Author : Hani Yuya

Pairing : Sasuke.U, Sakura.H, Itachi.U Original chara in NARUTO

Disclaimer by Masashi Kishimoto

Rated : M For Lime/Lemon Better read 17+! Be wise, reader!

Genre : (AU) Romance, hurts/comfort, Family

LOVE IS YOU Chap 4 - Penghianatan dan Rasa bersalah.

Note : hy aku kembali, di chap ini akan ada lemon eksplisit dan implisit. Jadi kuharap para reader membaca pengumuman ku ini. Dosa ditanggung sendiri ok.

.

.

*Sakura POV ON*

Hari terus berlalu dengan cepatnya dan tak terasa sudah satu bulan semenjak kepergian Madara-jii san meninggalkan kami semua. Rasa sedih akan kehilangan dirinya belumlah hilang dan masih melekat di setiap penghuni rumah ini,termasuk aku, meski aku baru mengenalnya tapi dia sudah kuaanggap sebagai kakekku sendiri.

Meski rasa sedih masih kami rasakan, tapi sayangnya kami tak bisa turut larut dan mengabaikan aktifitas yang sudah menunggu di depan mata. Selama sebulan penuh Fugaku ji-san, Itachi-nii dan Mikoto ba-san seakan kehilangan semangat, mereka sampai lupa akan tugas penting sebagai direktur di perusahaan Uchiha Corp yang masih terus berjalan tanpa kehadiran mereka di sana.

Meski aku terpilih menjadi salah satu direktur utama mulai semenjak menikah dengan Itachi-nii, tapi aku tetaplah orang awam yang tak tau apa-apa di sini. Aku tak mungkin menggantikan mereka yang sedang terpuruk sekarang.

Ting... Ting...

Saat ini kami sedang menikmati makan siang di rumah kediaman Uchiha. Hanya sendok dan garpu yang saling beesahutan tanpa ada satu pun yang memulai pembicaraan diantara kami. Sejak aku menandatangani kertas dan dokumen pernikahan dengan Itachi satu bulan lalu, aku tak pernah melihat kehadiran Sasuke di tengah-tengah kami. Kurasa dia masih membenciku.

Dia tak pernah pulang ke rumah. Aku dengar dari Fugaku ji-san Sasuke tinggal di salah satu apartemen milik keluarga Uchiha tak jauh dari kampusnya akhir-akhir ini. Aku merasa sedikit lega karena dia tak ada di sini, namun di lain sisi tanpa sengaja aku selalu mencari sosoknya di tengah-tengah kami. Aku hanya bisa tersenyum miris menyadari prilaku-ku yang masih belum bisa melupakan dirinya sepenuhnya.

"Itachi- Sakura~ bagaimana kalau kalian mengadakan pesta pernikahan."

"Ehhh?"

Tiba-tiba Mikoto ba-san mencoba memecahkan keheningan, ia mengatakan sesuatu yang membuat aku dan Itachi-nii sedikit terkejut di buatnya. Kami benar-benar melupakan pesta pernikahan kami karena terlalu sibuk memikirkan Madara jii-san. Meski pesta pernikahan bagiku bukan sesuatu hal yang penting, tapi tidak bagi Mikoto ba-san.

"Kalian harus mengadakan upacara pernikahan. Karena Sakura akan menjadi salah satu direktur utama di perusahaan kita. Dan inilah waktu yang tepat untuk memperkenalkan dirinya kepada seluruh anggota Uchiha yang lainnya. Bagaimana Fugaku apa kau setuju dengan ideku?" Mikoto ba-san sedikit bersemangat mengatakan hal ini, dan sepertinya Fugaku ji-san menyetujuinya.

"Hn, kurasa ini ide yang Bagus. Tou-san pasti akan sangat senang mendengar hal ini jika dia masih hidup, setidaknya kita harus melakukan hal yang diinginkannya meski dia sudah tak lagi bersama kita." timpal Fugaku-ji san.

Mikoto menatap Onyx Itachi-nii intens, "bagaimana Itachi? Kau setuju?"

Itachi-nii berbalik menatapku meminta persetujuan dariku, "kalau Sakura setuju, aku juga setuju." ucapnya.

Aku menarik nafas panjang, lalu tersenyum. Aku tak mungkin menolaknya bukan? karena mungkin dengan ini bisa mengurangi kesedihan mereka, "ya, jika ini membuat kalian senang." jawabku.

Mikoto ba-san beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiriku, cup mengecup jidat lebarku sekilas lalu memelukku, "arigatou Sakura." ucapnya tulus.

Hatiku berdesir ketika mendengar ucapan terimakasih dari nya, yang harus berterimakasih seharusnya aku! Aku tak menyangka mereka semua menerima orang luar seperti ku. Terkecuali Sasuke dan kerabat Uchiha lainnya.

"Aku akan menyiapkan segalanya, mungkin persiapannya akan selesai dalam waktu dua hari lagi. Kalian berdua pergilah ke butik milik Uchiha Corp, disana kalian bisa memilih beberapa pakaian yang akan dipakai di pesta nanti." ucap Fugaku ji-san.

