Author : Hani Yuya
Pairing : Sasuke.U, Sakura.H, Itachi.U
Original chara in NARUTO
Disclaimer by Masashi Kishimoto
Rated : M For Lime/Lemon Better read 17+! Be wise, reader!
Genre : (AU) Romance, hurts/comfort, Family
LOVE IS YOU
Note : mohon dibaca sebelum membaca ff ya. Biar kalian ga bingung.
Jii-san ( 'ii' nya di dua ) artinya kakek
Ji-san ('i' nya satu ) artinya paman
Kuso artinya Sial.
Nah DLDR.
.
.
Chap 3 - Awal kehidupan baru
.
.
.
Tik... Tik... Tik...
Suara detik jam menggema di seluruh kamar bernuansa pink itu. Lihat! Desain kamar yang cantik dan indah layaknya kamar boneka barbie ini.
Berbagai fasilitas megah nan mewah terdapat di dalamnya. Tempat tidur berukuran king size berenda dengan desain bak kerajaan.
Rak buku bertingkat di sudut ruangan, lemari pakaian yang terbuat dari kayu jati yang cukup besar, kulkas, serta tv layar lebar sebesar 152 inc tertempel di dinding yang terletak tepat di depan tempat tidur.
Kamar yang luasnya 100x 200 m persegi itu, memiliki 2 Ac di dalamnya. Di dalam kamar juga dilengkapi kamar mandi yang cukup besar.
Baru kemarin sang gadis musim semi ini tinggal di dalam kamar yang bisa dibilang lebih besar dan mewah dibandingkan tempat huniannya bersama sang kakaknya dulu.
Sakura yang masih tak percaya dengan keadaannya yang sekarang, sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Matanya tetap terjaga meski waktu menunjukkan pukul 1 malam.
Berulang kali ia mendesah panjang, memijit keningnya pelan. Ia merasa lelah, karena ia harus menelan bulat-bulat tentang kehidupannya saat ini. Sebentar lagi ia harus menanggalkan kesendiriannya dan bersiap-siap menjadi istri dari cucu Madara-sama.
'Apakah jalan yang kuambil saat ini tepat?'gumamnya dalam hati.
Sakura membaringkan tubuhnya terlentang menghadap langit- langit kamar, mencoba memejamkan matanya, namun tak bisa.
BRAKKKKK
"SAKURA!"
Tiba-tiba seorang pemuda dengan helaian raven panjang membuka pintu kamar Sakura secara paksa. Langkahnya tampak terburu-buru, raut wajahnya pucat pasih, keringat bercucuran di pelipisnya. Ia berjalan mendekati Sakura yang masih berada diatas ranjang.
Sakura yang kaget atas kedatangan Itachi, langsung memposisikan diri duduk diatas ranjang.
"A-ada apa Itachi-nii?" tanya Sakura dengan raut wajah bingung.
Sreeettt
Itachi langsung menarik tangan Sakura ketika berada tepat di hadapannya.
"Kita harus pergi sekarang Honey!"
"Pergi kemana?"
Itachi menatap lesu manik emerald milik sang gadis, Sakura tau pasti ada sesuatu yang terjadi saat ini.
'Pasti terjadi sesuatu yang buruk, kami-sama semoga firasatku salah' ucap Sakura dalam hati.
"Jii-san masuk rumah sakit, kondisi nya memburuk." Itachi menarik tubuh sang gadis ke dalam pelukannya, "katanya ia ingin bertemu denganmu dan membicarakan sesuatu hal yang penting~"
Ucapannya terhenti, Itachi memeluk tubuh Sakura semakin erat,"untuk yang terakhir kalinya... ia ingin bertemu denganmu sebelum menutup matanya dan pergi untuk selama-lamanya!" lanjutnya dengan nada yang terdengar pilu di telinga Sakura.
Deg deg... detak jantung Sakura tak menentu berdetak, ia masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya dari Itachi.
"Separah itukah kondisi Jii-san saat ini?" tanya nya meyakinkan.
Itachi tak menjawab, ia hanya mengangguk. Tangannya meremas pundak sang gadis kencang, membuat sang empu tak bisa bergerak sedikitpun. Saking eratnya bisa meremukkan tubuh mungil sang gadis.
