Disclaimer: Naruto, shikamaru ataupun Ino bukan milikku. Mereka buatan Kishimoto Masashi-Sensei

Note: Maaf...sorry...mianhe...Gomenasai...otak aku lagi error karena skripsi yang nggak kelar-kelar, walaupun aku dari awal udah ngatur supaya rate T. Tapi khusus chapter ini bisa dibilang semi M, jadi yang ngga suka cerita rate M, ngga apapakok nggak baca.

Minna, do'ain semoga aku bisa proposal semester ini :)

ooo

Terhitung, sudah 13 menit 2 detik gadis itu berdiam di sana, matanya tak lepas dari sosok pemuda di sampinnya. Entahlah, ini mungkin akan jadi kebiasaan Ino, mengunjungi atap di saat istirahat makan siang dan berakhir memandangi pemuda yang sepertinya selalu hanyut dalam dunia yang lain.

"Shika, jam istirahat sudah hampir habis" keluhnya, sepertinya ia mulai bosan menunggu mata pemuda itu terbuka

"Hmm, apa aku harus membangunkanmu huh?" tanyanya seperti pada diri sendiri. Perlahan Ino mendekatkan wajahnya 'Oh aku mohon, jangan lagi seperti kemarin' ini inner Ino yang bicara, apa yang Ino sudah ketularan sakura yang selalu berbicara dengan innernya.

5...4...3...2...1

CUP

'Yey berhasil' teriak Inner Ino senang

Bibir pink Ino menempel di bibir sang pemuda, matanya tertutup menikmati sensasi aneh yang menggelitik perutnya. Detik demi detik berlalu, mereka masih dalam posisi yang sama kecuali mata sang pemuda yang telah terbuka namun sepertinya tak berniat untuk menghentikan aksi gadis di atasnya.

Terhitung 27 detik berlalu, sang gadis membuka mata dan terbelalak mamandang wajah sang pemuda yang hanya berjarak 0,7 cm darinya, terlebih pada mata yang juga memandangnya.

"Shika, sejak kapan?" tanya Ino kikuk, mengangkat wajahnya yang entah sejak kapan memerah, menjauhi sang pemuda

"mendokusei Ino, kau yang paling tahu cara membangunkanku"

Flashback On

"Bibi, apa shikamaru ada di rumah?" tanya seorang gadis, sambil membuka tudung kepala yang hampir manutupi seluruh wajahnya

"Ino-chan, Bibi tak menyangka kau akan datang" Ucap seorang wanita dengan senyum keibuannya, berjalan mendekati sang gadis yang mulai melepas penyamarannya

"Pasti sangat susah untukmu nak, berjalan seperti itu" Ino hanya tersenyum, ini resiko yang harus diterimanya menjadi seorang artis, tak mungkin ia memperlihat wajahnya ke masyarakat bahwa ia tengah berkunjung ke rumah seorang pria, tentu akan jadi skandal yang besar.

" Duduklah, Ino. Bibi akan memanggil shikamaru, hah pasti anak itu sedang tertidur" Ucap wanita tersebut, mulai berjalan meninggalkan sang gadis sebelum tangannya ditarik oleh tangan yang lain

"Bibi tak usah, biar aku sendiri yang membangunkannya" Ucap Ino, dalam sekejap berlalu dari hadapan sang wanita

'sepertinya mereka sudah dewasa' Ucapnya dalam hati

Ooo

Ceklek

Pintu terbuka, menampilkan sebuah kamar yang mungkin lebih pantas disebut kapal pecah. Buku bertebaran dimana-mana mulai dari buku internasional olimpiade fisika, buku SMA kimia, buku SMP MTK, komik konan, majalah musik sampai majalah por...

Mata sang gadis terbelalak memandang jenis buku yang satu itu, ia tak menyangka seorang jenius juga membutuhkan buku seperti itu. Selain buku, ia juga menemukan pakaian dan kaset CD berceceran dimana-mana.

Ino memungut benda-benda itu, dan menyusunnya kembali, tangannya menemukan 3 majalah dewasa, 2 kaset CD serta 3 komik hentai dan tanpa ragu membuangnya ke tempat sampah. Ia juga mengambil sapu dan pel dan mulai membersihkan ruangan tersebut hingga mulai tampak seperti kamar. Anehnya, kegiatannya ini tak sedikitpun mengganggu pria yang sedang berbaring tak jauh darinya.

Ino telah selesai dengan pekerjaannya, ia dapat merasakan ototnya yang mulai kelelahan 'seharusnya aku menghabisnya waktu libur shootingku dengan istirahat, bukannya menjadi pembantu di sini' keluhnya dalam hati sambil memandang pemuda yang masih setia menutup matanya. Matanya kembali terbelalak, begitu sebuah majalah yang luput dari pembersihannya tengah tergeletak di samping sang pemuda. Majalah itu menampilkan dua manusia berbeda gender yang sedang berciuman dengan keadaan yang oh... yakinlah, kau tak ingin aku menjelaskannya

Ino memerah, dan tanpa sadar mengusap pelan bibirnya, otaknya memutar ulang kejadian 2 minggu yang lalu di pesta perayaan debutnya. Ino tak tahu apa yang membuatnya berani mencium pemuda itu, hanya saja saja ia tak ingin ciuman pertama diambil oleh pemuda lain selain shikamaru, walaupun ia yakin kedepannya ia akan sering melakukan adegan seperti itu mengingat pekerjaan sebagai seorang aktris.

