DELAPAN BELAS
"I love her, and that's the beginning of an end of everything."
-Unknown
…
"Kau gila, Sasori."
Sepanjang pagi ini wanita berambut pendek berwarna biru elektrik itu menggumamkan hal yang sama berulang-ulang.
"Kau sudah mengatakan itu dari tadi," gerutu Sasori kesal. "Aku tidak bercerita panjang lebar tentang Sakura padamu hanya untuk mendengarmu mengataiku gila, Konan."
"Kau ingin pendapatku kan?" Sasori mengangguk. "Nah, pendapatku sudah kuucapkan berulang-ulang agar pikiranmu kembali ke tempat yang benar; kau gila."
Sasori mulai merasa pembicaraan ini tidak akan ada ujungnya. Kalau bukan karena habis mengantar sahabat mereka Deidara ke Bandara, mana mau Sasori semobil dengan Konan. Mungkin teman sedari kecilnya yang bawel itu sudah diturunkannya di jalan.
"Kau sudah mengungkapkan perasaanmu, dia hanya mengucapkan 'terimakasih', bukan 'aku juga mencintaimu, Sasori.' Kau ini peka sedikit kenapa, sih? Kalaupun dia punya perasaan padamu, sedikiiiit saja, kau tetap tidak boleh mengejarnya selama dia masih berpacaran dengan Uchiha. Itu kode etik antar lelaki, Sasori."
"Sejak kapan kau jadi seorang ahli dalam sebuah hubungan, huh? Sudahlah, tak ada gunanya bicara denganmu." Balas Sasori ketus sembari menginjak gas. Konan tahu teman semasa kecilnya itu tengah ngambek berat karena komentar pedasnya, tapi Kami-sama, Sasori butuh seseorang untuk menamparnya agar bangun dari fantasi konyol soal menculik sang putri dari pangeran berkuda hitamnya!
"Kau sahabatku, Sasori. Sudah kewajibanku menyuntikkan logika ke pikiranmu yang melenceng itu." Jawab gadis itu, berusaha melembutkan nada bicaranya. "Diantara kita bertiga; aku, Deidara dan kau, kau selalu jadi yang paling tenang dan bisa berpikir jernih saat ada masalah. Kau tidak akan melakukan sesuatu yang pada akhirnya melukai orang lain. Kau bukan orang yang seperti ini-"
Tiba-tiba saja Sasori membanting setir ke arah bahu jalan, menginjak rem dengan tiba-tiba hingga membuat Konan memekik kaget.
"Cukup."
Hampir 10 tahun lamanya mereka berteman, baru sekali ini Sasori bicara dengan nada seperti ini pada Konan. Pria itu memandang tajam ke depan, tangannya meremas setir. Konan tidak suka situasi ini.
"Kau sahabatku. Kupikir kau akan mendukungku…" Konan menimbang situasi, mencari kata-kata yang tepat. Salah ucap sedikit saja, tali persahabatan yang sudah diuji antar benua itu mungkin akan meregang dan putus.
"Aku selalu mendukungmu, Sasori… tapi hanya ketika kau melakukan hal yang benar."
Tarikan nafas mendadak Sasori mengindikasikan masalah bagi Konan. Pria itu membuka kunci pintu otomatis.
"Turun."
Konan ternganga mendengarnya. Ini bukan diskusi panas saat ia menghadiri koferensi muda PBB bersama Sasori bertahun-tahun lalu. Ini bukan debat soal politik dan ekonomi dunia yang sering dibahasnya dengan Sasori lewat chat karena mereka terpisah dua benua.
Ini hanya tentang satu perempuan yang mampu membuat sahabatnya itu gelap mata. Konan selalu berani mengungkapkan isi pikirannya, kritikannya pada pemerintah, sampai menanggapi cyber bullying para pembaca blognya sekalipun tanpa gentar…
Perlahan Konan membuka pintu mobil, rahangnya erat menahan emosi.
…tapi saat ini, ia tidak yakin ia mampu menang menghadapi sahabatnya sendiri.
"Kau sudah yakin dengan pilihanmu, Sakura?" Ino membantu Sakura mengemasi barang-barangnya di kamar Rumah Sakit. "Aku… eh, Tsunade-sama, tidak akan keberatan membiayai rumah sakit sampai kau benar-benar sembuh."
"Aku sudah sembuh, Ino." Gumam Sakura. Ia tidak ingin berlama-lama di sini, ia masih harus mengemasi barang-barangnya di Uchiha Mansion. Selepas malam berbadai kemarin, Sakura sudah membuat keputusan untuk meninggakalkan mansion tempat ia bertemu cinta pertamanya itu.
Masih jelas bagaimana mata Sasuke menatapnya malam itu saat Karin meneriakkan bahwa orang tuanya pembunuh. Masih jelas dalam benaknya bagaimana Sasuke berbalik pergi memunggunginya.
Kini, punggung itu selamanya tak akan bisa kuraih. Sakura berbisik sedih dalam hatinya.
