A/N: Halo lagi! Akhirnya tibalah chapter 2 sekaligus chapter terakhir dari fanfik ini. Hal-hal yang perlu saya kasitau udah dibahas di chapter sebelumnya, jadi saia gak bakal nulis banyak di sini. Pertama, mulai dari sini, tokoh sentralnya adalah Takasugi. Kedua, karena romance adalah salah satu genre jadi yah ada implisit2 sesuatu (?) nanti...mungkin #pehape Oia, fyi aja, sebenernya saia dapet ide ini dari anime 91 Days huehehe, ada beberapa part yang diadaptasi dari sana, tapi kebanyakan saia rombak sendiri makanya alay lol.
Oke, langsung aja. Selamat membaca! c:
.
.
.
Gintama © Sorachi Hideaki
.
A Midsummer Night's Dream
© Moon Waltz
.
AU, OOC, western, crime, romance, angst, (beloved) TakaShin
.
"I'll follow thee and make a heaven of hell,
To die upon the hand I love so well."
―William Shakespeare, A Midsummer Night's Dream
.
.
.
Chicago, 1928, Winter
Bagi seorang Takasugi Shinsuke, Shinpachi adalah misteri paling nyata yang pernah ia temui sepanjang hidupnya. Entah apa yang ada di dalam pikiran pemuda itu, yang jelas adalah sesuatu yang selalu berubah-ubah tak pernah menetap di satu titik yang sama.
Maksudnya begini, Shinsuke berani bertaruh bahwa pemuda itu pasti merasa jengkel padanya dari kali pertama mereka berjumpa. Jengkel, sebal, sesebal sampai ia sama sekali tidak ingin diasosiasikan dengan dirinya.
Tapi kemudian ia mengiyakan begitu saja tawarannya menonton opera, padahal Shinsuke dan opera adalah dua hal yang tidak ia suka.
Ditambah lagi soal tawaran bergabung dengan organisasinya. Pada awalnya ia bersikeras menolak. Berkata hal-hal keren tentang lebih baik bekerja sendiri daripada bekerja di bawah orang lain dan sebagainya dan sebagainya.
Meski begitu, bukan berarti Shinsuke tidak suka dengan jawaban itu.
Shinsuke suka, bagaimana pun Kiheitai membutuhkan tambahan 'tenaga ahli' sepertinya. Walau kalau boleh jujur, bukan itu alasan terbesarnya untuk mengundang pemuda ini bergabung.
"Shinsuke-san? Kau melamun?"
Shinsuke menginjak pedal rem tiba-tiba.
Mobil yang mereka kendarai nyaris menabrak kucing hitam di tengah jalan.
Sekarang adalah hari jumat; pertanda buruk.
(Seakan ia percaya saja dengan hal-hal seperti itu.)
"Kau mengagetkanku."
Shinsuke bisa merasakan ekspresi pemuda itu berubah menjadi kekesalan.
"Kau menyalahkanku?"
Ia memutar kemudi sedikit kemudian melanjutkan perjalanan, "memang salahmu, kok."
"Kau melamun lalu menyalahkanku?"
"Aku melamunkanmu."
Seringai kecil ia sunggingkan, dilanjutkan dengan kekehan pelan ketika sudut matanya menangkap ekspresi lawan bicaranya.
Shinpachi mengalihkan wajahnya, memutuskan pemandangan di luar lebih menarik dari wajah pria yang mengemudikan mobil.
"Kita mau ke mana?" Pemuda itu mematahkan sunyi yang sempat tercipta di antara mereka.
"Rumah."
.
Rumah itu terlihat sepi dari luar, tetapi cukup ramai di dalam. Ada satu ruangan khusus yang berisi kursi-kursi , meja kecil, serta mini bar, tempat di mana anggota family biasa berkumpul dan bercengkerama. Di seberang ruang itu, agak lebih dalam, terkesan sekretif, terdapat ruang dengan susunan interior yang nyaris serupa. Tapi meski lebih luas dari ruangan tadi, tempat ini justru nyaris kosong tak berpenghuni.
