"Aku?" Soonyoung menunjuk dirinya sendiri.

Seokmin mengangguk tapi Soonyoung hanya terkekeh. Pemuda manis itu malah menyibukkan dirinya dengan menyiapkan sarapan pagi. Chan mengulurkan tangannya untuk menggapai bubur yang ada tangah meja. Seokmin mendudukkan Chan dan mengambilkan bubur itu. Padahal sebenarnya Seokmin takut terbangun jika yang dialaminya pagi ini hanyalah mimpi semata.

"Terima kasih, Appa!" kata bocah itu penuh semangat.

"Oh, ya. Sama-sama."

Soonyoung mendudukkan dirinya di samping Seokmin. Membuat pria itu menatap Soonyoung yang menatapnya balik. Pemuda itu tersenyum dan mengambil piring yang tertangkup di depan Seokmin. Pria itu menghentikan gerakan tangan Soonyoung. Ia menggenggam telapak tangan Soonyoung yang lembut dan hangat. Seokmin meletakkan tangan itu di pipinya. Menggenggam telapak tangan itu dengan kedua tangannya dan menciuminya.

Pipi pemuda itu memerah karena malu. Ia melepaskan genggaman tangan Seokmin tapi tidak bisa. Seokmin menatapnya sendu dan menahan tangan Soonyoung. Pria itu menarik Soonyoung mendekat. Lupa jika di sana masih ada Chan yang memperhatikan mereka dengan tatapan polosnya.

"Appa? Eomma?"

Dalam hati Seokmin mengumpat anaknya. Ia sudah hampir mencium bibir manis Soonyoung kalau saja Chan tidak memanggil mereka. Tapi Seokmin juga berterima kasih pada anaknya karena jika tidak mungkin ia sudah meracuni otak polos anaknya. Soonyoung berdeham dan mengambilkan sepiring nasi untuk Seokmin.

"Aku tidak butuh sarapan." kata Seokmin, masih dengan mata menatap setiap gerak gerik Soonyoung.

"Lalu?"

"Aku hanya membutuhkanmu."

.

.

Don't Hate Me

.

.

Kwon Soonyoung

Lee Seokmin

Lee Chan

Joshua Hong

Choi Seungcheol

Wen Junhui

Seo Minghao

Jeon Wonwoo

Kim Mingyu

Other

.

.

Soonyoung tidak melihat adanya cinta sedikitpun di mata Seokmin untuknya. Bisakah Soonyoung hidup tanpa adanya cinta?

.

.

Seharian ini Seokmin tetap ada di rumah. Mengamati kegiatan Soonyoung. Membereskan peralatan makan mereka. Memandikan Chan. Memakaikan bedak dan pakaian pada anak lucu itu. Membersihkan rumah. Menanam beberapa bunga yang entah sudah ada sejak kapan. Membuat biskuit dan kue. Sekarang mereka sedang duduk berdua di halaman belakang sambil meminum teh. Mengawasi Chan yang bermain dengan mainan dan anak anjingnya tidak jauh dari mereka.

Seokmin tersenyum saat melihat Soonyoung tertawa. Baginya tidak ada yang lebih indah dibandingkan dengan Soonyoung yang sedang tersenyum sangat manis itu. Apalagi wajah berseri itu ditimpa cahaya matahari pagi yang hangat.

"Kenapa memandangiku terus?" tanya Soonyoung.

"Karena kau sangat cantik. Manis. Seperti coklat. Tapi lebih manis dirimu."

"Ah, aku tahu sekarang darimana gen pecinta coklat Chan datang. Kau suka coklat?"

"Sangat."

"Pantas saja Chan tidak bisa lepas dari coklat. Kau juga tidak suka coklat bubuk?"

"Sangat."

"Kenapa?"

"Kau ingin tahu?"

"Sangat."

Mereka berdua tertawa bersama. Seokmin sangat suka saat mata Soonyoung terlihat seperti segaris. Garis mata yang sangat lucu. Belum lagi jika bibir manis itu tertarik membentuk senyum lebar.

"Aku akan memberitahumu dengan satu syarat." kata Seokmin.

"Hmm.. Baiklah. Apa syaratnya?"

"Cium aku sejumlah kata yang aku ucapkan dalam ceritaku. Bagaimana?"

