Hansol bisa gila.

Ia baru bangun beberapa menit yang lalu, tapi sekarang ia sudah dibuat kalang kabut karena sahabatnya yang tiba-tiba menghilang dari tempat tidurnya, padahal satu jam yang lalu, ketika Hansol terbangun sebentar karena merasa haus, sahabatnya itu masih tertidur nyenyak, meringkuk di atas tempat tidurnya dengan selimut yang menutupi seluruh badannya kecuali kepala. Posisi yang mengingatkan Hansol akan seekor kucing lucu yang bergelung karena kedinginan.

Meskipun sahabat tersayangnya itu memang sering sekali tiba-tiba menghilang seperti ini, Hansol tak akan pernah bisa terbiasa. Terutama karena tak pernah ada kepastian kapan sahabatnya itu akan kembali. Kalau Hansol sedang beruntung, sahabatnya itu akan kembali ke rumah dalam hitungan jam saja. Tapi kalau Hansol sedang sial, sahabatnya itu bisa-bisa menghilang berhari-hari tanpa memberi kabar. Hansol ingat sahabatnya itu pernah menghilang selama dua minggu penuh ketika sedang dalam masa libur musim panas, dan kembali ke rumah dengan tampang tak berdosa. Hansol yang tadinya mau marah langsung mengurungkan niatnya karena ia lemah pada wajah polos sahabatnya itu.

Ketika sahabatnya menghilang selama dua minggu, satu-satunya hal yang menahan Hansol dari melaporkan hilangnya sang sahabat ke polisi adalah karena sahabatnya itu kerap mewanti-wanti Hansol untuk tidak melaporkan masalah menghilangnya dia, meskipun ia sudah menghilang selama berminggu-minggu ataupun berbulan-bulan. Sahabatnya itu selalu berkata bahwa mau selama apapun ia menghilang tanpa memberi kabar, ia pasti akan kembali. Bahkan sahabatnya itu sampai mengancam akan memutus tali persahabatannya dengan Hansol kalau Hansol sampai berani melaporkan masalah kehilangannya itu ke polisi.

Hansol sudah bersiap-siap untuk mencari sosok sahabatnya itu, kalau-kalau ia belum pergi terlalu jauh, ketika pintu depan tiba-tiba menjeblak terbuka, membawa hawa dingin yang disebabkan oleh cuaca di luar, dan menampakkan sosok sahabatnya yang gemetaran dengan seekor kucing dengan bulu berwarna putih di gendongannya. Hansol langsung buru-buru melangkahkan kakinya ke pintu depan, dan menarik sahabatnya itu untuk masuk ke dalam rumah, mendekati penghangat ruangan yang berada di ruang tamu, karena Hansol tahu bahwa sahabatnya itu sedang kedinginan, terlihat dari tubuhnya yang tidak berhenti gemetar sejak tadi.

"Lee Taeyong, kenapa kau ini hobi sekali membuat orang khawatir, sih?"

Soul City

Jaehyun, Jung x Taeyong, Lee

Romance, Drama, Hurt/Comfort

NCT © SM Entertainment

"Ini, aku membuatkanmu cokelat hangat."

Sosok lelaki dengan surai cokelat gelap yang kini tengah duduk sangat dekat dengan penghangat ruangan itu menganggukan kepalanya sebagai tanda terimakasih setelah ia mengambil segelas cokelat hangat yang disodorkan oleh Hansol. Keadaannya sudah mulai membaik, terlihat dari tubuhnya yang sudah tidak lagi gemetaran, dan juga kembalinya rona merah pada wajahnya yang tadi pucatnya bukan main.

Hansol mendudukkan dirinya di sofa yang berada di hadapan Taeyong, lalu menghela napas begitu melihat seekor kucing yang kini tengah bergelung rapat dengan Taeyong, mencari kehangatan. "Taeyong, demi Tuhan, sekarang sedang musim dingin. Aku paham kalau kau menyelamatkan semua kucing itu saat sedang musim yang lain, ketika pohon-pohon sedang tidak diselimuti salju atau es yang membuatnya licin. Naik-naik pohon saat sedang musim dingin itu sangat berbahaya, kau tahu?"

