SEMBILAN BELAS
We were both young when I first saw you.
I close my eyes and the flashback starts.
...
Sepuluh tahun yang lalu, Sakura mengenal cinta, dalam diri seorang anak laki-laki bermata sehitam malam. Dengan tangan yang terulur anak laki-laki itu menolongnya saat jatuh, dan menggendongnya. Cinta murni seorang anak kecil, cinta pada pandangan pertama.
Tujuh tahun yang lalu, hidupnya berubah jungkir balik, kecelakaan naas merengut kedua orang tuanya dan semua yang berharga bagi Sakura. Dalam kesendiriannya, satu-satunya cinta yang tersisa dalam hidupnya berbalik membencinya.
Setahun yang lalu, cinta pertamanya menciumnya untuk pertama kalinya. Dalam pelukannya, Sakura merasa tidak ada satupun di dunia ini yang bisa melukainya. Dan Ia jatuh cinta lagi, dalam dan sungguh-sungguh.
Tiga hari yang lalu, sekali lagi, dunianya dihantam jungkir balik.
Sakura lupa bagaimana rasanya cinta.
Hari ini, di hadapan pria berambut merah yang mengajaknya pergi, Sakura berusaha mengingat kembali bagaimana rasanya jatuh cinta.
Cinta yang sebenar-benarnya.
Sembilan tahun yang lalu, kakak laki-laki yang paling disayanginya, Itachi, dikirim sekolah di luar negeri. Sasuke belajar apa artinya kesepian.
Tujuh tahun yang lalu, untuk pertama kalinya Uchiha Fugaku berkata bahwa Ia bangga padanya, dan berjanji akan menghadiri upacara pemberian pialanya. Hari dimana akhirnya Ia mengenal bahagia, adalah hari yang sama dimana Sasuke tahu beratnya kehilangan.
Sebagian dari dirinya mati bersama kepergian kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Setahun yang lalu, untuk pertama kalinya, Sasuke menemukan dirinya kembali dalam diri seorang gadis yang selalu dibencinya. Rasanya bagian yang rusak dan telah lama mati dalam dirinya kembali bernafas dalam pelukan gadis itu. Ada cinta yang tak pernah Sasuke rasakan sebelumnya saat menatap mata hijau itu, ada kenyamanan yang sangat dirindukannya.
Tiga hari yang lalu, Sasuke baru menyadari bahwa hidupnya penuh dengan rahasia yang disembunyikan; rahasia-rahasia yang penuh dengan darah, air mata, dan pengorbanan. Hidupnya dibangun dari kesalahpahaman dan untaian jaring laba-laba yang racunnya kini menggerogoti Itachi.
Sasuke sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk percaya.
Hari ini, dibalik kemudi setir mobil yang dipacu sepulang dari mengantar Itachi ke bandara, Sasuke berusaha untuk percaya bahwa rasa yang hadir diantara dirinya dan Sakura memang cinta yang pantas untuk diperjuangkan.
Sesulit apapun itu.
This love is difficult, but it's real.
...
Sakura mengerjapkan mata dua kali, lalu mengernyit.
Sasori membawanya ke Taman Bermain Konoha. Ia pernah kesini, dulu sekali, dengan kedua orang tuanya saat masih hidup. Sebagian ingatan Sakura tentang masa kecilnya sudah terkikis waktu. Kadang-kadang memori memang bekerja dengan cara yang aneh, pikir Sakura. Contohnya saja Naruto hampir selalu lupa mengerjakan PR yang baru kemarin diberikan Kakashi-sensei, tapi tidak pernah sekalipun lupa janji-janji kecilnya dengan Hinata, walau sudah bertahun-tahun sekalipun.
Mungkin karena sistem kerja memori yang aneh itu pula, Sakura selalu mengingat segala hal kecil tentang Sasuke, walau dihadapannya Sasori tengah tersenyum padanya.
"Ada wahana yang ingin kau coba?" tanya lelaki itu. Tidak ada yang menarik… kecuali kalau Sasuke-kun disini. Sakura buru-buru menggeleng. Daritadi pikirannya penuh dengan Sasuke, tampaknya semakin Sasori mendekatinya, justru semakin sering Sakura memikirkan Sasuke.
"Perjanjiannya masih sama, kan? hanya sehari. Kalau aku aku−"
"Sedikit saja berhenti memikirkannya, kau harus beritahu aku." Sasori tersenyum kecil. Senyum yang mungkin bisa membuat gila gadis biasa. Sakura kadang berharap Ia salah satu gadis biasa itu.
"Dan kalau tidak, janji untuk menghentikan tindakan aneh ini?" tanya Sakura sambil berjalan beriringan. "Ayolah, Senpai kan tampan, banyak yang suka, rasanya aneh tahu kalau Senpai yang selalu aku kagumi di KHS bersikap seperti ini. Seperti orang lain saja…" Sakura berkata pelan.
"Aku bisa kembali jadi Sasori-senpai yang cool yang kau kagumi itu kok." Goda Sasori. Sakura cemberut menatapnya.
