Mr Actor and Ms Actor
Seventeen © Pledis Ent dan emak babehnya.
Mingyu milik Wonwoo dan Wonwoo milik Mingyu, udah itu aja.
WARN! : YAOI, Light OOC, Polos!Wonwoo, Mesum!Mingyu(?), alur gak jelas, TYPO BERTEBARAN, alay, de el el.
Happy Reading!
A/N : Hati-hati sama Mesum!Mingyu!, fic ini jadi rated m karna otak mesum dia! /ditabok/
.
.
.
Wonwoo terlampau bahagia dan bahkan ia tidak dapat merapatkan mulutnya dengan baik lagi karna senyuman di wajahnya tidak pernah sirna saat perkataan Seungcheol kemarin malam kembali terngiang indah di kepalanya.
Keesokan harinya, Wonwoo bangun pagi sekali dan menyiapkan dirinya dengan begitu sempurna, menggunakan pakaian terbaik yang dia miliki di lemarinya. Ini hari yang sangat penting baginya, semua harus terlihat sempura, setidaknya dia harus membuat beberapa orang disana terperangah dengan ketampanannya.
Pemuda bermarga Jeon itu kembali memerhatikan pantulan dirinya dibalik cermin, memastikan tidak ada setitikpun noda atau debu pada bajunya.
Udara di luar rumahnya terasa begitu sejuk, Wonwoo menghirup udara segar itu dalam-dalam, entah udara saat itu memang udara terbersih sepanjang hidup Wonwoo atau karna suasana hatinya yang sedang begitu bahagia.
Wajahnya tidak dalam mode datar, sepanjang perjalanan dia memberikan seulas senyum simpul kepada semua tetangga-tetangga yang tidak sengaja dijumpainya.
Sepertinya pemuda dengan sweater pink itu bukanlah Jeon Wonwoo.
Wonwoo tidak dapat menahan senyumannya saat tiba pada sebuah gedung super megah dan tinggi dihadapannya, ia kembali memastikan alamat yang dimaksud Seungcheol, mungkin saja dia salah gedung atau ternyata gedung yang dimaksud Seungcheol tertutupi gedung besar ini.
Setelah pengecekan berkali-kali, ia yakin sekali ini tempatnya, astaga. Apakah Wonwoo sebentar lagi akan menjadi aktor terkenal?
Kakinya melangkah mantap ke arah meja resepsionis yang merupakan tempat pertama yang dilihatnya setelah memasuki pintu kaca yang dapat terbuka dengan sendirinya itu.
"Permisi, aku datang atas perintah Choi Seungcheol." Bukannya ingin meledek, tapi dari kejauhan Wonwoo malah terlihat seperti anak-anak yang sedang mencari orang tuanya di pusat informasi.
Seorang wanita yang duduk disana tersenyum pada Wonwoo, "Apakah kau sudah membuat janji?"
Wonwoo menggaruk tengkuknya kebingungan, "Ah... Aku hanya disuruh datang ke tempat ini, dia tidak mengatakan apapun lagi. Tapi aku membawa resumeku."
Wanita itu masih saja tersenyum, pasti dia sudah dilatih untuk selalu tersenyum ramah dalam mood apapun. "Tolong tunggu sebentar, aku akan menghubungi Tuan Seungcheol dulu."
Wonwoo tidak tahu harus menjawab apa jadi dia hanya mengangguk kikuk. Beberapa saat kemudian Wonwoo melihat wanita itu berdiri. Senyum diwajahnya tidak pernah hilang seolah itulah ekspresi aslinya.
"Kearah sini, aku akan mengantarkanmu kepada seseorang."
.
.
.
Wanita itu membawa Wonwoo ke suatu ruangan, di dalam ruangan itu ia dapat melihat seorang tengah duduk dan sibuk, hal pertama yang Wonwoo tangkap dari penampilannya adalah dia begitu imut, tapi keimutan itu tertutupi oleh dahinya yang mengkerut tidak ramah.
