[YongSoo-ssi Project, Suyong is the creator for this FanFinction]
.
Scared
.
JeongCheol
Choi Seungcheol x Yoon Jeonghan
.
"Enghh.." Jeonghan membuka matanya perlahan. Ia sadar, sekarang ia sudah tidak ada ditempat gelap dan terkutuk itu, melainkan dipunggung namja yang ia tidak tahu siapa. Jeonghan sedikit memajukan tubuhnya dengan niat ingin melihat namja yang menggendongnya.
"Eng? Kau sudah bangun Princess?" Seungcheol memutar kepalanya ke samping, memperhatikan Jeonghan yang ada dipunggungnya.
"Se-Seungcheol?" Jeonghan menatap tidak percaya pada namja yang tampan yang ada didepannya. Ia menatap sekelilingnya,memastikan dimana mereka sekarang.
"Kenapa kau ada disini?
"Apa maksudmu? Aku tadi menunggumu selepas sekolah, dan kau tidak muncul. Jadi, aku memutuskan mencarimu"
Jeonghan terperangah. Bukankah ia sudah mengatakan berulang kali pada namja ini untuk berhenti mendekatinya. Entah kenapa, mendengar penuturan Seungcheol membuat bibir Jeonghan tertarik ke atas secara otomatis.
"Terimakasih.."
Seungcheol tersenyum manis mendengar ucapan terimakasih yang keluar dari mulut namja cantik itu. Tentu saja ia bahagia, ini pertama kalinya Jeonghan mengucapkan terimakasih, bukan pergi atau kalimat 'berhenti menggangguku'.
"Apa aku berat?" Tanyanya dengan nada khawatir. Ia bertaruh kalau sekarang kaki-kaki Seungcheol sedang menjerit kesakitan walaupun namja itu berkata bahwa Jeonghan tidak berat sama sekali. Entah sudah tangga keberapa yang mereka lewati, dan Seungcheol hanya diam tidak bersuara.
"Kau tahu? Mau seberat apapun dirimu, aku akan tetap mengatakan kau ringan Yoon Jeonghan" Seungcheol sadar, apa yang dilakukannya sekarang tidak sebanding dengan apa yang baru saja Jeonghan lalui.
Ia benar-benar marah dan kesal karena dirinya yang tidak bisa menjaga Jeonghan dari orang-orang aneh yang mengaku penggemarnya.
"Kenapa kau tahu aku ada disana?"
"Tidak, aku tidak tahu. Aku hanya mencarimu diseluruh ruangan dan mendengar ketukan dipintu gudang, hanya sekali tapi untunglah aku mendengarnya.
"Kenapa...kau menolongku? Maksudku, aku sudah bersikap amat tidak baik padamu"
"berapa kali harus kekatakan hem? Aku mencintaimu Yoon Jeonghan"
Jeonghan tersenyum malu.
Mungkin ia tidak bisa menjadikan Seungcheol kekasihnya tapi bagaimana dengan teman? Jeonghan bisa lakukan itu. Lagipula Seungcheol sudah menolongnya dari orang jahat yang bahkan ia tidak tahu siapa.
"aku tidak bisa menjadi kekasihmu"
Seungcheol menghentikan langkahnya.
"Tapi aku bisa menjadi temanmu"
Tentu saja bukan itu yang Seungcheol mau. Menjadi teman Yoong Jeonghan bukan tujuannya mendekati namja itu selama ini. Ia ingin Jeonghan menjadi kekasihnya, bukan hanya sekedar temannya.
"Kenapa? Kenapa tidak bisa?"
"Kau ingin tahu alasannya?"
"Hm"
Jeonghan menghela nafas pelan.
"Turunkan aku sebentar, jika bercerita diposisi seperti ini, kurasa punggungmu akan patah" Seungcheol menuruti permintaan Jeonghan dan mendudukannya di bangku panjang yang ada didekatnya.
"Alasannya adalah.."
Flashback On
2 tahun lalu.
