Countdown
Boku no Hero Academia milik Horikoshi Kouhei-sensei
Warning's: Typo's, OOC, Gaje
.
GAHAHAH AKU LUPA NGASIH TBC NYA :'D
Maafkan kelakuanku, minna-sama T.T
.
.
.
Hidupnya tidak akan lebih dari seminggu lagi.
Aizawa sudah mengerti tentang hal itu. Sebuah kabar yang mengejutkan yang diterimanya tepat setelah ia terbangun.
Hatinya masih berdegup cepat. Hei, apa yang akan kau lakukan jika sisa waktumu di dunia ini tinggal beberapa hari lagi?.
Logikanya mengatakan bahwa ia tidak peduli dengan berapa hari lagi yang bisa ia habiskan. Semua akan terasa membosankan dan tidak ada yang bisa membuatnya menginginkan tambahan hari. Hanya saja ada satu masalah yang membelenggunya dan tidak ingin melepaskan nyawa Aizawa ke langit sana.
Bagaimana dengan murid-muridnya?.
Semalam suntuk Aizawa memikirkan tentang hal itu. Ia sudah membuat surat pengunduran diri dari UA Academy dan mencari Hero penggantinya. Tetapi tetap saja ia masih tidak bisa merasa tenang jika ia tidak mengawasi sendiri murid-murid itu. Aizawa lalu berakhir dengan bengong di tengah jalan. Setidaknya hingga Present Mic tiba-tiba mengangkat tubuhnya.
" M.. Mic! Apa yang kau lakukan!?" Aizawa sedikit memberontak. Sadar ketika orang di dalam gendongannya masih sadar, Mic segera menurunkannya dengan ekspresi senyum lebar yang tidak berubah.
" AH, MAAF, SHOUTA! KU KIRA KAU TERTIDUR LAGI!"
Sembari menutup kupingnya, Aizawa sedikit protes.
" Kecilkan suaramu,"
Dan Mic baru sadar kalau ia berteriak. Akhirnya ia hanya melihat wajah Aizawa dalam diam. Tetapi bukan Mic namanya kala ia bisa bertahan dalam diam selama satu menit saja.
" Ada apa, Shouta?" tanya Mic langsung. Aizawa menoleh.
" Tidak apa," jawab temannya singkat. Mic lalu menyerah. Aizawa tidak akan menjawab meskipun ia tanya tentang hal yang sama dalam berbagai cara karena Aizawa pasti menganggap masalah itu bisa ia selesaikan sendiri. Ah. Terjadi keheningan kembali. Ia tidak bisa tenang jika seperti ini.
" Mau pergi dan beli minum? Aku gampang haus," katanya. Aizawa hanya menghela nafas.
" Tentu saja karena kau selalu berteriak," jawabnya, tetapi Aizawa tetap melanjutkan jalannya ke arah kantin. Mic menjerit kesenangan. Walaupun Aizawa tidak pernah terlihat peduli, ia termasuk dalam daftar teman terbaik yang pernah Mic miliki. Tanpa berbicarapun ia mengerti bagaimana Aizawa sangat menghargainya sebagai teman. Aizawa lalu segera melihat ke dompetnya. Kalau sudah seperti ini biasanya Mic akan minta ditraktir.
" Nee.. Shouta-kun, aku tidak membawa dompet, jadi..."
Tuh kan?.
" Dasar merepotkan," dan Aizawa hanya bisa menambah jawabannya dengan berdiri di depan vending machine dan membeli dua kaleng kopi. Satu pahit dan satu manis untuk Mic. Ia melempar salah satunya ke arah teman baiknya itu. Bahkan hingga jenis dan rasanya pun Aizawa hafal betul mana yang menjadi favorite Mic. Ia lalu duduk di samping Mic dan menatap ke arah langit dari balik jendela yang sedang di perbaiki.
" Mic,"
" Hum?" jawab Mic tanpa menunggu. Ia menoleh ke arah Aizawa. Kulit wajah temannya menjadi jauh lebih pucat dari yang diingatnya. Penuh tanda tanya, Mic menunggu kata-kata Aizawa selanjutnya. Tumben Aizawa melontarkan kalimat lebih dulu darinya.
" Apa... Kau akan menjaga murid-muridku jika aku tidak ada?"
Ah. Hati Aizawa menjadi sedikit lebih pedih dari lukanya yang masih berdenyut menyakitkan. Ia mencengkram bajunya. Mic segera mengangguk. Ia tidak perlu memikirkan jawabannya lagi.
" Tentu saja. Itu tanggung jawab kita bukan?" jawaban itu membuat beban Aizawa sedikit berkurang. Tetapi ia belum selesai.
" Apa kau akan menyayangi murid-murid itu seperti yang aku lakukan?"
Sekarang terjadi keheningan. Setiap nafas yang masuk ke dalam paru-paru Aizawa terasa lebih menyakitkan. Ia tahu pertanyaan-pertanyaan ini tidak seperti dirinya. Sangat tidak logis. Tetapi, sekali saja. Tolong jawab pertanyaan ini sejelas pertanyaan sebelumnya.
" Aku tidak tahu. Rasa sayang tidak akan bisa diukur, Shouta."