Hanya ada seorang pria berkacamata yang sedang duduk menenggak whiskey dan menyetel musik classic jazz yang menarik perhatian Shinpachi ketika ia pertama kali melihatnya. Menyadari kehadiran Shinsuke, ia mematikan gramophone-nya.
"Mana yang lain?"
"Yang lain? Kalau maksudmu Henpeita, kurasa ia sedang mengarahkan operasi di lapangan."
"Kamui?"
"Kamui 'kan—" ucapan pria itu terhenti kala matanya teralihkan pada kehadiran Shinpachi. "Anggota baru? Atau... kau sudah sepenuhnya mengambil jalan itu, hm, Shinsuke?"
Dia tertawa pada leluconnya sendiri.
"Shinpachi, ini Bansai, dia yang bertugas mengatur daerah perbatasan. Dan Bansai, ini Sakata Shinpachi."
Shinpachi meraih tangan yang terulur dan menyebut namanya sekali lagi dengan jelas.
"Jadi, kau belum menjawab pertanyaanku, Shinsuke."
Kali ini Shinsuke yang tertawa.
"Dua-duanya."
Bisa dipastikan hanya Shinpachi yang tidak tertawa di dalam ruangan itu.
"Omong-omong, di mana Don Takasugi? Aku harus menyampaikan salamku padanya, 'kan?" Shinsuke tidak menyadari nada ganjil yang terdengar ketika Shinpachi mengeja nama pemimpin Kiheitai itu.
.
Ayahnya sedang berada di luar kota, mengurusi hal-hal penting yang mesti didiskusikan dengan Yagyu Family. Setelah memberi penuturan itu, Bansai memutuskan untuk pergi, menengok aktivitas anak buahnya di luar sana.
Shinpachi menghela napasnya yang tertahan, kemudian memutuskan untuk pamit pulang. Tetapi mendengarnya Shinsuke menyemburkan tawa panjang.
"Apa?"
"Apanya yang apa? Sekarang ini rumahmu, kau bagian dari Kiheitai, kau tinggal di sini."
Alisnya terangkat sebelah, "o—oke?" ia terlihat ragu.
"Sudahlah, tak usah memikirkan apa yang tidak perlu kau pikirkan. Sudah ada kamar yang kosong untukmu, tenang saja."
Shinpachi tidak langsung menjawab.
"Kau tidak ingin tidur? Kalau begitu, duduk dan temani aku minum sampai pagi."
Shinpachi menggeser kursi di sebelah Shinsuke sebelum mendudukinya, "aku tak biasa minum."
"Baiklah," Shinsuke sedang tidak dalam mood persuasifnya yang biasa, jadi tak ada paksaan sana sini yang ia berikan pada pemuda berkacamata itu. Dan lagi, ada sesuatu, sesuatu yang ingin ia ketahui, yang ingin ia dengar dari pemuda itu ketika ia masih dalam kondisi benar-benar sadar.
"Kalau begitu bagaimana dengan berbagi kisah? Pengalaman, dan sebagainya. Orang-orang tua bilang berbagi cerita bisa mempererat hubungan dan ikatan," lanjutnya, sembari menyesap segelas kecil minuman di depannya.
"Aku tak punya cerita yang istimewa," jawabnya lugas.
"Ah, aku bisa lihat itu."
Raut wajah Shinpachi kelihatan tersinggung dengan apa yang diucapkannya.
"Kalau begitu, tanya jawab saja, oke?"
"Terserah," ia membetulkan letak kacamatanya yang sudah dari awal mmemang sudah benar.
"Kapan pertama kali kau tidur dengan seseorang?"
Shinpachi bungkam.
"Eh? Tunggu-tunggu, kalau berciuman?"
Masih bungkam.
"Berpacaran? Dekat dengan seseorang?"
"Tak ada."
"Kau bercanda!"
"Tidak, memang tidak ada wanita yang pernah kukencani."
Shinsuke menahan tawanya, "dan kau bilang kau tidak homo?"
"Memang tidak!"
