Disclaimer: Naruto, shikamaru ataupun Ino bukan milikku. Mereka buatan Kishimoto Masashi-Sensei
Note: Aku nggak tahu nama Ibunya Shikamaru jadi aku Cuma nyebut sang Wanita atau Ibunya Shika.
"Shika" Lirih Ino. Matanya terbelalak melihat pemuda yang tengah duduk di meja makan, sementara tubuh sang pemuda menegang, seakan terpaku dengan kursi yang didudukinya, tak berani berpaling menatap gadis yang memanggilnya.
"Oh...Ino duduklah, Bibi sudah menyiapkan makanan kesukaanmu" Ucap Wanita yang juga duduk di meja makan yang sama. Ino masih mematung, tak tahu harus duduk dimana, kalau dia duduk di samping Ibu Shika, maka ia akan langsung berhadapan dengan Shikamaru. Oh sungguh, Ia belum bisa menatap onyx sang pemuda. Tapi kalau ia duduk di samping shikamaru, Ino takut Shikamaru akan mendengar jantungnya yang berdetak kencang.
"...no...Ino..." panggil Ibu shikamaru, menyadarkan Ino dari perdebatan pikirannya sendiri . Akhirnya dengan langkah pelang, sang barbie berjalan menuju kursi di samping Ibu Shika.
...
...
Suasana hening menyelimuti sarapan di pagi itu, Sang nanas masih menyantap makanannya yang terlihat dipercepat, sedangkan sang barbie masih belum menyentuh makanannya sedikitpun, sementara sang wanita sibuk memperhatikan interaksi putra dan calon menantunya yang seperti dua orang yang tidak saling kenal. Sang wanita pun menyendok beberapa makanan dan meletakan di piring calon menantunya.
"Makanlah, Ino. Bibi tak mau punya menantu yang kurus kering" Ucap sang wanita, yang sontak membuat sang nanas tersedak
UHUK...UHUK...UHUK...sang nanas masih tersedak nasi di tenggorokannya, refleks sang barbie memberikan air minumnya yang langsung diterima oleh sang nanas. Sang wanita terkikik geli, melihat interaksi keduanya. Ia dapat melihat telinga Shikamaru memerah, entah karena tersedak nasi atau karena kata-kata ibunya, sementara wajah Ino sudah memerah full, entah karena kata-kata ibu shikamaru atau karena tangannya yang baru saja bersentuhan dengan tangan shikamaru. Lalu suasana kembali hening, hingga sang wanita kembali berucap.
"Ino, katanya kau perlu tutor untuk mengajarkan pelajaran yang akan kau remedialkan?" Tanya sang wanita, berusaha memecah keheningan yang terjadi, yang ditanya hanya mengangguk lemah.
"kami sudah mendiskusikannya dan memutuskan bahwa shikamaru yang akan menjadi tutormu" Ucap sang wanita. Kedua remaja tersebut hanya terdiam, inilah yang terjadi kalau mereka berdua tidak bisa menyelesaikan masalah, maka pasti orang tua mereka yang akan menanganinya. Pikir kedua remaja tersebut.
"kalian setuju kan?" tanya sang wanita kembali, namun yang keduanya masih bungkam.
"Aku..." Lirih Ino, memcoba buka suara
"Aku tak masalah Ibu, tapi kan aku tak perlu pindah ke sini. Aku bisa setiap hari datang, tanpa perlu menginap" Ucap shikamaru, membuat gadis di depannya mengerjap bingung, tak tahu apa yang tengah di bicarakan. Melihat calon menantunya yang kebingungan, maka sang wanita angkat bicara.
"Ino, kamu tahu kan ayahmu sekarang ada di singapura dan akan kembali dua pekan lagi. Sementara aku dan Shikaku juga harus mengurus perusahaan yang baru berdiri di kota Suna sementara shikamaru akan tinggal di sini mengurus perusahaan yang ada di konoha dan kamu sendiri harus belajar untuk ujian remedial bukan" Ucap sang wanita panjang lebar, namun otak Ino belum menangkap intinya.
"Jadi kami memutuskan, agar shikamaru pindah ke sini untuk menjagamu sekaligus menjadi tutormu atau kau yang pindah ke rumah kami Ino" tambah sang wanita.