"Kau yakin kau baik-baik saja? Kau bisa menginap di tempatku, kau tahu." Ino membantu membawa koper Sakura melalui lorong Rumah Sakit.
"Aku akan baik-baik saja, Ino. Terimakasih tawarannya." Sakura membalas sahabatnya itu dengan senyum terbaik yang bisa ia berikan.
Kemarin malam setelah membuat keputusan untuk pergi dari Uchiha Mansion, Sakura menelepon Tsunade dan meminta−bukan, memohon−agar Tsunade mau menjadi walinya yang baru. Ujian masuk Universitas Tokyo semakin dekat dan Ia butuh seseorang untuk mendatangani formulir beasiswanya, dan jelas sudah tidak mungkin lagi mencari walinya yang sah yaitu Itachi. Itachi mungkin sudah pergi duluan meninggalkannya begitu tahu kebenaran ini.
Sakura berjanji ia akan bekerja dan belajar sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan sepeser uangpun dari Tsunade, tapi kepala sekolahnya yang sudah seperti ibunya sendiri itu begitu murah hati padanya. Tsuande memberikan Sakura uang yang cukup untuk sebuah kamar di apartemen murah, dan biaya sehari-hari.
"Jangan kau pusingkan soal biaya. Aku selalu menganggapmu seperti anakku sendiri, Sakura… Pikirkan saja Ujian Masuknya. Sisanya akan aku tangani." Begitu yang Tsunade katakan, membuat Sakura menangis. Entah sudah berapa banyak orang yang begitu baik mengulurkan tangan membantunya selama ini.
"Aku akan mengunjungimu tiap hari untuk belajar bersama," Ino meletakkan koper Sakura di lobby, keduanya menunggu taksi yang akan mengantarkan Sakura ke rumah barunya.
"Jangan, kau kan sibuk mengurus kepergianmu ke luar negeri menyusul Deidara. Aduh, kau jadi tidak mengantarnya hari ini karena membantuku-"
"Sebenarnya," Ino memutus kata-kata Sakura. "aku… belum memutuskan apapun soal itu..."
Mata hijau Sakura mengerjap, menatap bingung sahabat pirangnya itu. "Ino, sepanjang kita saling mengenal, kau selalu bermimpi kuliah di luar negeri. Mengejar para desainer dunia. Kau masih ingat kan? Milan, Paris? Vogue, Harper Bazaar?"
"Tentu saja aku ingat. Hei, aku tidak mendiskon mimpi-mimpiku, tahu." Sebuah senyum kecil mengembang di bibir Ino. "hanya saja… aku ingin membangun fondasi yang kuat di sini. Universitas Tokyo tetap Universitas terbaik di Jepang, kan. Aku tetap akan belajar dari yang terbaik,"
Sakura menatap Ino dengan pandangan menyelidik. "Omonganmu mirip seseorang… ah! Aku yakin ini ada hubungannya dengan Shikamaru."
Nama itu sontak membuat wajah Ino bersemu merah. Sakura terkekeh geli.
"Hmph, terserah apa katamu lah, jidat. Pokoknya kami tidak seperti pikiranmu."
"Oh, aku yakin kalian lebih dari yang kupikirkan." Sakura memeluk sahabatnya itu saat sebuah taksi berhenti di depan mereka. "Kalau begitu… pertemuan kita berikutnya adalah di upacara penerimaan mahasiswa baru Universitas Tokyo?" ujarnya tersenyum. Ino tertawa mendengarnya.
"Tantangan diterima. Sampa jumpa, forehead!" Ino melambai pada Sakura, menatap taksi itu pergi dari Rumah Sakit.
Sakura adalah sahabat sekaligus rival terbaiknya, yang akan sama-sama berlari menuju garis finish mereka masing-masing.
Minato mengurut keningnya yang terasa makin pusing akhir-akhir ini. Di hadapannya, Hyuuga Hiashi duduk bagai panglima perang yang tak tergoyahkan.
"Uhm, bagaimana kalau kita makan siang dulu…" Hokage keempat itu berusaha mencairkan suasana ruang tamunya yang terasa seperti terbakar.
"Aku tidak kesini untuk makan siang, Hokage-sama." Minato tahu betul maksud kedatangan pemimpin klan Hyuuga itu untuk membicarakan kedua anak mereka. Minato menelan ludah, mengangguk-angguk.
"Yah, aku sudah mendengar bahwa Hinata menolak keputusanmu untuk mengirimnya ke Inggris…" Minato menarik nafas panjang. "aku tidak ingin kau berpikir Naruto yang memaksanya untuk tetap tinggal. Aku yakin itu keputusan Hinata sendiri. Dan kita berdua sebagai seorang ayah tahu… bahwa kini sudah saatnya anak-anak kita yang mengambil keputusan untuk masa depan mereka sendiri."
Mata biru jernih Minato menatap langsung pada pupil lavender Hiashi.
