Sleeping Beauty

Desclaimer : Naruto punya Sasuke. Sasuke punya Naruto. Ai hanya Kizuna biasa dengan pikiran nista yang punya ff abal ini.

Author's Note : ahahahhaha sudah berapa tahun ya ff ini ai cuekin. Hikzs... maaf... kuliah bener-bener menyita seluruh hidup ai. Bahkan untuk nonton anime pun susah. Apalagi ai semakin terpuruk sama endingnya Naruto. Kenapa Sasu dan Naru tidak bersatu? *tabok om Masashi*

Hope you like it...


-Sleeping Beauty-

Chap 7. Plan

Wanita paruh baya nan cantik itu pernah melihat suaminya, Minato Namikaze, menangis tersedu-sedu hanya karena ikut menonton dorama yang ditayangkan di salah satu saluran televisi bersamanya. Ia juga pernah melihat anak pertamanya, Kyuubi Namikaze, uring-uringan berhari-hari karena calon menantunya atau kekasih Kyuubi pergi ke luar negeri untuk waktu yang lama. Namun, ini pertama kalinya dalam hidup seorang Kushina Namikaze melihat anak bungsu tercintanya bertingkah seperti ini.

Bukannya ia acuh tak acuh ketika melihat anak bungsunya yang kelewat hiperaktif itu tiba-tiba pulang ke rumah dalam keadaan yang bisa dikatakan cukup aneh. Kushina masih ingat jika beberapa hari yang lalu, ia melihat wajah Naruto terlihat begitu merah dengan sikap yang sedikit gugup dan terlihat aneh. Namun, pemuda pirang dengan wajah yang begitu mirip dengannya itu hanya memasang senyum lebarnya saat ia bertanya apakah ada sesuatu yang terjadi.

Kushina pikir itu hanyalah hal yang biasa jika mengingat Naruto adalah seorang remaja tulen yang sekarang menginjak bangku sekolah menengah atas itu. Tapi segala hal yang tersaji di hadapannya kini lagi-lagi membuat gurat-gurat bingung tergambar jelas di wajah cantiknya. Bagaimana tidak terkejut dan bingung jika mendapati anak keduanya yang biasanya selalu ceria itu kini hanya tertunduk lemas di meja makan dan hanya sibuk mengaduk-aduk sepiring omelete yang sudah tak berbentuk lagi.

Untung saja ini akhir pekan, sehingga Kushina tak perlu meneriaki putra bungsunya itu untuk kesekian kalinya. Hanya saja, ibu mana yang tak khawatir jika melihat putranya yang sudah seperti pemuda yang ditinggal kekasihnya itu. Dan lagi, Kushina sudah bosan melihat Naruto yang hanya mengaduk-aduk omelettenya tanpa menyentuhnya sedikit pun. Itu seperti menghina makanan buatannya saja.

"Naru..." Panggil Kushina lembut. Namun, pemuda pirang yang dipanggilnya itu hanya mengangkat kepalanya sambil menunggu kata-kata yang selanjutnya akan keluar dari belahan bibir ibunya. "Ada apa sebenarnya denganmu, sayang?"

Kushina berjalan mendekat, menarik sebuah kursi kayu di sebelah anaknya kemudian duduk di sana. Jemari lentiknya terangkat perlahan menyentuh surai pirang yang entah mengapa pagi ini terlihat begitu berantakan. Naruto hanya bisa diam, menikmati belaian ringan jemari hangat itu pada kepalanya. Tak mempedulikan lagi omelettenya yang kini sudah teronggok begitu saja.

Manik violet itu menatap Naruto sebentar sebelum sebuah rengkuhan tangan hangat melingkari tubuh anak keduanya itu. Membelai surai pirang yang terasa begitu lembut di jemarinya, tersenyum lebar ketika mendengar Naruto yang tertawa geli saat jemarinya menggelitik pinggang mungil anaknya. Mengabaikan rontaan yang kini sudah menggema kencang di kediaman Namikaze saat Kushina semakin gencar menggelitik pinggang Naruto. Ya, terkesan aneh memang saat melihat beberapa saat yang lalu mereka baru saja berpelukan begitu eratnya. Namun, inilah cara yang selalu Kushina lakukan saat melihat siapa pun yang ada di dekatnya terlihat muram.