Tak lama kemudian Itachi melepaskan pelukannya dan segera membawa Sakura menemui kakeknya. Sakura terbelalak tak percaya ketika melihat jejak air mata di sudut mata Onyx milik Itachi.
'Dia menangis!" gumamnya dalam hati. Dan entah kenapa ia pun merasakan perih di hatinya. Pertama kalinya ia melihat Itachi menangis.
'Semoga kelak dia tidak menangis karena diriku, pemuda baik sepertinya tidak pantas mengeluarkan air mata hanya karena orang seperti ku.'
.
.
.
-00000000-
#Sakura pov On #
Sesampainya dirumah sakit kami langsung berlari menuju ruang ICU yang khusus disediakan pihak rumah sakit untuk keluarga Uchiha.
Tap Tap Tap
Suara langkah kami yang saling bersahutan terdengar nyaring di lorong rumah sakit yang sepi ini. Sejak tadi Itachi-nii terus menggenggam tanganku. Kami terus berlari tanpa henti.
Kulirik wajahnya yang terlihat panik dari sudut mataku, keringat yang deras mengalir di wajah dan tangannya, namun tak sedikitpun dihiraukannya. Kuangkat tangan kananku dan meremas baju tepat didadaku dan berdoa dalam hati.
'Kumohon Kami-sama... lindungilah jii-san. Aku tak bisa membayangkan bagaimana raut wajahnya jika kehilangan kakek yang paling ia sayangi ini.'
Langkah Itachi-nii berhenti ketika sampai di depan pintu Jii-san dirawat. Kulihat Fugaku-ji san, Mikoto-ba san dan 2 orang pria berjas hitam rapih yang tak ku kenal pun berada disana. Yang satu tampak sudah berumur dan yang satunya lagi masih terlihat muda, mungkin hanya bertaut beberapa tahun diatasku.
Manik emeraldku terpendar mencari sosok pemuda berhelai raven bak pantat ayam, ya Uchiha Sasuke. Pemuda yang berhasil membuat hatiku kacau belakangan ini.
'Dia tak ada disini' ucapku dalam hati. Entah mengapa aku merasa kecewa karena tak bisa melihat sosoknya saat ini.
"Tou-san, bagaimana keadaan jii-san?" tanya Itachi-nii kepada Fugaku-ji san.
Bukannya menjawab Fugaku-ji san malah mengalihkan pandangannya ke arahku. Menatap manik emeraldku tajam dengan Onyx yang serupa dengan Itachi-nii.
"Kami menunggu kalian berdua sejak tadi. Terutama kau Sakura, sepertinya tou-san sangat menyayangimu sehingga ia hanya akan bicara jika kau pun ada disana." ujar Fugaku-ji san seraya tetap menatapku intens.
"Sebaiknya kita masuk ke dalam, keadaan tou-san semakin memburuk!" ajak Mikoto-ba san.
Mikoto-ba san merangkul tanganku dan menuntunku berjalan ke dalam ruangan. Dan yang lainnya pun ikut masuk dan berjalan dibelakangku. Aku tak berkata sedikitpun, mulutku seakan beku, tatapan yang menusuk kurasakan dari balik punggungku.
Bukan hanya Fugaku-ji san yang menatapku tajam tapi kedua pria yang tak ku kenal pun seakan mengintimidasiku. Tatapan mereka berdua seakan bicara ,seharusnya aku tak boleh berada disini... tatapan yang mengisyaratkan kebencian. Ya, meski hanya saling bertatapan tanpa tegur sapa, aku yakin mereka membenciku.
Deg... langkahku terhenti, sontak kututup mulutku dengan kedua tanganku. Liquid bening menetes dari manik emeraldku. Baru kemarin aku melihat dirinya yang masih terlihat sehat, wajah tampannya yang tak luput dimakan usia, tubuhnya yang kekar. Hanya dalam waktu 2 hari tubuhnya terlihat kurus dan wajah tampannya itu kini terlihat keriput seperti kakek-kakek yang kekurangan asupan gizi.
