Saat membuka matanya, obyek yang pertama kali dilihat oleh Soonyoung adalah wajah cerah ceria Chan yang sedang berlarian. Gigi kecilnya berderet dengan apik dan manis. Anak itu tersenyum lebar. Seperti Seokmin yang tersenyum lebar namun dalam versi anak-anak. Soonyoung bangkit dari tempatnya berbaring. Sebuah padang rumput dengan bunga-bungaan musim semi terpampang di depan matanya. Chan ada tidak jauh darinya. Berlarian mengejar kupu-kupu dan melambaikan tangan padanya.

"Eomma! Chan menangkap kupu-kupu!"

Bocah itu berlari menghampiri Soonyoung yang masih tertegun ditempatnya. Matanya mengikuti pergerakan Chan yang semakin dekat padanya. Tapi kurang beberapa meter lagi anak itu berhenti. Membalikkan tubuh kecilnya dan tiba-tiba melompat bahagia pada dua orang yang sangat dikenal Soonyoung. Anak itu memeluk leher keduanya dengan bahagia. Kedua orang tuanya.

"Chan.. J-jangan.."

"Eomma! Chan akan ikut dengan kakek dan nenek! Chan rindu sekali dengan kakek dan nenek!" seru anak itu bahagia.

"Chan jangan!" pekik Soonyoung.

Kedua orang tuanya menghampiri Soonyoung yang menangis. Mengangsurkan anak itu padanya kembali. Ayahnya menyentuh puncak kepalanya sedangkan ibunya mengecup kedua pipinya. Soonyoung mendekap tubuh Chan dengan erat.

"Jangan bawa anakku, Appa, Eomma.. Kumohon.." pinta Soonyoung dengan wajah memerah dan basah air mata.

"Tidak akan, Soonyoung-ah." kata ibunya sambil merengkuh Soonyoung yang sesenggukkan.

"Tapi Chan ingin ikut.." rengek anak itu dengan wajah memelas.

"Chan harus dengan Eomma. Kasihan Eomma sendirian." kali ini ayahnya yang membuka suara.

"Ada Appa.."

Anak itu melepaskan dirinya dari pelukan Soonyoung dan berlari meninggalkan mereka bertiga. Soonyoung memanggil Chan yang semakin jauh. Ia tidak bisa berlari karena kedua orang tuanya menahannya dengan pelukan.

"Dia akan kembali. Tapi tidak sekarang." kata ayah Soonyoung sebelum pemuda itu jatuh pingsan lagi.

.

.

Don't Hate Me

.

.

Kwon Soonyoung

Lee Seokmin

Lee Chan

Hong Jisoo

Choi Seungcheol

Wen Junhui

Xu Minghao

Kim Mingyu

Jeon Wonwoo

Other

.

.

Soonyoung tidak melihat adanya cinta sedikitpun di mata Seokmin untuknya. Bisakah Soonyoung hidup tanpa adanya cinta?

.

.

"Soonyoung?" Seokmin bangkit dari duduknya dan mengambil segelas air di meja saat melihat Soonyoung membuka matanya. "Kau baik-baik saja?"

Soonyoung menoleh dan mendapati wajah lelah Seokmin. Pria itu mengelus pipinya dan Soonyoung memejamkan matanya lagi karena kepalanya terasa berdenyut dan berputar. Seokmin mengecup pipinya sekilas dan membuatnya membuka mata lagi.

"Chan.." panggil Soonyoung lirih.

"Belum ditemukan. Polisi sedang mencarinya dan melacak nomor yang meneleponmu seminggu yang lalu."

"Seminggu?"

Seokmin mengangguk. "Kau pingsan selama seminggu. Memang apa yang dikatakan penculik itu hingga kau jatuh pingsan?"

Soonyoung menatap langit-langit. Mencoba mengingat apa yang dikatakan penculik itu seminggu yang lalu.

.

.

Soonyoung meraih ponselnya saat ponsel itu berdering. Joshua serta Minghao melepaskan pelukan mereka dan membiarkan Soonyoung menjawab panggilan itu. Pemuda itu meraih tisu dan membesut hidungnya yang tersumbat. Sebelah tangannya menerima panggilan dari nomor tidak dikenal itu dan mendekatkan layar ponselnya ke telinga.

