Soliloquy
Hanji tidak pernah berhenti mengantarkan surat.
Setiap jam lima dia sudah siap dengan setelan hijau-krem dan sepeda. Mengucap selamat pagi pada rekan-rekannya di satu-satunya kantor pos desa kecil itu: Nanaba di bagian penyortiran dan Mike yang mengantar surat seperti dirinya. Setelah apel pagi, surat-surat, paket, kartu pos dibagi ke masing-masing anggota, dimasukkan dalam tas atau keranjang, siap diantarkan. Dan bahkan hari ini, Hanji mengacak-acak tasnya lagi, menemukan surat beramplop hitam.
"Aah! Lihat, surat hitam lagi! Pasti untuk Levi. Boleh kuintip tidak, ya?"
Nanaba mengangkat muka. Wajahnya berkerut, entah lelah atau kesal, "Hanji—"
Hanji tertawa keras, mengedipkan sebelah mata. "Iya, iya. Aku tahu kita tidak boleh! Aku hanya menggodamu, Nanaba."
Kening Nanaba berkerut makin dalam. "Lebih baik kau antarkan surat-surat yang ditunggu itu."
Hanji melambaikan tangan bersemangat untuk kesekian kali, lalu mengayuh sepedanya ke jalan. Rambut coklatnya berkibar dimainkan angin. Ini adalah hari biasa yang dijelangnya. Mengantar paket ke kepala desa, memberikan surat dan kartu pos yang tidak seberapa ke penduduk, mengucap salam hampir ke semua orang yang berlalu di jalan. Perjalanannya diakhiri dengan menanjaki bukit menuju rumah tua terpencil yang selama bertahun-tahun belakangan dikiriminya surat hitam.
Levi Ackerman tinggal sendiri di sana. Hanji yang tak sengaja mengantar surat hitam karena Mike absen waktu itu, bertemu dengannya pertama kali. Kasar dan tanpa senyum. Surat hitam yang diantar Hanji diambilnya dengan enggan. Tapi setelah berhari-hari mengantarkan surat yang sama, Hanji mulai penasaran, baik dengan isi surat maupun Levi Ackerman.
Suatu hari dia tidak bisa menahannya lagi. "Siapa yang selalu mengirimimu surat itu, sih?"
Levi terpaksa menjawab karena Hanji menahan pintunya agar tetap terbuka, "Bukan urusanmu, tukang pos berkacamata."
Di lain waktu, Hanji mencuri kesempatan saat Levi lengah untuk masuk ke rumahnya. Di sana gelap, seperti seluruh warna tersedot oleh bayang-bayang. Tapi Hanji suka. Dia lari dari kejaran Levi dan berkeliling melihat-lihat. Levi baru pindah setengah tahun lalu, jadi belum banyak waktu untuk Hanji mengerti watak pria ini selain bahwa dia suka menceramahi kalau Hanji masuk rumahnya dengan sepatu berlumpur.
Akhirnya, entah kapan dimulai, Hanji lebih sering langsung masuk ke rumah Levi saat mengantarkan surat hitam. Levi juga sudah terbiasa dengan kedatangan Hanji yang mengejutkan. Kadang Hanji membawakannya roti dan selai stroberi, dan Levi memberinya secangkir kopi. Ada saat di mana hujan membuat Hanji harus berteduh seharian di rumah itu; mengamati Levi yang bekerja dengan alat-alat aneh. Alkimia. Begitulah yang tertera di sudut amplop hitam yang tidak pernah Levi buka. Hanji tidak tahu, dan tidak mau tahu. Karena melihat punggung Levi yang bekerja pun sudah membuatnya senang.
Hanji juga sering menemui Levi yang terduduk di kursinya dengan pandangan menerawang ke lantai berdebu. Wajahnya makin pucat dan semu hitam bertambah lebar di bawah matanya. Levi tidak pernah membuka suratnya.
Lalu saat mereka melihat langit malam dari atap datar rumah Levi di musim panas. Levi lebih banyak diam, Hanji menghitung rasi bintang yang dia ingat. Percakapan mereka diselingi bunyi kodok dan jangkrik.
Dan hitam.
Rambut Levi hitam, Hanji masih ingat. Kadang dia menyisir rambut itu dengan jari kalau sedang bingung. Levi suka teh hitam yang Hanji buat untuknya—setengah memaksa, karena pria itu sama sekali tidak menyentuh makanan. Levi bilang dia suka hitam yang luas dan tanpa batas di sungai belakang rumahnya. Dia bertanya-tanya tentang dunia dan mereka akan terlibat percakapan panjang sampai pagi.
Hanji pernah melihat bercak hitam di kerah kemeja Levi. Tinta? Mungkin. Aneh memang, mengingat tidak ada satu pun botol tinta di rumahnya. Kopi? Barangkali. Meski yang ini lebih pekat dan tampak sudah lama menempel di sana. Tapi tidak mungkin penggila kebersihan itu tidak melihatnya, kan?
Rumah Levi hitam dan gelap. Bahkan saat malam. Levi pernah bilang rasanya seperti tinggal di angkasa. Seperti lubang hitam, meski yang ini tidak lebih disukainya daripada sungai di belakang rumah. Dia suka melihat sungai itu dari atap, sementara Hanji mabuk dalam kelip bintang di atas sana.
Levi pernah bilang kalau dia gagal. Tapi kemudian Hanji membuatnya mengoceh tentang serbuk kopi yang tumpah ke lantai.
Surat Levi tidak pernah dibuka.
Hanji melihat rumah itu sudah dekat. Berdebu dan kayu-kayu lapuk tampak mencuat di beberapa bagian. Banyak sarang laba-laba dan rumput liar menyembul dari tiangnya. Tumpukan surat hitam teronggok di depan pintu tanpa pernah disentuh, tanpa pernah dibaca. Hanya ada tulisan 'Levi bodoh' di salah satu sudutnya.
Hanji tersenyum makin lebar, "Levi, ada surat!"
"Surat hitam itu tidak ada waktu aku menyortir."
"Pasti Hanji sendiri yang membuatnya."Mike mendengus, "Ini semua karena salahku yang sakit hari itu. Seandainya Hanji tidak pernah mengantarkan surat hitam itu sampai ke sana."
"Tidak ada yang salah, Mike." Nanaba menghela napas, "Bahkan kematian Levi setahun yang lalu juga tidak berhak dicap salah."
Mereka berdua diam.
Angin menerbangkan suara tawa Hanji.
.
a/n: disclaimer masih sama seperti chapter 1. day 2: black. untuk hidya dan lilyv serta semua pembaca, terima kasih banyak! \(´v`)/