"Jadi, sekarang katakan pada Kaa-san... apa yang membuatmu sampai jadi pendiam seperti ini, huh?" Kushini segera berdiri berkacak pinggang, melihat Naruto yang bahkan telah terjungkal dari kursinya karena gelitikan maut yang diberikan ibunya itu.

Napas pemuda itu masih nampak tersengal. Sedikit bilir keringat menetes begitu saja saat ia tak henti-hentinya tertawa sedari tahu. Ya, Naruto tahu dan mengerti jika ibunya bukanlah seseorang yang bisa ia remehkan begitu saja.

"Naru tak apa, Kaa-san?" Katanya pelan, mencoba kembali duduk di kursi kayu yang sudah tergeletak di lantai itu.

"Begitukah?" Iris violet itu menatap Naruto penuh selidik, melangkah semakin mendekat pada Naruto yang hanya bisa mundur beberapa langkah saat menyadari ibunya yang mulai terlihat mengerikan. "Lalu, apa-apan dengan wajah murungmu ini, Na-mi-ka-ze Na-ru-to?"

Ya, Naruto sejak awal tahu jika ia tak akan pernah bisa bersikap seperti penyimpan rahasia seperti ini. Tapi, mendapati cubitan keras di pipi bukanlah hal yang sempat Naruto pikirkan hingga kini ia hanya bisa mengaduh dan meronta-ronta saat jemari ibunya seakan tak mau berhenti mencubit pipinya.

"Aduh... lepas, Kaa-san. Sakit... "

"Akan Kaa-san lepaskan saat kau bercerita apa yang sebenarnya terjadi." Jemari lentik itu masih setia menempel di kedua belah pipi Naruto, nampak tak cukup puas membuat pipi pemuda berkulit tan itu kini terlihat memerah.

"Sungguh, Kaa-san... Aduh... tak ada terjadi apa pun, Kaa-san."

Kushina kembali menatap wajah Naruto yang sudah terlihat semakin memerah, dan setitik air mata yang kini menggantung di ujung kelopak matanya. Segera ia lepaskan jemarinya dari kedua belah pipi itu setelah mengusap-usapnya pelan sebagai tanda penyesalan. Sebuah helaan napas pun keluar begitu saja dari bibirnya. Rasanya lelah juga saat ia harus menghadapi sifat anaknya yang keras kepala ini. Namun, manik matanya kembali menatap Naruto. Menatapnya lembut sebelum jemari mungil nan lentiknya kembali hingga di helaian pirang itu.

"Baiklah. Kaa-san percaya." Senyuman lembut mau tak mau ia tampakkan ketika melihat Naruto yang masih sibuk mengelus-elus kedua pipinya yang menjadi korban ibunya. "Tapi... Kaa-san tak mau lagi melihat kau murung seperti itu, mengerti?"

Sebuah senyum lagi-lagi terkembang indah di wajah Kushina saat sebuah senyuman lebar akhirnya terpajang di wajah anak bungsunya itu. Sebuah senyuman disertai anggukan singkat sebelum kedua lengan Naruto yang berbalut kaus lengan pendek warna jingga itu melingkari tubuh Ibunya.

"Ne, Kaa-san..."

Ya, mereka masih sibu berpelukan seperti itu. Tak menyadari sedikit pun sepasang manik mata merah yang sejak tadi menatap mereka dari balik dinding. Rambut merah dan kaus yang dikenakan pemuda itu terlihat sama berantakannya dengan Naruto walau wajahnya jauh terlihat lebih segar dibandingkan dengan wajah kusut Naruto tadi. Sebuah hembusan napas lega langsung saja keluar dari belahan bibirnya yang sejak tadi terkatup rapat. Menampilkan sebuah senyuman walau hanya selengkung tipis bibir yang terangkat ke atas. Setidaknya ia tersenyum.