"Astaga, Somi. Bisakah kau tidak menggangguku saat ini? Kau tidak tahu jika aku banyak sekali pekerjaan?!"
Baru saja mereka memasuki ruangan dan Wonwoo sudah terkejut dengan sambutan yang sangat tidak ramah itu, si wanita yang berdiri di sampingnya tidak tersinggung, malah memasang wajah cemberut seperti wanita yang marah kepada kekasihnya.
"Oppa, aku juga tidak ingin mengganggumu, tapi Seungcheol oppa membawakan calon lawan mainnya Mingyu."
Wonwoo bingung, Mingyu? Siapa yang dimaksud wanita bernama Somi ini? Tapi dia mengabaikan fakta itu dan lebih tertarik dengan komunikasi antara dua orang ini, kenapa mereka begitu tidak formal saat berbicara dalam jam kerja?
Pemuda imut berwajah galak itu seketika menghentikan pergerakan jarinya yang sebelumnya sangat sibuk mengetik, lalu tatapannya tertuju langsung ke arah Wonwoo. Wonwoo merasa risih ditatap seperti itu, namun dia berusaha mengembalikan kepercayaan dirinya.
"Halo, aku Jeon Wonwoo." Wonwoo sedikit membungkukkan badannya ke arah pemuda imut yang belum diketahui namanya itu sebagai formalitas.
"Somi, kau keluar saja sana." Tangannya berkibas tanda mengusir, lalu tanpa banyak berkata Somi pergi meninggalkan mereka berdua sendirian di ruangan besar ini. Wonwoo merasa aura canggung yang begitu kentara sekali menggelayut di sekitarnya.
Pemuda imut itu berdiri, "Namaku Lee Jihoon. Aku yang akan membicarakan kontrak denganmu."
Wonwoo tercengang, menatap Jihoon tidak percaya, "Apa? Memangnya aku tidak perlu di tes dulu? Aku langsung diterima?"
Jihoon tidak tersenyum, tangannya sibuk mencari-cari sesuatu di dalam laci mejanya, "Tidak perlu, Seungcheol sudah menjelaskannya kepadamu, kan? Kalau begitu kau pasti sudah tahu. Oh ya aku belum mempersilakanmu untuk duduk."
Wonwoo duduk berhadapan dengan Jihoon, matanya memandang pemuda yang tengah sibuk itu diam.
Setelah Jihoon menemukan sesuatu yang dicarinya dia langsung menyodorkannya pada Wonwoo, jari-jarinya bergerak dengan cepat menunjuk salah satu sisi kertas tersebut, "Kau hanya perlu tanda tangan disini, disini, dan disini."
Rasa pernasaran benar-benar mengusai otak Wonwoo, kenapa dia bisa tiba-tiba diterima? Jangan-jangan dia sedang ditipu lagi.
Wonwoo berujar ragu, teringat masa kelamnya di masa lalu, "Aku... Benar-benar akan menjadi pemeran utama? Aku akan menjadi aktor? Aku tidak akan dijadikan figuran pejalan kaki yang berlalu lalang kan?"
Sepasang manik bulat Jihoon menatap Wonwoo dengan tatapan yang sulit diartikan, "Astaga, tentu saja. Malah kau akan bermain dengan aktor super terkenal."
Wonwoo yakin sekali ia baru saja melihat Jihoon memutar bola matanya dan mendesah jengkel tepat setelah mengatakan kata super terkenal.
Sebenarnya Wonwoo merasa aneh dengan semua ini, dia tidak mengikuti casting dan dia tidak memiliki bakat ataupun pengalaman apapun, tapi kini dia diterima untuk memainkan film dengan aktor super terkenal yang dikatakan Jihoon barusan, menjadi pemeran utama dengan perusahaan sebesar ini.
