Seven Days With You

Disclaimer : sampai kapan pun, Naruto punya om Masashi. om si raja tega...

First Day. The Crazy One

At morning

Tatapan kesal dan jengah Sasuke masih tertuju pada benda sialan yang teronggok menyedihkan di dekat pintu di ujung kamar bernuansa biru dan putih itu. Sasuke masih setia terduduk nyaman di balik selimut tebal di atas tempat tidur ukuran double itu, suara dering nyaring beberapa menit yang lalu benar-benar membuatnya kesal setengah mati hingga ia tega melempar benda itu seenaknya saja. Ingatkan dia untuk membeli jam meja yang telah ia rusak untuk kesekian kalinya itu.

Dipijatnya keningnya perlahan, kepalanya masih pusing berat, rasanya tidur semalaman masih tak cukup untuk menghilangkan rasa pusing yang dirasakannya kini. Manik hitam kelamnya masih menatap benci jam meja yang sudah tak terbentuk lagi itu saat kaki-kaki jenjangnya membawanya melangkah keluar kamarnya.

Sebenarnya ia malas setengah mati bahkan untuk bangkit dari tempat tidur, tapi apa daya lagi-lagi jadwal yang menumpuk hari ini benar-benar membuatnya terpaksa untuk bangkit dari tempat tidurnya.

Kaki jenjangnya melangkah mendekat pada sebuah pintu bercat putih di ujung sana, melangkah masuk ke dalam dan mendapati kamar mandi yang lagi bernuansa putih bersih menyambutnya. Dinyalakannya keran di westafel di ujung ruangan, membasuh wajahnya yang masih terlihat lelah dengan gerakan tangan yang terlalu kasar.

Ditatapnya singkat cermin besar di depannya, menatap bayang-bayang seorang pemuda tampan dengan gurat-gurat lelah yang nampak jelas. Sebuah hembusan napas lelah kembali terdengar darinya, sebelum diambilnya sebuah handuk kecil kemudian melangkah pergi meninggalkan ruang dengan ukuran sedang itu.

Ia masih sibuk membasuh wajah dan helaian rambut ravennya yang sedikit basah sambil berjalan keluar dari kamarnya. Ya, kegiatan paginya masih sama seperti hari-hari yang lain sebelum sebuah suara nyaring mengganggu pendengarannya.

"Ohayou, Sasuke."

Oh sungguh, Sasuke ingin sekali meledak saat ini juga saat sepasang manik mata kelamnya menemukan sosok pemuda pirang yang tersenyum lebar di ruang makan dengan apron merah yang melekat pada tubuh mungilnya. Sosok pemuda pirang itu sepertinya sedang sibuk menata sesuatu di atas meja, kembali mengabaikan Sasuke yang menatapnya dengan tatapan perpaduan antara kesal dan terkejut.

Andai ia tidak memiliki kemampuan untuk menahan diri yang sangat luar biasa, sudah dipastikan pemuda pirang itu sudah ia lempar dari jendela apartmennya yang ada di lantai tiga.

"Apa yang sedang kau lakukan?" Desisan penuh ancaman meluncur manis dari bibir Sasuke.

Sosok yang masih disibukkan dengan kegiatannya itu menatapnya sejenak sebelum sebuah senyum lebar yang tadi Sasuke lihat kembali muncul di wajah mungil dengan tiga guratan di setiap pipinya itu. Diletakkannya piring terakhir di meja makan dan dipusatkannya perhatiannya pada sosok Sasuke yang seakan-akan membeku di depan pintu kamarnya dengan tatapan yang masih menusuk seperti tadi.

"Tentu saja menyiapkan sarapan untukmu, Sasuke." Senyum itu masih mengembang di wajah itu, senyuman yang benar-benar membuat urat amarah Sasuke bisa putus begitu saja. Dan apa-apaan jawabannya itu, apa pemuda pirang itu ingin dilempar dari jendela apartmennya saat ini juga.

"Bukan itu jawaban yang ingin kudengar, dobe. Kenapa kau bisa ada di dalam apartmenku?" Suara penuh ancaman itu masih setia Sasuke keluarkan walau rasanya tidak terlalu berpengaruh pada pemuda pirang itu.