Pipi milik Soonyoung merona. Pipi putih sedikit tirus itu tersepuh rona merah muda yang sangat cantik. Seokmin tidak bisa menahan diri untuk tidak mengecup pipi itu. Tapi tidak mengecupnya karena Soonyoung mengangguk. Menyanggupi syaratnya sambil menunduk malu. Seokmin terkekeh.

"Baiklah." Seokmin mulai mengangkat satu jarinya untuk menghitung. "Semuanya berawal dari saat ibuku membeli susu bubuk. Saat itu aku masih berumur 5 tahun dan aku iseng membukanya dengan gunting. Menggunting dengan gunting tumpul milikku. Karena hanya terbuka sedikit aku menariknya hingga susu bubuk itu menjatuhi wajahku dan masuk ke dalam hidung. Saat itu aku benar-benar tidak bisa bernapas dan harus dibawa ke rumah sakit karena aku pingsan. Nah, karena itulah aku tidak suka coklat bubuk."

Seokmin menatap Soonyoung yang terlihat kebingungan dengan jarinya. Ternyata pemuda itu benar-benar menghitung jumlah kata yang diucapkannya. Soonyoung menggigit bibirnya dan menatap Seokmin yang mengangkat sebelah alisnya. Menggoda Soonyoung.

"Berapa kali?" tanya Seokmin.

"E-enampuluh sembilan."

"Genapkan."

"A-apa?!"

Seokmin menarik Soonyoung. Pemuda itu duduk dipangkuan Seokmin. Dengan tangan Seokmin yang melingkar di perutnya membuat Soonyoung tidak bisa berkutik. Apalagi saat Seokmin mengeratkan pelukannya. Ingin sekali rasanya Soonyoung melepaskan pelukan hangat dan nyaman itu tapi ia terlampau menyukainya. Jadi Soonyoung mendekatkan wajahnya pada Seokmin dengan mata tertutup. Menghapus jarak antara bibirnya dan bibir pria yang memangkunya itu.

Cup.

Satu kecupan manis dari Soonyoung membuat Seokmin mabuk. Apalagi saat bibir itu mengecupnya berkali-kali. Kecupan-kecupan kecil yang membuat baik Seokmin maupun Soonyoung lupa diri. Soonyoung benar-benar mengecupnya 69 kali. Dikecupan terakhir - untuk digenapkan sesuai permintaan Seokmin - Soonyoung mengawali ciuman - bukan kecupan lagi. Bibir berpagutan dan tangan yang melingkar di leher Seokmin menghasilkan suara khas yang menarik perhatian Chan dan anjingnya.

Anjing kecil itu berlari mendekati Seokmin dan Soonyoung lalu menggonggong di dekat keduanya yang masih berciuman. Gonggongan itu mengundang tawa dan tepukan dari si kecil Chan. Soonyoung melepaskan ciuman itu hingga benang saliva tercipta. Seokmin menyekanya dan mencuri sebuah kecupan. Dihadiahi dengan cubitan kecil menyakitkan di pinggangnya.

.

.

Wonwoo melirik Mingyu yang sedang menyetir. Mereka sama-sama diam dan terfokus pada jalanan. Sebenarnya Wonwoo ingin memecah keheningan mereka tapi ia merasa aneh jika harus membuka percakapan. Suasana akan menjadi canggung dan akan lebih sunyi lagi sepanjang perjalanan mereka saling diam satu sama lain.

"Mingyu / Wonwoo"

"Kau duluan. / Kau duluan."

Lalu mereka berdua tertawa bersama karena ketidaksengajaan mereka. Mingyu tersenyum. Seolah mempersilahkan Wonwoo untuk bicara terlebih dulu. Wonwoo tertawa pelan dan mengangguk.

"Kau memikirkan sesuatu?" tanya Wonwoo.

"Ya."

"Soonyoung?"

"Bukan."

"Lalu?"

Mingyu terkekeh sedangkan Wonwoo memasang wajah datarnya. Salah satu tangan Mingyu terulur dan menusuk-nusuk pipi tirus Wonwoo dengan jarinya. Awalnya Wonwoo hanya diam tapi karena lama kelamaan tingkah kekanakan Mingyu semakin menyebalkan, Wonwoo menghalau tangan Mingyu dan menangkup kedua pipinya dengan tangan. Mencegah Mingyu melakukannya lagi.

Tapi Mingyu tidak kehilangan akal. Ia ganti menusuk lengan kecil Wonwoo. Gigi-gigi Wonwoo bergemeluk sebal. Ia meraih tangan Mingyu dan menggigit jari pemuda tinggi itu dengan kuat. Mingyu memekik dan mengerem mendadak.