Ini hanya perasaan Wonwoo saja atau semua ini terlihat janggal?
Tapi menjadi seorang aktor adalah impiannya sejak dulu, dia sudah mengikuti banyak casting dan tidak ada yang mau menerimanya, kini persis di hadapannya terdapat kontrak besar oleh perusahaan besar.
Seungcheol juga mengatakan hutangnya akan lunas jika bersedia menjadi salah satu pemain dalam film yang entah apa itu─Wonwoo belum tahu.
Wonwoo berpikir keras di dalam otaknya sambil menggenggam pena di tangan kanannya erat-erat, setelah tekadnya bulat ia menarik nafasnya pelan.
"Setidaknya aku tidak dijadikan bintang porno, kan?" Wonwoo bergumam dalam hati dan membubuhkan tanda tangan pada kertas tersebut tiga rangkap.
Jihoon yang sebelumnya menunggu dengan sabar akhirnya memberikan sebuah senyuman tipis kepada Wonwoo, "Terima kasih Wonwoo-ssi atas kerjasamanya." lalu Jihoon menarik tangannya untuk berjabatan dengan Wonwoo.
Wonwoo menerima jabatan tangan itu dengan senyum yang sama, satu-satunya yang dapat Wonwoo pikirkan saat ini adalah Jihoon ternyata benar-benar imut saat tersenyum.
"Ke arah sini, kau akan bertemu dengan lawan mainmu, aku akan menghubunginya."
Wonwoo hanya menuruti perintah Jihoon dan mengekorinya. Siapa yang akan menjadi pathner kerjanya? Apakah orangnya baik? Semoga saja baik karna Wonwoo yakin dia pasti akan menyusahkan si aktor super terkenal ini.
Di tempat lain, seorang pemuda tinggi sedang melangkahkan kaki panjangnya dengan tenang menyurusi koridor, menuju ke ruangannya.
"Kita lihat seperti apa calon lawan mainku nanti."
Sebuah seringaian terukir jelas di bibirnya sebelum pemuda itu tepat menghilang di belokan koridor.
.
.
.
Wonwoo memasuki sebuah ruangan, ruangan itu tidak kalah besar dengan ruangan Jihoon, Wonwoo jadi bertanya-tanya apakah semua ruangan disini sebesar ini? Atau ini masih versi kecilnya?
Namun ruangan ini tidak seperti ruangan kerja Jihoon yang kentara sekali seperti ruang kantor pada umumnya, malah ini lebih terlihat seperti ruang santai atau ruang keluarga.
Walaupun untuk ukuran sebuah ruang santai pun sebenarnya ini masih terlalu mewah.
Wonwoo terpana dengan desain ruangan ini karna semuanya terlihat begitu pas, dindingnya berlapis wallpaper bewarna mahoni yang serasi dengan lantai marmer bewarna kecoklatan dibawahnya. Terdapat sebuah lampu gantung dengan bentuk rumit bewarna keemasan menggantung di tengah ruangan, tidak terlalu besar namun juga tidak kecil.
Pasti pemilik ruangan ini merancang ruangannya sendiri.
Televisi super besar tertempel pada dinding ruangan yang berhadapan langsung dengan sebuah sofa empuk bewarna coklat yang kini sedang Wonwoo duduki, Wonwoo makin yakin jika pemilik ruangan ini suka hal serba besar.
Ada sebuah lemari besar di sudut ruangan yang berisi berbagai macam kaset─jika Wonwoo tidak salah menerka.
Ini sebenarnya ruangan kantor atau apa? Siapa yang memiliki ruangan ini?
Jihoon sudah meninggalkannya beberapa saat yang lalu, dari raut wajahnya terlihat sekali dia ingin melanjutkan pekerjaannya yang sebelumnya tertunda karna kedatangan Wonwoo.
