Disclaimer: Naruto, shikamaru ataupun Ino bukan milikku. Mereka buatan Kishimoto Masashi-Sensei

Ino masih di sana, di perpustakaan, berusaha mencerna apa yang dituliskan dalam buku itu. Namun otaknya benar-benar membeku. Ino mengubur wajahnya dalam tumpukan buku yang harusnya ia baca.

"ada yang bisa kubantu shikamaru-san?"mendengar satu kata di akhir kalimat itu, sontak menyadarkan Ino. Kepalanya berputar mencari sumber suara, dan sesuai dugaannya, orang itu di sana. Ino berjalan pelan mendekati sumber suara

"merepotkan...maaf aku lupa mengembalikannya" Kata-kata singkat terlontar dibibirnya. Ia menyodorkan beberapa buku tebal

"Shika" cicit Ino pelan, yang sekarang telah berada di samping pemuda tersebut

"merepotkan...Jadi berapa yang harus aku bayar?" tanya Shikamaru, tanpa memedulikan seorang gadis barbie di sampingnya

"Oh tak perlu, shikamaru-san. Buku-buku ini memang khusus kelas unggulan, jadi kau tak pelu membayarnya" Balas petugas perpus, ramah. Matanya memandang seorang gadis pirang yang sedari tadi diabaikan shikamaru dan kembali ke shikamaru kemudian tersenyum.

Shikamaru berjalan keluar perpustakaan. Ia tahu seseorang yang dari tadi mengganggu masih mengikutinya. Mereka masih berjalan dengan posisi seperti itu, hingga tak sadar keduanya hampir sampai di kelas unggulan. Sang gadis yang mengetahui bahwa Shikamaru akan masuk kelasnya langsung berlari memeluk shikamaru dari belakang membuat pria itu tersentak, dan berhenti berjalan.

"Shika, maafkan kau. Aku tahu, aku salah, aku meninggalkanmu, maafkan aku Shika... hiks..hiks maafkan aku. Kumohon maafkan aku" gadis itu manangis, shikamaru bisa merasakannya, hanya saja shikamaru tak bisa, ia tak bisa menukar rasa sakitnya selama satu tahun ini hanya dengan beberapa kata maaf.

"Aku tahu , aku menyakitimu selama ini. Tapi kamu harus tahu, aku juga sakit, kau pikir aku bisa hidup tanpamu, aku selalu memperhatikanmu shika. Aku bertahan demi mempertahankan duniaku, aku bersama mereka demi eksitensiku, shika. Tolong percayalah, Shika...hiks...hiks" Shikamaru tetap tak bergeming.

"bagaimana bisa aku percaya? Bagaimana aku percaya kalau kau benar-benar dan tidak sedang berakting? " mata Ino terbelalak mendengar pertanyaan shikamaru, Ia menuduh Ino berbohong. Seorang shikamaru menuduhnya berbohong, dalam mimpipun seorang Ino tak pernah membayangkannya.

"Kau seorang aktris yang hebat Ino, aku tahu itu, kau bisa memerankan segala jenis peran. Katakan, bagaimana aku harus percaya kalau yang tadi itu bukan sebuah drama yang kau buat untuk mendapatkan apa yang kau inginkan" Ino melonggarkan pelukannya dan berjalan menghadap Shikamaru. Ia menatap Shikamaru yang juga balas menatapnya, namun dengan sorot mata tajam.

Ino mengalungkan tangannya ke leher Shikamaru, membuat mata Shikamaru terbelalak, otaknya telah mengirim impuls ke seluruh bagian tubuh shikamaru, memberi tahu apa yang akan terjadi satu detik selanjutnya.

Shikamaru dapat merasakan, bibir Ino mencium keningnya, lalu perlahan bibir itu juga mengecup kedua matanya yang refleks tertutup, selanjutnya hidung shikamaru, 2 detik selanjutnya shikamaru dapat merasakan hembusan nafas Ino mendekati bibirnya dan stengah detik selanjutnya, bibir Ino telah berada di atas bibir Shikamaru

Flashback On

"Selamat atas debutmu Ino"

"Shika"seketika gadis yang tengah berbincang dengan Ayahnya berpaling dan berlari menerjang sang pria yang tengah memamerkan senyum khasnya.

"Kukira kau takkan datang ke pestaku, bukankah kau ada Olimpiade Fisika di Singapur besok?" Tanya Ino, kedua tangannya masih mengalung di leher sang pria.

"Olimpiadenya Siang, jadi aku akan mengambil jam terbang subuh, kurasa takkan terlambat" jawab sang pria

"Aku sangat senang karena kau datang Shika. Aku tidak punya teman disini, yang ada hanya teman-teman ayahku" rajuk Ino dengan muka cemberut, tangannya telah terlepas dari shikamaru.

Ino menarik Shikamaru menjauhi kerumunan pesta, dan berakhir di tepi kolam renang milik Ino

"jadi mana hadiahku?" Pinta Ino sambil mengadahkan tangannya. Shikamaru tersenyum kikuk

"Ino, kau tahukan 1 minggu ini aku pelatihan di singapur dan liburku hanya hari ini jadi..." Shikamaru menggantung ucapannya

"jadi?" tanya Ino dengan nada mulai meninggi. Shikamaru hanya terdiam sambil menundukkan kepala, ia tak berani menatap Ino yang pasti sedang marah.

"Baiklah, aku akan mengambil sendiri hadiahku" Ucap Ino, membuat Shikamaru mengangkat kepala, menatap Ino bingung. Shikamaru masih tidak mengerti apa yang ingin dilakukan Ino. Gadis itu mengalungkan tangannya di leher Shikamaru, berjinjit dan ...

Flashback off

Keduanya masih terdiam, tidak ada yang ingin mulai pembicaraan. Ino masih berusaha meredam warna merah di wajahnya karena malu sedang shikamaru masih terlihat shock dengan apa yang baru terjadi

"Shika" "Ino" Ucap mereka bersamaan lalu kembali terdiam

"Shika" terdengar sebuah suara lain. Keduanya sontak menoleh ke sumber suara

Temari