Masih tergambar jelas di kepala Sasuke akan kenangan akan kejadian semalam. Saat dirinya benar-benar ingin membunuh orang untuk pertama kalinya. Dan sekarang apa-apaan ini. Pemuda pirang yang kemarin tiba-tiba muncul di dalam apartmennya dan sudah ia usir itu lagi-lagi muncul di dalam apartmennya. Yang lebih megejutkannya adalah apron yang melekat pas di tubuh mungilnya dan sarapan yang kini terhidang di meja makannya. Rasanya panggilan dobe yang baru saja Sasuke berikan begitu pas untuk pemuda pirang di depannya. Dia memang dobe, terlalu bodoh sampai tak memahami sama sekali jika saat ini bisa saja ia dilempar dari lantai tiga apartemen itu.

Sungguh, rasanya barusan tadi pagi ia telah mengira kejadian semalam adalah mimpi terburuk yang akan langsung ia lupakan begitu saja. Tapi rasanya Tuhan benar-benar tega padanya sehingga membuat keinginannya itu hancur lebur dalam hitungan menit setelah ia mengucapkan harapannya itu.

"Aku masuk dari jendela itu. Kau sepertinya tak menguncinya semalam sehingga aku bisa masuk lagi ke dalam rumahmu." Sosok itu menunjuk singkat jendela balkon yang tak jauh dari mereka yang kini terbuka lebar.

Lagi-lagi Sasuke harus terperangah dibuatnya. Ia ingat bahwa apartmennya ada di lantai teratas yang tak mungkin dengan mudah dipanjat begitu saja apalagi oleh pemuda mungil seperti si pirang itu. Lalu, apa-apaan pemuda pirang ini. Apakah dia orang gila yang sangat terobsesi padanya sehingga dengan gilanya memanjat gedung lantai tiga untuk mencapai balkon apartmennya? Dan lagi-lagi bagaimana ia memanjat jika tak ada alat yang sepertinya mungkin untuk membantunya itu.

"Kau gila!" Sasuke berjalan mendekat ke arah pemuda itu yang masih setia menatapnya dengan senyuman yang masih setia mengembang di wajahnya, rasanya ia sudah mulai kebal dengan kata-kata ejekan yang baru saja Sasuke ucapkan. "Sebaiknya kau segera keluar dari apartmenku."

Sapphire indah itu kini menatap bingung ke arahnya, wajah mungil yang dibingkai helaian pirang yang sedikit panjang itu ia miringkan sedikit. Hell, apa-apaan wajah polos itu. Apa dia tak tahu apa yang telah ia perbuat. Bukankah masuk ke dalam rumah orang lain tanpa seizin pemiliknya masih merupakan tindak kriminal.

"Tapi Sasuke, aku tak bisa pergi sebelum mengabulkan keinginan terbesarmu." Pemuda pirang itu menggembungkan pipinya, lagi-lagi memperlihatkan raut bocah yang penuh kepolosan itu.

"Berhentilah mengatakan hal-hal konyol macam itu."

Kini Sasuke sudah berdiri tepat di depan pemuda pirang yang membuat urat nadinya seakan diiris-iris, walau meja makan dengan makanan yang masih mengepul di atasnya memisahkan mereka. Tepat di mata Sasuke, raut wajah yang polos, entah raut polos itu dibuat-buat atau tidak, yang benar-benar membuat Sasuke muak sekaligus bingung di saat yang bersamaan.

"Apa yang kukatakan ini bukanlah hal yang konyol. Ini adalah hal yang sangat serius, Sasuke." Manik mata sapphire yang harus Sasuke akui sedikit membuatnya terpesona itu menatapnya kesal. Raut wajahnya masih sama, wajah mungil dengan pipi yang digembungkan hingga batas maksimalnya.

Sasuke terdiam sejenak, rasanya lelah yang dirasakannya kini sudah tumbuh berkali-kali lipat bahkan mungkin ribuan kali lipat. Orang gila di depannya ini benar-benar ingin membuatnya mati muda atau apa. Apakah tak cukup kemarin malam Sasuke hampir dibuat mati rasa karena kelakuan gilanya itu.

Tangan mungil itu kembali ia genggam, tubuh mungil kembali ia seret, walau kali ini tak ada perlawanan. Pemuda pirang itu masih terlihat bingung rupanya, wajah mungilnya itu masih terlihat sama polosnya seperti tadi. Masih sama seperti semalam sebelum ia sadar saat sebuah pintu bercat putih besar kembali terbanting keras di depannya.