Aku hanya mengangguk tak tau harus menjawab apa, sreet... sebuah tangan menggenggam telapak tanganku erat, tangan yang sangat hangat dan membuatku nyaman,"kami akan pergi kesana setelah selesai sarapan."

Itachi-nii memang selalu bisa membuatku nyaman jika berada di dekatnya. Dia pemuda yang baik dan selalu saja membantu meringankan bebanku. Dia satu-satunya orang yang sangat memahamiku saat ini.

"Ano, Itachi-nii bisakah setelah itu kita menjenguk Sasori-nii di rumah sakit, aku merindukannya." pintaku

Dia mengecup punggung tanganku, "dengan senang hati honey." blusshhh, wajahku merona merah karena ucapan dan perlakuannya padaku bak seorang pangeran. Ini sangat memalukan, dia melakukan itu dengan mudahnya di depan Mikoto ba-san dan Fugaku ji-san yang tersenyum melihat kami. Kyaa, ini sungguh tak baik buat jantungku! .

.
*Sakura POV OFF*
.

..

Tap... Tap... Tap

Sebuah langkah saling bersahutan yang nampak tergesah-gesah itu berbunyi nyaring sampai menggema di lorong apartemen yang cukup megah itu. Pemuda berhelai kuning jabrik yang menggunakan taxedo hitam itu berlari menuju sebuah kamar yang terletak di ujung lorong lantai 4. Sebuah kamar yang khusus di tempati Sasuke, bisa di bilang kamar itu kamar yang paling mewah di sana.

Brakk! Ia membuka paksa pintu kamar yang tak di kunci itu. Pemuda itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kebiasaan temannya yang tak mengunci rapat pintu apartemennya.

'Meski apartemen miliknya, jika pencuri masuk ke dalam mungkin dia tak akan menyadarinya. Dasar ceroboh, pantas saja banyak wanita asing yang seenaknya masuk ke dalam.' batinnya mengumpat kebiasaan buruk temannya.

Seperempat siku tercetak di pelipisnya ketika melihat bungsu Uchiha itu masih tertidur pulas di atas ranjangnya dengan selimut yang masih menutupi tubuhnya sampai batas dada. Srettt... Pemuda itu menarik kasar selimut yang membalut tubuh Sasuke.

"Sasuke sampai kapan kau mau tidur ha! Cepat bangun! Kau tau ini sudah jam 11 siang! Bukankah hari ini pesta pernikahan kakakmu? kenapa kau tidak datang ke acara pernikahannya ttebayo!" ujar pemuda itu dengan nada kesal.

Sasuke yang merasa terganggu dari aksi temannya itu menyuguhkan deathglare mematikan.

"Urusai!" ujarnya dingin. Kemudian kembali menarik selimutnya, kali ini sampai menutupi kepalanya.

"Oi, oi Teme, ayolah! Itachi-nii pasti sangat mengharapkan kehadiranmu di pesta pernikahannya. Madara jii-chan yang memutuskan jika Sakura - istri kakakmu itu yang mewarisi setengah harta Uchiha, jadi kurasa itu bukan kesalahannya."

Sasuke tiba-tiba beranjak diri dari tidurnya, lalu menghampiri Naruto. Onyxnya menatap intens penuh amarah shappire milik Naruto, "Aku tak peduli dengan harta Uchiha! Aku hanya tak suka ada orang asing tiba-tiba hadir di tengah kami dan mengambil semuanya dariku! Apa kau mengerti NA-RU-TO." ujarnya penuh penekanan saat menyebut nama pemuda kuning itu, "tck, kurasa kau tak akan pernah mengerti apa yang kurasakan. Pergilah! Aku tak akan datang ke sana." lanjutnya.

"Teme, jangan keras kepala! Ayolah, Mikoto ba-chan akan sedih jika kau tak datang." bujuk Naruto.

"Jangan membuatku untuk mengulang perkataanku dobe." Sasuke melengos pergi ke dalam kamar mandi tanpa berkata apa-apa lagi pada Naruto.

"Dasar keras kepala." ujar Naruto seraya mendesah panjang, "aku harus mengarang cerita apalagi pada Mikoto ba-chan, tch... Kau selalu saja menyusahkanku, LAIN KALI KAU HARUS MEMBAYAR SEMUA INI TEME! KAU DENGAR!" Naruto sengaja berteriak agar Sasuke mendengarnya. Lalu menghentakkan kakinya kasar dan melengos pergi dengan perasaan kesal.

Sasuke yang berada di kamar mandi pun mendengar jelas ocehan Naruto tadi. Ia hanya mendesah panjang dan menatap langit-langit kamar mandi, mengingat kembali semua hal yang dilakukan Naruto untuknya. Memang Sasuke akui, ia telah banyak menyusahkan pemuda kuning itu.