Taeyong menganggukan kepalanya, tanda bahwa ia sepenuhnya mengerti ucapan Hansol. Tapi Hansol tahu meskipun Taeyong mengerti, Taeyong tidak akan menghentikan kebiasaannya itu.

"Jadi, ada apa dengan kucing yang satu ini? Sebentar, biar aku tebak. Kau sedang berjalan-jalan di sekitar perumahan kita, lalu tiba-tiba kau mendengar suara kucing mengeong di dahan pohon yang berada di atasmu, dan karena kau adalah Lee Taeyong si penyayang binatang, kau langsung memutuskan untuk naik pohon, di musim dingin begini, hanya untuk membawa kucing itu turun, begitu?" Hansol ingin sekali berteriak marah pada Taeyong ketika melihat sahabatnya itu menganggukan kepalanya, tapi Hansol tidak sampai hati untuk benar-benar marah pada sahabatnya itu, karena toh sebenarnya niat Taeyong itu baik. Tapi tetap saja, Hansol tidak bisa tinggal diam. "Lee Taeyong, kau kan tahu kalau kucing itu memiliki keseimbangan yang hebat, kan? Mau dia jatuh dari pohon dengan posisi apapun, dia tetap akan bisa mendarat dengan kakinya, ya Tuhan. Kau tidak perlu repot naik-naik pohon segala."

Taeyong mengerucutkan bibirnya ketika mendengar omelan Hansol. Ia menggendong kucing yang tadinya bergelung nyaman di sebelahnya itu, lalu menunjukkan salah satu kakinya kepada Hansol.

Salah satu kaki kucing itu ternyata terluka.

Detik selanjutnya, Taeyong menemukan dirinya dalam pelukan Hansol. Hansol memeluknya erat, bahkan sampai membuat Taeyong sedikit kesulitan bernapas karenanya. Taeyong langsung mengeratkan genggamannya pada kucing yang sedang berada dalam gendongannya itu, tidak ingin kucing itu tiba-tiba terjatuh karena efek dari pelukan Hansol.

"Taeyong, maafkan aku! Aku kira kau lagi-lagi bertindak bodoh dan membahayakan keselamatan dirimu sendiri hanya untuk seekor kucing yang bisa turun dari pohon dengan kemampuannya sendiri. Maafkan aku karena sudah mengomel padamu, padahal aku tidak tahu kenyataannya. Maafkan aku!"

Taeyong yang mendengar permintaan maaf Hansol hanya tertawa seraya menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu. Ia membiarkan Hansol memeluknya untuk beberapa menit, sebelum tepukan lembutnya di punggung Hansol berubah menjadi tepukan-tepukan keras, tanda bahwa ia meminta Hansol untuk melepaskan pelukannya karena ia mulai merasa betul-betul kesulitan bernafas, sangking eratnya pelukan Hansol pada tubuhnya.

Hansol yang sudah terbiasa dengan kebisuan sahabatnya itu langsung mengerti maksud Taeyong, dan ia buru-buru melepaskan pelukannya pada tubuh Taeyong yang notabene lebih kecil dan lebih kurus daripada tubuhnya itu. Taeyong langsung menghela napasnya lega begitu Hansol melepaskan pelukannya itu.

"Kau mau memelihara kucing ini?" Hansol bertanya sembari mengelus kepala kucing yang kini berada di pangkuan Taeyong itu. Taeyong membalasnya dengan menggelengkan kepalanya, sesuatu yang sudah diduga oleh Hansol karena Taeyong memang selalu begitu. Naik pohon merupakan keahliannya, dan karena itulah Taeyong senang sekali membantu para kucing yang menurutnya terjebak di atas pohon dan tidak bisa turun, lalu membawa kucing itu pulang ke rumah. Kalau kucing itu terluka, Taeyong akan merawatnya sampai kucing itu tidak terluka lagi, lalu melepasnya ke tempat penampungan kucing yang berada di dekat rumahnya. Kalau kucing itu nyatanya tidak terluka, Taeyong tetap akan merawatnya, meski hanya satu hari.

