"Maafkan aku, Hansol. Maafkan aku."

Hansol masih mengingatnya dengan jelas, bagaimana Taeyong mengucapkan kata-kata tersebut dengan air mata yang tak henti meluncur turun, bagaimana Taeyong memeluknya dengan erat, seakan-akan takut kalau Hansol akan meninggalkannya seperti orang-orang lain dalam hidupnya.

Hansol juga ingat, bahwa kata-kata tersebut merupakan kata-kata terakhir yang keluar dari mulut sahabatnya itu, karena sehari setelahnya, Taeyong memulai aksi bisunya. Ia menolak untuk mengeluarkan suaranya, untuk berbicara, bahkan ketika Hansol sudah memohon-mohon kepadanya. Sejak saat itu, Hansol merasa bahwa ia telah kehilangan diri Taeyong yang dulu. Ia merasa telah kehilangan sahabatnya, partner bertengkarnya, seorang sahabat yang sering mengomel padanya, terutama kalau Hansol sedang sakit atau malas makan. Taeyong itu memang sebenarnya sangat perhatian, terutama kepada orang-orang terdekatnya, namun seringkali orang salah paham dan mengira bahwa Taeyong hanya suka mengomel tanpa alasan jelas.

Hansol rindu dengan diri Taeyong yang dulu. Bukannya ia tak lagi menyayangi diri Taeyong yang sekarang, namun kalau boleh memilih, ia akan memilih diri sahabatnya yang dulu. Diri Taeyong yang sebenarnya, dan bukan versi palsu dirinya yang sekarang. Taeyong yang apa adanya, bukan Taeyong yang menyiksa dirinya dengan cara menolak bicara seperti ini.

Hansol tahu Taeyong hanya terluka. Ia tahu Taeyong hanya tak ingin masa-masa itu terulang kembali dalam hidupnya, ia tahu. Tapi tetap saja hatinya terus berdenyut sakit setiap kali ia menatap Taeyong, terutama setiap kali ia menatap matanya, karena Hansol hanya bisa melihat kesedihan di dalamnya.

Sudah tak ada lagi Lee Taeyong yang ceria, yang suka mengomel, yang selalu berkata terus terang, yang selalu berkata bahwa ia benci bertingkah imut, tapi seringkali tanpa sadar bertingkah imut dengan sendirinya.

Sekarang hanya ada sosok Lee Taeyong yang pendiam, yang menutup dirinya serapat mungkin, terlalu takut untuk membuka dirinya dan terluka kembali. Hanya ada Taeyong yang terus-terusan menyalahkan dirinya karena membuat semua orang tidak ada yang mau berteman dengannya, membuat semua orang pergi dari hidupnya.

Soul City

Jaehyun, Jung x Taeyong, Lee

Romance, Drama, Hurt/Comfort

NCT © SM Entertainment

"Aku tak tahu kau sudah kenal lebih dulu dengan murid baru itu."

Taeyong melepas kedua earphone yang menyumpal kedua telinganya ketika mendengar secara samar-samar bahwa Hansol sedang berbicara padanya. Ia menatap Hansol sesaat, sebelum mengambil pulpen dan secarik kertas dari kolong mejanya.

Aku tidak mengenalnya.

Hansol mengeluarkan dengusan tidak percaya begitu melihat tulisan Taeyong di atas secarik kertas yang disodorkan oleh sahabatnya itu padanya. Hansol merubah posisinya, dari yang semula menyender di tubuh Taeyong dengan kepala yang menyender di bahunya itu menjadi duduk tegak di kursinya sendiri.

"Jelas-jelas Jung Jaehyun tadi meminta ingin duduk di sebelahmu karena ia mengenalmu, Tae! Masa kau tidak mengenalnya? Dasar bohong."

Aku tidak berbohong.

"Bohong."

Oke, oke. Kami tidak sengaja bertemu sebelumnya?

"Apa-apaan tanda tanya itu?" Hansol menatap sahabatnya yang masih setia dengan wajah datarnya itu, tidak menampakkan ekspresi apapun. "Jadi sebenarnya kau dan anak baru itu saling mengenal atau tidak?"