Dari mulai membantunya berbohong tentang kuliahnya yang dekat dengan apartemen miliknya padahal jarak antara universitasnya cukup jauh, kemudian mengarang cerita tidak bisa datang menghadiri pemakaman kakeknya padahal ia datang dan melihatnya dari kejauhan, lalu sekarang lagi-lagi Naruto harus memutar otaknya membuat alasan untuk membantu dirinya sekali lagi.

Dalam hati pemuda raven itu mengucapkan banyak terima kasih pada pemuda kuning yang sering kali membantunya itu, namun ia tak pernah bisa mengucapkan kata terimakasih karena gengsinya yang cukup tinggi.

Ia tak tau apa yang akan ia lakukan setelah ini, sepertinya ia akan pergi ke suatu tempat untuk menenangkan pikirannya yang sedang kalut akhir-akhir ini. Ada satu hal yang sebenarnya sangat mengganggu pikirannya, Ia membencinya karena telah merenggut semua orang yang disayanginya namun di lain sisi hatinya terasa sakit jika setiap kali ia menyakitinya dengan perkataan kasar yang keluar begitu saja dari bibirnya. Tck, ia pun tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan tak mau ambil pusing, karena hal ini sangat menyebalkan baginya.

Sasuke membasuh wajahnya dan segera berganti pakaian. Ia hanya memakai kaos putih polos dan jins hitam panjang, tak lupa memakai jaket jins hitam yang selalu ia pakai jika pergi keluar rumah.

.

Tak berapa lama kemudian Sasuke sampai di sebuah bar cukup besar yang berada tak jauh dari apartemen miliknya. Bar yang biasa dikunjungi para pejabat dan pengusaha kelas atas untuk mengisi waktu luangnya. Dan kebetulan bar itu milik orang yang dikenalnya, orang yang cukup dekat dengan keluarganya.

Suasana bar saat ini sangat sepi, tak ada satu pun pengunjung yang datang. Jelas saja bukan, sekarang masih siang dan orang-orang pun sedang melakukan aktifitasnya masing-masing, terlebih lagi hari ini Uchiha Corp mengadakan pesta besar-besaran di tempat hunian bak istana itu, dan kemungkinan besar mereka semua berada disana. Sasuke masuk tanpa permisi dan melangkah santai menuju meja bar.

Seseorang yang ia kenal ada disana, pemuda tampan bertubuh atletik dengan helaian putih melawan gravitasi itu berpakaian sangat formal seperti biasa saat ia akan bertugas. Ia memakai jas berwarna putih serta dasi yang melekat di kemeja putihnya. Tapi tetap saja masker yang menutup sebagian wajahnya tetap menempel disana. Ia nampak terkejut melihat Sasuke datang ke bar miliknya, mata sayunya seakan mengintimidasi dirinya.

Sasuke yang tak peduli akan tatapan pemuda itu, mendudukkan bokongnya di salah satu tempat duduk di depan meja bartender.

"Berikan aku segelas vodka." ucapnya santai.

"Yo, Sasuke bukankah seharusnya kau datang ke pernikahan Itachi hari ini?" Kakashi tak menghiraukan apa yang dikatakan Sasuke, ia malah penasaran kenapa bungsu Uchiha tak hadir di pesta pernikahan kakaknya itu.

"Tck, kenapa setiap orang selalu menanyakan hal yang sama padaku, kau tau jawabanku Kakashi!" jawabnya malas seraya memutar bola matanya bosan.

"Hmm, aku cukup terkejut kau kesini sendirian, biasanya kau tak pernah mau kuajak kesini meski kupaksa." ujar Kakashi seraya memberikan segelas air putih, "minumlah, tidak baik minum alkohol siang-siang begini." ujarnya seraya menyodorkan segas air putih, kemudian Kakashi meletakkan sebuah kunci di depan Sasuke, membuat sang empu menaikkan alis heran. "Aku harus pergi sekarang, jika kau berniat datang ke pesta atau kembali ke apartemenmu jangan lupa kunci bar ini,kau mengerti kan Sasuke." lanjutnya kemudian pergi meninggalkan Sasuke begitu saja, namun baru beberapa langkah Kakashi berhenti dan membalikkan badannya. "Kuharap kau tidak menghabiskan stok minumanku dan mabuk Sasuke, habislah aku jika Itachi dan Fugaku tau." ujarnya.

"Tck, aku bukan anak kecil lagi Kakashi. Lagipula ini tak ada hubungan dengannya."

"Hn, aku tak tau apa yang terjadi diantara kalian. Tapi sepertinya terjadi sesuatu hal yang tak ku ketahui." Kakashi menatap Sasuke penuh selidik.

"Tch, ini bukan urusanmu."

"Hahaha, baiklah lagipula aku tak berhak ikut campur dalam masalah kalian. Jaa aku pergi." Kakashi meninggalkan Sasuke sendirian di bar miliknya.

"Tck, menyebalkan."

Sasuke yang ditinggal sendirian disana mengambil beberapa botol minuman beralkohol, sepertinya ia tak mengindahkan perkataan Kakashi agar tak menghabiskan stok minumannya. Pikirannya sedang kalut, entah apa yang akan dia lakukan setelah ini.