"Astaga! Apa yang kau lakukan, Jeon?!" pekik Mingyu sambil memegangi jari telunjuknya. "Kalau jariku putus bagaimana?!"

"Aku malah berharap jarimu putus." jawab Wonwoo kalem.

Mingyu mendengus dan memalingkan wajahnya. Kembali menjalankan mobil, membiarkan Wonwoo tertawa puas melihat penderitaannya. Tapi sejahil dan sejahat apapun Wonwoo padanya Mingyu tidak membenci sahabat kecilnya itu. Selain menyukai Soonyoung, Mingyu juga menyukai Wonwoo. Meski hanya bisa sebatas teman biasa karena Mingyu harus menahan perasaannya lagi. Karena Wonwoo sudah memiliki orang yang spesial dan Mingyu tidak mungkin merusak hubungan sahabatnya.

"Jeon."

"Hmm.."

"Kau sedang jatuh cinta?"

Wonwoo menoleh dan menatap Mingyu yang juga menatapnya. Tiba-tiba pipi milik pemuda Jeon itu diwarnai oleh rona merah. Bagaimana tidak jika wajah Mingyu hanya berjarak beberapa centi di depannya. Bahkan hidung mereka hampir bersentuhan jika ia menggerakkan sedikit tubuhnya. Wonwoo melirik ke jalanan. Mereka sedang berhenti di pinggir jalan rupanya. Pantas saja Wonwoo tidak merasakan adanya pergerakan dari kendaraan roda empat itu.

"Jawab pertanyaanku, Jeon."

Pemuda putih itu mengerjapkan matanya saat hembusan napas Mingyu menerpa wajahnya. Jantungnya berdetak ribuan kali lebih cepat. Apalagi saat Mingyu semakin mempersempit jarak dan bibir mereka benar-benar bertemu. Wonwoo membatu. Manik matanya bertemu dengan manik mata Mingyu yang menatapnya dengan intens. Mingyu menarik dirinya.

"Aku mencintaimu, Jeon. Bagaimana denganmu?"

.

.

"Appa! Appa! Bolaku!" Chan berlari mengejar Seokmin yang membawa bola sepaknya.

Chan menggerakkan kaki kecilnya menuju Seokmin yang tertawa sambil membawa bolanya. Anak itu memekik tidak senang saat ayahnya bisa menghindarinya dengan gesit. Soonyoung tertawa melihat Chan yang meraih ujung kaos Seokmin dan memegangnya dengan erat. Bocah itu memeluk kaki panjang ayahnya yang berusaha melarikan diri lagi.

"Bolaku!"

"Appa pinjam dulu, Channie. Nanti Appa kembalikan lagi." Seokmin tertawa melihat wajah lucu anaknya yang merengut tidak suka.

"Eomma! Appa nakal! Bolaku!"

Sayangnya Soonyoung hanya mengendikkan bahunya sambil tersenyum. Pemuda itu tertawa saat melihat Chan sudah berancang-ancang akan menggigit kaki Seokmin. Benar saja, anak itu menggigit kaki ayahnya dan menghasilkan teriakan kesakitan dari pria itu. Soonyoung tertawa melihatnya.

"Astaga, Chan. Sakit.."

Chan menjulurkan lidahnya dan melepaskan pelukannya di kaki Seokmin. Memilih untuk menghampiri ibunya yang merentangkan tangannya. Anak itu masuk ke dalam pelukan hangat Soonyoung dan menyandarkan kepalanya di dada ibunya. Soonyoung memeluk tubuh kecil Chan dan menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Menimang Chan.

Seokmin menghampiri keduanya dengan bola milik Chan di tangannya. Salah satu tangannya mengusap kakinya yang baru saja digigit oleh Chan. Sedikit ngilu karena meskipun masih kecil gigi anak manisnya itu lumayan tajam. Mungkin giginya kalah tajam dengan gigi anak manis itu.

"Kakiku sakit sekali." adu Seokmin dan mendudukkan dirinya di samping Soonyoung.

"Salah siapa menggoda Chan?" tanya Soonyoung sambil mencubit pinggang Seokmin.

"Ya ampun. Kalian berdua ingin menyiksaku?"

"Inginnya begitu. Benar kan, Channie?" anak itu mengangguk walaupun tidak mengerti.

"Jahat sekali."

'Padahal dulu aku lebih jahat daripada kalian berdua.'

