a/n
Pertama, mau minta maap dulu karena lama ngga update, Mianhaeyooooo
Kedua, karena 'kayaknya' banyak yang masih ngawang soal penampakan akiel, jadi kayaknya di chapter ini bakal diusahain penggambaran Akiel nanti bakal lebih jelas dan detil. Ingat loh ya,, diusahain, entah hasilnya nanti bagaimana wqwq XD
Next, yang uda baca, jangan lupa review yaaapppssssssss biar updatenya bisa cepet XD
Dan buat yang minta NC .-.? gimana yaaaa?
Ah entahlahhhhh
Cekidot ajaaa
WARNING!
YAOI/BL/Shou-ai
Showki and others
hyunwoo/kihyun/akiel/wonho/jooheeon/changkyun/hyungwon/minhyuk
typos/no eyd/badplot/OOC/etc
romance/fantasy
monsta x member belong to them self
Bloodthirst punya © Arialieur
this story absoulutely mine
.
.
Blue Moon
slice 3
-Platina-
by Dhabum
enjoy
.
.
"Ada apa?" Tanya Hyunwoo.
"Akiel dan Wonho.. Menyerang keluarga Yoo.." Panik Jooheon.
"Apa?!"
Hyunwoo tidak bisa memikirkan apapun dalam kepalanya saat ini, yang jelas dia harus segera sampai di rumah Kihyun. Dia tidak peduli lagi dengan speedometer mobilnya yang hampir mencapai batas maksimal, dia juga tidak peduli dengan umpatan para pengemudi lain yang dia bahayakan karena cara menyetirnya yang ugal-ugalan. Namun saat sebuah mobil patroli tiba-tiba menghadang jalannya, Hyunwoo langsung saja memijak pedal remnya sampai dia sendiri bisa mendengar decitan nyaring ban mobilnya yang beradu dengan aspal jalan.
'Sial,, kenapa harus di saat seperti ini,,' batinnya mengumpat kasar.
Dia melihat seorang polisi dengan seragam patroli mengetuk kaca mobilnya, meski enggan Hyunwoo akhirnya menurunkan kaca mobilnya.
"Tuan,, bisakah Anda,,-
Belum selesai petugas tadi menyelesaikan kalimatnya, tapi dia sudah tergagap saat melihat tanda pengenal khusus yang diperlihatkan oleh Hyunwoo.
"Ma-maafkan saya,," setelah membungkuk dalam-dalam, petugas tadi akhirnya menyingkir dari pandangan Hyunwoo. Petugas tadi tentu saja tidak ingin mendapatkan masalah karena menghambat pekerjaan pemimpin kavaleri khusus seperti Hyunwoo.
Setelah mobilnya bisa meluncur dengan bebas di jalanan kota Seoul yang tidak sepadat tadi, Hyunwoo mulai memacu mobilnya sampai batas kecepatan maksimal.
"Apa sudah selesai?" tanya Wonho yang mulai bosan.
"Tunggu sebentar,," Jawab Akiel sambil melahap potongan jantung terahir di tangannya. "Hm,,, apa jantung orang baik-baik memang selalu seenak ini hyung?" tanya Akiel sambil menyeka sisa darah di sudut bibirnya.
"Jantung hanyalah jantung,, semua jantung rasanya sama menurutku,," jawab Wonho sambil menasik tangan Akiel lalu mendudukan sosok yang dikasihinya itu di daun jendela.
"Tapi beneran loh,, jantung tuan Yoo dan istrinya benar-benar enak.." kata Akiel sambil menatap Wonho yang sedang membersihkan tangannya dengan berbinar-binar.
"Benarkah?" tanya Wonho lagi sambil membersihkan cipratan darah yang mengotori wajah manis Akiel.
"Hm,, dan di mana pemuda Yoo itu?" tanya Akiel begitu sadar kalau target utamanya tidak di sana.
"Entahlah.."
"Heol,, apa ceritaku semembosankan itu? Kenapa kau tidak exited hyung?" Akiel merengut saat Wonhoo seakan tidak berminat dengan keseruan ceritanya.
"Tidak begitu Kiel,, hanya saja,, tiba-tiba aku teringat dirimu dulu saat tidak mau makan jantung manusia.."
"Oh,, itu kan dulu hyung,, jangan menyama-nyamakan masa lalu dan masa sekarang,," Akiel menjawab dengan ketus sambil merengut lucu. "Dan mungkin,, itu karena waktuku tidak banyak lagi.."