.

..

Di kediaman Uchiha yang bak istana itu penuh akan pejabat dan orang penting lainnya yang hadir ke pesta pernikahan Itachi dn Sakura yang kini resmi menjabat menjadi direktur utama di Uchiha Corp.

Semua orang cukup terkejut mendengarnya, mereka mengira bahwa Fugaku atau Izuna lah yang akan menjabat menjadi direktur utama menggantikan posisi Madara, karena mereka berdua adalah anak dan adik kandungnya yang sudah lama ikut andil dalam menjalankan perusahaan Uchiha corp. Entah apa yang dipikirkan oleh Madara, dengan entengnya ia mewariskan perusahaan yang dibangun susah payah oleh keluarga Uchiha pada gadis yang baru dikenalnya, dan pada Itachi yang masih terlalu muda memikul beban berat di punggungnya, meski ia mewarisi darah Uchiha namun pengalamannya di bidang ini belumlah cukup.

Berita ini pun sudah santar tersebar di media masa dan menjadi topik hangat di kalangan para pejabat, karyawan Uchiha Corp dan juga direktur dari pesaing Uchiha Corp, tentu saja ada pro dan kontra dalam masalah ini.

Sakura hanya bisa diam dan pasrah ketika ribuan mata memandang dirinya dengan tatapan menyelidik dan seakan mengintimidasinya, seolah-olah ia adalah tersangka utama dalam kasus pembunuhan.

Rasanya ia ingin sejenak merebahkan diri beristirahat di tempat tidurnya untuk melepaskan diri dari tekanan orang-orang di pesta ini, ia ingin menyendiri dan tidak ada satu pun orang yang mengganggunya.

Tapi apa daya ia tak dapat melepaskan diri dari para tamu undangan yang tak berhenti berdatangan. Tapi sejauh mata memandang ia tak dapat menemukan keberadaan anggota keluarga Uchiha yang ia temui di rumah sakit waktu itu. Ya, Izuna dan Obito tak hadir di sana. Gadis musim semi itu sangat menyalahkan dirinya atas pertikaian yang terjadi di keluarga Uchiha, meski bagaimanapun ini semua adalah kesalahannya. Apa yang dikatakan Sasuke memang benar.

Ah~ lagi-lagi pemuda raven itu memenuhi pikirannya, 'dia tak akan mau datang ke sini meski ini pesta pernikahan kakaknya, itu semua karena ia membenciku.' pikirnya dengan mata berkaca-kaca menahan air matanya.

Puk, Sakura seakan sadar dari lamunannya ketika seseorang menepuk pundaknya. Ia menoleh dan melihat Itachi dengan tampang wajah cemas memandangnya.

"Ada apa? Apa kau lelah?" tanyanya dengan nada khawatir.

'Ah mungkin inilah saatnya untuk melarikan diri dari pesta.' pikirnya dalam hati.

"Aku sedikit lelah, bolehkah aku beristirahat sebentar di kamar Itachi-nii?" melasnya dengan tatapan memohon.

Itachi tersenyum, "tak masalah, ayo kuantar kau ke kamar," jawabnya. Wajah sumringah menghiasi Sakura, ia tak menyangka bisa lepas dari pesta ini.

"Tapi aku tak bisa menemanimu, aku harus disini sampai acara selesai nanti dan kau tak perlu memaksakan diri untuk kembali ke pesta." lanjutnya di tengah perjalanan menuju kamar.

Sakura mengangguk, justru itu yang diinginkannya. Ia tak mau kembali ke pesta itu lagi, entah mengapa ia berfikir Itachi menyadari tekanan yang ia alami selama berada di pesta dan mengambil alih semuanya demi dirinya.

Akhirnya mereka sampai di kamar, Itachi mengantar Sakura sampai ke depan tempat tidur."Tidurlah, kau harus mengistirahatkan badanmu." ucapnya.

"Arigatou Itachi-nii." ucap Sakura.

Itachi hanya tersenyum dan mengecup jidat lebar wanita musim semi yang kini resmi menjadi istrinya, lalu membisikkan sebuah kalimat yang membuat Sakura blushing berat, 'simpan tenagamu untuk malam nanti, kau tak bisa menolaknya kali ini, aku akan kembali sampai pesta berakhir nanti, jadi tunggu aku,' bisiknya, lalu berjalan meninggalkan Sakura di dalam kamar sendirian dengan rona merah yang memenuhi wajahnya. Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya, menarik nafas dalam-dalam dan berusaha menenangkan dirinya.

Bruukkk, Sakura langsung merebahkan badannya di atas tempat tidur king size nya ketika Itachi keluar dari kamarnya. Ia bahkan tidak membuka gaun pengantinnya terlebih dahulu. Ia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 7 malam. Tinggal beberapa jam lagi maka pesta ini akan berakhir, dan itu artinya malam bersama Itachi akan tiba.

