tak pernah merasa mirip dengan ayahnya, sampai saat ini ia punya waktu untuk benar-benar mengamati sosok ayahnya itu. Tubuh yang besar dan tegap. Rambut yang selalu rapi. Raut wajah yang lelah.

Tiba-tiba Itachi seperti merasa menatap dirinya sendiri di masa depan. Apakah seperti itu dirinya sekian tahun lagi? Sekeras itukah jalan hidup yang sudah dipilihnya?

"Ada yang ingin ayah dibicarakan." Fugaku menghela nafas panjang, menatap dalam-dalam ke mata anak sulungnya. "…kau anak kebanggaan ayah."

Kata-kata ayahnya barusan seperti mengirim sinyal listrik yang menyetrum seluruh tubuh Itachi. Seperti ia baru saja mengambil nafas pertamanya setelah ditenggelamkan selama ini. Sebuah perasaan asing, yang begitu menyenangkan sekaligus mengerikan.

Karena tidak mungkin Fugaku akan mengatakan hal itu jika tidak ada kabar yang benar-benar buruk yang mengikuti.

"…ayah..." Suara Itachi tertahan. Di pangkuannya, di bawah meja, tangannya mengepal erat.

"Ayah… hanya ingin kau jadi jauh lebih baik dari ayah." Kegetiran terdengar jelas dalam suara yang selalu memerintah itu. "karena ayah tahu kamu mampu."

Itachi menelan ludah dengan susah payah. Kemana arah pembicaraan ini? Apa yang sedang terjadi? Kenapa ia harus melewati fase ini, seakan ayahnya tengah mengakui dosa dan bersiap untuk mengasingkan diri menebus kesalahan selama ini, entah kemana?

Tiba-tiba Itachi merasakan ketakutan yang luar biasa. Seakan Fugaku Uchiha yang begitu kuat seperti seorang komando di peperangan kini tengah meregang nyawa dan akan segera pergi. Ya. Seolah ayahnya tengah berpamitan.

"Ayah. Ada apa?" Itachi buru-buru memotong sebelum ayahnya mengeluarkan kalimat melankolis lainnya. Ia tidak tahan berada di situasi ini; Fugaku yang lemah, yang bersikap seperti seorang ayah yang siap pergi terasa seolah mencekiknya.

Mata yang selalu menatapnya dengan rasa keras dan wibawa seorang ayah itu kini seperti mata orang yang tak pernah dikenalnya. Ayah, jangan. Itachi mendengar dirinya sendiri berkata dalam hati. Jangan pergi ke tempat yang tak bisa kuraih.

"…ayah melakukan kesalahan fatal, Itachi."

Mungkin ini karena pengaruh alkohol. Atau karena ia kurang tidur seminggu ini. Atau karena ayahnya baru saja memutuskan untuk datang di pintu apartementnya sejauh nyaris 12 jam dari Jepang dan mengatakan bahwa beliau melakukan kesalahan fatal.

Atau karena ia menatap mata ayahnya dan tahu bahwa ayahnya tidak berbohong.

Itachi merasa kakinya tidak lagi menjejak lantai marmer apartemennya yang dingin.


Sisa malam itu seperti mimpi bagi Itachi.

Setelah pengakuan itu, ayahnya bangun dan merapikan jas bepergiannya. "Ayah harus pergi lagi. Besok ada rapat penting."

Itachi merasa seperti seseorang baru saja memukul perutnya dengan sangat keras, hingga rasanya sakit untuk bernafas. "…kenapa ayah mengatakan hal ini padaku?"

Fugaku memunggunginya. "Karena kamu anak ayah… yang paling bisa diandalkan."

Itachi tak mampu menahan dirinya lebih lama lagi. Ia bangun dan menarik ayahnya untuk berputar menghadapnya, untuk mengatakan bahwa semua kemungkinan terburuk yang hinggap di kepalanya tidak akan terjadi.

"Bagaimana dengan Ibu? Sasuke?! Ayah tidak bisa datang ke tempatku tiba-tiba begini dan mengatakan bahwa ayah melakukan kesalahan fatal!" teriaknya.

Fugaku melepas cengkeramana anak pertamanya itu, kedua tangannya memegang bahu Itachi dengan erat, membuat mereka berhadap-hadapan lagi.

