Disclaimer: Naruto, shikamaru ataupun Ino bukan milikku. Mereka buatan Kishimoto Masashi-Sensei
Aquamarine sang barbie menatap langit kamar tempatnya berbaring, namun bukan warna ungu yang ia tangkap menandakan Ia tak sedang berada di kamarnya. Suara pintu dibuka dan kembali ditutup menyadarkannya atas keberadaan seseorang.
"Syukurlah, kau sudah sadar Ino" ucap sang gadis pink. Namun sang barbie hanya terdiam, seperti tak berniat merespon sahabat pinknya.
"Ayahmu, keluar sebentar mengurus sesuatu. Kurasa Ia akan segera kembali" tambahnya, namun yang diajak bicara masih bungkam.
"Sebenarnya ada apa Ino? Bicaralah! Ada masalah apa sampai kau nekat berbuat seperti ini?" bujuk gadis pink.
"Kau tahu, aku menganggapmu sahabat, tapi saat ini aku seperti orang asing Ino. Aku bahkan tak tahu sedikitpun masalalumu. Apa kau tak menganggapmua sahabat? Ceritalah Ino! ada apa?" entah sejak kapan, akuamarine sang barbie memanas dan kembali menitikkan liquid bening.
"Sakura...Hiks...hiks...hiks" akhirnya sang barbie bersuara sambil menitikkan air mata. Sang gadis segera merangkul sahabatnya, membawa ke dalam pelukannya, membiarkan sang barbie menangis di sana. Ini sisi Ino yang lain, Pikir Sakura. Selama persahabatannya dengan Ino, Sakura tidak pernah mendapati Ino menangis sekalipun di luar lokasi shooting. Ino yang Ia kenal adalah Ino yang kuat, Ino yang tegas dan percaya diri tinggi. Ino yang Ia kenal adalah Ino yang akan melampiaskan segala kekesalannya dengan berbelanja ataupun melakukan hal lain yang membuatnya tertawa, bukannya menangis.
"Sakura" lirih Ino, masih dalam pelukan Sakura
"Hm" respon Sakura
"Apa kau pernah melihat, Sasuke berciuman dengan gadis lain?" cicit Ino, namun terdengar jelas oleh telinga Sakura. Sakura melepaskan pelukannya dan menatap dalam mata sahabatnya, sejumput luka Ia temukan di sana, membuatnya mengerti masalah apa yang tengah dialami sahabatnya. Ditariknya kembali tubuh itu ke pelukannya, Ia dapat merasakan tubuh itu bergetar.
...
"Hiks...Kenapa hiks...rasanya sesakit ini, sakura? Dia bahkan bukan siapa-siapa" tanyanya, masih dalam deraian air mata. Sakura terdiam, Ia tak tahu harus memberi jawaban seperti apa. Ia tak pernah merasakannya, tapi Ia dapat membayangkan rasa sakit yang tengah dialami sahabatnya.
O0o
Onyx sang nanas masih setiap menatap langit yang cerah, berbanding terbalik dengan keadaan hati sang nanas. Tak bisakah Ia menjadi awan saja, yang terus bergerak mengikuti arah angin. Tak bisakah Ia tetap menjadi shikamaru yang menutup diri terhadap keadaan sekelilingnya. Tak bisakah gadis itu, kembali tak mengusiknya dan mengabaikannya seperti dulu. Tak bisakah Ia tetap berpura-pura tuk tak peduli tentang apa yang dilakukan sang gadis. Tak bisakah hatinya tetap tenang, memikirkan sang gadis yang hatinya tengah kesakitan. Racaunya, dalam hati.
Sang nanas sangat tahu, apa yang sedang dirasakan sang barbie, Ia pernah merasakannya dan tentu Ia tahu bagaimana rasa sakit itu. Perasaan sakit yang muncul saat melihat bibir yang kau cintai menyentuh bibir lain. Hati sang nanas sudah kebal dengan pemndangan seperti itu, tapi bagaimana dengan sang barbie yang baru pertama kali menyaksikannya. Ugh, sungguh dalam hati sang nanas, tak ada keinginan sedikitpun untuk membuat gadis itu merasakan sedikit rasa sakitnya. Sungguh, hatinya sangat tidak ingin melihat gadis itu menangis. Sungguh, hatinya masih sangat memuja kecantikan sang barbie, tak ingin ada setitik pun liquid bening yang merusaknya.