"Halo, dengan Kwon Soonyoung."

"Selamat pagi, Kwon Soonyoung. Bagaimana harimu pagi ini?" tanya suara berat diseberang sana.

"Aku kurang baik. Siapa ini?"

"Oh, aku lupa mengenalkan diri. Kau tidak perlu tahu, Kwon Soonyoung. Ah, kau pasti sangat merindukan anakmu itu kan? Dia sedang.."

Mata Soonyoung membola. "Anakku?! Di mana anakku?!"

"Oh, dia menangis." lalu suara itu berubah menjadi suara tawa yang menyeramkan.

Joshua mengambil alih ponsel Soonyoung. Amarahnya sudah naik ke ubun-ubun. Wajah pria manis itu menjadi merah karena marah. Sedangkan Minghao menenangkan Soonyoung yang menangis lebih keras. Meratap dan memeluk tubuh kurus Minghao. Meremas pakaian Minghao hingga kusut luar biasa.

"HEI! DIMANA KEPONAKANKU?!"

".."

"JAWAB AKU, BRENGSEK!"

"Wow.. Hong Jisoo, kau tidak seharusnya mengumpat. Kembalikan pada Kwon Soonyoung atau kalian tidak akan mendapatkan informasi apapun."

"Katakan saja padaku!"

".."

"Kau tuli?!"

".."

"Cepat katakan padaku!"

".."

Joshua menyerah dan mengembalikan ponsel itu pada Soonyoung yang mengulurkan tangannya untuk meminta kembali ponselnya. Meskipun masih menangis Soonyoung mencoba berbicara. Ia bisa mendengar apa yang dibicarakan penculik itu dengan Joshua.

"Ini aku. Di mana anakku?" tanya Soonyoung sambil menggigit bibirnya kuat-kuat.

"Dia sedang ketakutan." tawa itu kembali terdengar. "Anak yang malang, bukan? Sendirian, kedinginan, ketakutan, dan kelaparan. Tapi dia manis juga. Setidaknya dia akan tetap terlihat manis jika masih tetap hidup kan?"

"Beri dia makan! Kumohon.." Soonyoung tidak bisa menahan tangisnya lebih lama lagi. "Jangan biarkan dia kelaparan.. Dia masih kecil.."

"Memangnya aku peduli?"

Soonyoung hampir membuka mulutnya untuk bicara saat Seokmin tiba-tiba merebut ponselnya.

"Siapa kau?! Di mana anakku?!"

Soonyoung buru-buru merebut ponselnya lagi dan mengisyaratkan pada Joshua untuk menerangkan semuanya pada Seokmin. Pria itu sedang kalut dan emosinya tidak terkontrol. Soonyoung menjauhkan dirinya dari saudara-saudara dan suaminya.

"Kau mengenali suara ini, Soonyoung?"

"Eomma.." suara Chan terdengar serak dan ia terdengar masih menangis. "Eomma Chan.. Chan takut."

'Chan..'

Soonyoung bisa merasakan tulangnya melemas dan tidak mampu lagi menahan bobot tubuhnya. Matanya berkunang-kunang sebelum akhirnya jatuh.

"ASTAGA! SOONYOUNG!" suara Seungcheol dan Junhui adalah suara terakhir yang didengar Soonyoung sebelum semuanya gelap gulita.

.

.

"Aku mendengar suara Chan lalu aku rasa aku mulai lemas saat itu juga." terang Soonyoung sambil menatap Seokmin yang menggenggam telapak tangannya dan menciuminya. "Aku takut Chan tidak akan kembali."

"Dia akan kembali, Sayang."

Soonyoung bisa merasakan pipinya memanas dan memalingkan wajahnya. Menghindari kontak mata dengan Seokmin yang berlaku terlalu romantis. Pemuda itu menyibukkan diri dengan menghitung domba imajiner yang sedang melompat-lompat di langit-langit kamar mereka. Biasanya dengan begitu Soonyoung bisa mengatur degup jantungnya yang menggila. Tapi usahanya gagal saat Seokmin membaringkan dirinya di samping Soonyoung dan membawa pemuda itu ke dalam pelukannya. Pelukan hangat dan menenangkan.