Wonho terdiam medengar jawaban terakhir Akiel. Dia memandangi wajah manis tuannya dengan pandangan yang sulit diartikan, sedangkan si empunya juga sedang menatap bulan purnama di langit lepas.
"Apa menurutmu Blue Moon itu benar-benar ada Wonho hyung?"
"Hm?" Wonho bukannya tidak mengerti apa yang dimaksud Akiel, dia hanya tidak tahu harus merespon seperti apa.
"Blue Moon,," jawab Akiel sambil memalingkan wajahnya yang semula memandangi bulan dan menatap Wonho dalam. "Apa,, aku bisa kembali?" tanya Akiel semakin lirih.
'Tidak Kiel,, tidak setelah semua dosa yang telah kau lakukan,,' batin Wonho. Dia tahu pasti jawabannya, tai dia tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya pada Akiel.
"Kurasa aku mulai bisa membaca pikiranmu hyung.." lirih Akiel, sambil menatap lurus kelam Wonho. Semuanya memang tertulis jelas di hitam mata Wonho.
"Kalau begitu,, " Wonho menarik Akiel mendekat, membiarkan tubuh kecil itu berlindung pada tubuhnya yang terlatih. "Kau hanya harus tidak menatap mataku saja kan?" Wonho mengelus sayang rambut kecoklatan Akiel.
"Kiel-ah,," setelah cukup lama diam, akhirnya Wonho membuka suaranya.
"Eum,," Akiel yang merasa nyaman di dalam dekapan Wonho hanya mendengung malas sebagai jawaban.
"Kurasa kita harus pergi.." jawab Wonho singkat sambil menatap halaman luar.
Kiel mengikuti arah pandang Wonho, dan di sana Hyunwoo sudah keluar dari mobilnya. Dan langsung siaga dengan sebuah revolver di tangannya. "Ohh,, dia sangat lambat.." remeh Akiel sambil membentangkan sayapnya, dan terbang begitu saja meninggalkan tubuh terkoyak keluarga Yoo di lantai, diikuti Wonho di belakangnya.
Hyunwoo langsung keluar dari mobilnya begitu dia sampai di pekarangan rumah Kihyun. Siaga dengan revolvernya, Hyunwoo menendang pintu utama di depannya, membuat pintu kayu itu terlepas dari engselnya.
"Yoo Kihyun!" suara besar Hyunwoo menggelegar di dalam rumah kosong Kihyun. Dengan buru-buru, dia langsung menuju ke lantai dua. Sedikit terkejut saat mendapati dua mayat paruh baya yang tergeletak di atas lantai. Bau anyir darah dan pemandangan meyat yang terkoyak membuat perutnya bergejolak, namun masih bisa dia tahan karena tujuan utamanya kemari bukan untuk memuntahkan isi perutnya.
"Yoo Kihyun!" sekali lagi dia meneriakkan nama Kihyun. Berharap kalau pemuda itu baik-baik saja, "Yoo Ki-" teriakannya terpotong saat dia mendengar suara dari salah satu kamar di lantai itu. Seketika Hyunwoo memasang mode waspada, moncong revolvernya dia arahkan ke depan sambil berjalan penuh waspada menuju kamar tadi.
Menempelken telinganya pada daun pintu, namun Hyunwoo tidak bisa mendengarkan apapun di dalam sana. Setelah mendendang pintu tadi sampai terbuka, Wonho mendapati Kihyun yang sedang mematung di dalam sana.
"Kihyun-ah.." Hyunwoo bisa sedikit bernafas lega saat dia melihat Kihyun baik-baik saja. Namun yang membuat hatinya mencelos adalah isakan Kihyun yang di tahan mati-matian dan matanya yang membulat ketakutan. "Yoo Kihyun.." dengan segera Hyunwoo mendekap tubuh Kihyun yang bergetar ketakutan. Dengan sayang Hyunwoo mengusap punggung Kihyun menenangkan.
"Eo-eomma,, appa.." racau Kihyun dalam dekapan Hyunwoo. "Hyung,, orang tuaku.. baik-baik saja kan?" Kihyun melepas paksa pelukan Hyunwoo, menatap pemuda itu seakan memohon untuk keadaan orang tunya. "Eommaku,, dia baik-baik saja kan?" Hyunwoo hanya diam, "Appa?" Hyunwoo ingin menjawab kalau mereka baik-baik saja, tapi dia tidak bisa membohongi Kihyun.