Ia tak bisa lagi menahan tawanya, "jangan bilang pelukan pertama yang kau lakukan adalah denganku di tepi Sungai Mississippi dulu?"
Shinsuke tidak butuh kata yang terucap dari bibirnya untuk tahu bahwa yang ia ungkapkan barusan adalah sebuah fakta. Fakta yang membuatnya semakin tertarik dan tertarik pada pemuda ini.
"Kalau kau masih melanjutkan ini, aku benar-benar akan pulang."
"Kau yakin? Sekarang giliranmu bertanya, lho."
Shinpachi kembali memainkan kacamatanya yang tidak berdosa, "kalau begitu lanjutkan saja."
"Aku pertama kali tidu—"
Shinpachi mengibaskan tangannya di depan wajah Shinsuke. "Aku tidak ingin memberi pertanyaan yang sama denganmu."
"Kupikir kau ingin tahu?"
"Kenapa aku harus ingin tahu? Tentu saja tidak. Aku tidak butuh informasi itu."
Shinsuke memainkan gelasnya yang kosong. "Kau benar, mengetahui itu nantinya malah membuatmu cemburu."
Ekspresi itu! Bagaimana pun Shinsuke tidak akan pernah lelah menggoda makhluk di hadapannya jika ia terus memasang ekspresi itu tiap kali digoda. Kalau sudah begini sebenarnya siapa yang salah?
"Aku bercanda, oke? Sekarang tanyakan saja apa yang ingin kau ketahui dariku."
Shinpachi pastilah memang misteri paling nyata yang pernah ia temui di dunia. Lihat saja, mata yang tadi terlihat malu-malu seperti ingin menyembunyikan sesuatu, sekarang sudah terlihat seakan sedang memperhatikan mangsa dalam buruan.
"Kapan pertama kali kau membunuh?"
Udara terasa menjadi berat.
Shinsuke tidak bisa tertawa, ia tidak bisa bereaksi malahan. Ada sesuatu pada nada suara itu yang membuat hatinya bergetar. Takut? Tidak, bukan itu. Entahlah, ia tak mengerti. Ia tak paham. Mungkin, mungkin saja, itu karena dia harus menggali ingatan terdalamnya agar bisa menjawab pertanyaan yang terdengar simpel sekaligus rumit.
"Hm, membunuh bukan pekerjaan favoritku, tapi ya, aku pernah melakukannya saat masih berusia tujuh belas tahun. Saat itu musim dingin, aku benci musim dingin, tapi ayah memaksaku ikut ke New York, dan di sana untuk pertama kalinya aku—" selagi bercerita, ia bersitatap dengan pemilik bola mata cokelat itu.
Shinsuke merasakan lidahnya menjadi kelu.
Tunggu, ini tidak mungkin, 'kan? Pikirnya saat menatap lurus-lurus dan dalam pada pemuda itu.
Tidak mungkin, ulangnya dalam hati berkali-kali tanpa henti.
"Shinsuke-san? Kau melamun lagi?"
Shinsuke merasakan getaran kecil pada jemarinya, "tidak."
Shinpachi tersenyum, tulus, dengan paduan kelembutan yang baru pertama kali ini ia saksikan, tapi ia justru merasa takut, merasa ada yang salah dari cara sang pemuda menyunggingkan bibir itu.
"Kau tidak melamunkanku lagi, 'kan?"
.
Malamnya, ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya tanpa sekali pun terpejam. Di luar salju turun semakin lebat, semakin mengaburkan pandangan, tapi malah memperjelas ingatannya ke masa lalu, yang dingin, yang licin, yang gelap, yang merah –ketika sebuah peluru menembus tengkorak orang di depannya.
Shinsuke ingin tertidur, tapi setiap matanya nyaris tertutup, ia diingatkan kembali pada iris cokelat yang kelam itu.
(dan ia takut, takut kalau apa yang ia pikirkan adalah kebenaran.)
.
.
.
Chicago, 1929, Winter
Shinsuke dan segala urusan serta kesibukan yang dilimpahkan padanya, bukan berarti ia melupakan kegelisahannya begitu saja.