Ia juga sering membawa pulang binatang-binatang yang ditemukannya terluka di jalan, lalu merawatnya sampai sembuh. Tapi Taeyong tidak akan pernah menjadikan binatang-binatang itu peliharaannya sendiri. Ia pasti akan melepaskannya di tempat penampungan binatang yang bisa ia temukan, atau menyuruh Hansol untuk mencari orang lain yang mau merawatnya.

Hansol sendiri tidak mengerti apa alasan Taeyong bersikap seperti itu, tapi Hansol memilih untuk tidak bertanya. Lagipula walaupun ia bertanya, ia yakin sahabatnya itu tidak akan menjawab.

Taeyong, sampai kapan kau mau bersikap seperti ini terus? Aku rindu mendengar suaramu. Aku rindu dirimu yang dulu.


Taeyong terbangun tepat pada jam enam pagi keesokan harinya. Ia memang selalu bangun jam enam pagi pada hari-hari sekolah, lalu ia akan memulai rutinitasnya seperti biasa. Mulai dari membereskan tempat tidurnya, mandi, lalu membuatkan sarapan dan bekal untuk dirinya dan Hansol. Taeyong sudah melakukan hal ini sejak satu tahun yang lalu, ketika ia dan Hansol memutuskan untuk tinggal bersama, tanpa adanya sosok orangtua.

Taeyong dan Hansol sudah bersahabat sejak kecil, semua karena rumah mereka yang bersebelahan dengan satu sama lain, dan fakta bahwa ayah keduanya juga merupakan sepasang sahabat sejak bangku kuliah. Setelah istri mereka melahirkan seorang anak di tahun yang sama, para ayah itu memastikan untuk mengenalkan anak mereka pada satu sama lain, dan itulah alasan utama dibalik persahabatan Taeyong dan Hansol. Taeyong benar-benar merasa perlu berterimakasih pada ayahnya dan ayah Hansol karena sudah membuatnya mengenal pemuda bermata bambi itu, karena tanpa Hansol, Taeyong akan benar-benar menjadi seorang penyendiri yang tidak memiliki teman satupun.

Hansol adalah satu-satunya teman yang iaa punya.

Taeyong ingat bahwa dulu ia memiliki banyak teman selain Hansol, namun kejadian yang terjadi satu tahun yang lalu itu merubah segalanya. Semua orang yang ia kira temannya menjauhinya, dan hanya Hansol yang tinggal. Sejak saat itu, semuanya berubah dalam hidup Taeyong. Ia mulai menutup dirinya dari semua orang, kecuali Hansol. Ia merubah total caranya bersikap di depan publik. Hanya Hansol yang bisa melihat sisi Taeyong yang dulu, itu pun hanya sebagian kecil. Taeyong tidak pernah lagi menunjukkan sikapnya yang dulu, sifatnya yang asli kepada siapapun.

Taeyong tidak ingin kejadian satu tahun yang lalu itu terulang kembali.

Ketika jam menunjukkan pukul setengah tujuh, terdengar suara nyaring yang berasal dari kamar Taeyong dan Hansol. Suara itu berasal dari alarm di ponsel Hansol, yang memang selalu disetting untuk berbunyi setiap jam setengah tujuh tepat untuk membangunkan Hansol dari tidurnya. Dan karena Hansol merupakan seseorang yang tidak terlalu susah dibangunkan, ia pasti akan selalu terbangun pada detik pertama alarm itu berbunyi.

"Pagi, Taeyong!"

Benar, kan.

