"Eh?"
Jaehyun mengerutkan dahinya begitu mendengar suara itu, padahal si lelaki kucing yang ia temui kemarin itu tidak membuka mulutnya sama sekali, dan malah terus-terusan menatap ke arah papan tulis seakan-akan papan tulis lebih menarik dari seorang Jung Jaehyun.
"Iya, namanya Taeyong," Jaehyun baru tersadar bahwa suara itu berasal dari seorang lelaki dengan rambut mencolok—karena berwarna pirang keemasan—yang duduk di sebelah si lelaki kucing, yang ternyata bernama Taeyong, menurut si pirang keemasan. "Aku Hansol, omong-omong. Ji Hansol."
"Ah, ya. Aku Jung Jaehyun."
"Aku tahu, aku kan memperhatikan perkenalanmu di depan tadi, tidak seperti temanku ini," Lelaki yang bernama Hansol itu berkata seraya merangkul pundak Taeyong, namun Taeyong malah melepaskan tangan Hansol secara paksa dari pundaknya, yang membuat Hansol tertawa sesaat sebelum kembali memfokuskan perhatiannya pada Jaehyun. "Aku tidak ingin kau salah paham, jadi aku ingin memberitahumu sesuatu. Taeyongku tersayang ini tidak akan menjawab kalau kau ajak bicara. Aku tidak mau kau salah paham dan mengira Taeyong itu sombong atau tak sopan, atau kasar, atau hal-hal buruk lainnya. Ia punya alasannya sendiri, kenapa ia tidak mau bicara. Jadi—aw! Iya, iya, aku akan diam. Tidak usah menendang kakiku begitu, dong!"
Jaehyun hanya mengangguk-anggukan kepalanya, berpura-pura seakan-akan ia mengerti dan tak akan bertanya lebih jauh, meski sebetulnya ia sangat heran, sekaligus penasaran. Heran dengan fakta bahwa lelaki yang duduk di sebelahnya ini tak mau bicara—berdasarkan keterangan Hansol—dan juga penasaran dengan alasan dibalik sikap menolak bicaranya itu.
Soul City
Jaehyun, Jung x Taeyong, Lee
Romance, Drama, Hurt/Comfort
NCT © SM Entertainment
"Halo, aku Doyoung, Kim Doyoung. Aku ketua kelas di kelas ini, dan Kim songsaengnim menyuruhku untuk mengantarmu mengelilingi sekolah, sekalian memberitahumu semua nama dan fungsi dari ruangan-ruangan yang berada di sekolah ini."
Bel baru berbunyi beberapa detik yang lalu, tapi ia sudah didatangi oleh salah seorang teman sekelasnya, lelaki yang tadi Jaehyun lihat memiliki tempat duduk di depan Hansol. Lelaki itu, yang mengenalkan dirinya sebagai Kim Doyoung sekaligus ketua kelas di kelasnya berada, entah mengapa mengingatkan Jaehyun akan seekor kelinci, terutama setelah melihat senyum lebar yang berada di wajahnya itu.
"Ah, hai," Jaehyun tersenyum, membalas sapaan Doyoung. Mengingat ucapan Doyoung tadi, ia langsung bangkit dari duduknya, siap untuk dibawa berkeliling sekolah barunya itu. Tetapi sebelum ia benar-benar mengikuti ketua kelasnya yang sudah berada beberapa langkah di depannya itu, Jaehyun menoleh ke arah kanannya, tempat dimana seorang Lee Taeyong sedang duduk dengan earphone yang menyumpal kedua lubang telinganya, dan juga Hansol yang sedang menyenderkan kepalanya di atas bahu Taeyong, mata tertuju pada layar ponselnya, entah sedang melihat atau melakukan apa.
"Kau tahu? Aku benar-benar merasa terkejut ketika mendengar bahwa kau ingin duduk di sebelah Lee Taeyong," Doyoung tiba-tiba berkata setelah ia dan Jaehyun sudah keluar dari ruang kelas. "Aku tidak mengira ia punya kenalan lain selain Hansol."
"Mm, aku dan Taeyong sebenarnya juga tidak begitu saling mengenal," Jaehyun menjelaskan sembari mengelus tengkuk lehernya. "Kami hanya bertemu kemarin, dan aku juga tidak yakin bahwa Taeyong mengingatku, kalau dilihat dari sikapnya."
