Sleeping Beauty
Desclaimer : walaupun ai berdoa sepenuh hati, naruto masih akan tetap menjadi milik om masashi... *plak* tapi SasuNaru itu milik kita!
Author's Note : gomen ne... ai update siput lagi, malahan udah lama banget ai ga publish... maaf... ai disibukkan *ceileh* dengan uas menyebalkan dan ujian praktek yang belum kelar sampe sekarang *merana di pojokan*tapi adakah yang menantikan fic ini?
Warning : di chap ini ai pindah penggambaran jadi Naru side version. Semoga readers berkenan... hope you like it...*peluk cium readers*
'...' kalo ini inner ya... jangan lupa...
-Sleeping Beauty-
Chap 5. Teme!
Pemuda manis berambut pirang itu kini menatap sebal pemuda yang tak kalah manis di depannya. Mata sapphire miliknya membulat imut dan tak lupa bibir mungil merah mudanya yang mengerucut imut. Semburat merah terlihat begitu jelas menjalar di wajah manisnya, menemani garis-garis halus yang ikut membuat dirinya kini terlihat begitu manis. Ya, Naruto masih tetap seperti itu sejak beberapa saat yang lalu. Mengabaikan tatap-tatap mata terpukau yang memandang ke arahnya.
"Apa maksudmu tadi, Kiba?" Ah Naruto, haruskah kukatakan jika bertindak imut seperti itu bukanlah hal yang baik untuk dilakukan terutama bagi orang-orang yang melihatmu.
Sedangkan, pemuda manis yang duduk di depannya hanya mendengus sebal dengan tingkah imut sahabat dekatnya itu. Memangnya apa yang salah dengan kata-katanya tadi, lalu kenapa pemuda pirang manis ini menatap sebal kepadanya. Kiba memalingkan wajahnya sebal, sedikit merasa bosan menghadapi sikap kekanak-kanakan dan wajah manis itu. Serta sedikit merutuki wajah manis Naruto yang sudah membuat mereka menjadi perhatian di kelas kini.
"Apa aku harus mengulang kata-kataku lagi, Naru?"
Namun sapphire itu kembali berkilat-kilat kesal, semburat merah itu pun semakin nampak jelas di wajah manisnya.
"Lalu, apa maksudmu dengan double date itu, Kiba? Aku sama sekali tak melakukannya."
Teriakan cempreng itu kembali terdengar, begitu nyaring hingga harus kembali merebut perhatian seluruh pasang mata yang ada di sana. Menatap mereka dengan pandangan aneh dan tak lupa tatapan terpukau yang tak pernah lepas dari wajah mereka ketika menatap kedua pemuda manis itu.
Naruto mengusap wajahnya pelan, menutupi kedua belah pipinya yang kini berwarna merah sempurna. Sekarang bisa kau lihat betapa malunya ia saat ini, apalagi baru disadarinya jika sudah banyak pasang mata yang menatap aneh pada mereka. Segera didudukkan tubuh mungilnya dengan tangan yang masih menutupi wajahnya. Masih terlalu malu untuk mengakui bahwa ia baru saja mengucapkan kata-kata yang sedikit ambigu.
"Kalau bukan double date. Lalu apa, Naru?" Kembali ditatapnya pemuda manis pirang yang kini terlihat begitu menyedihkan itu. Sedikit merasa geli juga melihat tingkah dan wajah malu yang memerah itu. Hanya saja ini memang pertama kali baginya untuk melihat Naruto, pemuda manis ceria ini, bisa memerah hanya karena kemungkinan aneh jika ia melakukan double date seperti yang baru saja ia ucapkan.
"Itu bukan double date, Kiba. Percayalah."
Sapphire itu melirik sedikit dari cela-cela tangannya, menatap memelas pada hezel indah yang menatapnya geli. Tak bisa dipungkiri jika sesuatu dalam dirinya kini bergejolak aneh, seperti ada banyak sekali kupu-kupu nakal yang menggelitiknya. Rasanya aneh dan sedikit menyebalkan. Lalu, apa-apaan dengan wajah manisnya kini.