Dengan segera Kyuubi berbalik. Meninggalkan ibu dan adiknya sibuk berpelukan seperti anak kecil itu. Berjalan kembali ke dalam kamarnya dan melupakan niatannya tadi untuk mengambil apel yang ada di kulkas. Entah mengapa, wajahnya kembali nampak mengantuk dengan kedua belah bibir yang menguap lebar.

"Setidaknya kali ini kau selamat, keriput."

Itulah yang terjadi di kediaman Namikaze pagi ini, tak jauh beda dengan kediaman Uchiha yang entah mengapa suasananya terlihat begitu sama bahkan mungkin lebih menyesakkan lagi.

Jika Kushina yang heran melihat anak keduanya terlihat seperti pemuda yang ditinggal kekasihnya itu, di sinilah seorang Itachi Uchiha hanya bisa mematung di depan kamar adiknya yang terlihat semakin suram itu walau pada dasarnya kamar berserta pemiliknya sudah sangat suram. Itachi tak tahu sedang ada di dimensi apa ia kini. Entah mengapa ia seperti melihat seorang vampir yang tergeletak mengenaskan di sofa di pojok kamar dengan kamar yang begitu gelap dan gordin yang menutupi seluruh jendela.

Lagi-lagi helaan napas keluar dari kedua belah bibirnya. Ia sama sekali tak menyangka jika adiknya yang satu ini semakin hari semakin terlihat seperti mayat hidup saja. Itachi jadi semakin ragu jika Sasuke yang kini ada di depannya adalah adik kandungnya.

Ya, jika seperti ini memang hanya ada satu cara. Ya, Itachi harus benar-benar turun tangan saat ini jika melihat kondisi adik tercintanya yang satu ini.

"Maafkan aku, Kyuu-chan..." Itachi hanya bisa berujar sedih saat membayangkan mungkin saja ia yang akan berakhir menyedihkan jika ia sampai turun tangan seperti ini. Bayang-bayang kekasihnya yang mengamuk entah mengapa langsung mengisi sel-sel kelabu di dalam otaknya.

"Kau berhutang banyak padaku, otouto. Ya, kau berhutang sangat banyak padaku."

Esok harinya

Sasuke sejak tadi sibuk memandang sesuatu yang kini ada dalam genggamannya. Memandang ragu benda yang entah mengapa telah mengganggu pikirannya. Dan lagi rumah besar yang kini menjulang di depannya benar-benar membuatnya merasa tak enak. Rumah besar dengan dinding berlapis cat sewarna krim itu nampak asri dengan pohon-pohon rindang yang menghiasi tamannya yang cukup luas dan tak lupa deretan bunga chrysant aneka warna yang tertata rapi di taman itu.

Sungguh, bukan rumah besar yang menjulang di depannya yang membuatnya ragu, bahkan rumah ini terasa tak terlalu luas jika dibandingkan dengan kediaman Uchiha. Hanya saja, pemilik dari rumah inilah yang membuatnya tak tenang sedari tadi. Manik matanya sedari tadi sibuk menatap rumah ini dan sebuah benda yang ada di tangannya secara bergantian. Membuat kepalanya entah mengapa terasa berdenyut pusing seketika. Rasanya ingin sekali Sasuke pergi saja dari tempat ini atau menyuruh seorang kurir mengantarkan barang yang ada dalam genggamannya kini. Namun apa daya, seseorang di dalam yang mengaku sebagai kakak lelakinya itu sudah memaksanya jauh-jauh untuk datang kemari secepatnya.

Andai Sasuke bisa membakar Itachi saat ini juga yang dengan seenak keriputnya menyuruh ia datang kemari mengantarkan barang yang sangat Itachi butuhkan untuk mengerjakan laporan di rumah temannya yang kini ada di hadapannya. Ia pertamanya biasa saja, Sasuke memang sedang tak ada kegiatan saat ini jadi ia terima-terima saja saat Itachi mengubahnya menjadi pengantar barang dadakan. Namun, yang menjadi masalahnya kini adalah sebuah rumah dengan alamat yang Itachi berikan ternyata merupakan rumah dari seseorang yang sangat ingin ia temui saat ini.

