The Distance Between Dream and Reality
Mereka bertemu di bawah kanopi jalinan zepherine drouhin.
Gadis itu memperkenalkan diri sebagai Hanji Zoe. Dengan rambut coklat yang diikat tinggi dan kacamata yang ikut bergerak saat dia menyengir lebar, sulit bagi Levi untuk melupakan detailnya.
Hanji bercerita apa saja selama mereka duduk di bangku putih panjang. Kadang tentang dongeng soal raksasa yang memakan umat manusia, hinga berceloteh panjang lebar mengenai penemuan-penemuan masa depan. Dia hampir tahu segalanya. Dia lebih suka bicara, kadang sambil menyapa kolibri yang seenaknya menyedot madu dari rumpun mawar rambat itu, atau seringnya memuji betapa indah langit yang dibingkai lubang-lubang atap dan celah daun-daun. Hanji suka berlari mengejar jangkrik, dan Levi akan menyadari betapa luas taman bunga ini hingga tidak terlihat ada apa di ujung sana. Lalu Hanji akan kembali dan meneriaki namanya dengan tangan penuh buah beri.
Hanji selalu datang setelah Levi sampai, dan duduk di sebelahnya. Dia selalu membawa keranjang, mengisinya dengan bunga hollyhocks dan poinsettia. Pernah kupu-kupu mengistirahatkan sayap di rangkaian mariposa, karena Hanji menaburkan daun-daun jarum pinus yang semerbak. Ada langit yang setia menemani mereka dengan berbagai warna dan rupa. Kadang paduan biru dan oranye senjanya persis seperti api dan air yang bertabrakan di atmosfer. Kadang titik-titik bintang muncul hingga waktunya mereka pulang.
Hanji kerap menaruh setangkai forget-me-not di telinga, dan menaburkan kuntum-kuntum kecil baby's breath di antara keliman roknya. Dia suka tertawa. Daun yang jatuh meluruh membalutnya saat dia menengadah, berkata, "Aku suka di sini." Lalu dia tersenyum pada Levi, dan berlari pergi.
Levi sering ingin bertanya mengapa, tapi tak sempat. Mimpi itu ditarik tiba-tiba dari kepalanya dan dia terbangun dengan sengal napas. Langit di luar jendela tidak seindah tadi. Kupu-kupu tidak pernah mendekatinya.
Dan yang terpenting, Hanji Zoe beserta bunga-bunga itu tidak pernah ada.
.
.
.
Levi duduk di bangku kosong kereta. Sepi, seperti hari-harinya yang suram. Hanya dia dan seorang nenek tua jauh di seberang. Dia memejamkan mata saat sampai di stasiun, namun cepat-cepat membukanya lagi saat seseorang duduk di sebelah. Aroma pinus memenuhi udara.
"Wah, langitnya seperti tabrakan air dan api, ya."
Dia di sana. Dengan rambut coklat dikuncir tinggi, tersembunyi di balik topi jerami musim panas. Mata yang terlampau coklat itu sekonyong-konyong jadi cermin satu arah yang menggambarkan senja dari jendela kereta. Meski tanpa rangkaian mawar atau naungan kanopi, tanpa hiasan mayflower atau mahkota junebell, Levi tidak pernah menyangka senyum gadis itu bisa seindah ini.
"Halo," sapanya. "Aku Hanji Zoe. Apa kita pernah bertemu?"
.
a/n: day 6: flowers. terinspirasi oleh lagu real world-nya owl city. terima kasih sudah membaca! ^^