"Maafkan aku,, maafkan aku,," sesal Hyunwoo. Kihyun hanya menggelengkan kepalanya sambil berjalan mundur perlahan.
"Tidak,, kau pasti bohong,," air matanya tumpah lagi, bahkan lebih deras dari sebelumnya.
"Maafkan aku-"
"Tidak!" jerit Kihyun sambil berjalan cepat melewati Hyunwoo. Dia sangat yakin kalau orang tuanya baik-baik saja, anni,, dia berharap kalau ini semua hanya mimpi buruk dan orang tuanya akan baik-baik saja.
Dengan gesit Hyunwoo menarik tangan Kihyun, membuat pemuda itu sedikit tersentak. Hyunwoo tidak boleh membirkan Kihyun melihat keadaan orang tuanya yang seperti itu.
"Lepaskan aku,, aku ingin appa dan eomma,," Kihyun meronta pelan, meminta Hyunwoo melepaskan tangannya. Namun bukannya melepaskan, Hyunwoo justru menarik tubuh Kihyun Kuat. Membuatnya mau tidak mau masuk ke dalam dekapan Hyunwoo lagi. "Eommaaaa,,,," Kihyun hanya bisa menangis pasrah dalam dekapan Hyunwoo.
Kihyun memandang kosong pemandangan kota Seoul di depannya. Jejak-jejak air mata kering masih terlihat jelas di wajah Kihyun, pun matanya yang membengkak karena terlalu banyak menangis. Jika memikirkan tentang kedua orang tuanya, rasanya Kihyun ingin menangis lagi.
Hyunwoo masuk ke kamar Kihyun -yang sebenarnya adalah kamarnya- setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. Tersenyum miris saat melihat Kihyun yang lagi-lagi hanya menatap keluar jendela dari apartemennya dengan pandangan kosong. Dia akan melakukan apapun asal Kihyun kembali dengan senyum cerahnya, namun Hyunwoo juga tidak bisa egois. Kalau mengingat alasan Kihyun menjadi seperti ini, semua orang pasti akan sangat tertekan kalau ada di posisi Kihyun.
"Abu kedua orangtuamu sudah ada di krematorium,," Hyunwoo membuka suaranya pelan. Setelah meletakkan semangkok bubur yang masih panas di atas meja, dia lalu mendekati Kihyun yang masih termangu. "Apa kau tidak lapar?" tanyanya pelan sambil merapikan rambut Kihyun yang -sangat- berantakan.
Kihyun hanya menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Makanlah sedikit saja hm,, sudah dua hari perutmu kosong.."
"Aku,, sendirian sekarang,,"
"Tidak,," sanggah Hyunwoo.
"Aku harap aku mati bersama kedua orang tuaku,," mata Kihyun mulai berembun lagi.
Hyunwoo tidak suka melihat air mata, terlebih air mata orang yang dikasihinya. Dengan lembut jarinya menghapus tetesan air mata Kihyun. Hyunwoo tidak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak merengkuh Kihyun, dia hanya ingin menunjukkan kalau Kihyun tidak sendirian, kalau ada dirinya yang akan melindungi Kihyun. Tidak menolak, Kihyun pun mulai menyamankan diri dalam dekapan hangat Hyunwoo.
"Aku tidak akan membiarkanmu sendiri.." bisik Hyunwoo sambil memberikan kecupan ringan di pelipis Kihyun. Tidak tahu harus merespon bagaimana, Kihyun hanya bisa mengangguk mengiyakan. Kata-kata Hyunwoo seolah bisa menyembuhkan luka di hatinya, diiringi air matanya yang jatuh makin deras, air mata bahagia.
Hyunwoo memandang Kihyun penuh sesal, baru kemarin dia berjanji untuk tidak meninggalkannya sendiri. Dan belum genap 24 jam, dia harus melanggar janjinya itu.
"Maafkan aku,," sesal Hyunwoo.
"Gwenchana.." balas Kihyun sambil tersenyum singkat.
"Hyunwoo hyung! bisa lebih cepat sedikit?" Jooheon yang sudah menunggunya di dalam mobl mulai membuat keributan lagi.
"Sudh pergilaah,, Jooheon sudah menunggumu,," kata Kihyun lembut sambil mendorong pundak Hyunwoo.
"Aku,-"
"Lagi pula ini kan tugasmu hyung,, aku tak apa,, sungguh,, aku janji tidak akan melakukan hal bodoh,," kata Kihyun meyakinkan.