Ada jeda yang membeku diantara mereka. Minato memikirkan apa reaksi terbaik jika tiba-tiba Hiashi memutuskan untuk melemparnya dengan air teh yang masih hangat yang tersaji diantar mereka. Sudah dari dulu sejak Hinata dan Naruto resmi pacaran, Hiashi akan datang kepadanya jika ada hal yang tidak disukainya dari hubungan kedua anak itu. Dan mungkin ini klimaksnya, karena ini pertama kalinya Hinata melawan perintah ayahnya.
"Aku sudah mendengar tentang kecelakaan Naruto dan soal beasiswa itu." Hiashi berkata tiba-tiba, memecah keheningan.
"Kalau begitu kau tentu sudah mendengar juga bahwa kami akan mengirim Naruto berobat ke secepatnya, sampai kakinya sembuh total. Memang tidak ada yang bisa menjamin ia akan berlari sama seperti dulu… tapi dengan semangatnya untuk sembuh, aku yakin itu tidak akan memakan waktu lama." Minato menutup kata-katanya dengan senyuman bangga seorang ayah.
Ujung-ujung bibir Hiashi berkedut melihat betapa bangganya Minato pada putra semata wayangnya itu.
"Naruto…" mulut Hiashi membuka perlahan. Mata lavendernya beralih menatap pantulan dirinya di gelas teh diantara mereka. "Naruto datang padaku tadi pagi."
Minato mengerjapkan mata, tidak yakin harus bereaksi apa.
Masih jelas di benak Hiashi apa yang terjadi tadi pagi di Hyuuga Manor, bagaimana pemuda berambut kuning itu memaksa bertemu dengannya untuk bicara empat mata. Masih mengenakan kruk dan gipsnya, Naruto berusaha duduk dengan sopan di hadapan Hiashi. Tentu saja proses menekuk kaki itu membutuhkan waktu lama dan beberapa erangan menyedihkan.
Hiashi memintanya untuk duduk biasa saja, tapi Naruto ngotot dan bilang bahwa hari ini ia harus melakukan yang terbaik di hadapan Hiashi. Harus.
"Ia menyampaikan tentang rencana berobat… dan waktu yang tidak terbatas." Hiashi mengingat kembali percakapannya dengan pemuda itu;
"Aku akan segera pergi ke Argentina, Tuan Hiashi. Aku akan berusaha keras agar cepat sembuh! Karenanya… aku mungkin akan meninggalkan Konoha dalam waktu yang tidak sebentar…"
"Apa kau akhirnya setuju untuk putus dengan Hinata?" Naruto terdiam mendengar bom yang tiba-tiba dijatuhkan Hiashi. "kau mungkin tidak akan kembali lagi ke Konoha." Tajam, selalu seperti itulah Hiashi bicara padanya.
Naruto tahu, Hiashi hanya bersikap selayaknya seorang ayah yang protektif pada putrinya. Putri yang dibesarkannya sendirian semenjak Ibu Hinata meninggal. Putri yang begitu cantik dan sempurna, mana bisa diserahkannya begitu saja pada orang lain?
Naruto mengeratkan kepalan tangannya diatas lututnya.
"Tidak." Naruto masih menunduk, hatinya bergemuruh. "aku tidak kesini untuk putus dengan Hinata."
Hiashi menatap pemuda di hadapannya.
"Aku akan mengambil jurusan politik di Universitas Konoha sekembalinya aku dari Argentina. Aku akan berusaha keras untuk bisa menjadi Hokage seperti ayah. Menjadi pemimpin dan pelindung rakyat. Menjadi seorang pria yang pantas mendampingi Hinata…"
Naruto merendahkan tubuhnya di hadapan Hiashi. "Karena itu, kumohon, izinkan aku tetap bersamanya. Biarkan Hinata menjalani kuliah sesuai pilihannya di sini. Aku tidak akan mengecewakanmu! Aku akan jadi pria terbaik baginya!"
Pria muda itu mengangkat kepalanya, semangat dan janji berkobar di kedua matanya yang menyihir Hiashi. "Aku akan kembali, Tuan Hyuuga. Aku pasti akan kembali pada Konoha… pada Hinata."
Semangat yang sama yang membuat seisi Konoha percaya pada Minato. Janji yang tak akan dingkari.
Hiashi memejamkan mata, kenangan tadi pagi masih begitu nyata di benaknnya. Dihadapannya, Minato menunggu kata-katanya.
"Ia memintaku untuk membiarkan Hinata melanjutkan kuliah sesuai apa yang diinginkannya." Hiashi menelan ludah. "Dan ia memintaku untuk mempercayakan hati Hinata padanya. Bahwa Ia akan kembali pada Hinata…"
Ekspresi Minato berubah dari kaget, terharu, kini menjadi bangga. Naruto berani menghadapi Hiashi sendiri, meminta kepercayaannya untuk tetap jadi pria yang menemani Hinata. Anak itu sudah tumbuh jadi seorang pria secepat ini, gumam Minato bangga dalam hati.
"Aku harap tidak ada perkataan anakku yang menyinggungmu, Tuan Hiashi."
Perlahan, Hiashi menggeleng. Tangannya menggapai gelas teh dihadapannya mereka, menggenggam erat gelas tanah liat itu.