"Ayah tahu. Ayah tahu kemungkinna terburuk yang akan kita hadapi! Kamu mengerti… kamu pasti mengerti. Karena itu… karena itu, apapun yang terjadi nanti, apapun… kamu harus percaya pada ayah." Fugaku menunduk, menyembunyikan wajahnya.

"Apa yang akan terjadi?" Itachi masih berusaha mengatur nafasnya.

"Ayah masih akan berusaha. Tapi… ayah meminta bantuan pada pihak yang salah… para mafia itu… akan terus mengejar…"

Itachi ingin memukul orang saat ini. Semua perkiraannya benar. Tidak mungkin perusahaan Uchiha membuat progesivitas seperti itu dalam dua tahun terakhir. Tentu saja, campur tangan mafia bawah tanah. Kenapa hal ini tak terpikirkan olehnya sebelumnya? Sekarang bukan hanya hukuman legal yang menakutkan baginya. Tapi berurusan dengan mafia itu… nyawa taruhannya.

"Ayah… menarik Ibu dan Sasuke… ke dalam masalah ini…" Itachi menarik kerah baju ayahnya, rasa gusar memenuhi dirinya.

"Karena itu, jika terjadi sesuatu, kau harus bisa melindungi mereka." Ucapan ayahnya itu seperti panah yang menghujam langsung ke dalam dirinya. Seolah Fugaku baru saja menacapkan pisau ke jantungnya dan memutarnya.

"Ayah harap aku membereskan semua masalah yang ayah ciptakan?!" kemarahan Itachi menggema di apartemen yang sunyi itu. "AKU JUGA ANAK AYAH! Kenapa ayah tak bisa bersikap seperti seorang ayah yang baik?! Kenapa-"

Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.

"Kamu tidak mengerti juga, Itachi?" suara Fugaku terdengar berat dan lelah. "Ayah selalu percaya padamu… ayah tidak akan memintamu melakukan sesuatu yang ayah tahu kamu tidak mampu."

Suasana di ruangan itu semakin berat.

"…ayah harus pergi." Sebuah tangan terulur, menepuk pelan puncak kepalanya. Sebuah tanda sayang yang kerap dilakukan ayahnya saat ia masih begitu kecil. Itachi bisa mendengar pintu dibuka, lalu ditutup kembali.

Malam kembali sunyi.

Itachi Uchiha duduk diam di pintu apartemennya, ia tidak ingin memikirkan apapun lagi. Dinginnya marmer kembali terasa di kedua kakinya.

Setiap hari kini bisa jadi hari terakhir hidupnya dan keluarganya.


Salzburg, Austria, sebulan sebelum kecelakaan.

Konferensi pers internasional menetapkan bahwa nama-nama yang disebutkan Fugaku Uchiha sudah tertangkap dalam perburuan Interpol. Jaringan mafia bawah tanah internasional yang selama ini mengendalikan perekonomian dunia mulai terkuak.

Itachi merapikan kembali Koran yang baru saja di bacanya. Ia tengah menghadiri salah satu sidang internasional salah satu nama yang disebut-sebut sebagai mafia perekonomian itu. Berkat bantuan salah satu temannya sewaktu di Harvard dulu, Itachi bisa menghadiri sidang dan melihat bagaimana hukuman akan dijatuhkan.

Sudah berbulan-bulan semenjak kedatangan ayahnya, dan sejak saat itu Fugaku benar-benar melaksanakan kata-katanya. Ia membawa masalah ini ke peradilan internasional dan mengungkapkan nama-nama yang menggemparkan. Segera saja Interpol bekerja dan dalam beberapa bulan, persidangan sudah digelar.

Sambil merapikan dasinya di salah satu cermin, Itachi berharap mimpi buruk itu sudah selesai menghantui keluarganya. Keluarganya di Jepang kini dilindungi dengan sangat protektif oleh Interpol.

"Aku tidak menyangka ayahmu begitu berani mengungkapkan jaringan bawah tanah ini." James, pria berambut cokelat bermata biru cerah teman Itachi menepuk bahunya sewaktu mereka memasuki ruang sidang.

"Hm," jawab Itachi datar. Pikirannya berkelana seirinng jatuhnya salju di jendela. Sarang laba-laba mungkin sudah diusik, tapi berapa banyak laba-laba yang masih berkeliaran di luar sana?

Itachi selalu bertanya-tanya apakah suatu saat nanti hidupnya akan bisa tenang.