Ditenggelamkan lagi wajah manisnya itu di lipatan tangannya, merasa jika wajah sudah terlalu merah dan panas jika harus diperlihatkan pada Kiba. Sebenarnya apa yang salah pada dirinya. Kenapa wajahnya bisa memerah hanya karena hal sepele seperti ini. Lalu, ada apa dengan jantungnya ini.
Kata-kata rutukan kembali meluncur mulus dari belahan pink manisnya, merutuki debaran-debaran jantung aneh, wajah memerah sampai ke telinga, dan gelitikan-gelitikan jahil ini. Kenapa tiap kali mengungkit-ngungkit soal kejadian kemarin selalu saja hal aneh ini yang terjadi padanya.
Kiba mengelus pelan helaian pirang yang kini terlihat begitu berantakan, memain-mainkannya sambil berusaha menenangkan sosok manis yang terlihat begitu menyedihkan ini. Masih dapat dilihatnya cuping telinga Naruto yang semakin memerah serta gumaman-gumaman aneh yang keluar dari mulut Naruto.
Ingin rasanya ia tertawa sepuasnya melihat Naruto yang seperti ini. Seperti seorang gadis yang ketahuan oleh sahabatnya sendiri sedang berkencan dengan kekeasihnya. Masalahnya saat ini adalah Naruto bukan seorang perempuan dan yang terpenting dia tak memiliki kekasih. Lalu kenapa ia bertingkah lucu seperti ini.
"Sudahlah Naru. Tak perlu kau pikirkan." Kiba masih asyik mengelus-elus helaian pirang Naruto sampai lagi-lagi sebuah pikiran aneh hinggap di kepala coklat gelapnya. "Aku jadi penasaran dengan seseorang yang melakukan double date denganmu, Naru."
Hanya kata-kata biasa menurut pemuda manis berambut coklat itu, namun sepertinya reaksi jauh berbeda seperti yang ia pikirkan. Lagi-lagi sahabat manisnya ini memunculkan ekspresi yang membuatnya ia tertawa sepuasnya.
"Itu bukan double date, Kiba! Lagi pula siapa yang mau berkencan dengan teme menyebalkan itu."
Kata-katanya memang terdengar seperti seseorang yang sedang kesal setengah mati, tapi wajahnya sepertinya terlalu jujur soal perasaannya. Wajah Naruto kini terlihat benar-benar memerah, terlalu merah bahkan telah menyaingi buah apel kesukaan nii-channya yang galak itu.
Sedangkan Kiba, jangan lihat dia. Kini ia sedang sibuk menahan tawa yang sejak tadi ingin ia keluarkan. Rasanya memang menyenangkan menggoda pemuda manis di depannya, apalagi ini jarang sekali terjadi.
"Teme? Kau memberikannya panggilan kesayangan rupanya, Naru."
Sepertinya menggoda pemuda pirang manis di depannya ini sudah menjadi hobi baru Kiba rupanya. Tapi siapa sangka reaksi yang diberikan Naruto melibihi apa yang dibayangkan Kiba. Terlihat jauh lebih manis dan membuatnya geli seketika.
"Aku jadi penasaran seperti apa teme-mu itu sebenarnya?"
Kiba melirik Naruto sekilas, wajah kesal manisnya itu kini terlihat jauh lebih manis ketika pipi caramelnya menggembung imut. Terlihat sedang memikirkan sesutu walau wajah kesal itu tak pernah hilang dari wajahnya.
"Dia itu orang paling menyebalkan yang pernah kutemui, rambutnya seperti pantat ayam yang melawan gravitasi, sikapnya dingin, wajahnya sangat tamp..."
BBLLUUUSSSHHH
Bisa kau bayangkan wajah manis Naruto yang sudah semerah tomat bahkan mungkin lebih merah lagi. Jangan tanyakan bagaimana reaksi Kiba saat ini, bisa kau lihat betapa susahnya pemuda manis berambut coklat itu untuk menahan tawanya yang hampir meledak.
