Seven Days With You
Second Day. Housemate
At morning
Sasuke mengunyah telur dadarnya dalam diam, menu sarapannya kali ini adalah tuna, sup miso, dan tamagoyaki. Sedangkan sosok pemuda pirang itu sedang duduk manis di depannya masih dengan apron merah itu. Sepertinya situasi kali ini masih terasa janggal baginya. Ia memang sudah mencoba untuk terbiasa mendapati pemuda pirang gila di rumahnya, tapi dengan situasi macam ini ia masih tak habis pikir.
Mereka kini duduk berdua di meja makan, saling berhadapan tepatnya, dengan Sasuke yang sedikit tak rela memakan sarapannya dan pemuda pirang yang baru kemarin Sasuke ketahui bernama Naruto itu masih setia memasang senyum lebar khasnya itu. Suasana aneh macam apa ini. Kemana suasana tak bersahabat yang kemarin melingkupi mereka. Tapi salahkan saja pemuda pirang itu yang sepertinya salah mengertikan apa yang kemarin malam baru ia katakan. Dan kenapa di sini hanya Sasuke yang sibuk dengan makanannya, bukannya peduli hanya saja rasanya aneh saat ada seseorang yang sejak tadi terus saja memandangimu saat kau sedang makan.
Bukankah kemarin malam Sasuke mengatakan jika ia tak peduli pada apa pun yang Naruto lakukan. Bukankah kata-katanya kemarin itu merupakan bentuk pengusiran yang sedikit 'halus', itu pun bagi Sasuke. Tapi kenapa pemuda pirang gila itu masih ada di sini, atau lebih tepatnya kenapa Sasuke masih mendapati Naruto di dalam apartmennya padahal ia semalam ia langsung pergi begitu saja meninggalkan pemuda pirang ini. Ya, meninggalkan pemuda pirang ini begitu saja di dalam apartmennya hanya karena rasanya tidur lebih menyenangkan daripada menghadapi pemuda sepertinya.
Yang lebih terkutuk adalah apa yang sedang mereka lakukan kini. Tak bisa Sasuke pungkiri bahwa sekilas ia sempat berpikiran bahwa mereka kini terlihat seperti sepasang suami-istri, atau suami-suami lebih tepatnya.
Ditatapnya sejenak telur dadar dengan warna keemasan yang lezat itu, sungguh lagi-lagi Sasuke merutuki dirinya yang mengakui jika makanan buatan Naruto itu selalu masuk dalam kategori lezat miliknya. Manik matanya kembali beralih pada sosok pirang yang masih setia memasang senyum lebar di wajahnya, sepasang langit biru itupun tak henti-hentinya menatapnya. Hell, mereka ini sungguh benar-benar bukan pasangan suami-istri.
"Berhenti menatapku seperti itu, dobe." Sasuke meletakkan sumpitnya setelah semangkuk nasi dan menu lauknya sudah tak ada di sana. Kini dirinya sibuk meniup-niup segelas teh hangat yang entah mengapa sejak pertama mencicipinya kemarin, ia sudah benar-benar dibuat ketagihan.
Sebuah tawa kecil meluncur manis dari belahan bibir semerah cherry itu, tawa yang sedikit mengusik aksi tenang Sasuke yang masih setia pada teh hangatnya itu. Manik matanya sekilas melirik Naruto sebelum dirinya kembali sibuk pada gelas keramik khas Jepang yang ada di genggamannya.
"Aku hanya sedikit terkejut, Sasuke. Kukira kau akan mengusirku lagi." Dan senyum menyebalkan yang terlihat manis itu terkembang indah di wajah Naruto.
"Aku sudah lelah mengusirmu, dobe. Kau pasti akan tetap mengusikku, tak peduli seberapa banyak aku mengusirmu."
Ya, Naruto memang sudah tahu jika Sasuke sudah lelah untuk mengusirnya. Hanya saja yang masih membuatnya bingung adalah hal yang terjadi di depannya kini. Sungguh, tak pernah sekali pun ia menyangka bahwa mereka bisa duduk bersama seperti ini tanpa ada aksi tarik-usir paksa atau bahkan adu mulut seperti biasanya. Rasanya seperti mimpi saja.
"Benar sekali, Sasuke."
Mereka kembali terdiam. Sasuke masih sibuk dengan teh dalam gelas keramik yang tersisa setengah itu. Sedangkan Naruto nampaknya masih terbuai dengan suasana manis yang kini melingkupi mereka ini. Hey, setidaknya ini masuk kategori manis dibandingkan dengan kejadian-kejadian sebelumnya.