"Hey Sasuke! Buka pintunya! Kenapa kau itu suka sekali mengusirku!" Dan untuk kedua kalinya teriakan-teriakan terdengar dari balik pintu yang dipunggungi Sasuke. Sejenak tubuhnya bersandar pada dinding di dekat pintu masuk, sedikit mencoba meredakan rasa lelah. Rasanya ini seperti deja vu saja. Hanya saja kali ini rasa kesal yang ia rasakan berkali lipat.

Beberapa menit berlalu dalam diam. Sedikit Sasuke harap pemuda pirang gila itu sudah pergi dari pintu rumahnya walau keinginannya lagi-lagi musnah begitu saja saat suara cempreng itu kembali menyapa gendang telinganya. Hanya suara pelan dengan sebuah ketukan pelan di pintu sebelum kesunyian kembali melingkupi Sasuke.

Kata-kata itu terdengar jelas di telinganya dan bagaimana bisa terekam dengan sempurna di pikirannya. Sasuke masih terdiam seperti itu selama beberapa menit, sebelum dilangkahkan kakinya menuju ruang makan yang tak jauh darinya dengan tangan yang masih mengacak-acak helaian ravennya yang tidak ada rapi-rapinya itu.

Ditatapnya sepiring omelete dengan uap yang masih mengepul di atasnya dan secangkir teh hangat yang melengkapi menu sarapan itu. Oh Tuhan, apa-apaan ini. Apa-apaan dengan sarapan yang tersaji rapi di depannya. Sedikit menebak-nebak dan frustasi sendiri dengan situasi yang terjadi padanya kini. Hell, seandainya jam tak menunjukkan pukul 8 tepat dan kepalanya yang memutar-mutar ulang kata-kata pemuda pirang itu sebelum ia pergi sudah Sasuke buang menu sarapan yang terlihat menggiurkan itu.

Terkutuklah perutnya yang semakin memperkeruh pikirannya ini. Apabila Sasuke mati setelah memakan omelet menggiurkan itu setidaknya ia tahu siapa orang yang harus ia hantui. Ya, itu pun kalau ia mati bukan. Lagipula rasanya kata-kata pemuda pirang itu terlalu jujur bahkan untuk Sasuke percaya. Gila, ingin sekali Sasuke menjambak-jambak rambutnya setelah perut laparnya itu kembali berbunyi.

Sepertinya kata-kata biasa yang pemuda pirang itu ucapkan sudah membuat Sasuke mulai gila sepenuhnya. Ya, hanya kata-kata biasa dengan nada penuh kekhawatiran dan penyemangat di akhirnya.

"Sebaiknya kau segera makan omelete yang kubuat tadi, Sasuke. Aku tahu kau tak makan semalam." Dan tak lupa kata-kata terakhir sebelum suara cempreng itu benar-benar menghilang. "Semoga harimu menyenangkan, Sasuke."

At night

Kau tau pengharapan apa yang Sasuke inginkan saat ia masih memegang gagang pintu depan apartmennya itu, entahlah, mungkin ini pengaharapan yang pertama kali ia ucapkan, tapi jujur saat ini berharap jika di dalam sana, ya di dalam apartmennya tidak akan ada pemuda pirang yang sudah dua kali ia temui dan sudah dua kali ia usir itu. Sudah beberapa menit ia habiskan dengan pengharapan yang terkesan bodoh itu.

Akhirnya sebuah hembusan napas yang begitu berat keluar darinya sebelum tangan putih pucatnya memutar gagang pintu itu dan membuka ke dalam. Boleh Sasuke berharap untuk mati saat ini juga. Sungguh Sasuke ingin sekali ia mati saat ini juga saat manik matanya kembali mendapati pemuda pirang yang lagi-lagi mengejutkannya itu kini berdiri manis di depannya. Berdiri manis dengan senyum lebarnya, bahkan apron merah itu masih setia melekat pada tubuh mungilnya.

"Okaeri, Sasuke."

Sasuke hanya bisa diam. Sebenarnya tadi ia ingin sekali melempar pemuda itu, tapi kenapa wajah bocah dengan senyum lebar nan polos itu membuatnya sedikit err- merasa luluh mungkin walau sepertinya tak ia sadari hal itu sedikit pun. Alasan itu terlalu mengada-ada, terlalu lelah dengan pekerjaan di kantor sepertinya lebih cocok menjadi alasan daripada hal melankolis macam itu.