Taeyong terdiam sesaat, sebelum ia menghela napasnya dan menuliskan jawaban untuk Hansol. Ia tahu Hansol tidak akan berhenti bertanya padanya sampai pertanyaannya itu terjawab, jadi Taeyong tahu cara terbaik untuk membuat Hansol diam adalah dengan menjawab pertanyaannya, secara jujur pula. Karena Hansol, entah bagaimana, selalu tahu setiap kali Taeyong berbohong.

Aku dan anak baru itu hanya pernah bertemu sekali.

"Dimana?"

Di dekat rumah, kemarin pagi.

"Bagaimana kalian bisa bertemu?"

Kau terlalu banyak bertanya, Ji.

Setelah menulis balasan terakhirnya di secarik kertas, Taeyong langsung kembali menyumpal kedua telinganya dengan earphone kesayangannya, tanda bahwa ia sedang tidak ingin diganggu. Ia bahkan tidak mempedulikan rengekkan Hansol yang masih penasaran itu.

Hansol terlalu ingin tahu, dan Taeyong sedang malas menjelaskan.

Lagipula menurutnya pertemuannya dengan anak baru itu, Jung Jaehyun, tidak terlalu penting untuk diceritakan. Ia yakin hubungan antara dirinya dan Jaehyun tidak akan berbeda jauh dengan hubungan antara dirinya dan teman-teman sekelasnya yang lain, meskipun mereka pernah bertemu secara tak sengaja sebelumnya. Meskipun Jaehyun duduk tepat di sampingnya, ia tahu ia tetap akan mendiamkan Jaehyun seperti ia mendiamkan teman-teman sekelasnya yang lain. Ia tahu ia akan mengabaikan keberadaan Jaehyun seperti ia mengabaikan keberadaan semua teman sekelasnya kecuali Hansol.

Pertemuan mereka yang tidak disengaja itu tidak akan mengubah apapun.


"Uh, Taeyong?"

Taeyong yang sebelumnya tengah fokus mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya langsung menoleh sedikit begitu mendengar suara yang memanggilnya itu, meskipun sebenarnya tanpa menoleh pun ia tahu siapa yang memanggilnya.

Siapa lagi kalau bukan murid baru yang duduk di sebelahnya itu?

"Kau dengar tadi kalau Oh songsaengnim akan memberikan tugas berkelompok, kan? Dan kelompoknya kita tentukan sendiri. Bolehkah aku sekelompok denganmu?"

Begitu mendengar pertanyaan itu, Taeyong langsung menatap Jaehyun dengan wajah datarnya, meskipun dalam hati ia sedang heran sekaligus kaget karena pertanyaan murid baru di kelasnya itu. Walau ditatap dengan wajah tanpa ekspresi oleh Taeyong, Jaehyun membalas tatapan pria berambut cokelat tua itu dengan senyumannya, menunjukkan lesung pipinya yang begitu ia banggakan itu.

"Boleh, tentu saja boleh!" Lagi-lagi, malah Hansol yang menjawab pertanyaan yang sebenarnya ditujukan kepada Taeyong itu. Hansol saat ini sedang mencondongkan tubuhnya agak ke depan, agar terlihat oleh Jaehyun. Di wajahnya terpampang sebuah senyum lebar, dan Hansol, entah mengapa, terlihat begitu bersemangat. "Aku dan Taeyong sebenarnya terbiasa satu kelompok, tapi kalau kau mau satu kelompok bersamanya, aku dengan senang hati memberikannya untukmu—maksudku, aku dengan senang hati akan sekelompok dengan Doyoung saja. Ya kan, Doyoung?"

"Hah?" Doyoung yang sebelumnya memang sudah memperhatikan interaksi dari orang-orang yang duduk di barisan belakangnya itu menatap Hansol heran begitu mendengar namanya disebut, namun ia langsung buru-buru mengangguk begitu mengerti maksud dari pria dengan surai pirang keemasan itu. "Ya, ya. Aku akan sekelompok dengan Hansol. Tentu, tentu."

