Keduanya masih sama-sama diam. Soonyoung meraih minumannya dan menyedotnya dengan tergesa. Akibatnya air yang seharusnya masuk ke kerongkongannya menjadi masuk ke tenggorokannya. Terang membuat Soonyoung terbatuk dan dengan sigap Seokmin berdiri di samping Soonyoung. Menepuk punggungnya dengan lembut.

"Terima kasih." ucap Soonyoung saat itu bisa bernapas dengan baik lagi.

"Sama-sama." Seokmin tersenyum. "Kau ini lucu sekali. Kau gugup?"

"T-tidak! Untuk apa aku gugup?"

"Bicaramu terbata-bata. Itu tandanya kau gugup, Lee Soonyoung."

"Jangan mengganti margaku! Namaku masih tetap Kwon Soonyoung!"

"Kenapa? Kita sudah menikah dan aku berhak mengganti margamu dengan margaku."

Seokmin mendekatkan wajahnya pada Soonyoung lagi sehingga pemuda itu memundurkan kepalanya ke belakang karena terkejut. Soonyoung mengerjapkan matanya dengan imut dan Seokmin tidak tahan untuk tidak mengecup bibir itu lagi. Jadi meskipun Soonyoung memundurkan wajahnya Seokmin tetap maju dan mengecup bibir itu lagi. Tidak hanya mengecup namun melumatnya pelan. Hanya sebentar dan Seokmin kembali duduk di tempatnya.

Entah sadar atau tidak Soonyoung menyentuh bibirnya sendiri. Ia masih bisa merasakan bekas ciuman Seokmin. Seolah bibir pria itu masih ada di atas bibirnya.

"Kau kenapa?" tanya Seokmin saat melihat Soonyoung yang terlihat melamun.

"A-apa?" Soonyoung mengerjapkan matanya dan menatap Seokmin.

"Kau melamun. Atau jangan-jangan kau ingin kucium lagi?"

Wajah Soonyoung kembali memerah. Entahlah.. Kata-kata Seokmin membuatnya malu. Padahal pemuda manis itu mengikrarkan dirinya telah membenci Seokmin tapi ia masih saja memerah jika mendengar kata-kata Seokmin.

.

.

Don't Hate Me

.

.

Kwon Soonyoung

Lee Seokmin

Lee Chan

Kim Mingyu

Jeon Wonwoo

Etc

.

.

Soonyoug tidak melihat adanya cinta sedikitpun di mata Seokmin untuknya. Bisakah Soonyoung hidup tanpa adanya cinta?

.

.

WARN!

Baca part Q&A di akhir cerita!

.

.

Soonyoung mengerucutkan bibirnya saat Seokmin menarik lengannya menuju mobil. Seokmin hanya bisa tersenyum geli melihat wajah istrinya yang masih seperti anak kecil. Pria itu membukakan pintu dan Soonyoung masuk dengan bersungut-sungut tidak suka.

"Kau ini.. Kau benar-benar ingin kucium lagi, Lee Soonyoung?" goda Seokmin sambil menyalakan mobilnya.

"A-apa?!" Soonyoung mendelik. "Siapa juga yang mau dicium olehmu?!"

"Tentu saja kau, Lee Soonyoung. Istriku yang manis dan cantik."

Sungguh, Soonyoung rasa pipinya memerah karena terbakar rasa malu. Pemuda itu memalingkan wajahnya dan mendengar suara tawa renyah Seokmin menyapa pendengarannya. Soonyoung mengipasi wajahnya dengan lipatan koran yang ada di dashboard. Keadaan itu membuat Soonyoung gerah sama halnya dengan Seokmin.

"Kau ingin jalan-jalan atau ingin kuantar pulang?"

"Pulang saja. Pasti Chan sudah pulang. Aku belum membuatkan makan malam untuk mereka." Soonyoung melirik Seokmin yang terfokus pada jalanan. "Kau ingin makan malam bersama juga?"

.

.

Awalnya Seokmin memang berniat mengantarkan Soonyoung kembali ke apartemen tapi entahlah karena sekarang keduanya sudah ada di dalam sebuah kamar hotel dengan bibir saling berpagutan. Seokmin memeluk pinggang Soonyoung dengan posesif dan mendorong pemuda manis itu hingga terjatuh di atas ranjang. Masih dengan ciuman penuh nafsu yang menguasai keduanya.

