Disclaimer: Naruto, shikamaru ataupun Ino bukan milikku. Mereka buatan Kishimoto Masashi-Sensei
Entah sudah berapa menit berlalu, gadis itu masih berdiam diri di sana, tak ingin beranjak. Helaian rambut pirangnya beterbangan tertiup angin, mengeringkan pipi sang gadis yang tak hentinya dijatuhi liquid bening. Ini bukan lagi tentang sang pria jenius yang tak ingin menjadi tutornya, namun tentang hatinya yang entah kenapa terasa sangat sakit, seakan seseorang tengah mengiris-ngirisnya lalu kembali membubuhi garam dan jeruk nipis di atasnya.
Sakit, Ia tak tahu bahwa tindakannya satu tahun yang lalu bisa berdampak sesakit ini. Apakah pria itu sudah tak mencintainya lagi? Pikirnya. Cinta yah, benar. Tak pernah sekalipun kata cinta terucap di antara mereka. Kata 'aku mencintaimu' sepertinya kata yang tergolong haram untuk diucapkan. Tapi Ino tahu, hatinya sangat tahu isi hati pria itu dulu. Ino sangat mengetahui bahwa pria itu juga sangat mencintainya, sama seperti dirinya. Namun sepertinya hanya isi hati Ino yang tidak berubah, hati pria itu sepertinya bukan miliknya lagi.
Ino kembali menarik nafas dan menghembuskannya. Ia lelah menangis dan sungguh ini sangat bukan sifat seorang Ino. Kegiatan menangis hanya ia lakukan dalam pekerjaannya sebagai seorang artis, selain itu, yah bisa diakui bahwa sejak umur 10 tahun hingga detik ini hanya satu orang yang bisa membuatnya menangis yaitu shikamaru.
Ino beranjak dari atap, Ia tahu pasti gurunya telah datang makannya Ino hanya ingin ke kantin, mengisi energinya yang habis digunakan untuk menangis. Ia masih berjalan, menyusuri lorong kelas yang sepi, pertanda seluruh siswanya tengah belajar. Namun langkahnya terhenti, netranya menangkap siluet dua orang siswa yang tengah berciuman. Ino ingin mengabaikannya, sebelum menyadari sang gadis berambut pirang dan sang pria...nanas.
000
PRAAAANGGG PRAAAAANGGGGG ARGHHHHHHHHHHHH
Suara hentaman benda yang dilempar dan raungan tangis masih memenuhi kamar bernuangsa ungu tersebut yang sangat berbanding terbalik dengan kondisinya. Peralatan kosmetik dan boneka berhamburan dimana-mana, pecahan gelas yang entah berasal dari cermin atau tempat kosmetik memenuhi lantainya. Disudut kamar, meringkuk seorang gadis yang masih mengenakan seragam sekolahnya, sepertinya ia tak peduli dengan telapak kakinya yang terus mengeluarkan darah, dan beberapa pecahan kaca masih tertusuk di sana.
"Nona Ino, kumohon buka pintunya" Suara wanita dari luar masih terus terdengar, diiringi suara gendoran pintu.
"Nona Ino, hiks...hiks...nona Ino" wanita itu terisak, namun tetap tak mendapat respon dari sang pemilik kamar. Suara isakan itu terhenti, ketika seorang pria datang sambil berjalan tergesah-gesah
"Sebenarnya, ada apa?"Tanya sang pria dengan nada khawatir.
"Saya juga tidak tahu Tuan, yang saya tahu Nona baru saja pulang dari sekolah dan langsung masuk kamar. Lalu tak lama saya dengar, nona meraung-raung seperti menangis sambil memecahkan barang-barang. Saya khawatir Tuan, terjadi sesuatu dengan Nona Ino di dalam " Jelas wanita tersebut, masih diiringi dengan isakan kecil dari bibirnya.
"Ino, buka pintunya. Ini Ayah, Nak" Teriak sang pria sambil mengetuk pintu, namun tetap tak ada respon.
"Apa tidak ada kunci lain?" Tanyanya, masih dengan nada khawatir
"tidak ada Tuan, kunci kamar Nona Ino hanya satu" jawab sang wanita. Sang pria mengerang frustasi, kemudian berusaha mendobrak pintu tersebut dengan kekuatannya.
"INO" Teriak sang pria, begitu menemukan putri kesayangannya tengah berbaring diantara pecahan kaca dan tetesan darah, ia dapat melihat beberapa bagian kulit anaknya berdarah tergores pecahan kaca, dan yang paling parah telapak kakinya yang masih tertusuk beberapa pecahan kaca.
