"Kenapa?! Dia anakku juga, Kwon Soonyoung!"
Soonyoung terisak saat Seokmin mencengkeram pundaknya dengan kuat dan mengguncang tubuhnya. Tapi kemudian, Seokmin memeluk tubuh Soonyoung dengan lembut dan ikut terisak. Perasaannya campur aduk. Ia hanya ingin menangis dipelukan istri yang sangat dirindukannya. Mengabaikan teleponnya yang berdering. Mengabaikan Chan yang berlari-lari menuju kamarnya. Mengabaikan semuanya. Ia hanya ingin Soonyoung kembali padanya.
"Kumohon Seokmin-ssi.. Jangan ganggu lagi kehidupanku di sini." kata Soonyoung sambil berusaha melepaskan pelukan Seokmin.
"Kumohon kembalilah, Soonyoung. Aku tidak bisa tanpamu." Seokmin mempererat pelukannya dan menenggelamkan wajahnya diperpotongan leher Soonyoung yang wangi.
"Tidak. Aku tidak akan kembali." Soonyoung menggelengkan kepalanya dan melepas pelukan Seokmin dengan paksa. "Pergilah. Aku memintamu dengan penuh hormat."
Soonyoung meninggalkan Seokmin yang masih bertahan di ruang tamu rumahnya. Bohong jika Soonyoung tidak ingin kembali. Ia sangat menginginkannya tapi entah perasaan bencinya akan meluap saat menatap wajah Seokmin. Entah dari potongan foto pria itu di koran maupun di SNS. Soonyoung mengurung dirinya dalam kamar. Menangis di balik pintu dan memeluk lututnya dengan erat.
"Eomma?" Soonyoung menenggelamkan wajahnya saat pintu kamarnya diketuk Chan.
"Eomma! Paman aneh akan pulang! Chan mau mengantar paman aneh sampai ke depan!"
Lalu setelah itu Soonyoung bisa mendengar suara kaki Chan yang berlari menuruni tangga. Ia tidak ingin Chan mengenal Seokmin. Mungkin ia akan mengajak Chan pindah dari sana.
.
.
Don't Hate Me
.
.
Kwon Soonyoung
Lee Seokmin
Lee Chan
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
Etc
.
.
Soonyoug tidak melihat adanya cinta sedikitpun di mata Seokmin untuknya. Bisakah Soonyoung hidup tanpa adanya cinta?
.
.
"Paman.. Kenapa menangis?" tanya Chan saat melihat wajah sembab Seokmin.
Seokmin menghapus sisa air matanya yang menggenang di sudut matanya lalu berjongkok di depan bocah itu. Menyamakan tinggi badan mereka dan menepuk kepalanya dengan sayang. Bocah di depannya ini adalah darah dagingnya yang telah lama disembunyikan. Ia memeluk tubuh kecil Chan dan mencium pipinya.
"Paman kenapa?"
"Paman baik-baik saja. Oh ya, nama paman Seokmin, Channie. Panggil saja Paman Seokmin, mengerti?" Seokmin menatap bocah itu sendu.
"Tentu!"
Bocah itu tersenyum lebar dan memeluknya dengan erat lalu balas mencium pipinya. Seokmin menegang namun berusaha bertindak biasa saja. Ia ingin sekali menggendong Chan dan mengenalkannya pada khalayak ramai kalau bocah itu adalah anaknya dan Soonyoung. Tapi Seokmin tahu kalau Soonyoung akan mendorongnya menjauh. Menjauhi Soonyoung dan putranya. Seokmin berdiri saat Chan melepaskan pelukannya. Mengusak rambut jamur bocah itu dan melambaikan tangannya saat sudah ada di gerbang masuk rumah mungil kedua malaikatnya.
"Kapan-kapan paman akan berkunjung lagi." kata Seokmin dan dibalas anggukan ceria bocah itu.
"Chan menunggu paman! Paman Min!"
Seokmin terkekeh dan melangkah menjauhi surganya yang sudah lama hilang dan selalu dicarinya. Tapi Seokmin tidak akan menyerah. Ia akan menarik Soonyoung kembali. Kembali hidup dengannya. Memperbaiki semuanya dari awal. Mencintai Soonyoung dan Chan dengan sepenuh jiwa dan raganya. Melindungi kedua malaikatnya. Masih ada banyak hal yang ingin dilakukan Seokmin untuk keduanya.