Tangan Seokmin menerobos masuk ke dalam pakaian yang dipakai Soonyoung. Meraba seluruh permukaan kulit lembut itu dan menemukan tonjolan kecil yang menegang. Mencubit dan menariknya pelan. Soonyoung melenguh dan Seokmin melepaskan ciumannya hingga benang saliva tercipta. Seokmin menatap mata sayu Soonyoung yang menggairahkan dan cepat-cepat melepas cardigan dan kaos yang dipakainya.

Soonyoung memerah melihat tubuh berotot Seokmin. Ia memalingkan wajahnya. Seokmin tersenyum miring dan mengecup bibir bengkak Soonyoung.

"Ingin membuka pakaianmu sendiri atau aku yang membukanya, Lee Soonyoung?" goda Seokmin sambil menyentuh wajah Soonyoung yang panas.

"N-namaku Kwon Soonyoung!" kata Soonyoung gugup.

Pikiran dan tubuhnya tidak sejalan. Pikirannya menyuruh Soonyoung untuk pergi tapi tangannya malah melepas sweater kuningnya lalu melepas kancing kemeja putih dari tubuhnya dengan gerakan yang terlihat sensual di mata Seokmin. Sembari menunggu Soonyoung selesai, Seokmin melesakkan wajahnya di leher wangi Soonyoung dan membuat banyak bercak kemerahan. Soonyoung menggigit bibirnya karena gigitan-gigitan yang dilakukan Seokmin terlalu memabukkan. Tangannya berulang kali kehilangan kontrol hingga tidak bisa membuka kancing kemeja terakhirnya.

"Kenapa kau tidak melepas semuanya?"

"K-kenapa? K-kau juga tidak melepas semuanya."

Seokmin tertawa dalam hati. Ia membuka gesper celana jeans yang dipakai Soonyoung dan melepaskannya dengan perlahan. Menggoda pemuda cantik itu. Tangannya bergerak menyingkirkan kain terakhir yang melekat ditubuh mulus Soonyoung dan berdecak kagum. Soonyoung terlalu cantik di matanya. Pemuda di bawahnya itu terlihat gugup dan pasrah seperti dulu. Bedanya dulu Soonyoung akan menangis saat sudah ditelanjangi olehnya namun sekarang Soonyoung malah sama terangsangnya.

"Jadi, Cantik.. Kau ingin diam saja atau ikut bersenang-senang?" Seokmin memeluk pinggang Soonyoung dan mengecupi bibirnya.

"M-maksudmu?"

"Astaga.. Kau sudah menjadi seorang ibu dan tidak tahu apa-apa hmm? Kau tidak pernah menonton blue film, ya? Astaga! Kau polos sekali!" Ingin rasanya ia tertawa saat melihat Soonyoung menggeleng dengan malu-malu. "Tenang saja. Aku akan mengajarimu."

Seokmin melepas pelukannya di pinggang ramping Soonyoung dan melucuti pakaiannya. Ia bisa melihat kalau Soonyoung menahan napasnya saat melihatnya sama polosnya dengan keadaan pemuda itu. Soonyoung terlalu polos untuk ukuran seorang ibu. Tapi dengan begitu Seokmin merasa senang karena istri tercintanya itu tidak akan berselingkuh.

Soonyoung menelan salivanya dengan kasar saat Seokmin melebarkan pahanya dan menatapnya dengan buas. Sungguh! Soonyoung memang menginginkan sentuhan lebih dari Seokmin. Soonyoung mengalungkan tangannya saat Seokmin melumat bibirnya lagi lalu balas melumat bibir pria di atasnya. Seokmin terlalu lihai dan Soonyoung hanya bisa pasrah saat lidahnya dibelit oleh lidah Seokmin. Tidak bisa mengimbangi permainan yang dimulai oleh Seokmin. Yang bisa dilakukannya saat ini hanya melenguh dan menerima perlakuan Seokmin. Seokmin melepaskan ciumannya saat Soonyoung mendorong dadanya. Kehabisan napas.

"Kau harus membukanya jika menginginkannya, Sayang."

Soonyoung bergidik geli saat Seokmin mengulum telinganya. Soonyoung memalingkan wajahnya lagi saat sadar kalau Seokmin benar-benar polos. Walaupun ia akan mencuri pandang ke daerah privasi milik Seokmin yang terkekeh.

"Kau polos sekali." kata Seokmin sambil membelai pipinya. "Tapi dengan begitu kau tidak akan bermain dengan laki-laki lain di belakangku."