"Ah, Taeyong memang selalu begitu. Kalau dilihat dari sikapnya, ia juga tidak mengenal semua orang kecuali Hansol," Doyoung tertawa pelan, sesekali menunjuk beberapa ruangan penting yang mereka temui ketika berjalan, dan juga memberitahu fungsi-fungsinya kepada Jaehyun. "Sejak Taeyong dan Hansol pindah kesini sekitar beberapa bulan yang lalu, hanya Hansol yang mau mencoba untuk berbaur dan berteman, sedangkan Taeyong selalu menutup dirinya, ia bahkan tidak mau menyahut atau menjawab setiap kali diajak bicara. Guru juga tidak pernah menunjuknya untuk menjawab pertanyaan, karena Taeyong tak akan menjawab. Kalau bukan karena Hansol yang menjelaskan kepada semua orang bahwa Taeyong punya alasan sendiri kenapa ia tak mau bicara begitu, semua orang akan mengira bahwa Taeyong itu benar-benar seseorang yang tak sopan, atau bahkan sombong."
"Taeyong juga benar-benar minim ekspresi," Doyoung melanjutkan, tampaknya ia merupakan salah satu tipe orang yang benar-benar suka bicara, atau mungkin bergosip, terlihat dari bersemangatnya ia ketika membicarakan Taeyong. "Aku tidak pernah melihatnya tersenyum, marah, sedih, atau ekspresi-ekspresi lainnya selain kepada Hansol. Satu-satunya ekspresi yang pernah aku lihat darinya, yang ditujukan pada orang selain Hansol, adalah ekspresi datarnya. Bahkan saat seisi kelas tertawa karena suatu lelucon yang diutarakan oleh Choi songsaengnim—yang merupakan guru terlucu di sekolah ini, omong-omong. Dia selalu bisa membuat semua orang tertawa—ia akan setia dengan wajah datarnya, tidak menunjukkan tanda-tanda ingin tertawa sama sekali. Benar-benar aneh."
Jaehyun yang sedaritadi setia mendengar Doyoung berbicara tentang Taeyong, yang juga diselingi dengan Doyoung yang akan menunjuk ruangan-ruangan penting dan menjelaskan fungsinya, bertambah penasaran akan sosok yang duduk di sebelah kanannya itu. Awalnya ia hanya ingin duduk di sebelah Taeyong karena ia mengenali sosok itu, sosok yang ia temui kemarin, si lelaki yang jatuh dari pohon, dengan kucing yang berada di gendongannya. Ia hanya merasa senang dapat melihat satu wajah yang familiar baginya, dan karena itulah ia refleks meminta pada Kim songsaengnim untuk memperbolehkannya duduk di sebelah Taeyong.
Oke, mungkin bukan karena itu saja. Sejujurnya, sejak pertemuan singkatnya dengan lelaki itu kemarin pagi, Jaehyun tak bisa berhenti memikirkannya. Untuk pertama kalinya sejak ia memutuskan untuk pulang ke Seoul, pikiran Jaehyun tidak diisi dengan orang itu dan kenangan-kenangan buruknya selama berada di Seoul. Pikirannya malah diisi dengan seorang lelaki yang tampan namun juga manis, yang tak sengaja ia temui ketika sedang berjalan-jalan di sekitar perumahannya, seorang lelaki yang meninggalkan kesan mendalam bagi Jaehyun karena pertemuan mereka yang unik dan juga fakta bahwa lelaki itu tampak misterius bagi Jaehyun—mulai dari sikapnya kemarin yang tak membuka mulutnya sama sekali, sampai ekspresinya yang datar, namun begitu Jaehyun melihat matanya, ia bisa melihat banyak kesedihan di dalamnya. Bagi Jaehyun, sosok yang sekarang ia ketahui bernama Lee Taeyong itu menyimpan banyak kisah dan rahasia, sama seperti dirinya.
