Drowsy in the Golden Grass
Rumput keemasan yang tinggi dan berujung runcing itu meliuk-liuk dihela angin, dan Hanji tampak cantik dalam dekapannya.
"Ingat janji kita?"
Levi memutar otak, mengulang memori. Usia yang tidak lagi muda kadang bisa sangat menjengkelkan. "Yang mana?"
Dia membayangkan Hanji menyikut rusuknya. Namun, tidak ada gerakan. Hanji yang paling kuat, wanita paling berani yang dikenalnya, hanya mampu melihat dengan mata rabun ke depan, ke arah rumput bersepuh emas yang bergoyang.
"Duh, itu lho. Di hari kau memberiku cincin."
Levi terdiam beberapa lama. "Waktu di taman kanak-kanak?"
Hanji tertawa sumbang dan diakhiri dengan batuk. "Ya."
"Kenapa memangnya?"
"Ayo kita lakukan lagi janji itu."
Kadang tingkah Hanji yang mengundang tanya tidak lagi mengejutkan Levi. Bangun pagi, setelah memanaskan bubur cair untuk sarapan, dia bersikeras mengajak Levi ke padang ini. Sudah waktunya, dia berkata. Dan Levi menurut saja.
Seperti kali ini.
Levi menggeser tubuh Hanji sedikit, membuat dirinya dapat melihat wajah keriputnya. Waktu mengubah segalanya, tapi ... "Kemarikan kelingkingmu."
Hanji cuma tersenyum, "Aku tidak bisa merasakan tanganku lagi."
Tapi Levi tidak peduli. Diangkatnya tangan kanan Hanji. Dingin. Kaku. Dan dipertemukannya jemari mereka dalam tautan.
"Teruslah bersamaku selamanya."
Angin menerbangkan janji mereka. Bergesekan dengan rumput dan daun, mengangkat wangi tanah dan akar basah. Menyatu dengan langit pudar.
Janji mereka meliputi dunia.
"Sebenarnya, 'selamanya' itu tidak mungkin, bodoh."
Hanji tertawa kecil. "Memangnya kenapa? Bertemu denganmu, tertawa bersamamu, hidup sampai tua denganmu—aku bahkan tidak peduli apa kata 'selamanya' benar-benar ada."
"Jadi untuk apa janji itu?"
"Untuk mengingatkanmu," Hanji mengangkat wajah, bertemu dengan mata Levi: hal yang selalu mengingatkannya akan rumah. "Aku bahagia, Levi ..."
Bahkan meski tidak semua hal menyenangkan terjadi, aku bahagia, Levi.
Untuk semua percakapan di tengah malam buta. Untuk genggaman tangan saat dunia memaksaku mati rasa. Untuk semua nyanyian canggung yang kau keluarkan demi menidurkan anak kita. Aku bahagia. Aku bahagia.
"Hei, idiot."
Ya?
"Kau tidur?"
Tidak. Aku mendengarmu.
"Kalau tidak, jawablah. Jangan biarkan aku terlihat seperti orang gila."
Aku menjawabmu, Levi.
"Dingin sekali di sini."
Tapi kau hangat, Levi.
"Kalau matamu terbuka, pasti kau akan bilang langitnya begitu biru."
Ya. Persis dirimu.
"Hanji."
Hm?
"Tunggu aku."
Selalu.
"Aku bahagia."
Aku juga, Levi, aku juga …
Rumput keemasan yang tinggi dan berujung runcing itu meliuk-liuk dihela angin, menari, menyentuh semu ujung-ujung langit yang menyelimuti mereka, untuk kemudian memudarkan warna angkasa.
(Waktu mengubah segalanya, tapi ... adalah suatu hal yang menakjubkan, bukan, bahwa waktu tidak pernah mengurangi perasaan mereka sejak pertama bertemu?)
.
a/n: day 4: pledge. untuk semua yang membaca ini, terima kasih dan semoga kalian selalu diliputi kebahagiaan! ^^