Soonyoung rasa wajahnya panas sekarang. Lalu Soonyoung berjengit saat merasakan lubang belakangnya dimasuki sesuatu. Satu jari dan bertambah menjadi dua saat pemuda itu terlihat cukup nyaman dengan jari Seokmin yang mengganjal. Seokmin menggerakkan jarinya dengan gerakan menggunting. Melebarkan lubang sempit itu untuk sesuatu yang lebih besar lagi.

"Aaah.. Mmh.." Soonyoung mencengkeram pundak Seokmin saat jari panjang itu mengoyak lubangnya.

"Kau menyukainya kan?" tanya Seokmin seraya mengeluarkan jarinya dan mempersiapkan miliknya yang sudah tegang di depan lubang anal Soonyoung. "Kalau sakit kau bisa melampiaskannya padaku. Aku akan bermain dengan lembut dan pelan. Jadi, santai saja."

Usai mengucapkan itu Seokmin menekan kejantanannya masuk dan Soonyoung berteriak kesakitan. Sudah lima tahun sejak Soonyoung tidak lagi dijamah seperti sekarang. Lubangnya seperti dirobek paksa. Pemuda itu memeluk Seokmin dengan erat dan meraih bibir Seokmin. Melumatnya dengan gerakan berantakan untuk menyalurkan rasa sakitnya.

Berbeda dengan Seokmin yang ingin cepat-cepat menumbuk titik manis pemuda di bawah kungkungannya itu. Agar bisa mendengar suara seksi Soonyoung yang meminta lebih. Ia menunggu hingga Soonyoung tenang. Dirasa cukup Seokmin menggerakkan pinggulnya. Menusuk lubang ketat itu dengan lembut. Ciuman mereka terputus dan Seokmin membuat banyak tanda kepemilikan di tubuh yang hanya bisa dimilikinya.

"Eeeh.. B-bisa lebih dalam lagi?"

Seokmin menyeringai. Ia menusuk lubang itu lebih dalam lagi. Tidak lagi melakukan gerakan lembut seperti tadi. Ucapan Soonyoung terdengar seperti kode untuk melakukan lebih. Jadilah Seokmin menggenjot anal Soonyoung dengan cepat.

"Aaaah.. D-di sanaah.. Aah.. Lebih cepat lagi.."

Gerakan Seokmin semakin tidak terkontrol. Desahan-desahan keluar dari bibir Soonyoung dan Seokmin menggeram karena terangsang. Menyodok lebih cepat namun tidak sekasar seks pertama mereka. Soonyoung meremas-remas rambut Seokmin dengan mata terpejam. Bibirnya terus mendesah dan melenguh. Seks paling baik yang pernah dilakukannya. Melingkarkan kakinya di pinggang Seokmin seolah menarik pria itu menjamahnya lebih jauh.

"Kau tahu.. Kau seksi.. Sekali.. Lee.. Mmh.. Soonyoung.."

"Uuuh.. A-aku sampai.. A-aaah.."

Soonyoung meraih kenikmatannya pertama kali dan mengotori perut berotot Seokmin. Ia mengatur napasnya dan bisa merasakan Seokmin kembali bergerak. Mengantarkannya pada dunia yang benar-benar membuatnya melayang. Apalagi saat Seokmin meraih telapak tangannya dan menautkan jari-jari mereka. Meletakkan telapak tangan mereka yang bertautan di samping kepala Soonyoung yang pening karena Seokmin menyundul titik manisnya berulang kali.

Tidak lama setelahnya Soonyoung kembali mendapat orgasmenya yang kedua sedangkan Seokmin masih belum juga sampai. Pria itu malah sedang sibuk menyusu di putingnya. Sesekali menjilat dan menggigitnya hingga Soonyoung kegelian.

"Kenapa kau kuat sekali?" tanya Soonyoung sambil menetralisir napasnya.

Seokmin hanya bergumam. Bergerak lagi namun lebih cepat dari sebelumnya hingga tubuh kecil Soonyoung terlonjak-lonjak di atas ranjang. Bibir mereka berpagutan lagi. Seokmin masih mendominasi dan meremas telapak tangan Soonyoung dengan kuat. Ia hampir sampai. Soonyoung merapatkan lubang analnya saat kejantanan Seokmin membesar di dalamnya. Menghisap kejantanan itu masuk lebih dalam dan Seokmin sampai bersamaan dengan Soonyoung. Bibir mereka masih bertautan namun diputus oleh Seokmin karena Soonyoung terlihat kehabisan napas.