Washington DC, Uchiha Corp Building, 10 jam sebelum kecelakaan

Itachi baru saja menyelesaikan makan siangnya di meja kerja, sembali meninjau ulang laporan keuangan bulan ini, saat telepon di mejanya berdering. Biasanya sekretarisnya di luar yang mengangkat telepon dari perusahaan lain, jadi jika sampai telepon pribadinya yang berdering, ini berarti panggilan personal.

Setengah was-was, karena semua panggilan personal berujung mimpi baruk baginya, Itachi mengangkat telepon.

"Itachi? Apa kabarmu, nak?" suara riang Ibunya menyahut dari ujung telepon. "ponselmu mati ya? Kuhubungi tak diangkat, sampai harus menelpon ke kantor." Mikoto membuat suara 'huft' seperti anak perempuan yang diabaikan kekasihnya, membuat Itachi tersenyum. Ibunya selalu bisa membuat perasaannya ringan.

"Maaf, tadi sedang ada rapat jadi kumatikan." Itachi bisa mendengar Sasuke di ujung sana bertanya kapan Itachi akan pulang.

"Adikmu terus bertanya kapan kau akan pulang. Apa yang tengah kau urusi di Amerika sana? Kami semua rindu padamu." Andai Ibunya tahu bahwa separuh dari informasi yang membuat para mafia itu tertangkap berasal darinya. Berbulan-bulan Itachi tidak tidur demi membantu ayahnya dalam diam. Ia tahu ayahnya menerima bantuannya dengan sedikit sungkan. Tapi anak macam apa dia jika ia hanya diam melihat ayahnya terjun ke sarang laba-laba beracun sendirian?

Kita lakukan ini dengan cara kita masing-masing, atau mati bersama. Begitulah prinsipnya dalam mengatasi masalah yang tengah merundung keluarganya. Jika Fugaku berani terang-terangan melawan, Itachi lebih suka membantu dari belakang. Karena ia sendiri masih harus memegang janjinya untuk melindungi adik dan ibunya jika sesuatu berjalan salah.

"Aku akan pulang besok. Akan kucari penerbangan paling pagi ke Jepang." Itachi bisa mendengar Mikoto memberitahu Sasuke kecil dan anak itu berseru senang. "tanyakan pada Sasuke ia ingin dibawakan oleh-oleh apa."

Dalam sekejap, perbincangan itu jadi salah satu hal yang paling menyenangkan yang Itachi miliki setelah berbulan-bulan mimpi buruk. Mungkin akhirnya ia bisa bernafas lega. Mikoto bilang Fugaku sedang sibuk di kantor, jadi ia hanya menitipkan salam pada Itachi. Itaci menerima bahwa ayahnya masih tidak ingin bicara dengannya.

Setelah telepon berakhir, Itachi menyandarkan diri di kursinya, menutup matanya. Penerbangan paling pagi masih 12 jam lagi. Ia masih punya waktu untuk mengistirahatkan dirinya sejenak sebelum merapikan barang-barang.

Terdengar ketukan di pintu dan sekretarisnya masuk, mengabarkan bahwa akan ada rapat dua jam lagi di gedung sebelah. Itachi menarik nafas panjang, istirahat bisa menunggu. Mungkin dia baru akan bisa beritirahat dengan tenang saat ia mati.


New York, Apartemen Itachi, satu jam sebelum kecelakaan

Dering telepon dengan keras kali ini tidak membangunkan Itachi. Ia memang sudah bersiap-siap untuk pergi tiga jam lagi ke bandara JFK. Itachi tidak mengenal nomor yang tertera, tapi ia tahu dari nomor depannya bahwa ini panggilan internasional dari Jepang.

Dengan agak ragu, Itachi mengangkat panggilan itu.

"Halo?" suara pria yang menjawabnya di seberang terdengar begitu sedih.

"T-Tuan Muda Itachi…?" Itachi merasa ia pernah mendengar suara ini. Bertahun-tahun yang lalu. "I-ini Kizashi Haruno, Tuan…"

Hatinya merasa lega, begitu tahu ini suara yang dikenalnya. Kizashi Haruno, supir keluarganya. Kalau Itachi tidak salah keluarga Haruno punya seorang anak perempuan yang seumuran dengan Sasuke. Terakhir kali Itachi pulang, ia bisa mengingat sosok anak perempuan berambut pink yang selalu bermain dengan Sasuke.

