Sleeping Beauty

Desclaimer : walaupun ai berdoa sepenuh hati, naruto masih akan tetap menjadi milik om masashi... *plak* tapi SasuNaru itu milik kita!


-Sleeping Beauty-

Chap 2. (Un)Lucky Day

Matahari sudah bersinar terlalu lama, berarak pelan menuju barat. Bersembunyi diam di balik bayang-bayang gedung-gedung tinggi, bersinar dengan semburat jingga yang semakin lama semakin pekat. Angin sore pun berhembus pelan menggerakkan dahan-dahan kecil, memainkannya dalam tarian-tarian kecil yang begitu indah. Bukankah ini sore yang sangat indah, terlalu indah untuk semua orang. Tapi sepertinya tidak untuk pemuda yang satu ini.

Sasuke menatap sebal sebuah benda persegi di tangannya, benda menyebalkan yang sudah memubuatnya kesal setengah mati. Kata-kata rutukan kembali terdengar darinya entah untuk yang keberapa kalinya. Harus berapa kalikah ia menahan kekesalannya seperti ini, kenapa terlalu banyak hal yang terjadi padanya hari ini. Ditempelkannya lagi benda persegi hitam itu di dekat telinganya. Mendengarkan kembali suara seseorag di seberang sana yang telah ia abaikan cukup lama.

"Aku akan membunuhmu, aniki."

Suara kali ini terdengar begitu berat dan menekan di setiap kata-katanya, memperlihatkan betapa kesalnya ia saat ini. Bahkan terlalu sebal hingga ingin sekali rasanya ia lempar benda itu sekarang juga. Namun segera diputusnya sambungan itu, ia masih ingin mejaga keutuhan ponsel canggihnya itu dengan tidak berbicara lebih lama dengan anikinya yang satu itu.

"Seandainya saja kau bukan anikiku." Disimpannya kembali ponselnya di saku jasnya, masih dengan kata-kata rutukan untuk sang aniki tercinta yang sudah membuatnya seperti ini.

Ditatapnya sejenak jalanan lurus di hadapannya dan sebuah pintu gerbang besar yang tak jauh darinya, rupanya ia satu-satunya orang yang tersisa di sini. Sebenarnya sudah berapa lamakah ia menunggu di sini.

Angin sore kembali menerpa tubuhnya pelan, mengalirkan gelitikan-gelitikan kecil pada kulit putihnya yang terlihat begitu pucat. Memainkan rambut raven yang membingkai wajah kesal Sasuke. Lagi-lagi satu kejadian di hari ini membuatnya merasa begitu lelah, sungguh sangat lelah. Seakan semua terlihat begitu jelas dalam garis-garis wajah tampannya yang begitu kaku.

Untuk kesekan kalinya helaan napas beratnya kembali terdengar darinya, merasa sedikit bodoh dengan dirinya yang masih saja berdiri bersandar seperti ini. Tubuh tegap itu pun segera ia tegakkan, berdiri tegap dari sandaran tembok tinggi di belakangnya.

Menatap sejenak bangunan tinggi di belakangnya, menyadari betapa sepinya tempat ini ketika onyxnya menatap bangunan sekolahnya itu. Kaki jenjangnya pun kemudian melangkah berat, mengajaknya pergi meninggalkan tempat itu sesegera mungkin. Terus melangkah dalam langkah berat yang jarang, kemudian berbelok di tikungan di depannya.

Dan inilah yang menjadi hal pertama yang menyapa pemandangan matanya, sebuah deretan bangku dengan atap-atap plastik yang menutupinya. Tak lupa sebuah pohon maple besar yang berjajar jarang di sepanjang jalan menuju tempat itu. Manik mata kelamnya terlihat sedikit menyipit ketika menatap sebuah halte bis mungil di depannya kini. Halte bis yang terlihat begitu sepi dan tua di saat yang bersamaan.