Sebelum benar-benar jauh Seokmin berbalik dan menatap rumah kecil itu dengan sendu. Ia akan kembali ke rumah itu dan membawa kedua penghuninya bersama dengannya. Ia akan selalu mengawasi keduanya. Tidak akan membiarkan Soonyoung melarikan diri darinya lagi. Ia akan selalu berusaha masuk kembali ke dalam kehidupan Soonyoung dan mendapatkan hati ibu dari anaknya. Ia berjanji pada dirinya sendiri dan akan mendapatkan apa yang diinginkannya.
'Appa akan kembali lagi, Chan. Appa akan kembali untuk hidup bahagia dengan kalian berdua. Appa berjanji dan tunggulah hingga hari itu tiba. Jangan mendorongku untuk menjauh dari kehidupanmu dan anak kita Soonyoung karena aku akan kembali.'
.
.
Chan memandang ibunya dengan bingung. Ibunya baru saja memakaikan sweater tebal sulaman si ibu padanya dan memakaikan topi rajut favoritnya. Belum lagi koper besar yang biasanya ada di atas lemari ibunya sekarang ada di depannya.
"Kemana, Eomma?" tanya Chan dengan mata bulat bersinarnya.
"Chan ingin pergi ke taman bermain yang ada di kota kan?" tanya Soonyoung dengan suara seraknya.
Chan mengangguk sebagai jawaban. Soonyoung berlutut dan mengecup pipi Chan. Memeluknya dengan sepenuh jiwanya dan menangis lagi tanpa sadar. Chan memeluknya juga. Tangan kecilnya melingkar sempurna di leher Soonyoung saat ibunya berdiri dan menggendongnya.
"Kita akan ke kota dan ke taman bermain yang ada di tv. Kita akan tinggal dengan Paman Mingyu dan Paman Wonwoo."
"Benarkah?!" wajah bocah 4 tahun itu bersinar. "Chan mau tinggal dengan Paman Onu dan Paman Ming!"
Soonyoung terkekeh pelan disisa tangisnya. Baginya Chan adalah segalanya baginya. Mutiaranya yang paling berharga dan Soonyoung akan menyerahkan nyawanya sekalipun untuk melindungi anaknya. Kekuatan serta alasannya untuk tetap bermimpi dan mewujudkan mimpi Chan yang juga mimpinya. Ia akan merelakan semuanya termasuk menjauhkan Chan dari ayah biologisnya, Seokmin.
"Ayo berangkat. Paman Wonwoo dan Paman Mingyu sudah menunggu di kota. Chan pasti rindu sekali dengan Paman-paman kan?"
"Ya! Chan rindu sekali!"
Setelah mencium pipi bocah itu, Soonyoung menurunkan Chan dari gendongannya dan menggandeng tangan kecilnya keluar dari rumah. Membawa serta koper dan tas ransel kecil digendongan Chan. Mengunci pintu rumah dan memasukkannya ke dalam saku mantelnya. Soonyoung menghembuskan nafasnya pelan dan menembus malam yang dingin dengan Chan digandengan tangan hangatnya dan koper ditangannya yang lainnya. Baru beberapa meter berjalan, Chan mulai merengek dan Soonyoung menggendongnya. Berjalan lambat-lambat menuju pelabuhan karena ia mengambil pelayaran terakhir.
"Kau mau kemana, Soonyoung-ah?" tanya seorang kakek yang kebetulan sedang berkeliling.
"Saya ingin kembali ke Seoul sementara waktu, Harabeoji Seo." jawab Soonyoung sambil tersenyum hingga matanya menyipit. "Kami akan segera kembali."
"Channie tertidur? Hati-hati di jalan, Soonyoung-ah."
Soonyoung mengangguk masih dengan senyuman di wajah lelahnya. Memohon diri untuk melanjutkan perjalanannya menuju pelabuhan. Sepanjang perjalanan Soonyoung hanya ditemani oleh suara serangga malam dan langkah kakinya serta suara roda kopernya yang berputar. Kepala Chan terkulai dipundak kanannya. Berhenti sebentar untuk membenahi gendongan Chan dan mencium pipinya sekilas kemudian melanjutkan perjalanannya yang terhenti.