"Sepertinya selama tidak sadarkan diri kau bermimpi buruk. Mau berbagi?" tanya Seokmin sambil menyibakkan poni Soonyoung.

"A-apa?"

"Kau selalu gugup kalau wajahmu memerah, kenapa begitu?"

"A-aku tidak tahu.."

"Baiklah. Kau mau bercerita atau tidak?"

Pria itu terlihat kecewa melihat Soonyoung yang menggeleng. Tapi ia memakluminya. Ia tahu pasti Soonyoung memimpikan Chan dalam keadaan buruk. Insting seorang ibu sangat kuat dan Seokmin tahu itu. Walaupun ia tinggal jauh dari ibunya karena ayah dan ibunya bercerai. Dulu saat ia sakit keras setelah seminggu berpisah dengan ibunya, ibunya menelepon dan bertanya apakah dirinya sakit karena perasaan ibunya selalu saja gelisah.

"Kau memimpikan Chan?"

Pria itu mengelus pipi tembam Soonyoung dengan ibu jarinya. Dibalas dengan anggukan kepala pelan dari Soonyoung yang membenamkan wajahnya ke dada bidang Seokmin. Soonyoung berusaha menghilangkan bayangan mimpi buruknya tadi. Tepukan-tepukan lembut dari Seokmin membuatnya lebih tenang dari sebelumnya. Pemuda itu menyamankan dirinya.

"Soonyoung.. Kenapa kau pergi meninggalkanku dulu?"

Soonyoung mengangkat wajahnya dan menatap Seokmin yang balik menatapnya. Pertanyaan sensitif itu seolah menyentil hati kecilnya. Tubuhnya mendingin tiba-tiba. Walapun ia memiliki alasan logis saat melarikan diri tapi ia tidak bisa mengungkapkannya pada Seokmin secara langsung dan semendadak ini. Belum lagi situasi yang tidak mendukung karena Chan belum juga ditemukan.

"Jangan tanyakan itu dulu." bisik Soonyoung yang menyamankan posisinya.

"Kenapa?"

"Aku masih belum bisa mengatakannya padamu."

"Kenapa?"

"Temukan Chan dulu baru aku akan mengatakannya."

.

.

Mingyu dan Wonwoo baru saja datang saat Soonyoung keluar dari kamarnya dengan Seokmin yang menggamit lengan pemuda itu. Kedua sahabatnya menghambur pada Soonyoung dan memeluknya dengan erat. Wonwoo melepaskan pelukannya dan menangkup pipi tirus Soonyoung.

"Ya ampun, Kwon! Kenapa kau bisa sekurus ini?!" tanya Wonwoo sambil mengguncang tubuh Soonyoung yang lemas.

"Hei hei.. Dia baru saja pulih." kata Seokmin sambil melepaskan pelukan Mingyu dan menyembunyikan tubuh kecil Soonyoung di belakang tubuhnya.

"Ah, maafkan kekasih Jeonku yang berlebihan ini, Seokmin-ssi."

Soonyoung melongokkan kepalanya dari belakang tubuh Seokmin. "Kekasih? Kalian sepasang kekasih?!"

"Tenang, Kwon. Tidak perlu terkejut seperti itu." Mingyu terkekeh.

"Sejak kapan?" tanya Soonyoung penasaran - masih bersembunyi di belakang tubuh Seokmin.

"Hmm.. Seminggu yang lalu. Haha.. Maaf tidak memberitahumu karena sepertinya kau dalam kondisi yang tidak baik. Kami harap kau tabah."

"Terima kasih. Kalian memang sahabat terbaikku."

Seokmin berbalik menghadap Soonyoung yang mendongak bingung. Pria itu meletakkan tangannya di masing-masing bahu Soonyoung lalu menatap pemuda itu dengan intens. Kemudian merengkuh tubuh itu lagi.

"Aku berjanji akan membawa Chan kembali." kata Seokmin dan ia mendapat anggukan dari Soonyoung.

"Oh ya, Soonyoung -"

"Jangan, Kim Mingyu Bodoh!" Wonwoo dengan cepat membekap mulut kekasihnya dan tertawa canggung kepada Seokmin dan Soonyoung.