"Ada apa, Kizashi-san?" aneh sekali kalau Kizashi sampai meneleponnya ke Amerika begini. Mereka jarang berbicara kecuali hanya sekedar saling menyapa jika Itachi pulang ke Jepang.

"S-saya menelepon… untuk hal yang sangat penting… ini… tentang Tuan dan Nyonya Uchiha…" suaranya Kizashi bergetar, seakan ia tengah menahan diri untuk tidak menangis. Itachi menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang.

"Ada apa?"

"T-tuan… sungguh… maaf… s-saya… dan istri saya… kami diancam agar memutuskan rem mobil keluarga Uchiha…" jantung Itachi mencelos. "m-mereka mengancam akan m-membunuh Sakura… t-tapi, kami tidak sampai hati memotong rem… jadi… kami… mohon… lindungi anak kami… kami sudah tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi…"

Para mafia itu. Sekarang bukan hanya menarget keluarga Uchiha, tapi juga Haruno! Itachi merasa jantungnya berdegup terlalu kencang sampai titik dimana ini mulai menyakitkan untuk sekedar bernafas.

"Kizashi, tenang. Akan kuminta seseorang untuk mengamankan Sakura segera. Jadi dimana kau sekarang? Apa ayah dan ibuku bersamamu?"

"T-tuan dan Nyonya masih d-di dalam rumah… b-bertengkar… tapi Tuan meminta saya menyiapkan mobil…"

"Baik. Aku akan menutup telepon untuk meminta seseorang mengamankan Sakura sekarang. Apapun yang terjadi, jangan biarkan mereka keluar rumah hari ini, oke? Kau dan Mebuki juga tetaplah di rumah, jangan biarkan seorangpun masuk."

"B-baik Tuan Muda…" telepon diputus dan Itachi segera menelepon Interpol di Jepang untuk segera mengamankan putri keluarga Haruno. Jika para mafia itu sampai tahu Kizashi tidak melaksanakan perintah, mereka tidak akan tanggung-tanggung membunuh gadis kecil itu.

Aku harus segera pulang, apapun yang terjadi. Itachi berpikir cepat. Sesuatu yang berbahaya tengah berlangsung.

Tanpa pikir panjang Itachi menarik jaketnya dan kunci mobil. Ia masih dibawah umur, jika sampai ketahuan mengemudi bisa panjang urusannya. Tapi ini soal nyawa kedua orang tuanya.

Porsche hitam mengkilat segera membaur dengan keramaian jalanan kota New York.


Tiga puluh menit sebelum kecelakaan

Ini menit-menit terpanjang dalam hidupnya. Itachi sudah berkali-kali menelepon ke rumah, ke ponsel kedua orang tuanya, ke ponsel Kizashi, tapi tidak ada jawaban. Interpol mengabarkan bahwa mereka sudah menemukan Sakura dan mengamankannya. Itachi semakin takut bahwa sesuatu yang buruk terjadi, karena jika para mafia itu melihat Interpol menginterupsi, tentu mereka akan semakin brutal.

Tiba-tiba ponselnya bergetar, tanda panggilan masuk. Itachi mengaktifkan headsetnya, matanya menatap lurus ke depan dalam usahanya mengemudi melewati kemacetan kota.

"Ya?"

"Tuan Itachi… ini Mebuki Haruno…" Itachi menajamkan pandangan ke depan. Jika sampai Mebuki yang menelepon… jangan bilang bahwa Kizashi sedang menyetir sekarang? "Saya dan Kizashi, tengah bersama Tuan dan Nyonya Uchiha…"

Demi Tuhan! Apa yang sedang terjadi?

"Mebuki, jangan bilang-"

"Tuan dan Nyonya… memutuskan untuk pergi berunding dengan mafia itu…" suara Mebuki terdengar lebih pelan, Itachi tahu wanita itu tengah berusaha menguatkan dirinya sendiri. "karena kami… tak bisa membiarkan mereka pergi sendiri, kami ikut pergi bersama mereka…"

Itachi mulai kehilangan kendali pada setirnya. Bandara tinggal satu belokan lagi di ujung. Harusnya sempat. Harusnya. Ia sudah menelpon pihak bandara untuk meminta izin mengudara dengan pesawat pribadi Uchiha begitu ia sampai. Tak bisakah ego orang tuanya menunggu sejenak?!