Dan Aizawa membeku. Ia membenarkannya. Dalam hati ia sangat membenarkannya. Tidak ada manusia yang bisa mengukur rasa sayang. Karena itu tidak logis.
" Tetapi aku akan menyayang mereka dengan caraku sendiri," tambah Mic dan tersenyum lebar. Jika saja Mic tahu bahwa Aizawa tertawa sangat pelan. Tentu saja. Teman terbaiknya akan selalu memikirkan jawaban terbaik untuk masalahnya. Sekarang Aizawa kembali menyeruput kopinya. Tidak ada yang perlu ia khawatirkan lagi. Mic akan menggantikan tempatnya.
Sekarang tinggal bagaimana cara menyampaikan kabar perpisahan terakhir kepada para muridnya.
' Terima kasih, Mic,' dan Aizawa menutup matanya. Ia masih bisa merasakan pahitnya kopi di dalam mulut sebelum kopi itu jatuh dari tangannya dan tubuhnya limbung.
Bruuugh!
Mic menahan tubuh Aizawa sebelum membentur lantai. Ia menghela nafasnya kesal. Apa boleh buat. Ia harus memberitahu Aizawa agar tidak seenaknya tertidur di mana saja.
" Shouta-kuun, lihat, kau jadi mengotori lantainya kan? Ujung-ujungnya pasti aku yang di suruh membersihkan," protesnya. Tetapi protesan itu berhenti ketika ia merasakan cairan hangat yang mengenai telapak tangannya. Ia lalu mengernyitkan dahinya.
" Hn?"
Mic menyenderkan tubuh Aizawa ke dadanya. Ia menurunkan senyumnya.
" ! ... Ini bukan tidur biasa, kan?"
Tubuh Aizawa menggigil, tetapi terasa sangat panas. Cairan di telapak tangan Mic bukanlah kopi, tetapi darah. Ia bisa mendengar suara nafas temannya yang tidak teratur, seperti hampir habis. Keringat Aizawa membasahi pakaiannya. Mic menggendong Aizawa dengan perlahan. Ia tidak ingin membuat temannya makin menderita.
Dengan terburu-buru Mic pergi dari tempat itu.
.
.
.
Untunglah ia diberikan kunci cadangan oleh Aizawa, Mic bisa menyelinap masuk ke dalam berkat kunci itu. Setelah sekian lama berada di samping Aizawa, Mic jadi mengerti tanda-tanda jika kepala Aizawa sudah tidak benar. Mungkin Aizawa juga tidak akan suka kamarnya digeledah seperti ini oleh sahabatnya sendiri, tetapi untuk kebaikan Aizawa, Mic akan melakukan apapun.
Sekarang Aizawa sedang di rawat di UKS UA Academy, jadi ia mempunyai banyak waktu sebelum Aizawa bangun. Sebisa mungkin ia ingin menemukan sesuatu sebelum Aizawa membuka matanya. Segera saja Mic membuka beberapa laci dan lemari pakaian Aizawa, masuk ke dalam toilet dan mencari ke bawah karpet. Tidak terlalu banyak barang di kamar itu, jadi Mic menyelesaikan penggeledahan dengan terlalu cepat. Ia tidak menemukan apapun.
" Mencari ini?"
Deg!
Mic menoleh ke belakang. Ia lalu melihat Aizawa yang masih sedikit terbatuk-batuk kecil. Tangannya memegang sebuah surat pengunduran diri yang ia buat tadi malam.
" SHOUTA! APA ITU?! KAU BERNIAT UNTUK MENGUNDURKAN DIRI? UNTUK A-"
" Sudahku bilang aku bisa mendengar suaramu," dan Mic menutup mulutnya. Ia membungkuk meminta maaf. Akhirnya Aizawa hanya mempersilahkan temannya duduk di bantal yang ia siapkan dan menghadap ke arahnya dengan berbataskan sebuah meja kecil. Selama beberap detik, tidak ada yang berniat untuk berbicara, hingga akhirnya Aizawa mengeluarkan dua surat. Yang pertama adalah surat pengunduran diri tadi dan yang satu lagi adalah...
" Shouta! Ini-"
" Surat wasiat," jawab Aizawa terlebih dahulu. Ia memperhatikan raut muka sahabatnya yang pertama-tama bingung, kemudian marah dan lama-kelamaan menyimpan ekspresi sedihnya.
" Waktuku tidak lama lagi, Mic,"
.
.
.
Mic masuk ke dalam kelas 1-A dengan sangat berat hati. Menggantikan temannya yang harusnya berdiri di sana, terlebih lagi mengetahui fakta bahwa hidup Aizawa yang bagaikan hitung mundur. Mic bahkan bisa mendengar dengan jelas bagaimana jarum jam yang masih berdetak, memperpendek umur Aizawa di dunia ini. Sebuah surat selalu dibawa kemanapun oleh Mic, seakan tidak peduli bagaimana leceknya kertas itu karena terlalu banyak dipegang. Dan sekarang, ia menatap ke arah murid-murid Aizawa.
Mulutnya terbuka untuk memulai pelajaran.
Tetapi suaranya tidak mampu keluar.
.
TBC
.
T.T
Tolong berikan aku asupan review, kritik dan saran yaa!