Suatu kali ia kembali ke markasnya dan menemukan pemuda itu berbaur di antara anak buahnya. Hal itu wajar, ia adalah bagian dari keluarga, dari Kiheitai. Tetapi keresahannya tak kunjung hilang, malah bisa dibilang semakin bertambah seiring waktu berjalan.
Ia bertanya dan bertanya, menyelidiki dan berpikir, berusaha menemukan secuil saja petunjuk atau apapun yang bisa mengafirmasih kegelisahan yang ia rasakan.
Nihil.
Pemuda itu bersikap biasa, bahkan melakukan apa yang ditugaskan padanya dengan sangat baik.
Seharusnya ia berhenti curiga, karena, lebih dari apapun –siapapun, pemuda itu adalah orang yang paling ingin ia percaya.
.
"Bansai, ikut aku ke DC besok, ada yang ingin menjual minuman pada kita, produsen bagus."
"Aku tidak bisa. Ada hal lain yang mesti kau urus. Kau tahu 'kan anjing pemerintah semakin baik saja penciumannya dari hari ke hari..."
"Kalau begitu biar aku saja yang menemanimu."
Mereka menengok bersamaan ke arah sumber suara yang baru saja muncul dari balik pintu.
Untuk beberapa saat, tak ada jawaban yang mampu ia ucapkan.
"Ide bagus," Bansai berujar, sedikit bingung dengan reaksi Shinsuke yang tidak biasanya lamban. "Bagaimana, Shinsuke?"
"Ya, mungkin kau benar."
Shinsuke berkata dengan tegas, namun tidak yakin dengan apa yang ia katakan.
Malam itu, tak ada lagi pembicaraan yang keluar dari mulut keduanya.
.
.
.
Washington DC, 1929, Winter
"Kau tidak percaya padaku?"
Gedung tempat perjanjian itu kosong, baik dari orang-orang maupun barang-barang. Dan karena gedung itu kosong, sunyi, suara yang diucapkan Shinpachi terdengar jelas sekali di telinganya.
"Yang benar saja," Shinsuke berusaha mendentangkan sebuah tawa, tawa yang kering.
"Aku tahu, Shinsuke-san. Kau menjaga jarak, kau mencurigaiku sesuatu. Seperti... kau takut aku akan berbalik mencelakaimu."
"Omong kosong. Kalau aku takut, aku tak mungkin mengajakmu ke tempat ini."
"Jadi kau tidak takut?"
Klik.
Colt 1903 terarah padanya dengan cepat. Ia tidak bisa bereaksi apa-apa bahkan ketika pistol itu ditembakan.
DOR! DOR! DOR!
"Tsk, aku tak biasa menggunakan pistol."
Sebelum barisan kalimat itu selesai diucapkan partner-nya, Shinsuke dapat mendengar bunyi debaman keras di belakangnya. Tiga kali, simultan.
Shinsuke memberanikan diri menengok ke belakangnya, tiga tubuh tergeletak tak bernyawa di tengah-tengah kegelapan.
"Perjalanan kita sia-sia. Ini jebakan."
.
Berhasil dari jebakan family lain bisa dibilang mudah. Tetapi berkat suara tembakan yang terdengar, mereka harus segera meninggalkan lokasi, kabur dari kejaran polisi.
Perjalanan jauh menggunakan mobil beresiko, terlalu mencurigakan. Maka mereka putuskan untuk berjalan sembunyi-sembunyi, menyewa salah satu penginapan untuk bermalam hari ini.
.
Di salah satu sudut kamar, Shinsuke menghisap rokoknya yang tinggal separuh batang. Lamat-lamat, dalam-dalam, siapa tahu ketegangan yang sempat menyelimutinya bisa hilang bersama dengan asap yang selanjutnya ia hembuskan.
Di sudut kamar lain, Shinpachi melepaskan magazines dari pistolnya, menambahkan amunisi untuk saat-saat tidak terduga.
"Kupikir kau akan menembakku."
Shinsuke beringsut, mendekati pemuda itu.
"Berarti kau memang mencurigaiku?"