Teman-teman sekelasnya yang baru, yang tadi sibuk berbisik-bisik karena kedatangan dirinya, mungkin berpikir bahwa ia adalah seorang pemuda normal, tapi keren karena sebelumnya tinggal di Amerika. Mungkin mereka berpikir bahwa ia sama seperti kebanyakkan lelaki seusianya, terutama apabila mereka hanya melihat Jaehyun dari penampilannya saja.
Tapi nyatanya mereka salah.
Karena seorang Jaehyun, Jung Jaehyun, si siswa pindahan dari Amerika itu, sebenarnya seorang pembunuh.
"J! Kenapa kau baru menelepon sekarang? I'm dying to hear about how you doing there! Sebenarnya aku ingin meneleponmu lebih dulu, tapi karena aku takut kau sedang sibuk, aku memutuskan untuk menunggumu menelepon duluan."
"Maaf," Jaehyun tertawa begitu mendengar suara sahabatnya di ujung sana. Sebenarnya ia sudah menduga bahwa ia akan disapa dengan protes dari Johnny begitu teleponnya itu diangkat. Dan benar saja, bukannya menyapanya dengan sapaan biasa seperti 'halo' atau 'hai', Johnny malah langsung protes karena tidak ditelepon lebih cepat. "Ketika aku sampai di Seoul, aku benar-benar kelelahan setelah penerbangan yang panjang, jadi aku tidur seharian, dari sore sampai pagi. Lalu kemarin aku sibuk mengatur semua barangku seperti semula sebelum ditinggalkan, jadi aku tidak sempat meneleponmu. Aku baru sempat sekarang, setelah aku pulang sekolah."
Jaehyun dapat mendengar helaan napas Johnny di ujung sana, sebelum akhirnya ia mendengar suara sahabatnya itu lagi. "Bagaimana? Kau sudah mulai mencari cinta pertamamu itu?"
"Apa-apaan. Sudah berapa kali sih aku mengatakan padamu kalau dia bukan cinta pertamaku? Dia hanya teman lama."
"Hanya teman lama, ya? Teman lama yang terus kau ingat sampai sekarang, teman lama yang bahkan membuatmu pergi ke Seoul, tempat yang kau hindari mati-matian, hanya karena kau mendengar kalau teman lamamu itu sudah kembali ke Seoul setelah bertahun-tahun meninggalkannya. Ya. Tentu saja. Teman lama."
Jaehyun tertawa begitu mendengar nada sarkastis dalam suara sahabatnya itu. Padahal baru beberapa hari berpisah, tapi ia sudah rindu menghabiskan waktu dengan Johnny. "Oke, mungkin aku memang sedikit menyukainya dulu. Tapi—"
"Nah! Benar, kan! Dia memang cinta pertamamu. Kau tak bisa mengelak lagi sekarang."
"Tapi kau kan tahu kalau alasan utamaku ingin kembali bertemu dengannya bukan karena aku masih menyukainya, tapi karena aku berhutang banyak padanya. Dia melakukan banyak hal untukku dulu, dan aku ingin membalas semua kebaikannya padaku."
"Aku juga sudah melakukan banyak untukmu, tapi kau malah tega meninggalkanku sendiri di sini. Kau pilih kasih, J. Pasti teman lamamu ini lebih tampan dariku, makanya kau rela memohon-mohon pada ayahmu untuk mengizinkanmu kembali ke Seoul." Johnny terdengar begitu sedih ketika mengucapkan kalimat-kalimatnya barusan, tetapi Jaehyun tahu Johnny hanya pura-pura. Ia begitu mengenal Johnny sampai ia berani bertaruh, bahwa Johnny pasti sedang menahan tawanya di ujung sana.
Jaehyun masih ingat jelas, bagaimana ia bertemu dengan Johnny untuk pertama kalinya, bagaimana persahabatan keduanya di mulai.
Ia pertama kali bertemu dengan Johnny tepat di hari pertamanya menginjakkan kaki di ibukota Amerika Serikat. Ayahnya memang tidak memiliki rumah di sana, dan lebih memilih membeli sebuah unit apartemen sebagai tempat tinggalnya di Amerika. Alasan utamanya adalah karena ia tinggal sendirian, dan juga karena ia lebih sering berada di luar rumah, sibuk dengan pekerjaannya, daripada berada di dalam rumah. Karena itulah ia lebih memilih sebuah unit apartemen sebagai tempat tinggalnya, karena memang harganya lebih murah, meskipun tidak jauh lebih murah, dan juga lebih kecil dan cocok untuk ditinggali seorang diri.