"Mungkinkah ini saatnya aku melakukannya dengan Itachi-nii? dia sudah terlalu lama menunggu, bahkan dia sangat sabar menghadapiku. Dia tak pernah memaksaku melakukan hubungan intim layaknya suami-istri meski kami tidur satu ranjang. Selama ini dia hanya memberikanku ciuman tak lebih dari itu. Kami-sama betapa egoisnya aku, padahal ia sudah sangat baik padaku." Sakura menjambak rambutnya frustasi. Karena ia merasa sikapnya tak adil pada Itachi. Ia tersentak kaget ketika mendengar pintu kamarnya terbuka, Kreeett...

Ia mengira Itachi kembali ke kamarnya karena melupakan sesuatu, dengan segera Sakura beranjak diri dan menghampiri pintu kamar yang tak jauh dari tempat tidurnya, "Itachi-nii apa kau melupakan sesuatu?" teriaknya.

Manik emeraldnya membulat karena bukan Itachi yang datang ke kamarnya, melainkan sosok pemuda yang selalu menghantui pikirannya. Sontak ia berhenti beberapa langkah di depan pemuda itu.

"Sa-su-ke?"

Betapa terkejutnya ia ketika melihat Sasuke berada di hadapannya, keadaannya sangat mengkhawatirkan. Rambut dan pakaian yang ia kenakan basah kuyup. Apakah di luar sana hujan? Karena Sakura ada di dalam ruangan ia tak tau keadaan di luar sana. Tapi ini aneh! Kenapa Sasuke kehujanan? Bukankah di luar sana banyak penjaga yang bertugas. Mereka akan siap sedia memayungi mereka ketika tuan rumah atau tamu yang akan datang kesini bukan? Sakura memberanikan diri melangkah mendekati Sasuke, karena ia tau pasti terjadi sesuatu padanya. Karena sejak tadi Sasuke hanya diam tak bergeming diambang pintu kamarnya.

"Sasuke, apa yang terjadi? Kenapa pakaianmu bisa sebasah ini?" tanyanya dengan nada khawatir.

Sasuke tak menjawab, wajahnya tertunduk. Rambut raven-nya yang kuyup menghalangi wajahnya. Sakura berhenti tepat di hadapan Sasuke, tangannya terulur, ingin rasanya menyapu rambut ravennya yang basah menghalangi wajah tampan uchiha bungsu belum sempat tangannya menyentuh wajah sang pemuda, Grep...Sasuke memegang tangan Sakura dan mencengkram nya erat.

Ia mengangkat wajahnya dan menatap Sakura penuh akan kebencian, "JANGAN PERNAH MENYENTUHKU DENGAN JARIMU!" ucapnya sarkastik penuh penekanan.

Deg, hatinya hancur berkeping-keping. Seakan-akan dunianya runtuh dalam sekejab. Ia tak menyangka Sasuke benar-benar sangat membenci dirinya.

Bruukk, cekrek. Sasuke menutup pintu kamar dengan kasar dan menguncinya dari dalam.

'kenapa dia mengunci pintunya?' beribu tanda tanya memenuhi benaknya namun mulutnya kelu tak bisa mengucapkannya.

Sasuke menghempaskan tangan Sakura kasar, lalu tiba-tiba ia mulai melepas satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya dan membuangnya ke sembarang arah, dada bidang dan tubuh sixpaknya terexpos sempurna. Sakura terperangah tak percaya dengan apa yang dilakukan Sasuke, meski rona merah menghiasi pipi Sakura namun tak dapat dipungkiri hatinya kini gelisah melihat sikap Sasuke yang sangat aneh. Terbesit firasat buruk dalam benaknya, ia mulai melangkah mundur menjauhi Sasuke.

Tubuhnya meremang ketika tatapan mereka bertemu. Entah kenapa ia merasa Sasuke yang berdiri di hadapannya berbeda dengan Sasuke yang biasanya.

'Tatapannya sangat menusuk seperti sebilah pisau yang menancap tepat di hatiku, itu sangat menyakitkan.' gumam Sakura dalam hati, tangan mungilnya mengenggam gaunnya tepat di dada.

.

.

.

#Sakura pov on#

Ia tak berhenti menatap tajam kedua iris mataku, aku takut! Dia seperti monster yang ingin menerkam mangsanya. Aku terus melangkah mundur menjauh darinya. Namun Sasuke terus melangkah menghampiriku seiring aku menjauh darinya.

Langkahku terhenti ketika kakiku terbentur tempat tidur, Kami-sama sudah sejauh ini aku menghindar darinya, tapi tak ada tanda-tanda ia akan melepaskanku.

Mataku menyelisik mencari tempat persembunyian. Kamar mandi! Aku akan bersembunyi disana sampai Itachi-nii datang nanti. Aku mengangkat gaun yang ku pakai sampai sebatas betis dan bersiap lari untuk menghindarinya.

Sreet, Brukk...

"Auchh!"

Aku tak berhasil melewatinya, ia menarik lenganku dan mendorongku ke atas tempat tidur. Mataku membulat ketika ia beranjak naik dan berada di atasku.