"Y-ya,," Hyunwoo sedikit gelagapan saat Kihyun seolah bisa membaca pikirannya. "Baik-baiklah di rumah,, aku berjanji akan merampungkan tugasku secepatnya.." Hyunwoo segera membalikkan badannya, namun sentuhan tangan Kihyun membuatnya berhenti.
"Aku,, akan menunggumu,," Kihyun sedikit berjinjit untuk memberikan kecupan hangat di pipi Hyunwoo. "A-ku,, ah maaf.." seolah baru sadar, Kihyun buru-buru menjauhkan dirinya. Sedangkan Hyunwoo masih termangu di tempatnya, merasakan hangat sisa bibir Kihyun di pipi kirinya.
Selama perjalanan Jooheon yang melihat adegan 'kecupan' tadi terus saja menggoda Hyunwoo habis-habisan.
"Aku bisa merasakan aura percintaan di sini.." celotehnya sambil sibuk memegang kemudi. Membuat Hyunwoo yang duduk di sampingnya mengeram marah, namun itu justru membuat Jooheon makin ingin menggodanya.
"Bukankah kau bilang dia anak Profesor Yoo?"
Ups,, Jooheon sempat mengabaikan keberadaan Minhyuk yang sedang duduk di kursi belakang. Yang artinya Minhyuk juga melihat semua adegan manis di depan rumah Hyunwoo tadi. Terlebih kenyataan kalau Minhyuk pernah menjalin hubungan dengan leadernya, membuat Jooheon diam-diam merutuki perbuatannya barusan.
"Y-ya,," jawab Jooheon kikuk.
"Kau bilang siapa namanya tadi? Yoo?" tanya Minhyuk.
Jooheon bisa merasakan rasa tidak sukaan dari cara bicara Minyuk, membuatnya ragu untuk menjawab pertanyaan pemuda berambut putih itu.
"Kihyun,, namanya Yoo Kihyun.." jawab Hyunwoo.
"Oh,, tunggu dulu,, apa profesor Yoo punya dua anak?"
"Anni,, setahuku Kihyun hyung adalah anak tunggal,," jawab Jooheon
"Kurasa nama anak prof Yoo bukan itu,, tapi siapa ya,,," Minhyuk sedikit berpikir.
"Aku sedikit terkejut kau mau meninggalkan laboraturiummu Min,," kata Hyunwoo, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Hm,, karena tujuan kita berhubungan dengan penelitian yang sedang kulakukan,, jadi aku berpikir untuk mengikuti kalian,, siapa tahu aku bisa mendapatkan data baru tentang racun itu.." jelas Minhyuk.
"Racun? Maksudmu Demon Poison yang disebutkan Changkyun?" tanya Hyunwoo.
"Yaa,, mereka bilang,, Akiel dan Wonho sudah mulai menyebarkan demon poison,,"
"Hiii,,, memikirkan kemungkinan itu saja sudah membuatku merinding,," celetuk Jooheon.
Hyunwoo diam, menatap jalanan lebar di depannya. Namun otaknya pun sebenarnya melakukan hal yang sama dengan Jooheon, membayangkan segala kemungkinan yang ada.
Sampai di tempat kejadian, Hyunwoo, Minhyuk dan Jooheon langsung disuguhkan dengan beberapa sosok mayat yang sudah ditutupi dengan beberapa lembar kain. Tapi meski begitu mereka bertiga masih bisa melihat cipratan pada tembok bangunan itu.
Hyunwoo berjongkok sebentar, lalu membuka selembar kain yang menutupi mayat yang berada paling dekat dengannya. Segera dia meringis pelan saat mendapati dada mayat tadi kosong, jantungnya hilang.
"Kemungkinan besar ini bukan ulah Akiel dan Wonho,," lirih Minhyuk yang ikut berjongkok di sebelahnya.
"Bagaimana kau bisa tahu?" celutuk Jooheon yang juga iku berjongkok disebelah mayat tadi.
"Selama tiga tahun, Wonho dan Akiel hanya memangsa 'orang-orang bermasalah' saja, kau tahu mereka seakan-akan menghukum perbuatan mereka yang luput dari petugas hukum. Tapi tidak dengan dia.." terang Minhyuk. "Orang ini sama sekali tidak memilii catatan kriminal,, intinya dia bersih.. Dan lihat.."Minhyuk mulai menggerakkan leher mayat tadi, "Ini,, luka ini,, Akiel dan Wonho bisa membunuh mangsanya dengan mudah tanpa harus menyerang lehernya,," Minhyuk memperlihatkan luka sayatan abstrak di leher sang mayat, "Tapi dia,, yang melakukan ini tidak seprofesional Akiel dan Wonho.."