"Kembali jadi Sasori-senpai si tukang suruh yang cool, maksudnya." Balas Sakura. "Aku serius loh tadi. Rasanya aneh saat orang yang biasa kau kagumi sebagai ketua OSISmu tiba-tiba mengajakmu kencan, dan…" Sakura terdiam, tiba-tiba teringat bahwa mereka pernah berciuman sekali karena terjatuh. Itu murni kecelakaan, tapi Sakura dirongrong perasaan bersalah saat itu. Mungkin itu adalah awal dari keretakan hubungannya dengan Sasuke.
"Kau hanya menatap Sasuke, makanya aneh saat kau menghabiskan waktu dengan pria lain." Komentar Sasori. Tampaknya sudah lama sekali mereka tidak bercakap-cakap seringan ini. Seakan semua kegilaannya adalah laporan cuaca saban hari yang bisa dilupakan begitu ganti hari.
Padahal Nenek Chiyo sampai menguncinya di kamar, menyuruhnya merenungkan semua perbuatannya kemarin. Kemarin siang sehabis bertengkar dengan Konan dan gadis berambut biru elektrik itu turun, Sasori butuh beberapa menit untuk meredakan emosinya. Ia bisa melihat dari kaca belakang bahwa Konan merajuk sambil berjalan menjauhi mobilnya, tangan terlipat di depan dada, muka menekuk. Sasori membenturkan dahi ke setir untuk menyadarkan dirinya kembali sebelum akhirnya turun juga untuk minta maaf pada Konan dan membujuknya.
Oh, butuh waktu hampir satu jam mereka bertengkar di pinggir jalan sebelum Konan menyetop taksi tiba-tiba dan meninggalkan Sasori melongo begitu saja. Sepulangnya dari apartemen Sakura, Nenek Chiyo tentu sudah mendengar semua keterangan Konan. Sasori terpaksa menghabiskan sisa waktu dalam kamarnya sendiri, mencoba mencongkel jendela semalam suntuk agar bisa melarikan diri pagi-pagi.
Dan, disinilah Ia sekarang, bicara santai dengan gadis yang mengusik kewarasnnya. Sasori yakin Psikologi punya jawaban untuk kegilaan sementara yang diatasnamakan cinta ini. Setengah gila, mungkin.
Pada suatu masa dalam hidupmu, kaupun akan jatuh cinta, yang sebenar-benarnya, dan tidak ada lagi yang masuk akal selain mendapatkannya. Setiap orang pasti pernah merasakannya walau hanya satu kali, pikirnya dalam.
"Aku rasa tidak ada yang salah dari menatap hanya pada seseorang." Sakura menjawab lamat-lamat. "kalau itu benar cinta, harus diperjuangkan, kan?"
Sasori berhenti. Sakura ikut berhenti, menatap seniornya.
"Kalau begitu, dimana batas mencintai? Sampai kapan kau bisa mengatakan bahwa kau mencintai Sasuke?" keduanya terdiam. Sakura menghela nafas panjang, sebelum menjawab;
"Aku rasa waktu yang akan menjawabnya, Senpai. Bagaimanapun, kita masih remaja yang berusaha untuk dewasa, kan? tidak semua pertanyaan itu kita miliki jawabannya sekarang. Tapi aku yakin, pasti ada jawabannya."
Sasori hanya membalas dengan satu senyuman tipis. "Kalau begitu izinkan aku berusaha sampai tidak ada lagi yang bisa aku usahakan, Sakura."
Gadis musim semi itu tidak langsung menjawab, tapi matanya menatap dalam pada mata Sasori.
"Aku yakin Senpai tahu jawabanku di akhir hari. Dan kuharap senpai menepati janji."
"Hanya jika kau juga menepati janjimu." Sasori mengulurkan tangannya, ingin meraih tangan Sakura, tapi tiba-tiba saja entah dari mana ada es krim melayang menabrak wajahnya.
Kejadian itu begitu absurd sampai-sampai baik Sasori maupun Sakura langsung terdiam.
"Eeh, maaf−loh, Sasori?" seorang pria berambut putih mendekati mereka, gigi-gigi runcingnya membentuk tawa. Di belakangnya, seorang gadis berambut merah membara tampak mengernyit dalam.
"Huh. Si pembantu dan ketua osis yang menyedihkan." Karin bergumam, tangannya terlipat di depan dadanya. Suigetsu menghempaskan sisa-sisa es krim cone yang masih membekas di wajah Sasori dengan seringainya yang khas.
"Maaf ya, si nenek rambut terbakar itu tiba-tiba marah dan melempar es krimnya sembarangan."
"Kau yang salah, dasar gigi hiu bodoh! Sudah kubilang aku minta belikan es krim vanilla, bukan cokelat!"
Sasori menghentikan tangan usil Suigetsu yang masih mencoba menghapus es krim dari wajahnya. "Aku bisa bersihkan sendiri." Ujar Sasori datar.
"Minta ganti rugi sama si nenek pemarah itu ya, Sasori. Aku tidak punya uang lagi."
"Heh gigi hiu sialan, siapa yang kau panggil 'nenek' daritadi hah?!" Karin menjewer telinga Suigetsu, sementara Sasori mengibaskan tangannya yang baru mengelap es krim cokelat yang meluberi wajahnya.
