Kepribadian Ganda

Naruto by Masashi Kishimoto

Story is Mine

[Hinata x Naruto x Shion x Sasuke]

Sad, Romance and Family

Warn : Typo, OOC, dll

_Chapter sebelumnya_

"ah Sarada-chan sepertinya aku harus balik ke kelas, duluan ya," ucapku sambil berlari menuju ruang kelasku. Sungguh aku tak suka jika Sarada membahas masa lalu kembali. Rasanya seperti hatiku teriris. Mendengar perkataan Sarada membuatku merasa jahat karena lebih tepatnya Shion-nee lah yang sangat baik. Dia yang mengorbankan perasaannya demi aku. Aku terus berlari menuju kelasku tanpa mempedulikan tatapan dari orang-orang, namun tiba-tiba langkahku terhenti karena tangan kananku ditahan oleh seseorang.

"Naruto-kun?" ucapku ketika melihat bahwa seseorang yang menahan tanganku adalah Naruto.

"Jelaskan padaku maksud dari berita ini," ucap Naruto dingin.

Sungguh rasanya aku ingin memarahi wartawan yang seenaknya menulis berita hoax ini. Ini pertama kalinya aku melihat Naruto menatapku begitu tajam dan dingin bahkan ketika Shion meninggal, ia tidak besikap seperti ini. Sungguh ekspresinya ini membuatku takut.

"Jelaskan apa sebenarnya hubunganmu dengan si teme?" ucap Naruto lagi sambil mengeratkan pegangan tangannya.

"Ah sakit Naruto-kun," ucapku sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Naruto.

Namun sepertinya usahaku sia-sia pengangan tangan Naruto malah semakin erat. Ia lalu membawaku menuju taman belakang sekolah. Huh sepertinya aku harus pasrah membolos pelajaran biologi kesukaanku. Sesampainya ditaman belakang mau tak mau aku menceritakan semua kejadian itu dengan jujur kepada Naruto. Dengan takut sesekali aku melirik ke arah Naruto untuk melihat raut wajahnya. Sayangnya harapanku agar ekspresi wajah Naruto melunak tidak dikabulkan oleh Tuhan. Ekspresi wajahnya tetap dingin dan dia tidak banyak bercanda seperti biasanya. Sungguh Naruto seperti orang asing saat ini bagiku, sebenarnya ada hubungan apa antara Naruto, Shion-nee dan Sasuke.

"Naruto-kun, sejak kapan kenal dengan Sasuke-kun? Apa ada rahasia yang kalian bertiga rahasiakan dariku?" tanyaku pelan. Sebenarnya aku tak yakin untuk menanyakan hal ini namun sungguh aku penasaran dengan sikapnya ini.

"Bukan apa-apa, gomen Hinata. Sebaiknya kau jauhi si teme itu," balas Naruto sambil pergi meninggalkanku seorang diri.

Aku hanya menatap punggung Naruto yang semakin menjauh. Dalam hati aku berharap Shion-nee membantuku menemukan jalan keluar dari permasalahan ini. Aku sungguh tidak ingin hubunganku dengan Naruto yang baru saja baikan menjadi rusak kembali. Tapi dilain sisi aku tidak mau menjauhi Sasuke-kun. Bagaimanapun aku baru saja berteman dengan idolaku tentu aku tidak mau menjauh begitu saja tanpa alasan yang jelas.

"Kenapa jadi rumit seperti ini sih?" gumamku.

-Flashback on-

Disuatu ruang perpustakaan tampaklah dua orang siswi SMP yang sedang serius belajar. Suasana tampak hening karena yang diperpustakaan itu hanyalah ada mereka berdua. Hari yang sudah menjelang malam dan udara yang semakin dingin tidak menyurutkan niat belajar mereka berdua. Hingga terdengarlah bunyi kruyuuuuk.

"ahaha sepertinya sudah waktunya makan malam Hinata-chan, perutku sudah lapar," ucap gadis berkacamata.

"Kamu benar Sarada-chan, maaf ya jadi kebablasan belajarnya," ucap gadis bersurai indigo yang bernama Hinata.

"Ya sebentar lagi kita kelas 3 makanya harus serius belajar apa lagi kamu pingin jadi dokter kan? Biar bisa satu kampus sama sepupu-ku,"goda gadis berkacamata itu lagi sambil menyenggol lengan Hinata.

"Bu..bukan gitu Sarada-chan..a..aku..," balas Hinata malu-malu.