Jaehyun ingat bahwa ayahnya langsung meninggalkannya sendirian setelah menjemputnya dari bandara dan mengantarnya ke apartemen, tempat dimana ia akan tinggal selama ia berada di Amerika, tanpa lupa memberinya beberapa lembar uang untuk membeli makanan kalau seandainya ia lapar. Ayahnya tampaknya lupa bahwa Jaehyun belum beradaptasi sama sekali dengan tempat tinggal barunya, dan bahwa kemampuan bahasa Inggrisnya waktu itu masih sangatlah buruk. Jaehyun hanya bisa mondar-mandir di dalam unit apartemennya dengan perut kelaparan, bingung harus bagaimana. Ia sebenarnya sudah siap untuk menerima nasibnya, kelaparan sampai ayahnya itu pulang—yang ia sendiri bahkan tidak tahu kapan—kalau saja tidak terdengar ketukan di pintunya.
Ketika Jaehyun membuka pintu unit apartemennya, pandangannya langsung jatuh pada seorang pemuda dengan tinggi yang melebihi dirinya, dan meskipun Jaehyun belum pernah bertemu dengan pemuda itu sebelumnya, melihat wajahnya membuat Jaehyun nyaman, namun sedih disaat yang bersamaan.
"Err, hello?" Meskipun Jaehyun tahu bahwa pemuda yang tiba-tiba mengetuk pintu unit apartemennya ini memiliki wajah orang Asia dan kemungkinan memiliki darah Korea—karena Jaehyun bisa membedakan mana yang orang Korea dan mana yang bukan dimana pun ia berada—tetap saja ada kemungkinan bahwa pemuda ini tidak bisa berbahasa Korea karena tinggal di Amerika sejak lahir. Karena itulah Jaehyun menyapanya dengan sapaan se-simpel 'hello' karena kata itu merupakan salah satu kata dalam bahasa Inggris yang ia tahu. Dan jujur saja, Jaehyun hanya tahu sedikit kata-kata dalam bahasa Inggris.
"Hai!" Langsung tampak ekspresi lega pada wajah Jaehyun begitu ia mendengar pemuda di depannya ini menyapanya dengan bahasa Korea. Setidaknya ia berhasil menemukan seseorang yang dapat ia ajak berbicara selain ayahnya. "Aku Johnny. Johnny Seo. Paman Jung kemarin memberitahuku bahwa anaknya akan tiba di Amerika hari ini, dan ia menugaskanku untuk membantumu kalau kau memiliki kesulitan. Kesulitan apa pun. Tapi kalau kesulitanmu itu karena tidak bisa mendapatkan pacar, well, aku tidak bisa membantu, karena sampai sekarang pun aku juga tidak punya pacar."
Jaehyun langsung tertawa setelah mendengar ucapan Johnny itu. Tawa tulus pertamanya setelah kejadian yang membuatnya memutuskan untuk meninggalkan Korea Selatan dan tinggal di Amerika bersama ayahnya, seseorang yang sesungguhnya ia benci karena telah meninggalkan ia dan ibunya sendirian, dan malah pindah ke Amerika yang membuat Jaehyun tidak pernah melihatnya selama dua tahun lamanya. Jaehyun ingat betapa malunya dirinya ketika ia menekatkan diri untuk menelepon ayahnya, memohon-mohon padanya untuk membiarkannya tinggal bersama sang ayah di Amerika. Meskipun ia merasa sangat malu, rasa malunya itu tidak akan bisa mengalahkan rasa sedih dan rasa bersalahnya waktu itu. Dua macam perasaan yang membuatnya ingin meninggalkan Korea Selatan dengan segera.