Keadaan di hadapan Sakura saat ini begtu absurd dan familiar; hal yang begitu lama tidak dirasakannya sejak lulus. Karin yang selalu marah-marah beradu mulut dengan Suigetsu yang begitu santai, atau Sasori yang selalu tenang dalam banyak hal.
Tiba-tiba saja suara tawa memecah keributan.
Mata Sasori membesar. Sakura tertawa lepas di hadapannya, gadis itu memegangi perutnya, tubuhnya berguncang seiring tawa.
Tawa yang sebenar-benarnya.
"…aku mohon." Sasuke Uchiha menunduk dalam di hadapan seorang wanita berambut pirang.
Sepanjang hidupnya Tsunade sudah melihat arogansi Fugaku Uchiha dan keacuhan Itachi Uchiha. Laki-laki keluarga Uchiha terkenal dingin dan angkuh. Jikapun mereka tidak begitu, pasti diam dan sulit ditebak seperti Itachi.
Bisa dibilang Tsunade kaget bukan main dengan Sasuke yang tiba-tiba masuk ke ruang kerjanya, menanyakan alamat Sakura secara langsung, dan memohon untuk diberitahu.
"Aku sudah dengar semua dari Itachi." Tsunade menghela nafas panjang. Kedatangan si sulung Uchiha kemarin ke kantornya adalah alasan utama Tsunade setuju mengalihkan perwalian Sakura dari Itachi kepadanya. Lelaki pendiam yang selalu berusaha sendirian itu membuat hati baja Tsunade luluh.
Keluarga Uchiha, terutama kedua anak lelaki mereka, sudah menanggung lebih dari yang mampu punggung itu tahan. Bagi Itachi, punggungnya sudah patah tujuh tahun yang lalu. Ada sebagian dirinya yang mati, kian membusuk, dan mungkin sudah tidak dapat tertolong lagi. Tsunade ingat betul ekspresi pria itu saat berpamitan dari kantornya kemarin, usai menceritakan segala pilihan-pilihan hidup yang telah diambilnya;
"Tolong jaga Sakura dan Sasuke untukku. Aku mungkin sudah tidak mampu."
Tsunade bangkit, berjalan menuju pria muda yang membungkuk itu, menyentuh pelan bahunya.
"Dia pasti menunggumu." Ujar Tsunade pelan, mengangsurkan secarik kertas pada Sasuke, kertas berisi alamat tinggal Sakura saat ini.
"…terimakasih." Sasuke menunduk sekali lagi sebelum meninggalkan ruangan dengan cepat.
"Apa tidak apa-apa, Tsunade-sama? Sakura meminta untuk merahasiakan alamatnya…" Shizune menatap Tsunade. Kepala sekolah bermata cokelat hazel itu hanya mengeluarkan senyum getir.
"Aku hanya ingin melihat mereka mendapatkan kebahagiaannya masing-masing. Dunia sudah terlalu keras bagi mereka. Tapi yah, memang pisau yang tajam diasah oleh batu yang keras, kan?"
"Aku senang kau tertawa lagi." Ucap Sasori pelan.
Setelah Karin menarik Suigetsu pergi lagi, Sakura berhenti tertawa dan memberinya saputangan untuk membersihkan diri. Hatinya bergemuruh akan kemungkinan-kemungkinan. Ini mungkin pertama kalinya Ia melihat gadis itu tertawa lagi setelah sekian lama. Satu-satunya wahana yang tidak terlalu ramai hanya bianglala, dan Sasori terlalu excited karena tawa Sakura barusan, untuk bisa berpikir jernih. Baru saat mereka sudah duduk di bianglala ia baru teringat Sakura takut ketinggian. Tapi toh gadis itu tidak menolak ajakannya.
Meski sebenarnya tampaknya Ia tak pernah berpikir jernih sebelumnya.
Sakura hanya tersenyum tipis menanggapi kata-kata Sasori, wajah gadis itu menatap langit. "Kalau aku menatap langit dan bukan kebawah, aku tidak begitu takut ketinggian." Ujar Sakura, menjelaskan.
"Sakura… apa ini berarti kau sudah tidak sedih lagi tentang Uchiha?" biasanya, mata hijau cerah Sakura akan meredup mendengar nama itu, namun kali ini mata itu tidak meredup.
"Tidak…" jawab Sakura pelan. Bianglala perlahan-lahan naik ke puncak, sebuah momen dimana seorang orang bilang itu adalah saat paling tepat untuk menyatakan cinta, atau berciuman. Tapi tubuh Sasori rasanya kaku menjelang detik-detik itu.
"Aku…" Sasori mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Mungkin untuk yang terakhir kalinya. Matanya menatap kedua mata emerald Sakura dalam-dalam. "…aku mencintaimu."
Bianglala berhenti di puncak tertinggi.
Satu detik. Mata Sakura mengerjap pelan.
Dua detik. Bibir gadis itu terbuka.
Tiga detik. "Aku…"
Empat detik.
"…sayang Sasuke. Tidak sekalipun aku berhenti memikirkannya. Aku tertawa karena rasanya begitu rindu dengan semua yang terjadi saat kita masih di KHS. Lalu aku sadar aku merindukan dia, bukan hanya KHS. Maaf, Sasori." Sasori berhenti menghitung. Bianglala kembali berjalan setelah sempat berhenti, namun waktu membeku dalam diri Sasori.