"Ma... mau apa kau Sasu, hmmpp!" jantungku seakan berhenti ketika ia sontak melumat mulutku dengan penuh gairah. Aku berontak untuk melepaskan diri darinya, namun sekuat aku melawan tenagaku tak mampu melawan tenaganya yang semakin erat mendekapku, tubuh kekarnya mengunci tubuhku seakan tak memberiku celah sedikitpun.

Aku mencium bau alkohol yang sangat pekat dari mulutnya. Kami-sama dia mabuk! Aku tak pernah menyangka akan mendapat ciuman darinya dengan cara seperti ini! Aku akui aku memang menyukainya, tapi aku juga tak senang ia lakukan ini padaku dengan keadaan mabuk tanpa sadar apa yang telah ia lakukan padaku saat ini. Terlebih lagi aku sudah menikah dengan Itachi-nii yang notabene kakak kandungnya.

Aku memberanikan diri untuk menggigit bibir bawahnya. Tes, mungkin aku terlalu kencang sehingga cairan merah menetes dari sudut bibinya dan sontak menghentikan pangutannya dari bibirku.

Aku menatapnya sendu, "apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu Sasuke? aku tau kau membenciku, tapi kenapa kau lakukan ini padaku di saat pesta pernikahanku dengan kakakmu,ini sama saja kau menyakiti kakakmu bukan? Jadi kumohon hentikan! Kau hanya dendam padaku bukan pada boleh menamparku bahkan mengusirku dari kehidupanmu atau apapun itu...kumohon~ lepaskan aku!" aku memohon padanya dengan suara yang bergetar. Namun ia malah menyeringai dan mendecih, bahkan tidak ada rasa penyesalan yang terpancar dari wajahnya.

Ia menghapus darah yang keluar dari sudut bibirnya dengan lidahnya, kemudian dia menghapus sisa-sisa saliva di bibirku dengan ibu jarinya. Ia mulai membelai wajahku, mengusapnya dengan penuh kelembutan. Namun sedetik kemudian perkataannya mampu membuat jantungku berhenti berdetak.

"Bukankah dulu kau yang diam-diam mencuri ciumanku? aku sedikit terkejut kau berani melakukan itu saat pertama kali kita bertemu dulu." seringainya.

Aku terbelalak tak percaya mendengar apa yang ia katakan barusan. Dia~ menyadarinya! aku tak menyangka ia tak benar-benar tidur waktu itu, kami-sama rasanya kepalaku terasa panas, ingin rasanya terjun dari atas tebing dan jatuh ke dalam jurang yang paling terdalam.

"A-apa maksudmu?" aku menghindari tatapannya dan membuang wajahku ke samping, mungkin wajahku seperti kepiting rebus saat ini. Hayolah Sakura ini bukan saatnya blushing! Aku mencoba meyakinkan diri dan mengendalikan diriku sebisa mungkin di hadapannya dan bersikap seolah-olah tak terjadi apapun.

Ku lihat ekspresi wajahnya dari sudut mataku, dia masih menyeringai! Deg...tiba-tiba tangannya masuk menyusup ke dalam gaunku dan menyingkapnya sampai sebatas paha. Jantungku berdetak tak menentu, bulu kudukku meremang ketika merasakan jarinya menyentuh bagian daerah sensitifku di bawah sana yang masih terbalut celana dalam.

Mataku membulat, nafasku seakan tercekat ditenggorokan ketika ia mulai meraba dan memasukkan jarinya ke dalam lorong kewanitaanku yang belum sama sekali dijamah oleh siapapun.

"A-apa yang kau lakukan?!Hentikan! Kumohon!" aku meronta sekuat tenaga. Kami-sama bagaimana ini! Kali ini aku merasa benar-benar telah menghianatinya.

Liquid bening lolos begitu saja mengalir deras dari iris mataku. "Akkhhhh! Ahhh, ku-mo-hon hen-ti-kan, hiks," aku mencengkram pundaknya erat ketika ia memasukkan jarinya semakin dalam dan membuatku sedikit kesakitan atas ulahnya. Ia mulai mengocok lorong kewanitaanku dengan tempo pelan ,kemudian menyubit dan bermain dengan klitorisku.

"Aahh... Hmmpp." aku segera membekap mulutku ketika mendengar suara desahan tak sengaja lolos dari mulutku, aku tak percaya ini! Aku merutuki tubuhku yang bertindak tak sesuai dengan akal pikiranku.

"Hn, kau mulai menikmatinya he?!" Sasuke menyeringai, kemudian berhenti melakukan aktivitas nya. Kukira dia akan melepaskanku dan berhenti menjamahku. Namun ekspektasi ku ternyata salah. Ia justru membuka resleting dan sedikit menurunkan celana jinsnya. Manik emeraldku membulat ketika melihat kejantanannya yang berdiri tegak di balik celana dalamnya. Sedetik kemudian ia juga menurunkan celana dalamnya.