"Ini seks terbaik, Lee Soonyoung. Aku selalu berharap bisa melakukan seks dengan istriku lagi. Sepertinya kali ini menjadi kenyataan." Seokmin mencium ujung hidung Soonyoung.

"K-keluarkan."

"Tidak mau. Kau belum boleh pulang."

"A-apa? Nanti Chan mencariku."

"Tidak. Aku tidak akan membiarkan kau pergi sebelum permainan kita selesai. Sudah lama kau tidak memberikan hal yang seharusnya dilakukan seorang istri pada suaminya."

"M-maksudmu?"

Seokmin menyeringai dan menyodok lubang Soonyoung yang tepat sekali mengenai titik manis pemuda itu. Soonyoung mendesah. "Seperti itu. Melayaniku adalah tanggung jawabmu. Jadi layani suamimu yang tampan ini, Lee Soonyoung yang cantik."

.

.

Seokmin tersenyum saat menatap wajah Soonyoung untuk memulai harinya. Pemuda cantik itu masih terlelap dengan bibir mungilnya yang sedikit terbuka. Seokmin mencuri secuap ciuman dari bibir manis itu. Hanya sebentar karena tidak ingin membangunkan Soonyoung. Mereka baru saja menyelesaikan belasan ronde pukul 01.30 AM. Soonyoung menggerutu saat Seokmin akan melanjutkan permainan mereka dan permainan mereka berakhir dengan ciuman panas.

Mata Seokmin beralih menuju tangan kanannya yang masih bertautan dengan tangan Soonyoung. Mengangkat tangannya dan tangan Soonyoung. Melihat betapa kecilnya tangan Soonyoung jika dikaitkan di antara jarinya. Lengannya memjadi bantal nyaman untuk Soonyoung. Seokmin menarik Soonyoung lebih dekat dan memeluk tubuh mungil pemuda itu.

Baru saja pemuda itu akan memejamkan matanya lagi suara ponsel Soonyoung menghentikannya. Dengan berat hati Seokmin melepaskan tautan tangannya dan meraih ponsel Soonyoung di meja. Menjawabnya dengan tidak sabaran lalu menempelkan ke telinganya.

"Halo?"

'Eomma!'

Seokmin mengerutkan keningnya saat mendengar suara serak Chan di seberang sana. Anaknya terdengar parau seperti sudah menangis terlalu lama.

"Chan? Kenapa menangis?"

Dari tempatnya sekarang Seokmin tahu kalau anak itu memekik dengan keras dan menangis hingga napasnya terdengar putus-putus. Sepertinya ponsel itu diambil alih oleh teman Soonyoung.

'Soonyoung? Kau di mana? Kami tidak bisa menenangkan Chan. Dia menangis sejak pulang dari Lotte World karena tidak menemukanmu di apartemen. Cepat pulang. Dia belum tidur sejak kemarin. Sungguh. Bahkan tidak mau mendekatiku dan Mingyu.'

"Aku akan mengantarnya pulang setelah ini." Seokmin jadi merasa bersalah pada anaknya. "Aku akan membangunkannya."

Lalu setelahnya Seokmin memutus sambungan telpon itu. Meletakkannya kembali di meja dan mengelus pipi tembam Soonyoung. Sebenarnya Seokmin masih ingin berlama-lama dengan Soonyoung tapi ingat kalau dia tidak boleh egois. Masih ada anaknya yang membutuhkan Soonyoung sekarang.

"Hei.. Bangun." kata Seokmin seraya mengecup bibir manis Soonyoung. "Chan mencarimu."

Soonyoung menggeliat dan merapatkan tubuh mereka. Ia masih lelah dan masih ingin memejamkan matanya lebih lama lagi. Masih merasa nyaman berada di pelukan hangat Seokmin yang mengusap punggungnya.

"Dia menangis semalaman. Ayo, kau harus pulang."

Pemuda itu mengerang malas namun tetap membuka matanya. Kemudian ia mendudukkan dirinya. Tubuh bagian belakangnya masih sakit tapi ia memaksakan diri untuk berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Meninggalkan Seokmin yang menatap tubuh polosnya.

"Tidak mengajakku mandi juga? Mandi bersama?" Seokmin tersenyum jahil.

Soonyoung mendelik dan meraih dua bantal sofa lalu melemparkannya pada Seokmin.