Selangkah demi selangkah aku berjalan mendekatinya. Keadaannya kini sangat memprihatinkan, Onyx nya tertutup, selang oksigen di wajahnya, dan berbagai selang infus di tangan dan kakinya. Aku duduk bersimpuh di depan ranjangnya. Lalu kupegang tangan kanannya yang tergeletak tak berdaya di samping tubuhnya.
"Jii-san." perlahan mulutku bergerak menyebut namanya, "Hiks, Madara-jii san, aku datang."
Lelehan air mata masih setia mengalir di pipiku. Tangan hangat yang dia ulurkan padaku, sekarang dingin seperti mayat hidup.
Gyuut
Kurasakan tangan dinginnya membalas menggenggam tanganku, meski pelan, aku merasakan pergerakannya.
"Jii-san!" aku sontak menoleh menatap wajahnya. Kulihat ia tersenyum dan mengumamkan sebuah kata.
'Dai-jou-bu.' itulah yang dapat kutangkap dari pergerakan bibirnya. Aku ikut tersenyum, meski tau dia tak mungkin baik-baik saja saat ini.
Krekk
Terdengar suara pintu yang terbuka pelan. Meski pelan namun terdengar jelas di pendengaran kami dalam situasi yang hening di dalam kamar saat ini. Sontak seluruh penghuni kamar menoleh ke arah sumber suara ,termasuk diriku.
Pemuda tampan bertubuh atletik dengan helaian putih melawan gravitasi yang menjadi pusat penglihatan kami itu langsung berjalan mendekati kami.
"Yare, yare... maaf aku telat datang Madara-sama. Ha ha ha." ujarnya seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Aura di dalam ruangan tiba-tiba berubah menjadi pengap. Mereka semua menatap penuh selidik pemuda yang baru saja masuk ke dalam ruangan ini.
"Hei, untuk apa kau datang kemari Kakashi?" ujar seorang pemuda berhelai hitam jabrik, salah satu pemuda keluarga Uchiha yang belum ku kenal yang masih terlihat muda itu.
"Yo, aku disuruh Madara-sama untuk mengumumkan sesuatu Obito." ujarnya ringan lalu tersenyum penuh arti.
"Tch, jangan bercanda! Untuk apa Jii-san memanggil pengacara pribadi Uchiha kemari, heh?" timpal Obito dengan nada tak suka.
Fugaku-ji san memijit keningnya pelan, lalu menatap Madara-jii san,"tou-san, apa kau sungguh-sungguh ingin mewariskan setengah harta Uchiha pada gadis ini?" ujarnya seraya menunjuk kearahku.
"EHHHH!"
"APAAA!"
Pemuda bernama Obito dan seorang pria Uchiha yang satu lagi sontak terkejut dan berteriak secara bersamaan. Begitu juga denganku, aku menutup mulutku yang menganga dengan sebelah tanganku.
'Ternyata Madara-jii san serius dengan perkataannya.' ucapku dalam hati.
Madara-jii san menoleh dan membalas tatapan Fugaku-ji san dengan tatapan yakin. Fugaku-jii san nampak mendesah pelan, ia tau arti dari tatapan yang di tunjukkan Madara-jii san padanya. Tatapan tanpa kekeraguan sedikit pun.
"Tunggu nii-san, kenapa kau tak pernah mengatakan ini sebelumnya, ha! Aku adikmu bukan?" protes pria berjas hitam berkulit putih dengan helaian raven memanjang, dan menurutku usianya tak jauh berbeda dengan Fugaku-ji san.
Madara -jii san perlahan mencopot oksigen yang menutupi hidungnya. Refleks aku langsung membantu memposisikan dirinya duduk menyandar.
"I-ni su-dah ke-pu-tu-san-ku! Hosh hosh. " Jii-san mencoba bicara dengan keadaannya yang lemah, sulit untuk dirinya bicara. Alhasil suaranya terbata-bata dengan nafasnya yang terengah-engah.
"Wak-tu-ku tak ba-nyak la-gi, Hosh hosh...ce-pat ka-u ba-ca-kan i-si surat wa-si-at da-ri-ku, hosh hosh, di de-pa-n se-mu-a-nya Ka-ka-shi!" perintah mutlak Madara-jii san.
Pria yang mengaku adik dari Madara-jii san mendecih, ia menatapku penuh amarah dengan tangan yang mengepal erat.