Ia kembali menghembuskan napasnya berat sambil melangkahkan kaki jenjangnya mendekati pemuda pirang itu. Ya, walau pemuda pirang itu hanya ia lewati begitu saja. Tubuhnya yang berbalut kemeja biru tua itu langsung ia rebahkan di atas sofa begitu saja, terlalu malas untuk berjalan ke kamarnya. Tangan putih pucatnya kini sibuk melepas dasi yang tadi melingkar manis di lehernya dan tak lupa jas hitam yang sudah ia lempar entah kemana.

Pemuda pirang itu diam sejenak masih di tempatnya semula sebelum dengan senyum riangnya ia ambil jas yang tergeletak tak jauh dari sofa tempat Sasuke terbaring itu. Dan sungguh, tindakannya barusan itu benar-benar membuat Sasuke semakin terperangah dibuatnya. Apa-apaan tingkahnya yang seperti istri berbakti yang menyambut suaminya itu.

Tatapan jengah dan kesal kembali Sasuke arahkan pemuda pirang yang sampai saat ini belum ia ketahui namanya itu. Lagi pula rasanya ia tak butuh untuk mengetahui nama pemuda pirang yang kini duduk manis di atas karpet di sampingnya sambil memeluk jas yang tadi dipungutnya itu.

"Sebenarnya apa maumu?" Sasuke sekarang mencoba membuat tubuhnya senyaman mungkin dengan kondisi yang seakan sedang menguji kesabarannya kini. Sekali-kali manik matanya terpejam erat dan tangan putih pucat yang menutupi mata itu agar cahaya dari lampu sialan di atasnya yang menjamah matanya.

"Bukankah sudah kukatakan padamu, Sasuke? Aku ada di sini untuk mengabulkan keinginan terbesarmu."

"Dan bukankah sudah kukatakan padamu untuk berhenti mengatakan hal yang konyol seperti itu." Padahal baru beberapa patah kata yang meluncur dari bibir yang tajam dan menusuk itu tapi ia sudah dibuat kehabisan kata-kata karenanya. Rasanya ia jadi kesal karenanya.

"Kau masih tak percaya jika aku mampu mengabulkan keinginanmu. Aku ini seorang malaikat, kau tahu?"

Sasuke kembali terdiam, sedikit bosan dan kesal karena kata-kata konyollah yang menyapa pendengarannya. Ia sudah muak rasanya jika harus dipaksa menelan kata-kata konyol yang sudah sejak pertama kali bertemu selalu pemuda pirang itu ucapkan. Tatapan manik matanya kini terlihat begitu mencemooh.

"Jika kau memang seorang malaikat, buktikan kepadaku." Tatapan Sasuke masih sama garangnya bahkan saat pemuda pirang di depannya hanya menatap kearahnya dengan pandangan yang nampak seperti orang linglung. Dia ini polos atau bodoh. "Lakukan segala hal ajaib yang hanya bisa dilakukan oleh seorang malaikat. Terserah. Apa pun itu." Sungguh Sasuke sendiri merinding dibuatnya, kata-kata macam itu sudah lama hilang dari kamus hidupnya. Jadi, bukan hal yang salah jika ia saat ini merasa risih mendengarnya.

Sosok pemuda pirang itu menatapnya dengan binar aneh yang kelewat menyebalkan sebelum sebuah lengkungan ke bawah dari belahan bibir itu nampak begitu saja. Ia sibuk menggerutu entah apa dengan kecepatan bicara yang tak bisa Sasuke imbangi. Masih terus seperti itu sampai manik mata biru itu kembali menatapnya dengan keraguan yang nampak begitu jelas.

"Sebenarnya aku sangat ingin menunjukkannya, hanya saja..." Manik mata itu kembali melirik entah apa sebelum menatapnya. "Saat malaikat turun ke bumi untuk memenuhi tugasnya, ia akan kehilangan kekuatannya sebagai malaikat dan benar-benar berubah menjadi seperti manusia biasa."

Selama pemuda pirang itu datang dan mengganggu hidupnya, mungkin ini pertama kalinyalah Sasuke memasang wajah semengerikan itu. Bahkan setelah mengatakan hal itu, pemuda pirang yang mengaku malaikat itu langsung tenggelam dalam sofa empuk di belakangnya dan tak lupa bantal empuk besar yang ia peluk di depan tubuhnya. Sudah terlalu jelas jika ia benar-benar merasa ketakutan mendapat tatapan seperti itu.

"Jangan harap aku akan percaya dengan kata-kata konyolmu itu, dobe. Sudah berkali-kali kau mengatakan hal konyol seperti itu dan ini lebih konyol lagi. Sebaiknya kau katakan saja siapa kau sebenarnya." Manik matanya kembali terpejam, menikmati pijatan-pijatan pelan yang ia berikan pada keningnya yang mungkin telah muncul banyak gurat kesal di sana. "Atau aku akan benar-benar melemparmu dari jendela."

