Kepribadian Ganda
Naruto by Masashi Kishimoto
Story is Mine
[Hinata x Naruto x Shion x Sasuke]
Sad, Romance and Family
Warn : Typo, OOC, dll
_Chapter sebelumnya_
-Flashback on-
Gadis bersurai indigo hanya menatap sedih saudara kembarnya yang sedang bercengkrama dengan pemuda pirang. Hinata mengepalkan kedua tangannya dan pergi meninggalkan mereka berdua. Suara pintu tertutup akhirnya berhasil menyadarkan Shion dan Naruto atas kepergian Hinata.
"Eh? Nata-chan kemana?" ucap Shion.
"Mungkin ketoilet, ceritakan gimana proses audisinya lagi dong Shion-chan, hah apa aku juga harus mencoba ikut audisi ya?" ucap Naruto.
"Huh? Jangan berharap kau akan lolos," ejek Shion.
-Flashback off-
-Normal Pov-
Digedung belakang Agensi Y tepatnya di taman belakang terlihat seorang gadis sedang duduk sambil memejamkan matanya dan menikmati semilir angin yang berhembus pelan. Begitu tenang sampai ia tidak menyadari ada seorang pria berhenti tepat didepannya. Pria itu kemudian menempelkan kaleng minuman dingin kepipi gadis itu.
"Kyaa~ dingin,"teriak gadis itu sambil membuka matanya untuk mengetahui apa yang baru saja menyentuh pipinya itu.
"Minumlah, jangan tidur ditempat seperti ini jika lelah pulang saja," ucap pria itu kemudian pergi meninggalkan gadis itu seorang diri.
"Kenapa Sasuke-kun bisa menemukanku disini? Hmm kopi? Ah aku tidak bisa minum kopi," ucap gadis itu sambil berlalu untuk menuju tempat latihannya kembali.
"Yosh..aku harus semangat,"gumamnya lagi.
-Keesokan harinya-
Sinar matahari hangat kembali menyambutku dipagi ini, tidak seperti biasanya khusus hari ini aku bangun lebih pagi. Tentu kalian menyangka kalau ada yang spesial di hari ini tapi kenyataannya kalian salah. Aku bangun lebih pagi karena merasa bersalah terhadap Naruto, biasanya setiap malam dia akan datang berkunjung ke kamarku tapi kemarin malam tidak. "Huh, apa aku terlalu kasar kepadanya ya kemarin?" gumamku sambil menatap kearah kamar Naruto. Tak mau memikirkannya terlalu lama akhirnya akupun pergi dan bersiap-siap untuk menuju sekolah. Untungnya jadwal hari ini tidak terlalu padat sehingga aku dapat mengikuti kegiatan sekolah hingga selesai. Maklum absensi untuk artis yang sedang terkenal sepertiku ini sudah biasa dihiasi oleh huruf "a" dan "I". Tapi meski begitu aku tetap dapat mengejar pelajaran dengan baik dan mendapat juara umum disekolahku. Kalian jangan berburuk sangka dulu, meskipun aku seorang idol tapi aku sempat bercita-cita untuk menjadi dokter jadi yaw ajar saja jika aku masih sempat menjadi kutu buku ditengah kesibukanku.
Selesai mandi dan berpakaian, akupun meluncur menuju meja makan untuk mengambil roti panggang dengan selai strawberry yang merupakan sarapan kesukaanku. Sebelum berangkat kesekolah tentunya aku tak lupa untuk berpamitan pada ibuku dan melirik kearah rumah Naruto. Hei bukannya aku kangen atau gimana padanya tapi sungguh aneh rasanya jika orang yang biasanya mengganggumu setiap hari tiba-tiba hilang tanpa jejak.
"Apa sebaiknya aku minta maaf padanya ya?" gumamku pelan.
"Tanpa minta maafpun sudah ku maafkan kok Hinata-chan," bisik Naruto dari belakangku sambil memelukku.
"Yak Naruto apa yang kamu lakukan," teriakku sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Naruto.
"Iya..iya ampun, anggap saja sebagai hadiah permintaan maafmu padaku dong," balas Naruto sambil melepaskan pelukannya.
"Huff tidak mau, jangan seenaknya memelukku atau kupukul kau," ucapku sambil berjalan meninggalkan Naruto.
"Ya, Hinata-chan jangan tinggalkan aku, padahal aku sudah berusaha bangun sepagi ini,"
-Normal Pov-
Dari kejauhan tampaklah seorang pemuda bersurai raven duduk dalam mobilnya sambil menyaksikan apa yang terjadi antara Naruto dan Hinata. Raut pemuda itu tampak kesal.
"Apa maumu dasar Naruto dobe!" bentak Sasuke sambil memukul stirnya.
Tak berselang lama Sasuke kemudian melajukan mobilnya kembali dan mengurungkan niatnya untuk menemui pacarnya itu.