Sebelum kepergian Jihoon, pemuda imut itu memberikan setumpuk kertas yang merupakan kerangka kasar naskah film yang mereka maksud kepada Wonwoo, Wonwoo menghela nafas lega. Ternyata memang dia tidak ditipu, Wonwoo kira dia akan dijadikan bintang porno.
Wonwoo pernasaran dengan plot film yang akan dibuat oleh mereka dan kini jemari kurusnya tengah sibuk membolak-balik naskah tebal itu. Namun setelah dia membaca naskah itu matanya membulat horror.
Ini bahkan lebih menyeramkan dibandingkan menjadi bintang porno.
"A-apa apaan semua ini? Kisah cinta macam apa ini?!" Wonwoo membolak balik naskah itu dengan panik, membaca kalimat per kalimat yang tercetak disana secara asal dan tergesa-gesa. Matanya kian menatap horror tumpukan kertas yang sedang di genggamnya itu.
"I-ini kan, percintaan sesama jenis! Astaga, film macam apa ini?! Aku sudah ditipu Seungcheol hyung!" Wonwoo berteriak marah, dalam hati mengutuk Seungcheol. Ia baru saja akan memikirkan berbagai hal untuk memaki Seungcheol tapi sesuatu seolah menghentak dirinya. Wonwoo harus pergi secepatnya dari sini.
Wajah Wonwoo sudah memucat, dia sudah terduduk disana selama tiga puluh menit dan dirinya masih dikuasai oleh kepanikan yang teramat kuat. Wonwoo meletakkan naskah itu secara sembarang dan bersiap untuk pergi dari sana, dia bersumpah tidak akan pernah kembali lagi kesini.
Pemuda manis itu sudah memikirkan berbagai hal yang akan disemburkannya kepada Seungcheol setelah ia pergi dari sini, namun sebelum ia dapat mengapai gagang pintu, gagang tersebut sudah bergerak dan pintu terbuka dari luar, Wonwoo mundur beberapa langkah saat pintu itu nyaris saja menabraknya.
Ada seorang pemuda dihadapannya, badannya tinggi, tatapan matanya tajam, hidungnya mancung dan kulitnya kecoklatan. Sepasang matanya menatap Wonwoo dengan dahi yang sedikit berkerut.
Wonwoo berujar tidak sabaran, dia bahkan tidak memikirkan siapa orang di hadapannya ini, "Apakah kau bisa memberitahuku dimana jalan keluar dari gedung ini?"
Pemuda tinggi tersebut menatap Wonwoo lekat-lekat, entah kenapa banyak sekali yang menatapnya hari ini, tapi Wonwoo merasa tatapan dari pemuda ini adalah tatapan yang paling membuatnya takut, Wonwoo merasakan darahnya berdesir karna sepasang mata tajam itu belum berhenti menatapnya.
"Kau kenapa berada disini?" Suaranya berat, tapi tidak seberat Wonwoo.
"Aku sebelumnya disuruh seseorang untuk datang kesini tapi itu semua tidak jadi, aku ingin segera pergi dari sini. Bisakah kau memberitahuku dimana jalan keluar paling cepat?" Wonwoo semakin panik, semakin lama dia membuang waktunya disini semakin menyeramkan baginya jika ketahuan kabur.
"Kau Jeon Wonwoo?"
Wonwoo mengerjapkan matanya antara bingung dan terkejut, "Kenapa kau bisa tahu?"
Pemuda itu menatap Wonwoo dengan senyum penuh arti, langkah kakinya mendekat pelan ke arah Wonwoo dan bergumam. "Jadi... Kau lawan mainku?"
Wonwoo melebarkan matanya.
Oh Tuhan, apa salah Wonwoo. Kenapa semua ini menimpa dirinya? Dan bahkan sekarang Wonwoo bertemu langsung dengan orang yang paling tidak ingin ditemuinya saat ini.