Soonyoung menatap keduanya dengan heran, begitu pula dengan Seokmin. Mingyu berusaha melepaskan bekapan tangan Wonwoo dan menyengir lebar kala Soonyoung mengangkat sebelah alisnya bingung. Wonwoo tersenyum canggung pada kedua orang dihadapannya. Beruntung sekali Wonwoo tepat pada waktunya jika tidak mungkin Mingyu akan menghancurkan semua rencana Junhui dan Seungcheol.

"Ada apa? Kalian berdua menjadi aneh." kata Soonyoung.

"Dia dari dulu memang aneh, Kwon." sahut Wonwoo sambil menunjuk Mingyu dengan ibu jarinya.

"Jeon, kau tega sekali pada kekasihmu?" Mingyu memasang wajah memelas.

"Hentikan, Kim Mingyu! Menjijikkan!"

"Tidak akan~"

"Mingyu! Lepaskan aku! Kau membuatku malu!"

"Malu? Kenapa jika berduaan denganku tidak malu?"

Wonwoo menjitak kepala Mingyu tanpa perasaan dan dibalas dengan tingkah manja pemuda tinggi itu, sedangkan Soonyoung dan Seokmin hanya menonton drama romantis yang sedang tersiar secara langsung di depan mata mereka. Seokmin terkekeh. Tingkah Wonwoo sama halnya dengan tingkah Soonyoung tapi Soonyoung tidak pernah sampai hati untuk memukulnya walaupun sangat pelan. Namun jika sudah mencubit maka Seokmin tidak akan kehilangan tanda cubitan itu sampai keesokkan harinya.

.

.

"Jadi, kalian sudah menemukan penculiknya?"

Joshua yang semula sedang bersantai di ranjang mereka segera menghampiri Seungcheol. Membuang majalah yang tengah dibacanya. Seungcheol memeluk pinggang ramping Joshua dan masih terus berbicara dengan seseorang di seberang sana. Joshua menyimak pembicaraannya.

"Sudah ditemukan?" tanya Joshua sambil menatap Seungcheol penuh harap.

"Sudah."

"Dia?"

Melihat suaminya mengangguk membuat kemarahan Joshua memuncak. Seungcheol dengan segera memeluk tubuh kecil itu. Joshua akan sangat marah dan bertindak tanpa pikir panjang. Jadi, satu-satunya jalan yang bisa dilakukan Seungcheol adalah memeluknya sampai emosi pria manis itu mereda. Sekarang saja napas Joshua terasa sangat memburu. Benar-benar marah dengan 'dia'.

"Sabar, Sayang. Kalau kita gegabah kita tidak akan bisa membuktikan semuanya pada Lee Seokmin." kata Seungcheol seraya mengelus punggung Joshua.

"Tapi dia keterlaluan sekali! Apa dia tidak cukup dengan semua yang telah dilakukannya pada keluarga Soonyoung?! Kenapa dia masih saja menyiksa Soonyoung?! Apa semua penderitaan Soonyoung selama ini tidak cukup untuknya?!"

"Sst.. Kita ikuti saja apa yang dia inginkan, Sayang. Dan jika sudah waktunya kita akan mengungkap semuanya."

"Bagaimana bisa be-"

Seungcheol membungkam bibir Joshua yang sedang bicara dengan bibirnya. Saat sedang marah Joshua tidak akan berhenti bicara untuk meluapkan kemarahannya. Hanya seorang Choi Seungcheol saja yang bisa menghentikannya dan malah akan melampiaskan perasaan marahnya - meski malu-malu - pada Seungcheol. Joshua berkedip beberapa kali. Manik matanya bertemu dengan Seungcheol yang mengedipkan sebelah matanya pada Joshua. Pria manis itu mendorong Seungcheol menjauh.

"Apa yang kau lakukan padaku~?"

"Bibirmu sangat menggoda jika sedang marah-marah seperti tadi. Sana marah-marahlah lagi lalu aku akan menciummu lagi." Seungcheol tersenyum lebar.

"Mesum!"

"Meskipun mesum kau menyukainya dan mencintainya kan, Choi Jisoo. Joshua Choi."

"M-menyebalkan!"

