… And They Lived Happily Ever After
Saat berkas-berkas perak sinar bulan meluruh bersama denting jam ke-dua belas, malam baru saja terjaga.
Kepak sayap menggema. Pahatan kayu burung hantu yang keluar dari jam kukuk tidak lagi berusaha menawan dirinya sendiri sebagai pajangan. Dia meluruskan sayap dan terbang. Limbung sedikit, sebelum mendarat anggun di meja kaca. Dalam hujan cahaya bulan, selimut perak menyelubungi dirinya, mengangkatnya ke angkasa, berputar, lalu berhenti. Kakinya memijak lantai dengan ketuk kecil sepatu bot berwarna hijau lumut dan kibaran jubah coklat tua. Burung hantu itu telah menjelma menjadi manusia, dengan kacamata dan rambut coklat dikuncir kuda.
Adapun di saat yang sama, boneka kesatria pelindung istana plastik terbangun juga. Dia turun ke lantai, suaranya tak lebih dari sekedar bisik. Berlari, dia berlari ke bawah sinar bulan. Berhenti tepat di petak cahaya jendela di karpet—di dekat kaki meja kaca. Titik-titik cemerlang bermain di kulit kayunya, menggelitik, menyelimutinya dalam halimun penuh cahaya putih dan perak. Tubuhnya meninggi, meninggi, lalu berhenti tepat saat gadis burung hantu tadi menatapnya.
"Selamat malam lagi."
"Kau tidak berubah, kacamata bodoh."
"Tinggimu juga tidak bertambah, maniak kebersihan."
"Sialan."
Lalu ruang gelap itu meraup cahaya bulan. Lilin dalam kandelir menyalakan diri sendiri, piano dan cello serta biola bermain tanpa musisi, mengundang berdansa, tertawa, bercerita. Sang kesatria mengulurkan tangan seperti biasa. Gadis berjubah tua menerimanya.
Ini bukan dongeng mereka.
Kesatria tadi harusnya jatuh cinta dengan putri raja. Si Gadis Penyihir harusnya mengirim mantra jahat untuk menghancurkan istana. Mereka harus bertemu dalam percik api dari tebasan pedang dan ayunan tongkat. Mereka harus berhadapan dalam kematian—bukan dalam genggaman tangan dan dansa mengitari ruangan redup di tengah malam.
Tapi tak mengapa. Malam-malam seperti ini selalu datang. Memerangkap dengan sihir cahaya bulan. Menjerat kesatria untuk menyadari betapa indahnya mata gadis penyihir. Menjebak gadis itu untuk mencoba hal baru seperti menari bersama. Mengajarkan bahwa dunia ini dibuat lebih banyak dengan tenunan cinta daripada gunting kebencian.
Lagipula, cerita selalu berubah. Bukankah menyenangkan bertemu hal tak terduga yang membuatmu selalu ingin membalik halaman untuk tahu akhirnya?
.
a/n: day 5 : transformation. buat hidya yang butuh pembakar semangat, dan buat rara yang hoi-ayo-sehat-levihan-menunggu! terima kasih sudah membaca! ^^