000
Berita sakitnya seorang Yamanaka Ino, menyebar hampir di seluruh Konoha. Tak ada yang tahu detail sakit Ino, media hanya tahu bahwa Ino kelelahan dan perlu beberapa hari perawatan rumah sakit.
"bagaimana keadaan putri saya, Dok?"
"Ino kehilangan cukup banyak darah, namun kami bisa menanganinya. Mungkin beberapa jam lagi dia akan sadar" Sang penanya mengucapkan terimakasih dan bergegas masuk ke kamar rawat putrinya.
Inoichi hanya menatap nanar putrinya, Ia tak tahu apa yang membuat putrinya sampai nekat berbuat seperti itu. Setahunya, Ino bukanlah seseorang yang mudah stress karena sesuatu, Ino bukanlah anak cengeng yang menangis untuk sesuatu yang tidak penting. Bahkan ia tak ingat kapan putrinya itu menangis dihadapannya, mungkin 7 tahun yang lalu.
Flashback On
Sang wanita masih setia membujuk sang gadis yang enggan membuka mulutnya untuk sesuap makanan
"Nona Ino, makanlah. Nona belum makan dari kemarin siang" Bujuk sang wanita sambil menyodorkan satu sendok nasi yang dalam beberapa detik terhempaskan ke lantai, membuat butiran nasi berceceran di mana-mana. Ini bukan yang pertama, kejadian ini sudah berlangsung dari beberapa menit yang lalu. Sang penyuap telah mengganti sendok dan makanannya sebanyak 5 kali dan tak satupun direspon oleh sang gadis.
Gadis itu masih terdiam, matanya memperhatikan sang wanita yang sibuk membersihkan butiran nasi yang berceceran di lantai kemudian berlalu dari hadapan sang gadis. Satu detik setelah sang wanita menutup pintu kamar, kembali terdengar
PRANGGGGG
Kali ini gelas yang seharusnya digunakan untuk minum pecah dengan sengaja, pecah belingnya menyebar di seluruh lantai, membuat tak seorang pun berani berjalan di sekitarnya.
"INO" bentakan sang pria menggema beberapa detik selanjutnya. Gadis yang dibentak menatapnya tajam
"Aku mau Ibu" desisnya, tapi cukup terdengar oleh sang pembentak. Sementara sang pembentak hanya menatapnya sendu, tak tahu harus menjawab keinginan putri semata wayangnya itu. Hari ini, tepat seminggu setelah meninggalnya sang Ibu. Selama itu pula, Ino mengurung diri di kamar, tak mau makan dan berkali-kali membanting barang yang ada di sekitarnya. Tak ada setitikpun air mata yang keluar dari aquamarinenya, membuat orang disekitarnya tak mengerti bagaimana perasaan sang gadis. Mungkin dirinya terlalu shock mendengar kabar kematian sang bunda, rasanya baru kemarin sang gadis berbelanja dan belajar memasak bersama sang bunda, tak ada firasat sedikitpun sosok itu akan meninggalkannya.
"Ino mengertilah, Ibumu sudah tenang di alam sana. Jangan membuatnya bersedih. Kau tak bo..."
PRRAAAAAAANG
Kali Ini, tangan sang barbie melempar sesutu ke cermin, membuat cermin yang biasa dipake untuk berhias hancur tak berbentuk.
"INO, JIKA KAU INGIN IBUMU. MATILAH BERSAMANYA. Ayah tak mau mengurus anak yang manja" Bentak sang ayah dengan nada tinggi, melihat kelakuan putrinya yang brutal, mungkin lebih baik baginya jika mendengar putrinya yang menangis dibanding suara pecahan barang yang tak hentinya. Sungguh, Ia tak bermaksud membentak sang putri, hanya ingin menyadarkan anak tersebut bahwa yang dilakukannya adalah salah.
"Jadi itu keinginan Ayah" desis sang gadis, tangannya meraih serpihan kaca yang cukup tajam dan mengarahkan ke tangan yang lain.
"Ino, jangan main-main Ino" bentaknya lagi, ketika sang putri mengarahkan pecahan kaca ke nadinya.
"Ayah tak bermaksud seperti itu, Ini. Ayah mohon, ayah tak punya siapa-siapa lagi Ino" suaranya melunak, bahkan beberapa kali terdengar isakan. Tapi seperti tak mendengar apa-apa, sang putri bersiap mengiris sejulur nadi yang timbul di pergelangan tangannya sebelum suara memanggilnya.