"Sayang? Happy Anniversary 1 year baby" Jeonghan tersenyum pada pemuda tampan yang ada didepannya.
"Terimakasih, aku bahagia sekali. Kau adalah kekasih terbaik yang pernah ada " Namja itu mengusap pipi Jeonghan lembut.
Mereka sedang berada di salah satu restoran mewah yang dipesan Jeonghan hanya untuk mereka berdua sebagai peringatan 1 tahun mereka bahkan tidak menyangka, pertemuan tidak sengajanya di bus dengan Hansol waktu itu membuat mereka bersama.
Ia dan Hansol memang berbeda umur cukup jauh, dengan Jeonghan yang baru 16 tahun dan Hansol yang berumur 19 tahun membuat pola pikir mereka sedikit bertolak belakang.
Tapi Jeonghan percaya, Hansol dan dirinya mampu menghadapi itu.
"Hansol-ah, kau tahu..kau adalah hadiah terindah yang dikirimkan tuhan untukku" Jeonghan tersenyum lembut pada Hansol.
"Sebentar, aku mau ketoilet. Sebentar ya baby" Hansol beranjak dari kursinya. Jeonghan memperhatikan sekeliling restoran, malam ini sangat sempurna. Hanya dia dan Hansol, berdua, menghabiskan malam bersama.
Jeonghan mendengar suara lirih sebuah lagu, ia memperhatikan sekitar dan matanya tertuju pada telpon Hansol yang bergetar, disanalah asal lagu itu. Ia melirik kearah layar telpon itu, menimbang-nimbang untuk mengangkatnya atau tidak.
Kenapa tidak? Dia kan pacar Hansol, ia berhak tahu urusan apapun.
"Yeobosey-"
"Chagiyaaa~ kau ada dimana hum? Kau bilang akan menghubungiku setelah rapat dengan klien gila yang minta bertemu malam-malam begini. Kau berbohong padaku?"
Jeonghan terhenyak. Siapa namja ini? berani sekali memanggil Hansol seperti menatap layar ponsel itu. Junnie? Siapa?.
"Maaf , kau siapa?"
"Aku pacar Hansol, apa dia ada disana? Ah , kau klien yang ditemuinya itu ya? Aku minta maaf. Tolong jangan bilang Hansol aku menelponnya, dia pasti marah sekali jika tahu aku mengganggu meetingnya" Nada bicara Namja itu terdengar khawatir.
"Ne" Jeonghan menutup telpon itu cepat, menghapus riwayat panggilan tadi dan meletakkannya ditempat semula. Bersikap seolah-olah tidak tahu apapun.
"Maaf, apa aku lama?" Hansol tersenyum manis pada namja didepannya dan dibalas dengan senyum tipis.
Ini bukan pertama kalinya Jeonghan mengangkat telpon dari namja lain di ponsel Hansol, dan itu dari namja yang berbeda. Tapi ia tidak ingin curiga pada pacar tercintanya ini, ia sudah berjanji untuk percaya pada Hansol.
"Jeonghan-ah. Ini sudah malam, ayo kita pulang" Jeonghan mengangguk pelan dan beranjak dari tempat duduknya.
Hansol menggenggam tangannya, Jeonghan memperhatikan genggaman tangan Hansol yang terasa sedikit berbeda. Jeonghan menggeleng kepalanya pelan, mencoba membuang segala pikiran negatifnya pada Hansol.
Sepanjang perjalanan ia hanya diam dan sesekali melirik pada ketika mobil berhenti ia tidak juga melangkah keluar dari mobil, disambut tatapan heran dari Hansol.
"Kenapa babe?"
"Ah tidak, baiklah aku pulang dulu" Jeonghan tersenyum tipis dan bergegas keluar.
Hari ini, ia dan Jihoon akan pergi untuk mengunjungi sebuah cafe baru yang ada di pusat kota. Ia sudah mengajak Hansol dan namja itu berkata kalau dia sedang meeting dengan bos barunya, Jeonghan hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal mendengar tawarannya ditolak.