"Kami hanya bercanda."

Soonyoung tersenyum simpul namun manis.

.

.

"CHAN?! CHANNIE? KAU DI MANA, SAYANG?!"

Keesokan paginya Seokmin membuka matanya saat mendengar suara lantang Soonyoung menyapa gendang telinganya. Pria itu melirik jam digital yang ada di atas meja. Masih sangat pagi. Tapi melihat Soonyoung panik membuatnya panik juga. Seokmin mendudukkan dirinya dan mendapati Soonyoung memeriksa lemari pakaian.

"Ada apa?" tanya Seokmin sambil memijit pelipisnya.

"Chan menghilang! Bagaimana ini?!"

"Mungkin dia ada di luar kamar, Sayang."

"Pintunya masih terkunci! Bagaimana bisa dia membukanya?! Lagipula gagang pintunya terlalu tinggi untuk Chan!"

Kata-kata Soonyoung memang benar. Chan bahkan tidak bisa meraih gagang pintu meskipun berjinjit. Paling tidak anak itu hanya bisa menyentuh ujung bawah gagang pintu itu. Soonyoung mondar mandir dengan gelisah. Ia menggigiti bibir bawahnya. Seokmin bangkit dan memeluk tubuh kurus Soonyoung yang dibalas dengan pelukan hangat pemuda itu.

"B-bagaimana ini?" tanya Soonyoung dengan nada bergetar.

"Dia pasti masih ada di rumah, Sayang. Penjagaan rumah ini sangat ketat."

Soonyoung mengangguk dan Seokmin bisa merasakan kalau piyama yang dipakainya basah. Jelas sekali kalau pemuda dipelukannya itu tengah menangis. Tangan kanan Seokmin bergerak untuk mengelus punggung Soonyoung yang bergetar.

"Sekarang ayo kita cari. Dia pasti masih ada di dalam rumah ini." kata Seokmin seraya menggandeng tangan Soonyoung.

Tapi sebanyak apapun mereka memeriksa setiap ruangan dan setiap celah yang ada di dalam rumah mereka tidak juga menemukan keberadaan anak lucu itu. Soonyoung menggigiti bibirnya dan Seokmin segera menghubungi polisi. Melaporkan bahwa anaknya menghilang. Sedangkan Soonyoung sudah mulai terisak dan masih berusaha mencari keberadaan Chan. Mungkin mereka melewatkan sebuah ruangan di rumah.

"Bagaimana ini?" Soonyoung mengguncang tubuh Seokmin yang terduduk lemas di sofa ruang keluarga.

"Dia pasti ditemukan. Kita berdoa yang terbaik saja."

"Bagaimana bisa kau mengatakannya setenang itu?! Anakmu, Lee Seokmin! Bukan barang ataupun uang!"

"Aku tahu! Bisakah kau mencoba untuk tenang?!"

Soonyoung jatuh terduduk di depan Seokmin. Pria merengkuh tubuh ringkih itu. Tanpa sadar Seokmin mengeluarkan emosinya. Pemuda itu sudah banjir mata dan pakaian Seokmin basah karenanya. Tapi Seokmin hanya membiarkannya dan menepuk-nepuk punggung Soonyoung. Berusaha menenangkan pemuda itu.

"Berjanjilah dia akan ditemukan." kata Soonyoung dengan suara serak.

"Aku berjanji, Sayang."

.

.

"Apa?! Chan hilang? Diculik?!" teriak Joshua. "Aku akan ke sana sekarang!"

Joshua membelakakkan matanya dan buru-buru ke kamarnya. Seungcheol sedang memakai pakaian kantornya saat Joshua dengan brutalnya menarik lengan suaminya itu. Pria itu menatap istrinya dengan bingung tapi tetap mengikuti ke mana Joshua membawanya. Lebih bingung lagi saat Joshua mendorongnya masuk ke dalam mobil dan Joshua yang mengambil alih kemudi.

"Ada apa ini?" tanya Seungcheol sambil membenahi dasinya.

"Chan hilang ah tidak! Dia diculik!"

"Apa?!"

"Jangan bilang 'apa' saja. Cepat hubungi orangmu!"