Joshua menghentakkan kakinya sebal dan meninggalkan Seungcheol yang sedang tertawa. Pria manis itu melangkah menuju kamar mereka dengan wajah memerah malu.

"Sayang! Tunggu aku!" goda Seungcheol.

"Kau tidur di luar!" Joshua berlari masuk ke kamarnya dan menguncinya dari dalam. Tapi Seungcheol memiliki 1001 cara untuk bisa masuk.

.

.

Seokmin sedang serius memandangi wajah Soonyoung. Pemuda itu sedang berusaha menghabiskan makan malamnya dengan perlahan. Seokmin sedikit miris dengan Soonyoung karena pemuda itu hanya bisa menelan bubur, bukannya makanan seperti yang disantapnya malam ini. Merasa diperhatikan Soonyoung mengangkat wajahnya dan melambaikan tangannya di depan wajah Seokmin yang terlihat sedih.

"Hyung?" panggil Soonyoung.

"Ah, ya?" Seokmin tersadar dari lamunannya.

"Kenapa kau melamun?"

"Tidak. Tidak apa-apa. Habiskan makananmu. Kau bisa kurus sekali jika tidak menghabiskannya."

Soonyoung tersenyum dan melanjutkan acara memakan buburnya yang tertunda. Seokmin juga melanjutkan menghabiskan makanannya. Tapi belum lama melanjutkannya Pelayan Kang datang dengan membawa ponsel Soonyoung. Soonyoung menerima ponselnya.

"Halo?"

"Kwon Soonyoung.. Apa kabarmu, anak manis?"

"Dimana anakku?!"

"Santai saja, Kwon Soonyoung-ssi. Anakmu masih ada ditanganku. Ah, kau pasti ingin tahu keadaannya kan?" penculik itu tertawa. "Aku akan mengirimkan fotonya. Sampai jumpa."

Soonyoung menjatuhkan sendoknya. Tidak lama kemudian sebuah pesan masuk datang. Soonyoung buru-buru membuka pesan itu dan air matanya mengalir lagi. Seokmin merebut ponsel Soonyoung dan terkejut begitu melihat foto yang terpampang di layar ponsel istrinya. Chan meringkuk ketakutan di sudut ruangan dengan kaki kanan yang diikat. Anak itu masih memakai setelan piyama yang dipakaikan Soonyoung semalam sebelum diculik. Anaknya tampak sangat kurus, lusuh, dan kotor.

"Cari dia. Kumohon.." Soonyoung terisak dan berlutut di depan Seokmin.

Seokmin ikut berlutut dan memeluk Soonyoung. Pemuda itu menangis semakin keras dan tubuhnya bergetar luar biasa. Seokmin meremas ponsel Soonyoung dengan kuat. Bibirnya bergemeletuk karena emosinya sedang meluap-luap. Tangannya yang mengepal bergetar pula. Ia bersumpah dalam hati akan menghajar siapapun yang berani menculik anaknya.

.

.

Chan beringsut menjauh saat sosok berjas mewah mendekatinya. Anak itu menggigil. Antara takut, kedinginan, kelaparan, dan masih banyak yang dirasakan anak 4 tahun itu. Ia hanya ingin ayah dan ibunya. Anak itu menangis lagi. Entah sudah berapa kali anak itu menangis seharian ini. Bahkan suaranya sudah hampir habis karena terlalu banyak menangis, merajuk, dan berteriak.

"Eomma hiks.."

"Kau merindukan eommamu, Anak manis?" pria itu mengeluarkan sebuah pisau tajam. "Kurasa eomma dan appamu tidak akan keberatan kalau kau terluka sedikit."

Chan mundur takut-takut. Apalagi saat melihat benda tajam yang selalu dipakai ibunya memasak. Benda yang paling ditakutinya. Anak itu mempercepat gerakannya hingga ia tidak bisa bergerak menjauh lagi karena ia sudah berada di sudut ruangan. Chan memeluk dirinya sendiri karena terlalu takut. Pria dengan wajah yang tak lagi muda itu mendekat dan menggores kulit kotor anak itu dengan pisau di tangannya. Chan menjerit. Antara takut dan sakit.

"Sakit.." Chan terisak dan hanya bisa melihat tangannya mengeluarkan darah segar.