"Tidak…" Minato yakin ia sudah mengenal Hyuuga Hiashi cukup lama untuk tahu bahwa pemimpin klan Hyuuga yang keras dan sinis itu hanya pernah tersenyum beberapa kali dalam hidupnya.
Jadi bisa dikatakan momen seperti ini jarang sekali terjadi.
"Sebaliknya, anakmu mampu meyakinkanku… Hinata sudah memilih pendamping yang tepat."
Hyuuga Hiashi mengangkat gelasnya, seulas senyum menghiasi wajahnya.
"…aku minta maaf." Ino menunduk dalam di hadapan seorang pria berambut pirang panjang. Rahang Deidara berkedut. Tangannya mengepal erat disamping tubuhnya.
Lima belas menit sebelum keberangkatan, gadis itu akhirnya muncul di Longue, tapi tidak dengan kopernya seperti yang Deidara inginkan. Hanya seorang Ino Yamanaka berbalut baju kasual yang berdiri dengan pandangan yang sulit diterka.
Ini bukan scenario yang Deidara harapkan.
"Kenapa?" tanyanya pelan. Suaranya tercekat. "Impianmu. Impianku. Kita bisa meraihnya bersama."
Orang-orang di bandara Haneda tampak terlalu sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing untuk memperhatikan live drama yang berlangsung di depan salah satu gerbang keberangkatan internasional itu.
"Kau masih marah padaku soal kepergianku bertahun-tahun lalu?" Ino menggeleng pelan. Rambut panjangnya diurai hari ini, dibiarkan tergerai bebas menutupi bahu dan punggungnya.
"Aku tidak marah lagi soal itu…"
"Apa aku membuatmu marah soal hal lain? Apa… apa yang belum cukup aku lakukan untukmu?" Ino menatapnya dengan pandangan sedih.
"Bukan itu, Dei…"
"Lalu kenapa?!" Deidara berusaha menahan diri, tapi mau tak mau nada suaranya meninggi mendengar semua jawaban tidak masuk akan Ino. "apa ini soal si Nara pemalas itu? Kau menyukainya? Kau menolakku demi dia? Aku bisa jadi pria yang kau inginkan, Ino. Sekali lagi, kau dan aku. Pasangan sempurna. Kau tahu hal itu."
"Dei." Ino memanggilnya pelan. "Kau meninggalkanku sekali. Tidak ada hal yang bisa menjamin kau tidak akan melakukannya lagi. Dan aku tidak akan menyerahkan hatiku untuk kau patahkan kedua kalinya."
"Lalu kaupikir Nara tidak akan mematahkan hatimu? Dia tidak cocok untukmu, Ino! Kau, kau butuh seseorang yang mengerti duniamu, seseorang yang tidak terlalu malas untuk mengantarmu kemanapun kau pergi. Kita sudah pernah mencobanya Ino. Tak bahagiakah kau denganku saat itu?" Deidara tahu dirinya mulai terdengar sangat menyedihkan. Kalau saja Sasori dan Konan, kedua temannya yang tadi mengantarnya masih di sini, Deidara yakin Sasori akan mengatainya sebagai pria yang menyedihkan.
Toh itu memang kenyataan.
"Aku bahagia saat itu, Dei. Tapi saat itu berbeda dengan sekarang. Sudah banyak hal yang terjadi. Dan ini bukan hanya tentang Shikamaru. Ini tentang kita."
"Aku mencintaimu, Ino." Ujar Deidara, matanya menatap langsung ke mata Ino. "Aku mungkin menyakitimu waktu itu, dan kau juga menyakitiku dengan memilih Nara. Tapi aku tidak akan menyerah, Ino. Jika kau tidak mau ikut denganku sekarang, aku akan menunggumu disana."
"Dei, kau punya hidup sendiri yang harus kau jalani. Aku tidak menunggumu dulu. Dan aku harap kau juga tidak menungguku sekarang."
"Aku menemukan separuh diriku yang lebih baik saat bersamamu, Ino. Apa ada alasan logis kenapa aku harus melepaskan seseorang yang melengkapiku?" Deidara menatapnya, penuh keyakinan. "aku yakin di dalam dirimu, kau juga tahu hal itu."
Ino menarik Deidara ke dalam pelukannya. Pelukan itu singkat, tapi Ino mencurahkan semua perasaan yang tersisa pada Deidara, semua kenangan mereka dulu. Deidara masih mematung, tangannya terasa berat untuk memeluk Ino kembali.
"Aku sayang padamu, Dei. Selalu. Perasaan itu akan selalu ada. Hanya dalam bentuk yang berbeda." Ino berbisik, akhirnya melepaskan pelukannya. Ino menatap Deidara dalam-dalam, dan pria itu membalasnya, tak mampu berkata-kata.
"Cinta tidak butuh dua orang yang hanya saling melengkapi, Dei. Cinta butuh dua orang yang sama-sama kuat. Kita berdua tahu tidak akan ada artinya kalau hanya salah satu dari kita yang berusaha."
Panggilan terakhir untuk penerbangan dibuka.