Sebelum pemuda tinggi itu sempat menghapus lebih jaraknya dengan Wonwoo, Wonwoo bertindak lebih cepat, ia mendorong tubuh besar pemuda yang menghalangi jalannya keras.
Wonwoo nyaris berhasil melancarkan misi kaburnya, kakinya sudah siap berlari sekencang mungkin. Tapi seolah keberuntungan tidak berpihak kepadanya, pemuda itu memegang dan menarik lengan Wonwoo kembali masuk dengan cepat lalu menendang pintu agar tertutup supaya Wonwoo tidak dapat kemana-mana.
Hanya mereka berdua di dalam ruangan ini. Wonwoo bahkan tidak berani membayangkan bagaimana nasibnya sekarang.
"Kenapa kau terlihat buru-buru sekali? Tidak ingin menemui calon lawan mainmu dulu sebelum pergi?" Pemuda itu bergumam rendah, punggung tangannya mengelus pipi putih Wonwoo. Badan besarnya menghimpit Wonwoo di antara pintu dan tubuhnya sendiri. Mengunci tubuh Wonwoo dalam kukungan lengan kekarnya.
Jantung Wonwoo tiba-tiba berdetak sangat cepat saat menyadari jarak wajah mereka bahkan tidak lebih dari sejengkal, Wonwoo dapat dengan jelas memerhatikan garis wajah pemuda ini. Mata kecoklatannya menatap Wonwoo begitu intens. Hell, Wonwoo itu masih lurus, tapi siapa yang tidak gugup saat ditatap dengan jarak sedekat ini?
Wonwoo menatap pemuda dihadapannya, pergerakannya terbatas dan Wonwoo tidak dapat bergerak dengan leluasa lagi sekarang.
"Kau... Mingyu?" Wonwoo ingin sekali memastikan hal itu meskipun dia yakin seseorang di hadapannya ini memang bernama Mingyu─pria yang disebut-sebut oleh Somi barusan.
Tapi pemuda itu tidak membalas pertanyaan Wonwoo, malah semakin menghimpit tubuhnya hingga celah diantara mereka berdua benar-benar terhapus, Wonwoo dapat merasakan dada mereka yang bersentuhan, dan Wonwoo merasa terhina karna pemuda ini pasti dapat mendengar suara jantung Wonwoo yang berdegub sangat cepat.
Dia menatap Wonwoo lekat-lekat dengan sepasang mata tajamnya, memperhatikan setiap inchi wajah Wonwoo seperti sedang memeriksa noda pada pakaian putih, kedua lengannya menempel pada pintu tepat di antara kepala Wonwoo.
Dan Wonwoo berusaha sekali untuk menghindari tatapan tajam itu.
"Kau manis, aku suka sekali raut wajah seperti ini." Pemuda itu berbisik tepat di telinga Wonwoo, suaranya teramat rendah seolah ia sedang mendesah.
Rambut hitam mengkilapnya yang hampir jatuh sampai mata menggelitik telinga Wonwoo, Wonwoo tidak tahan dengan sensasi geli yang diberikan pemuda ini di telinganya dan itu membuat darahnya mengalir lebih cepat dan bulu-bulunya meremang.
Pemuda di hadapannya ini─atau kita sebut saja Mingyu, mengatakan hal semacam itu tepat pada pertemuan pertama mereka? Sebenarnya Seungcheol ini bekerja di tempat seperti apa, sih?
Wonwoo berusaha melepaskan diri dari penjara tampan dihadapannya ini, tapi bahkan Wonwoo merasa lututnya sulit digerakan, Wonwoo merasa benar-benar payah dengan keadaannya saat ini. Dia tidak selemah itu, tapi entah kenapa seseorang di hadapannya ini memiliki sesuatu yang membuat Wonwoo menjadi sulit bergerak.
"Lepaskan aku." Kedua tangan Wonwoo mencengkram lengan kekar Mingyu sebagai usaha untuk melepaskan diri.