"Ibu, aku bisa mengajarinya tanpa harus pindah ke sini" Ucap shikamaru yang dari tadi hanya diam, matanya menatap ibunya kesal, sementara sang ibu masih menunggu respon Ino.
"Bibi, kalau shikamaru tidak mau, tidak apapa. Lagian di sini ada pembantu dan juga ...Ino bisa mencari tutor yang lain" Ucap Ino pelan, wajahnya menunduk, menatap makanan yang sepertinya lebih menarik dibanding pria di depannya.
"TIDAK, keputusan kami sudah bulat. Ayolah, sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian, seingat Ibu dulu kalian sangat akrab dan jangan kalian kira, Ibu tak tahu kelakuan kalian dulu yang sudah lebih dari teman" Ucap sang wanita kesal, membuat keduanya terdiam.
"Cepat selesaikan makan kalian" Ucap sang wanita tegas, meninggalkan dua remaja yang masih larut dalam pikiran masing-masing.
...
"kalau mereka sudah pergi, kau bisa kembali ke rumahmu dan kau juga tak perlu mengajariku, aku bisa mencari orang yang ikhlas mengajariku" Ucap Ino tajam, tiba-tiba
"Mendokusei, Ino. Aku tidak bilang tidak ingin mengajarimu Ino, aku Cuma tidak bisa tinggal di sini" ucap shikamaru kesal, mengklarifikasi jawaban gadis di depannya. Tak tahukah Ino, apa yang membuat shikamaru sangat tidak ingin tinggal di sini, satu atap dengan sang barbie.
"sama saja, bilang saja kau tak ingin mengajariku, bilang saja kau hanya ingin mengajari Temari" Ucap Ino, masih dengan wajah menatap makanan. Shikamaru jengah dengan pembiacaraan ini
"Aku akan menjelaskan semuanya nanti, sekarang aku harus ke kantor" Ucap shikamaru, berdiri sambil merapikan pakaiannya. Ino mendongak, ia baru menyadari bahwa pria itu tak memakai seragam SMA, melainkan pakaian kantor yang membuatnya jauh terlihat dewasa dan tampan. Merasa di perhatikan, shikamaru mengalihkan pandangannya ke Ino yang juga buru-buru mengalihkan pandangannya kembali ke makanan.
"Habiskan makananmu! Benar kata Ibu, aku tidak ingin punya istri yang kurus kering" Ucap Shikamaru, lalu berlalu dari sang barbie yang masih mematung. Otak Ino masih mencerna kata-kata shikamaru 'istri'...'istri' ...barusan shikamaru menyebutnya istri dan itu berarti... Wajah Ino kembali memerah. Seperti orang tolol, Ino memandangi makanan sambil tersenyum-senyum, tanpa menyadari kehadiran seseorang di sampingnya.
"kenapa senyam-senyum Ino?"
"Ah...Bibi... tidak apapa Bibi, masakan Bibi sangat enak" Ucap Ino, masih tersenyum, sambil memakan makanan yang ada di piringnya. Sang wanita, hanya menatap binggung calon menantunya, perasaan baru beberapa menit yang lalu, gadis itu hanya mengaduk-ngaduk makanan, sekarang Ia memakannya dengan lahap.
"Ah Bibi, kenapa Shikamaru tidak ke sekolah melainkan ke kantor?"
"Shikamaru sudah lulus minggu kemarin Ino, kau taukan dia mengambil kelas akselerasi" jawab Ibu shikamaru. Ino hanya menganggukkan kepala, dengan mulut berbentuk 'O'. Sang wanita kembali mengerjap bingung.
"Ujian kelulusannya diadakan pas kau di rumah sakit Ino, tapi Bibi kira dia memberitahumu, karena setiap selesai ujian pasti dia datang menjengukmu"
"Tapi Bibi, Shikamaru tidak pernah menjengukku"
"Mungkin kau sedang tidur Ino, ketika dia datang. Kalau Shikamaru tidak datang, siapa yang setiap hari mengganti bunga yang ada di kamarmu" balas sang wanita, lalu kembali berlalu.
