[YongSoo-ssi Project, Suyong is the creator for this FanFinction]

.

Scared

.

JeongCheol

Choi Seungcheol x Yoon Jeonghan

"Jeonghan-ah!" Choi Seungcheol segera berlari cepat, memacu kaki-kaki panjangnya menuju lelaki dengan surai hitam yang berada beberapa meter darinya. Ia tidak peduli berapa banyak orang yang sudah di tabraknya saat ini, ia hanya peduli pada namja cantik itu.

"YA! YOON JEONGHAN!" teriakan Seungcheol menggema dilorong sekolah, diikuti suara dentuman yang lumayan keras. Seungcheol meringis tertahan, ini sudah kesekian kalinya Jihoon membuatnya jatuh ketika ia berusaha menangkap Jeonghan,"Sialan kau Jihoon!" makinya kesal.

"Kau yang-"

"Hei..hei.. baby.. sudah, ayo kita pergi" Soonyoung dengan gesit menahan kepalan mungil tangan kekasihnya yang siap melayang kearah wajah Seungcheol.

"Maafkan dia" bisik Soonyoung pelan sembari berlalu, membawa Jihoon yang terlihat berapi-api.

Seungcheol hanya bisa menghela nafas panjang. Ini sudah 2 minggu dan Jeonghan, namja itu mulai bersikap aneh. Selalu menjawab sesingkat mungkin ketika ia berbicara, menghindarinya ketika bertemu dan lebih parahnya lagi, namja cantik itu meminta pada orangtuanya untuk tidak menerima Seungcheol dirumah mereka.

"ARGHH" Ia mengacak rambutnya frustasi.

"BABY CHEOL!" seorang gadis dengan wajah angkuh terlihat melambai kearah Seungcheol, membuat namja itu menggeram frustasi.

"Soo Hyang-ah.. aku sudah meng-"

"Cheol-ah! Aku benar-benar merindukanmu dan aku ingin mengajakmu pergi sekarang. Bagaimana?" Soo Hyang bergelayut dengan manjanya dilengan Seungcheol.

"ayolah, ini masih sekolah. Lebih baik kau pergi ke mall atau salon dan berhenti menggangguku. Mengerti Cho Soo Hyang-ah?" Seungcheol menyentak kasar gandengan Soo Hyang pada lengannya, membuat Soo Hyang tersentak kaget karena perlakuan kasar Seungcheol.

"Cheol-ah.. kau benar-benar ingin meninggalkanku disini?" Seungcheol menatap wajah Soo Hyang yang terlihat begitu memelas.

"Dengar-" ucapannya terputus ketika Soo Hyang dengan cepat merengkuh tubuhnya dalam sebuah pelukan.

"Seungcheol-ah.. aku benar-benar mencintaimu, kau tahu?"

"Tidak,"

"Kalau begitu karena kau sudah tahu.. bagaimana kalau-"

"Tidak," Seungcheol menatap mata gadis itu tajam,"Dan berhentilah menempel seperti perangko. Pergilah sendiri," lanjutnya tanpa bermaksud menyakiti hati gadis yang ada didepannya. Ia melepaskan perlahan dekapan Soo Hyang dari tubuhnya, mengusap lembut surai cokelat gadis itu dan berjalan pergi meninggalkannya.

"Hei" langkah Seungcheol terhenti, ekor matanya mendapati Soonyoung bersender pada sala satu tiang yang dilewatinya.

"Apa yang harus kau lakukan sekarang?" Seungcheol menatap mata sipit Soonyoung, berharap akan mendapatkan nasehat yang berguna dari namja aneh ini.

"Tidak tahu," Soonyoung mengedikkan bahunya, mengundang desahan kecewa dari bibir Seungcheol," Tapi, kenapa tidak kau coba jelaskan pada Jihoon dulu? Kurasa dia bisa membantu"

Seungcheol menatap Soonyoung tidak yakin, bagaimana dia ingin menjelaskan jika bertemu saja Jihoon ingin membunuhnya seperti itu.

"Ayolah, aku akan membantumu," Soonyoung menepuk pelan bahu Seungcheol dengan maksud meyakinkan namja itu.