Mingyu menatap Wonwoo, tersenyum lalu dengan cepat menempelkan dahi mereka, membuat Wonwoo tidak dapat memalingkan wajahnya lagi. "Kalau aku tidak mau, kau ingin apa?"
Deru hangat nafas Mingyu menerpa wajah Wonwoo, dan Wonwoo dapat merasakan saat Mingyu berbicara bibir mereka hampir saja bergesekkan.
Wonwoo menatap tidak percaya pemuda di hadapannya ini, seumur hidupnya ia tidak pernah menemukan manusia seegois ini. Wonwoo benar-benar merasa dia telah memutuskan pilihan yang salah. Rasa panik menjalari seluruh tubuhnya amat cepat.
"Aku akan meninjumu!" Wonwoo berusaha mengumpulkan keberanian yang ada, tapi suara bergetarnya menghianati dirinya, kedua tangan Wonwoo sudah terkepal erat bersiap untuk meninju Mingyu jika saja tubuhnya tidak sedang dikunci kuat oleh pemuda ini.
"Suaramu terlalu berat, padahal aku sudah mengatakan jika aku ingin lawan main yang suaranya merdu atau setidaknya lembut." Tanpa mempedulikan keadaan Wonwoo sekarang Mingyu malah bergumam kesal entah kepada siapa dan Wonwoo sama sekali tidak ingin tahu akan hal itu.
Di sela-sela kegiatan intim mereka, tiba-tiba Mingyu mengigit pelan leher Wonwoo tanpa sepengetahuan pemiliknya yang mengakibatkan suara desahan terlontar dengan mudah dari bibir tipisnya.
Wonwoo mengutuk dirinya sendiri dalam hati, mulutnya baru saja mengeluarkan suara macam apa tadi?!
"Tapi suara beratmu begitu seksi, aku merasa kini hanya akan tegang jika mendengar suaramu."
Wonwoo benar-benar tidak percaya dengan perkataan yang keluar dari mulut pemuda ini sejak tadi, apakah mulutnya itu tidak di sekolahkan? Wonwoo ingin sekali memaki pemuda di hadapannya ini.
"Lepaskan aku, Apakah sekarang kau ingin menjadikanku bintang porno? Dasar pemuda mesum!"
Mungkin itu adalah pertanyaan terbodoh yang dapat Wonwoo pikirkan saat ini, Wonwoo berani bersumpah ia tidak ingin mengatakan hal itu. Seolah lidahnya bekerja sendiri dan mengatakan hal itu dan perkataan itu membuat senyuman Mingyu semakin terlihat menyebalkan.
Lalu tiba-tiba Wonwoo merasakan bagian bawah tubuhnya bersentuhan dengan sesuatu, matanya menatap horror saat ia mendapati lutut seseorang dihadapannya ini sedang menggesek bagian yang sangat privasi itu tanpa rasa bersalah.
Ini namanya pelecehan seksual akut!
"Jika kau ingin film semacam itu, aku bisa saja memintanya kepada perusahaan. Aku tidak menyangka kau sudah begitu tidak sabar bermain denganku di atas ranjang, apa aku terlihat semenggoda itu?" Wonwoo terperangah, ia saat ini ditatap dengan tatapan paling mesum yang pernah dilihatnya.
Lebih-lebih, tatapan tersebut diberikan oleh seorang pria!
Wonwoo juga pria, bahkan pikiran terdalam dari alam bawah sadarnya tak pernah terpikirkan jika ia akan dilecehkan seperti ini oleh seorang pria juga. Wonwoo benar-benar merasa harga dirinya terinjak-injak.
Mingyu masih setia menggerakan lututnya untuk menggoda pemuda di hadapannya ini. Membuat kontak fisik yang lebih diantara mereka berdua, matanya memerhatikan setiap detik perubahan raut yang dilakukan pemuda yang bertubuh lebih kecil.