Taeyong yang menjadi objek pembicaraan langsung menginjak kaki sahabatnya itu begitu mendengar bahwa Hansol dengan seenaknya berkata bahwa ia akan sekelompok dengan Doyoung dan membiarkan Taeyong sekelompok dengan Jaehyun, padahal Hansol adalah orang yang paling tahu bahwa Taeyong tidak ingin bersosialisasi dengan siapa pun sejak kejadian itu. Ia selama ini memang selalu sekelompok dengan Hansol, berapa pun anggotanya, Taeyong pasti akan berada di kelompok yang sama dengan Hansol dan ia hanya akan berinteraksi dengan sahabatnya itu saja. Untungnya teman-temannya sudah maklum dengan sikapnya itu setelah diwanti-wanti oleh Hansol sejak awal, jadi mereka selalu membiarkan Taeyong dalam diamnya, tanpa mengajaknya berbicara satu kali pun kecuali saat sedang membagi-bagikan dan mengumpulkan tugas. Lagipula pekerjaan Taeyong tidak pernah mengecewakan, jadi teman-teman sekelompoknya tidak pernah protes dengan kebisuannya.

"Sakit!" Hansol langsung mengaduh begitu merasakan kaki Taeyong yang menginjak kakinya, yang langsung membuat Doyoung dan Jaehyun yang memang tidak melihat kejadian penginjakkan kaki itu menatapnya heran. Hansol meringis sesaat, sebelum senyum lebar kembali di wajahnya. "Doyoung, kapan kita mau kerja kelompok? Dimana? Di rumahku? Di rumahmu?"

"Kita kan harus survey beberapa tempat bersejarah di Seoul, bodoh. Memangnya rumahku atau rumahmu itu tempat bersejarah?"

"Ah, benar juga," Hansol menunjukkan cengirannya, baru teringat bahwa gurunya memang memberikan tugas untuk mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Seoul, bukan tugas kelompok yang dapat dikerjakan di rumah. "Lalu? Mau kapan?"

Taeyong menatap sahabatnya itu kesal ketika melihat Hansol yang sudah asyik merencanakan kerja kelompoknya dengan Doyoung. Ia kira Hansol tadi hanya bercanda saja begitu berkata bahwa ia akan sekelompok dengan ketua kelasnya itu, tapi ternyata kali ini ia serius.

Benar-benar menyebalkan.

"Taeyong?" Taeyong kembali menolehkan kepalanya untuk menatap Jaehyun begitu mendengar suara pemuda itu memanggil namanya. "Kalau kau memang tidak ingin sekelompok denganku, tidak apa-apa. Aku tadi bertanya karena aku belum terlalu mengenal yang lain, maaf. Kau bisa sekelompok dengan Hansol, aku akan bersama Doyoung saja."

Memang tidak ada ekspresi apa pun dalam wajah Taeyong, namun dalam hati, ia sedikit merasa bersalah juga begitu melihat ekspresi Jaehyun yang tampak benar-benar menyesal, dan bagaimana ia mengatakan kalimat barusan dengan begitu hati-hati, seolah ia takut melukai perasaan Taeyong.

Taeyong memang sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membiarkan orang lain masuk ke dalam hidupnya setelah kejadian itu, tapi seorang Lee Taeyong adalah seseorang yang benar-benar lemah dengan perasaan bersalah.

Tidak apa, aku akan sekelompok denganmu.

Taeyong menyerahkan secarik kertas post-it yang sudah ditulisinya itu kepada Jaehyun, dan Taeyong yang mengira bahwa Jaehyun akan membalasnya dengan cara berbicara langsung kembali memfokuskan perhatiannya pada buku tulisnya, kembali mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya itu. Tapi tak sampai beberapa menit kemudian, terlihat secarik kertas post-it lainnya di atas halaman buku tulis Taeyong yang terbuka, dan terdapat tulisan Jaehyun di atasnya.

Benarkah? Terimakasih! Kapan kita mau mengerjakan tugasnya? Aku bisa kapan saja!

Taeyong menatap kertas post-it itu lama, menimbang-nimbang tentang jawaban yang tepat untuk pertanyaan Jaehyun. Sesungguhnya Taeyong sama dengan lelaki yang lebih tinggi darinya itu, bisa kapan saja, karena Taeyong memang tidak memiliki kegiatan apapun setelah ia pulang sekolah setiap harinya. Satu-satunya kegiatan Taeyong selain berangkat ke sekolah, belajar, lalu pulang ke rumah adalah menyiapkan makan malam untuk Hansol dan dirinya sendiri, membersihkan rumah, lalu Taeyong bebas melakukan apapun yang ia mau.

Jadi ya, Taeyong sebenarnya memang bisa kapan saja.

Aku juga bisa kapan saja. Lebih cepat lebih baik.