Ia sudah mengenal Jihoon cukup lama ketika ia masuk ke salah satu sekolah menengah pertama. Awalnya, cukup sulit untuk mendekati sosok Jihoon yang terbilang dingin hingga akhirnya sedikit-sedikit Jihoon mulai lunak padanya.
Kedua namja itu terlihat berjalan dengan langkah ringannya menuju cafe yang mereka tuju, sesekali terdengar celotehan riang dari Jeonghan dan tawa kecil dari Jihoon ketika melihat tingkah lucu dari teman dekatnya.
Jeonghan melangkah memasuki cafe itu, diikuti Jihoon. Ia berhenti diambang pintu dan menghirup dalam-dalam aroma cafe itu, membuat Jihoon tertunduk malu.
Jihoon melirik kearah orang-orang yang mungkin saja menatap mereka aneh, tetapi matanya terbelalak ketika menatap sepasang kekasih yang dengan mesranya tertawa di salah satu meja.
"Jihoon-ah ada apa?" Jeonghan menatap penasaran dengan apa yang ditatap Jihoon.
"Ah.. tidak ada apa-apa. Ayo kita pesan saja, bagaimana kalau kita makannya dirumah saja" Jihoon tersenyum dan mencoba bersikap senetral mungkin.
"Uhh.. tapi aku ingin makan disini Jihoon-ah" Jeonghan menatapnya dengan pandangan memohon.
"Lain kali saja bagaimana hum? Aku janji saat makan disini, aku akan mentraktirmu. Bagaimana? Apapun akan yang kau mau"
Jeonghan menatapnya dengan mata berbinar. Tidak seperti biasanya Jihoon baik begini.
"Baiklah, aku akan pesan dulu. Kau mau apa?"
"umh.. americano saja. Aku tidak lapar" Jeonghan menatapnya heran tetapi ia enggan bertanya dan tetap melangkah untuk memesan.
Jihoon menatap benci pada pasangan yang ada di meja nomor 4 itu. Ingin rasanya ia membakar tempat ini sekarang juga dan menghapus ingatan Jeonghan. Jihoon merutuk dalam hati, sesekali ia melirik Jeonghan yang sedang asik memesan.
Ia menatap lekat pasangan itu, sepertinya mereka benar-benar tidak sadar dengan tatapan tajam Jihoon yang seakan ingin menelan mereka hidup-hidup.
"Hansol..." Jihoon terperanjat. Bagaimana ini, kenapa ia tidak tahu Jeonghan ada disampingnya dan sejak kapan.
"Jihoon-ah, itu Hansol kan?" Jeonghan tidak melepaskan pandangannya dari pasangan itu.
Jihoon menggenggam tangan Jeonghan erat, menahan tubuh itu untuk bergerak kearah Hansol. Ia menatap Jeonghan khawatir.
"Jihoon-ah. Ayo pulang" Jeonghan tersenyum tipis.
Perjalan mereka yang awalnya ringan dan penuh canda, mendadak sunyi. Sesekali mata Jihoon melirik kearah Jeonghan, ia khawatir dengan keadaan sahabatnya. Jihoon tahu kalau Hansol itu cinta pertama Jeonghan dan mungkin jika perasaan Jeonghan bisa diungkapkan dengan kata-kata tidak akan cukup.
"Jihoon-ah. Ayo traktir aku dicafe kesukaan kita saja." Jeonghan memandang Jihoon dengan senyum terlukis diwajahnya.
Jihoon menatap sahabatnya, ia menangkap pancaran mata Jeonghan seolah mengatakan rasa sakit yang dirasakannya saat , ia yakin rasanya lebih sakit daripada yang Jihoon bayangkan.
"Baiklah, ayo kita makan" Ia tersenyum tipis. Biasanya Jeonghan akan menangis ketika tahu Hansol berhubungan dengan namja lain, tapi mungkin Jeonghan terlalu baik sehingga ia menerima Hansol kembali dan bersikap seolah-olah Hansol tidak melakukan apapun yang menyakitinya.
