Of Future and Storm
"Ada badai."
Hanji menatap langit melalui kaca jendela toko perkakas yang buram jarang digosok. Langit cerah musim panas, penuh dengan sinar matahari dan suara jangkrik. Meski begitu, dia memindahkan kaki gelisah. Rok belacunya bergesekan dengan lantai kayu. Pria di sebelahnya lantas memindahkan fokus dari karung paku ke luar.
"Tidak ada awan hitam, kacamata."
"Aku bisa merasakan udaranya, Levi. Coba cium. Bau air dan gosong."
Levi berjongkok, kembali memilih paku-paku tanpa karat. "Air mana bisa gosong, bodoh. Lagipula siapa yang berkeras belanja hari ini?"
Hanji tetap berjengit setiap bernapas, tapi tidak mengatakan apa-apa lagi. Memang salahnya yang minta diajak belanja ke kota tiba-tiba. Tapi dia bosan di rumah. Levi pergi membajak ladang seharian, bertaruh panen gandum dan kentang minggu depan kalau cuaca tetap bagus. Pulang malam langsung makan dan tidur. Hanji memang sudah terbiasa, tapi dia dilahirkan untuk jadi penjelajah.
Levi sedang membayar belanja saat awan hitam tipis mulai tampak di ujung langit. Hanji bergegas menggamit tangannya dan memimpin keluar.
"Ayo, pulang."
"Tapi kau bilang akan membeli kain muslin baru. Rok kerjamu sudah rusak di rumah."
Hanji meringis, "Biarkan saja. Toh aku bisa menutupnya dengan celemek lebar dari ibu. Aku takut badainya sampai ke rumah sebelum kita. Dan kalau sampai begitu ..." Hanji menambahkan dalam hati, "Kalau sampai begitu, panen akan lenyap sekali kedip." Bagaimana mereka membayar hutang? Rumah dan ternak pun masih belum dibayar setengah. Hanji menggeleng kuat-kuat. Pikiran buruk, pikiran buruk. Levi bilang dunia akan lebih bagus kalau mereka hanya memikirkan yang bagus-bagus.
Begitu wanita itu sadar, Levi sudah siap dengan kereta kuda mereka. Sawney dan Bean melenguh dan mendompak tak nyaman, Hanji rasa kuda juga bisa merasakan badai. "Cepat naik," Levi berseru.
Hanji melompat ke dalam kereta saat Levi menurunkan tirai penahan hujan di sisi-sisi kereta. Lelaki itu kemudian naik dan mengancingkan tirai karet penahan hujan ke depan kereta, dengan bagian tengah bolong untuk tali kendali dan jendela plastik. Hanji menoleh ke belakang dan melihat awan tipis hitam itu sudah menggumpal-gumpal mengerikan.
Udara benar-benar panas. Angin kering bertiup berputar-putar di kumpulan bebatuan, memainkan rumput-rumput gersang. Sesemakan tumbleweed bergelung-gelung di jalan, memiting dan memilin. Di sampingnya, Levi sudah melecut tali kekang kuda.
"Dakota memang daerah yang aneh." Levi tidak membalas, tapi Hanji tidak peduli. Dia terlalu terpaku pada badai. "Biar kuingat. Aku sudah mengurus ternak, memerah susu, dan mengangkat jemuran. Aku sudah menyiangi daging angsa yang kau buru kemarin, menutup jendela, dan ... oh Tuhan. Apa Calypso tahu harus ke ruang bawah tanah dengan Zeke?"
Levi hampir menggelincirkan tali kekangnya. Dia tampak lebih khawatir dibanding Hanji. "Kau ibunya, kau yang mengajarinya, kacamata."
"Aku yakin pernah bicara tentang itu," Hanji tersenyum gugup, memikirkan hal bagus. "Lagipula Calypso sudah besar. Waktu umur sepuluh sepertinya, aku biasa menghalau sekelompok sapi masuk rumah."
Hanji tahu sapi dan badai bukan perbandingan yang adil, tapi dia butuh pikiran positif dan mereka tidak berkata apa-apa lagi. Levi memacu kuda yang gelisah di depan, berderap secepat mungkin. Hanji hanya bisa berdoa dalam hati—"Semoga mereka tahu harus ke ruang bawah tanah, semoga mereka ingat harus mematikan lilin"—dan memandangi ujung awan hitam yang susul-menyusul dengan kereta mereka.
Masih lima kilometer lagi, dan Hanji merasa sudah kehabisan napas.