.
.
Seokmin kembali menuju rumah Soonyoung pagi-pagi sekali. Sampai di sana, Seokmin hanya bisa melihat dari luar gerbang. Lampunya masih menyala dan Seokmin membayangkan kedua orang yang dirindukannya pasti sedang tidur sambil berpelukan dan bermimpi indah. Seulas senyum muncul di wajah tampannya. Ia ingin sekali masuk di dalam sana dan ikut bergabung dengan keduanya. Tapi Soonyoung sudah terlalu benci padanya.
"Pemilik rumah ini sedang pergi ke Seoul."
Seokmin menoleh dan mendapati seorang kakek sedang berdiri di depannya dengan kedua tangan di belakang tubuhnya. Kakek itu menatap rumah Soonyoung yang sepi.
"Maaf? Soonyoung ke Seoul?" tanya Seokmin.
"Iya. Semalam dia dan anaknya berangkat ke pelabuhan. Sepertinya mengambil pelayaran terakhir yang sepi. Mereka bilang akan segera kembali. Dia bilang seperti itu." kakek itu terkekeh. "Pasti tempat bekerja kalian sepi sekali jika dia pergi ke Seoul."
"Dia bekerja di mana?"
"Oh, kukira kau teman kerjanya. Dia bekerja di sekolah dasar tidak jauh dari sini. Guru yang paling disukai anak-anak. Ah, aku harus kembali ke rumah. Sebaiknya kau pulang saja lalu kembalilah ke sini saat mereka sudah kembali."
Kakek itu berlalu dan Seokmin kembali memandangi rumah mungil itu seorang diri. Kedua malaikatnya tidak ada di dalam sana. Ia kecolongan lagi karena telah kehilangan Soonyoung lagi. Tangannya merogoh saku celananya dan menghubungi sekretarisnya.
"Batalkan janjiku hari ini atau minta yang lain menggantikanku. Aku ada urusan mendadak di Seoul."
Setelah mengakhiri sambungan Seokmin berlari kembali ke penginapannya. Ia akan menyusul Soonyoung ke Seoul dan tidak akan pernah membiarkan pemuda itu lari darinya lagi.
.
.
"Chan lelap sekali." kata Mingyu sambil melirik Chan yang ada didekapan hangat Soonyoung.
"Dia lelah. Semalam dia tidak bisa tidur dengan tenang dan rewel sampai pagi."
"Kau juga kelihatan lelah, Kwon. Tidur saja. Nanti kami akan membangunkanmu begitu sampai." sahut Wonwoo yang menyetir mobil.
Soonyoung mengangguk dan menyandarkan kepalanya di kepala mungil Chan. Matanya terpejam dan tidur dalam sekejab. Ia benar-benar lelah menenangkan Chan semalaman dan juga pikirannya yang terus melayang tentang Seokmin. Dalam tidur, Soonyoung terlihat tenang sehingga kedua temannya bisa menghela napas lega. Fokus keduanya kembali pada jalanan dan suasana menjadi hening. Enggan mengganggu tidur tenang Soonyoung yang benar-benar lelah.
"Menurutmu sampai kapan kita akan menyembunyikan Soonyoung seperti ini?" tanya Wonwoo lirih.
"Entahlah, Soonyoung masih tidak bisa memaafkan Lee Seokmin. Kurasa kita hanya bisa menyembunyikannya sampai dia benar-benar bisa memaafkannya." jawab Mingyu sambil sesekali melirik Soonyoung di belakang.
"Bagaimana jika Soonyoung tidak bisa lagi sembunyi? Dia pasti akan lebih tertekan dari sebelumnya. Sudah cukup Soonyoung hidup seperti ini."
"Lalu kita bisa apa? Kita bukan Tuhan yang bisa mengubah takdir seseorang."
"Entahlah."
Lalu keduanya terdiam.
.
.
Begitu sampai di Seoul Seokmin segera berkeliling mencari Soonyoung dan Chan. Tidak peduli lagi dengan kelelahannya. Entah sudah berapa lama Seokmin berputar dengan mobilnya. Ia menyerah mencari Soonyoung hari itu. Istrinya terlalu pintar bersembunyi dan Seokmin tidak yakin bisa menemukan mereka dengan cepat. Setelah memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, Seokmin menyandarkan punggungnya yang terasa kaku.