Jantungku seakan ingin melompat keluar ketika melihat betapa besar kejantanan milik Sasuke. Aku diam tak berkutik tubuhku seakan kaku seperkian detik. Sasuke tak membiarkan kesempatan ini, ia mengunci kedua tanganku di atas kepala dengan tangan kirinya. Dan tangan kanannya melepas celana dalamku dan melemparkannya ke sembarang arah, kemudian mengarahkan kejantanannya ke depan lubang kewanitaanku. Aku yang kembali sadar berusaha berontak dan melepaskan diri darinya. Kali ini aku benar-benar takut!

"Diamlah Haruno kita selesaikan ini dengan cepat, bukankah kau sering melakukannya dengan Aniki? Jadi tak masalah bukan jika kau melakukan ini denganku?!"

Haruno? Aku sedih dia bahkan tak sudi menyebut namaku!Aku menggeleng-gelengkan kepalaku untuk menyangkal semua ucapannya padaku. Aku bahkan belum melakukan sex dengan siapapun.

"Kumohon Sasuke jangan lakukan ini padaku! Aku bahkan belum melakukannya dengan Itachi-nii, hiks." lelehan air mata terus mengalir mengajak sungai.

"Tch, kau tak pintar berbohong Haruno, mustahil bagi pasangan yang sudah menikah belum pernah sekalipun melakukan sex." sangkalnya tak percaya.

Aku terus menggeng-gelengkan kepala dan terus berontak. Sasuke malah semakin menjadi, ia terus mendorong kejantanannya masuk lebih dalam ke lorong kewanitaanku.

"Ukkhhhh! Apa ini!" ia berhenti sejenak ketika ada sesuatu yang menghalangi kejantanannya untuk melesak masuk lebih dalam di sana, mungkin itu selaput perawan milikku. Habis sudah jika Sasuke menenggelamkan seluruh kejantanannya di dalam diriku, aku benar-benar sudah tak punya muka untuk sekedar bertegur sapa dengan Itachi-nii.

Deg... "Aaaakkhhha... sa-sakit!"

"Uukkhhhhhh, lorong milikmu menjepit kejantananku dengan ketat. Ukh."

Akhirnya apa yang kutakutkan terjadi, tamat sudah riwayatku. Sasuke melakukannya, ia menerobos masuk menembus selaput keperawananku. Tubuhku lemas seakan tak bertenaga, rasa sakit yang kurasakan didaerah sensitifku tidak sebanding dengan rasa sakit yang kurasakan di dadaku. Sasuke kau sudah berhasil menghancurkan hidupku.

"Kau!Tck, mustahil ini benar-benar pertama kalinya untukmu?!" ia nampak terkejut ketika melihat cairan merah pekat mengalir di selah lorong kewanitaanku.

Aku diam tak merespon, aku masih tak menyangka pemuda yang menjadi cinta pertamaku melakukan hal ini padaku. Ini sulit ku percaya! Ia merenggut kesucianku disaat aku sudah mempunyai suami yang notaben kakaknya sendiri.

"Kenapa?" aku sedikit terkejut ketika suaranya berubah menjadi sedikit parau. Aku mencoba menatap wajahnya sekali lagi. Onyxnya menatapku lembut, aku seakan terhipnotis saat melihat tatapannya yang menatapku lembut dan terpancar raut penyesalan disana.

Sasuke kemudian membebaskan tanganku dari kuncian tangannya. Tangan kanannya membelai wajahku pelan. "Aku tak menyangka kalian berdua belum melakukannya!? Aku senang karena akulah pria pertama untukmu."

Deg... Deg... Apa katanya barusan? Nafasku seakan tercekat di tenggorokan. Bagaimana bisa ia mengatakan ini padaku setelah ia melakukan hal yang kejam padaku tadi. Ia menghancurkan hatiku berkeping-keping dan dia juga yang membuat ribuan kupu-kupu seakan menari-nari di perutku seakan ingin melesak keluar.

Curang! Kenapa? kenapa kau memperlihatkan wajah seperti itu padaku sekarang? Kau pintar sekali membuat hatiku luluh, Itu sama saja memberikan harapan untukku bukan? karena membuatku berfikir kau mungkin memiliki perasaan yang sama padaku.

Ini semua benar-benar membuatku frustasi karena tubuhku tak mampu untuk menolak dirimu. Sasuke memajukan wajahnya dan menutup matanya ketika ia akan mencium bibirku, ia melumat dan mengabsen barisan gigiku dengan lembut, ciumannya sangat berbeda dengan yang tadi. Ini gila! Aku bahkan merespon ciumannya dan membiarkannya mengobrak abrik isi mulutku.

"Hmmmpp!" ia mulai menggerakkan pinggulnya dan melakukan gerakan in-out pada kejantanannya. Libidoku seakan memuncak, rasa sakit yang tadi kurasakan di selangkanganku sekarang berubah menjadi kenikmatan yang belum pernah kurasakan seumur hidupku.