"Baiklah... aku mohon kalian tolong dengarkan dengan seksama, karena aku hanya akan membacanya sekali."
Hening... tiba-tiba suasana menjadi hening. Semua orang yang berada di ruangan ini menatap serius pemuda bermata sayu itu.
"Di surat ini dinyatakan, Haruno Sakura akan menjadi direktur utama dari Uchiha corp dan pemilik sah setengah dari harta yang dimiliki klan Uchiha ketika ia dinyatakan sah menikah dengan salah satu cucu keluarga Uchiha, yaitu Uchiha Itachi. Sekian isi dari surat wasiat yang diinginkan Madara-sama." ujar Kakashi- san panjang lebar.
Duakkk
Pria yang bernama Izuna itu memukul tembok dengan tangan mengepal lumayan kencang.
"JANGAN BERCANDA! kau tau ini tak lucu nii-san! Kenapa kau menyerahkan kedudukan direktur utama pada gadis yang baru saja kau kenal,Hah! Apalagi kau menyerahkan sebagian harta Uchiha padanya. Kau ingin membuat keluarga kita bangkrut!" protesnya.
"Sakura-chan, tak a-kan sen-di-ri-an me-na-nga-ni U-chi-ha Corp. I-ta-chi a-kan mem-ban-tu-nya nan-ti. Uhukkk...Hoekks!"
"TOU-SAN!"
"JII-SAN! kau tak apa-apa?" tanyaku cemas, perkataannya terhenti karena ia memuntahkan darah dari mulutnya.
"Cukup tou-san! Jangan bicara lagi... kondisimu semakin lemah." perintah Fugaku-ji san. Namun Madara-jii san tak menghiraukan perintahnya.
"A-ku ha-rus bi-ca-ra, ka-re-na a-ku me-ra-sa hi-dup-ku tak a-kan la-ma la-gi," Madara-jii san menatap intens Onyx Itachi-nii,"Itachi mu-lai se-ka-ra-ng a-ku a-kan mem-per-ca-ya-kan pe-ru-sa-ha-an da-n Sa-ku-ra pa-da-mu. Uhuk... Ka-u cu-cu ke-bang-ga-an-ku, a-ku ya-kin ka-u bi-sa me-la-ku-kan ke-du-a-nya de-ngan ba-ik."
"Ya, aku akan melakukan apapun untukmu Jii-san."
"Lalu kapan Itachi akan menikah dengan Sakura tou-san?" tanya Mikoto-ba san.
Madara-jii san kembali menatap Kakashi. Kakashi yang mengerti arti tatapan Jii-san mengeluarkan selembar kertas dan pulpen dari tasnya. Lalu ia menyerahkan kertas itu pada Itachi-nii.
"Kau dan Sakura-san hanya perlu menandatangani kertas ini. Maka kalian akan sah menjadi sepasang suami istri di catatan sipil." ujarnya menjelaskan.
"Ini... kertas pengajuan pernikahan?" tanya Itachi tampak terkejut.
"Ya, a-ku i-ngin me-li-hat ka-u me-ni-kah se-be-lum a-ku ma-ti Itachi. UHuk...Ba-ru a-ku a-ka-n per-gi de-ngan te-nang me-ning-gal-kan ka-li-an."
Itachi -nii menatap manik Emeraldku lembut, ia menghampiriku. Lalu menggenggam tanganku.
"Apa kau bersedia menikah denganku Honey?" tanya Itachi -nii dengan tatapan penuh keyakinan.
Aku tergagap, mataku bagai terhipnotis melihat pancaran lembut dari Onyx nya yang indah. Namun mulutku kelu, aku tak bisa mengatakan kata 'Ya' dengan mudah. Kualihkan pandanganku kebawah lurus menatap lantai. Aku tak ingin melukai perasaannya, karena aku hanya menganggapnya seorang kakak.
Namun disisi lain aku tak ingin mengecewakan Madara-jii san yang telah berbaik hati membantu banyak hal untukku. Tapi kurasa ini memang tak adil untuk keluarga Uchiha yang lainnya. Karena orang luar sepertiku ikut andil di dalam aset terbesar milik keluarga Uchiha ini.