Segera ditutupinya wajahnya yang sudah sangat memerah kini, merutuki mulutnya yang sudah mengeluarkan kata-kata yang tak ia duga seperti itu. Bagaimana bisa pemuda sedingin es itu bisa mengubah pikiran waras Naruto mejadi gila seperti ini. Dan bagaimana bisa pemuda es itu bisa betah-betahnya hinggap di pikiran polos Naruto.
Sepertinya saat ini kita tau bahwa pemuda manis berambut pirang ini telah mengakui jika Sasuke Uchiha, teme-nya itu, sangat tampan.
xxx
Naruto mengusap wajahnya pelan , mencoba mengusir bayang-bayang menyebalkan yang lagi-lagi hinggap di kepalanya. Merutuki kata-kata Kiba yang membuatnya tak pernah bisa menghilangkan rona merah di wajah manisnya, membuat jantungnya seperti ingin meloncat keluar, dan membuatnya terlihat seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta.
Seperti ada sesuatu di dalam perutnya yang melonjak-lonjak lincah dan memaksa ingin keluar. Menggelitiknya dengan sayap-sayap kecil yang entah sejak kapan bisa ada di perutnya, terus menggelitiknya sejak hari libur menyebalkan yang tak pernah bisa ia lupakan itu hingga sekarang.
Dan rona merah itu pun kembali muncul di wajah manisnya yang kini terlihat seperti orang yang sedang kalut saja. Rambut pirangnya yang sudah mulai panjang itu telah ia acak-acak sejak pagi tadi hingga rasanya ia bosan untuk mengacak-acaknya lagi kali ini. Wajah manisnya pun sudah nampak lelah untuk memperlihatkan rona merahnya yang seakan-akan terlalu setia untuk beranjak pergi dari sana.
Naruto terdiam sejenak, menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Berusaha mengusir pikiran-pikiran aneh yang selalu menghantuinya dalam diam, terus mempermainkannya hingga rasanya ingin sekali ia meloncat ke jurang saja. Sapphire indahnya berputar-putar jengah, bergerak-gerak gelisah mencari sesuatu yang setidaknya bisa membuatnya melupakannya.
Manik matanya kini hanya bisa menerawang jauh, menembus kaca bening yang menampilkan langit yang mulai senja. Warna-warna lembayung berpendar indah di ufuk barat, menciptakan bayang-bayang kemerahan di gumapalan-gumpalan kapas yang berarak lambat. Desau angin terdengar begitu lirih, menerpa wajah lelah Naruto dari sela-sela kecil di dekat jendela. Turut memperdengarkan nyanyian senja pada sang matahari yang kini menggantung rendah ingin tenggelam.
Senyum kecil itu pun muncul, senyum tulus pertama hari ini yang bibir tipis itu perlihatkan pada dunia. Disambut pula dengan binar-binar senang dari manik mata yang masih terpukau menatap senja, memujinya dalam tiap decak kagum yang terdengar tulus itu. Sedikit melupakan gelitikan-gelitikan aneh yang senantiasa terasa, mengabaikan rona merah yang masih senantiasa mendampingi.
Yang ada di manik sebiru lautan itu hanya satu. Hanya sebuah harapan kecil jika hari ini akan berakhir seperti biasa. Walau dirinya tak pernah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
xxx
Bis kecil itu membelok perlahan, memperdengarkan suara decitan ban yang beradu dengan lantai aspal hitam di bawahnya. Terus berjalan pelan hingga berhenti sempurna tepat di depan sebuah halte bis . Tak ada yang berbeda dari halte bis kecil itu. Yang membuat alis Naruto bertaut hanya ketika disadarinya bis kecil ini tak lagi sepi seperti yang ia kira.
Derap-derap langkah cepat berbunyi nyaring ketika begitu banyak orang yang memasuki bis kecil itu. Sibuk mengadu sol karet sepatu dengan lantai-lantai besi bis yang berwarna kehitaman. Naruto menatap orang-orang yang masuk melalui pintu kecil di depan sana, memperhatikan mereka yang sibuk berebut tempat duduk. Manik matanya terus menatap mereka hingga dapat dilihatnya seorang wanita tua sedang berjalan pelan mendekat kearahnya.