Matanya terpejam. Ia tidak akan kembali ke rumah sebelum menemukan Soonyoung dan membawa serta pemuda itu pulang ke rumah. Bukan hanya rumahnya namun rumah mereka bertiga. Teringat akan sesuatu Seokmin membuka ponselnya dan menghubungi sebuah nomor yang baru saja didapatkannya. Nomor Soonyoung. Antusiasme menyelimutinya saat sambungannya terhubung lalu suara yang selalu dirindukannya terdengar.
"Halo, dengan Kwon Soonyoung. Siapa?" suara itu terdengar ceria dan bahagia tapi Seokmin tahu apa yang sebenarnya dirasakan pemuda manis di seberang sana.
"Maaf, saya akan menutupnya kalau anda sedang jahil."
"Jangan."
".."
"Biarkan aku mendengar suaramu, Soonyoung." Seokmin menangis. Lagi. Menangis dalam diam.
".."
"Jangan diam, Kwon Soonyoung! Bicaralah!"
"Paman Min! Ini Chan!"
".." Seokmin diam untuk mendengarkan celoteh anaknya.
"Chan dan eomma sedang di kota, Paman! Besok Chan akan pergi ke taman bermain seperti di tv dengan Paman Onu dan Paman Ming! Paman Min ikut juga? Eomma tidak ikut besok karena sakit. Chan sedih sekali kalau Eomma sakit. Tapi Eomma bilang kalau Chan tidak boleh sedih kalau Chan ingin Eomma sembuh.."
"Chan.. Sudah, kita harus membeli bahan kue untuk bekal besok."
"Paman Min, Chan mau belanja dulu dengan Eomma. Sampai jumpa!"
Pip
Sambungan itu terputus dari seberang sana. Mungkin Soonyoung yang mematikannya. Seokmin menegakkan tubuhnya. Ia akan berkeliling lagi. Kemungkinan untuk bertemu dengan Soonyoung dan Chan sangat besar. Senyum tipis tercetak jelas di wajahnya.
.
.
"Nanti buatkan biskuit coklat Tuan Beruang, Eomma!" bocah itu melonjak-lonjak di troli belanja dan mencengkeram jaket ibunya.
"Iya iya. Nanti Eomma buatkan biskuit coklat Tuan Beruang seperti biasanya." Soonyoung terkekeh.
"Yang banyak! Yang banyak! Yang banyak!"
"Siap, Kwon Chan!"
Bocah itu memekik senang dan kembali duduk tenang di dalam troli. Memainkan mobil-mobilan yang sengaja dibawa dari rumah. Soonyoung mengacak rambut putranya dan kembali berkeliling untuk mencari bahan-bahan yang dibutuhkannya. Mengelilingi swalayan mengingatkannya pada awal ia mulai bekerja di Yeosodo. Gaji yang sedikit dan pernah tidak bisa membelikan anaknya susu karena kehabisan uang. Beruntung Mingyu dan Woonwoo mengunjunginya dengan banyak bahan makanan.
Soonyoung tersenyum dan berjalan menuju rak coklat. Chan tidak pernah suka dengan rasa coklat dari coklat bubuk dan lebih suka rasa coklat batangan yang pahit. Mungkin dulu Soonyoung pernah mengidam coklat batang yang pahit. Saat meraih sekotak coklat batang tangannya bersentuhan dengan tangan orang lain.
"Anda bisa mengambilnya." kata Soonyoung sambil tersenyum.
"Paman Min!"
"Aku mengambilkannya untukmu, Soonyoung-ah."
.
.
"Pelan-pelan, Chan. Lihat, mulutmu jadi kotor." Soonyoung meraih tissue di meja dan menyeka mulut Chan yang belepotan karena coklat dan es krim.
Bocah itu menggumam sebal dan menjauhkan tangan ibunya. Memakan lagi coklat dan es krimnya dengan brutal. Membuat mulutnya belepotan lagi. Soonyoung menggertakkan giginya dan menghela napasnya dengan kasar. Sedangkan Seokmin hanya tersenyum melihat kelakuan ibu-anak itu.