Seungcheol hanya mengangguk - meskipun tidak mengerti - dan merogoh saku celananya. Ponselnya tidak ada di sana. Pria itu merogoh saku yang lainnya. Tapi masih tidak menemukan benda persegi itu. Seungcheol menatap Joshua yang terlihat sangat panik. Seungcheol sangat tahu Joshua meskipun mereka tidak memiliki anak kandung, Joshua sangat menyayangi Chan seperti anak kandungnya. Bahkan saat kelahiran Chan Joshua menariknya bangun dari tempat tidur untuk segera terbang ke Korea lalu memesan tiket pelayaran menuju Yeoso-do - meskipun mereka datang 12 jam setelah kelahiran anak itu.

"Kenapa diam saja?!" tanya Joshua saat mendapati Seungcheol hanya diam.

"Ponselku tertinggal."

Joshua menggerutu dan melemparkan ponselnya pada Seungcheol yang menangkapnya dengan tepat. Pria itu mengetikkan beberapa nomor lalu mendial nomor itu. Berdecak karena sambungannya terputus. Joshua meliriknya dan Seungcheol hanya bisa menggeleng. Joshua menginjak pegas dan membuat Seungcheol terkejut. Joshua yang panik berlipat-lipat lebih menakutkan daripada Joshua yang marah.

"Hubungi Junhui dan Minghao!"

.

.

Soonyoung menangis dipelukan kedua saudaranya, Joshua dan Minghao. Sedangkan Seungcheol dan Junhui berada di ruangan lain dengan Seokmin yang mondar-mandir. Saat kedatangan Junhui tadi Seokmin sempat melarangnya masuk tapi melihat Soonyoung yang menghambur kepelukan pria yang menjadi saingan, musuh, sekaligus kakak tingkatnya itu dengan air mata berderai membuat Seokmin tahu kalau Junhui ternyata wali dari istrinya.

"Bagaimana awalnya?" tanya Junhui sambil mengutak-atik ponselnya - menghubungi beberapa orang untuk mencari keberadaan keponakannya.

"Aku tidak tahu. Aku terbangun saat Soonyoung berteriak mencari Chan." jawab Seokmin dengan kepala tertunduk. "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Seluruh CCTV tidak merekam adanya penyelinap. Bahkan jendela kamar kami masih terkunci seperti sebelumnya."

"Atau mungkin salah satu pekerja di rumah ini yang membantu penculik itu." sahut Seungcheol sambil melonggarkan dasinya.

"Ini semua akan menyulitkan. Mereka bisa saja menyembunyikannya dengan baik. Ah! Siapa yang membawa semua duplikat kunci di rumah ini?" tanya Junhui.

"Pelayan Kang."

"Apa kau sudah menanyakan padanya? Mungkin ada yang meminjam duplikat kunci itu." lanjut Junhui.

"Sudah. Tidak ada yang meminjam kunci duplikat."

Junhui dan Seungcheol saling pandang sejenak. Seolah sedang bertelepati satu sama lain. Lalu Seungcheol terlihat hanya mengendikkan bahu tidak yakin. Junhui menghubungi seseorang dan menjauh dari Seungcheol dan Seokmin. Minghao masuk ke dalam ruang kerja Seokmin.

"Penculiknya menelepon Soonyoung."

"APA?!"

Seokmin berlari keluar dari ruangan diikuti dengan Minghao, Seungcheol, dan Junhui. Seokmin mendekati Soonyoung yang terlihat bergetar takut. Seokmin meraih ponsel istrinya.

"Siapa kau?! Di mana anakku?!"

Soonyoung merebut ponselnya lagi. Joshua melarang pria itu saat melihat Seokmin hendak merebut ponsel Soonyoung lagi.

"Penculik itu hanya akan bicara jika yang bicara dengannya adalah Soonyoung. Dia tidak akan bicara jika selain Soonyung. Jadi, kita ikuti saja permainannya dan anak kalian akan segera kembali." kata Joshua menerangkan.

"ASTAGA! SOONYOUNG!"

.

.

To be continued

Hai, Sour kembali lagi walaupun terlambat. Yah, saya sedang disibukkan dengan tugas UAS dan UAS itu sendiri. Saya jadi sedikit tidak bisa membagi waktu sehingga fic ini semakin pendek. Mohon maaf kan saya. Sepertinya fic ini akan bertambah beberapa chapter. Sekali lagi maafkan saya kalau kalian tidak puas. Saya menderita WB selama UAS ini dan masih ada UAS matkul wajib Bahasa akhir bulan ini sampai puasa sehingga saya benar-benar 'bahagia' dibuatnya. Mungkin hanya sampai di sini.

.

.

Salam cinta,

©Sour N Bitter