Disclaimer: Naruto, shikamaru ataupun Ino bukan milikku. Mereka buatan Kishimoto Masashi-Sensei

Ino sudah mengosongkan jadwalnya dan serius belajar untuk ujian remedial yang akan diadakan 10 hari lagi. Otaknya nyaris meledak, Iruka sensei telah menjelaskan materi yang sama selama hampir dua jam dan tak secuilpun yang terperangkap dalam otak Ino.

"Apakah kau sudah mengerti Ino?" Tanya Iruka sensei untuk kesekian kalinya. Ino hanya mengangguk-nganggukkan kepala. Walaupun ia tak mengerti, tapi ia takkan membiarkan Iruka Sensei menjalaskan materi itu kembali.

"Baiklah Ino, kau bisa istirahat dulu. Kita bertemu setelah makan siang dengan materi yang berbeda" Ucapnya, kemudia berlalu dari hadapan Ino yang sepertinya tak mencerna dengan baik apa yang dikatakan pria tadi.

Ino mengerang frustasi. Ini hari ketiga Ia mengikuti pelajaran tambahan yang diberikan oleh Iruka sensei, Tutor yang dibayar mahal oleh Ayahnya untuk mengajari Ino. Bohong, jika Ino mengerti apa yang dijelaskan selama tiga hari ini. Salahkan otaknya, yang benar-benar tumpul, sarafnya yang tidak bekerja dengan baik, dan kepalanya yang mengangguk-ngangguk seakan mengerti hanya untuk menghindari penjelasan materi yang sama yang dapat memekakkan telinganya.

Satu yang berhasil diproses otaknya dan diyakini kebenarannya oleh Ino. Jika keadaan ini berlangsung terus hingga hari ujian, maka bisa dipastikan Ino akan gagal dan paling tragis, Ino harus berhenti dari dunianya. Ino berpikir keras, haruskah Ino menemuinya? Menemui masa lalunya?

Sebenarnya yang dianggap masa lalu oleh Ino, bukanlah sesuatu yang buruk malah bisa dibilang salah satu masa-masa terindah dalam hidup Ino. Hanya saja Ino yang menodainya, Ino yang meninggalkan mereka demi eksitensinya di dunianya yang sekarang. Tapi ini juga masa depannya, Entertainment benar-benar dunia yang dicintainya, dan Ino tak mau meninggalkannya.

Ino berjalan pelan menuju atap sekolah KHS, jantungnya berdetak dengan cepat seakan ia akan menanda tangani sebuah proyek besar. Tinggal satu langkah lagi, Ino berhenti, merapikan pakaiannya, kembali mengambil cermin dan memperhatikan wajahnya, Ino menarik nafas dan menghembuskannya kembali. Begitu seterusnya, hingga tak sadar bahwa ia sudah berada di sana selama 10 menit.

Tangannya perlahan meraih kenop pintu yang menghubungkan tangga dengan atap sekolah dan disinilah Ino sekarang, atap KHS yang sepi tak berpenghuni, entah apa yang Ino ingin temui di sana. Ino melangkah memutari tempat itu, dan matanya menangkap apa yang ia cari. Ino mendekatinya, melangkah pelan sekan-akan tak ingin diketahui keberadaannya.

"Kau tak berubah, masih seperti yang dulu" kata Ino dalam hati. Matanya menatap seorang pemuda berambut nanas, berseragam KHS yang tampak berantakan, kedua matanya tertutup damai seakan-akan tengah hanyut dalam mimpi indah. Mata Ino masih menelisik pemuda di depannya, mulai dari rambut, kelopak mata, hidung, bibir dan dagunya tak berubah, masih sama seperti dulu. Tapi Ino takut, takut jika mata itu terbuka, apakah Ia akan memandang Ino dengan tatapan yang sama?

Ino duduk di samping pemuda itu, matanya tak lepas, takut-takut jika pemuda itu bangun. Ino menghalau cahaya matahari yang mengenai wajah tampan sang pemuda dengan kepalanya. Lama mereka dalam posisi seperti itu, hingga tak sadar Ino mendekatkan kepalanya, matanya terutuju pada satu titik, bibir sang pemuda.

5...4...3...2...1 cm

"Apa yang kau inginkan Ino?" suara sang pemuda menghentikan pergerakan kepala Ino, matanya terbelalak menyadari sang pemuda yang wajahnya hanya berjarak 1 cm dari Ino telah membuka matanya.

"Shika" Lirih Ino, perlahan menarik kepalanya namun sebuah tangan kembali menarik kepalanya ke posisi semula.

"Shika"

"Apakah kau ingin memungut kembali barang yang sudah kau buang?" Tanya Shikamaru, dengan nada berbisik

"Shika"

"Mengapa kau kembali ke masa lalumu?"

...

"Apakah duniamu yang sekarang mengabaikanmu?"

...

"Tapi maaf Ino, barang yang sudah kau buang...benar-benar telah kubuang" Bisik Shikamaru.

Kemudian dalam sekejap berdiri, meninggalkan gadis yang masih tertegun sendiri di atap sekolah.