Ketika Taeyong menyerahkan kertas post-it lainnya kepada Jaehyun, Hansol menatapnya dengan tatapan jahil, seolah-olah sedang memikirkan kata-kata untuk menggoda Taeyong ketika waktu makan siang tiba nanti. Taeyong yang melihatnya hanya bisa mengeluh dalam hati, karena ia tahu Hansol pasti akan menggodanya habis-habisan nanti. Hansol pasti akan menggodanya dengan hal-hal yang berhubungan dengan Jaehyun, padahal ia dan Jaehyun tidak memiliki hubungan apapun. Teman saja bukan.

Aku sudah memikirkan beberapa tempat. Ada yang dekat dan ada yang jauh. Bagaimana kalau hari ini kita mengunjungi yang dekat dulu? Lalu hari Sabtu nanti kita bisa mengunjungi yang agak jauh. Bagaimana?

Taeyong, yang tahu bahwa Jaehyun masih setia memandanginya sejak detik pertama awal mereka mulai bertukar post-it, hanya memberi sebuah anggukan tanda setuju kepada pemuda berlesung pipi itu. Jaehyun tersenyum singkat, mengerti arti dari anggukan Taeyong, sebelum ia mengalihkan pandangannya, dan melanjutkan mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya.

Taeyong sendiri sebenarnya agak heran, heran mengapa Jaehyun malah ikut-ikutan berbicara dengannya melalui post-it dan bukannya dengan bicara langsung, padahal akan jauh lebih mudah dan menghemat tenaga bila Jaehyun membalasnya dengan langsung bicara, bukannya repot-repot mengeluarkan post-it dari tempat pensilnya dan menghabiskan energi untuk menulis beberapa kalimat di atas secarik kertas kecil itu.

Selama ini setiap kali ia butuh bicara dengan seseorang, Taeyong selalu menggunakan post-it atau secarik kertas sebagai media komunikasi, dimana ia akan menuliskan kata-kata yang ingin ia ucapkan di atas kertas tersebut, lalu akan ia serahkan kepada orang yang bersangkutan. Dan selama ini, lawan bicaranya selalu membalasnya dengan berbicara langsung, tidak pernah menggunakan post-it juga seperti Jaehyun.

Sebenarnya memang tidak begitu aneh, hanya saja itu merupakan hal baru bagi Taeyong.


"Bagaimana kalau hari ini kita mengunjungi Gyeobokgung Palace, lalu Gyeonghui atau Changdeok Palace?"

Saat ini Taeyong dan Jaehyun sedang menunggu subway di stasiun subway terdekat dengan sekolah mereka, menunggu subway yang akan membawa mereka ke area Jongno, salah satu distrik di Seoul dimana tempat-tempat yang disebutkan oleh Jaehyun tadi berada. Gyeobokgung Palace, Gyeonghui Palace, Changdeok Palace, semuanya berada di distrik Jongno. Jaehyun dan Taeyong menjadikan daerah tersebut sebagai tujuan pertama mereka selain karena cukup banyak tempat-tempat bersejarah di sana, Jongno juga cukup dekat letaknya dengan sekolah mereka.

Taeyong hanya menganggukan kepalanya, tak sepenuhnya mendengarkan ucapan Jaehyun karena pikirannya masih dipenuhi dengan kekesalannya akan tingkah laku sahabatnya, alias Hansol.

Tadi, saat Taeyong menyuruh Hansol untuk pulang sendiri hari ini karena ia akan pergi mengerjakan tugas bersama Jaehyun, Hansol malah memberikan Taeyong senyuman lebarnya, lalu memeluk tubuh kurus Taeyong itu dari samping, sambil membisikkan sebuah kata yang membuat Taeyong kesal setengah mati.

"Tidak usah pulang juga tak apa, kok. Aku menunggu kau memberikanku kabar kalau kau sudah tidak jomblo lagi, oke? Semangat, Tae! Aku mendukungmu bersama Jaehyun. Jangan kecewakan aku, ya?"

Apa coba maksudnya?

Taeyong menghela napasnya, mencoba untuk tidak memikirkan Hansol lagi, dan berusaha untuk memfokuskan pikirannya pada fakta bahwa ia akan menghabiskan beberapa jam ke depan dengan seseorang yang baru saja dikenalnya beberapa jam yang lalu, dan fakta tersebut sungguh membuatnya tak nyaman, meskipun Taeyong berhasil menyembunyikan rasa tak nyamannya itu dengan baik.