"Aku tidak menyangka kalau kau bisa secerewet itu pada Chan." kata Seokmin sambil tersenyum senang.
"Aku hanya melatih kedisiplinannya."
"Bagus! Anakku -"
"Jangan menyebut Chan anakmu. Dia hanya anakku dan kau tidak memiliki hak apapun untuk menyebut anakku dengan anakmu juga."
Seokmin menutup mulutnya. Ia tidak akan mengeluarkan amarahnya demi mendapatkan kembali hati Soonyoung. Chan menatap mereka berdua dengan bingung namun tetap menyendok es krimnya. Soonyoung melempar penglihatannya keluar jendela cafe. Mencegah matanya bertemu pandang dengan mata Seokmin. Kebenciannya mulai muncul dan kalau saja bisa Soonyoung ingin sekali menggendong Chan dan membawanya pergi dari cafe. Tapi akan menyusahkannya karena Chan tidak suka jika acara makannya diganggu.
"Cepat habiskan, Chan / Paman ambilkan lagi, Chan."
Soonyoung melotot pada Seokmin yang sudah seenaknya saja menggendong Chan dan menuju konter untuk membeli secup es krim lagi. Tapi bocah itu terlihat nyaman dan memeluk leher Seokmin. Caranya sama seperti saat memeluk lehernya. Chan tidak pernah memeluk leher orang-orang yang menggendongnya kecuali pada Soonyoung sendiri. Soonyoung tahu kalau secara naluriah Chan bisa merasakan aura keayahan Seokmin. Ayah kandungnya yang tidak diketahuinya.
"Chan.."
"Ya, Paman?"
"Chan tahu siapa ayah Chan?" tanya Seokmin sambil menatap Chan yang mengerjap dengan imutnya.
"Eomma bilang Chan tidak punya ayah." jawab bocah itu polos.
"Begitu?"
Bocah itu mengangguk dan mengambil cup es krimnya dengan mata berbinar. Seokmin membayarnya dan kembali ketempat duduknya. Memangku Chan yang meraih sendoknya dan memulai acara makannya. Soonyoung terlihat tidak nyaman ketika melihatnya. Wajahnya pucat dan gelisah. Seokmin ingin sekali menyentuh lagi pipi Soonyoung seperti dulu.
"Kau sedang sakit kan? Ayo, kuantar ke rumah sakit." kata Seokmin sambil memandang Soonyoung dengan khawatir.
"Jangan khawatir. Aku hanya kelelahan saja."
"Aku akan tetap mengantarmu ke rumah sakit setelah ini."
"Tidak perlu, Seokmin-ssi."
"Berhenti memanggilku dengan bahasa formal seperti itu, Soonyoung. Aku suamimu."
Soonyoung berdiri dan menggendong Chan. Membawa kantung belanjaannya dan membungkukkan tubuhnya pada Seokmin. Tidak peduli dengan Chan yang akan mengamuk di jalan karena es krimnya belum habis. Ia hanya ingin menjauh dari Seokmin dengan segera.
"Terima kasih atas semuanya. Kami harus pulang."
.
.
"Eomma?"
Soonyoung sedang sibuk membuat adonan biskuit ketika tiba-tiba Chan sudah ada di sampingnya dan menarik ujung celananya. Bergelayut manja seperti biasa jika Soonyoung mulai sibuk dengan kegiatannya. Bocah itu tidak suka jika ibunya terlalu mengabaikannya seperti ini. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan bocah itu adalah memeluk kaki ibunya dan menempel dengan erat seperti koala.
"Eomma sedang membuat biskuit coklat Tuan Beruang, Channie. Tunggu di sana saja." kata Soonyoung sambil mengaduk adonan dengan tangannya.
"Tidak mau, Eomma~"
"Sebentar saja. Nanti kalau sudah selesai Eomma temani bermain."
"Chan ingin main dengan Appa. Appa di mana?"
Soonyoung menghentikan aktivitasnya. Chan tidak pernah bertanya tentang ayahnya. Pemuda itu sudah mengatakan berulang kali pada bocah manis itu kalau di keluarga mereka hanya ada mereka berdua. Tidak ada ayah dan Chan tidak pernah membantah dan menanyakannya lagi. Itulah mengapa bocah itu selalu bermain seorang diri. Karena ia tidak memiliki ayah dan teman-teman sepermainannya selalu mengoloknya. Soonyoung merendahkan dirinya dan mencium puncak kepala anaknya.