Ino berpikir. Benar, setiap paginya Ino mendapati bunga yang ada di kamarnya terlihat baru. Ino pikir, itu hanya fasilitas rumah sakit untuk menyenangkan pasiennya. Seulas senyum kembali terukir di wajah sang barbie, sepertinya hati sang nanas masih miliknya. Suara koper diseret membuyarkan lamunan Ino
"Bibi, sudah mau berangkat sekarang?"
"Iya, Ino. Shikaku sudah menungguku di bandara" sang wanita menatap Ino dan kemudian memeluknya.
"Bibi mau, kalian sudah berbaikan ketika kami pulang" Ino melepas pelukannya, menatap wanita yang sangat ingin Ia dijadikan Ibu mertua.
"Terima kasih Bibi, aku akan berusaha" Ucapnya. Ino mengantar sang wanita sampai di gerbang rumahnya
"Ino, kuncilah kamarmu sebelum tidur tapi bila keadaan mendesak, gunakan kotak pink yang ada di lemari kamar yang ditempati shikamaru" Ucap Ibu shikamaru, kemudian berlalu. Ino hanya tersenyum, namun tak sedikitpun kata-kata wanita itu yang Ia mengerti.
0Oo
Ini hari pertama yang Ino lalui tidak dengan menangis di bawah selimut. Setelah mengantar ibu shikamaru, Ino kembali ke kamarnya untuk membersihkan kamarnya dan berinisiatif mulai belajar untuk persiapan remedialnya yang akan dilaksanakan 10 hari lagi. Namun, baru membaca beberapa kalimat dari buku biologinya, mata Ino sudah tak dapat lagi bertahan hingga tak sadar Ia tertidur masih dengan posisi duduk di depan meja belajarnya.
0Oo
Shikamaru berjalan memasuki rumah yang untuk beberapa minggu ke depan akan Ia tempati. Matanya menelisik setiap sudut ruangan rumah itu, dan tak menemukan sosok yang Ia cari.
"Bibi, Ino di mana?" Tanya Shikamaru pada seorang pembantu yang sedang sibuk menyiapkan makan malam
"Nona Ino masih di kamarnya, Den. Dia tidak pernah keluar kamar semenjak tadi pagi" jawab wanita tersebut dengan raut wajah khawatir. Shikamaru segera berjalan...tidak berlari menuju kamar Ino yang berada di lantai 2, hatinya berdebar ketakutan, terjadi sesuatu dengan sang barbie. Tanpa mengetuk, shikamaru langsung membuka kamar Ino dan mendapati suasana kamar yang sepi. Matanya kembali menelisik dan mendapat seorang gadis pirang tengah tertidur di meja belajarnya berbantalkan berbagai buku pelajaran.
Seulas senyum terukir di wajah shikamaru. Seorang Shikamaru tidak memiliki banyak hobi, selain tidur dan menatap awan, mungkin hobi yang lain adalah manatap wajah Ino yang sedang tertidur. Entah kenapa, perasaannya akan tenang saat menatap wajah itu, perasaan yang sama saat Ia sedang menatap awan. Setelah menghabiskan waktu 3 menit 34 detik hanya untuk mengamati wajah sang barbie, shikamaru berinisiatif memindahkannya ke tempat tidur sebelum sebuah suara menghentikannya
"shika..." Igau Ino dalam tidurnya, shikamaru hanya tersenyum
"ada apa Ino?" bagai orang tolol, shikamaru merespon igauan Ino
"hiks...aku takut shika" seakan mendengar perkataan shikamaru, Ino terisak dalam tidurnya, ujung matanya terllihat berair
"takut apa?"
"kau akan meninggalkanku...hiks" dengan mata masih terpejam, Ino menangis, likuid bening telah mambasahi buku palajaran yang dijadikannya bantal
"tak akan, takkan pernah, Ino" shikamaru berbisik di telinga Ino, berusaha menenangkan tidur sang gadis. Entah atas dorongan apa, shikamaru mengecup kening Ino dan seketika akuamarine Ino terbuka. Mata gadis itu sedikit membesar, mendapati wajah shikamaru yang sangat dekat dengan wajahnya.
"kau sudah pulang?" ucap Ino pelan, hampir berbisik.
"Hn"
...