"Ada cinta yang tidak bisa dipertanyakan. Perasaanku tidak akan berubah pada Sasuke."
Waktunya untuk berusaha telah habis.
Ia sudah kalah.
I love you, and that's all I really know.
...
Banyak hal yang harus diluruskan. Banyak hal yang ingin dikatakannya pada Sakura.
Banyak.
Sasuke mengetuk pintu apartemen Sakura sekali lagi, lebih keras kali ini. Setelah setengah mati mencari apartemen yang dimaksudkan. Tapi tidak ada tanda-tanda Sakura ada di dalam sana, sekeras apapun Ia mengetuk dan memanggil namanya. Sekelebat keinginan untuk mendobrak pintu sempat terpikir di kepala Sasuke, namun menyadari resiko tertangkap dan memperparah urusan dengan nama Uchiha sebagai taruhannya, Sasuke mengurungkan niat itu.
Lelaki bertekad baja itu mulai resah, jangan-jangan Sakura sudah pindah lagi. Atau jangan-jangan Tsunade-sama berbohong padanya. Sasuke mulai tidak bisa berpikir jernih. Gadis itu sudah mengganti nomor ponselnya, Sasuke sudah tidak tahu bagaimana lagi harus mencari Sakura. Apa perlu Ia menunggunya disini, sampai gadis itu kembali, entah kapan?
Tapi menunggu itu butuh percaya; percaya bahwa yang ditunggu itu ada, percaya bahwa yang ditunggu itu akan datang.
Sasuke bertanya-tanya apa Ia masih punya kemampuan untuk itu.
Cuaca mendung melingkupi distrik kediaman keluarga Akasuna.
Tanpa berkata apapun, Sasori membuka pintu depan rumahnya, mengabaikan kemungkinan Nenek Chiyo mungkin melemparkan tongkatnya dalam kemarahan bahwa cucu satu-satunya itu sudah berani kabur dari rumah. Sasori bahwa bisa menebak apa isi ceramaha yang mungkin disampaikan neneknya. Tapi sungguh, Ia terlalu lelah untuk merasakan emosi apapun.
"Sasori?! Astaga, kau membuat kami khawatir!" Konan berlari turun dari tangga, menghampirinya dengan tergesa-gesa. "kenapa kau pergi tanpa bilang apapun? Aduh, aku bahkan berpikir untuk menelepon polisi secepatnya, tapi kau kan tahu aku tidak bisa melaporkan orang hilang sebelum 1x24 jam." Cerocos Konan panjang lebar di hadapannya.
Sasori melewatinya tanpa berkata-kata. Tangannya mengambil kunci motor di nakas. Pagi tadi Sasori memanjat pagar agar tidak ketahuan, jadi Ia tidak berani mengendarai motor. Tapi kali ini, Ia butuh pergi. Pergi, jauh dari segala hal.
"Kau mau kemana lagi?! Minta maaf dulu sama Nenek Chiyo!" Konan cepat-cepat merebut kunci dari Sasori, mengamankannya dalam kantong jaket gadis itu.
Sasori menghela nafas. Bukannya Ia tidak bisa merebut kuncinya kembali, oh tentu saja Ia bisa mengambilnya dari Konan, belasan tahun berteman toh Sasori sudah tidak menganggapnya cewek lagi. Mereka sudah seperti saudara.
Tapi Sasori sedang tidak ingin mengikuti permainan kekanakan Konan.
"Kembalikan kunciku."
"Kalau aku tidak mau?" Sasori mengernyit. Konan tidak sedang mengajaknya bermain. Sasori bisa melihat kemarahan dan nyata dalam mata gadis itu.
"…yasudah." Sasori mengalah. Ia sedang capek dengan banyak hal, sudah kehabisan tenaga untuk beradu argumentasi dengan Konan. Tanpa banyak bicara Sasori keluar dari rumahnya, mengabaikan panggilan Konan.
"Sasori, tunggu!" Konan mengejarnya, tangannya menarik bahu Sasori, namun pria itu mengelak. "Berhenti kabur seperti ini!" Konan berlari mendahului Sasori dan menghalanginya pergi lebih jauh lagi.
Konan bisa melihat ekspresi teman kecilnya itu, ekspresi yang sulit dibaca. Pertemanan belasan tahun mereka sudah membuat keduanya bagai saudara, tidak ada emosi Sasori yang luput dari Konan. Sampai hari ini.
"Kau membuat semua orang cemas tahu! Kau membuatku cemas! Kemarin kita bertengkar dan pagi ini kau menghilang seharian. Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padamu, dan hal trakhir yang kita lakukan adalah bertengkar?!"
Sasori tidak menjawab, melainkan berusaha melewati Konan. Gadis itu menyetopnya lagi sebelum beranjak lebih jauh dari pagar rumah Akasuna.
"Mau kemana kau? Ini mau hujan. Setidaknya ambil payung dulu." Walau masih bernada tinggi, kata-kata Konan melunak padanya.
Tapi Sasori tidak menjawab. Sejurus kemudian seakan mendengar kata-kata Konan, hujan rintik-rintik mulai membasahi mereka. Saat Konan baru saja akan mengatakan sesuatu lagi tentang hujan, Sasori sudah melewatinya, membuat gadis itu terpaksa mengejarnya.