Wonwoo berusaha menahan suara desahannya, wajahnya sudah diwarnai rona merah, antara sedang menahan amarah atau malu, ini adalah hal paling memalukan yang pernah dialami Wonwoo sepanjang hidupnya, ia bahkan dilecehkan oleh seorang pria.
Mingyu menyadari jika pemuda manis dihadapannya ini tidak lagi memberikan perlawanan yang berarti, ia semakin gencar untuk menggoda pemuda ini, jadi ia melakukannya tanpa berpikir panjang. Mingyu kembali mendekatkan wajah mereka yang pada dasarnya sudah sangat dekat.
"Bibirmu terlihat sangat enak, boleh aku mencobanya?"
Wonwoo panik, ia harus memikirkan cara untuk lolos dari pemuda mesum ini.
Sebelum Mingyu dapat menempelkan bibirnya dengan bibir tipis itu, Wonwoo dengan reflek menghantam kepala mereka berdua, membuat pemuda itu mengaduh kesakitan sambil memegang dahinya karna berturan itu sama sekali tidak pelan.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan ini, Wonwoo langsung mendorong keras tubuh besar Mingyu hingga dia terhuyung dan mundur beberapa langkah ke belakang.
"Dasar pria mesum sinting!" Itu kalimat terakhir yang dapat di dengar Mingyu sebelum Wonwoo berlari kabur dengan tergesa-gesa.
Mingyu membeku sesaat.
Dirinya ditolak, Mingyu bahkan hampir lupa bagaimana rasanya ditolak. Biasanya dia tidak perlu repot-repot mencari karna mereka semua akan datang dengan sendirinya kepada Mingyu.
Mingyu sudah bertindak sejauh itu dan ia tetap tidak tergoda, Mingyu sangat jarang menggoda duluan, biasanya mereka yang akan menggoda Mingyu dan Mingyu merasa otaknya sudah rusak karna tindakan konyol yang begitu jarang ia lakukan itu.
Apakah pesona di wajahnya sudah mulai memudar?
Dia mendapati pemuda manis itu menolaknya, Mingyu jelas terkejut, dia terdiam cukup lama setelah kepergian Wonwoo. Lalu tiba-tiba suara tawa memenuhi seisi ruangan, tawanya tiap detik semakin keras. Jika Mingyu sedang berada di dalam goa mungkin suara tawanya akan menggema menakutkan.
Mingyu mengusap dahinya, masih berusaha memberhentikan tawanya yang tak kunjung terhenti.
"Astaga, pemuda itu menarik. Dia sangat menarik."
Setelah itu ia keluar dari ruangannya, melangkah ke suatu tempat.
"Apa aku harus memberikan bonus kepada Seungcheol hyung karna telah dengan heroik menemukan pemuda manis itu?"
Senyum mesum di wajah Mingyu tidak pernah luntur semenjak kepergian Wonwoo, malah semakin lama semakin mengembang. Membuat beberapa pegawai yang berpapasan dengannya memandang aneh, walaupun tetap saja ada yang terpesona.
Mingyu memang tampan, tidak ada yang menyangkal hal tersebut. Meskipun ada beberapa pihak yang tidak rela sekali mengakui jika Mingyu tampan─Jihoon, contohnya.
.
.
.
"Ya Tuhan, apa yang baru kualami barusan? Seungcheol hyung tidak mengatakan apa-apa mengenai film macam ini, Seungcheol hyung sudah gila! Dia menipuku dan memasukanku ke dalam perusahaan mengerikan ini!"
(Kau sendiri kenapa tidak bertanya saat itu, Won?)
Wonwoo berusaha mengatur deru nafasnya yang terasa hampir putus, jantungnya masih berdegup kencang, mungkin karna lelah berlari tadi, mungkin juga karna Mingyu─sungguh, Wonwoo tidak ingin membahas yang satu ini.