Lalu keduanya terdiam, Ino masih dengan posisi tidurnya dan shikamaru masih dengan posisi menunduk menyamai posisi wajah Ino. Sang akuamarine dan onyx masih saling berinteraksi, hingga tanpa sadar wajah shikamaru mendekati wajah Ino
5...3...2...
KRUYU...KRUYUK...
Suara perut Ino menghentikan aktifitas yang akan terjadi. Ino menutup mata menahan malu, sambil memegangi perutnya yang sialnya berbunyi di saat yang tidak tepat, sementara shikamaru hanya tersenyum
"Ayo kita turun. Bibi, sudah menyiapkan makan malam, aku tahu kau pasti tidak makan siang kan" Shikamaru berjalan keluar, diikuti Ino yang masih menunduk menahan malu
0Oo
Mereka makan dalam diam. Shikamaru memperhatikan Ino yang hanya mengambil sedikit nasi dan beberapa sayuran.
"Ino, tambah makananmu, kau takkan kenyang hanya dengan makanan seperti itu"
"tidak, shika. Makan malam akan membuat wajahku bengkak" tolak Ino
"Mendokusei, Ino. Wajahmu takkan bengkak. Mungkin, hanya akan terlihat sedikit lebih baik dari sekarang" jawaban shikamaru membuat Ino mengerutkan kening
"sedikit lebih baik? Maksudmu, sekarang wajahku terlihat jelek Shika?" Balas Ino dengan nada yang sedikit tinggi dan mengintimidasi. Shikamaru mengutuk dirinya sendiri, Ia harusnya ingat bahwa gadis itu sangat sensitif dengan pembicaraan tentang wajah dan berat badan.
"Bukan begitu, Ino. Maksudku, sekarang wajahmu terlalu cekung dan itu..."
"dan itu terlihat jelek, begitu maksudmu?" potong Ino dengan nada yang semakin tinggi. Sementara para pembantu yang mendengar perdebatan keduanya hanya terkiki geli. Pasalnya di rumah Ino, tidak pernah ada perdebatan yang seperti ini, Inoichi dan Ino jarang berada di rumah dan jikapun berada di rumah keduanya akan sibuk dengan urusan masing-masing, bahkan urusan makan malam hanya diiringi dengan pembiacaraan basa-basi atau bahkan saling diam.
"Mendokusei, Ino. Aku tak bilang kau jelek, aku hanya bilang bahwa wajahmu perlu sedikit lemak di bagian pipi" Balas shikamaru, mengklarifikasi
"SAMA SAJA" teriak Ino, dan segera meninggalkan makananya yang bahkan belum disentuh sama sekali. Shikamaru menghelas nafas, Ia segera menghabiskan makanannya dan menyuruh pembantu mempersiapkan makanan baru untuk Ino
"Apa dia selalu seperti itu?" tanya shikamaru, pada pembantu yang menyiapkan makanan untuk Ino. sang pembantu hanya tersenyum, para pembantu sudah mengenal shikamaru bahkan saat pria itu masih berumur 5 tahun dan mereka tahu bagaimana hubungan shikamaru dan Ino.
"tidak, Den. Ini yang pertama, tapi memang Nona Ino jarang makan malam dan kalaupun makan malam, Nona Ino hanya makan sedikit dan Tuan Inoichi tidak pernah memprotesnya" jawab sang pembantu. Shikamaru kembali melanjutkan makannya.
"Den, apa ini tidak kebanyakan untuk nona Ino? saya yakin nona tidak akan mau memakannya" ucap sang pembantu
"mendokusei Bibi, apa Bibi tidak lihat sekarang wajah Ino lebih mirip tengkorak, kurasa dia takkan bisa muncul di telvisi dengan wajah seperti itu" Ucap Shikamaru yang telah menyelesaikan makannya. Ia mengambil nampan berisi makanan untuk Ino dan berjalan menuju kamar gadis tersebut.
0Oo
Terhitung 5 menit 56 detik telah berlalu, dan gadis itu masih menelisik setiap sudut wajahnya dalam cermin
"benar kata shikamaru, wajahku terlihat telalu cekung" lirih Ino. suara ketukan membuat gadis itu menghentikan aktifitas dan segera menyembunyikan cermin di bawah bantalnya. Ino pura-pura memasang wajah cemberut, melihat siapa yang datang.
