Kepribadian Ganda
Naruto by Masashi Kishimoto
Story is Mine
[Hinata x Naruto x Shion x Sasuke]
Sad, Romance and Family
Warn : Typo, OOC, dll
Sinar matahari mulai menyelinap masuk kedalam kamarku tanda bahwa langit telah berganti menjadi pagi. Namun hal itu tak berhasil menggoda diriku untuk segera beranjak dari tempat tidur, aku yang masih tidur terlelap diselimuti oleh selimut yang tebal dan hangat serta cuaca pagi yang masih fresh membuatku cukup malas untuk beranjak dari mimpi indahku. Namun hal itu segera usai ketika manajerku masuk ke dalam kamarku. Ia dengan cekatan menarik selimutku serta membuka jendela kamarku dengan lebar dan membuat sinar matahari menusuk mataku. Ya, untuk ukuran manajer yang sudah bekerja bersamaku selama 3 tahun memang pantas saja jika ia sudah mengetahui cara alternatif untuk membangunkanku. Kurang dari 5 menit akupun terbangun karena terganggu oleh silaunya cahaya matahari.
"cepatlah bangun, jadwal hari ini cukup padat. Ada pemotretan untuk cover majalah X, jumpa fans dan fitness untuk kebugaran dirimu, " jelas manajerku santai sambil mengambil beberapa pasang bajuku dari lemari. "ya, hari sabtu yang sama. Kapan aku libur? Aku ingin tidur panjang," balasku malas sambil beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi yang terletak dalam kamarku. "ketika kamu sudah tidak naik daun lagi," canda manajerku. Akupun tak membalas candaan manajerku dan masuk ke dalam kamar mandi, bagaimana tidak ? aku masih dalam kondisi setengah sadar akibat jadwal syuting kemarin malam.
Ya, memang beginilah kehidupan artis yang sedang naik daun karirnya, bukannya aku tak senang tapi berat rasanya untuk menjalani aktivitas yang terlalu padat. Aku adalah gadis yang berada dalam fase remaja dan membutuhkan waktu khusus untuk ku nikmati bersama …tok..tok..suara ketukan pintu kamar mandi membuyarkan lamunanku."Shion,apa kau tidur didalam sana? Cepatlah bergegas atau kita akan terlambat." "tidak, aku sudah selesai," aku lalu keluar kamar mandi dan bergegas memakai baju yang telah disiapkan manajerku. "aku tunggu dimobil," ucap manajerku seraya pergi meninggalkanku seorang diri.
15 menit kemudian aku telah selesai memakai make up natural dan memakai baju yang telah dipilihkan oleh manajerku, dengan cepat aku melesat menuju ruang makan untuk mengambil sarapanku. "Shion pelan-pelan..nanti kamu bisa jatuh kalau lari-larian seperti itu," ucap ibuku yang berada di dekat meja makan. Aku pun langsung mengambil sepotong roti yang ada dimeja."bu, bisakah ibu memanggilku Hinata saja? Kitakan dirumah bukan di stasiun tv,"ucapku kesal sambil melahap roti isi tersebut."ah iya, ibu lupa. Habisnya ibu takut keceplosan memanggil nama aslimu didepan stasiun tv," balas ibuku sambil mengusap rambutku dengan lembut. Akupun hanya mengangguk pelan dan segera pergi ke mobil untuk menemui manajerku.
Perjalananku menuju lokasi pemotretan memang cukup jauh sehingga aku menghabiskan waktu perjalananku untuk tidur. Sebenarnya jika aku tau dunia selebritas begitu berat seperti ini, aku tidak ingin pernah bercita-cita menjadi seorang bukan berarti aku tak menyukai pekerjaanku saat ini. Ini adalah hal yang sudah aku impikan sejak aku masih kecil, dan aku telah berjanji kepada kakakku bahwa aku akan menjadi artis terkenal seperti dirinya.
Tak terasa akupun telah tiba di lokasi pemotretan. Kabarnya pemotretan kali ini bertema valentine jadi otomatis aku akan memiliki rekan kerja pria. Sebenarnya aku paling tidak suka jika melakukan pemotretan dengan nuansa romance, jujur aku selalu terlihat kaku dalam pemotretan seperti itu. Jelas saja aku mendapat banyak kritik dalam bidang itu, karena aku belum punya pengalaman pacaran sama banyak orang yang tak percaya akan pernyataanku itu,apakah jika seorang idola yang belum pernah pacaran sama sekali terlihat sangat aneh? Tapi aku tidak memusingkan hal itu, karena memang belum ada tipe yang benar-benar menarik hatiku.