"Sakit? Kurasa lebih sakit aku anak kecil!" sosok itu tertawa dan membuang pisau di tangannya lalu mencekik leher kecil Chan.

Chan terbatuk karena tidak bisa bernapas. Penglihatannya buram karena terhalang air matanya. Tangannya tidak bisa lagi digerakkan. Karena tubuhnya sudah lemas. Sosok itu tertawa melihat anak itu mulai lemas. Lalu menghempaskan tubuh kecil nan ringkih itu ke dinding. Segera mengambil pisaunya saat mendengar sirine polisi.

"KAU HARUS MATI!" pekiknya sambil menendang Chan yang tidak bergerak lalu meninggalkannya dengan segera

.

.

"Kalian ditangkap! Jangan berusaha melarikan diri karena polisi sudah mengepung kalian!"

Polisi-polisi berlarian masuk ke dalam gudang besar dan kotor itu. Soonyoung hampir saja menghambur bersama polisi-polisi itu jika saja Seokmin tidak menariknya ke dalam pelukannya. Sebelum berangkat tadi Soonyoung sudah merasakan sesuatu yang buruk terjadi. Ia merasa sesuatu yang buruk terjadi pada anaknya. Pemuda itu ingin menyusul anaknya di dalam sana jika saja Seokmin tidak menahannya.

"Aku harus menyelamatkannya.."

"Mereka bersenjata, Sayang. Aku tidak ingin kau terluka juga." balas Seokmin sambil mempererat pelukannya pada Soonyoung yang tersedu.

"ASTAGA! Soonyoung! Itu Chan!" jerit Joshua sambil menunjuk Chan yang lemas digendongan salah satu polisi.

"Panggil ambulance! Keadaan anak ini sekarat!"

"CHAN!"

Soonyoung buru-buru melepaskan pelukan Seokmin guna menggendong anaknya. Pemuda itu menggendong tubuh lemas Chan dengan wajah yang basah dengan air mata. Air matanya tidak bisa terbendung begitu melihat keadaan Chan yang luar biasa mengenaskan. Sebagai seorang ibu, Soonyoung tidak mampu melihat anaknya terluka seperti ini. Seokmin memeluk Soonyoung yang mendekap Chan. Mata tajamnya menangkap sosok yang sangat dikenalinya digiring polisi. Melihat itu Seokmin luar biasa terkejut.

"A-appa?" gumamnya tak percaya.

Sedangkan sosok yang dipanggil Appa oleh Seokmin hanya memalingkan wajahnya dengan ekspresi wajah antara kecewa, marah, dan penuh kebencian. Seokmin merasa linglung seketika. Tapi tersadar saat Seungcheol mendorongnya masuk ke dalam ambulance. Junhui dan Minghao berusaha menenangkan Soonyoung di dalam mobil polisi lalu Seokmin menggantikan posisi keduanya. Junhui menepuk pundak Seokmin sebelum menutup pintu. Sedangkan Soonyoung masih menangis sambil memeluk tubuh lemas Chan.

"Kenapa?" gumam Seokmin pelan.

Soonyoung menoleh kepada Seokmin. Masih dengan wajah yang basah air mata. Seokmin menoleh pada Soonyoung. Matanya menangkap kebencian di mata yang indah itu. Saat tangannya terulur untuk merengkuh tubuh kecil itu, pemuda itu menggeser tubuhnya menjauhinya. Seokmin mengerjap.

"Keluar!"

"Sayang ke-"

"Keluar, Lee Seokmin!"

"Ta-"

"AKU INGIN KAU KELUAR!"

Soonyoung membuka pintu mobil polisi dengan kasar. Masih dengan menggendong Chan ia beralih ke mobil Seungcheol. Meninggalkan Seokmin yang masih saja terpaku di tempatnya. Tangannya hanya bisa menggapai udara kosong di depannya saat Seungcheol menuruti permintaan Soonyoung untuk meninggalkan gudang itu. Seungcheol menatapnya sebelum berbelok ke jalan raya. Seolah mengatakan padanya untuk bersabar. Minghao yang kebetulan ada di depan mobil melambaikan telapak tangannya di depan wajah Seokmin hingga pria itu mengerjapkan matanya dan menatap pemuda peri itu.