"Sebegitu bencinya kau, Shika?" lirihnya, aquamarinenya telah mengeluarkan air mata. Ia tak bisa berkata apa-apa, bahkan untuk menjawab pertanyaan menyindir Shikamaru, karena ia tahu dalam hal ini ia berada dalam posisi tersangka yang mengharapkan belas kasihan dari korbannya.

Shikamaru adalah sahabat Ino, dari SD... ah bukan sejak mereka lahir mereka telah bersahabat, bahkan shikamaru lahir sehari sebelum Ino. Keluarga mereka bersahabat membuat Ino dan shikamaru juga berada dalam status yang sama, sahabat. Mereka selalu bersama, berada di TK yang sama, SD yang sama, dan SMP yang sama. Shikamaru selalu mengajari Ino pelajaran yang Ino tidak mengerti di sekolah, dan anehnya jika Shikamaru yang menjelaskan, tak butuh waktu lama untuk Ino menganggukkan kepala pertanda mengerti.

Memasuki masa SMP, Ino semakin memperlihatkan kecantikannya hingga Ia selalu menjadi idola sekolah. Shikamaru menyadari itu, namun Ino tetap berada di sampinnya seakan menegaskan bahwa ia adalah milik Shikamaru. Memasuki kelas 3 SMP, Ino memulai debutnya di dunia entertainment dengan perusahaan Ayahnya sebagai agensi dan tak susah untuk Ino, diterima dalam dunia itu. Ino semakin sibuk, namun Ia tetap menyempatkan waktu untuk menyemangati Shikamaru di setiap olimpiade mengingat shikamaru adalah seorang yang jenius, Ia masih sempat berfoto sambil mengalungi medali emas yang selalu shikamaru dapatkan.

Ino semakin larut dalam dunianya, dunia dimana dia dieluk-elukan seperti putri, dipuja sana-sani. Di dunia itu dia bertemu dengan Sakura yang kemudian dia jadikan sebagai sahabat; kekasih sakura, sasuke yang kemudian membawanya bertemu dengan orang-orang penting lainnya hingga mereka berjanji untuk masuk di SMA yang sama. Yah Ino menatap teman-temannya, dan menyadari bahwa ia berada di level berbeda sekarang.

Shikamaru menyadari perubahan Ino, namun mengenyahkan itu dari pikirannya, ia menanamkan ke otaknya bahwa ino benar-benar sibuk sampai lupa untuk menghabiskan waktu dengannya dalam perpisahan sekolah. Shikamaru mengikuti Ino masuk KHS, mengabaikan beberapa beasiswa luar negeri yang menghampirinya. Ia berharap mempunyai waktu bersama Ino, setidaknya di sekolah.

Hari pertama sekolah, Shikamaru mengayuh sepedanya ke rumah Ino. Shikamaru bukanlah orang miskin, hanya saja ini kebiasaan mereka sejak SD, berangkat bersama dengan sepeda. Ia sudah menitip pesan pada pembantu bahwa Ino harus menunggunya, Ia ingin berangkat bersama Ino di hari pertama sekolah. Sedikit lagi ia sampai di depan rumah Ino, namun sebuah mobil mewah mendahuluinya dan berhenti tepat di depan dimana Ino berdiri. Ino tersenyum kepada pemilik mobil dan segera masuk kemudian berlalu meninggalkan shikamaru.

"Tuan Shikamaru, saya sudah beri tahu nona Ino untuk menunggu Tuan, tapi sepertinya nona Ino..."

"Tak apa Bibi, mungkin Ino lupa" jawab Shikamaru kepada pembantu Ino yang menghampirinya. Lalu berlalu dari wanita itu. Tidak, Shikamaru tidak buta, Ia tahu Ino melihatnya namun pura-pura tidak melihatnya. Otaknya menghasikan sebuah hipotesis yang tidak ingin ia yakin kebenarannnya

'Ino telah meninggalkannya'

Otak Shikamaru terbukti jenius, Hipotesis yang telah ia buat hasilnya mendekati 100%. Hal ini terbukti dari Ino yang menghindarinya, bahkan bila berpapasan, Ino akan tetap berjalan sambil bercuap-cuap dengan teman barunya seakan-akan Shikamaru tidak ada di sana. Sakit, itu yang ia rasakan. Otaknya tertawa melihat hipotesisnya benar 100% sementara hatinya menangis, menyadari bahwa salah satu bagiannya telah menghilang.

Shikamaru pindah ke kelas unggulan, kelas yang isinya benar-benar hanya orang belajar, kelas yang sangat cocok untuk pemuda jenius seperti shikmaru. Kelas yang posisinya berada jauh dari kelas biasa. Ia menolak segala jalan yang dapat mempertemukannya dengan Ino. Shikamaru tak pernah makan siang di kantin, Ia akan menghabiskan waktu istirahatnya di atap sekolah, menatap awan atau tidur di sana sampai jam sekolah habis, kelasnya tak memedulikan persen kehadiran, selama sang siswa masih mendapat nilai diatas 90, itu tak jadi masalah. Begitulah, hingga keduanya benar-benar seperti orang asing.