Ia tidak menjawab, ia bertanya.
"Tadinya," Shinsuke menjawab. Berdehem sedikit karena entah kenapa tenggorokannya terasa kering dan sakit.
Shinpachi memasang magazines pistolnya kembali, sesekali bergumam kalau ia merindukan revolver-nya yang lama. Ia letakkan pistolnya di atas meja, kemudian berbalik ke arah pemilik bola mata hijau yang sedang menatapnya dari dekat, lamat-lamat.
"Kalau sekarang?"
"Tidak."
Shinpachi tampak tak peduli dengan jawaban yang ia berikan, maka ia pun menambahkan, "kau tahu, tadi itu untuk kedua kalinya kau membuat jantungku berdetak lebih cepat dari yang seharusnya."
"Ah, ya, dulu aku pernah menodongkan senjata padamu juga."
Ia tertawa, tapi Shinsuke tidak.
"Bukan. Bukan saat itu. Tetapi saat kita benar-benar pertama kali bertemu. Kau ingat? Saat kupikir kau adalah mayat, tetapi ternyata bukan, lalu kau membuka matamu, dan..."
Kalimat itu menggantung, tetapi mereka berdua sama-sama tahu kelanjutannya. Jadi meskipun perkataan Shinsuke berhenti di tengah jalan, tidak dengan kedua lengannya (tidak dengan bibir mereka yang semakin dekat, semakin memperkecil jarak.)
Shinsuke bisa merasakan napas mereka terputus-putus namun seirama, satu tarikan dan hembusan. Aroma tembakau menyeruak di sela-sela kecupan itu. Ia jadi bertanya-tanya, apakah Shinpachi tidak terganggu dengan aroma barusan?
Tak ada yang berusaha melepaskan, jadi Shinsuke berinisiatif untuk bergerak maju, lebih dekat lagi, terus, terus, hingga kacamata pemuda itu mau tak mau terlepas jatuh.
Ranjang tua itu berderit ketika ia menggeser tubuhnya sedikit, bergerak mendominasi.
Satu persatu kancing terbuka, leher terekspos sempurna. Selanjutnya apa?
'Shinsuke!', ah, pasti ia menancapkan giginya di tempat yang tepat.
Ia mengulanginya, lagi dan lagi dan lagi. Shinsuke tak akan berhenti. Ia ingin lebih.
.
Ia terbangun lebih awal.
Mendapati partner-nya masih terlelap dengan wajah damai, wajah polos yang selalu berusaha disembunyikan dari balik bingkai kacamata. Ia menarik selimut lebih rapat, agar Shinpachi bisa tidur lebih nyaman.
Shinsuke tersenyum. Ia bahagia. Ia percaya.
.
.
.
Chicago, 1929, Spring
Shinsuke baru kembali bersama Bansai di suatu sore ketika ia mendengar kabar kepulangan ayahnya.
Sore itu sibuk, tak banyak orang di rumah kecuali dua orang penjaga di depan gerbang, dan tiga pengurus rumah di dalam. Bansai pun tak bisa berlama-lama, ia harus segera pergi ke markas lain Kiheitai di dekat perbatasan.
Ia berjalan tegap, ingin menghadap ayahnya. Bukan untuk melepas rindu atau apa, mereka sudah terlalu tua untuk hal-hal emosional semacam itu. Shinsuke hanya ingin melaporkan banyak hal terjadi sepeninggal ayahnya pergi.
Salah satu pengurus bilang ayahnya sedang di dalam ruangannya yang biasa. Tapi ia tidak bilang bahwa ada orang lain di sana, yang juga ingin bertemu ayahnya.
Shinsuke merasakan sensasi, perasaan aneh yang tidak terjelaskan saat membuka pintu dan menemukan keberadaan Shinpachi di sana.
Itu memang bukan bagian yang paling mengejutkannya. Yang mengejutkannya, hingga membuat persendiannya luluh lantak, yang membuat tubuhnya terasa berat, sakit di segala tempat, adalah ketika ia menemukan dua buah lubang di pelipis Sang Ayah.