Jaehyun mungkin memang orang baik, terlihat dari bagaimana sebagian besar teman-teman sekelas Taeyong yang lain langsung menyukainya dari saat pertama mereka mulai mengajak berbicara murid baru itu, dan bahkan beberapa siswi sudah mulai mengincar Jaehyun untuk dijadikan seorang kekasih, semua karena keramahan Jaehyun dan wajahnya yang memang tampan itu. Jaehyun juga tampaknya memiliki kemampuan yang baik dalam bersosialisasi dan membuat orang nyaman, karena hampir semua orang yang sudah mengobrol dengan Jaehyun berkata bahwa Jaehyun benar-benar asyik dan nyaman untuk diajak bicara.

Meskipun Taeyong sudah tahu fakta-fakta tersebut, ia tetap merasa tak nyaman bersama dengan Jaehyun. Jaehyun itu orang baru, tidak seperti Hansol yang sudah tahu segalanya tentang dirinya dan tetap tinggal di sampingnya. Dulu mungkin Taeyong selalu bersemangat untuk menambah teman, selalu mengajak berbicara orang-orang yang baru dilihatnya, tapi sekarang sudah tidak.

Kejadian itu memang merubah semuanya. Bahkan merubah dirinya dari yang mudah mempercayai orang dan cenderung terbuka kepada siapa saja, menjadi sulit untuk mempercayai orang dan selalu tertutup kepada siapa saja, kecuali Hansol.

"Ah, itu dia," Suara Jaehyun membuat Taeyong tersadar dari lamunannya, ia mengikuti arah pandang Jaehyun, dan Taeyong dapat melihat sebuah subway yang sedang melaju ke arah tempat keduanya menunggu. Tak butuh waktu lama sampai subway itu tiba di hadapan Jaehyun dan Taeyong.

Taeyong dibuat kaget ketika Jaehyun tiba-tiba memegang pergelangan tangannya, menariknya masuk ke dalam subway, membawanya sampai bagian paling belakang yang kebetulan memang kosong itu. Jaehyun tak melepaskan pegangannya pada tangan Taeyong, bahkan sampai keduanya sudah duduk dan subway mulai berjalan. Taeyong merasa begitu kaget sekaligus tidak nyaman dengan pegangan Jaehyun pada tangannya, sehingga pada menit-menit pertama, ia hanya diam saja dan tak melakukan apapun.

Jaehyun baru tersadar ketika Taeyong membuat pergerakan kecil dengan tangannya, beberapa menit setelah subway melaju meninggalkan stasiun tempat mereka naik tadi. Jaehyun menoleh, menatap tangannya yang memegang pergelangan tangan Taeyong dengan kaget, sebelum ia buru-buru melepaskan pegangannya dan menatap Taeyong dengan tatapan bersalah.

"Maafkan aku! Aku terbiasa memegang tangan orang yang naik bersamaku ketika naik bus," Jaehyun berkata dengan terburu-buru. "Kau pasti merasa tidak nyaman. Maafkan aku, itu tidak akan terulang lagi."

Taeyong hanya menganggukan kepalanya kaku, sebelum mengalihkan pandangannya ke arah jendela, menatap pemandangan luar yang dilalui oleh subway yang dinaikinya itu.

Sudah lama sekali sejak terakhir kali ada orang yang menyentuhnya selain Hansol dan kedua orangtuanya. Sejak setahun yang lalu, sejak semua orang kecuali Hansol dan keluarganya meninggalkan dirinya, dan Taeyong berhasil menutup dirinya dari semua orang baru, tidak ada lagi yang pernah menyentuhnya, tidak ada lagi yang pernah merangkulnya, menggenggam tangannya, memeluknya, sentuhan-sentuhan ringan lainnya yang dulu ia biasa lakukan dengan semua teman dekatnya. Hanya Hansol seorang yang masih melakukan hal-hal tersebut kepadanya, dan karena setahun merupakan waktu yang sangat lama, sentuhan orang lain selain Hansol terasa sangat asing bagi Taeyong.

Taeyong terlalu sibuk dalam pikirannya sendiri sepanjang perjalanan, sampai-sampai ia tidak sadar bahwa sedaritadi tatapan Jaehyun hanya jatuh padanya. Ya, sepanjang perjalanan, Jaehyun hanya menatap Taeyong seorang, tidak pernah repot untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Jaehyun hanya penasaran dengan sosok teman sekelompoknya ini, sungguh.

