[YongSoo-ssi Project, Suyong is the creator for this FanFinction]

.

Scared

.

JeongCheol

Choi Seungcheol x Yoon Jeonghan

"Kau..." Jeonghan menatap nyalang pada namja yang tiba-tiba masuk dan duduk di dalam mobilnya, tersenyum menampilkan deretan giginya seakan yang dilakukannya saat itu adalah hal normal.

"Wae? Kau tidak mau jalan huh?" Ia menyandarkan kepalanya dengan santai pada bantalan mobil.

"Keluar. Aku bahkan tidak mengenalmu tuan. Jadi aku mohon keluar"

"Bukankah tadi aku sudah bilang? Namaku Choi Seungcheol ,cantik" Seungcheol mengeluarkan senyum menggodanya pada Jeonghan yang sayangnya tidak mendapat respon apapun dari namja cantik tersebut.

"Keluar atau kutendang kau agar keluar dari mobilku" Jeonghan berkata galak tanpa menatap Seungcheol.

Seungcheol memiringkan kepalanya lucu dan menatap Jeonghan masih dengan senyum menggoda yang terlukis di wajahnya. Dia benar-benar cantik bahkan saat galak begini dia dan Seungcheol suka itu, membuat Jeonghan terlihat lebih menarik.

"Kau mendengarku? Atau telingamu yang lebar itu tidak berfungsi dengan baik?" Ia menatap geram pada namja disampingnya.

Seongcheol sangat menyebalkan dan tidak memiliki sopan santun. Selama hidupnya, dan untuk pertama kalinya Jeonghan bertemu dengan orang yang menyebalkan seperti ini. bahkan ia dapat merasakan asap mengepul keluar dari kepalanya.

"Keluar."

Seungcheol hanya tersenyum mendengar perkataan dingin Jeonghan dan dengan cepat ia mengecup pipi Jeonghan, membuat pemiliknya terbelalak kaget.

"Sampai jumpa cantik, aku harap kita akan bertemu lagi yahh walaupun kau tidak berharap aku akan tetap menemuimu. Sampai jumpa!" Seungcheol keluar dari mobil tanpa mempedulikan ekspresi terkejut yang ada di wajah Jeonghan.

Ia melangkah santai sambil melambaikan tangannya pada Jeonghan, ia bersikap seolah ia baru saja berjabat tangan bukan mendaratkan sebuah kecupan pada pipi putih nan mulus milik Jeonghan.

"Tunggu? Itu apa?" Jeonghan tersadar dari shocknya dan menatap punggung Seungcheol yang menghilang dengan pandangan berapi-api.

Jeonghan mengacak rambutnya kesal. Namja itu benar-benar menyebalkan. Ia berharap Seungcheol pingsan dijalan atau kalau bisa berharap lebih ia ingin menabrak Seungcheol sekarang dan membuang mayatnya di toilet yang ada di taman dekat sekolah.

"Dasar orang aneh" Jeonghan mengusap pipinya, bahkan ia masih bisa membayangkan bibir lembut Seungcheol yang menyentuh pipinya.

"Aku harus menggosok pipiku berapa kali untuk menghilangkan jejaknya" Jeonghan mendengus kesal dan melaju dijalanan Seoul yang masih padat oleh kendaraan.

.

"Eoma! Aku pulang" Jeonghan masuk kedalam sebuah rumah yang terlihat lumayan besar dengan taman yang indah didepannya.

"Appa!" Jeonghan menghambur kepelukan ayahnya tercinta.

Jong Hyun tersenyum melihat anaknya yang begitu manja padanya dan pada Min Ki, istrinya.

"Appa! Kenapa kau lama sekali pergi! Kau tidak kasihan pada eomma? Ia sudah hampir mati merindukanmu"

"Hei! Appa hanya pergi 5 hari, bagaimana itu lama?" Jong Hyun tersenyum geli mendengar Jeonghan yang terlalu melebih-lebihkan perkara ia ke Londong, "Dan benarkah eoma mu begitu merindukan appa?"