"Tuan… ini akan jadi panggilan terakhir kami… saya… dan Kizashi… memohon… agar Tuan menjaga putri kami…" dan detik berikutnya Mebuki terisak. Ia bisa mendengar telepon dialihkan, berikutnya suara Ayahnya menyambut telinganya.

Itachi nyaris menabrak palang pembatas saat ia memasuki bandara.

"Itachi, Aku yakin Kizashi sebelumnya sudah memberitahumu segalanya. Kami… ibumu dan aku… sudah memutuskan. Jika Kizashi tidak melakukan yang diminta, jika bangkai mobil ini diperiksa nantinya, mafia itu akan terus mengejar putrinya. Kami tak bisa membahayakan putri mereka lebih dari ini. Jadi ayah memintanya untuk tetap melakukan itu."

"AYAH!" Itachi membanting pintu mobilnya, tak peduli ia baru saja menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk, bukan parkiran mobil. Itachi berlari seperti kesetanan menuju hangar pesawat pribadinya. "hentikan… apapun ini… kumohon…"

"Ini akan terlihat seperti kecelakaan biasa, Itachi. Para mafia itu tak akan berhenti mengejar jika kami masih hidup. Kau dan Sasuke dalam bahaya. Ini harus berhenti di sini. Ini resiko yang aku dan Ibumu sudah setujui. Tolong tutupi fakta bahwa Kizashi yang memotong, biarkan kenyataan itu mengambang agar para mafia tidak mengejar sisa keluarganya. Mereka orang baik yang sudah mau menemani kami di perjalanan terakhir ini…"

"Demi Tuhan, Ayah, hentikan mobilnya sekarang juga!" Itachi tidak peduli bahwa ia terlihat seperti orang gila yang berteriak di headset saat berlari menembus keramaian bandara. Semua penjelasan panjang lebar yang dikatakan ayahnya dengan begitu tenang terdengar seperti pembawa berita membawakan berita tentang cuaca. Tak ada satupun yang masuk akan bagi Itachi.

"Itachi…" suara ayahnya begitu memilukan. Itachi nyaris terjerembap jatuh saat menaiki tangga, paru-parunya sudah nyaris menembus batasnya. "maafkan ayah…"

"Ibu! Mana Ibu?! Aku mau bicara! Kalian tidak bisa berbuat seenaknya, bagaimana dengan Sasuke… bagaimana dengan… ku…" Itachi kehabisan nafas, pelan-pelan dinding emosi yang dibangunnya bertahun-tahun itu runtuh. Berusaha mengatur nafasnya, Itachi berhenti untuk menarik nafas, menyadari air mata mulai berkumpul di pelupuk matanya. "a-aku… tolong pikirkan… tentang perasaanku… aku… juga… membutuhkan kalian…"

Bendungan itu retak. Jangan tinggalkan aku. Aku mohon.

"Ayah… sangat… bangga padamu… kamu… memang anak ayah…" di ujung sana, Fugaku membiarkan air matanya menetes.

"Hentikan… kumohon…" Tangan Itachi mengepal, meninju dinding di hadapannya. Ia sudah tak kuat berlari lagi. Tak kuat menanggung ini semua. Hentikan. Hentikan ini semua. "aku… butuh kalian… aku…"

Banyak. Banyak sekali kata-kata yang belum disampaikannya. Ia masih begitu marah pada ayahnya. Tapi dibalik itu semua, Fugaku adalah ayah yang sangat, amat disayanginya. Apapun yang diinginkan ayahnya, akan diwujudkannya. Apapun.

Ibunya. Itachi bahkan belum sempat memeluk Mikoto lagi. Belum pernah mencium pipinya, memeluknya terlebih dahulu, membiarkan Mikoto menghujaninya dengan ciuman memalukan seorang ibu.

Masih sangat banyak yang ingin dilakukannya. Mereka tak bisa meninggalkannya begitu saja. Mereka tidak bisa membuat keputusan seenaknya sendiri seperti ini…

Ia bahkan belum sempat mengatakan sayang pada mereka.

"Kumohon… jangan… tinggalkan aku…" setengah terisak, Itachi bisa mendengar ayahnya membalas di ujung sana;

"Ayah percaya kamu mampu menghadapi ini semua."

Itachi merasa suaranya tercekik. Sangat, sangat menyakitkan.