Ia terus melumat bibirku seiring melakukan gerakan in-outnya,semakin lama gerakannya semakin cepat, ia melepaskan lumatannya dan memelukku erat.

"Ahhh... Ahhh.. Sa-ku-ra."

Deg, dia mendesah memanggil namaku untuk pertama kalinya di selah permainannya. Suaranya terdengar begitu sexi membuat libidoku semakin mencapai puncaknya. Ukkhh, apa yang kupikirkan! Ini membuatku spcheless.

"Ahh... Ahhh... Uhhh." desahan pun lolos dari mulutku.

"Ukkhh, Sa-ku-ra, ahhh, pang-gil... na-ma-ku, uhhh."

Apa katanya? Aku tak salah dengar kan?

"Ukhh, ce-pat-lah!"

Kepalaku seakan kosong, entah kemana perginya akal sehatku saat ini. Yang ada dipikiranku hanya dirinya yang akhirnya menyadari keberadaanku. Aku bahkan memeluk dirinya dengan kedua tanganku.

"Sa-su-ke... Ahhh."

"Hn," Sasuke menambah cepat temponya, semakin cepat sehingga desahan demi desahan lolos dari bibirku dan juga bibirnya.

"Ahhh, ahhh, Sasuke."

"Sa-ku-ra, aahh."

"AAARRGGHHH!"

"AKKKHHHHHH!"

Kami mencapai klimaks bersama-sama. Aku merasakan sperma Sasuke masuk memenuhi rahimku. Deg... tiba-tiba aku tersadar, seakan-akan akal sehatku kembali.

"Sa-su-ke apakah kau mengeluarkan semua spermamu di dalam?" tanyaku sedikit bergetar.

Sasuke kembali berwajah dingin, kemudian beranjak diri dan merapihkan celananya. Aku pun memungut celana dalamku dan memakainya kembali.

"Rahasiakan ini darinya?"

"Eh!"

Ia menoleh dan menatap intens emeralku. "Jika tak ingin melukainya sebaiknya kau rahasiakan ini darinya. Mengerti!"

"Kau benar. Ukkhhh, ini salahku, aku menghianatinya." ucapku dengan penuh penyesalan karena tak mampu menolak hasratku.

Sreett, lagi-lagi ia menunjukkan sikap hangatnya padaku. Ia menarik tubuhku ke dalam pelukannya dan memelukku erat.

"Ini bukan salahmu, gomen!"

Mataku membulat mendengar permintaan maaf darinya. Suaranya terdengar bagaikan alunan lagu sedih, pelan tapi terasa menyakitkan! membuat dadaku ... apakah ini gara-gara pengaruh minuman? Sikapnya seringkali berubah-ubah. Jangan-jangan besok ia tak akan ingat apa yang ia lakukan padaku sekarang. Aku sedikit cemas, uhh... Apa yang sebenarnya aku inginkan? Dilain sisi aku mencemaskan Itachi-nii namun tak bisa kupungkiri hatiku gelisah memikirkan bagaimana sikap Sasuke padaku setelah ini? Apakah akan kembali dingin? Aku tak tau.

Ia melepaskan pelukannya, memakai kembali kaos dan jaketnya yang basah kemudian melengos pergi meninggalkan ku begitu saja seorang diri di kamar tanpa berucap apapun lagi. Aku bahkan tak sempat melihat ekspresi wajahnya tadi. Bruuk,kakiku seakan lemas tak bertulang, aku jatuh terduduk di atas ubin marmer yang dingin. Kami-sama apa yang sudah kulakukan? Aku mengangkat kedua tanganku dan melihatnya dengan seksama. Aku bahkan memeluk tubuhnya dengan kedua tanganku, lalu membiarkan ia memagut bibirku dan lebih parahnya lagi aku menikmati permainanya ketika menjamahku.

Istri macam apa aku ini yang dengan mudahnya tidur dengan adik iparnya sendiri. "Apa yang sudah kulakukan ini adalah dosa besar, hiks. Maafkan aku Itachi-nii, padahal kau sudah sangat baik ." ucapku lirih seraya menjambak rambutku frustasi.

"Sasuke, kapan kau datang? Kenapa bajumu basah?"

Deg... jantungku seakan hampir berhenti berdetak ketika ku dengar suara Itachi-nii di luar sedang bertegur sapa dengan Sasuke. Kami -sama bagaimana ini! Apa yang harus kulakukan sekarang?apakah ia tau jika Sasuke baru saja keluar dari kamarku!

Pikiranku buntu dan tak dapat berfikir apapun saat ini, aku tak ingin mengacaukan pesta pernikahanku karena masalah ini! Aku tak ingin menyakiti hatinya dengan fakta yang tak akan pernah bisa ia terima. Aku merasa benar-benar egois, tapi meski bagaimanapun aku harus merahasiakan hal ini -sama kumohon untuk kali ini saja tolong bantu aku.

.

..

TBC

Maaf lama update, maafff lanjutannya mungkin akan berhasil sama, aku bakal lama lagi update. Gomen. Sankyuu yang sudah R&R