Ino masih bisa merasakan saat ciumannya dibalas shikamaru, pria itu menghisap bibirnya, membelainya pelan dan melumatnya. Tiba-tiba sebuah statement dihasilkan otaknya 'apakah itu bukan ciuman pertama shikamaru, mengingat betapa ahlinya pemuda tersebut memainkan bibirnya' Ino tak menyukai statement ini, shikamaru adalah yang pertama untuknya dan harusnya Ino juga jadi yang pertama untuk shikamaru.

"Shika Bangun!" teriak Ino, Ia harus memastikan sesuatu. Memang setelah insiden itu, ia tak pernah bertemu lagi dengan shikamaru, Ino sibuk dengan berbagai jadwal shooting dan shikamaru sibuk dengan olimpiade dan berbagai lomba ke luar kota hingga keduanya tak sempat berkomunikasi bahkan melalui telepon.

"Shika!" Teriak Ino lagi. Sang pemuda menggeliat, namun bukannya membuka mata namun kembali melanjutkan tidurnya. Ino kesal setengah mati, mendekati sang pemuda, berniat membangunkannya secara paksa, namun niatnya terhenti setelah netranya memandang bibir shikamaru. Entah sejak kapan Ino terobsesi dengan bibir itu, Ino tak memungkiri bahwa shikamaru seorang pencium yang hebat, ia menikamati setiap moment bibir shikamaru di bibirnya dan sepertinya ia ingin merasakannya kembali

5...3...2...1

CUP

Bibirnya telah menyentuh bibir yang sedari tadi menggodanya, matanya tertutup hingga ia merasa bahwa bibir itu bergerak menghisapnya

"Shhhhika"liirih Ino di tengah ciumannya. Entah sejak kapan, Ino sudah berada di bawah dengan shikamaru yang menindihnya sambil melumat bibir pink gadis pirang di bawahnya, sementara sang gadis mengalungkan tangannya dan menarik kepala sang pemuda untuk memperdalam ciumannya. 1 menit 23 detik berlalu dengan posisi bibir yang saling melumat hingga keduanya kehabisan oksigen dan mau tak mau harus saling melepas.

Hahh...hahh.. keduanya berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya, namun netra sang pemuda kembali memandang bibir sang gadis yang mulai membengkak karena ulahnya namun terlihat seksi. Tangan sang pemuda menangkup wajah sang gadis dan menariknya mendekat, hingga dua benda kenyal tersebut kembali saling melumat sampai...

"EHHEM EHEMM" sebuah deheman yang lebih terdengar seperti sebuah peringatan mengganggu kegiatan meraka, sontak keduanya saling melepas, menyisakkan berapan saliva di bibir sang gadis yang segera dibersihkannya.

"Ayah, sejak kapan di sana?"

Pria yang dipanggil ayah, hanya melirik putranya dengan tatapan yang susah ditebak, lalu netra kembali kepada sang gadis yang sedari tadi menundukkan kepala

"Ayahmu menelpon Ino, mempertanyakan keberadaanmu. Apa kau tak memberitahunya kalau kau ke sini?" Suara pria itu melunak, tak ingin membuat putri sahabatnya ketakutan

"Ahhh itu, aku memang tak memberitahunya paman. Aku langsung kemari, setelah jadwalku selesai" Jawab Ino, dengan nada bergetar.

"Dengar, Aku bukannya tak suka hubungan kalian, asalkan jangan terlalu jauh. Ingat kalian masih SMP kelas 3, masih terlalu dini. Kalau sudah saatnya, biarpun kalian menolak aku dan Inoichi pasti akan menikahkan kalian" Terangnya, sontak membuat kedua remaja itu memerah.

"Cepatlah turun, Ibu menunggu kalian untuk makan siang" Ucapnya, lalu berlalu dari kedua remaja yang masih saling terdiam

"Shika""Ino" Ucap mereka bersamaan

"kenapa kau menciumku Ino?" tanya sang pria nanas, membuka percakapan

"Entahlah...aku sudah kehabisan cara membangunkanmu" jawab Ino sedikit berbohong, tak mungkin bukan ia mengatakan bahwa ia terobsesi dengan bibir shikamaru

"Jadi kau akan menciumku terus hingga aku terbangun?" tanya shikamaru dengan seringai di wajahnya. Ia kembali menatap Ino, dan tanpa sadar wajah keduanya hanya terpisah 1,5 cm. Ino menutup mata, menunggu adegan selanjutnya namun... hingga beberapa detik tak ada yang terjadi, ia membuka mata dan tak menemukan siapapun di ruangan itu

"SHIKAAAAA"

Flashback Off

"Shika" Ucap sang gadis, berusaha menarik perhatian sang pemuda yang baru terbangun dari tidur panjangnya. Tiba –tiba Handphone sang pria bergetar, menampilkan sebuah nama yang sanggup membuat hati sang gadis hancur berkeping. Kemudian tanpa sepatah katapun, sang pria meninggalkan sang gadis dengan hatinya yang telah hancur

"Apa tak ada sedikitpun yang tersisa untukku, shika?" Lirihnya, entah sejak kapan Ino merasa akhir-akhir ini matanya begitu mudah berair dan kembali membasahi pipinya.

Ooo