[YongSoo-ssi Project, Suyong is creator of this Fanfiction

.

Scared

JeongCheol

Choi Seungcheol x Yoon Junghan

.

Seungcheol benar-benar menepati perkataannya.

Jeonghan menatap tajam pada namja yang selarang dengan tidak tahu malu berteriak dipinggir lapangan basket.

"SEMANGAT PRINCESSKU! AKU MENCINTAIMU"

Jeonghan mendengus nafas kesal, ia bahkan tidak dapat berkonsentrasi pada permainan basketnya. Ia melirik kesisi lain lapangan basket, disitu terdapat siswa-siswi yang menatapnya nyalang. Jeonghan tahu apa penyebab tatapan itu.

Ia hanya dapat menelan salivanya kasar mendapati tatapan membunuh dari para pemuja namja aneh itu.

Mingyu menyenggol bahu Jeonghan pelan dan tersenyum penuh arti.

"Sunbae, kau berpacaran dengan Choi Seungcheol? Wah ini ben-"

"Hentikan omong kosongmu Kim Mingyu" Mingyu mengerucuti bibirnya kesal.

"SUNBAE!" Dino mengoper bola kearah Jeonghan dan diterima dengan gesit oleh namja berambut panjang itu.
"Wah.. PRINCESSKU MEMANG HEBAT" Seungcheol menjerit senang saat melihat Jeonghan memasukan bolanya kedalam ring.

"Kau pasti lelah, ini minumlah" Seungcheol dengan sigap menyodorkan minuman yang dipegangnya pada Jeonghan saat melihat namja itu menyingkir dari lapangan untuk beristirahat..

"Hentikan kau membuatku kesal, kau tidak lihat tatapan penggemarmu yang ingin membunuhku?" Seungcheol hanya membalas gerutuan Jeonghan dengan senyuman manisnya.

"Aku tidak peduli, aku hanya peduli padamu" Jeonghan membuang wajahnya kesamping, takut kalau Seungcheol melihat wajahnya yang merona.

"Dasar aneh, lebih baik kau pergi. Kau hanya menggangguku disini"

"Tidak, aku akan menemanimu sampai selesai" Seungcheol bersikukuh dengan keinginannya tanpa mempedulikan delikan galak dari Jeonghan.

"Pergi atau kau gegar otak dengan bola basket ini"Jeonghan membuat gestur seolah-olah akan melempar bola basket yang ada ditangannya kearah Seungcheol

"Baiklah aku pergi" Jeonghan tersenyum senang,"Sampai jumpa Princess" Seungcheol mengecup pipi kanan Jeonghan dan berlari meninggalkan Jeonghan yang shock.

Mingyu dan teman-tamannya melihat kejadian itu, sontak saja lapangan basket yang awalnya diisi dengan suara decitan sepatu dan pantulan bola berubah menjadi lapangan yang penuh dengan sorakan.

"Hentikan" Jeonghan menatap tajam kearah Mingyu dan teman-temannya.

Dia bisa gila kalau begini. Hei, tapi kenapa jantungnya berdetak seperti ini, ini diluar detakan normal. Tidak mungkin, tidak mungkin ia menyukai namja aneh itu. Jeongha manarik nafasnya panjang, berharap detakan jantungnya berangsur normal.

"Hei, ayo kita lanjutkan" Jisoo berteriak kearah Jeonghan, membuat namja itu tersadar dari lamunannya.

.

Jeonghan melangkah gontai menuju mobilnya. Ia bahkan tidak menyadari sosok yang berjalan disampingnya.

"Memikirkanku princess?"Jeonghan menoleh cepat kesumber suara. Ia mendapati Seungcheol yang sedang menatapnya lucu.

"Kau.. bukankah sudah kubilang untuk pergi"

"Yap, kau menyuruhku pergi pada saat bermain basket dan sekarang kau sudah selesai dengan permainanmu jadi aku menemuimu"

"Aku bilang pergi dan tidak menggangguku lagi bukan hanya saat bermain basket"

Seungcheol terlihat berfikir sebentar dan menatap Jeonghan dengan senyumnya yang mengembang.

"Aku sudah bilang sebelumnya,aku tidak bisa memenuhi permintaanmu yang satu itu" Jawabnya santai. Jeonghan menatap namja disampingnya kesal.