"Baiklah," Ia mengangguk lemah,"Soonyoung-ah"

"Hm?"

"Kau percaya padaku? Maksudku kau percaya kal-"

"Aku percaya padamu. Aku tahu kau mencintai Jeonghan, dan ini hanya kesalah pahaman. Aku tahu seberapa gigih kau mengejar Jeonghan," Seungcheol tersenyum lemah.

"Andaikan Jeonghan berpikiran sepertimu,"

"Hei.. jika kau yang ada diposisi Jeonghan apa kau akan berpikir seperti itu?"

"..Tidak..."

"Begitulah adanya. Setiap ujian dalam sebuah hubungan memberi kekuatan, dan aku yakin Jeonghan sebenarnya percaya padamu,"

Seungcheol menatap wajah Soonyoung heran,"Kalau memang dia percaya padaku, kenapa tidak mau mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu? Selalu menghindar seperti itu bukan hal yang bisa menjelaskan,"

"Hei.. bukankah Jeonghan pernah menceritakan masalalunya padamu?"

Seungcheol tersentak. Ia ingat. Pastilah Jeonghan ragu untuk percaya padanya mengingat ia pernah dicampakkan beberapa ia baru ingat hal ini sekarang.

"Apa yang harus kulakukan sekarang?"

"Mari kita temui Jihoon. Aku akan membantumu,"

Seungcheol menghela napas pelan dan beranjak untuk menemui pria kecil itu. Ah, kalau dipikir, tidak biasanya Soonyoung terlihat bijaksana seperti ini.

"Kau terlihat lebih dewasa Soonyoung-ah,"

Soonyoung tersenyum lebar,"Benarkah? Ahh, mungkin karena aku terlalu banyak menghabiskan waktu dengan Jihoon. Kau tahu seberapa banyak ia memukul kepalaku dalam sehari? Sepertinya itu menimbulkan efek samping," Ia mengusap kepalanya dengan wajah meringis.

"Jihoon-ah!" Soonyoung berlari menghampiri namja kecil yang sedang duduk dikursi piano. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Jeonghan disitu.

"Soon- KAU!" Jihoon berdirik dari duduknya. Matanya berkilat marah mendapati Seungcheol berada diruangan yang sama dengannya.

"Jihoon-ah. Tenanglah." Soonyoung membelai lembut surai kecokelatan Jihoon,"Kami perlu bantuannmu disini sayang,"

"Bantuan? Bantuan untuk mendekatkan dirimu pada Jeonghan? Tidak akan!" Ia bersiap melemparkan bangku piano yang didudukinya kearah wajah Seungcheol

"Hei.. biarkan dia bercerita," Soonyoung mendudukan Jihoon kembali dan menari dua buah kursi dihadapan Jihoon. Dengan ragu, Seungcheol duduk disalah satu kursi itu,ia bahkan tidak berani menatap Jihoon yang berkobar marah dan siap menerkamnya kapanpun.

"Bicaralah," Jihoon menghela nafas pelan, mengontrol emosinya yang meluap-luap.

"Ehem.. Jadi, gadi itu bernama Cho Soo Hyang. Dia... dia cinta pertamaku dan adalah adik kandungku," Seungcheol menekuk wajahnya dalam.

"ASTAGA! KAU GILA? APA KAU SEMACAM INCEST? KAU BENAR-BENAR GILA! KAU MENYUKAI ADIKMU SENDIRI DAN MENDEKATI JEONGHANKU? " Jihoon berdiri dari duduknya dan menatap marah pada namja tampan didepannya, untungkah Soonyoung segera menenangkan namja itu dan menyuruhnya untuk mendengarkan lebih lanjut cerita Seungcheol.

"Ehm.. Yah.. begitulah.." Seungcheol memalingkan wajahnya kearah lain, mencoba menghindari tatapan Jihoon yang ingin membunuhnya, "Karena itu kami tinggal berpisah dan melupakan perasaan satu sama lain. Percayalah aku tidak mencintainya lagi Jihoon-ah"

Jihoon menatap tepat mata Seungcheol, mencoba mencari titik kebohongan dimata itu. Ia tidak ingin percaya begitu saja pada Seungcheol.