Namun, lagi-lagi ego seorang Uchiha bekerja dalam diri Sasuke saat ini. Tak peduli seberapa rindunya seorang Uchiha Sasuke terhadap orang itu, bukan berarti ia bisa langsung mengunjungi rumahnya walau ia bisa meminta alamatnya langsung dari Itachi. Ingat, lagi pula terakhir kali mereka bertemu hal yang tak diharapkan terjadi, atau mungkin lebih tepatnya hal yang tak pernah Sasuke bayangkan.

Ya, benar. Ia memang benar-benar ada di depan kediaman Namikaze saat ini. Tepat, kediaman 'teman' Itachi yang sedari tadi ia maksud. Benar, secara tidak langsung kini ia berdiri di depan kediaman sleeping beauty-nya yang sudah beberapa hari ini tak pernah ia jumpai.

Sial. Lagi-lagi Sasuke ingin sekali membunuh kakak lelakinya yang satu itu. Bukannya Sasuke tak senang jika kini ia telah mengetahui dimana sang pemuda manis yang telah mencuri hatinya tinggal. Bukan pula Sasuke tak senang saat mendapati peluang jika mungkin saja ia bisa bertemu Naruto saat ini juga. Namun hell... mau Sasuke kemanakan egonya yang setinggi langit ini. Sasuke masih ingin punya muka dan tak sampai segila itu untuk menemui langsung pemuda yang sudah membuatnya seperti mayat hidup beberapa hari ini. Sungguh, jika diberi pilihan, Sasuke lebih memilih untuk dikerubungi para wanita gila itu daripada harus terlihat seperti laki-laki tak laku yang tiba-tiba mendatangi rumah gadis yang diincarnya padahal secara tak langsung gadis itu seperti menghindarinya. Terdengar berlebihan memang. Namun, ingat. Sasuke itu terlalu menjunjung tinggi yang namanya prinsip dan ego seorang Uchiha hingga ia mati sekalipun.

Hembusan napas berat kembali ia keluarkan. Entah sudah yang keberapa dari lima belas menit yang lalu. Andai saja Sasuke menolak permintaan atau mungkin lebih tepat paksaan dari kakaknya itu, tentu kini ia tak akan bertingkah seperti orang gila seperti ini.

Kembali manik mata sekelam malam itu memandang kediaman Namikaze di depannya. Ya, ia tak punya pilihan lain. Ia sudah terlanjur ada di sini, dan lagi ia masih tak mau cari mati dengan menolak permintaan dari seorang Itachi Uchiha. Akibatnya bahkan mungkin lebih buruk dari harga dirinya yang tercoreng.

Dengan berat kedua kaki jenjang berbalut celana jeans warna biru tua itu melangkah masuk. Membuka gerbang kayu di depannya pelan, dan melangkah masuk mendekati pintu kayu berplitur coklat tua yang kini ada di hadapannya. Oh sungguh, langkahnya kali ini terasa begitu berat dan menyiksa egonya. Segera ia tekan bel pintu dengan jemari lentiknya. Diam-diam berharap jika orang lain saja yang membuka pintu di depannya kini saat ia sudah mendengar langkah-langkah kaki yang mendekat ke arahnya.

Entah ini sial atau beruntung. Namun, sepertinya Tuhan belum ingin mengabulkan keinginan Sasuke saat ini. Terbukti dengan helaian pirang dan kulit berwarna tanlah yang kini menyembul ke luar dari balik pintu kayu yang terbuka kini.

Oh God, rasanya Sasuke benar-benar jadi seperti hamba berdosa yang keinginannya tak pernah dikabulkan.