"Hari ini menu sarapannya apa? Bekalnya juga apa?" Hansol bertanya seraya mendudukkan diri di salah satu kursi yang berada di ruang makan, menghadap ke arah Taeyong yag kini tengah berada di dapur, sibuk membuat sarapan dan bekal untuk dirinya dan Hansol. "Aku sedang ingin makan pancake dan telur, omong-omong."

Taeyong tidak memberikan reaksi apapun pada pertanyaan Hansol, dan hanya menyodorkan satu piring dengan pancake yang dilumuri madu dan mentega di atasnya. Hansol langsung bertepuk tangan begitu melihat menu sarapannya pagi itu, dan langsung memakannya dengan semangat.

Beberapa menit kemudian, Taeyong selesai memasak sarapan bagiannya dan juga dua bekal untuk dibawa ke sekolah. Hansol lagi-lagi bertepuk tangan ketika melihat bahwa telur dadar adalah salah satu menu bekalnya hari itu, dan ia hampir saja memeluk Taeyong lagi karena merasa senang bahwa keinginannya hari ini terpenuhi semua, tapi Taeyong keburu menjauh darinya. Lelaki bertubuh ramping itu malah berjalan menuju ruang tamu, menghampiri seekor kucing yang dibiarkan berada di atas sofa sejak kemarin malam.

"Ya, Taeyong! Sarapan dulu, baru kau urusi kucing itu!" Hansol berseru, yang tentu saja diabaikan oleh Taeyong. Lelaki berambut pirang keemasan itu hanya bisa menghela napasnya, sebelum mengedikkan bahu dan melanjutkan memakan sarapannya.

Taeyong baru kembali ke ruang makan ketika Hansol sudah hampir menghabiskan makanan yang berada di piringnya. Hansol yang awalnya ingin berlama-lama duduk dan mengobrol dengan Taeyong—walaupun ujung-ujungnya pasti hanya Hansol yang akan berbicara, dan Taeyong akan tetap membisu—langsung buru-buru menghabiskan sarapannya begitu melihat jam yang bertengger di dinding ruang makan. 45 menit sebelum bel masuk berbunyi, dan ia masih belum mandi ataupun menyiapkan buku yang harus ia bawa hari itu. Hansol tidak mau terlambat.

Terlebih, ia tidak mau membuat Taeyong terlambat juga karena dirinya.

Taeyong benci terlambat.

Lebih tepatnya, Taeyong benci terlambat karena semua siswa yang terlambat otomatis akan menjadi pusat perhatian semua siswa yang sudah berada di kelas lebih dulu.

Taeyong yang sekarang benci menjadi pusat perhatian.


"Hansol, sudah dengar gosipnya?"

Kini Taeyong dan Hansol sudah berada di sekolah, lebih tepatnya di dalam kelas mereka. Keduanya memang sekelas, berkat upaya orangtua keduanya, yang memohon-mohon kepada kepala sekolah untuk membiarkan mereka berada di kelas yang sama sampai kelulusan nanti. Dan tentu saja kalau mereka berdua sekelas, itu juga berarti mereka berdua duduk di samping satu sama lain.

"Gosip apa?" Hansol mengerutkan keningnya, penasaran dengan gosip yang disebut-sebut oleh siswa yang duduk di depannya ini, Kim Doyoung. Meskipun Taeyong menutup diri dari semua orang, tidak berarti Hansol juga ikut-ikutan menutup diri. Ia masih suka berkenalan dengan orang-orang baru, berteman dengan setiap siswa yang berada di kelasnya, dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah. Berbeda dengan Taeyong yang memang datang ke sekolah hanya untuk belajar, bukan untuk bersosialisasi.

"Hari ini katanya akan ada murid baru di kelas kita," Doyoung berkata dengan semangat. "Katanya pindahan dari Amerika, loh. Keren sekali, kan?"

"Biasa saja, sih."

"Ah, kau ini memang tidak asyik, Sol."

Hansol tertawa pelan mendengar kalimat yang baru saja meluncur dari mulut teman satu kelasnya itu. "Memangnya siswa baru ini lelaki atau perempuan?"