"Appa tidak ada, Channie. Hanya ada Chan dan Eomma." kata Soonyoung.
"Kenapa? Kenapa Appa tidak ada?"
"Appa tidak menyukai kita. Jadi Chan tidak boleh bertanya tentang Appa lagi."
"Tapi kenapa, Eomma? Kenapa Appa tidak suka dengan kita?"
Entah sudah berapa kali Soonyoung menghela napasnya hari itu. Ia berdiri untuk membersihkan tangannya yang kotor oleh adonan biskuit lalu menggendong Chan yang dengan segera melingkarkan tangannya dengan manja. Bocah itu mencium pipi ibunya dan memeluk leher pemuda itu dengan erat. Menyamankan diri di gendongan Soonyoung memang sudah menjadi kebiasaannya.
"Eomma.."
"Hmm.. Ada apa?"
"Chan ingin bertemu Appa."
'Kau sudah pernah bertemu dengan Appa, Channie.'
"Chan ingin digendong Appa."
'Sudah pernah digendong Appa juga.'
"Chan juga ingin dicium Appa seperti teman-teman."
'Maafkan Eomma, Chan. Eomma tidak ingin seperti dulu lagi.'
"Chan mengantuk.."
Pemuda itu menepuk punggung Chan dengan lembut dan mengantarkan anak itu menuju alam mimpi. Mendengar suara napas yang teratur menggerakkan kaki Soonyoung menuju kamar. Tersenyum saat bocah 4 tahun itu membenamkan wajahnya diperpotongan lehernya. Sampai di kamar, Soonyoung membaringkan tubuh kecil anak itu dan meletakkan dua guling di sisi-sisi tubuhnya. Tidak lupa pula menyelimutinya dan mengecup pipi buah hatinya.
"Eomma tidak bisa membawa Chan kepada Appa tapi Chan.. kalau memang itu mimpimu - untuk bertemu dengan Appa - maka Eomma akan mewujudkannya."
.
.
Seokmin memandang keluar jendela dengan pandangan kosong. Masih ingat dengan waktu manisnya yang terlewati tadi. Berjalan bersama dengan Soonyoung dan Chan. Walaupun bukan sebagai sebuah keluarga yang utuh. Tapi ia sudah sangat senang. Setidaknya ia sudah terlihat seperti sebuah keluarga yang sedang menghabiskan waktu bersama. Saat masih terlintas di benaknya suara ponselnya yang nyaring menghentikan semuanya.
"Ya?"
'Aku memberimu kesempatan. Hanya satu kali kesempatan.'
"Soonyoung?!"
'Kita bicarakan besok. Aku harus mengurus bekal Chan untuk besok. Aku akan memberitahu tempatnya nanti. Selamat malam.'
Seokmin tidak ingin sambungannya terputus tapi Soonyoung sudah terlebih dahulu memutus sambungan teleponnya. Tapi bahagia dengan kata-kata Soonyoung barusan. Tentang Soonyoung membuka kembali hatinya. Membiarkannya untuk bisa memiliki pemuda cantiknya itu. Istrinya akan segera kembali padanya. Seokmin menyalakan ponselnya. Menunggu pesan dari Soonyoung. Tapi setelah sekian lama menunggu pesan yang dijanjikan Soonyoung tidak juga datang. Matanya sudah hampir terpejam saat tiba-tiba ponselnya bergetar dan berpendar di depan wajahnya. Pesan yang ditunggunya datang!
Kwon Soonyoung
00.12 AM
Besok. Di cafe Precious Marriota. Jam 4 sore.
.
.
Seokmin sibuk mematut dirinya di depan cermin. Bertemu dengan Soonyoung berdua sama saja dengan kencan menurutnya. Ia harus tampil dengan menawan sehingga Soonyoung tidak akan berpaling darinya. Diam-diam Seokmin terkekeh geli. Tingkahnya sama seperti anak SMA yang sedang kasmaran dan bingung dengan acara kencan pertamanya. Padahal umurnya sudah 31 tahun.