Di sisi lain

Naruto tak tahu mengapa akhir pekan kali ini terasa begitu datar di matanya. Ia juga sendiri terkejut dengan kenyataan bahwa ramen yang dibuatkan ibunya pagi tadi terasa begitu hambar di lidahnya. Apakah ia sudah tak menyukai ramen lagi? Itu tidak mungkin. Naruto masih yakin jika ramen masih menempati separuh dari hatinya. Namun, rasanya seminggu ini terasa begitu berat baginya.

Rasanya bingung sendiri jika Naruto mengingat tingkah anehnya dalam seminggu ini. Memaksa Kyuubi untuk mengantar jemput dirinya kemana pun ia pergi. Menghindari segala kendaraan umum jenis apa pun termasuk bis yang biasanya ia naiki itu. Terdengar aneh memang. Namun, apa mau dikata. Kejadian seminggu lalu masih saja membekas dalam otak polosnya. Tak bisa Naruto pungkiri bahwa frekuensi teriakannya di rumah ini akhir-akhir ini meningkat. Bukan karena merasa kesal karena dikerjai oleh Kyuubi. Bukan pula karena tugas menumpuk yang sama sekali tak ia mengerti. Namun karena bayang-bayang kejadian itu masih sering, ah tidak, bahkan selalu menghantuinya.

Ia tak tahu kenapa bisa seperti ini. Tapi kejadian tak terduga di dalam bis seminggu yang lalu benar-benar membuatnya merasa aneh. Entah kenapa pelukan Sasuke saat ia hampir terjatuh itu benar-benar membuatnya gila. Tak bisa dibilang pelukan memang karena Sasuke hanya melingkarkan sebelah tangannya menyangga tubuh Naruto. Namun, dalam kamus kehidupan Naruto yang masih polos, hal itu sudah masuk dalam kategori pelukan.

Sebenarnya sudah berkali-kali Naruto yakinkah bahwa pelukan itu hanya pelukan reflek yang tak disengaja bahkan ia sudah membanding-bandingkan dengan memeluk-meluk Kiba beberapa kali. Namun, hasilnya nihil. Rasa pelukan Sasuke begitu berbeda. Dan inilah yang membuatnya gila hingga memutuskan untuk tak lagi menaiki kendaraan umum seperti bis untuk saat-saat ini.

Belahan bibir Naruto kembali menghembuskan napasnya berat. Segera saja manik matanya yang sebiru lautan itu melirik-lirik sekitarnya. Sepi. Tentu saja sepi, saat ini ia benar-benar ditinggal sendirian oleh keluarganya. Tou-san dan Kaa-san sudah pergi berkunjung ke rumah rekan bisnis Tou-sannya sedari pagi. Jangan tanya Kyuubi, saat akhir pekan begini Naruto memang tak pernah melihat Kyuubi berkeliaran di rumah. Apa lagi kalau bukan berkencan dengan kekasihnya.

Inilah dia satu dari sekian banyak hal yang membuatnya akhir-akhir ini menjadi semakin aneh. Naruto tak tahu kapan pertama kalinya ia merasa begitu iri saat melihat Kyuubi selalu pergi di akhir pekan bersama kekasihnya. Naruto juga ingin begitu. Namun, lagi-lagi Naruto hanya bisa menghembuskan napas berat saat ia menghadapi kenyataan bahwa ia tak pernah memiliki kekasih sama sekali. Apalagi ia sangat tidak suka jika ditinggal seperti ini. Rasanya pikiran paranoid itu langsung menyerangnya dengan spekulasi-spekulasi yang menyeramkan.

Manik matanya terus saja menatap layar televisi besar di depannya, memcoba tak acuh dengan sekitarnya dan lebih memilih untuk terus merutuki nasibnya yang entah mengapa terasa sangat tidak beruntung. Terus seperti itu hingga suara bel rumah yang berbunyi. Mau tak mau Naruto segera bangkit dari duduknya, membiarkan begitu saja televisinya menyala tanpa ia matikan terlebih dahulu.

