To Capture the Stars in Her Eyes
Levi terbangun karena getaran ponsel di nakasnya. Dengan mengucek mata, diraihnya benda itu, menilik layar yang bertuliskan jam dua dan satu pesan baru.
Dari Hanji.
Aku tidak bisa napas. Tolong.
Levi berdiri seketika. Dia salah baca kah? Diulangnya lagi dari awal. Dan berapa kali pun mengeja, Hanji memang menuliskan itu. Gagal napas? Kegilaan tengah malam apa lagi ini?
Dia membuka jendela menuju balkon. Apartemen Hanji berada persis di sebelahnya, dan hanya perlu satu lompatan untuk menjangkau langkannya. Lalu dia bisa membuka jendela gadis itu-yang memang tidak pernah terkunci—dan mengecek apa yang dilakukan Hanji.
Begitu pikir Levi.
Alih-alih, dia menemukan Hanji tengah menyeringai lebar di depan jendelanya.
"Levi! Bagus! Ayo, masuk!"
Levi ingin membenturkan kepala. "Kau menjebakku."
"Tidak, kok." Hanji mengedipkan mata, "Aku memang sesak napas tadi. Dan akan mengajakmu juga."
"Jangan harap."
Levi berbalik, tapi sial, Hanji lebih cepat menarik lengannya. Memasang wajah memilukan di bawah redup lampu kamar.
Dan Levi terjebak lagi.
Hanji menariknya ke dalam kamar yang terang-benderang. Tumpukan kain dan pakaian berserak di lantai, bertabur serpih-serpih kecil kertas krem dan kotak yang sudah dibuka. Sebuah paket. Dan Hanji menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya saat menghadap Levi.
"Aku punya kejutan. Coba tebak?"
"Sisa makan siangmu."
"Bukan, tahu."Hanji terbahak, tidak mencoba mengulur waktu untuk menunjukkan benda-benda tipis berwarna hijau neon. "Tadaaa!"
"Roti berjamur ternyata."
Hanji tertawa lebih kencang. "Serius, Levi! Ini stiker fluoresens, lho." Dia memberi lembar-lembar kecil berbentuk bintang itu ke tangan Levi, mengedikkan kepala ke dinding yang sudah penuh tempelan hijau. "Aku menyisakan itu buatmu. Cobalah."
Levi mendecih. "Aku pulang."
"Eeh—tunggu! Mumpung kau masih di sini, lihat seperti apa jadinya kamarku!"
Levi tidak sempat menolak, karena Hanji mendorongnya duduk di atas ranjang lalu menyambar sakelar.
"Perhatikan!"
Begitu lampu dimatikan, ratusan stiker bercahaya menyergap mereka. Menyebar di tengah kelam dan berwarna hijau terang. Tak ada yang bergerak, tapi bintang-bintang itu seperti mengorbit dalam harmoni. Tak ada yang bersuara, tapi Levi mendengar nyanyiannya dalam satu melodi.
Dan Levi terjebak, lagi-lagi.
"Indah, kan? Saking indahnya sampai membuatku sesak napas."
Hanji mengempaskan diri di sebelahnya, duduk dengan kepala bersandar pada bahunya. Rambut yang mencuat dari kuncir itu menggelitik leher Levi, mengirimkan sinyal aneh yang coba ditransmisikan oleh otaknya yang kaku. Levi menemukan bintang tadi juga bercahaya di kacamata Hanji, membingkai mata coklatnya yang hampir menutup.
"Kau menyelesaikan tempel-menempel ini sampai larut malam, eh?"
Hanji menoleh, membuat napas hangatnya memapari pipi Levi dalam jarak dekat. "Kok, kau tahu? Aku sengaja buat kejutan, tapi ternyata butuh waktu lama, ehehe. Kalau kau membantu pasti cepat selesai."
"Dasar bodoh."
"Ha?"
"Percuma kau tempel di sini karena nanti kamarmu akan segera pindah ke kamarku, imbisil."
Ya.
Dan menjebak Hanji untuk melihat semu merah di pipinya dalam remang adalah hobi baru yang menyenangkan bagi Levi.
.
a/n: day 3: trapped. terima kasih sudah membaca! ^^