Jong Hyun melirik istrinya yang mulai memunculkan semburat merah di pipinya yang putih.

"Ne, eoma bahkan terus-terusan menyuruhku menelpon appa untuk menanyakan kapan appa akan pulang. Itu menyebalkan sekali!"Min Ki mendelik mendengar penuturan Jeonghan yang terlampau jujur.

"Ya! Kau naik sana, appa mau istirahat" Min Ki mendorong Jeonghan agar masuk kekamarnya.

"Eomma! Kau yang menyuruhku pulang kerumah untuk bertemu appa, dan sekarang kau menyuruhku untuk tidak mengganggunya" Jeonghan mendengus nafas kesal, ibunya menatap nyalang membuat Jeonghan berhenti berbicara dan memilih masuk kekamarnya.

Ia menghempaskan badan rampingnya kekasur putih lembut yang ada dikamarnya. Ia mulai merasa kantuk menyerangnya, tetapi kondisinya yang masih memakai seragam sekolah membuatnya merasa tidak nyaman. Jeonghan meloncat dari tempat tidurnya dan memulai kegiatan membersihkan tubuhnya.

~Siganeun heulleoga
gilgeman neukkyeojyeotdeon nae harureul dorabwa
jjalbgiman han-

"Yeoboseyo?" Jeonghan mengerutkan keningnya bingung. Ia bahkan tidak mengenal pemilik nomor ini.

"Oh, hai cantik. Kau belum ti-" Jeonghan terbelalak dan reflek mematikan sambungan telponnya.

"Astaga, dia penguntit? Heol! Benar-benar aneh, bagaimana bisa ia mendapat nomor telponku? Ini menakutkan" Ia menatap layar ponselnya nanar.

Jeonghan memasukan ponselnya kedalam laci dan merebahkan tubuhnya yang sudah bersih, melanjutkan tujuan utamanya yang tadi tertunda.

.

"Jeonghan-ah!" Seseorang menepuk punggungnya pelan.

"Ah, Jihoon-ah. Wah, wajahmu bersinar sekali hari ini." Jeonghan tersenyum melihat wajah Jihoon yang berbinar-binar, bahkan matahari pagi ini kalah jika dibandingkan dengan aura Jihoon pagi ini.

"Soonyoung mana?" Jeonghan memperhatikan sekeliling. Mencari makhluk bermata sipit yang selalu menempeli Jihoon seperti permen karet.

Jihoon tersenyum dan tidak lama kemudian suara teriakan muncul dari belakang mereka.

"Chagiyaaa~" Soonyoung berlari kearah Jihoon dengan maksud ingin mendapatkan pelukan dari orang yang baru saja menjadi kekasihnya, tapi malangnya Jihoon menghindar dan ia hanya dapat memeluk angin.

"Jihoon-ah~ kenapa kau jahat sekali huh?" Soonyoung menampilkan aegyonya, berharap kekasih kecilnya akan luluh.

"Apa maksudmu?" Jihoon menatapnya dingin dan melangkah meninggalkan Soonyoung dan Jeonghan.

"Ah, pagi Jeonghan-ah. Maaf aku haru pergi, sampai jumpa!" Soonyoung berlari menyusul Jihoon yang masih mengelak dari rangkulan dan pelukannya. Jeonghan menatap pasangan itu dari kejauhan, sampai akhirnya sebuah tangan merangkulnya.

"YAK! Kau gila?" Ia menatap galak pada Seungcheol yang hanya tersenyum manis padanya.

"Hai princess, pagi yang indah cocok bertemu denganmu yang sama indahnya"

Jeonghan mendengus sebal dan pergi meninggalkan pangeran sekolah itu. Jeonghan dapat merasakan tatapan menusuk dari siswa-siswi di sekolahnya, dan namja yang menjadi penyebabnya sekarang berjalan mengikutinya.

"Hei kau" Jeonghan berbalik dan menatap Seungcheol geram.