"Jadi, katakan padaku, dobe. Sekarang apa yang kau inginkan?" Diletakkannya gelas itu, kini perhatian Sasuke sepenuhnya telah tertuju pada pemuda manis yang menatapnya bingung.
"Masih sama seperti yang kukatakan dulu. Aku akan mengabulkan keinginan terbesarmu, Sasuke."
Gurat bimbang nampak jelas di wajah Sasuke, alisnya pun terangkat sebelah. Apa pemuda di depannya itu sedang main-main atau apa. Sejak awal tak pernah sekali pun Sasuke mananggapi serius omongan konyol Naruto, namun rasanya kata-kata itu sedikit mengganggunya juga.
"Banyak hal yang sepertinya perlu kau jelaskan pada-"
"Sudah kukatakan padamu, Sasuke. Aku ini malaikat yang bertugas untuk megabulkan keinginan terbesarmu." Naruto berhenti sejenak sebelum dilanjutkannya lagi ketika dilihatnya Sasuke hendak membuka suaranya. "Aku tahu kau pasti menganggapku gila. Tapi apa yang aku katakan ini jujur."
Sasuke menatap tak suka pemuda pirang yang sudah dengan seenaknya menghentikannya yang ingin berbicara tadi. Ia terdiam sejenak, mencoba memikirkan apa yang dikatakan pemuda pirang yang terlihat begitu ambisius itu. Memang, jika dipikir-pikir tak mungkin ada orang gila yang bisa masuk seenak hati ke apartmennya, atau setidaknya dengan meninggalkan sedikit saja bukti pembobolan.
"Baiklah, aku percaya." Ok, itu bohong. Pikiran Sasuke masih terlalu realistis untuk menerima kata-kata tak logis barusan. Tapi apa boleh buat, untuk menghadapi pemuda keras kepala seperti Naruto adalah mengiyakan apa saja yang ia katakan walaupun itu tidak normal sekalipun.
Akhirnya senyum yang lebih lebar dibanding yang tadi terkembang jelas di wajah Naruto. Senyum manis yang diam-diam membuat pemuda dingin di depannya terpesona dan merasa kesal di saat yang bersamaan. Ya, mungkin rasa kesal itu jauh lebih dominan.
At night
"Jadi, ada beberapa hal yang harus kau patuhi jika kau ingin tinggal di sini." Naruto mengangguk-angguk antusias, menyimak penuh kata-kata apa saja yang akan meluncur dari bibir tajam menusuk itu. "Tak kubiarkan kau seenaknya tinggal di sini tanpa melakukan apa pun."
Naruto semakin mengangguk, tak sabar menunggu kata-kata Sasuke. Bahkan kini ia memajukan tubuhnya untuk mendekati Sasuke yang duduk di sofa di seberang meja yang memisahkan mereka.
"Kau harus bekerja di sini sebagai pelayanku."
Sasuke sedikit kejam memang menyuruh pemuda itu menjadi pembantunya, atau mungkin lebih baik jika dikatakan sebagai pekerja pembersih rumah. Walau sebenarnya jauh sebelum Sasuke mengatakan hal itu, Naruto telah terlihat seperti pembantu rumah tangga. Memangnya siapa yang menyiapkan makan bagi Sasuke sejak kemarin dan hari ini.
Dan lihatlah reaksi aneh yang Sasuke lihat lagi-lagi membuatnya terperangah. Apa pemuda pirang itu senang dijadikan pembantu oleh Sasuke. Seharusnya sudah Sasuke sadari sejak lama jika pemuda pirang di depannya ini sudah terlalu gila, harus garis bawahi kata-kata itu karena sejak kemarin hanya kata-kata itulah yang selalu ada di pikiran Sasuke.
"Yosh, aku akan melakukannya."
Sasuke sedikit berharap jika keputusannya kali ini adalah hal yang benar. Ya, semoga saja.
At midnight
Rasanya Sasuke benar-benar ingin mengutuk kebiasaan sulit tidurnya yang satu ini. Tak peduli seberapa pun lelahnya ia, selalu saja ada sesi terbangun di tengah malam yang begitu mengganggu. Ia akui memang akhir-akhir ini kebiasaan ini semakin menggila saja. Membuatnya tetap terjaga hingga pagi menjelang sebelum ia bisa berbaring sejenak di tempat tidurnya, itu pun jika ia bisa kembali tidur. Bahkan harus Sasuke akui bahwa ia lebih sering terjaga hingga jam waker sialan di kamarnya itu berteriak nyaring.