"Mati saja kau!"

Lalu pintu kamar mandi terbanting meninggalkan Seokmin yang tertawa puas.

.

.

"Eomma! Eomma.. Chan.."

Chan berlari menuju Soonyoung yang baru saja masuk ke dalam apartemen diikuti dengan Seokmin. Bocah itu menubruk tubuh ibunya yang berlutut dengan tangan terentang dan menangis sejadi-jadinya. Anak itu merindukan ibunya. Ia memeluk leher Soonyoung dengan erat saat Soonyoung balas memeluk tubuh Channya yang bergetar. Bocah itu membenamkan wajahnya di leher ibunya. Menangis tersedu-sedu dengan sesekali memukul dada Soonyoung. Takut kehilangan ibunya.

Seokmin mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Chan. Berusaha menenangkan bocah itu dengan sentuhan tangannya yang mungkin tidak dikenali bocah itu. Tapi kemudian bocah itu berhenti menangis dan menatap Seokmin dengan mata yang basah.

"Paman Min.."

Chan tiba-tiba mengulurkan tangannya pada Seokmin. Pria itu tergagap. Soonyoung berbalik dan mengangsurkan Chan kepada Seokmin yang masih linglung.

"Gendong saja. Kau memiliki hak untuk menggendong anakmu." kata Soonyoung dengan senyumnya dan juga matanya yang menyipit serta mampu menyihir Seokmin untuk semakin mencintainya.

"T-tapi.."

Soonyoung menghela napasnya. "Kau Appanya. Aku tidak akan memintamu menjauhi kami lagi."

"Kenapa?"

"Aku.. Aku tidak bisa menghapus perasaanku padamu. Aku memang membencimu tapi ada satu sisi dari diriku yang lain yang tidak bisa melepaskanmu begitu saja." lalu Soonyoung menatap Chan. "Chan.. Chan ingin bertemu dengan Appa?"

Bocah digendongannya mengangguk antusias.

"Paman Min. Appa Chan Paman Min."

Chan kembali menatap Seokmin. "Appa.. Appa Chan!"

Seokmin mengambil alih Chan dari gendongan Soonyoung. Memeluk anaknya dan menciumi pipinya. Semuanya terasa bagai mimpi bagi Seokmin. Ia hampir saja menyerah saat kemarin Soonyoung mengatakan hanya bisa menemui Chan tanpa membawa ibu anaknya. Air mata bahagia mengalir melewati pipinya. Sedangkan Mingyu dan Wonwoo memilih untuk membiarkan keluarga kecil itu kembali bersatu. Mereka masuk ke kamar masing-masing dan berdiam diri.

"Kau akan kembali padaku kan?" tanya Seokmin.

"Aku tidak bisa menolaknya. Chan juga membutuhkanmu."

Seokmin maju selangkah dan memeluk tubuh istrinya. Keluarganya kembali. Keluarganya menjadi utuh lagi. Seokmin berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakan dan membohongi perasaannya lagi. Ia akan hidup bahagia lagi dengan Chan dan Soonyoung.

Soonyoung masih ragu. Ia hanya mengikuti Seokmin yang sedang menggendong Chan dan menggandeng tangannya menuju rumah mewah pria itu. Kenangan buruknya dulu berputar. Tanpa sadar pemuda manis itu menggenggam tangan Seokmin dengan erat. Seolah takut akan mengulangi masa lalunya.

Berbeda dengan Chan yang menatap rumah mewah itu dengan takjub. Mata bocah itu meneliti rumah bak istana itu dengan matanya yang berbinar lucu. Ia memeluk leher ayahnya erat. Awalnya berniat membenamkan wajahnya karena mengantuk tapi melihat rumah besar itu membuatnya tertarik.

"Istana?" tanyanya sambil menunjuk rumah dengan jari telunjuknya yang kecil.

Seokmin mencium pipi putranya. "Sekarang Chan tinggal di istana dengan Appa dan Eomma. Pangeran Chan!"

"Pangeran Chan!"

Ayah anak itu tertawa bahagia. Berbanding terbalik dengan Soonyoung yang memucat. Soonyoung masih belum bisa melupakan semua yang pernah dialaminya di rumah itu. Walaupun semalam ia sempat bercinta dengan Seokmin - bahkan ia sangat menikmatinya. Tiba-tiba Soonyoung menghentikan langkahnya. Seokmin berbalik dan memandang istrinya dengan bingung.