"INO"seorang laki-laki berambut nanas berdiri di ambang pintu kamar sang putri, berusaha mengatur nafasnya yang tak beraturan. Sementara yang dipanggil, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, kemarahan, kerinduan, kelegaan, ketenangan bercampur di sana yang tanpa sadar membuat akuamarine itu memanas dan dalam beberapa detik berair. Sang putri menangis, air mata yang harusnya berjatuhan sejak seminggu yang lalu kini telah tertumpah.
"Shika" cicit sang putri. Sang pria mendekat, kemudian meraih tubuh kecil yang mulai bergetar ke dalam pelukannya, mengusapnya pelan, tanpa mengucapkan apa-apa. Ia membiarkan sang gadis menumpahkan tangis dalam pelukannya.
Inoichi, tak tahu harus berbuat apa. Ia menatap bahagia pemandangan di depannya dan satu kesimpulan mencuat di otaknya, Ia telah menemukan obat untuk anaknya, yang tak lain adalah putra dari sahabatnya. Sejak saat itu Inoichi tak pernah lagi melihat ataupun mendengar Ino menangis sampai beberapa jam yang lalu
Flashback off
"Paman" panggilaan seseorang menyadarkannya, nampak seorang gadis pink menatapnya khawatir.
"Bagaimana keadaan Ino, Paman?"
"Dokter bilang, sebentar lagi Ia akan sadar" jawabnya. Inoichi memandang sahabat putrinya, rasa ingin tahunya terhadap sesuatu menyeruak.
"Sakura, apa kau tahu apa yang membuat Ino sedih akhir-akhir ini?" sakuran tersentak, ia tak tahu harus menjawab apa.
"Aku tak terlalu tahu paman, kupikir Ino terlalu stress menghadapi remedialnya dan akhir-akhir ini Ino sering murung" jawab Sakura.
"Memang ada apa Paman?"
"Ino pingsan bukan gara-gara kelelahan sakura, tapi karena kehilangan banyak darah" Jawab Inoichi, emerald gadis pink terbelalak
"maksud paman, Ino bu-nuh di..ri?" tanyanya pelan
"mungkin bisa dibilang seperti itu sakura, Ia membiarkan kakinya tertusuk pecahan beling hingga kehilangan banyak darah. Aku yakin ada sesuatu yang mengganggu Ino hingga berbuat seperti itu dan aku berpikir, itu bukan hanya sekedar tentang nilainya di sekolah" jawab Inoichi, masih sambil menatap nanar putrinya yang tak kunjung membuka mata.
Sakura mencerna jawaban yang baru saja di dengarnya. Ia menimbang-nimbang apakah ia harus mengatakan tentang shikamaru.
"Paman, sebenarnya ada seseorang yang aku juga tak tahu apa hubungannya dengan Ino. Tapi, akhir-akhir ini Ino sering murung gara-gara dia" Ucap sakura pelan. Sebenarnya ia takut mengatakan ini, bagaimanapun ini termasuk privasi Ino dan sepertinya Ino tak sedikitpun mau menguar hubungannya dengan shikamaru.
"Siapa itu, sakura?" tanya Inoichi penasaran. Walaupun Ia ayah sekaligus presiden tempat Ino bekerja, namun tak secuilpun Ia mengetahui tentang hubungan asmara sang anak karena bisa dibilang, Ino termasuk artis yang bersih dari skandal.
"namanya Shikamaru, Paman" jawabnya menunggu reaksi sang paman. Inoichi, mengernyit heran. Rasanya tak mungkin, seseorang yang selalu ia angggap peredam tangis anaknya membuat anaknya menangis .
"Bagaimana, kau bisa berpendapat seperti itu sakura? Setahuku Ino dan Shikamaru bersahabat sejak kecil, bahkan bisa dibilang Ino lebih dekat dengan Shikamaru dibanding ayahnya"
"entahlah, Paman. Mungkin juga aku yang salah" jawabnya, bagaimanapun ini hanya pendapat dan firasatnya.
Beda dengan Inoichi, otaknya sedang menganalisis jawaban sakura. Mungkin saja mereka bertengkar karena setahun terakhir ini, tak pernah sekalipun ia mendengar Ino menyebut nama shikamaru, padahal sebelumnya Ino akan melaporkan segala prestasi dan apa yang dilakukan pria itu kepadanya. Inoichi jujur merasakan perubahan hubungan keduanya, tapi ia hanya beranggapan bahwa itu terjadi karena faktor kesibukan, bukan karena ada masalah di antara mereka, Pikir Inoichi. Otaknya berakhir pada kesimpulan, jika shikamaru satu-satunya yang bisa meredam tangis anaknya, maka tidak menutup kemungkinan hanya shikamarulah satu-satunya yang juga bisa membuat anaknya menangis. Mungkin Ia harus segera bertemu dengan Shikaku.