Tapi... aku perlu biaya yang cukup besar untuk pengobatan Sasori-nii. Meski aku bekerja banting tulang setiap harinya pun tak akan cukup untuk membiayai biaya rumah sakit Sasori-nii.
Kami-sama, keputusan mana yang harus kuambil? Semuanya seakan berat untukku!
"Honey." tangan kekar Itachi-nii menyentuh daguku dan membawa pandanganku kembali keatas menatap Onyxnya.
"May I take care of you, YoungHighness...?!"
Deg... ini adalah sebuah pernyataan yang ia katakan padaku saat kami pertama kali bertemu kemarin. Pernyataan yang membuatku hatiku luluh. Ia menerimaku, menyambut tanganku dengan hangat, seorang gadis yang belum ia kenal sebelumnya.
Aku mengggigit bibir bawahku kencang, mengepal tanganku erat. Sekali lagi kutetapkan hatiku. Mungkin aku akan menerimanya menjadi suamiku, berusaha mencintainya dan menjaga amanat Madara-jii san dengan sepenuh hatiku.
"Menikahlah denganku, honey."
Perlahan kusunggingkan senyum termanisku di hadapan Itachi-nii. Lalu menjawab pertanyaan nya dengan tegas.
"Ya."
Itachi-nii langsung memelukku, kulihat wajahnya tersenyum bahagia, lalu mencium keningku pelan. Kami berdua menandatangani kertas pengajuan pernikahan itu.
Brakkkk
Suara dentuman pintu dibuka paksa mengalihkan atensi kami. Kulihat Izuna-ji san yang melakukannya. Ia kini berdiri di ambang pintu membelakangi kami.
"Ini sungguh memuakkan, sejak dulu aku tak bisa mengerti jalan pikiranmu nii-san. Obito ayo kita pergi, sepertinya kita sudah tak anggap menjadi bagian dari keluarga Uchiha ini lagi." ujarnya lirih. Kemudian ia melangkah pergi meninggalkan kami.
"IZUNA TUNGGU, kita bisa bicarakan ini baik-baik bukan?" Fugaku-ji san menyusul sosok Izuna-ji san keluar dari ruangan ini.
Disusul dengan Obito-san yang hanya mendecih dengan raut wajah tak suka kepada kami, terutama kepadaku. Dan pergi berlalu begitu saja tanpa berkata sepatah kata pun.
"Ini semua salahku, ini semua terjadi karena kehadiranku ditengah-tengah kalian. Seharusnya tempatku bukan disini ... maaf!" aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Berkata pelan seraya meminta maaf kepada semuanya, atas kehadiranku yang mungkin membuat keluarga ini terpecah belah.
Mikoto-ba san mengelus punggungku lembut berusaha membuatku tenang.
"Daijoubu, Sakura-chan. Semua akan baik-baik saja, ini bukan salahmu." ucapnya lembut.
Kulepas kedua tanganku dari wajahku, hatiku berdesir ketika melihat senyuman tulus yang diberikan Mikoto-ba san padaku, senyumannya bagai senyuman seorang ibu kepada anaknya. Sontak kupeluk tubuhnya dan menangis terisak. Hangat! pantas saja Itachi-nii tumbuh menjadi pemuda yang baik hati. Ternyata ia mewarisi sifat lembut ibunya.
"I-ta-chi... ke-ma-ri-lah, a-da sa-tu hal pen-ting la-gi yang i-ngin ku-ka-ta-kan pa-da-mu."
Di dalam pelukan Mikoto-ba san, aku melihat Madara-jii san membisikan sesuatu kepada Itachi-nii. Entah apa itu, aku tak dapat mendengarnya.
Namun setelah itu senyuman Itachi-nii merekah di wajahnya. Lalu berkata...
"Tentu jii-san, itu sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang kakak."
Itachi-nii mengatakannya dengan tegas. Dapat kulihat dari raut wajahnya yang terlihat begitu yakin dengan ucapan yang ia keluarkan. Ah~ kewajiban seorang kakak katanya! apa mereka sedang membicarakan tentang Uchiha Sasuke?