"Kenapa, Sayang?"

Soonyoung melepas gandengan tangan Seokmin di tangannya. Kakinya mundur perlahan dan mempercepat langkahnya saat Seokmin berusaha meraih tangannya. Kepalanya menggeleng kemudian pemuda itu berbalik dan berlari meninggalkan Seokmin dan Chan.

"Soonyoung!"

"Eomma?"

.

.

Soonyoung terus berlari tanpa arah. Bayangan-bayangan buruk kembali berputar di kepalanya dan membuatnya berlari semakin cepat. Tidak ingat dengan Chan yang ada digendongan Seokmin. Ia hanya ingin menjauhi rumah itu. Rumah yang menyimpan banyak kenangan buruknya. Tanpa sadar Soonyoung sampai di sekolahnya dulu. Surga yang dulu selalu dirindukannya. Dengan napas terengah ia melangkah menuju lapangan basket yang ada di belakang sekolah. Pemuda itu mendekati pohon besar yang berada di sudut sekolahnya. Tempat persembunyiannya yang bahkan Mingyu dan Wonwoo tidak akan mengetahuinya.

Pemuda sipit itu duduk bersandar dan memeluk lututnya dengan erat. Tubuhnya bergetar karena takut. Ia masih terus teringat dengan nasib buruknya di rumah itu. Selama ini mimpi buruknya di malam hari yang membuatnya sulit untuk tidur adalah mimpi saat ia berada di dalam salah satu kamar di rumah bak istana itu. Kamar yang ditempatinya sejak menikah dengan Seokmin dulu.

Tubuh Soonyoung bergetar karena takut. Menggigil karena keringat dingin yang membasahi tubuhnya. Belum lagi napasnya yang terdengar memburu. Ia benar-benar ketakutan. Ketakutan terbesarnya adalah rumah Seokmin. Meskipun Soonyoung menyukai pria itu tapi tidak dengan rumahnya. Saat bayangan Seokmin yang dulu menjamahnya untuk pertama kali membuat Soonyoung memejamkan matanya dan memeluk lututnya lebih erat.

Ponselnya bergetar. Soonyoung mengambil ponsel di saku mantelnya dan me-non aktifkan ponselnya tanpa melihat siapa yang menelponnya. Ia ingin bersembunyi dan tidak ingin ditemukan oleh siapapun. Kenangan-kenangan buruknya terputar bagai film. Soonyoung meremas rambutnya dengan keras. Berusaha menghilangkan bayangan mengerikan yang selalu menghantuinya. Air matanya turun dengan deras.

"Kwon? Kau baik-baik saja?"

Soonyoung mendongak dan mendapati Mingyu dihadapannya. Pemuda itu menghambur ke pelukan Mingyu dan memeluknya dengan sangat erat. Mingyu mengusap kepala Soonyoung pelan.

"Kenapa kau kabur?" tanya Mingyu sambil melepaskan pelukan Soonyoung dan menatap wajah sahabatnya yang basah air mata.

"Aku tidak ingin kembali ke sana, Mingyu. Bawa aku pergi. Kumohon. Aku tidak ingin kembali ke sana."

"Tapi.."

"Kumohon Mingyu! Sembunyikan aku!"

.

.

"Kalian menemukannya?" tanya Seokmin pada Mingyu dan Wonwoo.

"Tidak." jawab keduanya kompak.

Seokmin mendesah frustasi dan mengacak rambutnya sendiri. Ini sudah kali kedua Soonyoung kabur meninggalkannya. Bukan hanya dirinya! Chan juga. Seokmin tidak yakin Chan akan tahan tanpa ibunya seharian. Pria itu melirik Chan yang tidur dengan nyaman di jok belakang. Bocah itu tidur karena lelah menangis. Baru saja semalaman bocah itu menangis selang beberapa jam kemudian menangis lagi karena ibunya menghilang.

"Tidak ada yang menyembunyikannya kan?" tanya Seokmin tanpa menatap kedua sahabat istrinya.

"Tidak."

Mingyu menetralisir jantungnya yang berdetak sangat cepat. Ia tidak mungkin membocorkan di mana Soonyoung sekarang karena kondisi psikis pemuda yang terguncang seperti itu. Wonwoo melirik Mingyu. Pemuda emo itu merasa ada yang tidak beres tapi hanya diam. Ia sudah sangat mengenal watak Mingyu. Jika Mingyu terus mengepal dan mengendurkan genggamannya ada dua maksud dibaliknya. Menyembunyikan sesuatu atau memang sedang khawatir. Jadi sebenarnya Wonwoo tidak bisa menyimpulkan apa yang sedang terjadi kecuali ada Soonyoung yang selalu tepat menebak gelagat aneh Mingyu.

