Sleeping Beauty

Desclaimer : walaupun ai berdoa sepenuh hati, naruto masih akan tetap menjadi milik om masashi... *plak* tapi SasuNaru itu milik kita!

-Sleeping Beauty-


Chap 3. It's Your Fault For Being So Cute

Sasuke kembali menatap sosok manis di sebelahnya, sosok yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya. Seseorang pemuda dengan rambut pirang mencoloknya yang sejak tadi tertidur begitu nyenyak di sampingnya. Terus tertidur tanpa pernah membuka sedikit kelopak matanya, dan tanpa menyadari seseorang di sampingnya telah memperhatikannya sejak lama. Seseorang yang sama yang sejak beberapa hari yang selalu duduk di sampingnya hanya untuk memandangnya dari dekat.

Sasuke tersenyum sekilas, ketika dengkuran halus kembali menyapa pendengarannya. Entah kenapa segala hal dalam diri pemuda ini selalu membuatnya tersenyum, wajah polosnya, dengkuran halus itu, dan segala hal asing dalam dirinya yang benar-benar membuat Sasuke terlihat begitu berbeda ketika bersamanya.

Senyum sekilas itu masih terus berkembang di wajah Sasuke, sampai sesuatu hal lagi-lagi membuatnya harus kembali pada dunia nyata. Harus kembali menyadari segala bayang-bayang semua ini harus berakhir ketika bis ini berhenti di tempat Sasuke harus pergi. Ini hanya bayang-bayang semu, hanyalah sebuah kesenangan kecil yang akan berakhir dengan begitu cepatnya.

Entah kenapa bayang-bayang itu kembali menghampiri benak Sasuke, membanjirinya dengan kata-kata ambigu yang terdengar menyebalkan. Menamparnya berkali-kali hanya untuk membuat dirinya sedikit membuka mata, menyadari bahwa ketika bis ini berhenti maka semua kesenangan ini akan berakhir.

Ada sedikit kekesalan di sana, kekesalan yang entah berasal dari mana terselip di dalam hatinya. Kekesalan yang semakin lama semakin membesar dan membuatnya merasa sesak seketika. Haruskah ia akui bahwa sesuatu dalam dirinya kini terasa begitu sakit, walau ia sendiri tak tau apa penyebabnya.

Dipalingkan wajahnya dari sosok pemuda manis ini, takut jika sesuatu dalam dirinya lagi-lagi membuatnya melakukan hal yang seharusnya tak ia lakukan. Mengambil alih dirinya dalam bayang-bayang keinginan yang sudah ia pendam sejak dulu, keinginan yang setiap detik semakin membesar.

Hembusan napasnya pun kembali terdengar, menggambarkan sesuatu kelelahan yang begitu besar dalam dirinya. Rasa lelah dan bosan karena dirinya hanya mampu melihat pemuda pirang manis ini saja. Berada sedekat mungkin dengannya, mengamati tiap lekuk wajahnya, mengamati tiap keindahan yang mempesona itu, dan memendam sedalam mungkin keinginan untuk menyentuh sosok manis itu. Dengan harapan suatu saat nanti sleeping beauty-nya akan terbangun dan tersenyum kepadanya.

"Kapan kau akan terbangun, sleeping beauty?"

Gurat lelah kini nampak begitu jelas di wajahnya, dan inilah untuk pertama kalinya Sasuke memperlihatkan wajahnya yang terlihat begitu berbeda. Entah kenapa kini dirinya yang terlihat begitu berbeda, tak ada lagi wajah kaku dan dingin. Yang ada kini hanya wajah sedihnya yang terlihat begitu jelas.

Dan di dalam sana, jauh di dalam dirinya. Sesuatu yang begitu asing baginya kembali memaksanya, memaksanya lagi dan lagi, mebuat tubuhnya benar-benar seakan jatuh dalam keinginan bodohnya itu.

Sasuke terdiam kaget, memandang bingung sebelah tangannya yang kini sudah terangkat. Begitu dekat, hingga mungkin sedikit lagi tangan putih mulusnya bisa menyentuh wajah manis itu. Dapat dirasakannya hembusan napas hangat itu menyentuh tangannya, rasa hangat asing yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Betapa bodohnya aku."