"Sasori!" Konan menarik bagian punggungnya, namun Sasori berbalik menepisnya tangannya dengan kasar. Wajah pemuda berambut merah itu tidak lagi datar, melainkan geram.
"Berhenti mencampuri urusanku, Konan!"
Tangan Konan masih terangkat di udara. Keduanya sadar bahwa ini pertama kalinya Sasori bersikap kasar secara fisik pada Konan. Sasori mengepalkan tangannya, alisnya bertaut kesal, kesal pada dirinya sendiri karena sikapnya, kesal pada semua hal. Sasori memalingkan wajah, tidak ingin menatap pandangan Konan.
"Pulanglah, aku ingin sendiri."
Pernyataan itu hanya membuat Konan marah.
"…pulang?" Konan menarik tangannya, ikut mengepalkan tinjunya juga. Jauh-jauh separuh belahan dunia ditempuhnya demi menemui sahabat masa kecilnya, tapi ini yang didapatnya?
"Ini tentang Sakura lagi, kan." bisik Konan dingin.
"Jangan bicara tentangnya." Jawab Sasori ketus. "kau tidak tahu apa-apa tentangnya."
"Tidak, tapi aku tahu banyak hal tentangmu." Mata Konan berkilat marah menatapnya. Lagi, Sasori merasakan dorongan yang sama seperti terakhir mereka bertengkar. Konan memang sahabat terbaiknya, dan terlama juga, tapi kadang gadis ini bisa menarik sisi terburuk dalam dirinya.
Mustahil untuk berpura-pura dihadapan Konan.
"Aku tidak ingin bertengkar sekarang." Sasori akhirnya berkata. Konan mengerutkan alisnya, tampaknya Sasori menekan tombol daya-ledaknya. "aku benar-benar ingin sendiri saat ini."
"Kalau berhentilah brsikap manja, Sasori! Kalaupun Sakura memang untukmu, pasti ada jalannya, tapi tidak seperti ini! Ini tidak benar… kau pantas mendapatkan yang lebih baik dari ini…" Konan menarik nafas, dadanya naik turun seirama dengan nafasnya yang pendek-pendek. Sasori membuka mulut untuk menjawab, tapi gadis itu mendahuluinya.
"Kau tahu, aku menempuh perjalanan berjam-jam separuh belahan dunia bukan untuk bertengkar denganmu juga! Tapi kau selalu membuatku khawatir dengan memasang muka seperti itu setiap hari! Menurutmu apa aku senang jadi tamumu kalau begini?! Kau jadi membuatku sedih tahu, dasar tidak peka!" hujan turun semakin deras, begitu juga dengan air mata gadis itu.
Gadis berkepala batu itu, yang tidak mengeluarkan setitik airmatapun di tengah hujaman debat, menangis di bawah hujan. Mata Konan merah menatapnya.
"Apa aku harus benar-benar memukul kepala kosongmu itu agar kau kembali waras?! Kau sahabat terbaikku, bodoh! bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu sendirian saat seperti ini, huh?! Teman itu… ada untuk mendengarkan… bukan untuk diusir-usir!" Konan mengatur nafasnya yang putus-putus. Hampir habis nafasnya berteriak pada Sasori.
Hanya suara hujan yang terdengar diantara mereka. Pelan, tangan Sasori menepuk puncak kepala Konan.
"…bodoh." Gumam Sasori, nyaris tak terdnegar dibawah derasnya hujan. "Terang saja kau banyak menerima kritik gara-gara artikel di blogmu, cara bicaramu itu menyakitkan tahu."
Konan mengerjapkan mata tidak percaya. Di saat seperti ini bisa-bisanya Sasori mengatakan itu?
"Kaauu!" kepalan tangan Konan terangkat, siap benar-benar memukul kepala merah itu agar kembali waras, tapi Sasori sigap menghentikannya.
Sasori menarik Konan dalam pelukannya.
"Kau cerewet dan bodoh. Lebih baik peluk aku daripada memukulku." Kepala Sasori bersandar letih pada bahu Konan.
Mereka memang terus berkirim kabar lewat media sosial. Tapi jarang bertemu langsung. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir Konan menatap langsung pada mata Sasori. Terlebih lagi menyentuhnya. Sejak Ia menginjakkan kaki di Jepang, Ia nyaris tidak mengenali sahabat masa kecilnya itu. Akasuna Sasori berubah jadi pria melankolis dengan kabut kesedihan senantiasa menggelayuti matanya, padam sudah semangat pria itu. Bukan Sasori yang dikenalnya. Dan Konan nyaris frustasi menghadapi Sasori yang ini.
Tapi Sasori di hadapannya kini sudah kembali jadi Sasori yang Ia kenal selama belasan tahun. Sasori sahabat masa kecilnya, si calon pemimpin bangsa yang kritis, yang selalu berpikir lebih jernih dari dirinya. Sasorinya sudah kembali. Konan tersenyum pelan di dada Sasori, tangannya merengkuh pria itu juga.
"Aku akan tetap memukulmu nanti. Kau menyebalkan dan pantas dipukul." Gumam gadis berambut biru itu.