Manik matanya melirik jam yang tergantung di dinding. Masih pukul 03.30 PM tapi ia sudah siap. Memakai pakaian santai namun tetap menambah aura ketampanannya. Seokmin meneliti penampilannya sekali lagi. Celana jeans, kaos putih polos, dan cardigan hitam yang nyaman. Lumayan. Karena ia tidak terlihat seperti pria paruh baya lainnya. Ia malah masih terlihat seperti anak sekolahan jika berpenampilan seperti itu. Kepalanya membayangkan penampilan Soonyoung. Pasti pemuda itu akan tetap terlihat manis seperti biasanya. Seokmin meraih kunci mobilnya dan keluar dari kamar. Ia menempati kamar yang dulu ditempati oleh Soonyoung.
Sebelum masuk ke dalam mobilnya Seokmin menyempatkan diri untuk melihat penampilannya lagi. Tersenyum dan menjalankan mobilnya menuju cafe. Datang lebih awal mungkin lebih baik ketimbang membiarkan Soonyoung duduk lama karena menunggunya. Ia rela menunggu Soonyoung jika pemuda itu terlambat. Berjanji dalam hati kalau ia akan menjemput Soonyoung kalau pemuda cantik itu lupa dengan janji mereka.
.
.
Pakaian-pakaian berserakan di atas kasur. Soonyoung menggeram sebal dan kembali mengacak isi lemarinya. Tidak menemukan pakaian yang pantas hanya untuk sebuah acara bertemunya dengan Seokmin. Soonyoung tidak mengerti mengapa dadanya berdebar-debar saat ini. Membayangkan akan pergi berdua saja dengan Seokmin membuat fantasinya menjadi liar. Pemuda itu memukul kepalanya pelan. Berusaha menghilangkan bayangan-bayangan aneh yang berkelebat di otaknya. Soonyoung buru-buru berpakaian saat matanya melihat jam digital yang ada di meja. Sudah hampir pukul 4 sore dan dia belum siap sama sekali.
Merapikan rambut coklat gelapnya dan menyambar mantelnya yang tergantung di belakang pintu kamarnya. Dengan langkah tergesa Soonyoung keluar dari apartemen Mingyu dan Wonwoo yang sepi karena kedua sahabatnya itu sedang pergi ke Lotte World dengan putranya. Kakinya membawanya berlari menuju cafe yang dulu sering dikunjunginya sepulang sekolah dengan kedua temannya. Sesekali ia akan melihat jam tangannya. Waktu berlalu begitu cepat karena tidak terasa Soonyoung terlambat 25 menit lamanya.
Saat masuk ke dalam cafe Soonyoung bisa langsung menemukan Seokmin yang sedang duduk di sudut dan sedang memandang keluar jendela. Soonyoung menetralisir nafasnya saat matanya menatap Seokmin yang terlihat sangat-sangat tampan di matanya. Pemuda itu lupa cara bernapas saat Seokmin menoleh dan mata mereka saling bertemu. Seokmin tersenyum dengan sangat menawannya hingga membuat Soonyoung bisa pingsan kapan saja. Setelah bisa menguasai dirinya Soonyoung berjalan menuju meja yang ditempati Seokmin dan duduk di hadapan pria itu.
"Maaf. Aku tertidur tadi." bohong Soonyoung sambil melepas mantelnya.
"Tahu begitu aku menjemputmu saja tadi." kata Seokmin sambil tersenyum. "Kau ingin memesan apa? Akan kupesankan."
"Samakan saja denganmu. Aku agak plin-plan jika memesan."
"Baiklah."
Seokmin berdiri meninggalkannya untuk memesan dan Soonyoung mengipasi wajahnya yang terasa panas. Padahal AC di cafe itu tadi terasa dingin tapi entah kenapa hawanya berubah panas saat matanya dan Seokmin saling bertubrukan. Belum lagi napasnya yang terasa sulit dikontrol saat melihat penampilan Seokmin yang terlampau tampan. Seokmin kembali dengan dua gelas plastik Rainbow Splash Squash di tangannya. Menyodorkan salah satunya pada Soonyoung dan kembali duduk.
"Terima kasih."