"Itachi…" suara Ibunya kini menyapanya di telepon. "maafkan kami, nak… semua… yang kami lakukan… demi kalian… tolong ingat ini… kami… ayahmu dan aku…" Ibunya mengambil jeda. Ucapan terakhirnya.

"Kami sangat sayang padamu dan Sasuke…"

Telepon diputus.

Bendungan itu pecah. Itachi merosot di dinding, tak peduli orang-orang melewatinya. Air matanya tumpah. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Itachi Uchiha menangis. Malam itu, di depan seluruh bandara, Itachi membiarkan dirinya patah jadi seribu keping.

Satu bagian dalam dirinya mati, dan ia tak akan pernah sama lagi.


Pesawat Pribadi Uchiha, menuju bandara Haneda, sepuluh jam setelah kecelakaan.

"Permisi, Tuan." Itachi terbangun saat ia merasakan seseorang mengguncang pelan bahunya. "kami akan bersiap untuk mendarat, silahkan pasang sabuk pengamannya."

"Ah iya." Itachi tersenyum pada pramugari itu, bersiap memakai sabuk pengamannya. "tolong buatkan kopi untukku, terimakasih."

Itachi melihat jam tangannya. Ia baru tertidur tiga jam. Tapi ia butuh bangun dan sadar begitu mendarat. Banyak hal yang harus segera dilakukannya. Itachi bisa melihat Tokyo dari jendela, melihat gedung-gedung tinggi dibawahnya. Diam-diam bertanya jika ia memutuskan untuk melompat sekarang juga, apa rasa sakit di hatinya akan berhenti.

Itu pertanyaan bodoh, Itachi memutuskan, menghirup kopi panasnya yang baru saja diantarkan. Rasa sakit ini tak akan pernah berhenti.

Ia menarik nafas panjang, merasakan gelombang ketakutan yang baru menyergapnya. Kini ia harus melindungi Sasuke sendirian. Ini tidak akan jadi pertarungan yang mudah.


Moskow, Russia, tiga tahun yang lalu.

Itachi menarik pelatuknya, membiarkan darah mengotori salju putih di ibukota Negara paling dingin itu. Di hadapannya, mayat-mayat bergelimpangan. Itachi berusaha mengatur nafasnya, ia sendiri kelelahan. Kedinginan. Terluka.

Tapi semua itu tak sebanding dengan apa yang terjadi hari ini. Di gudang tua di Moskow, ia menghadapi sisa-sisa mafia bawah tanah yang sudah merenggut kedua orang tuanya dan keluarga Haruno.

Orang bilang balas dendam paling baik dihidangkan dingin.

Itachi tertawa sinis mengingat pepatah itu, membuatnya mengeluarkan lebih banyak darah dari mulutnya. Dunianya berputar, lalu kakinya menyerah. Itachi terjatuh ke salju yang keras. Ia menutup matanya dan berharap semua ini berhenti saat itu juga.

"Sa…suke…" bibirnya mengucap perih. Sejejas rasa bangga hinggap di dadanya, karena ia mampu melindungi adiknya hingga detik ini. Air mata Itachi perlahan turun.

Akhirnya, rasa sakit itu sudah tidak terasa lagi.


John Hopkins Hospital, Baltimore, setahun yang lalu.

"Kanker?" Itachi menatap pria tua berjas putih di hadapannya.

"Sudah sangat parah, Tuan Uchiha. Saya kagum Anda mampu bertahan sampai selama ini." Pria itu sungguh-sungguh menunjukkan seolah Itachi baru saja mematahkan rekor dunia. "pengobatan berikutnya tidak akan menyembuhkan, hanya-"

"Memperpanjang. Aku tahu." Itachi cukup pintar untuk mengerti keadaannya.

"Seandainya ini dideteksi lebih dini…" Itachi tertawa pelan mendengarnya.

"Sudah terlalu banyak kata 'seandainya' dalam hidup saya, dokter." Dokter tua itu menatap Itachi, lalu mengangguk perlahan.

"Saya menganjurkan untuk perawatan intensif sebelum merambat ke organ lain," Itachi terdiam sebentar, lalu menggeleng sopan.

"Masih banyak hal yang harus saya lakukan sebelum tinggal di rumah sakit. Saya pamit dulu, terimakasih." Itachi bangkit dan membungkuk sopan untuk pamit.