Entah reflek atau apa, ketika tubuh mungilnya langsung berdiri begitu saja. Memperlihatkan senyuman ramahnya pada wanita tua itu sebelum dipersilakannya duduk di tempat yang baru saja ia duduki. Membiarkan bangku di sebelah wanita tua itu terisi oleh sebuah tas berpergian berat yang entah apa isinya.
Dapat dilihatnya wanita tua itu tersenyum padanya, memamerkan senyum tulus walau dengan wajah yang telah terkikis waktu. Naruto hanya bisa membalas senyumnya sambil berpegang erat pada sebuah besi penyangga di dekatnya.
Entahlah. Mungkin ia sudah bosan duduk diam sambil memandang matahari senja lewat jendela, masih bosan dengan segala sesuatu dalam dirinya yang tak berubah. Wajahnya masih memerah, walau tak semerah tadi. Gelitikan-gelitikan aneh masih sesekali dirasakannya ketika lagi-lagi bayang-bayang menyebalkan itu menghampiri otaknya.
Hembusan napas berat kembali terdengar, dibarengi dengan usapan-usapan keras di wajah manis yang terlihat lelah itu. Naruto sama sekali tak tau tentang segala sesuatu yang terjadi padanya, segala hal aneh yang dirasakannya akhir-akhir ini. Sungguh, tak pernah ia merasakan hal-hal ganjal seperti ini sebelumnya. Terlalu asing dan tak menyenangkan untuk dirasakannya.
Semua itu karena dirinya.
Seseorang yang beberapa hari lalu ditemuinya, hanya pertemuan singkat yang bisa membawa Naruto ke dalam kekalutan yang luar biasa. Tak ada yang istimewa dari pertemuan itu, hanya sebuah pertemuan tak sengaja saat Naruto harus menemani nii-channya tercinta yang ternyata mengajaknya untuk ikut serta dalam acara kencan dengan kekasih.
Ingin sekali rasanya Naruto membunuh Kyuubi saat itu, kakak laki-lakinya itu benar-benar hampir membuat gila. Bagaimana bisa ia diajak dalam sebuah acara kencan yang hanya membuatnya harus bertemu dengan orang itu. Ingin sekali ia membantah jika apa yang diucapkan Kiba tadi pagi ada benarnya juga.
'Itu bukan double date, Naru. Hanya sebuah kejahilan kecil yang biasa Kyu-nii lakukan...'
Kata-kata penyangkal seperti itulah yang sudah sering pikiran polosnya kumundangkan. Berusaha sekeras mungkin menyangkalnya bahkan melupakannya jika ia bisa. Dan itulah masalahnya.
Pemuda manis berambut pirang terang itu tak pernah bisa melupakan hari itu. Saat untuk pertama kalinya ia mengakui jika pemuda menyebalkan yang berambut pantat ayam itu memiliki sesutu dalam dirinya yang bisa membuat Naruto sampai segila ini.
Bisa kau lihat lagi-lagi rona merah nakal itu kembali muncul. Tak peduli berapa kali Naruto memukul-mukul kepalanya hanya untuk menghilangkan bayang-bayang sosok itu, tetap saja tak ada perubahan berarti yang terjadi.
Semua masih sama. Ia masih tak bisa berhenti memikirkannya, ia masih tak bisa berhenti memunculkan rona merah yang terasa sedikit memalukan ini. Ingin sekali rasanya Naruto menghajar Kyuubi dan Kiba saat ini. Para tersangka yang telah membuat semuanya terasa semakin parah.
Naruto menarik napasnya dalam, mencoba mengambil sedikit saja keberanian yang tersisa di dalam dirinya. Mencoba bersumpah dalam hati jika ini akan jadi yang terakhir baginya untuk memikirkan pemuda pantat ayam itu. Yang terakhir... ia janjikan itu. Ini akan jadi yang terakhir.