Awan-awan tadi sudah sampai di atas mereka, kini dengan kilat yang menyambar-nyambar Bumi. Angin kering turun berputar-putar, membentuk tornado mini yang mengikuti. Mereka mengarah ke barat, dan badai mengikuti dari timur laut. Tidak ada rumah di dataran tandus Dakota tahun 1884, hanya tanah merah kering dan beberapa pohon kerdil. Setidaknya, Hanji tidak perlu melihat manusia yang diterbangkan puting beliung.
Tanah-tanah garapan muncul dan menghilang begitu Sawney dan Bean berderap sekuat tenaga menuju rumah. Hanji melirik Levi yang mandi keringat dan masih menebarkan kekhawatiran. Wanita itu tidak bisa menyalahkannya.
"Levi, mereka anakmu. Mereka pasti tahu apa yang harus dilakukan."
Levi mengangguk sekali. "Setelah sampai, kau lindungi mereka di dalam. Aku akan berjaga di depan rumah, kalau kalau ada yang bisa kupertahankan."
Hanji ragu apa ada yang bisa Levi lakukan kalau seluruh gandum mereka tercabut dan berputar-putar dihantam angin, tapi dia diam saja karena mereka hampir tiba. Rasanya begitu lega melihat pucuk rumah kayu mereka, meskipun awan hitam sudah hampir melingkupinya. Hanji menoleh terakhir kali ke belakang dan melihat angin tornado raksasa mengisap pohon yang tercabut sampai ke akarnya. Angin itu begitu buas, hitam, dan mematikan, Hanji segera melihat ke depan.
Dengan sekali sentakan, Levi membuka tirai karet dan menyuruh Hanji keluar. Wanita itu bergegas turun, terjatuh di tanah dan merobek satu-satunya baju perginya di bagian lutut. Tapi dia tidak peduli. Dia bangkit berdiri menuju rumah. Di sudut matanya Levi berderap ke kandang kuda.
Hanji membuka kunci pintu. Tidak ada siapa-siapa. Di dalam begitu hening, sampai dia ingin berteriak lantang. Di mana anak-anaknya? Di mana Calypso dan Ezekiel-nya? Hanji terpincang ke ruang bawah tanah, dan membuka pintu horizontalnya. Di dalam dekat tangga, nyaris tak terlihat, ada gadis kecil berambut hitam dikepang sedang memeluk bocah tujuh tahun. Mereka menggigil ketakutan.
"Mama!"
Hanji masuk perlahan. Kelegaan membanjiri hati dan matanya. Dia benar-benar bersyukur masih sempat pulang. "Kerja bagus, Calypso. Kau tidak lupa mematikan lilin."
Si gadis kecil tersenyum takut. Adiknya menoleh ke sekeliling, "Di mana Pa?"
Hanji mengenyahkan bayangan Levi yang dihantam tornado. "Pa di luar. Aku akan menyusulnya sekarang, dan berjanjilah apapun yang terjadi, kalian akan tetap di bawah sini selama dua puluh empat jam."
"Kalau sudah dua puluh empat jam, Ma?"
"Keluarlah. Sebelum itu aku mungkin sudah menjemput kalian. Tapi kalau tidak ..." Hanji memeluk anak-anaknya. "Tetap bersama." Dan dengan itu, dia kembali keluar.
Dari jendela, awan badai menjanjikan titik temu dengan rumah dan ladang mereka. Petir menggema dan angin meraung, tapi Hanji tak gentar. Dia keluar dan menemukan Levi berdiri tegap di depan undakan rumah. Hanji tidak bisa menghalau rasa bangga dan tenang saat pria itu membelalak waktu melihatnya.
"Kenapa kau di sini? Cepat lindungi anak-anak!"
Hanji tertawa mengatasi deru angin panas, "Aku melindungi mereka dan tetap bersamamu. Bukannya kita sudah berjanji untuk terus bersama bagaimana pun kondisinya?"
(Bukankah seperti apa pun badai menerpa, Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi kita?)
Levi terperangah saat wanita yang berstatus istrinya itu mencondongkan badan ke depan dan mengecup pipinya pelan di tengah deru badai.
"Kau dan aku sudah direkat dengan lem, Levi, terimalah kenyataan itu."
Dan tawa Hanji masih menggema dalam kupingnya, lama setelah badai berlalu melewati rumah mereka.
.
a/n: day 8: free space/optimism. disadur dari novel karya Laura Ingalls. untuk hidya yang masih mau berbaik hati menunggu di detik-detik terakhir, untuk nisa dan anggi yang memberi motivasi baik secara langsung maupun tidak, untuk rara yang mau dijejali pertanyaan dan pendapat, dan untuk lilyv, hoshino kaze, serta pembaca sekalian yang sudah mengikuti sampai akhir. semoga kita bisa bertemu di kesempatan selanjutnya!
terima kasih sudah membaca ^^
.Rain