Dalam kepengurusan sah, Sasuke harus berumur 18 tahun untuk menerima haknya sebagai pewaris kerajaan bisnis Uchiha. Jika Itachi meninggal sebelum itu, Perusahaan akan dipegang oleh Board member lainnya yang memiliki saham gabungan di dalamnya.

Itachi tak bisa membiarkan hal itu terjadi. Ia harus berusaha keras, apapun, bagaimanapun, agar dapat memastikan bahwa Sasuke yang akan mewarisi Perusahaan Uchiha. Itachi memutus hubungan dengan adiknya dan Sakura, memfokuskan diri untuk menyiapkan dokumen-dokumen yang akan mengesahkan Sasuke. Karena sejujurnya, Itachi tahu tubuhnya tidak akan bertahan lama. Luka-luka yang didapatkannya selama ini saat memburu para mafia itu sudah cukup menekan sistem pertahan tubuhnya. Ditambah kanker yang kini menggerogotinya.

Itachi tidak ingin berpikiran muluk-muluk. Cukup bahwa ia mampu melindungi Sasuke, Sakura, dan Perusahaan Uchiha sampai waktunya tiba, itu sudah jauh dari cukup. Sepanjang hidupnya ia tidak pernah menginginkan sesuatu lebih dari kebahagiaan adiknya.

Jika memang dewa kematian akhirnya merindukannya, masih banyak hal yang harus dia urus sebelum menyapa kawan lamanya itu.


Rumah Sakit Konoha, Jepang, saat ini.

"…dan disinilah aku, tiga hari yang lalu, baru tiba. Sedikit merepotkan Hyuuga Hinata. Kau tahu, Sasuke? Aku bahkan menyukainya. Aku tak berpikir suatu saat akan menyukai seorang gadis…" Itachi tergelak dalam tawa lirihnya.

Sasuke di seberang meja, tidak mengatakan apapun. Ia masih berusaha mencerna semua yang dikatakan Itachi.

Semua ini terdengar tidak nyata. Sama sekali. Seperti sebuah lakon drama yang dibuat terburu-buru, tanpa peduli bagaimana perasaan para pemainnya.

"Sasuke-"

"Kau seharusnya memberitahuku semuanya dari awal." Sasuke merasakan dadanya sakit. Mungkin bekas operasinya terbuka lagi, atau luka lama itu memang tak pernah sembuh. "dan sekarang kau mau meninggalkanku juga? Aniki, kau sama egoisnya seperti ayah dan ibu."

Itachi menghela nafas panjang. "Sasuke, aku-" ucapannya terpotong saat dirasakannya Sasuke memeluknya. Topeng kekakuan yang selama ini digunakannya lepas dihadapan Itachi. Rasanya seperti kembali ke tahun-tahun dimana mereka masih kecil.

"Kau tidak menanggung semuanya sendirian, aniki." Ucap Sasuke pelan.

Itachi menahan air matanya, tapi semua emosi yang ditahannya kini meluap dalam dirinya. "Aku tahu, aku tahu…" ujarnya tertahan.

Di luar sana, hujan masih terus membasahi Konoha. Ditengah ruangan yang temaram, dalam pelukan adik kecilnya yang sangat ia sayangi, Itachi merasa waktunya untuk bertemu kedua orang mereka semakin dekat…


A/N : Coba baca scene kecelakaan sambil dengerin Sadness and Sorrow-Naruto atau Hokage's Funeral. Cerita ini dibuat berdasarkan anime waktu Itachi membunuh clannya, waktu ia berhadapan dengan kedua orang tuanya, minta izin untuk membunuh mereka. Fugaku dan Mikoto merelakan nyawa mereka jika Itachi pikir itu jalan yang benar. Itachi menangis di scene itu.

Di cerita ini, Itachi harus menyimpan semua beban itu sendirian. Dia ga membunuh kedua orang tuanya, tapi dipaksa harus menerima keputusan orang tuanya dan mendengar pesan terakhir mereka, sama saja seperti melihat mereka bunuh diri di depan matanya tapi ga bisa melakukan apapun.

Jadi ya, secara teknis memang Kizashi yang memotong rem, tapi ga pernah berniat untuk mencelakakan. Makanya kasus itu ditutup walau menggantung sama Itachi, demi nama baik keluarga Haruno.

Terimakasih sudah membaca! sampai jumpa chapter berikutnya, Ja ne!

-Phy