"Revolver memang lebih cocok untukku."
Kemudian ia mengarahkan revolver itu ke arah Shinsuke, yang telah berhasil menguasai diri lalu melakukan hal yang sama dengan pistolnya.
"Kau ingin membunuhku?"
"Tadinya," pemuda itu tersenyum miring. "Aku ingin ia merasakan sakitnya kehilangan seperti yang kurasakan dulu sebelum aku melubangi kepalanya."
"Kenapa kau tidak melakukannya kalau begitu? Kenapa justru kau yang membuatku merasakan rasa sakit itu?"
"Karena kalau aku membunuhmu, aku juga akan merasakan sakitnya kehilangan."
Pegangan Shinsuke pada pistol mengerat, namun jiwanya semakin gentar untuk bertindak.
"Kau ada di sana, kan, malam musim dingin di New York delapan tahun lalu?"
"Ya."
"Kau membunuh. Siapa yang kau bunuh? Seorang pria dan istrinya? Kedua orangtuaku?"
"Tidak, aku membunuh anak perempuannya. Aku membunuh kakakmu."
Kedua senjata tetap teracung ke kepala lawannya masing-masing.
"Kau akan membunuhku?" Shinsuke bertanya, suaranya serak. Ia tahu cepat atau lambat ia harus menebus dosa yang pernah ia lakukan. Tapi ia tidak menyangka harus mendapatkannya dari Shinpachi, dari orang yang ia cintai.
"Kau akan membunuhku?" ulangnya lagi, karena tak juga mendapatkan jawaban. "Kau harus membunuhku. Aku yang telah membunuh kakakmu."
Tangannya bergetar, peluh mengalir deras di pelipisnya. Situasi macam apa ini!
"Kau juga ingin membunuhku, kan? Aku baru saja melubangi kepala bajingan itu."
"Ya."
Shinsuke melihatnya menyunggingkan senyum miring yang sama, yang sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia bahagia. Yang terlihat justru sebaliknya, ia terluka.
"Lalu apa? Kita akan menyerupai Romeo dan Juliet?"
Ia tak bisa mentertawai lelucon bodoh itu, sama sekali. Karena saking bodohnya, ia justru ingin menyetujuinya daripada membantah.
"Ya."
Klik.
Klik.
"Aku percaya padamu, Shinpachi."
"Aku juga," ia menjawab lirih, kemudian bersiap menekan pelatuk senjatanya lebih dulu.
Shinsuke terlambat dua detik darinya.
DOR!
DOR!
Tetapi yang tubuhnya roboh, bersimbah darah dari luka di perut, bukan dirinya melainkan pemuda itu.
"Ternyata justru kaulah...malaikat pencabut nyawaku."
Shinsuke jatuh, berlutut. Ia ingin berteriak, ia ingin meratap, tapi sesuara lenyap, tak mampu keluar dari mulutnya. Air mata berderai hebat. Tangisnya sunyi.
Dinding di belakangnya berlubang. Shinpachi tidak pernah meleset dalam menembak. Tidak pernah.
Shinsuke mengerti; hukuman yang ia terima atas dosanya bukanlah kematian, tetapi kehilangan.***
the end
.
A/N(2):
ANJIIIIRRRR KOQ JADI DRAMA GINI #NANGIS Mana jauh lebih pendek dari chapter pertama, bener2 deh kukehabisan kosakata D'X dah gitu anakku yang mati di hari ulang tahunnya (?) mama matjam apahhhh
Bodobodobodo pokoknya yang penting jadi bagian akhirnya :') And finally:
HAPPY BIRTHDAY MY SWEETY, SHIMURA SHINPACHI! Jangan pernah lelah untuk melempar tsukkomi, mama masih belajar jadi tsukkomi yang baik btw (?)
Maap bet ini entah kenapa ngaret gini. Tapi enggak ngaret lah ya, kan WIB itu +7 jam GMT, jadi masih bisa /seenaknya
Udahlah, gini aja penutupnya, makasih bagi yang udah baca sampai cerita ini berakhir, moga tydac nyesel, yah :""))))