Sekali lagi, Deidara melepaskan tangan Ino, perlahan-lahan. Matanya menatap gadis itu sampai Ia menghilang di tengah keramaian bandara. Gadis yang pernah ditinggalkannya, dan juga gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta mati-matian.
Deidara melangkah pergi memasuki gerbang yang akan membawanya semakin menjauh dari Ino. Suara desing pesawat hanya seperti kipas angina ditelinganya. Kakinya membawanya memasuki pesawat antar benua itu, mengambil tempat di samping jendela. Tangannya merogoh ponselnya, mengubahnya menjadi airplane mode. Dua earphone menyumpal telinganya, menulikannya dari semua perasaan.
When the words failed, music speaks.
Alunan musik klasik kesukaannya mengalun memasuki kepalanya, mengaburkan semua perasaannya yang campur aduk.
"Please fastened your seat belt, Sir." Seorang pramugari mendekat padanya. Deidara menyunggingkan senyum ringan. "And please don't sleep when we take off."
"Just a little bit dizzy, Miss." Deidara menarik turun topinya menutupi matanya.
"Should I bring medicine?" pianis mahir itu menggeleng. Satu-satunya obat yang dibutuhkannya mungkin segenggam pil ajaib yang bisa menghilangkan kenangan akan seorang gadis cantik berambut pirang panjang bermata biru laut yang tak akan pernah mampu diraihnya lagi. "Okay then, enjoy your trip, Sir."
Pramugari itu menghilang dan pesawat mulai mengudara. Deidara menarik nafas panjang dibalik topi yang menutupi wajahnya. Musik adalah pelariannya saat semua berjatuhan.
Pria sejati tidak menangis.
…kecuali untuk alasan-alasan tertentu.
Mungkin orang benar. Cinta pertama tak selalu berujung bahagia.
Sasuke kalang kabut sejak pagi hari. Untuk pertama kalinya seumur hidupnya yang datar, pria yang selalu tampak tenang itu tampak cemas dan sesekali pandangan matanya nyalang menatap meja kerjanya yang berantakan di Gedung Uchiha Corp.
Ada banyak sekali hal yang harus dilakukan, dan Ia tidak yakin harus mulai darimana.
Pertama, pastikan Itachi akan baik-baik saja. Kakaknya yang baru saja menceritakan kisahnya malam kemarin itu langsung dilarikan ke ICU karena tiba-tiba saja dia pingsan tanpa sebab hanya beberapa menit setelah bercerita. Sampai sekarang, belum ada kabar jelas dari kondisi Itachi. Sasuke mengerutkan keningnya.
Kedua, memorandum of agreement Uchiha Corp antar para pialang sahamnya. Sasuke sudah meninjau ulang semua perjanjian yang tertera disana, kapan tepatnya perusahaan boleh dipegang oleh para joint venture lainnya, dan kapan perusahaan kembali jadi milik keluarga Uchiha seutuhnya. Sasuke tidak dapat menyembunyikan bangga melihat betapa rinci dan hati-hati Itachi dalam mempertahankan warisan orang tua mereka. Dengan umur yang sudah tepat untuk memegang penuh warisannya, Sasuke harus segera mengadakan rapat antar Dewan secepatnya, sebelum ada perpindahan kekuasaan menyusul turun jabatan-nya Itachi.
Ketiga... temukan Sakura. Secepatnya.
Sasuke menghela nafas panjang, frustasi. Semua orang tampaknya tutup mulut tentang keberadaan Sakura tiap kali ia bertanya. Seakan-akan semua orang kini berbalik menganggapnya musuh.
Tahu sendiri kan susahnya mencari orang yang tidak mau ditemukan?
"Sasori…?" Sakura mengerjapkan mata, tidak yakin yang baru saja mengetuk pintu apartemen barunya dengan tenaga seperti Naruto menendang bola adalah mantan ketua OSISnya dulu.
Sekaligus pria yang akhir-akhir ini sudah sangat baik membantunya.
"Ada ap−" kata-kata Sakura terpotong oleh pelukan erat dari si kepala merah. Sasori memeluknya seakan-akan Ia bisa kehilangan Sakura kapan saja. Pelukan yang intens, dan penuh dengan emosi disana.
Sakura tidak berkutik dalam pelukan Sasori. Rasanya sudah lama sekali sejak ada orang yang memperlakukannya seperti itu. Ya, sudah lama sekali.
"Tolong jangan pergi lagi. Jangan menghilang begitu saja tanpa memberitahuku apapun." Pelukannya mengendur, hingga akhirnya benar-benar terlepas. Mata Sasori menatapnya, dan Sakura bisa melihat dirinya di kedua bola mata yang tampak benar-benar khawatir itu.
"Darimana−"
"Ino." Jawab Sasori cepat.
Sakura mengerutkan kening, berpikir Ia seharusnya meminta Ino agar merahasiakan tempat tinggalnya ke Sasori juga, bukan hanya Sasuke. Sakura butuh waktu sendiri tanpa diganggu siapapun. Sepertinya sekarang sudah terlambat untuk itu, pikir Sakura lelah. Bertahun-tahun di KHS mengenal Sasori, Sakura tahu pria itu sama keras kepalanya seperti Sasuke. Kalau Sasori ingin menemukannya, Ia pasti menemukannya.