Deg... menyebut namanya saja hampir membuat keputusan yang kubuat susah payah goyah. Kugelengkan kepalaku pelan, tidak boleh! Aku tak boleh menaruh perasaan apapun padanya. Mulai sekarang aku tak boleh menganggapnya lebih dari seorang adik. Ya karena aku dan Itachi -nii sudah menikah.
"JII-SAN! JANGAN MEMBUATKU TAKUT! BUKA MATAMU... KAKASHI CEPAT PANGGIL TSUNADE-SENSEI KEMARI!"
"BA-BAIK!"
Suara teriakan Itachi-nii membuatku tersentak kaget dan sadar dari lamunanku. Mikoto- ba san sontak berlari mendekati Jii-san yang kini terbaring dengan matanya yang tertutup.
"TOU-SAN!...TOU-SAN!...KUMOHON BUKA MATAMU!...HIKS"
Berulang kali Mikoto-ba san menggoyangkan tubuh Madara-jii san yang sudah tak ada pergerakan sedikit pun. Itachi-nii yang terlihat panik berulang kali mengecek nafas di hidungnya, nadi ditangannya dan juga detak jantung Madara-jii san.
"KUSO!" Gigi Itachi-nii bergeletuk, menjambak helaian raven panjangnya kasar. Ia memeluk Jii-san erat, "ia sudah pergi." lirihnya pelan. Dan lepas sudah pertahanannya ia menangis meraung sejadi-jadinya. Menangisi kepergian Madara-jii san.
"Huwaaaa... JII-SAN!" teriaknya.
Deg deg deg... detak jantungku berdetak melebihi batas normal, liquid bening lagi-lagi mengalir deras dari sudut mataku. Aku baru merasakan kembali kehadiran seorang kakek dalam hidupku, kebahagiaan yang tak ternilai harganya saat Madara- jii san menarik diriku masuk andil menjadi salah satu bagian di dalam keluarganya.
Tapi kenapa begitu cepat kau renggut kebahagiaanku ini Kami-sama. Kenapa... kenapa lagi-lagi aku kehilangan orang yang kusayangi untuk kedua kalinya. Hiks hiks.
Aku tak tahan melihat Itachi-nii yang sedang menangis terisak, seakan hatiku pun ikut merasakan kepedihannya. Akhirnya kuputuskan pergi keluar sementara waktu, mencari tempat sepi untukku menangis.
Aku berlari tanpa arah, kaki jenjangku berlari menaiki anak tangga. Entah sudah berapa banyak anak tangga yang kupijak. Sampai akhirnya aku sampai di atap rumah sakit.
Brukkk
Tubuhku lemas aku terjatuh tersungkur di lantai. Kakiku sakit, namun hatiku lebih terasa sakit. Aku menangis sejadi-jadinya disana, tanpa ada seorang pun yang tau. Ya, tadinya kukira hanya aku yang ada disana sampai sebuah suara menginterupsi kegiatanku.
"Tch, jangan kau kira hanya kau satu-satunya orang yang sedih ditinggalkan Jii-san! bahkan kau orang luar di keluarga kami. Sampai kapanpun aku tak akan menganggapmu sebagai salah satu anggota di keluarga ku. Kau dengar itu Haruno-san!"
Deg... aku kenal betul suara siapa ini. Hanya dia yang berbicara kasar padaku, dia orang pertama yang menolak keberadaan ku di keluarga ini. Dan juga seorang pemuda yang berhasil menghipnotis ku dalam pesonanya. Ya... Uchiha Sasuke.
Aku mendongak menatap manik Onyx kelam nya, kulihat tatapan kebencian yang ia suguhkan padaku.
"Ck,bahkan dimata Jii-san kau lebih berharga dibandingkan diriku, yang jelas-jelas cucu kandungnya. Kau membuatku muak Haruno-san, dengan mudahnya kau mengambil tempatku disisi nya hanya dalam waktu sehari. Bahkan di akhir hayatnya dia hanya memikirkanmu, menyerahkan seluruh kekuasaan Uchiha corp pada dirimu." ucapnya dengan nada tinggi penuh kebencian.
Kumohon hentikan... sudah cukup, semua perkataan yang keluar dari mulutmu seperti sebilah pisau tajam yang dengan mudahnya mengoyak tubuh dan hatiku.