Kaki jenjangnya pun kembali melangkah berat, setelah terasa puas memandangi halte bis mungil itu dari jauh. Tak ingin merasa lebih jengah ketika memandangi halte bis itu lebih lama. Namun Sasuke kembali harus terdiam di tempatnya, ketika suatu hal penting baru saja disadarinya sekarang. Suatu hal penting yang membuatnya ingin kembali membunuh anikinya yang satu itu.

Apakah tempat ini terlalu sepi atau memang ini sudah terlalu sore. Rasanya segala indra miliki Sasuke sudah terasa begitu buta ketika dirinya tak menyadari bahwa mungkin ia tak akan bisa pulang ke rumahnya dalam waktu dekat ini. Siapa sangka sejak pertama kali Sasuke melangkah meninggalkan bangunan sekolahnya, ia sudah tak lagi melihat deru kendaraan yang berlalulalang.

"Kupastikan kau akan mati setelah ini."

Sepertinya sudah terlalu banyak kekesalan yang menimpanya hari ini.

xxx

Sasuke terdiam lama menatap pemandangan asing yang kini menyapa manik matanya, pemandangan yang membuat urat kesalnya putus tiba-tiba. Ternyata hasil dari menunggu selama lebih dari setengah jam adalah sebuah hiruk pikuk sebuah bis mungil ini. Diabaikannya seorang supir bis tua yang menatapnya bingung karena sejak tadi dirinya hanya diam tanpa beranjak dari sampingnya.

Dihembuskannya lagi napas beratnya, berusaha membuang jauh-jauh kekesalannya yang telah sampai di ubun-ubun. Kini matanya menatap sejenak deretan bangku-bangku bis yang telah penuh sesak oleh orang-orang yang sibuk dengan urusannya, mencoba mencari tempat duduk yang bisa ia duduki. Setidaknya ia tak ingin harus berdiri sampai ia tiba di rumahnya.

Manik matanya terus mengedar jeli, sampai didapatinya sebuah temat duduk kosong nomor dua dari belakang. Segera dilangkahkan kaki jenjangnya, tak ingin berlama-lama berdiri seperti ini terutama jika ia harus dipandang penuh selidik oleh supir bis tua itu.

Ia pun segera duduk di sana, mencari sedikit kenyamanan pada sandaran kursi yang sangat berbanding terbalik dengan sandaran soa di rumahnya. Diliriknya seseorang yang duduk di sebelahnya, seseorang yang duduk di samping jendela dengan rambut pirang yang sedikit mencolok dan cahaya matahari sore yang menerpa wajahnya.

Setelah itu entah apa yang terjadi, Sasuke hanya dia di tempatnya, tak bergerak sedikit pun dan tak ingin bergerak sedikit pun. Dirinya terlalu terpaku di sana, matanya terlalu sulit untuk dialihkan, serasa semua bagian tubuhnya seakan membeku di tempatnya.

Matanya berkedip pelan, mencoba mencerna apa yang baru saja membekukan dirinya tadi. Ya, sesuatu yang membekukan dirinya masih ada di sampingnya. Masih berdiam diri dengan kepala yang bersandar pada kaca-kaca bening di sebelahnya.

Sasuke menelan ludahnya gugup, merasa sesuatu dalam dirinya sedang menggelitiknya dengan ribuan sayap kupu-kupu yang berasal entah dari mana. Dipandanginya sosok itu lagi, sosok manis itu. Sosok pemuda berambut pirang yang tengah tertidur nyaman di sebelahnya. Sosok pemuda dengan wajah manis yang terlihat begitu polos, gurat-gurat halus di setiap pipinya, kelopak mata yang tertutup dengan bulu mata lentik yang menghiasinya. Tak lupa helaian-helaian pirang yang membingkai wajahnya, tertata indah di setiap sisi wajah dan keningnya.