Segera jemari lentiknya memutar engsel pintu. Membukanya lebar-lebar untuk melihat siapa gerangan yang sudah memencet bel rumahnya dan sudah mengganggu acara meratapi nasibnya itu. Naruto pun langsung memasang senyum ramahnya, mengingat tata krama dalam menerima tamu yang selalu ditekankan ibunya. Ya, walau senyum itu langsung pudar begitu saja saat di depan rumahnya sudah berdiri seorang pemuda dengan rambut raven dan mata sekelam malam yang juga terkejut menatapnya.

'Ya Tuhan... apa salahku?"

Hilang sudah entah kemana tata krama yang sudah Kushina tanamkan pada diri Naruto saat anak bungsunya itu telah berteriak di depan rumah mereka sambil menunjuk-nunjuk tamu yang sedang berkunjung di rumahnya. Mungkin jika Kushina tahu, ia akan menarik kedua belah pipi Naruto sampai pipi itu memerah sempurna. Namun, sepertinya tata krama itu masih melekat dalam diri Naruto saat dengan tak rela ia membiarkan Sasuke masuk ke dalam rumahnya dan mempersilakan ia duduk.

Dan di sinilah mereka kini berada. Duduk saling berhadapan dengan wajah yang saling memandang ke arah lain seakan tak ingin saling memandang. Oh sungguh, rasanya situasi kali ini benar-benar membuat Naruto menjadi gila dadakan. Bagaimana tidak, di depannya kini telah duduk seorang pemuda yang telah membuatnya hampir gila selama seminggu ini tepat di saat ia sedang memikirkan pemuda yang kini hanya bisa diam duduk di depannya. Dan apa-apaan dengan situasi ini. Apa Tuhan tak menyayanginya hingga harus bertemu dengan Sasuke di saat yang tidak tepat. Entah kenapa kini Naruto menanamkan perintah pada otaknya untuk lebih rajin berdoa agar keinginannya bisa dikabulkan.

Sungguh, seandainya Kushina tak mengajarinya tata krama yang benar, pemuda di depannya ini sudah ia usir sedari tadi atau mungkin pintu rumahnya sudah ia tutup tepat di depan wajah Sasuke bahkan sebelum pemuda itu mengatakan sesuatu.

"Dobe..."

Naruto tak tahu apa yang membuatnya lebih kesal selain ini. Entah kenapa kini Naruto benar-benar ingin menjambak rambut yang sudah mencuat-cuat melawan gravitasi itu. Jangan salahkan Naruto jika kini ia menatap Sasuke dengan sorot mata penuh kekesalan yang hanya dibalas dengan dengusan geli oleh Sasuke.

"Mau apa kau datang ke rumahku, Teme?" Dapat Naruto lihat sudah muncul persimpangan di wajah tampan itu. Tapi mau bagaimana lagi. Mood Naruto sudah terlanjur buruk sejak seminggu yang lalu. Jadi, jangan harap ia akan berlaku baik pada orang yang sudah membuatnya seperti ini.

"Kau ini tak sopan sekali pada seorang tamu, dobe." Ok, kali inilah persimpangan yang muncul di wajah Naruto.

"Aisshh... baiklah." Naruto kembali menghembuskan napasnya sesaat sebelum kembali berkata. "Apa ada yang bisa kubantu, Uchiha-san?"

"Berhenti bersikap formal seperti itu, dobe. Kau membuatku merasa aneh." Ok. Jika manusia memiliki alat pengukur tingkat kekesalan, maka kini Naruto sudah mencapai angka tertingginya bahkan mungkin bisa saja Naruto langsung meledak seketika sangking emosinya.

"Aku kemari untuk menemui, Itachi." Sasuke langsung melanjutkan kata-katanya cepat, sebelum pemuda pirang yang wajahnya sudah memerah kesal itu meledak seketika.

Jujur, Naruto sama sekali tak mengerti apa yang Sasuke katakan kepadanya. Mencari Itachi? Di rumahnya? Naruto memang tahu jika Itachi adalah kekasih dari kakak lelakinya dan Itachi pun sering berkunjung ke rumahnya. Hanya saja mencari Itachi di rumahnya dan bukannya di rumah Uchiha sendiri. Dan lagi yang mencari adalah adiknya sendri. Sungguh, Naruto sama sekali tak mengerti.