"mau apa kau ke sini?" ucap Ino, dengan nada yang dibuat kesal. Pria itu hanya tersenyum, meletakkan nampan yang di bawanya di meja dan duduk di tepi ranjang Ino
"hanya ingin melihatmu" jawab shikamaru, membuat wajah gadis yang masih terduduk di ranjangnya memerah
...
...
Shikamaru mengambil nampan yang berisi makanan dan mulai menyendok beberapa dan menyodorkannya ke Ino. Sementara Ino, masih mematung, kaget dengan perlakuan Shikamaru
"Makanlah! Kau harus makan, Ino. Ingat perkataan Ibuku, dia tidak mau punya menantu yang kurus kering" Bujuk shikamaru, yang membuat wajah Ino tambah memerah dan tanpa sadar membuka mulutnya untuk disuapi shikamaru. Kegiatan menyuapi masih berlangsung hingga Ino sudah tak bisa lagi
"cukup Shika, ini sudah terlalu banyak" Ucap Ino. Merasa bahwa makanan Ino memang sudah hampir setengahnya habis, shikamaru menghentikan aktifitasnya dan segera memberikan Ino minum.
"jadi, kapan Ibuku tadi berangkat?"
"sesaat setelah kau pergi, Shika" Shikamaru hanya terdiam, membereskan makanan Ino dan hampir berjalan keluar sebelum suara Ino menghentikannya
"tapi tadi Ibumu mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti"
"tentang apa?"
"Bibi bilang aku harus mengunci kamarku sebelum tidur, tapi kalau keadaan mendesak aku bisa menggunakan kotak pink yang ada di lemari kamar yang kau tempati sekarang" ucap Ino. Shikamaru hanya terdiam, masih memproses perkataan ibunya
"memang apa isi kotak pink itu, shika?" tanya Ino. otak Shikamaru masih memproses, tak ada satupun hipotesis yang muncul di kepalanya
"entahlah, Ino. Mungkin aku akan mengeceknya sebentar" Ucap Shikamaru sambil berjalan keluar
"Aku ikut, Shika" teriak Ino, yang segara beranjak dari ranjangnya dan mengikuti Shikamaru.
Kamar yang ditempati Shikamaru adalah kamar tamu yang terletak di lantai 1 sehingga mereka harus berjalan turun dari kamar Ino yang terletak di lantai 2. Sepanjang perjalanan, otak Shikamaru masih memproses dan 1 hipotesis muncul di otaknya
"Ino, sebaiknya kau tak usah melihat isi kotak itu" ucap Shikamaru pada gadis yang sedari tadi berjalan di belakangnya. Ino mengerutkan kening
"Kenapa? Bibi berpesan padaku yang artinya kotak itu untukku tapi mungkin Ia letakkan di kamarmu" balas Ino, kembali berjalan menuju kamar Shikamaru, meninggalakan pria yang berdiri di tempatnya. Jika hipotesisnya benar, maka Ino tak boleh melihat isi kotak itu. Pikir sang nanas, lalu kembali berjalan menyusul sang gadis
Ino baru akan membuka pintu kamar shikamaru, sebelum pria itu menghentikannya
"Ino kamarku masih berantakan, biar aku saja yang masuk dan mengambilkanmu kotak itu"
"Shika, memang kapan kamarmu tidak berantakan. Sudahlah, aku sudah terbiasa" tolak Ino. Ia membuka pintu yang nyatanya tidak dikunci, memasuki kamar tersebut dan berjalan menuju satu –satunya lemari yang ada di sana sementara Shikamaru masih mengikut di belakangnya, berharap hipotesis yang dibuat otaknya salah.
Tangan Ino sudah menemukan satu-satunya kotak pink yang ada di sana dan segera membukanya.
"Ini Apa, Shika?" tanya Ino, dengan nada berbisik dan mata masih memandang isi kotak itu. Shikamaru bernafas lega, sepertinya hipotesisnya salah, menyadari respon gadis itu yang terlihat biasa. Shikamaru berjalan mendekati Ino, demi melihat isi kotak pink yang diberikan ibunya dan seketika matanya membelalak. Oh ayolah, hipotesis seorang shikamaru tak pernah salah.
IBUUUUUUUUU