"Sampai! Ayo turun," Jaehyun berkata begitu subway yang mereka tumpangi sudah sampai di stasiun terdekat dengan tempat tujuan mereka, yaitu Gyeobokgung Palace.

Jaehyun kali ini memastikan bahwa ia tidak memegang tangan Taeyong lagi secara refleks seperti sebelumnya, dan ia membiarkan Taeyong memimpin jalan menuju Gwanghwamun Gate, gerbang masuk utama dari Gyeobokgung Palace. Lagipula Jaehyun yakin Taeyong memang lebih tahu tentang Seoul dan tempat tujuan mereka itu dibandingkan dirinya. Jelas saja. Ia sudah tiga tahun tidak mengunjungi tanah kelahirannya itu sama sekali.

"Ah, kita sampai tepat pada waktunya untuk upacara pergantian pengawal," Jaehyun berkata begitu keduanya sampai di Gwanghwamun Gate, dimana beberapa pengunjung lainnya juga sudah berkumpul untuk melihat upacara pergantian pengawal Gyeobokgung Palace yang memang terkenal itu. Jaehyun mengeluarkan ponselnya dari kantong celana seragamnya, siap untuk mengabadikan momen di hadapannya itu.

Taeyong yang berdiri di samping Jaehyun hanya memperhatikan upacara di depannya itu dengan diam, sambil mengingat-ingat berbagai gerakan dan prosesnya, agar ia bisa menulisnya dalam laporan kunjungan mereka itu nanti. Taeyong memperhatikan dengan tenang, sampai-sampai ia mendengar sebuah suara familiar, sebuah suara yang tidak ingin ia dengar lagi, memanggil namanya.

"Taeyong?"

Tubuh Taeyong menegang sesaat, bahkan Jaehyun yang berdiri di sampingnya dan notabene bukan yang dipanggil sudah menoleh lebih dulu dan membalikkan tubuhnya lebih dulu dari dirinya. Taeyong hanya tak siap melihat orang itu. Orang yang berulangkali hadir dalam mimpinya, dengan tawanya yang jahat dan tatapannya yang licik.

Taeyong menoleh, dan ia menahan napasnya begitu ia melihat sosok itu lagi.

Setelah sekian lama.

Setelah Taeyong pindah sekolah hanya untuk menghindarinya.

"Hai. Aku tidak mengira akan melihatmu di sini setelah kau pindah beberapa bulan yang lalu," Orang itu berkata, senyuman tampak di bibirnya. Senyuman palsu. "Apa kabar? Sudah lama tidak bertemu. Aku benar-benar rindu denganmu."

Bohong. Taeyong tanpa sadar menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh Jaehyun yang lebih tinggi dari dirinya, dan tanpa sadar pula ia memegang bagian belakang seragam Jaehyun dengan erat, semua karena ia merasa begitu takut ketika melihat orang itu. Semua kenangan tentang kejadian satu tahun yang lalu kembali ke otaknya. Bagaimana orang di depannya itulah yang memulai semua rumor akan dirinya, yang membuat semua teman-temannya menjauhinya. Taeyong tahu sifatnya dulu juga berperan besar dalam kepergian teman-temannya, tapi rumor yang dibuat oleh dia lah yang benar-benar membuat semua temannya pergi.

"Oh ayolah, kenapa kau malah bersembunyi di belakang tubuh temanmu itu?" Orang itu berkata, senyumannya berganti menjadi sebuah seringai. "Aku tidak menyangka bahwa masih ada orang selain Hansol yang mau berteman denganmu. Orang buta dan tuli yang gampang dibodohi lainnya. Aku kira hanya Hansol. Tapi ternyata ada lagi, eh?"

Taeyong makin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Jaehyun, berusaha untuk menyembunyikan dirinya lebih jauh di balik tubuh teman sekelasnya itu. Bahkan ia berharap ia bisa tiba-tiba menghilang sekarang. Ia benar-benar tidak ingin berhadapan dengan mantan teman sekolahnya itu. Benar-benar tak ingin. Bahkan tanpa sadar, tubuh Taeyong mulai sedikit gemetar karena takut.