"Jeonghan-ah.. kau ti-"
"Jihoon-ah, ini enak sekali. Coba ini" Jeonghan menyuap sepotong besar kue krim cokelat yang dipesannya.
Jihoon menatapnya nanar.
"Jeonghan-ah. Apakah sakit sekali? Jangan kau sembunyikan, menangislah jika itu membuatmu lebih baik. Aku akan menemanimu disini"
Jeonghan menatap lekat wajah Jihoon. Tanpa ia sadar, pertahanannya lepas begitu saja. Untunglah cafe itu dalam keadaan sepi.
"Jihoon-ah, kenapa aku bodoh sekali..hiks..kenapa dia begitu..hiks" Jeonghan melepas segalanya saat itu juga, tidak peduli dengan keadaan sekitarnya.
"Aku..aku bahkan memberikan semua yang dia inginkan..hiks.. sakit.. aku tidak mau begini lagi.."
Jihoon menatap sedih keadaan sahabat yang ada didepannya. Ia menggenggam tangn Jeonghan lembut, mencoba memberi tahu Jeonghan bahwa ia akan selalu ada disisi namja itu dan tidak akan pernah meninggalkannya.
"Aku benci perasaan ini..hiks.. aku benci perasaan cinta..aku benci rasa sakitnya Hoon.." Tangis Jeonghan semakin keras. Ia benar-benar lelah. Lelah dengan semua perasaan ini.
Kenapa ia baru menyadari kebodohannya selama ini? kenapa ia baru sadar bahwa Hansol hanya mempermainkan perasaannya. Dan semuanya menjadi seperti ini.
"Jihoon-ah.." Jeonghan meredakan tangisnya.
"Hm?" Jihoon menatapnya lembut,siap mendengarkan apapun yang ingin diucapkan oleh sahabatnya itu.
"Bisakah kau bantu aku?"
"Apapun, kau ingin aku bantu apa?"
"Bantu aku agar tidak jatuh cinta lagi"
Jihoon terbelalak kaget.
"Tapi, kenapa?"
"Aku tahut Hoon, aku takut merasakan perasaan ini lagi. Sakit sekali disini"Jeonghan mengelus dadanya dan air matanya kembali meleleh.
"Aku tidak bisa jamin itu Jeonghan-ah. Cinta bukan perasaan yang bisa kau kontrol sesuai kehendakmu, ia muncul tanpa kita duga"
"Tapi aku tidak mau begini lagi" Jeonghan menggeleng kepalanya cepat.
"Kalau begitu, berikan perasaan itu pada orang yang benar-benar memperjuangkanmu"
Jeonghan menatap ragu dan mengangguk pelan. Walaupun ia tidak tahu apakah ia benar-benar akan melakukan seperti yang dikatakan Jihoon. Hal ini membuatnya benar-benar trauma dan menjadikannya orang yang menarik diri dari berbagai orang yang mencoba merebut hatinya.
Sedikit saja Jeonghan merasakan getaran itu, dan ia sadar akan perasaan itu, maka ia akan menjauh dari orang itu. Sehingga, tidak ada kesempatan bagi satu orangpun memenangkan hatinya untuk yang kedua kalinya.
Flashback Off
"Jadi aku mohon padamu untuk mengerti keadaanku Seungcheol-ah"
Seungcheol berdiri dari tempatnya dan berjongkok didepan Jeonghan, menatap wajah yang ia kagumi selama ini. Ia menatap mata Jeonghan dalam, dan Seungcheol masih dapat melihat pancaran rasa sakit disana.
Ia mengerti, tidak seharusnya ia memaksa Jeonghan untuk menjadi kekasihnya mengingat trauma namja itu membekas terlalu dalam. Tapi, jika ia berusaha membuat Jeonghan percaya kalau dirinya benar-benar serius dan berjanji untuk tidak menyakiti Jeonghan, bukankah itu mungkin.