Segera ditariknya tangan itu menjauh, sejauh mungkin dari sosok manis yang sepertinya tak terganggu dengan tindakannya. Ia terlalu takut, terlalu takut melihat sosok itu terbangun nanti. Takut dirinya tak akan lagi melihat sosok manis ini ketika kelopak matanya terbuka. Ini terlalu menakutkan.

Ia masih ingin seperti ini, masih ingin memandangnya dari dekat. Mengamati dan mengaguminya dalam diam, menikmati aroma tubuhnya yang entah mengapa begitu menenangkannya dan membuainya semakin dalam. Apakah salah jika ia tak ingin semua ini berakhir?

Tak peduli kenyataan bahwa Sasuke hanya bisa memandangnya, tak peduli keinginan besarnya untuk menyentuh sosok ini. Ia terlalu takut, masih sangat takut. Walau dalam benaknya kini berputar-putar segala bayang-bayang manis tentang sosok ini. Tentang bagaimana manik mata indah yang ada di balik kelopak mata itu, tentang senyumnya, tentang suaranya, tentang segala yang ada dalam dirinya yang tak mampu Sasuke lihat saat ini.

Senyum itu pun berkembang di wajah Sasuke, bayang-bayang itu sedikit menghiburnya walau rasa sakit itu masih bisa ia rasakan. Senyumnya pun terlihat semakin getir ketika manik matanya menatap jalanan di depannya.

"Sudah saatnya aku pergi rupanya."

Diliriknya kembali seorang pemuda pirang manis yang masih tertidur dengan nyamannya, terlihat begitu polos dengan dengkuran kecil yang mengertainya. Harus Sasuke akui jika pemandangan ini memaksanya untuk kembali tersenyum. Bukan senyum getir yang tadi ia perlihatkan, namun senyum tulusnyalah yang terlihat. Senyum yang hanya ia tampakkan untuk sosok manis ini, walau ia tau sosok manis ini tak akan pernah membalas senyum.

Bis ini mulai melambat, menepi di seberang jalan hingga benar-benar berhenti dan meninggalkan suara decit ban yang bergesekan dengan jalanan di bawahnya. Sasuke masih setia di tempatnya, masih terlalu enggan untuk meninggalkan sosok manis di sampingnya. Masih begitu enggan meninggalkan bayang-bayang manis singkatnya ini.

Manik mata kelamnya masih menatap wajah yang mempesonanya untuk pertama kali itu, memandangnya dalam pandangan yang tak pernah mampu ia artikan maksudnya. Pandangan tulus yang sangat jarang terlihat darinya.

Sebelah tangannya pun kembali terangkat, mendekat secara perlahan menuju pipi dengan tiga guratan halus itu. Mengelusnya perlahan dan dalam diam menikmati segala sensasi aneh yang menghinggapinya ketika menyentuh wajah manis itu. Hanya sebuah sentuhan pelan dan begitu singkat.

"Sepertinya aku sudah terlalu terpesona padamu, sleeping beauty."

Sasuke pun segera bangkit dari duduknya dan berjalan pergi, walau matanya sempat melirik sosok manis itu sekilas. Terus berjalan pergi hingga kini dirinya tak ada lagi di bis itu, berdiri tegak membelakangi jalanan di belakangnya, membelakangi bis yang sudah berjalan lambat meninggalkannya itu. Meninggalkan sosok pemuda manis itu di sana dan memendam kembali segala perasaannya, memendam jauh di dalam hatinya sehingga tak ada seorang pun yang akan melihatnya.

Namun senyum tulus itu masih tergambar jelas di wajahnya, senyum yang sejak tak pernah pudar dari wajahnya. Dipandangnya lagi tangannya, tangan yang tadi menyentuh wajah pemuda manis yang mempesonanya. Rasa hangat itu masih tertinggal di sana, sensasi aneh itu pun masih dapat ia rasakan. Terlalu jelas seakan-akan tak pernah berkurang sedikit pun. Ya, setidaknya hari ini ia bisa melakukan sesuatu hal yang sejak dulu ingin ia lakukan.

Biarkan ia bahagia sedikit saja, walau ada sesuatu hal penting yang tak ia sadari.