"Berhenti menggangguku, kau ini seorang penguntit? Bisakah kau hentikan itu? Kau mengangguku TUAN" Seungcheol tersenyum dan mengangkat dagu Jeonghan dengan jari telunjuknya. Bahkan dilihat sedekat inipun, ia tetap cantik, Seungcheol benar-benar ingin mengurung Jeonghan dirumahnya agar namja itu tidak disentuh oleh namja lain selain dirinya.

"Jika itu yang kaupinta, aku minta maaf aku tidak bisa menurutinya Princess. Salahkan dirimu yang muncul didepanku dan membuatku ingin memilikimu" Jeonghan menampik tangan Seungcheol yang mulai mengelus pipinya lembut.

"Hentikan, aku tidak tertarik padamu walaupun kau dijulukin pangeran sekolah dan berhenti memanggilku princess" Jeonghan bergegas meninggalkan Seungcheol yang masih diam ditempatnya berdiri dengan senyum yang tercetak diwajah tampannya.

Ia bahkan tidak melepas pandangannya dari punggung Jeonghan, ingin rasanya memeluk punggung namja cantik itu tapi ia sadar, yang didapatnya adalah sebuah pukulan atau bisa saja Jeonghan memotongnya beberapa bagian dan menjadikannya makanan dikantin sekolah. Tapi ia akui, namja itu terlalu indah, bagaimana bisa ia tidak menyadari ada namja secantik itu disekolahnya.

Seungcheol tersenyum dan membalikkan badannya, berjalan menuju kelas yang seharusnya ia tuju.

.

"Jihoon-ah?"

"Hm?" Jihoon masih berkutat dengan jari-jarinya yang menari diatas tuts piano, sedangkan Jeonghan menatapnya dengan pandangan bosan.

"Kau tahu Choi Seungcheol?" Jihoon mengangkat kepalanya, menatap Jeonghan bingung,"Tentu saja, seluruh sekolah tahu dia"

"Apakah dia itu memang aneh?"

"Aneh bagaimana maksudmu?"Jihoon menggaruk kepalanya bingung. Satu-satunya hal yang ia tahu tentang Choi Seungcheol adalah ia tampan dan selebihnya ia tidak tahu lagi.

"Yah, apakah dia selalu menguntit seseorang yang menarik baginya?"

"Seungcheol tidak seperti itu, selama aku mengenalnya aku tidak pernah melihatnya begitu peduli pada seseorang" Sebuah jawaban dari sumber yang tidak diduga muncul. Soonyoung tersenyum dan berjalan menghampiri dua namja yang masih menunggu lanjutan dari jawabannya.

"Maksudku Seungcheol tidak pernah benar-benar tertarik pada seseorang. Kenapa kau bertanya tentangnya? Jangan-jangan kau menyukainya?" Soonyoung menatap Jeonghan curiga.

Jeonghan memutar bola matanya.

"Tentu saja tidak" Ia bahkan yakin kalau dia tidak akan pernah jatuh cinta pada makhluk satu itu. Bukan hanya mahkluk satu itu, tapi pada semua orang. Dia tidak butuh itu.

"kau yakin? Aku rasa kau dan dia cocok" Soonyoung melahap potongan roti yang dibelinya dikantin. Sesekali ia menyuapi Jihoon dan mengusap pipi Jihoon lembut, penuh kasih sayang.

"Yakin, dan tolong berhenti bermesraan didepanku" Jeonghan menatap pasangan itu tajam.

"Hentikan Soonyoung-ah, jangan memaksa Jeonghan seperti itu. Jika ia memang jatuh cinta aku yakin Jeonghan akan mengakuinya, iya kan?"

Jeonghan mengangguk pelan dan menenggak colanya, matanya menatap keluar jendela. Menerawang sesuatu, sesuatu yang dibencinya sampai-sampai ia ingin mati jika merasakannya.

"Tapi, Jeonghan-ah. Sampai kapan kau mau seperti ini?" Jihoon kembali membuka suara, matanya menyiratkan kekhawatiran.