Dalam diam, Konan bisa merasakan kepala Sasori bergetar di bahunya. Rasa hangat menjalari lehernya. Sasori berguncang. Tidak butuh kata-kata bagi Konan untuk tahu sahabatnya itu tengah menyamarkan tangis dalam guyuran hujan, menyembunyikan wajah di perpotongan bahu dan lehernya.
Orang bilang, teman adalah keluarga yang kita pilih.
Konan mengeratkan pelukannya, membiarkan Sasori menunjukkan sisi lemahnya untuk pertama kalinya. Memberikan jaminan pada pria itu bahwa tidak apa-apa menjadi lemah, tidak apa-apa untuk patah, karena Ia akan selalu ada. Ia tidak akan pergi, walau sekeras apapun Sasori mengusirnya.
Bahkan orang yang terkuat pun bisa patah. Konan tahu Sasori sudah patah menghantam dasar saat pria itu pertama memasuki rumah tadi. Pria itu sudah berusaha melebihi manusia normal lainnya. Konan tahu Ia tak bisa melakukan apapun untuk membenarkan logika ngawur Sasori tentang Sakura. Satu-satunya hal yang bisa Ia lakukan hanya menjadi sandaran bagi pria itu saat semua hal berjatuhan.
Karena Konan punya hati yang rindu untuk melihat Sasori tertawa lagi.
Nenek Chiyo mengamati dari teras lantai dua, melihat dua anak remaja yg berpelukan di bawah guyuran hujan itu. Nenek Chiyo sudah melihat mereka berdua tumbuh selama ini, dengan jalan masing-masing, dengan hidup masing-masing. Dua sahabat sedari kecil yang terpisah bertahun-tahun itu masih sama; masih saling keras kepala dan tidak peka.
Entah kapan mereka akan sadar potensi diantara mereka berdua… wanita yang sudah mengalami asam garam kehidupan itu menghela nafas panjang.
Kadang, beberapa orang terlalu sibuk mengejar apa yang mereka inginkan untuk menyadari yang sebenarnya menunggu mereka, yang mungkin benar-benar mencintai mereka apa adanya.
What was it like to loved him? Asked Gratitude
It was like I being exhumed, I answered
And brought to life in a flash of brilliance
...
"Sudah sampai, Nona." Supir taksi menyadarkan Sakura dari lamunannya.
"Ah, terimakasih." Setelah mengangsurkan uang, Sakura keluar dari taksi dan menatap bangunan besar di hadapannya;
Uchiha Mansion.
Selepas meletakkan barang-barang bawaannya dari Rumah Sakit di kamar Apartemen barunya, Sakura segera pergi ke Uchiha Mansion. Ia tidak berani mengambil resiko untuk menunggu terlalu lama. Kakinya melangkah ragu menginjak rerumputan yang sangat dikenalnya. Rumah besar bak kastil yang sudah dihuninya sejak kecil. Ia masih ingat bagaimana kagumnya ia saat pertama kali melihat Uchiha Mansion.
Tangannya gemetar membuka pintu depan. Semenjak kecelakaan itu, hanya mereka berdua yang tinggal di Uchiha mansion. Sasuke memecat semua pelayannya agar dapat memaksa Sakura mengerjakan semua pekerjaan bersih-bersih rumah. Sakura menatap baik-baik pemandangan saat memasuki rumah besar itu. Tangga besar di tengah ruangan, pintu-pintu besar yang menuju ruangan lain, lantai marmer yang dingin…
Sakura membuka pintu kamar lamanya, hanya ruangan kecil dengan lemari baju dan rak penuh buku. Tidak banyak barang yang bisa Sakura bawa, sebenarnya. Mungkin hanya perlu satu koper untuk mengangkut baju-bajunya. Sisanya semuanya milik keluarga Uchiha. Sejak kecelakaan itu, Itachi Uchiha menjadi walinya, semua uang Sakura berasal darinya. Jadi semua yang tidak dibeli Sakura lewat penghasilannya sendiri dari mengajar anak kecil atau bekerja paruh waktu, adalah milik keluarga Uchiha.
Dengan hati berat, Sakura mulai mengepak pakaiannya dalam koper. Mata Sakura terpaku pada sebuah jaket di dasar lemari. Jaket biru dengan emblem Uchiha itu jaket yang diberikan Sasuke padanya saat mereka masih kecil.
Sudah saatnya mengembalikan jaket itu ke pemilik sahnya. Sakura mengigit bibirnya, berusaha mengendalikan dirinya. Sakura bergegas menaiki tangga, menuju kamar Sasuke di lantai dua. Ragu-ragu, diketuknya terlebih dahulu pintu kamar yang sangat dikenalnya itu. Tak ada jawaban, Sakura memberanikan diri masuk.
Kamar Sasuke masih sama seperti yang terakhir diingatnya. Rapi, seperti tak pernah ditinggali. Cahaya matahari menerobos masuk dari jendela yang tak pernah Sasuke tutup tirainya, karena Sakura tahu pria itu suka menikmati bulan dan langit malam.