Kadangkala, Sakura berharap Sasori lah yang membuatnya jatuh cinta setengah mati. Mencintai orang yang mencintaimu terdengar jauh lebih mudah, kan?
Tapi Sakura tahu tidak seperti itu cara dunia ini bekerja.
"Aku… hanya sedang ingin sendiri. Maaf." Sakura berusaha untuk tidak menatap mata Sasori. Ia tidak ingin melibatkan perasaan siapapun dalam dunianya yang sedang kacau balau. Jangankan perasaan orang lain, perasaannya sendiri saja Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya.
"Sakura, aku tahu aku mungkin bajingan brengsek yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tapi jika hubunganmu dengan Sasuke hanya membuatmu sedih terus menerus, kenapa kau tidak mencoba membuka hatimu untuk orang lain?" Sasori yakin memang ada sekrup yang lepas dari kepalanya. Apa Ia bisa lebih menyedihkan dari ini?
Sakura tampak bingung bagaimana harus menjawab. Sebagian dari dirinya mengamini hal itu, sebagian dari dirinya masih belum terima kalau ini memang sudah akhir ceritanya dengan Sasuke. Demi Kami-sama, Ia hanya butuh waktu. Hanya waktu, variable penentu dimensi keempat itu yang bisa menyelesaikan semua keruwetan ini.
Dan waktu tidak menunggu untuk siapapun. Ia sudah harus siap menghadapi Ujian Masuk Tokyo University, Sakura belum siap menghadapi masalah pribadinya dengan Sasuke atau siapapun. Membayangkan Sasuke yang membencinya saja sudah cukup membuatnya rasanya ingin menenggelamkan diri.
"Aku butuh waktu…"
"Akan aku berikan, Sakura. Selama apapun itu."
"Aku tidak bisa menjanjikan apapun, Sasori…"
"Aku tidak peduli." Suara kecil dalam pikiran Sasori yakin Ia harus segera memeriksakan kepalanya sehabis ini. Mungkin Konan benar, Ia sudah gila.
Memangnya siapa yang tidak akan jadi gila dengan semua hal ini?
Untuk beberapa menit, Sakura hanya bisa menatap Sasori. Salahkah Ia kalau memberikan kesempatan pada pria di hadapannya? Saat Ia sedih, saat Ia sakit, saat Ia butuh seseorang untuk jadi sandaran, Sasori ada di hadapannya.
Sasori yang baik. Yang selalu berusaha untuk membuatnya bahagia.
Bukankah harusnya pilihannya sudah jelas?
"…maaf. Aku masih menyukai Sasuke. Aku hanya ingin kita berteman…" Sakura menghindari menatap mata Sasori.
Harusnya. Harusnya.
Sakura juga membenci dirinya sendiri. Membenci perasaannya yang tidak berubah sedikitpun pada Sasuke. Logikanya yang sudah tumpul.
Cinta itu buta, dan seringkali menghasilkan keputusan-keputusan tidak waras.
Shikamaru tidak mengatakan apa-apa saat membuka pintu dan menemukan Ino berdiri di depan sekali lagi. Ini hari kerja, kedua orang tuanya sedang tidak ada di rumah. Satu alasan untuk Shikamaru tidak perlu repot-repot mempersilahkan gadis itu masuk, seperti yang biasa diteriakkan Yoshino Nara, ibunya.
"Aku mau bicara." Ino bersikeras, walau tahu Shikamaru tidak punya niat untuk mempersilakannya masuk. Setelah apa yang terjadi kemarin; gadis itu pergi setelah ciuman pertama mereka. Tanpa kata apapun kecuali sepotong kata 'maaf'.
Shikaku Nara menanyainya sepanjang malam tentang kebodohan apa yang baru saja dilakukannya sampai Ino pergi secepat itu. Shikamaru tentu saja tidak mau mengakui ia baru saja mencium seorang gadis untuk pertama kalinya dalam 18 tahun hidupnya. Walaupun begitu, rasa-rasanya Shikaku tetap saja tahu ada yang salah dengan mereka, tak peduli bagaimanapun Shikamaru mengelak dari pertanyaan simple ayahnya;
"Kau menyukai gadis itu kan?"
Shikamaru jarang menemukan pertanyaan tanpa jawaban seumur hidupnya sebagai jenius. Hanya satu-dua kali menyangkut biologi molekuler Shizune-sensei karena Ia sendiri tidak peduli ada berapa banyak sel yang harus dihapal dalam tubuh manusia.
"Bicara saja." Jawab Shikamaru. Keduanya masih berada di pintu depan.
"Tentang yang kemarin…" wajah Ino memerah. Mau tidak mau Shikamaru juga jadi merasa wajahnya memanas. Mungkin rasa malu itu memang menular. "jangan marah padaku, tapi… uh, bagaimana aku menyampaikannya yah?"
