Countdown
Boku no Hero Academia milik Horikoshi Kouhei-sensei
Warning's: Typo's, OOC, Gaje
.
Waktu berlalu lebih cepat dari yang Aizawa bayangkan, bahkan ia tidak pernah menyadari bahwa ia sudah melewati bertahun-tahun belajar dan mengajar di UA Academy.
Ia kini terbaring di tempat tidur yang ia yakini adalah tempat terakhirnya di dunia ini. Dengan kata lain, ranjang kematian seorang Eraser Head.
Suasana terlalu tenang untuknya, sebuah scene terakhir terbaik yang bisa diinginkan oleh seseorang sepertinya. Tidak ada suara yang meributkan saat-saat terakhir dengan tangisan atau teriakan. Yang ada hanyalah seorang sahabat baik, Mic, yang bersiap untuk mengabari kematian Eraser Head. Anehnya, sampai Mic pun tidak berniat berteriak seperti biasa. Ia hanya duduk di samping tempat tidur sembari menatap wajah Aizawa yang semakin memucat.
" Terima kasih," suara Aizawa mengatakannya dengan sangat perlahan, hampir berbisik lirih. Sekarang, yang tertinggal hanya menunggu waktu benar-benar habis. Mic hanya mengangguk perlahan. Rasa sesak di dadanya tidak membiarkan sepatah kata pun meluncur dari mulut Mic. Ia terlalu bingung untuk melakukan sesuatu, hingga Aizawa melanjutkan perkataannya.
" Selama ini aku tidak benar-benar mengerti apa yang kalian katakan tentang perasaan, tetapi sepertinya aku mulai semakin paham setelah menjadi seorang wali kelas," Mic mati-matian menahan tangisannya. Ia menunduk dan mendengarkan suara Aizawa yang biasanya hanya membalas seluruh kata-katanya dengan kalimat pendek. Kali ini, mungkin ia tahu bahwa waktu akan memisahkan mereka berdua, sebagai teman lama yang dekat. Banyak hal yang pastinya Aizawa ingin sampaikan.
" Aku ingin meminta suatu hal yang tidak penting," pandangan Aizawa menggelap. Ah, sampai di sini kah?.
" Hizashi... Jangan lupakan aku,"
Mic mengangkat wajahnya. Air matanya mengalir saat mengetahui bahwa orang di depannya perlahan tetapi pasti, mendingin dengan tubuh yang kaku.
" S... Shouta... JANGAN LUPAKAN SUARA KU!"
Dan karier seorang Eraser Head berhenti di sana.
.
.
.
Pemakaman Aizawa Shouta sangat sepi. Bukannya tidak banyak orang yang mengenalnya, tetapi lebih karena mereka mengerti bahwa Aizawa sangat senang sendirian. Dan juga tidak ada satupun media massa yang diberitahu tentang kematian orang ini.
All Might berdiri di depan pintu, menatap jauh ke dalam dan menemukan peti Aizawa yang siap untuk di bawa ke tempat pembakaran. Tetapi ia tidak ada niatan untuk masuk dan memberikan salam perpisahan terakhir untuk Aizawa. Ia tidak bisa melihat wajah setiap murid kelas 1-A yang menangis dengan sesenggukan.
" Kau akhirnya berhasil membuat ikatan dengan orang-orang di sekitarmu, Aizawa-kun... lihat betapa berharganya dirimu untuk mereka," dan All Might meninggalkan karangan bunga lily putih yang sangat besar di depan pintu itu.
.
END
.
TERIMA KASIH YANG SUDAH MENEMANI SAYA MENANGIS, MINNA!
tolong tinggalkan review, kritik dan sarannya, Minna!