"Apa maksudmu? Untuk apa kau mencari Ita-nii di sini?" Tak bisa Naruto pungkiri bahwa kini ia hanya bisa memasang wajah bingung disertai kepalanya yang ia miringkan. Jangan salahkan Naruto, ia memang selalu memasang wajah seperti itu saat ia merasa bingung.

Dan kini, dapat Naruto lihat bahwa Sasuke langsung menatapnya bingung. Dapat Naruto lihat pula kedua alis Sasuke yang menekuk tajam dan menatapnya dengan pandangan yang terasa begitu aneh dan menyelidik.

"Tentu saja, aku mencarinya kemari karena ia ada di sini." Sungguh, Naruto tak tahu jika segala hal yang ada di depannya kini terasa semakin membingungkan di matanya.

"Kau aneh, teme. Ita-nii tak ada di sini. Ia memang kemari pagi tadi, tapi ia langsung mengajak Kyuu-nii pergi."

Mungkin ini pertama kalinya Naruto melihat aura hitam sepekat ini dari Sasuke. Ini memang yang pertama kalinya Naruto melihat Sasuke seperti ini. Jangan salahkan ia. Lagi pula mereka baru bertemu beberapa kali kan.

Jika Naruto boleh akui, kini Sasuke terlihat begitu menyeramkan. Seandainya ini ada di dalam komik, mungkin saja aura-aura hitam sudah menguar dari tubuh Sasuke. Dan tak bisa Naruto pungkiri jika ia sedikit terkejut saat mendapati Sasuke telah merobek setumpuk kertas tebal yang sejak tadi ada di genggaman Sasuke.

"Dia menyuruhku datang kemari..." Rasanya bulu kuduk Naruto benar-benar berdiri sekarang ini. "Dan dia malah pergi setelah membuatku seperti orang bodoh... aku akan membuhuhmu, baka aniki. Aku benar-benar akan membunuhmu."

Naruto tahu jika kata itu bukan ditujukan untuknya. Namun, entah mengapa ia merasa takut saat Sasuke berkata seperti itu. Dan lagi-lagi Naruto harus dibuat terkejut saat Sasuke sudah bangkit berdiri dari tempat duduknya sambil memandang dirinya dengan tatapan yang tak bisa Naruto artikan.

"Kalau begitu, aku pergi, dobe..." Ya, itu memang bukan kata-kata berpamitan yang sopan. Namun Naruto hanya bisa mengangguk dan ikut berdiri mengantar Sasuke pergi menuju pintu keluar rumahnya.

"Kau sudah mau pulang, Teme?"

Sasuke langsung saja menghentikan langkahnya saat kata-kata itu terdengar di indra pendengarannya. Jemari tangannya langsung saja berhenti di udara, melayang bebas tak jauh dari engsel pintu yang ingin ia gapai. Masih terlalu malas untuk menanggapi 'panggilan sayang' dari Naruto. Saat ini membunuh Itachi lebih penting dari apa pun di dunia ini.

"Hn." Sasuke hanya bisa bergumam pelan. Ia abaikan gerutuan kesal dari pemuda pirang yang kini ada di sampinganya. Ya, ia tak mau lagi ada di tempat ini. Di rumah Naruto yang terlihat sepi ini benar-benar membuatya berpikir jika mereka hanya berdua di rumah sebesar ini. Dan Sasuke sungguh tak suka dengan keadaan itu. Ia sangat tak suka dengan rasa rindunya yang tiba-tiba membuncah saat melihat pemuda pirang itu pertama kali membukakan pintu. Ia pun merasa tak nyaman dengan detak jantung yang terasa sangat bertalu-talu ini. Entah mengapa, egonya yang tersisa membuat segala hal yang dirasakannya kini adalah hal yang sangat memalukan.

Dasar Uchiha. Ya, dia memang Uchiha.