Hyunwoo menganggukkan kepalanya mengerti, penjelasan Minhyuk sangat masuk akal. "Jadi maksudmu,, demon poison benar-benar ada?"
"Ya,, begitulah,, kemungkinannya sangat besar hingga saat ini.."
Hyunwoo menyesap batang rokok ditanganannya dalam-dalam, membiarkan asap yang keluar dari sela-sela bibirnya membumbung diudara sebelum perlahan-lahan menghilang. Otaknya terasa penuh, tapi Hyunwoo sendiri tidak tahu apa yang dia pikirkan. Yang jelas dia hanya merasakan sesak, sesak karena memikirkan Akile, Wonho, pekerjaannya,,, dan Kihyun?
Ah apa yang dilakukan pemuda manis itu? Hyunwoo tersenyum simpul saat mengingat kembali saat Kihyun mengecup pipinya, apa jangan-jangan dia gila? Ah terserah, tapi tiba-tiba saja dia ingin mendengar suara manis Kihyun.
"Sedang kasmaran,, Timjangnim?"
Hyunwoo sedikit terkejut mendengar suara itu, namun dia makin terkejut lagi saat menoleh pada sumber suara dan mendapati Wonho yang sedang berdiri angkuh di depannya.
"Hallo,, Son Hyunwoo,," sapa Wonho dengan segala kesombongan yang dia punya.
"Kau brengsek!" umpat Hyunwoo lalu segera mengarahkan moncong revolvernya pada Wonho setelah membuang batang rokoknya.
"Kau kira revolvermu itu bisa menakutiku?" Wonho sama sekali tidak gentar bahkan ketika revolver itu mengarah lurus padanya.
"Benarkah,, tapi maaf saja,, revolver milikku ini bukan revolver biasa.."
'Dor!' Hyunwoo melepas satu tembakan.
"Peluru platina.. cih" Wonho meringis pelan saat peluru Hyunwoo melukai pundaknya. Membuat darah merembes mewarnai baju putih yang dikenakan Wonho berwarna semerah darahnya. "Rupanya kau sudah mulai menggunakan perkamen sial itu.
Hyunwoo memberikan seringainya menang, beruntung karena Kihyun sebelumnya sudah bisa membaca sebagian perkamen tua itu dan memberikan taukan beberapa info penting padanya. Tidak mau membuang kesempatan emasnya, Hyunwoo langsung saja menguhaji Wonho dengan tembakan peluru platinanya. Namun Wonho dengan mudah menghindarinya.
"Ayolah Son,, kau tidak berpikir untuk membunuhku dengan peluru itu kan?" remeh Wonho.
"Sial!" Umpat Hyunwoo saat menyadari kalau pelurunya sudah kosong.
"Ups,, kehabisan peluru?" Wonho menyeringai saat menyadari revolver Hyunwoo sudah kosong. "Lalu bagaimana bisa kau membunuhku? Bocah?"
Hyunwoo sedikit membatu saat tiba-tiba saja Wonho ada di belakangnya. Dia bisa merasakan kuku tajam Wonho menggores tubuhnya.
"Tutup mulutmu,," dengan sigap Hyunwoo menyikut perut Wonho, membuat pemuda itu terhuyung kebelaang sambil menahan sakit di perutnya.
"Tidak heran mereka memilihmu sebagai pemimpin pasukan khusus Son,, kekuatanmu luar bisa.." Wonho meringis pelan merasakan perutnya yang berdenyut nyeri.
"Apa kau bersenang-senang tanpa aku,, Wonho hyung?"
"Kiel-ah.."
Hyunwoo menoleh pada sosok yang dipanggil Kiel oleh Wonho tadi. Dan dia bisa melihat Akiel sedang melayang sengan sayap besarnya, tidak bisa melihat begitu jelas penampakan wajah sosok itu karena lampu yang temaram.
"Apa kau,, Son Hyunwoo?" Hyunwoo sedikit bergidik saat mendengar suara lembut Akiel menyapa pendengarannya, ini adalah kali pertama mereka bertemu.
'Slashh!'