Shikamaru menarik nafas panjang. "Sudahlah, aku juga malas membahasnya. Anggap saja yang kemarin itu kebetulan saja; situasinya mendukung, jadi kita tidak bisa mengendalikan diri."
"Kau menyesalinya?" Ino memandangnya lekat-lekat. Diperhatikan seperti itu Shikamaru jadi jengah dan bertambah merah mukanya.
"B-bodoh, mana mungkin aku menyesalinya." Shikamaru menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal. "…aku mencium gadis paling popular di KHS."
Kata-kata Shikamaru membuat Ino tertawa kecil.
"Jadi kau menganggapku populer ya? Apa lagi, aku gadis paling cantik di KHS? Paling manis?" Shikamaru mengernyit, tapi senyuman ringan kembali pada bibir tipisnya.
"Tidak. Suaramu itu menganggu tidurku, kau berisik, suka menyuruh orang. Sama sekali bukan tipeku." Tawa Ino semakin keras, dan mau tidak mau Shikamaru jadi terbawa ringan perasaannya. Ada sesuatu yang lebih dari sekedar hormone yang tidak stabil diantara mereka.
Sesuatu yang mungkin lebih kuat dari sekedar perasaan suka.
"Kau tahu, Shika. Aku pernah baca kutipan 'what if in the person that you loves, you find a bestfriend instead of a lover?' lalu aku memikirkannya semalam suntuk… tentang apa yang terjadi kemarin…"
Ino menunduk, matanya menatap ke bawah alih-alih mentap lurus pada Shikamaru. Shikamaru menunggu gadis itu menyelesaikan kalimatnya, mengatakan apa yang ingin disampaikannya.
"Setelah ciuman itu… aku sadar aku tidak ingin kita seperti itu." Mata lautan dalam Ino menyapunya. Rasanya Shikamaru terhisap masuk ke dalamnya. "Aku menyukaimu. Benar-benar menyukaimu. Dan aku ingin terus berada di sampingmu, bercerita padamu, mendengar ceritamu, menggodamu kalau suatu saat kau menemukan gadis lain yang ingin kau cium…"
Wajah Shikamaru memerah dan Ino tertawa lepas. Shikamaru menutup mata, menghembuskan nafas.
"Aku mengerti. Aku juga merasakan hal yang sama. Makanya aku bingung bagaimana harus menghadapimu." Akhirnya Shikamaru mengakuinya. "Lebih mudah mendengarkan celotehanmu yang tanpa henti itu daripada berpikir apa cara terbaik untuk membalasnya agar kau senang. Kupikir kalau itu memang cinta, harusnya berjalan natural tanpa harus pikir panjang, kan…"
Shikamaru memutar matanya. "…rasanya aneh bicara denganmu soal hal ini."
Hanya sedetik diam melingkupi mereka, lalu keduanya tertawa lagi. Tawa yang sebenar-benarnya, tanpa adanya kepalsuan diantara mereka.
"Kau tahu, ciuman yang kemarin itu rasanya aneh. Kau benar-benar tidak mempersiapkan diri ya. Aku kasihan pada gadis selanjutnya yang kau cium." Ino menggodanya ditengah-tengah tawa mereka.
"Kau yang aneh. Datang ke rumah orang tiba-tiba, hujan-hujanan pula."
"Kau yang aneh, tahu. Menghindariku tiba-tiba tanpa alasan yang jelas."
"Aku hanya tidak ingin terlibat dalam kisah cinta anehmu dengan si pianis itu."
"Tuh kan, aneh. Kau seharusnya tetap disampingku dan mendengarkan ceritaku."
"Hm… terserahlah. Dasar wanita aneh dan menyusahkan."
Pintu depan kediaman keluarga Nara dipenuhi gelak tawa sekali lagi.
Cinta datang dalam berbagai bentuk. Tidak selalu dalam saling pandang dengan keinginan untuk memiliki. Ada sebentuk cinta yang datang dalam bentuk seorang sahabat.
Yamanaka Ino dan Shikamaru Nara menemukan hal itu dalam diri masing-masing.
Kadang kita hanya perlu lebih jeli untuk memilah rasa itu.
Sasori pov
Kepalaku rasanya mau pecah mendengar kata-kata sialan itu lagi.
"…teman?" Sasori mengulangi kata-kata Sakura.
"Maaf. Sungguh." Gadis itu sungguh-sungguh minta maaf. Mata emeraldnya menatap Sasori dalam-dalam.
Sasori menarik nafasnya. Rasanya volume tidalnya berkurang drastis akhir-akhir ini. Ia bukan tipe orang yang mudah menyerah. Bahkan, Sasori hanya akan menyerah saat Kami-sama mengatakan itu padanya.
"Kenapa tidak mencobanya dulu, Sakura? Beri aku waktu, sehari bersamaku, lalu katakan padaku jika kau memang masih menyukai Sasuke."
Apapun. Bagaimanapun. Dengan cara apapun. Pasti ada cara. Pasti ada cara untukmu menyukaiku.