"Masih pengecut rupanya, ya? Dulu kau selalu bersembunyi di balik Hansol, dan sekarang di balik teman barumu ini. Aku benar-benar tak mengerti kenapa ada orang yang mau berteman dengan seseorang sepertimu," Orang itu tertawa sinis, melangkahkan kakinya, mendekatkan diri kepada Taeyong.

Namun sebelum orang itu bisa melangkah lebih dekat lagi dengan Taeyong, tangan Jaehyun tiba-tiba terulur, memegang bahu seseorang yang merupakan orang asing itu baginya, menahannya dari mendekatkan diri lebih dekat lagi kepada Taeyong.

Meskipun Jaehyun tidak tahu-menahu tentang hubungan antara Taeyong dan orang asing ini, Jaehyun tidak bodoh. Ia tahu Taeyong ketakutan setengah mati terhadap orang asing ini. Terlihat dari cara Taeyong menyembunyikan diri di balik tubuhnya, bagaimana Taeyong memegang bagian belakang seragamnya dengan erat, bagaimana Taeyong menempelkan kepalanya pada punggungnya, bagaimana Taeyong sedikit gemetar di balik punggungnya. Jaehyun tahu bahwa ia harus melindungi Taeyong dari orang asing ini.

"Aku dan Taeyong sedang mengerjakan tugas kelompok bersama," Jaehyun membuka mulutnya, membalas tatapan tajam yang dilayangkan oleh lelaki di hadapannya itu, dengan tatapan datar sekaligus dinginnya. "Silakan pergi, aku tidak ingin diganggu ketika sedang mengerjakan tugas."

"Aku hanya ingin menanyakkan kabar Taeyong, sungguh," Lelaki itu berkata dengan nada pura-pura polos, namun tatapan tajam yang masih berada di wajahnya itu membuat Jaehyun tahu bahwa ia bukan hanya ingin menanyakkan kabar Taeyong saja. "Aku rindu padanya, dia teman lamaku. Ya kan, Taeyongie?"

Taeyong memegang bagian belakang seragam Jaehyun dengan makin erat, ia makin merapatkan dirinya dengan Jaehyun, entah tidak sadar atau tidak peduli bahwa jarak tubuhnya dan tubuh Jaehyun sudah sangat dekat sekarang, tak lebih dari satu jengkal. Ia hanya peduli dengan rasa takut di dalam hatinya.

"Aku ragu bahwa Taeyong mengakuimu sebagai teman lamanya," Jaehyun berkata, sambil mengulurkan tangannya ke belakang untuk meraih pergelangan salah satu tangan Taeyong, melepaskan pegangan salah satu tangannya itu dari seragamnya, lalu menggenggamnya erat, seakan-akan Jaehyun ingin membantu Taeyong agar pemuda yang sedang bersembunyi di balik punggungnya itu bisa lebih tenang sedikit.

"Oh, kau bisa tanyakan sendiri kepadanya," lelaki itu kembali memasang seulas seringai di wajahnya, menatap tangan Jaehyun dan Taeyong yang bertautan dengan tatapan licik. "Kau bisa tanyakan siapa itu Yoon Jeonghan padanya, dan aku yakin ia akan menjawab bahwa aku adalah teman lamanya. Ya, kan, Taeyong? Oh dan Taeyongie, aku tidak menyangka bahwa selain mendapatkan teman baru di sekolah barumu itu, kau juga mendapatkan seorang kekasih baru yang sangat tampan. Apa kau sudah bisa melupakan Seungcheol? Cepat sekali. Aku kira kau akan butuh waktu lebih dari satu tahun untuk melupakan mantan kekasihmu itu."

Jaehyun dapat merasakan tubuh Taeyong yang menegang begitu nama Seungcheol disebutkan, dan meskipun timbul rasa penasaran dalam diri Jaehyun, ia tetap memfokuskan dirinya untuk melindungi teman sekelasnya ini dari lelaki di hadapannya, yang ternyata bernama Jeonghan.

"Apa kau ingin menyampaikan salam kepada Seungcheol? Ah, kau ingin? Tentu, tentu. Aku akan menyampaikannya," Jeonghan berkata, nadanya terdengar mengejek sekaligus sinis. "Dan untuk Jisoo, Jihoon, Soonyoung, dan Wonwoo, apa kau ingin menyampaikan salam kepada mereka juga? Ah, tentu saja. Mereka kan sahabatmu. Atau mantan sahabatmu, lebih tepatnya. Tenang saja, mereka semua sangat merindukanmu."