"Menurut sumber terpercaya sih, lelaki. Katanya murid baru ini sangat tampan seperti pangeran."

"Memangnya kau pernah melihat pangeran di dunia nyata?"

"Tidak. Tapi kan aku pernah melihat pangeran di buku dongeng bergambar waktu aku kecil dulu."

Hansol langsung tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban terlalu jujur yang diutarakan Doyoung itu. Ia baru akan mengatakan sesuatu, tapi bel tanda masuk berbunyi nyaring, dan juga terdengar suara pintu kelas yang dibuka, membuat Doyoung, yang merupakan ketua kelas, langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke depan.

"Ber—"

"Tidak perlu, ketua kelas. Hari ini tidak perlu memberi salam," wali kelas mereka, seorang pria paruh baya bernama Kim Pilsuk dan mengajar Matematika itu berkata dengan senyum lembut di wajahnya. Guru yang biasa dipanggil Kim songsaengnim itu memang termasuk salah satu guru favorit, karena ia memang ramah dan tidak pelit nilai. "Mungkin kalian semua sudah mendengar gosipnya, bahwa hari ini akan ada murid baru di kelas ini. Gosip itu benar, dan memang akan ada murid baru yang bergabung dengan kelas kita mulai hari ini."

Suasana kelas yang tadinya tenang langsung berubah ricuh begitu Kim songsaengnim menyelesaikan ucapannya. Hansol sendiri juga langsung ikut-ikutan heboh, ia bahkan merangkul Taeyong, satu-satunya yang terlihat tidak tertarik dengan kedatangan murid baru itu.

"Katanya murid barunya itu tampan loh, Tae! Siapa tahu kau suka, kan?" Hansol berkata dengan nada jahil, yang membuat Taeyong menatapnya malas, sebelum kembali memasang wajah tanpa ekspresinya.

"Ayo masuk," Kim songsaengnim berbicara pada seseorang yang berdiri tepat di luar pintu kelas, dan tidak butuh lama sampai seorang lelaki dengan tubuh yang cukup tinggi dan kulit seputih susu berjalan memasuki kelas, yang sukses membuat suasana di dalam kelas itu bertambah ricuh, terutama setelah anak baru itu tersenyum menatap teman-teman sekelasnya yang baru, menunjukkan lesung pipi andalannya.

"Wah, kau ternyata benar," Hansol berkata pada Doyoung. "Murid baru itu memang cukup tampan."

"Sumber informasiku memang tidak pernah salah, Sol," Doyoung tersenyum bangga.

"Tentu saja tidak pernah salah. Orang sumber informasimu itu si ketua osis."

"Hah? Kok kau bisa—"

"Hampir seisi sekolah sudah tahu kalau kau, Kim Doyoung, sedang dekat dengan si ketua osis, alias Moon Taeil. Tidak sulit menebak siapa sumbermu itu kalau tahu tentang kedekatan kalian berdua."

Pipi Doyoung langsung memerah begitu mendengar ucapan Hansol, dan Hansol hanya bisa tertawa karena ia sukses membuat Doyoung merona malu seperti itu.

"Tenang dulu, semua," Kim songsaengnim berkata, sekuat tenaga menahan tawanya karena melihat antusiasme siswa-siswanya, terutama para gadis, atas kedatangan murid baru yang tampan itu. "Kalau kalian tidak tenang, murid baru ini tidak akan bisa mulai memperkenalkan diri, dan kalian tidak akan bisa mengetahui namanya."

Mendengar ucapan Kim songsaengnim, semua langsung menghentikan kehebohan mereka, mengembalikan suasana menjadi tenang seperti semula.

"Nah, begini kan enak," Kim songsaengnim tersenyum, lalu beralih menatap murid baru yang tengah berdiri di sebelahnya itu. "Sekarang kau bisa memperkenalkan dirimu, nak."