Walau sepertinya rencana dan keinginan indahnya itu harus pupus begitu cepat saat bis ini kembali berhenti.
Ya, dan di sana. Tepat di depan sebuh pintu kecil, seorang pemuda dengan balutannya jas seragamnya sedang berjalan pelan memasuki bis kecil itu. Berhenti sesaat di depan pria tua yang menyupiri bis kecil ini.
Waktu seakan-akan berhenti saat itu juga, seperti jarum-jarum kecil itu membeku tak bergerak sedikit pun. Mempermaikan Naruto dalam kebekuan yang menyiksanya, sekali lagi ribuan kupu-kupu dalam perutnya berkepak ribut. Menggelitiknya seakan-akan makhluk-makhluk mungil itu ingin sekali keluar dari perutnya. Menciptakan semburat merah itu kembali menghiasi wajah manisnya yang terlihat gugup, dan membuat sesuatu dalam rongga dadanya berdetak begitu cepat. Terlalu cepat hingga napasnya tertahan di sana, mengganjal tak ingin keluar.
Dan itulah bagaimana reaksi pemuda manis pirang satu itu berikan. Namun yang bisa ia lakukan untuk menutupi segala kegugupan itu hanya berteriak sekeras mungkin.
"TTEEMMEE!"
Sepertinya harapan kecil yang ia ucapkan tadi langsung ditolak oleh Tuhan secepat ini.
xxx
Naruto kembali menatap gelisah ujung sepatunya, menggerak-gerakkan jari-jarinya resah, dan sekali-kali melirik samping kirinya. Entah hal bodoh apa yang ia lakukan sejak tadi, tapi memang hal apa yang bisa ia lakukan sekarang. Bagaimana bisa ia berlaku seperti biasa ketika di sampingnya ada seseorang yang menjadi sumber kegilaannya.
'Ini terlalu mendadak...'
Kembali diusapnya wajahnya yang sejak tadi tak henti-hentinya memunculkan rona merah yang menurut Naruto sedikit memalukan itu. Jangankan wajahnya, seluruh tubuhnya seakan-akan bereaksi terlalu berlebihan dengan munculnya pemuda yang kini berdiri diam di sampingnya. Naruto sedikit menggeser tubuhnya, mencoba membuat jarak antara dirinya dengan pemuda itu. Takut-takut jika terjadi sesuatu yang sama sekali tak ia inginkan.
Diliriknya lagi pemuda dingin yang sejak tadi tak berkata apa-apa, hanya sebuah sapaan singkat yang tak bisa dianggap sebagai sapaan. Naruto mendesah berat, sepertinya memang dirinya yang terlalu bertingkah berlebihan. Kembali sapphire indahnya menjelajah cepat, mencari sesutu yang bisa membuatnya tak lagi merasa canggung dengan situasi yang tak pernah ia harapkan.
Sungguh jika ia boleh memilih, ia tak ingin bertemu dengan pemuda ini. Yang lebih mengejutkan lagi kenapa mereka harus bertemu di tempat seperti ini dan kenapa harus saat ini. Saat dimana pemuda manis pirang satu ini sedang tak dalam kondisi baik saat ini terutama soal jantung dan wajahnya.
Manik matanya kembali menatap kaca-kaca bening di depannya tapi bukan pemandangan di baliknya, lebih tepatnya bayang-bayang dirinya yang terpantul jelas di sana. Entah kenapa ia merasa malu sendiri melihat dirinya yang terlihat bodoh saat ini. Wajah memerah, helaian pirang yang berantakan, serta tingkah kaku dan gugup yang sejak tadi ia perlihatkan.
Sedikit ia bertanya-tanya, apakah pemuda di sampingnya menyadari sikap bodohnya ini. Karena jika benar, betapa malunya ia saat ini. Bagaimana bisa seorang pemuda sepertinya bisa bertingkah seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta di depan seseorang yang hanya baru sekali ia temui. Bukankah ini terkesan bodoh sekali.