"Sudah selesai bicaranya?" Ada nada gusar dalam suara Jaehyun, padahal sebelumnya ia sudah berusaha keras untuk tidak menunjukkan emosi apapun kepada sosok bernama Jeonghan ini. Namun ia tidak bisa menahan emosinya lagi, begitu merasakan titik-titik basah di bagian belakang seragamnya.

Taeyong menangis. Apa yang harus kulakukan?

"Ah, maafkan aku. Aku pasti telah mengganggu kencan kalian," Jeonghan tertawa, tawa yang terdengar begitu menyebalkan di telinga Jaehyun. "Silakan lanjutkan acara kalian. Aku tidak akan mengganggu. Ah, Taeyongie, aku turut senang melihatmu sudah memiliki seorang kekasih baru. Aku akan memberitahu Seungcheol dan anak-anak yang lain tentang hal ini. Seungcheol sangat merindukanmu, kau tahu? Sampai jumpa lagi, Taeyongie!"

Jeonghan melambaikan tangannya, sebelum membalikkan badannya dan berjalan menjauhi Jaehyun dan Taeyong, dengan senyuman puas di bibirnya. Jaehyun yang melihat punggung Jeonghan yang makin lama makin jauh dan pada akhirnya tidak terlihat lagi itu menghela napasnya lega. Meskipun Jaehyun tidak mengenal lelaki itu secara pribadi, entah mengapa ia merasa begitu kesal padanya.

"Taeyong?" Jaehyun melepaskan pegangannya pada tangan Taeyong, dan ketika Taeyong perlahan melepaskan genggaman eratnya dari bagian belakang seragam Jaehyun, Jaehyun membalikkan tubuhnya, dan ia langsung disambut dengan Taeyong yang sedang menundukkan kepalanya, menolak untuk memandang Jaehyun. "Hei, Taeyong. Kau tidak apa-apa? Ah, pertanyaan bodoh. Kau pasti tidak tidak apa-apa. Sepertinya di dekat sini ada café, apa kau mau beristirahat dulu? Atau kau mau pulang saja? Kita bisa kembali ke sini lain kali. Lagipula deadline tugasnya masih dua minggu lagi."

Jaehyun merogoh saku seragamnya, mengeluarkan post-it dan pulpen yang sudah ia siapkan daritadi, persiapannya kalau ia butuh bicara dengan Taeyong. Ia menyodorkan beberapa lembar post-it beserta pulpen kepada sosok yang masih menundukkan kepalanya itu, menanti jawaban dari pertanyaannya barusan.

Maaf, tapi aku ingin pulang.

"Ah, kalau begitu ayo. Aku akan mengantarkanmu sampai rumah."

Jaehyun kira Taeyong akan menolak, tapi Taeyong tidak memberikan jawaban apapun, dan hanya mengikuti langkahnya kembali ke stasiun subway, menunggu subway yang akan membawa mereka ke stasiun asal mereka tadi.

Di sepanjang perjalanan pulang, tatapan Jaehyun masih hanya jatuh pada Taeyong, yang lagi-lagi memfokuskan tatapannya pada pemandangan di luar jendela subway. Berbagai pertanyaan timbul dalam benaknya, pertanyaan yang mungkin tak akan pernah ia tanyakan secara langsung pada sosok di sebelahnya itu.

Taeyong, Taeyong, Taeyong. Siapa Jeonghan? Siapa Seungcheol? Apa maksud dari semua kata-kata Jeonghan tadi?

To Be Continued.


Ada SEVENTEEN, yay. Please fansnya Jeonghan jangan marah karakternya Jeonghan saya bikin kayak gini disini, ini hanya untuk kepentingan cerita :')

Maaf chapter ini dilanjutnya agak lama. Entah kenapa saya inspirasinya lagi ada banget buat fanfic yang satu lagi, bukan buat fanfic yang ini makanya pas mau nulis chapter ini tuh harus maksain mood banget, entah kenapa. Makanya kayaknya hasilnya agak kurang memuaskan… maafin huhu.

Makasih yang udah review, follow, dan fav cerita ini, ya. Bener-bener makasih banyak, saya selalu seneng setiap kali baca review dari kalian semua.

Thankyou for reading!