"Bersabarlah. Dia sedang terguncang."

Seokmin mengangguk. Minghao tersenyum samar lalu meninggalkan Seokmin sendiri lagi. Pikirannya masih melayang-layang. Ayahnya. Yang selalu dipatuhi, dihormati, dan menjadi panutannya selama ini. Seokmin tidak berpikir lagi. Masalah yang dijalaninya semakin rumit dan membuatnya prning memikirkannya.

"Bisa ikut denganku?"

Seokmin menoleh dan mendapati Junhui di luar mobil. Pria itu menunjuk mobilnya dengan dagunya dan Seokmin mengangguk sebelum mengikutinya menuju mobil Junhui yang terparkir tidak jauh dari mobil polisi yang ditumpanginya. Pemuda peri yang tadi mencoba menguatkan hatinya ada di dalam sana. Tentu saja karena pemuda itu berstatus sebagai istri Junhui.

"Aku akan meluruskan sesuatu padamu." kata Junhui saat Seokmin sudah ada di dalam mobil.

"Meluruskan apa?"

"Semua tentang ayahmu."

.

.

"Keadaannya baik-baik saja. Lukanya juga tidak terlalu dalam. Dia akan sadar beberapa jam lagi karena masih terguncang dan trauma." kata dokter yang baru saja memeriksa keadaan Chan.

"B-bagaimana dengan keadaan psikisnya?" tanya Soonyoung dengan panik.

"Dia akan baik-baik saja selama mendapatkan perawatan. Panggil saja perawat jika sudah sadar."

Dokter itu tersenyum dan meninggalkan Soonyoung, Sungcheol, dan Joshua di sana. Pemuda itu mendudukkan dirinya di samping ranjang rawat dengan perasaan campur aduk. Sedih, lega, marah, dan kecewa. Sedih melihat keadaan anaknya yang sangat mengenaskan, lega karena akhirnya ia bisa kembali memeluk anak kesayangannya, marah pada ayah Seokmin yang telah menculik anaknya, dan kecewa pada Seokmin tanpa sebab.

Soonyoung menggenggam tangan kecil Chan dan menghujaninya dengan kecupan. Entah sudah berapa kali air matanya turun dengan derasnya seperti itu. Joshua dan Seungcheol yang berdiri di belakangnya hanya bisa menatapnya dengan iba. Joshua maju selangkah dan memeluk Soonyoung dari belakang. Menepuk-nepuk kepala pemuda itu dengan pelan.

"Kenapa nasibku seperti ini, hyung? Kenapa harus seperti ini?" tanya Soonyoung dengan napas yang tercekat.

"Bersabarlah, Youngie. Mungkin Tuhan menyembunyikan keindahan untukmu di balik semua ini."

"Sampai kapan?!" tangis Soonyoung pecah semakin keras dan Joshua memeluk pemuda itu dengan erat. "Tinggalkan aku sendirian, hyung."

"Tapi ba-"

"Kumohon."

Seungcheol menepuk pelan pundak Joshua. Lalu mengisyaratkannpada pria manis itu untuk menuruti permintaan Soonyoung. Dengan terpaksa Joshua melepaskan pelukannya dan mengaitkan jemarinya dengan jemari Seungcheol. Sebelum keluar pria manis itu menyempatkan menatap Soonyoung yang membelakangi mereka berdua. Seungcheol menggenggam tangan istrinya dengan erat. Seolah memberitahukan bahwa semuanya akan baik-baik saja lalu meninggalkan Soonyoung seorang diri di sana.

'Seharusnya kita tidak bertemu dengan Appamu, Chan. Seharusnya kita masih hidup bahagia di Yeosodo. Seharusnya mereka tidak mengenal kita.'

.

.

"J-jadi Appaku dan Appa Soonyoung dulu berteman?" tanya Seokmin sambil menatap Junhui tak percaya.

"Begitulah. Kudengar dulu Appamu sempat menjalin hubungan dengan Eomma Soonyoung saat masih dibangku sekolah tapi tidak berjalan lama karena mereka bertiga harus berpisah. Appamu melanjutkan kuliahnya di Busan sedangkan Appa dan Eomma Soonyoung melanjutkan di Seoul. Appamu menikah terlebih dahulu saat itu dan orang tua Soonyoung baru saja menjalin hubungan mereka. Kau pasti tahu alasan dibalik mengapa Appamu menikah terlebih dahulu." Junhui menatap Seokmin yang menatapnya.