Namun, sepertinya Tuhan berkata lain saat manik matanya menangkap pemandangan di luar sana yang membuatnya benar-benar terkejut.

"Ah... hujan..."

Langit berwarna kelabu gelap itu. Petir yang semakin bergemuruh. Hujan yang begitu lebat. Ok, sekarang apa lagi kesialan yang ingin Tuhan berikan padanya. Sasuke kembali diam sejenak sebelum kaki jenjangnya membawanya melangkah keluar menuju teras rumah Namikaze yang cukup luas itu. Tadinya ia sudah bersiap-siap untuk menerobos hujan dan segera pulang ke rumahnya. Namun apa daya saat sebuah tangan menahan lengannya.

"Kau mau kemana, Teme?" Oh God. Seandainya Sasuke bukan seorang Uchiha tentu ia sudah dibuat tak berdaya saat manik matanya menatap wajah Naruto yang entah mengapa menatap dirinya begitu intens. Dan ingatkan Sasuke untuk menandai kalendernya karena setelah dua pertemua yang mereka lalui, saat inilah untuk pertama kalinya Naruto mau menyentuhnya. Abaikan kejadian memalukan seminggu lalu.

"Tentu saja pulang, dobe. Kau pikir apa lagi?"

"Aisshh... Sasuke. Apa kau tak lihat jika sedang hujan?" Kini Naruto menatap wajah Sasuke dengan raut kesalnya yang dibuat sekesal mungkin walau terlihat begitu menggoda di mata Sasuke. Tangan Naruto pun masih setia memegang tangan Sasuke erat, mencegah Sasuke yang rasanya sudah siap nekat menerobos hujan yang cukup deras hari ini. "Jangan bertindak bodoh dengan menerobos hujan seperti ini."

Dapat Sasuke lihat kekhawatiran yang samar-samat tergambar di manik mata sebiru lautan itu. Dan lagi-lagi sesuatu hal asing yang tak pernah ia rasakan kembali menggelitik perutnya terus naik hingga membuat kepalanya tiba-tiba merasa pusing seketika.

"Tidak masalah, dobe. Ak-"

Terdengar klise memang saat tiba-tiba petir menyambar dan menghentikan ucapan Sasuke barusan. Apa-apan ini? Tuhan seperti tak rela jika ia menerobos hujan hingga harus mendatangkan petir di saat seperti ini. Rasanya ingin sekali Sasuke merutuki langit cerah yang entah hilang kemana. Merutuki Itachi yang semakin lama semakin ingin ia bunuh. Dan merutuki dirinya yang lebih memilih berkendara menggunakan motor ketimbang mobil.

"Err... sebaiknya kau tinggal sebentar di sini, Teme." Sasuke melirik Naruto singkat. Pemuda pirang itu masih berdiri kikuk di sebelahnya dengan sebelah tangan yang sibuk menggaruk belakang kepalanya. Dan apa-apaan semburat merah itu. "Aku bukannya ingin kau di sini, hanya saja... err... di luar sedang hujan."

Situasi di antara mereka memang sudah kikuk sejak awal, hanya saja kali ini semua terasa semakin aneh saja. Akhirnya ia hanya bisa menghembuskan napasnya berat dan mengangguk perlahan. Semoga Tuhan tak membuat semuanya menjadi lebih buruk lagi. Hujan dan berdua bersama sang pujaan hati bukanlah perpaduan yang baik untuk jantung Sasuke. Benar-benar bukan perpaduan yang baik.

TBC


Curcolan Author :

Ahahah sudah berapa lama ff ini terabaikan. Hikzs... maafkan ai yang sudah begitu tega mengabaikan ff ini. Maafkan ai... maaf... apakah masih ada yang mengingat ff ini? Apa masih ada yang menunggu ff ini? *ditabok readers satu-satu*

Sebagai permintaan maaf, chap kali ini diperpanjang dan jalan cerita yang akhirnya ga jalan di tempat. Ahaha

Ok... kalau begitu tunggu chap selanjutnya ya. Moga saja bisa update cepat ahaha *ditabok lagi

RnR, please...