"Sasori, aku tidak ingin melukaimu…" Sasori mengepalkan tinjunya, pikirannya sudah tidak mampu mencari jawaban logis apapun lagi. Rasanya semua salah sampai Sakura menyukainya.
"Mungkin itu satu-satunya cara, Sakura." Ucapnya sedih. Sasori menatapnya, berusaha untuk tidak terlihat seperti seseorang yang baru kalah bertubi-tubi. Ia sendiri sudah kehabisan akal. Nenek Chiyo selalu mengajarinya untuk mengusahakan yang terbaik baru menyerah. Dan satu hari, hanya satu hari yang Sasori minta. Satu hari untuk mengusahakan yang terbaik, baru Ia akan menyerah.
"Mungkin membuatku terluka adalah satu-satunya cara agar aku menyerah mengejarmu." Ucap Sasori pelan.
Keduanya terdiam.
Sakura menatap pria di hadapannya. "…baiklah kalau begitu." Sasori mengangkat wajahnya, menatap Sakura. "satu hari untuk terakhir kalinya."
Senja menyinari mereka di latar belakang.
Kadang-kadang, kita harus membentur dasar baru tahu seberapa dalam kita sudah terjatuh. Orang bilang wanita tidak tahu kapan harus menyerah, dan pria tidak tahu bagaimana harus menyerah.
"Aku setuju." Sasori akhirnya berkata pelan. "jika dalam satu hari itu aku bisa membuatmu bahagia, sedikit saja melupakan Sasuke, kau harus mempertimbangkan perasaanku."
Beberapa orang terus-menerus menyakiti dirinya sendiri demi mendapatkan apa yang diinginkannya…
"Baiklah…" Sakura melempar satu senyum terakhri pada pria itu.
Tapi hidup memang keras, kan? luka-luka itu adalah tanda bahwa kita berusaha untuk terus hidup.
Di kantor pusat Uchiha, di balik jendela dengan latar langit sore yang menyilaukan; Sasuke tengah berkutat dengan pilihan-pilihan yang ada dihadapannya. Pilihan-pilihan yang memaksa.
"Tolong segera pergi ke John Hopkins, Tuan. Tuan Itachi memburuk, rumah sakit ini tidak mampu menanganinya. Mungkin ini jam-jam terakhirnya."
Kata-kata dokter barusan masih terus membayangi Sasuke. Di hadapannya, ada dua passport yang terbuka. Satu miliknya, satu lagi milik Sakura.
"Sakura…" Sasuke mengerang sedih. Gadis itu seakan hilang dari radar.
Ia harus berangkat secepatnya. Dan jika yang terburuk terjadi, akan banyak sekali hal yang harus diurusnya nanti di Kantor Pusat Uchiha di Amerika. Peluang kembali ke Jepang sangat kecil sampai Ia berhasil menyelesaikan semua kerumitan ini.
Pergi mengatar Itachi dan mempertahankan kerajaan bisnis Uchiha yang sudah Itachi pertahankan mati-matian…
Atau tinggal untuk mencari Sakura dan meluruskan kesalahpahaman?
Sasuke menggertakkan giginya.
A/N : Closure. Hampir. Maaf karena baru update, baru bisa nulis lagi pas libur semester.
Untuk readers semua, sudah hampir dua tahun ya cerita ini. Kalian paling suka chapter berapa? Siapa karakter yang paling kalian suka?
Terimakasih banyak untuk yang sudah mereview dan terus mendukung cerita ini, juga yang menunggu dan mengingatkan. Ngomong-ngomong saya menulis cerita baru tentang Sai x Ino, silahkan di cek di profile hehe.
Terimakasih banyak untuk reviewnya:
Neko, Hokage Oranye, Selena Gemes, Miki, Gue, Canthy Meilanda, Guesyio, Miss Lavender Hyuuga, The Autumn Evening, Yuchan, Puri, Guest, Intanm, Nayla Rahma, Dea Love S.S, Arisahagiwara Chan, Sakura Puchiko, Wandaaa, Guest, Fee, Sakuray Chan, Ariadna, Uchiharuno29, iSakuraHaruno1, Moikomay, Kithara Bluebell, Jdcchan, Nikechaann, Amartha, , Raflessia Arnold, Guest, Sasulover, Guest, Ya-channs, RaraRlovesasu, JYB, y, Lylia Kinyu, Baek cherry, cho Lolo, Loopend Lilia, Misseleus Femyni, AnGgi Cherryblossom, Aiko Asari, Sheryl Euphimia, The Deathstalker, Guest, Anka-chan, Naya Aditya, Prissa Armstrong, AoRizuki, Yui Kazu, Guest, Pacar hanbin, Kedebong Ares, Kimiarraso, GaemCloud347, Tsurugi De Lelouch, Tomato-23, Yukio Valerie, , Uchiha-san, Animes Khunee-chan, Yuki, Guest, Eci Nindy, dan Reafuruya-chan.
Dan untuk silent readers lainnya.
Feedback pembaca adalah apa yang membuat sebuah cerita mampu berjalan lebih baik lagi.
-Phy