"Ya, aku tahu."

Junhui menganggukkan kepalanya. "Appamu masih menyimpan rasa pada Eomma Soonyoung dan sangat membenci Appa Soonyoung saat tahu mereka menikah. Appamu juga iri dengan hidup kedua orang tua Soonyoung dan berulang kali mengirimkan surat kaleng dengan ancaman pada Appa Soonyoung. Appamu sudah pernah hampir berhasil membunuh Appa Soonyoung saat itu tapi gagal karena nasib baik sedang berpihak pada Appa Soonyoung."

"Kali kedua Appamu akan membunuh Kwon Ahjussi, Eommamu berhasil menggagalkannya dan karena itulah kau kehilangan Eommamu saat berumur 6 tahun. Appamu membunuhnya karena rencananya digagalkan. Kesempatannya untuk membunuh Kwon Ahjussi sangat besar saat kalian menemukan Soonyoung di Yeosodo namun sayangnya selalu gagal. Dan.."

"Dan? Lanjutkan, Sunbae!" pekik Seokmin tersulut emosi.

"Sabar Lee Seokmin. Aku akan melanjutkannya." Junhui menghela napasnya. "Akhirnya dia berhasil membunuh mereka. Memutus rem mobil orang tua Soonyoung yang melewati jalan licin hingga akhirnya mobil yang mereka terperosok ke dalam jurang. Keduanya sempat selamat dan dibawa ke rumah sakit tapi Appamu menyelinap masuk ke ruang perawatan dan menyuntikkan sesuatu pada mereka berdua. Aksinya terekam CCTV di rumah sakit. Tapi dia bisa mengelak dengan sangat baik saat melewati introgasi polisi bahkan Soonyoung percaya saja dengan Appamu yang menenangkannya saat itu."

Seokmin membatu mendengar cerita Junhui. Tidak tahu harus melakukan apa. Selama ini Appanya selalu memperhatikan dan merawatnya dengan sangat baik. Menguatkannya saat mengantar ibunya ke pusara dan selalu ada di saat ia membutuhkannya. Ia tidak menyangka kalau ayahnya bisa berbuat melewati batas seperti itu.

"Masalah wasiat itu a-"

"Ah, Appamu sempat meminta tanda tangan Kwon Ahjussi sebelumnya dan Kwon Ahjussi tidak sadar kalau surat yang ditandatanganinya adalah surat wasiat yang kau terima dan membakar surat wasiat yang mengatasnamakan Soonyoung. Aku membuat surat wasiat yang diminta Kwon Ahjussi tapi Appamu mengatakan semua surat wasiatnya sudah diurus olehnya. Aku sempat curiga tapi aku hanya bisa diam karena aku tahu kalau aku tidak bisa melawan Appamu."

Seokmin mengepalkan tangannya. Tiba-tiba ia tersulut dengan amarah pada Appanya. Rasa bencinya muncul dan ia benar-benar membenci ayahnya saat Junhui berhenti bicara.

.

.

To be continued

Halo, saya kembali lagi dengan kelanjutan fanfic ini. Saya sedikit kecewa saat menyadari reviewnya menurun. Tapi terima kasih untuk semuanya yang sudah memberikan dukungan pada saya dan menanyakan kabar kelanjutan Don't Hate Me ini. Terima kasih karena kalian sudah setia menantikan ini, ya. Masih ada 2 chapter lagi menuju akhir cerita ini.^^ Tetap stay tune, ya. Saya harap bisa mencapai 125+ untuk review keseluruhan fanfic ini. Terutama chapter ini.

Khususnya juga terima kasih untuk Hao yang ada di sana, yang sudah sering menjadi teman curhat saya dan mau mengurus akun Wattpad saya.

Grup LINE 'DK INA Group' yang mau menerima saya dan selalu bisa menjebol notification bar saya hingga 999+^^

Semua reader saya juga^^

Sekian dari saya~

Salam cinta,

©Sour N Bitter 2016