Sakura meletakkan jaket Sasuke di atas kasurnya, jari jemari Sakura menelusuri seprai biru itu. Satu persatu kenangan terulang kembali di benaknya. Saat pertama kali menginjakkan kaki di hutan belakang mansion, tempat pertama kalinya ia bertemu Sasuke yang menolongnya yang terperosok ke lubang. Saat mereka masih dua anak kecil yang berteman, setiap kamar di Uchiha Mansion adalah tempat mereka bermain petak umpet. Lalu saat Sasuke mulai menjauhinya dan mengurung diri di kamar. Dan ketika kecelakaan itu terjadi.
Sakura menutup matanya, air matanya mulai menetes.
Masih jelas dalam ingatannya tentang ciuman pertama mereka. Sakura memeluk dirinya sendiri, ia masih bisa merasakan hangat tubuh Sasuke tiap memeluknya. Bagaimana Sasuke mencium keningnya dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Dan kini ia akan pergi dari Mansion ini. Meninggalkan semua kenangan mereka. Meninggalkan pria yang dicintainya.
Sakura tak dapat menahannya lagi, tangisnya pecah. Selama tujuh belas tahun hidupnya, Sakura tak pernah merasa begini kesepian. Ia akan pergi dari kehidupan lamanya, pergi dari semua yang ia kenal, yang ia sayang…
"…jangan menangis."
Sakura merasa jantungnya melompati satu ketukan saat tubuhnya dilingkupi kedua tangan yang sangat dikenalnya. Suara yang tidak akan dilupakannya. Aroma tubuh yang melingkupinya.
Sasuke memeluknya dari belakang. Kenyataan ini membuat air mata itu semakin tak tertahankan di pelupuk mata Sakura.
"Sakura," Sasuke membalik tubuh gadis itu agar menghadapnya. Kedua tangannya menangkup pipi gadis itu, menghapus air mata yang tidak berhenti mengalir. "Sakura, lihat aku. Jangan menangis lagi…"
Tangan Sakura gemetaran menyentuh pipi Sasuke. Jari-jemarinya bergetar menelusuri wajah tampan di hadapannya. "Ini mimpi…?"
Sasuke menatapnya, kedua bola mata hitam itu menelusup jauh ke dalam diri Sakura. Tangan Sasuke menggemgam tangan Sakura yang menyentuh pipinya.
Matanya terfokus pada emerald Sakura.
"Aku nyata, Sakura." Dengan satu tarikan, bibir mereka bersentuhan. Satu tangan Sasuke mendorong kepala gadis itu, sementara tangan satunya mendorong pinggang Sakura lebih dekat padanya.
What was it like to be loved in return? Asked Joy
It was like being seen after a perpetual darkness, I replied
To be heard after a lifetime of silence
...
Ada momen ajaib di setiap cerita cinta bahwa satu ciuman bisa membangunkan sang putri tidur dari tidur panjangnya, atau Snow White dari kematiannya, merubah katak menjadi pangeran, atau merubah monsters jelek menjadi lelaki tampan.
Sakura bukan seorang tuan putri, tapi saat ini, Ia merasa berada di momen itu. Dimana ciuman Sasuke bisa membangkitkan seluruh keajaiban dalam dirinya.
Tangan Sakura di kemeja Sasuke mengepal, seakan berusaha bergantung pada sisa kewarasannya di sana. Sakura merasa Sasuke adalah jangkarnya; jika ia melepaskan Sasuke sekarang, entah apa yang akan terjadi. Bibir mereka berpagut dalam emosi yang meluap, ringkih berusaha mencari satu sama lain.
Bagi Sasuke, ada bagian dari dirinya yang hidup saat bersama gadis itu. Bagian yang sudah lama mati dalam dirinya. Bagian yang hanya bisa disentuh Sakura.
Perasaan. Cinta.
Sakura seperti obat bagi Sasuke. Sebuah kebutuhan mendasar yang jika tidak terpenuhi bisa membuatnya gila. Rasanya Sasuke tidak akan pernah merasa cukup dengan kehadiran gadis itu. Ia bukan hanya menginginkan Sakura, Ia membutuhkannya.
Ciuman itu berhenti, memberikan mereka berdua waktu untuk mengambil nafas. Jari-jemari Sasuke menelusuri pipi Sakura dalam gerakan yang sangat lembut. Sakura baru menyadari ia masih menangis saat ibu jari Sasuke mengusap lembut aliran air matanya.
"Apa yang kita miliki nyata." Sasuke berkata pelan. Air mata mengancam untuk turun lagi di pelupuk mata Sakura begitu mendengarnya.
"Tapi… keluargamu… aku−" Sasuke menghentikan ucapan Sakura untuk ciuman dalam lainnya. Sakura balik memeluknya, rasanya dunia berputar dibawah mereka, dan satu-satunya cara agar Sakura tidak terjatuh dalam pusarannya adalah berpegangan pada Sasuke.
Dahi mereka bersentuhan. Bagi Sasuke, ciuman itu seperti menarik kembali nafasnya yang diambil Sakura. Gadis itu sudah menjadi bagian dalam dirinya. Entah untuk keberapa kalinya Sasuke sudah membuatnya menangis. Jauh di dalam lubuh hatinya, Sasuke takut bahwa dirinyalah yang tak pantas mendampingi Sakura.