Kenyataan bahwa sosok manis itu telah terbangun, memperlihatkan pada dunia manik mata indahnya. Sosok manisnya yang terbangun tepat ketika dirinya pergi, sosok manis yang ia tinggalkan di bis itu. Sosok manis yang sejak tadi memegang pipinya, pipi yang tadi disentuhnya.

Jemari-jemari lentik itu terus menyentuh pipinya, merabanya perlahan dalam tiap sentuhan ringan di tiap bagian pipinya. Dan tanpa sadar ia bergumam pelan, terus bergumam tanpa ia sadari.

"Hangat..."

TBC


Curcolan author :

Ai persembahkan chap 3 untuk readers sekalian... bagaimana? Suka? Mengecewakan?

Maaf ya kalo chap ini lagi-lagi ga panjang... habisnya mau bagaimana lagi. Ai pengen fokus ke perasaannya Suke dulu... ga apa kan? Habisnya kalo digabung sama cerita lain nanti jadinya ga fokus *apa an?* dan ai minta maaf juga kalo chap 2 kemarin ga ada peringatannya... ai lupa...

Tapi, ai masih boleh minta reviewnya kan? *puppy eyes no jutsu


Balasan review :

Hollow concrete : ne, makasih hollow-san doanya... ini tugas ai menumpuk setinggi gunung *alay* jadinya kalo mau update cepet belum bisa... maaf ya...

Ini ai udah lanjut kok... gimana? Maaf lagi ya kalo masih terlalu pendek.

Mau review lagi kan? *ikutan kedip-kedip mata*

Arum Junnie : eheheehe... iya nih, naru gimana sih? *tunjuk-tunjuk naru, langsung dihajar sasu*

Ya, ini ai udah lanjut... semoga suka ya...

Review lagi, ok?

Miszshanty05 : ne, ini udah lanjut... makasih ya reviewnya...

Mau review lagi kan?

Yukiuchiha1510 : hehehehehe... gomen ne... habis otak ai sudah mubeng kalo bikin chap panjang-panjang... *readers : nah itu, oneshootnya apa?* tapi makasih ya atas reviewnya ya...

Review lagi ya...

Zora fujoshi : gomen ne... fic ai belum bisa terlalu panjang T.T ...habis kapasitas otak ai kecil *plak

Tunggulah sampai fic ini tamat ya... *plak

Amach cuka'tomat-jeruk : berarti fic kita sama-sama pasaran ya... *plak

Ini ai udah lanjut, tapi maaf ya belum bisa panjang banget...

Tapi masih mau review kan? Mau ya, mau...

Azurradeva : iya, chap 2 kemarin itu flashback... ai lupa nyantumin peringatannya... hhhuuuwwwaaa... ai lupa... maaf ya... nah, di chap ini naru udah bangun... gimana? Suka?

Review lagi ne...

Hanazawa kay : hehehhehehe... ini udah ai lanjutin... gimana kay-san? Suka kan? Pasti suka dong *plak

Review lagi ne...

Siihat namikaze : iya tuh sasu... habisnya naru imut banget sih, jadinya baru ketemu sasu langsung jatuh cinta deh... jangan panggil author dong, panggil ai aja... biar lebih deket gitu *apa an?

Review lagi ne...

Misha haruno : hhuuuwwwaaa jangan panggil senpai, misha-san... fic ai ini masih gaje-gaje kok... ga sebagus senpai-senpai yang lain... panggil ai aja, ok?

Ne, ini udah lanjut... gimana? Suka kah?

Ai boleh minta review lagi? *puppy eyes tingkat dewa

Kirei-neko : heheheheh... emang bisa dibilang beda sedikit kok... ai minta maaf ya kalo misalnya chap 1 dan chap 2 ga ada bedanya... salahkan kapasitas otak ai yang sangat minim *plak

Tapi kirei-san mau review lagi kan? Ini udah beda kok ceritanya...


Yang terakhir...

Ai ucapin terima kasih banyak buat para readers sekalian, terutama yang udah bersedia review fic ini. Tapi makasih juga untuk silent readers... tanpa kalian, ai bukan apa-apa... *peluk cium readers*

Review lagi ne...