Seokmin menghadap pada Mingyu dan Wonwoo yang sedang mengecek ponsel masing-masing. Ia mengulurkan tangannya untuk meminta ponsel keduanya. Kedua pemuda itu menyerahkan ponsel mereka pada Seokmin yang wajahnya terlihat sangat dingin dari yang sebelumnya. Mengecek pesan dan panggilan mereka. Merasa tidak menemukan petunjuk Seokmin mengembalikannya.

"Segera beritahu aku kalau kalian menemukan Soonyoung." kata Seokmin final.

"Pasti."

"Aku pergi dulu."

Mingyu dan Wonwoo mengangguk saat Seokmin masuk ke dalam mbilnya lalu meninggalkan mereka berdua yang masih berdiri di pinggir Sungai Han yang gelap. Wonwoo menghadap pada Mingyu yang memandang ke arah Sungai Han dalam diam.

"Dimana Soonyoung?" tanya Wonwoo tiba-tiba.

"Aku juga tidak tahu." jawab Mingyu lemas.

"Jangan berbohong."

"Aku tidak berbohong, Jeon!" Mingyu menghela napasnya dengan berat. 'Nyatanya aku memang berbohong pada kalian.'

"Maafkan aku. Aku terlalu khawatir pada Soonyoung hingga aku menuduhmu yang tidak-tidak."

"Tidak apa."

"Tapi kenapa Soonyoung kabur lagi?"

"Aku juga tidak tahu."

.

.

Seokmin membelai rambut lembut Chan dengan pelan. Bocah itu tertidur dengan pulas dalam pelukannya. Padahal menurut cerita Soonyoung - sebelum menghilang - tadi, Chan tidak pernah bisa tidur dengan orang lain selain ibunya. Seolah menunjukkan kalau Chan tidak bisa lepas dari Soonyoung. Tapi dengan melihat betapa nyamannya tidur bocah itu dengannya membuat Seokmin tersenyum senang. Artinya bocah itu memang bisa merasakan aura ayahnya berada di dekatnya dan tidak bisa lepas darinya.

Tapi kemudian senyum itu sirna begitu mengingat tidak ada Soonyoung di antara mereka. Pemuda itu pergi meninggalkannya lagi. Bahkan sebelum mereka masuk ke dalam rumah. Seokmin tidak mengerti kenapa Soonyoung tiba-tiba melepaskan tangannya dan kemudian pergi. Tadi memang ia sempat terpaku sejenak sebelum akhirnya sadar dan mengejar Soonyoung yang sudah hilang entah kemana. Soonyoung berlari terlalu cepat dan ia tidak bisa menemukan istrinya.

Seokmin bangkit dari berbaringnya saat pintu kamarnya diketuk. Saat membuka pintu seorang pria tinggi berdiri di depannya lalu menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat padanya.

"Dari siapa?" tanya Seokmin pada pria tinggi itu.

"Tidak ada yang tahu, Tuan. Saya menemukannya di terselip di pintu gerbang." kata pria tinggi itu.

"Baiklah. Terima kasih."

Pria itu mengangguk dan membungkuk kepada Seokmin sebelum meninggalkan Seokmin yang meneliti surat itu. Sambil menutup pintu Seokmin membuka amplop itu dan membuka lipatan kertas yang ada di dalamnya. Wajahnya mengeras saat membaca surat itu.

"Wen Junhui." desisnya marah.

.

.

"Terima kasih, hyung."

"Ya. Apa kau sudah merasa lebih baik, Soonyoung?"

"Lumayan. Tapi aku sedikit khawatir dengan Chan. Dia tidak bisa kutinggalkan terlalu lama." kata Soonyoung dengan lemas.

"Lalu kenapa kau meninggalkannya di sana?"

"Aku tidak sadar sudah meninggalkan Chan. Aku hanya ingin pergi dan tidak ke sana lagi, hyung. Andai saja aku tidak mengenalkannya pada Chan mungkin aku tidak akan seperti ini lagi." Soonyoung menarik rambutnya frustasi dan panik. "Apa yang harus kulakukan, hyung?! Bagaimana caranya aku mengambil Chan? Bagaimana ini, hyung?!"