"Haiii…aku tau kok, kamu ingin menjadi dokter untuk Naruto-kun kan? Biar bisa mengobati luka-lukanya,"

"Sarada-chan..," ucap Hinata dengan wajah yang semakin memerah.

"Huh, apa bagusnya sih dari pemuda yang suka berkelahi seperti itu, lebih baik kamu sama sepupuku. Sama-sama kalem, ku rasa kalian akan cocok," balas Sarada.

"Bukan begitu Sarada-chan, Naruto-kun berkelahi untuk membela yang lemah jadi akupun ingin menjadi dokter untuk menolong orang-orang lemah juga," jelas Hinata dengan tatapan hangat.

"Haii, aku paham Hinata-chan tapi sebaiknya kita pulang sekarang sebelum aku memakan dirimu," ledek Sarada sambil membereskan barang-barangnya.

"uhm.."

Kedua gadis itu kemudian pergi meninggalkan perpustakaan menuju rumah masing-masing. Karena arah rumah mereka berlawanan maka mereka terpaksa berpisah di gerbang sekolah. Untungnya jarak antara rumah Hinata dengan sekolah cukup dekat sehingga ia memutuskan untuk berjalan kaki menuju rumahnya. Namun langkah Hinata terhenti karena menemukan sesosok pemuda bersurai pirang yang sedang terluka di pinggir gang gelap. Tanpa pikir panjang Hinata segera berlari menuju pemuda itu.

"Naruto-kun.."

"eh? Hinata-chan, kamu baru pulang?" sapa Naruto dengan senyuman khasnya meskipun terdapat bercak darah disudut bibirnya dan lebam dipipinya.

"Na..Naruto-kun habis berkelahi lagi?" tanya Hinata.

Dengan sigap Hinata mengeluarkan perlengkapan P3Knya. Maklum bukan sekali atau dua kalinya Naruto babak belur sehingga Hinata selalu siaga mengobatinya. Perlahan-lahan Hinata membersihkan luka Naruto.

"Gomen Hinata-chan, aku jadi merepotkanmu jika Shion-chan tau pasti aku akan dipukulinya," ucap Naruto.

"Iiee..Aku senang kok bisa merawat luka Naruto-kun," balas Hinata sambil tersenyum.

"Eh?"

"Ah, ma..maksudku..aku senang bisa membantu Naruto-kun," jelas Hinata lagi sambil menundukkan kepalanya.

"Wah Hinata-chan memang gadis baik hati ttebayo..Kamu pasti akan jadi istri yang baik nanti," Ucap Naruto sambil tersenyum.

"Su..sudah malam Naruto-kun sebaiknya kita pulang," ucap Hinata dengan wajah yang memerah. Dengan cepat ia melangkahkan kakinya menuju rumahnya.

"oy, tunggu aku Hinata-chan," ucap Naruto.

-Flashback off-

Perlahan kubuka mataku dan kulihat sekelilingku. Setelah mengetahui bahwa aku berada di kamarku maka aku menyadari bahwa aku memimpikan masa lalu. Kenanganku bersama Naruto. Mungkin karena sifat Naruto kemarin yang tidak seperti biasanya membuatku merindukan sifat lamanya. Hari ini rasanya ingin kutemui Naruto disekolah dan memastikan bahwa ia sudah kembali seperti semula. Namun sayangnya jadwalku hari ini cukup padat sehingga aku tidak bisa masuk kesekolah. Dengan malas ku langkahkan kaki menuju kamar mandi dan bersiap untuk menyelesaikan jadwal hari ini. Pagi ini aku harus menyelesaikan rekaman lagu baruku untuk comeback bersama Navillera –Girlbandku bersama Sakura dan Ino- tapi khusus lagu ini aku akan menyanyikannya seorang diri. Sebenarnya cukup deg-degan karena ini pertama kalinya aku diberi kesempatan untuk menyanyi seorang diri. Tak terasa aku sudah berdiri di dalam ruang rekaman dan bersiap untuk memulai rekaman. Produser musik-kupun memberikan tanda untuk mulai bernyanyi.

Don't push me away, don't leave me. Even though you make me cry

Even though you hurt me. But please know this

You are my last love

Don't push me away, don't leave me. Don't push me away and leave

I only have you. Don't go, if you love me

Don't leave me. Forever be by my side. Even tomorrow

Sekilas aku teringat kembali kejadian kemarin. Kejadian dimana Naruto menatapku dan bersikap dingin terhadapku. Aku takut Naruto membenciku dan meninggalkanku tanpa menjelaskan alasannya.