"Dan bisakah kau berhenti mencium pipiku, kau benar-benar tidak tahu malu" Jeonghan menghela nafas sebentar dan menatap manik hitam milik Seungcheol,"Aku-"

Seungcheol mengecup bibir tipis Jeonghan, membuat pemiliknya mendelik terkejut.

"Kau bilang jangan mencium pipimu, jadi aku mencium bibirmu" Seungcheol tersenyum polos tanpa rasa bersalah.

Bahkan ia tidak peduli dengan wajah Jeonghan yang memerah karena malu. Hingga akhirnya tangan Jeonghan mendarat dengan mulu dikepalanya.

"ARGHH" Seungcheol menjerit keras. Jeonghan memukul kepalanya dengan keras, dia sudah tahu itu akan terjadi tetapi tidak menyangka akan sesakit ini.

"Dasa mania"

Jeonghan berlalu meninggalkan Seungcheol yang masih memegangi kepalanya yang nyeri akibat pukulan telak dari Yoon Jeonghan.

.

"Yeoboseyo? Ah, Jihoon-ah. Ada apa?" Jeonghan baru saja selesai mandi saat Jihoon tiba-tiba menelponnya dan ini adalah suatu momen yang langka untuk Jeonghan.

"Boleh aku bertanya?"

"Tentu saja, ada apa?" Kening Jeonghan berkerut bingung.

"Kau.. apa benar Seungcheol menciummu di lapangan basket?"

Jeonghan terbelalak kaget. Bagaimana Jihoon tahu soal itu, setahu Jeonghan, Jihoon bukan seseorang yang suka bergosip atau semacamnya. Lalu bagaimana dia bisa tahu.

Jeonghan menghela nafas pelan, mengingat seseorang yang sekarang sudah menjadi kekasih Jihoon.

"Soonyoung memberi tahumu?"

"Emm... yah, berita seperti itu mudah beredar luas apalagi jika berhubungan dengan pangeran sekolah kita" kali ini giliran Jihoon yang menghela nafas pelan,"Jadi apa kau sudah membuka hatimu?"

"Tidak, maksudmu aku menyukainya? Aku tidak" Jeonghan menjawab cepat, takut Jihoon akan curiga dengannya. Beruntung kali ini dia sedang tidak berhadapan langsung dengan Jihoon, jadi dia tidak dapat melihat wajah Jeonghan yang memerah.

"Baiklah kalau begitu, aku akan dengan senang hati mendengarkanmu jika kau membutuhkan teman berbicara Jeonghan-ah"

Jeonghan tersenyum tipis," Terimakasih Jihoon-ah" Ia menutup telponnya dan berjalan kearah cermin yang ada dikamarnya.

Matanya tertuju pada bibir tipis miliknya, tempat Seungcheol menciumnya. Ia menyentuh bibir tipisnya dan kembali mengingat rasa bibir Seungcheol saat menyentuh bibirnya.

Jeonghan tersentak kaget saat menyadari apa yang dipikirkannya, ia menepuk pipinya yang kembali memunculkan warna merah.

"Dasar pangeran kodok jelek"

.

"Pagi Jihoon-ah" Jeonghan menyapa Jihoon yang sudah lebih dulu datang dan duduk di tempatnya.

"Pagi" Jihoon tersenyum kecil.

Ia melirik Jeonghan, otaknya sedang menerka-nerka sesuatu. Apakah Jeonghan sudah mencintai Seungcheol? Atau berita itu hanya omong kosong belaka?

"Ada apa?"Jeonghan menatap Jihoon bingung.

"Ah, tidak" Jihoon melepaskan padangannya dari Jeonghan, tetapi pikirannya masih sibuk dengan hal yang sama.

"Jihoon-ah" Jeonghan menepuk punggung Jihoon pelan.

"Hm?"

Jeonghan melambaikan sebuah surat didepan wajahnya," Kau tahu siapa yang menaruh ini dilaci mejaku?"

"Apa itu?" Jihoon merebut amlop berwarna merah muda itu dari tangan Jeonghan dan membukanya kasar.

"Ini surat cinta" Jeonghan merebut kembali surat miliknya.

'Dear Jeonghan

Aku tahu kita kenal belum cukup lama, tetapi aku rasa aku memiliki perasaan yang khusus padamu. Ada yang ingin kubicarakan denganmu secara langsung, jadi kuharap kau maudatang ke gudang olahraga pukul 4 nanti.