Dapat Sasuke dengar hembusan napas berat dari pemuda di sampingnya, tapi ia tak peduli sama sekali. Yang terpenting adalah mencari tahu keinginan pemuda gila di depannya dan segera mengusirnya. Sasuke sudah benar-benar lelah dibuatnya. Rasanya tiba-tiba ada beban berat yang langsung menggantung di atas pundaknya.

"Aku tak bohong, Sasuke. Percayalah padaku. Sebagai seorang malaikat, kebohongan merupakan hal yang tidak diperkenankan." Ditatapnya pemuda pirang itu sejenak, sebelum kelopak matanya kembali menutup perlahan.

"Terserah kau saja. Aku tak peduli."

Kesunyian seperti biasanya kembali menyapa mereka. Sasuke masih sibuk memijat keningnya, sedangkan pemuda pirang itu sepertinya masih bingung mencari kata-kata yang dirasa pass. Belasan menit masih mereka habiskan seperti itu sebelum suara baritone Sasuke untuk pertama kalinya memecahkan keheningan di antara mereka.

"Harus berapa kali aku mengusirmu?"

Pemiliki sepasang manik mata sebiru lautan yang masih setia memeluk jas hitamnya itu kini membulatkan matanya sempurna. Sebenarnya sudah sejak awal ia mencoba kebal dengan kata-kata menusuk yang sering kali Sasuke ucapkan, hanya saja kata-katanya kali ini sedikit membuatnya tak percaya sama sekali.

"Apa maksudmu, Sasuke?" Tatapan manik mata hitam sekelam malam itu kini nampak begitu dingin, terasa begitu menusuk tak seperti pandangan yang selalu Sasuke tujukan padanya.

"Kau mengerti apa maksudku, dobe. Harus berapa kali aku mengusirmu agar kau benar-benar pergi dan tak mengganggu hidupku?" Kedua tangan putih pucat itu kini terlipat dengan begitu angkuhnya di depan dada bidang Sasuke setelah sebelumnya ia bangkit dari sofa itu dan kini menatap dingin pemuda di bawahnya. Menunjukkan pada pemuda pirang di depannya dengan siapa ia kini berhadapan.

Sosok yang Sasuke tatap dengan dinginnya itu hanya menatapnya dalam diam, manik mata indah itu bergerak-gerak gelisah. Jemari mungil dan lentik itu bergerak-gerak resah dalam genggaman tangan mungil berbalut kulit kecoklatan itu. Masih sama seperti itu, masih canggung seperti itu, sebelum sebuah binar ganjil di mata sebiru lautan itu mengagetkan Sasuke.

"Tak peduli apa pun yang terjadi, aku tetap akan mengabulkan keinginanmu walaupun kau menolak dan mengusirku sekalipun."

Dan saat itulah Sasuke sadar bahwa pemuda pirang di hadapannya adalah orang paling keras kepala yang pernah ia temui. Rasanya setelah hari ini hidup Sasuke tak akan pernah sama lagi.

TBC


Note :

Penjelasan singkat tentang malaikat

Malaikat adalah makhluk suci yang tinggal di langit. Saat malaikat turun ke bumi untuk memenuhi tugasnya, ia akan mengambil wujud manusia dan benar-benar berubah menjadi seperti manusia. Hal ini dikarenakan menggunakan kekuatan di bumi tidak diperkenankan, jadi malaikat akan benar-benar terlihat seperti manusia tanpa kekuatanya.

balasan review :

cinya : makasih banget udah mau baca fic ai. ai ini SN lovers juga kok. dan maaf banget, ai lupa nyantumin kalo ini murni SN fic. aku masih belum mau dan belum bisa mbayangin Naru jadi uke, jadi mungkin selamanya ai akan tetap jadi SN lovers. soal pertanyaannya, udh dijelasin di chap ini kok... review lagi ya

curcolan author :

Makasih banget buat para readers yang udah baca, review, follow, dan favourites fic ini. tanpa kalian, ai bukan apa-apa

tapi ngmg, kok sekarang SN fic udah sepi ya? atau memang ai yang jarang update.

pokoknya tetap berjuang teman... apa pun yang terjadi, apa pun endingnya, SasuNaru tetap di hati

akhir kata, RnR please...