Jeonghan tersenyum lemah. Ia tidak tahu sampai kapan ia bisa menghindari perasaan yang dibencinya itu, ia tahu suatu saat ia akan berhadapan kembali dengan musuh terbesarnya sekeras apapun ia mencoba.

"Sampai aku menemukan orang yang tepat, aku tidak ingin jatuh cinta"

"Bagaimana menemukan orang yang tepat kalau kau saja tidak berani mengambil resiko dan mencobanya"

"Jihoon-ah, kau tahu sendiri masa laluku bagaimana. Kau tahu bagaimana keadaanku dulu. Aku tidak siap, aku takut aku akan merasakannya lagi dan menjadi orang bodoh lagi."

Jihoon menghela nafas. Inilah Yoon Jeonghan yang sebenarnya, ia memang selalu menjadi tempat teman-temannya mencurahkan isi hati dan dengan senang hati ia akan berusaha memberi nasihat untuk teman-temannya itu. Jika ditanya kenapa ia begitu ahli dalam hal itu, apakah ia memiliki banyak mantan kekasih sehingga begitu ahli?

Jeonghan belajar. Belajar dari masalalunya yang kelam. Masa dimana ia merasa menjadi orang paling spesial didunia karena ia merasa bahwa dirinya adalah kekasih yan baik ,padahal kenyataannya ia hanyalah orang bodoh yang menggunakan kedok "kekasih yang baik".

"Sudahlah, aku tidak ma membicarakannya. Aku pergi." Jeonghan beranjak dari banguknya dan meninggalkan kedua temannya yang masih menatapnya punggungnya lekat, mencoba mencari tahu apa yang sedang difikirkan Jeonghan sekarang.

BUGH

"Ah maafkan a-"

"Hai manis, aku baru saja ingin menghampirimu dan ternyata kau lebih dulu menghampiriku" Seungcheol tersenyum, matanya tidak lepas dari namja cantik yang ada didepannya, menatapnya dengan pandangan takut.

"Kau lagi! Aku sudah bilang berhenti mengikutiku, kau gila? Kau ingin kulaporkan huh? Kau bisa mencari orang lain yang lebih menarik daripada aku"

"Tidak mau" wajah Seungcheol yang awalnya berseri-seri dan senyum yang menghiasi wajah tampannya berubah menjadi datar serta memancarkan aura dingin, "Kau fikir aku bisa semudah itu menyukai seseorang huh? Kau fikir perasaanku sesuatu yang bisa dengan mudahnya kau pindahkan? Seperti memindahkan sebuah permen dari tangan ke mulutmu, begitu?"

Jeonghan tertegun mendengar perkataan Seungcheol, ia menatap mata namja itu dalam, mencari kebohongan dari perkataannya. Konsentrasinya buyar ketika menatap mata indah milik namja bernama Choi Seungcheol.

'Bulu matanya panjang. Astaga sadarlah Yoon Jeonghan'

"Aku pergi" Jeonghan melangkahkan kakinya, ingin menghindari Seungcheol yang masih menatapnya intens.

"Hei, aku tidak akan menyerah padamu. Yoon Jeonghan"

.

TBC?

.

Annyeong~

Ini chapter kedua dari ff debutnya Yong, makasih buat yang mau baca (walaupun awalnya Yong gak yakin ada yang mau baca). Terimakasih untuk semuanya, Yong akan bekerja lebih giat lagi untuk menciptakan ff yang lebih bagus dari ini dan rencananya Yong bakalan bikin NC ( Tapi gak tahu kapan hehe).

Tadinya yong sempet sedih karena gak ada yang ngeriview soalnya Yong kira gk ada yang baca jadi kepikiran buat delete tapi makasih buat Schoupshan dan tfiy yang udah review jadi semangat lagi hehe (sini kiss dulu :*)

Terimakasih sekali lagi. Jangan lupa reviewnya Chingu~