Akupun bertemu dengan rekan pemotretanku ini."ya ampun, dia keren banget," ucapku dalam hati sambil terpesona melihat sesosok pria yang berada dihadapanku ini. Tak ku sangka bahwa yang menjadi rekanku kali ini adalah penyanyi idolaku dulu sewaktu aku masih menjadi gadis remaja sangat bahagia dan tak sanggup berkata-kata, aku hanya memandangi pria itu dengan rasa kagum yang butuh waktu lama untuk membuat pria itu tersadar bahwa dirinya sedang diamati olehku. Diapun beranjak dari tempat duduknya dan melangkah mendekati diriku. Jantungku berdetak sangat cepat dan semakin kencang ketika pria itu semakin mendekat kearahku. "astaga aku harus gimana? Apa aku harus menyapanya?" gumamku dalam hati. Tak sempat aku menemukan jawabannya, pria itu sudah berhenti tepat disampingku, tanpa memalingkan wajahnya ke arahku, ia berkata,"bersikaplah professional, aku tak suka bekerja dengan seorang amatir". Iapun berlalu dari hadapanku. Akupun terdiam terpaku mendengar perkataan tajamnya itu, aku masih tak percaya apakah idola yang aku sukai ternyata adalah orang yang sedingin dan sekejam itu. Tiba-tiba manajerku mendatangiku dan seolah tak menyadari hancurnya perasaanku, ia menariku pergi ke ruang ganti untuk persiapan pemotretan. Sepertinya perasaanku mengatakan bahwa pemotretan hari ini akan menjadi pemotretan yang tidak menyenangkan.
Akupun selesai memakai busana yang menjadi tema dalam pemotretan ini, kesal rasanya jika mengingat bahwa rekan kerjaku adalah orang yang dingin dan menyebalkan. Namun aku harus tetap menjalani pemotretan ini dengan baik. Akupun memasuki ruang pemotretan, disana semua staff sibuk mengatur latar pemotretan ini. Kemudian aku berkumpul bersama pria itu dan juga koreografer pemotretan kami. Setelah diberi pengarahan kamipun memulai pemotretan. Aku berusaha untuk berpose seperti yang diinstruksikan oleh koreografer namun sayangnya daya tarik pria ini terlalu kuat sehingga membuatku semakin kaku di dekatnya. Berkali-kali pemotretan ini diulang karena fotografer itu tidak menemukan chemistry yang pas yang dia fotografer tersebut menyerah dan aku sadar bahwa hal ini mutlak adalah kesalahan itupun menyadarinya dan menghampiriku seusai pemotretan. "kau, sungguh tak bisakah bersikap professional saat bekerja? Tema ini sangatlah mudah," bentaknya kesal. "ya,, mudah bagimu tapi sulit untukku. Tema seperti ini adalah tema yang ku benci," balasku yang tak kalah kesal darinya. "kenapa? Kau tak punya pacar? Atau tak pernah pacaran?" ledeknya. Akupun tak mampu membalas perkataannya itu. Aku sadar bahwa apa yang dikatakannya adalah suatu hanya tertunduk pasrah, aku yakin pasti dia akan menghinaku lebih lanjut jika aku buka suara maka pilihan terbaik bagiku adalah terus diam.
1 menit, 2 menit..5 menitpun berlalu dan kami masih saling terdiam. Akhirnya fotograferpun lewat tepat didepan kami dan pria itupun berbicara, " bisakah kita ulangi pemotretan ini 2 minggu lagi? Akan ku pastikan bahwa hasil fotonya akan lebih baik daripada ini". Sontak aku kaget dan menatap pria itu dengan tajam, aku tak mengerti apa yang ada dipikirannya. "apa ia akan menyuruhku untuk cepat-cepat memiliki pacar?" gumamku dalam hati. Fotografer itupun menyetujui penawaran yang diberikan oleh pria itu, sehingga kami masih berkesempatan untuk bekerjasama dengan majalah ini. "kau akan menjadi pacar sementaraku selama 2 minggu agar kau dapat chemistry dalam pemotretan ini sehingga kau tak mengacaukan karirku, mana handphonemu?" jelasnya dengan cepat setelah fotografer itu pergi dari hadapan kami berdua. "loh? Hmm..ini" akupun memberikan handphoneku kepadanya, ya mau bagaimana lagi sebenarnya aku tak suka berada di dekat pria ini namun apa jadinya jika pemotretan ini itupun mengetikkan nomornya dengan cepat dihandphoneku dan dengan segera memulangkannya padaku. "jangan lupa besok kita bertemu di mall Y jam 1 siang," ucapnya seraya pergi meninggalkanku.
TBC