Hyunwoo melebarkan matanya saat tiba-tiba saja sebuah anak panah menancap di bahu kiri Akiel, membuat sosoknya yang awalnya terbang dengan percaya diri itu tiba-tiba jatuh kebawah. Mengingat mereka ada di lantai 27, Hyunwoo tidak tau apa yang akan terjadi kalau Akiel sampai jatuh kebawah dari ketinggian ini.
"Akiel!" Wonho yang melihat tuannya jatuh begitu saja langsung mengembangkan sayapnya dan melesat menuju Akiel.
Sempat membeku sejenak, namun Hyunwoo segera berlari menuju pagar pembatas dan melongok ke bawah, penasaran dengan apa yang terjadi. Namun dia sama sekali tidak menemukan apa-apa di bawah sana, Akiel dan Wonho lenyap.
"Di mana mereka?" tanya Minhyuk yang baru muncul sambil membawa busur panah besar di tangannya.
"Kau yang memanahnya tadi?" tanya Hyunwoo sanksi.
"Ya,, dan ini panah khusus dari platina,, mereka bilang ini salah satu kelemahan Akiel dan Wonho".
"Hm,, benar.."
"Setidaknya aku meninggalkan bekas luka yang tidak akan hilang dalam waktu singkat di bahunya.." lirih Minhyuk
"Kenapa kau tiba-tiba muncul tadi Kiel-ah?" tanya Wonho lembut sambil mengobati luka Akiel.
"Entahlah,," Kiel menggeleng kecil. "Kadang,, aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri.." kecut Akiel. "Aku penasaran,, sampai kapan aku bisa menunggu.." Kiel menerawang pada langit hitap di luar sana.
"Kurasa ini akan meninggalkan bekas luka,, mereka menggunakan peluru platina, bahkan mata panah itu juga dari platina.."
"Ah apa aku menjadi terlalu murah hati pada mereka?" lirih Akiel.
"Ya,, menurutku.." gumam Wonho.
Selama perjalanan kembali ke Seoul, Hyunwoo sama sekali tidak masuk dalam obrolan Jooheon dan Minhyuk. Pikirannya mengulas kembali pertemuannya dengan Wonho dan Akiel dan betapa hebat Kekuatan mereka. Baru kali ini selama dia bertugas Hyunwoo merasa begitu terintimidasi dengan musuhnya, dia merasa kecil dan,, takut.
"Bagaimana dengan racunnya hyung?"
"Eum,, kukira hipotesis Changkyun sangat besar kemungkinannya.." jawab Minhyuk sambil menerawang keluar jendela.
Secepatnya setelah sampai di Seoul,Hyunwoo harus berbicara dengan Kihyun mengenai perkamen tua itu. Dia harus menemukan kelemahan Wonho dan Akiel, ya,, harus. Kihyun adalah harapan terakhirnya saat ini.
Hyunwoo mungkin lelah, tapi entah kenapa dia merasa semangat saat membayangkan wajah Kihyun yang menyambutnya di rumah nanti. Dia tidak sabar dan sempat terlintas difikiranna untuk memperjelas statusnya dengan Kihyun. Kalau diingat-ingat, mereka memang belum memiliki status hubungan yang jelas. Dan Hyunwoo pun semakin mantap untu memperjelas status mereka. Dan itulah alasannya membawa sebuket besar bunga mawar merah sebagai propertinya dan sebagai kejutan.
Hyunwoo sudah memasukkan password rumahnya dan sedang melepaskan sepatunya saat mendengar teriakan Kihyun.
"Argh!"
Dengan gesit Hyunwoo berlari menuju kamarnya, matanya melebar dan buket mawar di tangannya jatuh begitu saja. Disana, dia melihat Wonho yang sedang menancapkan taringnya pada leher Kihyun.
"Hyungh,," Kihyun merintih sambil memanggilnya dengan air mata yang bercucuran saat merasakan sakit luar biasa di lehernya.
Hyunwoo masih mematung, bahkan saat Wonho menghemaskan tubuh lemas Kihyun begitu saja ke atas lantai.
"Kekasihmu sangat manis,, " Wonho meneringai sambil menjilat sisa darah Kihyun disudut bibirnya setelahnya di melompat keluar dari jendela kamar Hyunwoo yang terbuka
.
.
TobeContinue
270916
Mind to review manteman?
Haha,, maafkan untuk typo nya yang lebai banget DX
Hmmm,, apa lagi yaaaahhhh
pokoknya review review reviewwwwww
Makasiiii