O0o
"Sebenarnya, ada apa Inoichi? Kenapa wajahmu serius sekali?" Tanya Shikaku, sambil memandang sahabatnya yang masih terdiam sejak beberapa menit yang lalu. Inoichi, tidak tahu harus memulai dari mana, bagaimana cara membicarakan hal seperti ino dengan sahabanya.
"Shikaku, kau tahu putriku sedang sakit" ucap Inoichi, memulai percakapan.
"Aku tahu, aku sudah mendengarnya bahwa ia kelelahan. Bukankah itu hal biasa untuk seorang aktris" jawab shikaku, semakin tak mengerti arah pembicaraan sahabatnya. Lalu Inoichi kembali terdiam.
"Sebenarnya adaapa dengan Ino? apa ini ada hubungannya dengan shikamaru?" tanyanya, yang sontak membuat Inoichi terkesiap.
"apa kau tahu sejauh mana hubungan Shikamaru dan Ino?" tanya Inoichi. Sementara shikaku, bingung diberi pertanyaan seperti itu, Ia teringat kejadian 1 tahun yang lalu, ketika Ia memergoki keduanya tengah berciuman.
"aku tak tahu harus menjawab apa . sebaiknya kau tanyakan sendiri pada shikamaru atau Ino, mereka lebih mengetahuinya" jawab shikaku akhirnya, tapi ia belum menemukan inti dari pembicaraan ini
"katakanlah Inoichi, mengapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu"
"Ino pingsan, bukan karena kelelahan shikaku tapi karena kehilangan banyak darah"
"darah..maksudmu Ino, bunuh diri?"
"bisa dibilang seperti itu. Aku tak tahu apa penyebabnya, tapi ia menghancurkan semua barang-barang dan membiarkan kakinya tertusuk pecahan beling hingga hampir kehabisan darah"
"aku akan membicarakan ini dengan shikamaru nanti. Tenanglah Inoichi, jika memang ini karena putraku aku akan memberinya pelajaran" Ucap Shikaku, mengakhiri pembicaraan dua manusia yang telah bersahabat sejak lama.
O0o
"Ayah, kenapa manatarpku seperti itu?" Tanya shikamaru, yang baru beberapa menit yang lalu tiba di rumahnya, namun telah mendapatkan tatapan mengintimidasi dari sang ayah.
"Apa temari sudah pulang?"
"Sudah Ayah, aku yang mengantarkannya kemarin"
"shika apa kau menyukai gadis suna itu?"
"untuk apa mempertanyakan hal seperti itu. Itu urusanku, ayah"
"Jawab saja shika. Urusanmu adalah urusan ayah juga" Shikamaru semakin tidak mengerti, sejak kapan ayahnya berubah menjadi secerewet ini.
"aku tidak menyukainya Ayah. Ayah sendiri yang memintaku menemaninya selama di Konoha, karena Ia putri rekan bisnis Ayah"
"Bagaimana dengan Yamanaka Ino?"
"mendokusei, sebenarnya ada apa ayah? Kenapa Ayah menjadi secerewet ini?"
"Ino di rumah sakit Shika"
"aku tahu ayah, itu resikonya menajdi artis"
"Ia memcoba bunuh diri"
"A-pa bunuh diri. Jangan bercanda Ayah"
"Ayah tidak bercanda, Nak. Kau sendiri tahu, bagaimana keras kepalanya Ino, ia tak mungkin berbuat senekat itu untuk sesuatu yang tidak penting. Ayah tak tahu ada masalah apa di antara kalian tapi segeralah selesaikan. Minta maaflah, jika kau yang salah dan maafkanlah jika Ino yang salah. Bagaimanapun, cepat atau lambat kau dan Ino akan terikat. Segera perbaiki hubungan kalian" Nasihat Shikaku, kemudian meninggalkan putranya yang sibuk menganalisis rentetan kalimat sang Ayah.
Shikamaru sangat mengenal Ino, tindakan brutal seperti bunuh diri bukan sifat Ino yang baru bagi shikamaru. Gadis itu akan melampiaskan kemarahan ataupun kesedihan kepada benda-benda di sekitarnya, termasuk menyiksa dirinya sendiri. Pertanyaan yang timbul di otaknya, apa yang membuat Ino sesakit itu? Apakah Ino melihat kemarin sedang...?
"Oh Tuhan, kenapa sekarang aku yang jadi tersangka"