Helaan napas berat kembali terdengar darinya. Sungguh seluruh hati dan pikirannya berharap semoga hari ini cepat berakhir dan semua akan kembali baik-baik saja. Semoga saja harapannya kali ini terwujud tak seperti tadi. Harapan-harapan dan kata-kata positif coba ia jejalkan sedalam mungkin ke dalam kepalanya, mengabaikan segala sensasi-sensasi aneh yang masih dirasakannya kini.
Sapphire beningnya kembali bergerak-gerak mencari sesuatu yang bisa dipandangnya, dan samudra biru itu berhenti di sana. Sebuah pemandangan yang membuat sensasi-sensasi aneh itu kembali menjalari tubuhnya bahkan membuatnya menjadi lebih parah. Dan manik mata itu terpaku di sana, menatap seseorang yang berdiri begitu dekat dengannya. Entah sejak kapan jarak yang dibuatnya beberapa saat lalu menghilang begitu saja.
Dapat dilihatnya sosok pemuda berambut biru gelap di sebelahnya, begitu jelas bahkan diam-diam hatinya mengakui bahwa sosok yang berdiri di sampingnya terlihat begitu sempurna. Tubuh tinggi tegap dengan pundah yang lebar terbalut sempurna dengan kemeja putih dan kemeja merah tua yang ia kenakan. Kulit putihnya terlihat tanpa cacat sedikit pun, dan jangan lupakan wajah tampan tanpa ekspresi yang dimilikinya.
Sepertinya Naruto sedikit menyesal saat melihat pemandangan itu. Bagaimana tidak, segala hal aneh yang telah coba ia redam sejak tadi kini kembali berkecamuk dalam dirinya. Mengobrak-abrikkan dirinya dalam sensasi menyebalkan yang membuatnya tak berdaya.
Apakah ada yang lebih buruk selain ini, mungkin inilah hari tersial yang pernah dialami Naruto selama belasan tahun ia hidup. Dan yang bisa ia lakukan hanya kembali menunduk, menyembunyikan segala fenomena aneh yang terlalu nampak jelas itu. Terus seperti itu sampai sebuah suara baritone menginterupsinya.
"Ada apa denganmu, dobe?"
Ini memang sangat mengejutkan, hanya sebuah pertanyaan memang. Tapi bagi Naruto, mendengar Sasuke berbica dengan tiba-tiba sama saja dengan mendengar petir di siang hari yang cerah. Terlalu mengejutkan hingga membuat jantungnya hampir copot begitu saja.
"Jangan panggil aku dobe, TEME!" Naruto menatap sebal sosok pemuda menyebalkan di sampingnya, berusaha menyembunyikan sebisa mungkin rona merah di wajahnya dan terlihat sebiasa mungkin.
Dapat didengarnya decikan menyebalkan dari Sasuke, dan tak lupa wajah yang membuat Naruto ingin sekali menghajarnya itu kembali ia perlihatkan. Ok, kalau sudah seperti ini, rasanya sikapnya beberapa saat yang lalu adalah hal yang sangat bodoh jika ia rasakan karena pemuda menyebalkan seperti dia.
"Kau memang dobe, dobe. Lalu harus kupanggil apa lagi selain D-O-B-E." Naruto tau bahwa setiap penekanan dari kata-kata Sasuke itu adalah sebuah kesengajaan yang membuat emosinya naik tiba-tiba.
"Dasar teme menyebalkan... Tak ada teme yang lebih teme dan menyebalkan seperti dirimu, TEME."
Ini seperti adu ejekan atau adu 'panggilan sayang'. Entahlah, yang pasti dalam waktu dekat ini tak akan ada yang menyerah untuk saling beradu mulut. Apakah mereka tak menyedari kalau sejak tadi mereka sudah menjadi pusat perhatian seluruh penumpang yang ada di sana. Bahkan nenek yang menduduki tempat duduk Naruto tadi hanya bisa tersenyum maklum melihatnya.
"Kenapa aku harus bertemu dengan teme sepertimu di sini." Naruto memalingkan wajahnya kesal. Adu 'panggilan sayang' tadi membuatnya sedikit emosi juga.