"Kalau begitu, kenapa tidak kau jelaskan pada Jeonghan saja?" Jihoon menatap sinis.

"Aku mencoba beribu-ribu kali, bahkan menemuinya saja tidak bisa," Seungcheol menghela nafas pelan,"Tolong aku Jihoon-ah.. atau kau ingin aku membungkuk dan memohon padamu?"

Seungcheol berdiri dari duduknya, bersiap membungkuk diatas lantai dingin ruang paino.

"Baiklah," Jihoon berkata tegas sebelum kening mulus namja tampan itu menyentuh lantai. Seungcheol menatap Jihoon dengan manik mata berkilauan senang, senyumnya merekah lebar.

"Lalu aku harus apa?" Seungcheol kembali duduk dan mengerutkan keningnya bingung.

"Begini saja..." Jihoon memajukan tubuhnya kearah Seungcheol.

"Sayang.."

"Jadi nanti.."

"Sayang..."

"Kau hebat Jihoon-ah" Seungcheol tersenyum lebar mendengar rencana Jihoon yang menurutnya jenius atau mungkin dia yang terlalu bodoh hingga tidak berpikir sampai sana.

"YA! AKU INI MASIH DISINI DAN KALIAN BERBICARA SEOLAH AKU SEBUAH KURSI, BEGITU?" Soonyoung berkata kesal menatap kedua namja yang terlonjak kaget karena suaranya yang keras. Jihoon menghela nafas pelan dan menangkup kedua pipi Soonyoung dengan gerakan pelan mengecupnya singkat.

"Jadi kau hanya perlu mengikuti rencana ini saja Seungcheol-ah," Jihoon tersenyum simpul, melirik Soonyoung yang membeku akibat ulahnya.

"Baiklah,"

..

Sudah 2 minggu ia mengabaikan Seungcheol, dan jujur saja itu membuat hatinya meradang. Bagus, sekarang ia terlihat seperti namja bodoh yang duduk hampa dan berakting seakan semuanya normal.

Ayolah Yoon Jeonghan, kau tidak selemah itu, banyak yang lebih baik daripada Seungcheol si namja brengsek yang dengan sukses merubah hatinya menjadi serpihan debu dalam waktu yang singkat. Jeonghan mengatakan berulang kali pada dirinya sendiri, seolah kalimat itu akan menjadi penguat hatinya.

Ingin rasanya ia melupakan rasa sakit ini dan menemui Seungcheol seakan semuanya baik, tapi bagaimana ini, ia sudah terlanjur sakit hati pada namja itu.

"Seungcheol bodoh!" gumamnya pelan.

"Jeonghan-ah! Ayo makan!" Jisoo tiba-tiba muncul didepannya dengan wajah tampan yang berseri-seri, berharap Jeonghan akan menerima ajakan makan siangnya.

"Tidak, aku kenyang" Jeonghan meletakkan kepalanya diatas meja, memandang keluar jendela. Jisoo duduk dihadapannya, menatap namja itu khawatir.

"Ayola Jeonghan-ah! Ini sudah 2 minggu kau tidak makan siang kan? Bagaimana jik-"

"Jisoo-ah , biar aku yang bicara pada makhluk hidup ini" Jihoon menatap tajam dan dibalas anggukan oleh Jisoo. Jeonghan mengangkat kepalanya malas, menatap Jihoon yang duduk didepannya menggantikan Jisoo. Ah, andaikan menggantikan tempat Seungcheol dihatinya semudah itu. Ia menghembuskan nafas pelan.

"Sampai kapan mau begini?" Jeonghan hanya membalas pertanyaan itu dengan mengendikkan kedua bahunya pelan, hampir tak terlihat.

"JIHOON SAYANG!" Jihoon menoleh, menatap dua sosok namja yang salah satunya melambaik dengan heboh kearahnya, tentu saja itu pacar bodohnya.