Ketika semua orang di dalam kelas itu sibuk menyimak kalimat perkenalan si murid baru untuk bisa mengetahui namanya, Taeyong malah sibuk menggambar di bagian belakang buku tulisnya. Ia begitu larut dalam kegiatannya, sampai-sampai ia tidak mendengar sama sekali ketika murid baru itu menyebutkan namanya, meskipun sesungguhnya Taeyong juga tidak peduli. Ia tidak memiliki niat sama sekali untuk mendekati murid baru itu dan berteman dengannya, jadi mengetahui namanya juga tidak ada gunanya.

Taeyong pulih dari keadaan terlalu fokusnya ketika ia merasakan tepukan keras pada bahunya, dan siapa lagi yang berani memukulnya seperti itu kalau bukan Hansol? Taeyong sudah bersiap untuk membalas sahabatnya itu, kalau saja ia tidak menangkap tatapan para siswa di kelasnya yang semuanya tertuju kearahnya.

Ada apa? Aku tidak merasa melakukan apapun yang bisa membuatku menjadi pusat perhatian seperti ini.

Taeyong rasanya ingin menghilang saja. Mungkin dulu ia memang suka menjadi pusat perhatian, tapi sekarang sudah tidak lagi. Ia malah merasa sangat membencinya.

"Jadi kau dan Tuan Lee sudah saling kenal, Tuan Jung?"

Suara wali kelasnya itu membuat Taeyong, yang awalnya sibuk memandangi lantai, mengangkat kepalanya dan menatap ke arah wali kelasnya dan murid baru itu.

Tunggu dulu, sepertinya aku—

"Kami hanya sempat tidak sengaja bertemu kemarin, songsaengnim," murid baru itu menatap sosok wali kelasnya sekilas ketika menjawab, sebelum tatapannya kembali ia jatuhkan pada sosok Taeyong. "Jadi, saya boleh duduk di sebelahnya kan, songsaengnim?"

Begitu mendengar ucapan murid baru itu, Taeyong langsung menoleh ke arah kirinya, ke arah bangku kosong yang memang tidak ditempati sejak awal tahun ajaran karena kurangnya jumlah siswa di kelas itu. Sebenarnya ada satu kursi kosong lainnya, dan Taeyong merasa ingin sekali menyuruh murid baru itu untuk duduk di kursi itu, dan bukannya duduk di kursi kosong yang berada di sebelahnya.

"Tentu, tentu," Kim songsaengnim menganggukan kepalanya, dan si murid baru langsung melangkahkan kaki menuju tempat duduknya yang baru. Taeyong hanya bisa mengeluh dalam hati, dan mencoba bersikap seolah-olah ia tidak merasa terganggu sama sekali dengan fakta bahwa murid baru itu memilih untuk duduk di sebelahnya. Dan tentu saja Taeyong berhasil. Ia jagonya dalam hal berpura-pura.

"Hai," murid baru itu berkata begitu ia sudah menduduki tempat duduknya yang berada di sebelah Taeyong, dengan senyum cerah di wajahnya. "Kau masih mengingatku? Aku yang kemarin, err, melihatmu ketika kau jatuh dari pohon. Namaku Jung Jaehyun, dan kau?"

"Taeyong. Lee Taeyong."

To Be Continued.


Akhirnya setelah ngga ada ide sama sekali buat nulis, jadi juga chapter dua fanfic ini, meskipun sebenernya hasilnya ngga sebagus yang saya harapkan, abisnya tiba-tiba saya nggak nemu ide sama sekali, jadi maaf banget kalo chapter ini jatohnya maksa :')

Makasih buat yang udah ngereview, ngefavs, dan ngefollow fanfic ini! Saya bener-bener seneng baca review dari kalian semua, dan maaf karena belum bisa bales, belum nemu waktu yang pas buat bales-balesinnya soalnya.

Semoga suka chapter ini, ya. Maaf kalau ada kekurangan.

Thankyou for reading!