Persahabatan antara Jaehyun dan Johnny dimulai dengan hal sesederhana sebuah ketukan di pintu unit apartemen Jaehyun. Keduanya tak terpisahkan sejak hari pertama mereka bertemu, terutama setelah Jaehyun tahu bahwa ia dan Johnny bersekolah di sekolah yang sama. Johnny lah yang mengenalkannya pada Mark, seorang sahabatnya yang lain, dan juga pada beberapa teman Jaehyun lainnya. Johnny lah yang pertama kali tahu alasan sebenarnya kenapa Jaehyun begitu ingin meninggalkan dan melupakan tanah kelahirannya itu. Johnny juga lah yang pertama kali tahu tentang perasaan bersalah Jaehyun yang sedemikian besarnya, dan bagaimana Jaehyun tidak bisa memaafkan dirinya sendiri, bahkan hingga detik ini. Johnny memiliki tempat spesial di hati Jaehyun, sampai-sampai Jaehyun sudah menganggap pemuda bermarga Seo itu seperti saudaranya sendiri.
"Halo? Hei! Aku tidak menerima teleponmu untuk didiamkan seperti ini, ya!" Jaehyun tersadar dari lamunannya ketika ia mendengar suara keras Johnny di ujung sana. Ia yakin sahabatnya itu sedang berteriak-teriak, terbukti dari betapa besar suara yang bisa ia dengar saat ini. "J!"
"Maaf, maaf, aku sempat melamun tadi," Jaehyun meringis bersalah. "Oh ya, pasti disana sedang pagi, kan? Kau tidak sekolah?"
"Kebiasaanmu melamun itu benar-benar perlu dihentikan, J," Jaehyun dapat melihat Johnny menggeleng-gelengkan kepalanya di ujung sana, kebiasaannya kalau tidak setuju atau kesal dengan sesuatu. "Saat kau mendiamkanku tadi sebenarnya aku sudah izin padamu untuk mematikan sambungan telepon karena sekolah akan dimulai 45 menit lagi tapi aku belum juga bersiap-siap. Mandi saja belum. Ini semua karena kau. Kalau aku telat, aku akan membunuhmu. Serius. Mana pelajaran pertamaku hari ini si pak tua itu, lagi."
"Kenapa kau malah menyalahkanku? Cepat sana mandi! Aku tahu kau tidak suka mandi dan termasuk tim hemat air, tapi kau tahu kalau kau harus mandi, kan? Dan, selamat bersenang-senang dengan si pak tua, tuan Seo!"
"Sialan kau," Meskipun berkata seperti itu, Jaehyun tetap mendengar tawa Johnny yang khas itu begitu ia selesai bicara. "Sudah dulu, ya. Aku mau mandi—Oh! Mark rindu padamu, ia titip salam. Dan, jaga dirimu, J. Sudah saatnya kau melupakan masa lalumu. Mulailah dari awal lagi. Berhentilah merasa bersalah. Kejadian itu bukan salahmu. Bukan salah Jung Jaehyun."
Jaehyun tidak sempat membalas ucapan Johnny karena sambungan telepon sudah diputus oleh satu pihak, dan ucapan Johnny sebelum memutus sambungan telepon sukses membuat Jaehyun terdiam.
Ini pertama kalinya Johnny memanggilnya dengan nama Koreanya setelah ia menyuruh semua orang, semua temannya di Amerika, untuk memanggilnya dengan nama panggilannya di Amerika. Johnny menurut, tahu betapa kerasnya usaha Jaehyun dalam melupakan semua hal yang berkaitan dengan tanah kelahirannya, meski itu berarti ia harus melupakan namanya sendiri.
Jaehyun tahu Johnny benar. Ia tahu ia memang seharusnya berhenti merasa bersalah, berhenti meminum obat tidur karena ia selalu kesulitan untuk tidur setiap malamnya, tak peduli selelah apapun ia. Tentu saja ia sulit tidur. Bagaimana bisa ia tidur, kalau setiap kali ia memejamkan mata, sosok itu akan terus terbayang-bayang di otaknya.
Tapi ia juga tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa melupakan masa lalunya, melupakan tanah kelahirannya, melupakan semua hal tentang Seoul, sekeras apapun ia mencoba untuk melupakannya.
Tentu saja ia tidak akan pernah bisa lupa. Bagaimana mungkin ia bisa lupa, bagaimana mungkin ia bisa berhenti merasa bersalah, setelah ia membunuh seseorang tiga tahun yang lalu?
To Be Continued.
Makasih yang udah review, favorite, dan follow fanfic ini, ya.
Thankyou for reading!