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu, dobe."
"Apa maksudmu, teme? Aku duluan yang berada di sini, jadi kaulah yang salah karena mengikutiku." Terlalu bodoh memang apa yang diucapkan Naruto barusan. Tapi ayolah, kau tak akan memikirkan apa pun saat kau sedang emosi bukan.
"Kau ini dobe sekali, dobe. Ini kendaraan umum, bagaimana mungkin aku mengikutimu."
"Sudah kubilang, berhenti memanggilku dobe... dasar teme!"
Apa kau pernah percaya hari sial? Mungkin itulah yang dirasakan Naruto kini. Rupanya bertemu Sasuke bukanlah hal paling menyebalkan yang terjadi hari ini. Hal tersial atau paling menguntungkan terjadi tepat ketika pak tua yang mengendarai bis kecil itu harus menginjak pedal remnya tiba-tiba. Hal yang biasa memang, namun mengakibatkan hal yang sangat luar biasa. Naruto yang selalu duduk nyaman di bangku favoritnya siapa sangka tak memiliki bakat dalam menjaga keseimbangan saat berdiri di bis.
Bisa kau bayangkan akibatnya? tentu saja bisa kau bayangkan.
Inilah hal tersial dari segala keberuntungan yang bertajuk kesialan yang terjadi pada Naruto. Siapa sangka, dirinya akan berakhir seperti ini. Bersandar di dada bidang seorang pemuda yang beberapa detik yang lalu baru saja berdebat dengannya. Bukan hanya itu saja, dapat dirasakannya kini sebelah tangan melingkari pinggang kecilnya. Diam-diam membawanya merapat pada pemilik tangan itu.
"Kau tak apa, Naru?"
Entahlah apa yang terjadi. Hanya saja, hari ini untuk pertama kalinya seorang Uzumaki Naruto ingin meledak seketika.
TBC
Curcolan Author :
Hhhuuuwwwaaa... akhirnya chap 5 selese juga. Gomen ne readers, ai telat... tapi sudah ai ganti dengan memperbanyak jumlah wordnya, sampe 3k lho...
Oh ya, gimana SN momentnya? Suka atau tidak suka? Tidak berasa atau sangat berasa? Biasa saja atau sangat luar biasa? *minta dihajar*
Ini pindah Naru side version lho, berasa ga gimana perasaan Naru... atau ga sama sekali?
Dan yang terakhir, adakah yang menunggu-nunggu kelanjutan fic ini? Yang nunggu ayo angkat tangan...
Balasan Review :
: ini sudah ai panjangkan, gimana ika-chan? *sok akrab* apakah feelnya kerasa atau ga sama sekali?
Maaf ya kalo fic ai mengecewakan... ai ini masih anak baru. Jadi kritik, saran, masukan, apa pun akan ai terima dengan senang hati.
Ai boleh minta reviewnya lagi ga? Boleh ya...
Hanazawa kay : gimana? Gimana chap ini? Udah kerasa SasuNaru momentnya? Apa belum kerasa?
Maaf ya, ai belum bisa ngasih SN moment banyak-banyak... segini dulu ga apa kan?
Nah.. ayo review lagi... biar SN sweet momentnya ai banyakin *maksa*
Kirei-neko : itu Sasu duluan gara-gara dia bawa mobil sendiri... terus si abang keriput *dihajar Itachi* jemput para uke dulu... gitu ceritanya... ga apalah sekali-kali Sasu dibiarin lumutan dulu... khe khe khe
Ohohohohoho... soal kenapa Itachi ngajak Sasu ikut itu masih rahasia, walau gampang ditebak sih.
Nah... gimana chap ini? Suka kan? Naru udah kaya tomat lho... walau masih jaim gitu...
Review lagi, ok? *puppy eyes bareng Naru*
Azurradeva : tada... sudah ai kabulkan permintaannya... gimana? Suka atau tidak suka?
Minta reviewnya lagi boleh ya?