Sang nanas menutup mata, indera penciumannya menikmati aroma rumput basah di sekitarnya. Otaknya masih sibuk berpikir, apa yang harus Ia lakukan? Apa yang harus Ia katakan? Bagaimana ekspresi yang harus Ia tampakkan? Apakah gadis itu akan memaafkannya? Aneh rasanya, mengingat kemarin gadis itu yang terus-menerus minta maaf dan sekarang dirinya yang harus mengucapkan kata tersebut.
Yah, hatinya tengah memaafkan sang gadis. Entah sejak kapan, mungkin saat gadis itu menciumnya atau saat gadis itu bertengkar karenanya atau memang hatinya tak pernah menyalakan sang gadis, hatinya tak pernah sedetik pun tak mencintai gadis itu, hatinya memuja, meninggikan dan akan melakukan apapun demi sang barbie, hatinya masih sama seperti dulu.
Tapi Sungguh, Shikamaru tak tahu bagaimana mengungkapkannya. Dia tak tahu bagaimana mengatakan bahwa Ia telah memaafkan sang barbie, bahwa hatinya masih sama seperti dulu, bahwa apa yang dilihat oleh sang akuamarine tidak benar. Sungguh benar, Ia jenius dalam semua hal, kecuali tentang cinta.
0oO
"Kau sudah bangun, Ino?" Tanya seorang pria, saat melihat gadis itu tengah membuka mata. Sang gadis hanya meliriknya sebentar, dan kembali fokus pada langit-langit kamarnya.
"Ayah sudah bicara dengan Tsunade Sensei dan beliau setuju menunda remedialmu sampai 2 minggu ke depan setelah kau sembuh" sang gadis tetap tak merespon.
"Ino, Ayah tak tahu masalah apa yang tengah kau alami. Tapi, jangan seperti ini, jangan menyakiti dirimu sendiri. Ayah tahu, ayah tak bisa menggantikan posisi Ibumu tapi ingatlah Ibumu pasti juga tak ingin melihatmu seperti ini" Lanjutnya. Ia berdiri, dan bersiap meninggalkan ruangan sebelum tangannya digenggam oleh tangan yang lain.
"Ayah, maafkan Ino" cicit sang gadis, wajahnya telah basah. Sang Ayah hanya memeluk, mengusap pelan anaknya, berusaha meredam tangisnya. Kapan Ino terakhir memeluknya? Entahlah, Ia tak ingat, mungkin saat Ino berumur lima tahun atau saat 2 tahun. Sungguh, ia tak ingat, itu sudah lama sekali.
"Ceritalah Ino, jika kau punya masalah"
"Hiks...hiks...Shi...ka..." lirih sang gadis di tengah tangisannya
" Shikamaru... jadi benar, anak itu yang sudah membuatmu seperti ini. Tenang saja Ino, ayah akan memberi pelajaran pada anak itu" Geram Ayah Ino. Ia sudah akan berbalik sebelum tangan sang barbie menahannya.
"Ayah, Shika tidak salah hiks...Ino yang salah Ayah" Ucap Ino
"Apa maksudmu Ino? " Tanya Inoichi tidak mengerti. Ino pun mulai menceritakan keasalahannya yang selalu mengabaikan shikamaru sejak setahun lalu karena merasa ia dan shikamaru berada di level yang berbeda.
Inoichi menghela nafas keras, Ia memandang sang barbie yang masih sesegukan setelah menceritakan masalahnya. Namun, masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab di otaknya.
"Kalau kau yang menjauhi Shikamaru, terus kenapa kau bisa bertindak sebrutal ini Ino?" Tanya Inoichi, rasanya masih ada yang disembunyikan anaknya.
"Itu..." Ino tak berani menjawabnya, mana mungkin Ia mengatakan bahwa Ia marah melihat Shikamaru mencium gadis lain setelah selama ini selalu mengabaikan pria nanas itu.
...
"Ya sudah kalau kau belum bisa cerita Ino, ayah tak memaksa. Ayah hanya tak mau kejadian seperti ini terulang lagi" Ucap Inoichi, melihat sang barbie tak kunjung menjawab pertanyaannya. Lalu keduanya kembali terdiam, Inoichi masih memikirkan tentang apa yang disembunyikan putrinya sedangkan Ino, otaknya berusaha menghapus bayangan-bayangan yang beberapa jam lalu tersimpan di otaknya, bayangan yang mampu menyayat hatinya yang terluka.