Sampai jumpa.

Dari : Yang mencintaimu'

"Tidak ada nama pengirimnya" Jeonghan membolak-balik suratnya, mencari tanda-tanda dari sang pengirim.

"Tapi aku rasa aku tahu" Jeonghan berkata dengan nada yakin.

"Kau akan datang?" Jihoon menatapnya dengan sorot mata khawatir.

Bagaimana ia tidak khawatir, coba fikirkan, orang mana yang mau menyatakan cinta di gudang olahraga. Ayolah, Soonyoung yang bodoh saja menembaknya tidak seperti itu, apalagi jika seorang Choi Seungcheol menembak Jeonghan. Hell no, tidak mungkin dia akan menembak Jeonghan disana.

"Kau yakin?" Jeonghan mengangguk mantap.

Ia ingin mengatakan dengan jelas pada namja itu bahwa ia tidak tertarik dan tidak akan pernah tertarik pada namja penggoda itu.

.

Entah kenapa, waktu hari ini berjalan lebih cepat dari biasanya bagi Jeonghan. Ia menatap jamnya yang sudah menunjukkan pukul 4 sore.

Ini waktunya ia menemui namja aneh itu, tetapi kenapa harus di gudang sekolah, kenapa tidak di taman sekolah saja jika ingin mengungkapkan perasaan. Jeonghan hanya mendenguskan nafasnya pelan, ia tidak akan pernah mengerti jalan pikiran namja aneh itu.

Dengan terpaksa ia menyeret kedua kakinya menuju gudang olahraga.

"Halo? Aku sudah datang, cepatlah, waktuku tidak banyak"

Klek.

"Sialan, dikunci" Jeonghan memukul pintu itu dengan kedua tangannya, berharap pintu itu akan terbuka jika ia menggedornya dengan keras.

"Gelap.." Jeonghan menatap sekelilingnya, ia tidak dapat melihat apapun disini. Jeonghan benci gelap dan sekarang ia harus terkurung ditempat ini dalam suasana yang dibencinya. Bahkan disini tidak ada Jendela atau semacamnya hingga tidak menyisakan setitik cahayapun.

"Ada orang diluar?" Ia benar-benar panik sekarang.

Bahkan matanya mulai mengeluarkan cairan bening, membasahi kedua pipi putihnya.

"Hiks..tolong buka.. disini gelap sekali hiks.." Jeonghan memohon pada siapapun yang ada disana, tapi tidak ada jawaban, yang ia dengar hanyalah suara beberapa orang yang tertawa kecil diluar.

"Siapa..disana?"

Tidak ada jawaban, bahkan suara tawa tadipun menghilang berganti dengan suara yang senyap. Jeonghan menyenderkan tubuhnya dipintu gudang, air matanya tidak dapat berhenti mengalir.

"Choi Seungcheol..hiks..Kau jahat.." Jeonghan mengusap matanya kasar.

Sudah 3 jam berlalu dan tidak ada tanda-tanda orang disana. Salahkan kepala sekolahnya yang meletakkan gudang olahraga diujung gedung sekolah sehingga sedikit orang yang akan berlalu-lalang dan mendengar tangisannya.

"JEONGHAN! YOON JEONGHAN!" Jeonghan mengangkat kepalanya ketika mendengar seseorang memanggil namanya nyaring.

"To..long..hh" Jeonghan sudah lelah, suaranya sudah habis karena menangis, begitu pula kadar oksigen yang ada diruangan itu.

Ia memaksakan diri memukul pintu itu dengan sisa tenaga yang dimilikinya.

"JEONGHAN!"

.

TBC?

.

Annyeoonng~

Yong disini. Yong update lebih cepet, sekalian ngupload ff nc yang car wash.

Terimakasih banyak untuk temen-temen sekalian, kalian memberikan Yong vitamin tambahan (Usap air mata). Terimakasih banyak yang sudah menyemangati Yong dan mau membaca ff Yong yang aneh ini (Kecup satu-satu)

Oh ya, Kalian boleh manggil aku dengan sebutan Yong, karena Yong kurang nyaman dipanggil thor, author, thor-thor atau semacamnya.

Terimakasih untuk teman-teman. Yong cinta kalian semua :*