"Aku yang seharusnya minta maaf. Kecelakaan itu bukan salah ayahmu…" hangat nafas keduanya beradu. Mata Sakura membulat mendengarnya, Ia menatap tak percaya pada Sasuke. Sasuke menghela nafas, memberi mereka berdua jarak. Tangannya menggenggam kedua tangan Sakura.
"Maksudmu? J-jadi… orang tuaku bukan pembunuh?" Sasuke menarik nafas panjang. Dalam sekali hentakan, Sasuke memeluknya erat.
"Ceritanya panjang. Biarkan aku memelukmu dulu."
"S-Sasuke-kun?" pria itu tidak menjawab, wajahnya tenggelam di leher Sakura, menghirup aroma tubuh gadis itu. "kau kenapa? Semuanya baik-baik saja kan?"
Ingin sekali Sasuke menjawab 'iya'. Tapi jika ada satu hal yang dipelajarinya selama hidup, itu adalah kebohongan hanya akan menelurkan rasa sakit.
"Aku tidak ingin kita berpisah…" bisik Sasuke lembut ditelinga Sakura.
"Sasuke-kun… ada apa? Biarpun ceritanya panjang, aku akan mendengar. Apapun yang terjadi, aku tidak akan pergi meninggalkanmu, aku janji. Sungguh. Kau kan kenal aku." Sasuke tersenyum di leher Sakura, entah suda berapa lama tidak mendengar kehangatan dalam suara gadis itu.
"Aku tahu." Gumamnya pelan. "tapi akulah yang harus pergi…"
What was it like to lose him? asked Sorrow
There's a long paused before I responded;
It was like hearing every goodbye ever said to me−said all at once
...
A/N : Kata pengisi diambil dari lagu Taylor Swift dan LangLeav.
.
Sheryl : update sebulan sekali itu… tampaknya susah ._.
RarainRara : Shikaino sudah selesai di chap 18, aku merasa shika sama ino paling cocok jadi teman. Kadang kita memang salah mengartikan perasaan kita sama seseorang yang dekat, kan? :)
Nuniisurya26 : haloo, salam kenal juga, terimakasih sudah mengikuti ff ini
Vshulis : maaf lama update chap kmrn, mungkin karena kemarin2 saya sedang berkutat dengan semester 4? :')
Trafalgar ika : sudah terjawab ya di chapter ini :)
Diah Cherry : jam karet saya berada di dimensi yang berbeda tampaknya… shikamaru sama ino established their relationship as friends, menurutku paling cocok seperti itu soalnya. Yosh!
Prissa Armstrong : iya haha aku mau memperkenalkan character-character baru di College nanti kalau LIUM sudah selesai.
Aorizuki : makasih banyak sudah mengetik panjang. Aku balas disini biar bisa sekalian sharing sama yang lain tentang karakter-karakter disini.
Yes, kamu mengerti pilihanku kenapa aku pikir Ino sama Shika memang lebih cocok sebagai teman. Ga semua ketertarikan itu harus berakhri sebagai pacar kan hehe. Aku memang masukan semua kepribadian dan ceritanya masing-masing disini, karena aku suka multiple pov, dan bagaimana semua masalah mereka itu bisa berhubungan satu sama lain pada suatu titik haha. Aku mengadaptasi karakter asli mereka dari manganya, lalu kukembangkan lagi agar lebih menarik.
Waah keren, bisa parallel sama kehidupanmu gitu ya, pasti adikmu senang punya kakak yang baik :)
Airata Amadisa : amiin, hanya kebetulan suka baca :)
Processing Data : terimakasih reviewnyaa, akhir-akhir ini aku berpikir apa ratenya diganti T dan dihapus lemonya saja ya ._. Soalnya aku juga lebih suka menulis fluff daripada lemon. Anggap saja aku pribadi mengenal karakter-karakter yang kukembangkan disini, berarti jawabannya…iya.
Tsurugi : waa ada tsurugi-senpai lagi ^^ aku selalu suka baca review darimu hehe
Tomato-23 : terimakasiih juga sudah mengikuti ff ini, kamu salah satu pembaca yang jeli kalau ada typo dll
AAALovers : Itachi masih hiduuup hehe, aku juga paling suka charanya :3
Terimakasih untuk: QRen, Sakura, Guest, Sakura uchiha stivani, Un, fansanime, suket alang alang, megan091, toruperri, hitsugaya55, arisahagiwara chan, asahinauchiharuno shafa, 1, itachi shadow, gita Zahra, yui kazu, pembaca setiamu, the deathstalker, zhao mei mei, moikomay, ya-chans, dianarndraha, cherry, okta, baekhyunsaranghaeheni, yunjae107, ruita, arisa, rairahikari, tari firdiana, wowwohgeegee, prissaarmstrong.
Sudah meluangkan waktu untuk menulis review.
.
Terimakasih untuk yang sudah menjawab chara dan chapter favorit kemarin. Pertanyaan chapter ini: gimana kesan dan pesan setelah 19 chapter ini?
Ditunggu reviewnya, terimakasih!
"Kamu tahu kenapa aku sayangi kau lebih dari yang lain? Karena kau menulis. Kau berteriak lewat tulisanmu." –Pramoedya ananta toer.
.
Sampai jumpa di chap berikutnya! ~phy