O0O
Aquamarine sang barbie terbuka, kembali menatap langit-langit kamar tempatnya berbaring, warnanya tak lagi putih melainkan warna ungu, warna kesukaan sang barbie. Yah, Ino telah diijinkan pulang oleh pihak rumah sakit, hanya saja Ia belum bisa memulai aktivitasnya sebagai seorang aktris. Setitik liquid bening membasahi pipinya, disusul liquid lain membuat kain disekitarnya kembali basah. Ini kebiasaan Ino setiap paginya, Ia sendiri tak tahu bagaimana cara mengendalikan liquid yang tak hentinya berjatuhan dari aquamarinenya, Ia tak tahu bagaimana cara menghapus bayangan itu, dan sekali lagi, Ia tak tahu bagaimana cara meyakinkan hatinya bahwa hati sang pria nanas bukan lagi miliknya. Bohong, jika Ino tak mengharapkan kedatangan Shikamaru, Ia sangat merindukan pria itu, bahkan mungkin Ino rela benar-benar bunuh diri hanya untuk mendapatkan perhatian pria nanas itu.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan terdengar, membuat sang barbie menghapus air matanya dan segera menarik selimut menutupi tubuhnya. Ini juga salah satu kebiasaannya setelah pulang dari rumah sakit, Ino akan menutup diri dengan selimut membuat orang mengira bahwa Ia masih tertidur dan kembali meninggalkannya. Ino tak akan keluar kamar, kecuali saat Ayahnya berada di rumah, hanya untuk memperlihatkan bahwa sang barbie masih hidup, walaupun dengan wajah pucat karena tak makan berhari-hari dan tatapan yang kosong. Tak lama terdengar, suara pintu yang dibuka, Ino dapat merasakan seseorang tengah berjalan mendekatinya.
"Rupanya kau masih tidur Ino-chan" Mata Ino membulat dibalik selimut, Ini suara...
"Bangunlah Ino-chan, Bibi tahu kau pura-pura tidur" Ucapnya, sambil berjalan membuka gorden jendela kamar Ino, membiarkan cahaya matahari masuk. Merasa tertangkap basah, sang barbie menurunkan selimutnya dan menatap wanita yang tengah membereskan kamarnya yang berantakan.
"Bibi...Apa yang Bibi lakukan di sini?" Tanya sang barbie
"Bibi tahu, Inoichi pasti menelantarkanmu. Bagaimana bisa dia membiarkan seseorang yang baru keluar dari rumah sakit sendiri di rumah sebesar ini?" Ucap sang wanita. Ia menatap putri sahabatnya lembut, berusaha mencari sesuatu yang disembunyikan dalam akuamarine sang barbie.
"Bibi tak tahu, ada masalah apa antara kalian. Tapi, kau tak boleh seperti ini Ino" Ucapnya, masih memandang lembut sang barbie. Ino menunduk, menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis yang sepertinya akan pecah.
Sang Wanita merangkul, membawa gadis itu kembali ke pelukannya, membiarkan tangisnya pecah di sana. Sang wanita mengelus rambut pirang sang barbie, menunggu hingga aquamarine itu tak lagi berair.
"Nah, sekarang bangunlah Ino, bersihkan tubuhmu, dan temani bibi sarapan"
"tapi, Bibi..."
"Jangat berdiet lagi Ino, kau sudah sangat kurus. Lagi pula, Bibi tak mau punya menantu yang kurus kering karena tak makan berhari-hari" Ucap sang wanita, membuat wajah pucat sang barbie sedikit memerah. Ino tersenyum, kalimat terakhir yang diucapkan sang wanita membuat Ino merasa masih mempunyai sedikit harapan.
O0O
Ino menatap pantulan dirinya di cermin. Benar, dirinya benar-benar menyedihkan, tubuhnya terlalu kurus, wajahnya semakin cekung dan pucat, dan jangan lupakan matanya yang sangat bengkak. Beruntunglah Ino karena ayahnya mengosongkan jadwalnya untuk satu bulan ke depan, Ia tak mungkin menampakkan wajahnya yang seperti ini di layar televisi.
Sekali lagi, Ino menghela nafas. Ia berjalan keluar kamar, menuruni tangga, berhubung kamarnya terletak di lantai dua. Ino masih berjalan tanpa minat menuju dapur, tempat seorang wanita menunggunya sarapan. Bau masakan mulai tercium, membuat perutnya yang berhari-hari tak diisi berteriak histeris. Langkahnya terhenti ketika Ia mendengar suara seseorang yang sangat Ia kenal
"Ibu, Tapi tak harus seperti itu"
...
"Shika"