"Hei.." Seungcheol menangkup kedua pipi Jeonghan,"Maafkan aku.. aku tidak tahu kalau kau tersakiti sedalam itu"
Jeonghan menatap nanar manik hitam milik Seungcheol yang ia kagumi secara diam-diam. Tanpa ia sadari, air matanya meleleh. Ia dapat melihat sinar ketulusan yang terpancar disana.
Ingin rasanya ia mempercayai namja itu, tapi hatinya masih menolak ketika mengingat rasa sakit yang ditorehkan Hansol.
""Hei..Tenanglah" Seungcheol mendekat tubuh rapuh itu dlam pelukannya, batinnya ikut terluka melihat keadaan Jeonghan yang biasanya kasar dan sekarang berubah begitu rapuh.
Ia lebih suka melihat Jeonghan belaku kasar daripada melihat keadaannya yang begitu menyedihkan. Lihat bagaimana wajah sendunya dan bagaimana mata indah itu mengeluarkan air mata menyedihkan, membuat hati Seungcheol tersayat.
Rasanya ingin Ia mencari dan memotong lelaki bernama Hansol itu menjadi beberapa bagian dan meletakannya disupermarket terdekat untuk dinikmati bersama beberapa saus.
Jeonghan menarik diri dari pelukan Seungcheol, ia malu karena namja ini memeluknya dan membuatnya merasa...nyaman.
"Ayo pulang" Jeonghan melangkahkan kakinya yang masih terasa lemas.
"Kau bisa berjalan Jeonghan-ah?" Seungcheol menatap khawatir.
Ia langsung berjongkok kembali didepan Jeonghan dan menyuruh namja itu untuk kembali naik kepunggungnya.
"Kau yakin?" Tanyanya ragu.
Ia khawatir dengan keselamatan kaki dan punggung Seungcheol yang sedaritadi di gunakan untuk menggendongnya. Bayangkan berapa jauh Seungcheol membawa Jeonghan dipunggungnya, dari gudang olahraga yang ada dilantai atas dan letaknya yang cukup jauh dari parkiran.
Seungcheol mendengus nafasnya kesal. Ia menarik tangan Jeonghan dan memaksa namja itu naik keatas punggungnya.
"Jeonghan-ah" Seungcheol ragu untuk bertanya,tapi ia benar-benar ingin tahu hal ini.
"Hm?"
"Kau masih mencintai namja itu?" Tanyanya ragu.
Seungcheol menyesal menanyakan itu sebetulnya. Bagaimana jika Jeonghan mengatakan ya dan bukannya tidak. Itu hanya menyakitinya.
"Tidak. Aku hanya merindukannya terkadang" Tiba-tiba Seungcheol menghentikan langkahnya, mengundang tatapan bingung dari Jeonghan.
"Maksudmu? Kau tidak mencintainya,tapi merindukannya? Aku tidak mengerti.."
Jeonghan tertawa kecil melihat ekspresi Seungcheol yang menurutnya lucu,"Aku dan dia bersama cukup lama,dan dia cinta pertamaku. Kau pernah dengar kalau cinta pertama itu tidak bisa digantikan? Aku punya kenangan dengannya yang tidak seorangpun bisa memberinya, kenangan itu yang kurindukan. Bukan sosok Hansol"
Seungcheol mendesah nafas lega dan melanjutkan langkah kakinya menuju parkiran.
"Ah, kalau begitu bagaimana kalau aku memberimu sebuah kenangan?"
Jeonghan mengerutkan dahinya tidak mengerti dan dibalas seringaian dari Seungcheol.
"YA! CHOI SEUNGCHEOL!" Seungcheol berlari cepat menuju parkiran dengan Jeonghan yang ada dibelakangnya, memeluk tubuhnya dengan erat.
"HENTIKAN BODOH! YAAA!" Jeonghan menutup matanya rapat.