Entah apa yang terjadi Sasuke sama sekali tak mengerti. Segala hal yang ada dalam diri pemuda manis di depannya membuatnya benar-benar merasa membeuku di tempat, menenggelamkannya dalam pesona yang sama sekali tak ia mengerti. Terlebih ketika sesuatu dalam dirinya seakan bergerak-gerak aneh ketika manik matanya menatap sosok itu semakin lama. Sesuatu yang memaksanya untuk tetap menatap keindahan itu dan terus jatuh ke dalam pusaran pesona yang memabukkan itu.

Tak ada yang ia mengerti saat ini, tak ada satu pun. Tidak tentang pesona pemuda manis di sampingnya, tidak pula dengan segala hal aneh yang kini melandanya.

Yang ia tau hanya satu, yaitu suatu kenyataan bahwa saat ini ia sedang terpesona.

"Sleeping beauty..."

Tanpa disadarinya gumaman pelan itu keluar dari mulutnya, hanya sebuah gumaman kecil yang disertai senyum pertamanya hari itu.

TBC


Author's Note :

Ah... akhirnya, ini dia chap kedua ai. Flashback tentang pertama kalinya Sasu ketemu Naru... dan ai juga sudah memanjangkan fic ini

Gimana readers? Memuaskan atau mengecewakan?

Ai juga mau ngucapin terima kasih untuk readers yang udah mereview, men-fav, dan men-follow fic ini. Ai benar-benar terharu... ternyata banyak yang suka fic abal ai, walau ai masih anak baru dan fic ini sangat gaje. Yang pasti ai ucapin terima kasih yang sebanyak-banyaknya atas dukungan readers sekalian... ^.^


Balasan review : ai minta maaf ya kalau balas review readers di sini.

Zora Fujoshi : ini ai sudah ngelanjutin ficnya... gimana? Memuaskan kah? Dan bersediakah mereview lagi? Mau ya mau *maksa

Arum Junnie : iya, fic ini nyeritain tentang pertemuan sasu sama naru. Gimana? Gimana?

Review lagi ya...

Yukiuchiha : ini sudah ai panjangkan, walau pun tamabah dikit tapi ga apa kan?

Review lagi ne...

RaraRyanFujoshiSN : jangan panggil authos dong, ai masih anak baru kok. Panggil ai aja ne? Ok?

Hhehehehe... ini ai sudah lanjutin ficnya. Gimana? Moga memuaskan hasilnya ya.

Ai boleh minta reviewnya lagi kan? *kedip-kedip mata

Icha Clalu Bhgia : heheheh... ini ai udah lanjut... gimana? Suka kah? Pasti suka dong *plak

Review lagi mau ya?

Hollow concrete : ini udah lanjut kok... tapi maaf ya ga update kilat... tugas ai menumpuk

Tapi mau review lagi kan?

Amach cuka'tomat-jeruk : gomen ne... ini fic bener-bener dari otaknya ai kok. Ai bukan plagiat... beneran... ai minta maaf ya kalo sama, tapi ai jamin nanti ceritanya pasti beda... maaf ya...

Ai boleh minta reviewnya lagi kan?

Siihat namikaze natsumi : nah... ini udah ai ceritain pertemua pertama mereka... chap satu kemarin ai memang ga nyeritain pertemuan pertama mereka... Nah, gimana?

Review lagi boleh ya?

Misha haruno : hehehehhe... tak perlu cemas... ai sudah lanjut kok... minta review lagi boleh ya?

Guest (?) : ai sudah lanjut nih... mohon reviewnya ya... *kedip mata

Jieichiai : ai sudah lanjut lagi... review lagi, ok?

Azurradeva : nah... ini dia kelanjutannya... review lagi ne...

Mizki-chan : ne mizki-chan... ini udah ai lanjutin, udah nambah juga walau dikit... gimana? Suka kan? *PD* ai boleh minta reviewnya lagi?

Calico neko : ai sudah lanjut... tenang saja... nah, gimana? Calico-san suka kan?

Mohon reviewnya ya..

Ok, yang terakhir...

Ai ucapkan terima kasih untuk readers sekalian yang sudah mau membaca fic ini...

Dan jangan lupa review lagi ya... *maksa