"Sama-sama." Seokmin menyamankan duduknya. "Jadi.. Kau akan kembali kan, Soonyoung?"
"Aku tidak akan kembali tapi - "
"Kau bilang akan memberiku kesempatan kan? Jadi jangan menolakku lagi seperti ini. Aku ingin memulainya dari awal denganmu."
"Kumohon dengarkan aku dulu, Seokmin-ssi." Soonyoung menatap Seokmin walau sebenarnya tidak sanggup. "Aku memberi kesempatan padamu untuk dekat dengan Chan. Dekat sebagai ayah dan anak. Agar kalian bisa berkomunikasi seperti selayaknya. Kau bisa membawanya ke Seoul jika kau ingin membawanya tapi kau harus tetap harus mengantarkannya padaku setelahnya. Jika dia sudah mulai sekolah maka aku akan mengizinkan dia ikut denganmu saat liburan dan kau harus mengantarkannya padaku lagi saat liburannya sudah berakhir. Aku sudah memikirkannya matang-matang jadi jangan ubah apapun yang tadi kukatakan."
"Kenapa aku hanya bisa dekat dan membawa Chan saja? Kenapa aku tidak bisa dekat dan membawamu juga?"
"Karena.. Karena aku membencimu."
"Kalau kau membenciku kenapa kau memberiku sebuah kesempatan lagi?"
"Aku tidak ingin kau anggap egois lagi."
"Kau masih tetap egois."
Soonyoung terdiam mendengarnya hingga tidak sadar kalau wajah Seokmin sudah ada di depan wajahnya. Mata indahnya membulat saat mendongak dan tangan Seokmin menangkup pipinya. Lalu bibir mereka bertemu. Soonyoung kaku dan Seokmin melumat bibir manis itu. Bibir manis yang selalu dirindukannya selama lima tahun belakangan. Tidak ada nafsu karena Seokmin melakukannya dengan penuh cinta. Seokmin melepaskan ciuman mereka dan duduk kembali di tempat duduknya sedangkan Soonyoung masih linglung.
.
.
To be continued
Halo, saya Sour. Penulis fanfic ini. Review kalian sangat mendukung^^. Padahal saya masih terbilang baru - menjadi penulis ff sejak tahun 2015 lalu - dan belum bisa disamakan dengan senpai-senpai yang lainnya. Saya tidak mengharapkan yang berlebihan tapi saya adalah seorang review freak. Karena dari review kalian saya menjadi bersemangat untuk membuat fanfic baru. Mencoba karekter dan cerita yang baru. Yang berbeda. Karena saya ingin menunjukkan beberapa cerita yang mungkin belum pernah kita jangkau.
Hmm.. Jika kalian membaca fanfic saya maka kalian akan tahu jika semuanya berujung pada pernikahan. Kenapa? Karena akhir-akhir ini saya menjadi ingin menikah padahal saya menjomblo. Tidak juga. Saya berpacaran dengan gadget, kasur, guling, bantal, dan dunia saya. Saya frustasi dengan beberapa keadaan. Walaupun saya suka sekali dengan reviw tapi jika menyakitkan bagi saya tetap saja membuat saya down seketika. Sulit untuk menguatkan hati lagi. Sulit untuk mulai menulis lagi. Sulit untuk dilupakan. Sulit untuk segalanya.
Jadi saya memohon dengan sangat jika kalian ingin mengkritik saya kalian bisa mengirim PM saja tapi gunakan bahasa yang baik. Lalu saya akan membalasnya. Jujur saya masih terus teringat pada review itu. Karena saya masih baru saya juga sering goyah. Saya perempuan dan sensitif jika disentil dengan review seperti itu. Ya ya ya saya tahu karena saya tidak sempurna. Lagipula saya juga belum pernah mengalami apa yang dialami para tokoh saya dan hanya mengira-ngira. Terkadang sebagai manusia yang bisa bodoh kapan saja saya rasa bisa melakukan kesalahan kapanpun kan? Jika ada yang merasa dengan ini saya mohon pada anda untuk mengoreksi kembali kata-kata menusuk nan menyakitkan anda.
Ah.. Saya terlalu banyak bercerita. Saya akan menambah target review menjadi 30+. Cukuplah saya mengakhirinya.
.
Salam cinta dari Sour N Bitter.