"Ah, Soonyoung-ah. Kemarilah,"

Jeonghan membelalak kaget menatap namja tampan disebelah Soonyoung. Bagaimana sekarang? Ia tidak bisa menghindar kan? Atau ia pura-pura mati saja sekarang? Bagaimana ini?. Jeonghan panik mengetahui kehadiran namja itu, ia menatap Jihoon yang berbicara dengan santainya dengan Soonyoung dan Seungcheol.

Tunggu.. kenapa? Kenapa Seungcheol tidak menatapnya atau bahkan sekedar meliriknya? Ada apa?

"Jihoon-ah, aku kemarin menonton dvd yang kau rekomendasikan! Benar-benar daebak!" Seungcheol berkata dengan riangnya.

"Soonyoung-ah, aku belum mengerjakan pr matematika.. bagaimana ini?" Seungcheol membelalak kaget menyadari kebodohannya.

"Balik saja sendiri, aku masih merindukan pacar manisku," Soonyoung tersenyum genit kearah Jihoon dan dihadiahi sebuah jitakan keras di kepalanya.

" Ayolah!" Seungcheol menarik namja itu secara paksa, Jihoon tertawa kecil melihat Soonyoung yang seolah ingin menangis ketika meninggalkannya.

"Jihoon-ah.. kenapa kau membiarkannya kemari?" Jeonghan menatap kesal pada Jihoon

"Maksudmu apa?"

"Kau tahu apa yang sudah dia lakukan padaku dan kau masih bertanya seperti itu?"

"Jeonghan-ah, bukankah kau sendiri yang selama ini menolaknya? Lalu kenapa kau emosi berlebihan seperti ini ketika lebih memilih yeoja yang tentu saja menerimanya. Itu tidak masuk akal Jeonghan-ah," Jihoon kembali ketempat duduknya, membiarkan Jeonghan tenggelam dalam pikirannya.

Benar apa yang dikatakan Jihoon, ia yang selama ini secara terang-terangan menolak namja itu lalu apa? Ia tidak punya hak untuk sakit hati pada Seungcheol?.

Jeonghan mengalihkan pandangannya keluar jendela, menatap beberapa daun yang jatuh perlahan.

.

Jeonghan berbaring dengan malas diatas kasur putih miliknya, sesekali ia menatap handphonenya, berharap ada sebuah panggilan masuk dari Jihoon atau...Seungcheol. Ia memukul dirinya sendiri ketika menyadari nama itu ada didaftar tunggunya.

Ini sudah tiga hari semenjak Jihoon mengatakan hal itu dan Seungcheol selalu kekelasnya bersama Soonyoung hanya untuk bermain bersama Jihoon, mengabaikan dirinya yang tenggelam pada bantalan tangannya.

Ia bahkan tidak bisa bercerita pada siapapun. Orangtuanya pergi sejak dua hari yang lalu, dengan alasan appanya punya urusan bisni dan eomma menemani appa.

Ini menyebalkan.

Ini hari sabtu dan yang dilakukannya hanya bergelung dikasur, biasanya Jihoon akan kemari dan menemaninya tapi kali ini... dia bahkan tak menghubungi Jeonghan.

Apa yang harus ia lakukan sekarang? Menonton film? Tidak, ini masih terlalu sore untuk menonton film mungkin ia akan melakukannya nanti malam.

~Museun norae deureo eotteon gasuya
Yojeum nuga joha
Nalssiwa gibune ttara Change~

Jeonghan terlonjak kaget mendapati ponselnya berbunyi nyaring, bibirnya merapalkan doa masih dengan harapan bahwa yang menelponnya Jihoon atau... maksudnya hanya Jihoon.

"Jisoo?" Ia menaikkan sebelah alisnya bingung, tidak biasanya namja itu menelponnya.

"Annyeonghaseyo?"

"AH! Annyeong Jeonghan-ah! Kau dimana?" Jeonghan mengerutkan keningnya bingung.

"Dirumah tentu saja. Kenapa?"

"Tidak, aku hanya ingin mengajakmu pergi sebentar, bagaimana?"