Pria itu memeluk Soonyoung yang terlihat panik. "Tenang Youngie.. Aku akan membantumu. Sekarang kau harus tenang."

"Bagaimana aku bisa tenang kalau anakku tidak ada di sini, hyung?! Aku harus menyusul Chan di sana sekarang. Dia pasti menangis ketakutan sekarang. Astaga!"

Satu pria manis masuk ke ruang baca dengan bingung. Usai meletakkan teko dan cangkir teh ia menatap si pemeluk dan pemuda yang ada dipelukannya.

"Soonyoung? Kenapa?" tanya pria manis itu.

Soonyoung menghambur kepelukan pria manis itu. Meninggalkan pria yang tadi memeluknya. Pria manis dengan wajah keibuan itu memeluk Soonyoung dan menepuk punggungnya dengan sayang. Seolah pria manis itu adalah ibu kedua bagi Soonyoung.

"Aku meninggalkan Chan di sana, hyung." Pemuda itu terisak pelan. "Aku tidak ingin mengulanginya. Aku tidak mau."

"Tapi dia ayahnya, Youngie. Biarkan Chan dengan Seokmin dulu." kata pria manis itu sambil mengecup puncak kepala Soonyoung.

"Benar. Cepat atau lambat kau memang harus kembali ke sana. Itu rumah kalian." sahut pria lainnya sambil menghampiri keduanya.

"Tidak! Aku tidak mau kembali ke sana!"

"Cheol-ah.. Biarkan Soonyoung tenang dulu."

"Oke oke, Joshuaku yang manis. Aku akan diam dan menonton adegan penuh drama kalian."

Joshua, pria manis itu menatap Seungcheol dengan malas. Enggan menyahuti kata-kata suaminya yang kelewat kekanakan. Pria manis itu mengembalikan fokusnya pada Soonyoung yang masih sesenggukan di pelukannya.

"Bagaimanapun kau kan istrinya, Soonyoung. Chan membutuhkan kalian berdua. Jadi, kembalilah ke sana. Lupakan semuanya. Masa lalu tidak akan terulang jika kau yakin tidak akan mengulanginya. Lagipula Seokmin terlihat sudah berubah bukan?"

"Berubah saja tidak cukup!"

"Lalu? Aku tahu kau menyukainya ah bukan. Kau mencintainya bahkan saat kalian pertama kali bertemu."

"Bukan yang pertama." Soonyoung terduduk lemas. "Aku mencintainya saat kami bertemu setelah kematian orang tuaku."

"Kalau kau mencintainya kenapa kau kabur darinya?"

"Dia memberikan kenangan buruk padaku. Sialnya kenangan buruk itu justru membuatku ketakutan. Takut kembali ke sana dan takut kehilangan dia."

.

.

To be continued

Halo! Saya Sour kembali dengan fanfic ini. Wah.. Target saya sebenarnya memang respon kalian. Saya bersyukur sekali kalian menikmati jalan ceritanya. Saya menjadi bersemangat melanjutkannya. Sebenarnya saya menargetkan untuk update setiap sebulan sekali tapi demi memuaskan kalian saya menyempitkannya menjadi 5 hari sekali untuk fanfic ini.

Ah, ya. Saya akan membuat sesi Q&A di sini.

Q : Bisa gak request?

A : Sangat bisa. Hanya saja saya butuh inspirasi mengilhami saya dulu baru bisa bikin.

Q : Sampai berapa chapterkah 'Don't Hate Me'?

A : Kemungkinan antara 5-7 chapter. Dan ini masih awal konflik.

Q : Gimana request ceritanya?

A : PM via twitter or ASKfm. Akun ASKfm bisa dilihat di bio dan untuk twitter bisa dikunjungi di zhang_kacang.

Q : SoonSeok akan bersatu?

A : Kalau itu tergantung mood saya mau dibikin angst atau happy ending. Cerita ini mengalir kalau ada inspirasi haha.

Mungkin hanya itu. Beberapa Q dari review kalian.

Target kita untuk 5 hari kedepan adalah 60+ review. Jika melewati 60 - keseluruhan review dari chapter 1 sampai 3 - maka saya akan post chapter selanjutnya.

Jadi reviewlah walau hanya sekedari 'lanjut', 'seru', dan lainnya.

Sekian.

©Sour N Bitter 2016 Present