Kaki jenjangnya pun langsung melangkah keluar kamarnya. Terlalu percuma hanya berdiam diri di kamar saat insomianya kambuh. Sangat menyebalkan memang saat dirimu benar-benar lelah namun rasa kantuk itu tak datang juga. Dan segelas teh hangat di malam hari rasanya menjadi pilihan pertama dan terbaik yang langsung terpikirkan oleh Sasuke saat rasa kantuk itu masih terlalu jauh dari bayangan.
Sasuke masih terus melangkah, melewati ruang santai yang tak jauh dari lorong kamarnya dan berbelok ke kiri menuju dapur dengan peralatan masak lengkap yang tak jauh dari ruang santai itu. Tadinya ia ingin langsung berbelok saja, namun entah mengapa gundukan aneh di sofa panjang yang ada di ruang santai itu benar-benar membuatnya tergelitik untuk melihatnya.
Oke, itu bukanlah gundukan seperti yang ia kira. Bukan pula benda mencurigakan yang tiba-tiba saja ada di apartemennya. Baik, mungkin kata benda itu perlu diganti menjadi seseorang mencurigakan yang tiba-tiba saja ada di apartemennya. Kini jarak Sasuke dengan seseorang yang sedang tertidur di atas sofa hanya tinggal beberapa langkah lagi. Dan semua kini nampak begitu jelas di mata Sasuke walau suasana yang remang-remang di sekitarnya.
Tubuh mungil itu. Rambut pirang terang itu. Garis-garis halus di kedua belah pipi itu. Tanpa berpikir dua kali pun, ia sudah tahu siapa orang yang sedang tertidur lelap di atas sofa panjang di ruang santainya. Tertidur meringkuk seperti bayi dengan sebuah apron yang masih setia melingkupi tubuh mungilnya.
Sasuke tidak tahu apa yang terjadi. Ia benar-benar tak mengerti apa yang sedang ia lakukan kini. Hanya saja saat melihat pemuda gila dengan rambut pirangnya sedang tertidur di atas sofa itu dengan lelapnya membuat setiap inchi dalam tubuhnya bergerak begitu saja mendekat ke arah pemuda itu.
Manik matanya dalam gelap terus menerawang. Melihat tiap inchi wajah pemuda yang selalu saja membuat segala amarahnya naik dengan begitu cepatnya. Tak pernah Sasuke memperhatikan wajah seseorang hingga sedetail ini. Sasuke tak tahu jika Naruto memiliki bulu mata selentik itu. Hidung bangir yang mancung. Garis-garis keindahan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Dan jangan lupakan belahan bibir lembab dengan bentuk nan apik yang entah mengapa terlihat begitu menggoda. Oh, sungguh. Kenapa Sasuke bisa berpikiran senista ini.
"Ini gila. Benar-benar gila!"
Baiklah, Sasuke selalu menjaga setiap sikap yang ia keluarkan dari pandangan orang-orang. Jadi, merupakan hal yang sangat langka saat ia kini sibuk mengacak-acak rambutnya dan mengumpat tak jelas seperti itu. Bahkan ini mungkin masuk dalam hal-hal yang tak pernah Sasuke lakukan, ia bayangkan saja tidak.
Rencana Sasuke untuk menikmati secangkir teh hangat di tengah malam memang sudah keluar dari jalurnya. Rasanya ia lebih baik langsung pergi ke kamarnya dan bergulat dengan tempat tidurnya daripada pikirannya semakin gila saja. Kaki jenjangnya kembali melangkah menjauh namun entah mengapa saat melihat tubuh mungil itu semakin meringkuk dan membuat gestur yang terlihat seperti orang kedinginan, kakinya tiba-tiba berhenti melangkah.
Tak pernah ia seperti ini. Mengumpat seperti orang gila dengan tangan yang kembali mengacak-acak rambutnya sebelum ia kembali ke hadapan Naruto dan mengangkat tubuh itu dalam satu gendongan serta rengkuhan kedua tangan kokohnya. Tak ia pikirkan jika pemuda dalam gendongannya terasa begitu ringan dan begitu mudah untuk ia angkat. Dan Sasuke harus kembali mengumpat saat pemuda itu merintih sebentar sebelum merapatkan tubuhnya pada Sasuke dan kembali terlelap.
"Terkutuklah kau, bocah pirang!"
TBC
Curcolan Author :
Sudah berapa tahun ya ff ini ai terlantarkan? Ahahaha *ditabok readers*
Adakah yang masih menantikan ff ini?
Maaf sebelumnya jika ai baru muncul setelah sekian tahun. Akhir-akhir ini tugas ga bisa ditinggal buat ngetik ff. Jadi, terlantar deh dan malah publis ff yang lain ahahaha *ditabok lagi*
Akhir kata, review please...
Karena tanpa kalian, ai bukan apa-apa...