When I hold you in my arms. My heart starts to flutter

Please move my heart. Can you tell me that you love me, just once?

My heart is racing

Ketika menyanyikan lirik ini, ingatanku kembali pada mimpiku semalam. Kejadian dimana aku mengobati luka-luka Naruto. Secara tidak langsung aku menyentuh wajahnya dan bibirnya. Jantungku berdebar kencang saat itu dan aku merasa wajahku memanas ketika bertatapan langsung dengan Naruto dijarak yang sedekat itu. Ingin rasanya aku memeluknya tapi itu semua tidak mungkin. Karena…

Don't push me away, don't leave me. Don't push me away and leave

I only have you. Don't go, if you love me. Don't leave me

Forever be by my tomorrow

I can't go on without you

Teringat kembali kejadian dimana aku pulang lebih cepat dan memasuki kamar Shion untuk mengajarinya pelajaran biologi. Namun betapa hancur dan terkejutnya diriku ketika melihat Shion dan Naruto sedang berciuman mesra. Tak sengaja buku yang ada dalam genggamanku terlepas sehingga menyadarkan mereka berdua. Shion lalu menghampiriku berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi. Tapi aku tidak mau mendengarnya, kuputuskan untuk berlari keluar dari rumah tanpa arah yang jelas. Shion yang merasa bersalah langsung mengejarku. Tanpa kusadari ada sebuah mobil melaju kencang ke arahku. Shion langsung memelukku erat dan semuanya menjadi gelap, hanya suara Naruto yang meneriakan namaku dan Shion yang terdengar sebelum aku kehilangan kesadaranku.

Because you're my last love

I love you, I love you. I want all of you (I want all of you)

I love you, I love you (Oh)

I'm confessing to you

Song by Wendy and Seulgi Redvelvet – Don't Push Me

Tak terasa air mata menetes di wajahku. Produser musikku menghampiriku dan berkata bahwa nyanyianku bagus sekali. Ku hapus air mataku dan ku bungkukkan badanku untuk berterima kasih atas pujian dari produserku. Aku harap laguku ini disukai oleh para fansku.

TBC

Hai reader-san hehe berjumpa lagi denganku. Aku senang karena review, favorite dan follownya bertambah yey makasih ya reader semua, aku jadi lebih semangat buat update cerita. Nah sebagai ucapan terima kasih aku hadirkan bintang tamu utama kita untuk menjawab review dari para reader.

Shion : hai reader-san semua.. aku hadir disini untuk menjawab pertanyaan kalian yang sangat penasaran sama diriku

Bani : Kamu sudah jadi hantu Shion-san jangan geer seperti itu #digebukinShion

Shion : Langsung saja pertanyaan pertama dari Ana-san mengenai pairing.. hmm kan sudah dijelaskan oleh author tentang hubunganku dan Naruto kan? Aku dan Naruto tuh pacaran *emosi* tapi karena aku sudah mati jadi keinginanmu mungkin tercapai hiks *nangis dipojokan*

Bani : *elus" punggung Shion* yang sabar ya, sebagai kakak yang baik kamu harus merelakannya buat adikmu. Oh ya meskipun reviewnya sedikit tapi itu sangat berharga kok buatku jadi aku pasti tetap semangat buat lanjutin FF ini hehe

Shion : *baca pertanyaan kedua* Ok lanjut pertanyaan kedua dari Aihi-san, Aku terharu akhirnya ada yang menanyakan keadaanku. Tapi sebelumnya aku jawab yang mengenai penyamaran Hinata deh, Nata-chan bukan hanya menyamar menjadi diriku tapi mengubah semua perilaku dan kepribadiannya tidak hanya disekolah tapi disemua tempat. Sepertinya dia sangat bersalah atas kematianku jadi dia membuat seolah-olah aku yang hidup dan Nata-chan yang mati. Padahal kematianku disebabkan oleh….*dibekap Bani*

Bani : Ah cukup sampai disini dulu spoilernya sudah kebanyakan. Haha tunggu chapter selanjutnya ya. Sampai jumpa lagi ~

Sasuke : Author-san, munculkan aku di chapter depan, aku tak terima chapter ini dikuasai si dobe *muncul dengan tatapan dingin*

Bani : hai haii..sudah pulanglah Sasuke waktunya untuk pamitan sama reader-san.

Sasuke : Hnn Reader-san cepatlah review minta kemunculanku di chapter depan

Bani : sudah sudah *dorong Sasuke* Bye bye reader