"Dengar~" Sasuke memposisikan dirinya berjongkok di depanku, memegang daguku dan mengangkatnya keatas. Sehingga kami saling bertatapan, ia menatapku tajam lalu meneruskan kalimatnya.
"Aku tak akan pernah mengakuimu menjadi salah satu bagian dari keluargaku, meski kau sudah sah menjadi kakak iparku. TAK AKAN PERNAH HARUNO, CAMKAN ITU BAIK-BAIK!" lanjutnya penuh penekanan diakhir kalimat.
Setelah berucap ia pergi meninggalkanku, ia pergi meninggalkan seribu luka dihatiku. Bahkan ia tak peduli dengan keadaanku saat ini yang masih dalam posisi tersungkur diatas lantai.
Hiks, Kami-sama, kenapa aku harus mengalami kejadian seperti ini. Sasuke dan Itachi-nii memang dilahirkan di keluarga yang sama, namun kenapa sifat mereka berdua sangat berbeda. Bagai langit dan bumi, sifat keduanya berbanding kebalik.
Tapi kenapa... kenapa aku masih menaruh hati padanya? Pemuda yang jelas-jelas menolak keberadaanku di dalam keluarganya bahkan hatinya pun tertutup untukku.
Kami -sama, berikan aku kekuatan untuk menjalani hidup baru yang kumulai dari sekarang. Bantu aku menata hatiku secara perlahan untuk berbalik mencintai orang yang semestinya kucintai.
Bantu aku Kami-sama, karena mulai sekarang aku sudah bukan Haruno Sakura, aku sudah menikah. Aku akan menjalani hidupku menjadi salah satu bagian dari keluarga Uchiha, ya... Uchiha Sakura.
Semoga... semoga semua akan berjalan baik-baik saja. Meski aku tau akan banyak rintangan yang akan menghadangku di depan sana. Karena sejak awal aku sudah tau, semua ini tak akan mudah untukku jalani...
Perlahan aku mulai beranjak berdiri, mengengadahkan kepalaku melihat langit tak berujung namun indah karena Langit malam dengan kemerlap bintang disana.
Aku harus bertahan, aku harus bisa menjalani semua ini. Karena aku ingin menunjukkan betapa indahnya pemandangan alam yang indah ini kepada Sasori-nii.
"Demi kau Sasori-nii aku rela Kami-sama merenggut semua yang kumiliki, harga diriku, kebahagiaanku, bahkan hidupku,cepatlah buka matamu. Karena kau satu-satunya keluarga yang kumiliki saat ini."
#Sakura POV OFF "
.
.
Tanpa Sakura sadari seorang pemuda memperhatikannya sejak tadi. Ia menatap Sakura dengan tatapan benci juga kasihan.
Pemuda dengan rambut mencuat ke belakang layaknya pantat ayam itu sejak tadi memperhatikan Sakura, ya... sejak ia meninggalkan sang gadis sendirian setelah mengucapkan bertubi-tubi kalimat kasar dari bibirnya, untuk sang gadis yang tak tau apa-apa tentang perasaan iri yang ia rasakakan saat ini. Jelas-jelas ia tau bahwa Sakura tidak bersalah dalam hal ini.
Ia meremas baju tepat didadanya dan menjambak rambutnya kasar.
"Kuso!" geramnya kesal.
Kenapa hatinya merasakan perih ketika sadar ia sudah melukai hati gadis berambut soft pink itu dengan perkataan kasarnya.
"Tch, menyebalkan."
Ia mendecih lalu pergi meninggalkan tempat itu, menjauh dari sang gadis. Dipikirkan berapa kalipun ia tak bisa menemukan jawaban mengenai hatinya.
Ah~ bukannya tak tau, ia sengaja tak mau tau apa yang kini ia rasakan. Perasaannya yang mulai tumbuh terhadap gadis yang baru saja resmi menjadi kakak iparnya.
'Aku tak mungkin jatuh cinta padanya bukan?! Jangan bercanda, itu tak mungkin terjadi! Tak akan pernah!'
.
.
TBC
Lanjutannya entah kapan setelah semua ff ku kulanjut yak. Tinggalkan jejak ya, Aku butuh kritik dan saran dari kalian semua. Arigatou. ^^