Jeonghan berpikir sebentar, matanya menatap jarum jam yang bergerak malas,"Baiklah,"

"Aku tiba 30 menit lagi. Annyeonggg~ "

Jeonghan segera meloncat dari kasurnya dan dengan asal mengambil baju yang ada dilemari. Ia melihat kearah cermin, pantulan dirinya dengan baju kaus dan celana jeans yang menempel pada kedua kaki jenjangnya menambah kesan cantik yang ada pada dirinya.

"Baiklah, sekarang... matikan lampu, ingat hemat," Ia berlari kesana kemari, memastikan lampu diseluruh ruangan mati dan kembali kedalam kamarnya.

"Baiklah, selesai," Ia menatap jam tangan hitam dipergelangannya, tak lama dering ponsel kembali mengalun.

"Aku didepan"

"Baiklah," Ia mematikan sambungan telponnya dan berlari keluar.

Jisoo terlihat tampan dengan kemeja biru , celana jeans dan sepatu putih yang dikenakannya. Dia tersenyum senang menatap Jeonghan dan dengan semangatnya melambai kearah namja cantik itu.

"Hei! Kau cantik sekali, ada angin apa?"

"Hentikan. Kita mau kemana?"

"Makan?"

"Tidak, terimakasih," Jeonghan memutar bola matanya malas, "Toko buku..." Katanya lirih.

"Setuju! Naiklah tuan putri," Jisoo membukakan pintu mobil putihnya dan mempersilahkan Jeonghan masuk. Jeonghan menatapnya malas, kakinya melangkah masuk.

"Berangkat!" Jisoo menjalankan mobilnya cepat menuju toko buku yang ada dipusat kota.

Jeonghan menatap jejeran rumah atau pertokoan yang mereka lewati. Ia tidak tertarik untuk bicara pada Jisoo, dan ia tahu sedari tadi Jisoo melirik padanya.

"Bagaimana kita bermain di game central setelah ini?" Jisoo membuka suara, mencoba mencairkan suasana dingin yang diciptakan Jeonghan dengan sengaja.

Jeonghan menoleh dan menatap namja tampan itu bingung,"Baiklah, jika itu maumu,"

.

"Ah! Terimakasih Jisoo-ah! Menyenangkan sekali!" Senyum merekah diwajah Jeonghan, ternyata pergi dengan Jisoo tidak seburuk perkiraannya, mereka memiliki selera buku yang sama dan Jisoo membuatnya lupa waktu karena game central.

"Ya..ya.. lain kali jangan memasang wajah cemberutmu jika kita bertemu. Menyeramkan," Jeonghan tertawa kecil, baiklah ia salah, tapi itu karena ia pikir Jisoo akan membosankan sekali untuk diajak pergi.

"Baiklah, maaf.. "

"Baiklah.. aku pulang.." Jisoo melangkah masuk kedalam mobilnya, tangannya sibuk melambai pada Jeonghan.

"Annyeong,," Jeonghan membalas lambaian tangan Jisoo dan memperhatikan mobil putih itu menjauh dari pandangannya. Ia menghela nafas pelan, ia kembali sendiri sekarang.

"Jeonghan-ssi.."

Jeonghan menoleh dan mendapati seorang yeoja cantik berdiri dibelakangnya.

"Kau..."

"Aku Soo Hyang.." Gadis itu melangkah mendekati Jeonghan dengan tatapan yang sulit diartikan.

.

TBC?

.

Halo~ Suyong disini..

Maafkan Suyong yang kelamaan update yang chingu :"

Suyong gak berani update karena bayang-bayang suami-suami Suyong yang mau ke indonesia, iya suyong baper..

Nggak kok, sebenarnya Suyong sedang sibuk-sibuknya sama sekolah dan pr yang menumpuk SooChan juga gitu kok (nyari temen). Suyong baru inget buat update cerita ini gara-gara si SooChan yang ngingetin.

Suyong akan update sebisa mungkin karena sudah masuk musim ulangan dan UTS sebentar lagi jadi Yong usahakan ya chingu.. Yong minta maaf sebesar-besarnya kalau ff ini jelek atau gak sesuai harapan teman-teman.

Gumawooo~ Saranghae untuk kalian yang nunggu Yong3