-Waktu Istirahat-
Hari ini aku dapat melalui pelajaran dengan penuh konsentrasi tentu karena suasana hatiku sudah membaik. Alasannya pertama karena aku sudah berbaikan dengan si baka Naruto. Memang tidak enak rasanya jika bermusuhan dengan sahabat kecil ya seperti ada sesuatu yang hilang. Kedua karena menu makan siang yang disiapkan oleh ibuku yaitu cinnamon roll kesukaanku. Dengan lahap kumakan bekalku hingga kedatangan teman ehm sahabatku yang berlari-lari kearahku seperti habis dikejar oleh akamaru –anjing tetanggaku-.
"Shiiiiooooonn-chaaaaan, jelaskan ini semua padaku," teriak sahabatku sambil menunjukkan hpnya kepadaku.
"Sarada-chan bisakan tidak usah teriak-teriak, memang ada apa sih?"balasku sambil melihat hpnya. Seketika itu juga wajahku memucat.
"Sejak kapan kamu pacaran dengan sepupuku? Bukannya kamu dan Naruto-kun pacaran? Kamu menduakan Naruto-kun?" tanya Sarada berturut-turut.
Kulihat sekelilingku mulai menoleh kearah kami dan berbisik-bisik. Aku sudah yakin bahwa mereka pasti membicarakanku. Para perempuan itu melihatku dengan amarah yang membara. Ya wajar sih mereka marah karena mereka adalah fans beratnya Sasuke.
"Jelaskan padaku Shion-chan semuanya!"pinta Sarada lagi.
"DIAMLAH UCHIHA SARADA" Bentakku. Sebenarnya aku tidak mau membentaknya, aku cukup sedih melihat ekspresi kagetnya namun jika tidak begitu ia pasti akan bertanya macam-macam lagi. Bukannya aku tak mau menjawabnya tapi sungguh menjelaskan semuanya dikelas yang berisi banyak fans Sasuke benar-benar membuatku tidak nyaman. Dengan cepat kutarik tangan Sarada dan membawanya ke atap sekolah. Ya setidaknya itu satu-satunya tempat yang menurutku aman. Sepertinya Sarada masih syok atas bentakanku, ia hanya mengikutiku tanpa berkomentar apa-apa. Setelah sampai diatap sekolah, akupun menjelaskan kejadian dimana Sasuke memintaku untuk menjadi pacar sementaranya demi kelangsungan pemotretan dan meyakinkannya bahwa berita diinternet mengenai aku pacaran dengan Sasuke dan juga kencan kami itu hanyalah sandiwara belaka saja.
"Jadi gitu, syukurlah kamu masih setia pada Naruto-kun.. Hinata-chan pasti sedih dan tidak akan tenang disana jika tau pria yang dicintainya diduakan olehmu," ucap Sarada sambil melihat kelangit biru.
"Ya kamu benar Sarada-chan, dia pasti akan sedih jika aku tidak bersama dengan Naruto-kun," lirihku.
"Iya, Hinata-chan begitu baik.. dia rela mengorbankan perasaannya dan mengalah supaya kamu dan Naruto-kun bisa berpacaran,"
"ah Sarada-chan sepertinya aku harus balik ke kelas, duluan ya," ucapku sambil berlari menuju ruang kelasku. Sungguh aku tak suka jika Sarada membahas masa lalu kembali. Rasanya seperti hatiku teriris. Mendengar perkataan Sarada membuatku merasa jahat karena lebih tepatnya Shion-nee lah yang sangat baik. Dia yang mengorbankan perasaannya demi aku. Aku terus berlari menuju kelasku tanpa mempedulikan tatapan dari orang-orang, namun tiba-tiba langkahku terhenti karena tangan kananku ditahan oleh seseorang.
"Naruto-kun?" ucapku ketika melihat bahwa seseorang yang menahan tanganku adalah Naruto.
"Jelaskan padaku maksud dari berita ini," ucap Naruto dingin.
Sungguh rasanya aku ingin memarahi wartawan yang seenaknya menulis berita hoax ini. Ini pertama kalinya aku melihat Naruto menatapku begitu tajam dan dingin bahkan ketika Shion meninggal, ia tidak besikap seperti ini. Sungguh ekspresinya ini membuatku takut.
TBC
Hai reader setiaku.. hehe senang rasanya berjumpa dengan kalian lagi. Sekali lagi maaf karena telat update maklum karena musim yang kadang ujan kadang panas ini membuat kesehatan Bani menurun. Tapi bukan hanya itu saja sih penyebab telat updatenya, alasan kedua adalah karena Bani sedih melihat jumlah review di chapter 5 kemarin huhu Tapi tak apa Bani masih setia menunggu review kalian di chapter 6 ini. Sampai jumpa di chapter berikutnya ya~ Oh ya jangan lupa review, favorite dan follow ya~