Sontak saja, sekolah yang sepi itu ramai dengan teriakan Jeonghan dan tawa nyaring seorang Choi Seungcheol.
Jeonghan akui, walaupun hal itu menakutkan tapi disaat bersamaan, hal ini menyenangkan. Ia merasa ada setitik rasa kepercayaan yang muncul untuk Seungcheol dihatinya. Setitik. Tidak lebih , tidak kurang.
Tidak, ia tidak boleh jatuh cinta pada namja ini. Tidak sampai ia benar-benar percaya dan yakin pada Choi Seungcheol. Sekarang, mari hilangkan perasaan itu dan cukup menjadi teman Choi Seungcheol.
"Jeonghan-ah, kau bisa menyetir sendiri?"
"Bisa"
"Tidak, biar aku saja yang menyetir" Seungcheol memaksa Jeonghan untuk duduk dibangku penumpang.
"Mobilmu bagaimana?"
"Aku akan menyuruh supirku untuk mengambilnya dan menjemputku dirumahmu" Seungcheol tersenyum manis.
Jeonghan membuang mukanya kesamping. Sial, senyum itu memiliki pesona kuat. Bagaimana ia bisa bertahan jika seperti ini.
Ayolah Yoon Jeonghan. Kau bukan namja lemah, kau bisa bertahan. Ingat ia sudah menyelamatkanmu bukan, bertahanlah, jangan lengah. Kuatkan imanmu Yoon Jeonghan, jangan tergoda sedikitpun pada pangeran sekolah ini.
"Jeong.. kau tidur?"
"Hm? Tidak" Jeonghan bahkan tidak melirik Seungcheol sedikitpun.
"Apa menurutmu aku punya kesempatan?"
"Kesempatan apa?" Akhirnya ia menggerakkan kepalanya kesamping, menatap Seungcheol bingung.
"Kesempatan mendapatkan hatimu"
Jeonghan terdiam bingung. Ia bahkan tidak tahu mau menjawab apa.
"Entahlah, mungkin" Jawabnya sekenanya.
"Benarkah? Berapa persen perkiraannya?" Tanya Seungcheol bersemangat.
"Umhh..10%? ah tidak, 5% mungkin"
Seungcheol bersorak senang. Jeonghan khawatir kalau begini terus, ia bisa mati ditengah jalan. Bahkan lebih aman dia menyetir sendiri daripada diantar oleh seorang Choi Seungcheol yang menyetir seolah jalan ini miliknya.
"Hei. Menyetirlah yang benar. Lagi pula itu presentase yang kecil ,untuk apa kau senang" Katanya dengan nada kesal.
"Sekecil apapun itu, setidaknya aku masih punya peluang walaupun kau bilang kemungkinannya 0.000000001% aku akan tetap memanfaatkan peluang itu. Ingat Yoon Jeonghan, aku Choi Seungcheol akan membuat presentase itu menjadi 10000000%"
Seungcheol tersenyum senang. Walaupun statusnya sebagai teman Yoon Jeonghan, suatu saat ia akan merubah status ini menjadi kekasih ah, tidak suami Yoon Jeonghan.
Ia sedikit melirik kearah Jeonghan yang menatap keluar jendela. Senyum yang tadi melekat diwajah tampannya, sirna sudah. Ia ingat ada satu hal yang harus ia bereskan.
.
TBC?
.
Annyyeeooongg Chinguuu~
Terimakasih buat kalian yang dukung dan baca ff Yong, Yong bahagiaaa sekali (seka air mata).
Yong minta maaf karena ffnya terlalu pendek, karena Yong ngupdatenya buru-buru dan disela-sela kesibukan yang datang terus-menerus. Maaf juga kalau ffnya gak sesuai harapan.
Yong akan berusaha untuk gak ngecewain kalian semua. (Btw, ada yang pernah ngalamin kayak Jeonghan gak? *kepo).
Terimakasih banyak chingu. Yong sayang kalian semuaaa.
Jangan lupa review yaa^^