Hikari No Onihime : ini sudah ai panjangkan kok... nyampe 3k lho *bangga* nah... gimana? Suka kan? Pasti suka dong *PD abis*
Hime-chan *sok akrab* jangan gentayangin ai... ampun... *plak
Review lagi ya... mau ya? Mau dong... pasti mau dong...
Tsunayoshi Yuzuru : ehehehehe... se-enggaknya si teme ga gila lagi... apa nanti tambah gila lagi? Kalau begitu lihat kelanjutannya... yyeeeaayyy...
Yuzuru-san, review lagi ya... ayo review lagi... mau review lagi ya?
Siihat Namikaze Natsumi : makasih semangatnya... maaf ya ai update lebih lambat dari siput... tapi masih mau baca kan fic ai?
Soal Sasu yang tepar, kasihan Sasunya... masa di depan Naru langsung salting gitu... nanti ai dihajar Sasu gimana?
Review lagi ne... ai boleh minta reviewnya lagi kan?
Zora Fujoshi :hhhuuuwwwaaaa... gomen ne... ai ga bisa memenuhi keinginan zora-san... maaf ai baru sempet apdate sekarang... hhuuuwwwaaaa maaf...
Tapi zora-san masih mau review kan? Mau ya?
Hollow concrete : pengennya sih gitu hollow-san... tapi ai kebentur jadwal UAS sama ujian praktek... maaf ya...
Review lagi ne... ai tunggu lho...
KyouyaxCloud : nah tuh Sasu... sekali-kali abangmu disayang... ada untungnya juga kan punya abang keriput kaya gitu *dihajar Itachi*
Ai minta reviewnya lagi boleh ya?
Lavenderchan : aduh... ai malu nih *blushing* *apa an?* tapi makasih ya... ai seneng banget... walaupun penggambaran ai itu masih abal... ehehehe
Mau review lagi? Mau ya?
Misha Haruno : aduh... ai jadi makin malu *ikutan blushing bareng Naru* makasih ya... maaf ya kalo chap kali ini apdatenya lamanya minta ampun...
Tapi misha-san masih mau baca kan? Ai minta reviewnya lagi ya...
Boleh ya?
Qnantazefanya : hhuuuwwaaa... makasih ya karena udah bersedia baca fic ini dari awal dan udah ngasih reviewnya yang berharga... ai seneng banget...
Ini udah lanjut... gimana? Suka? Atau tidak suka?
Ai tunggu reviewnya...
Ika-chan : ini udah lanjut kok ika-chan... maaf ya kalo apdate siput banget... tapi ika-chan masih mau baca kan?
Boleh minta reviewnya lagi? Makasih sebelumnya...
Amach cuka'tomat-jeruk : ne... ya anggap aja chap-chap awal itu pemanasan... ehehehe... ai akan berusaha agar kata-katanya ga muter-muter... nanti kasihan para readers jadi bingung...
Nah, gimana di chap 5 ini? Apa amach-chan *sok akrab* suka? Atau tambah muter-muter?
Ai minta reviewnya lagi boleh ya? Mau ya? Mau dong...
Futari chan : eheheheeh... makasih ya... review kamu buat ai senyum-senyum sendiri *awas author mulai gila* makasih ya... ai seneng bacanya... ternyata fic ai bikin orang greget ya...
Nah ini udah lanjut, udah ada SN momentnya walau cuma dikit... tapi ga apa kan?
Review lagi mau ya... ai tunggu reviewnya...
Lanjutt : ga apa kok... semua review itu berharga bagi ai... ehehehe... ini kelanjutannya udah ai post... gimana? Suka atau tidak suka?
Ai tunggu reviewnya ya... review yang kaya gitu juga ga masalah kok...
Uchikaze no Rei : ne... ini SN momentnya udah ada... gimana? Suka atau tidak suka?
Review lagi boleh ya... makasih sebelumnya...
Yang terakhir...
Ai ucapin makasih yang sebesar-besarnya untuk para readers yang udah mau membaca, me-review, mem-fav, atau pun mem-follow...
Tanpa kalian ai bukan apa-apa... *peluk cium readers*