Setelah dia berhasil lolos dari Mingyu, Wonwoo langsung berlari secepatnya. Berbelok tanpa berpikir panjang, yang penting dia harus pergi sejauh-jauhnya dari pemuda itu.
Wonwoo memegang kedua lututnya karna terlalu lelah berlari. Dia belum keluar dari gedung ini─gedung ini terlalu besar. Wonwoo benar-benar seperti terjebak, tapi setidaknya dia sudah pergi sejauh mungkin dari makhluk tinggi mengerikan itu.
Pemuda manis itu menghela nafas saat nafasnya sudah sedikit normal. Wonwoo menyenderkan tubuhnya di dinding, tubuhnya langsung merosot jatuh terduduk ke lantai. Ia termenung, memikirkan nasibnya saat ini.
Wonwoo benar-benar dipermainkan oleh takdir, dia tidak pernah mempercayai hal itu. Tapi kali ini ia yakin sekali jika takdir sedang mepermainkannya, ia kira impiannya akan segera terwujud. Wonwoo kira ia akan benar-benar menjadi aktor─sebenarnya Wonwoo memang sudah hampir dijadikan aktor.
Tapi dia akan bermain film semacam itu! Apa namanya? Oh ya, Boyslove atau apalah itu, Oh Tuhan, Wonwoo bahkan masih normal. Dia masih membayangkan dirinya bersama istri dan anak-anaknya di masa depan, dia masih lurus selurus jalan tol!
Dan apa tadi yang dikatakan pemuda mesum itu, dia? Manis? ENAK SAJA!
Tiba-tiba kesedihannya sirna seketika digantikan oleh amarah yang membara.
"Aku harus mencari Seungcheol hyung!"
Oh ya, Wonwoo juga sudah mengutuk Seungcheol beberapa kali─meskipun sebenarnya orang yang paling dikutuknya saat ini adalah Mingyu.
Ruangan di gedung ini tidaklah sedikit, tidak semudah itu menemukan ruangan Seungcheol. Wonwoo berjalan kesana kemari seperti anak yang tersesat. Ia memasang mode siaga─kalau-kalau bertemu Mingyu lagi.
Jika Wonwoo bertemu Mingyu lagi, Wonwoo sudah menyiapkan dirinya dan kepalan tangannya untuk meninju wajah tidak tampan itu.
Tapi sebelum Wonwoo akan melangkahkan kembali kakinya, matanya tidak sengaja menangkap bayangan seseorang di ujung lorong. Mata sipitnya melebar terkejut.
"SEUNGCHEOL HYUNG!"
Untungnya tempat ini sedang sepi, hanya ada beberapa pegawai yang berlalu-lalang. Jika tidak pasti Wonwoo sudah menjadi pusat perhatian semua orang─meskipun sekarang juga seperti itu.
Seseorang yang sedang sibuk bertelepon itu langsung mengedarkan pandangannya, mungkin ia terkejut karna teriakan tiba-tiba yang memanggil namanya itu. Ah, masa bodo. Wonwoo tidak peduli dengan etika kesopanan. Nasib dan harga dirinya sedang dipertaruhkan sekarang. Ia melangkah mendekat ke arah Seungcheol dengan aura berapi-api.
Seungcheol menatap Wonwoo terkejut, "Wonwoo?"
.
.
.
TBC
.
.
.
Ini apdet tercepet yang pernah aku lakuin selama aku nulis chaptered, ini beneran gak boong sumpah.
Makasih banget buat review, fav, follow kalian semua, aku baca semua dan aku senang, ga nyangka fic gajelas ini bakalan direspon. Semoga respon chapter ini juga banyak ya. kalo banyak aku bakalan fast apdet lagi... /modus/ :'''''')
Oke di chapter ini Mingyu udah nongol dan dia begitu mesum /ditabok/ mungkin agak OOC, tapi kan miming emang mesum /ditabok lagi/
Review? Fav? Follow? Aku bahagia kalo kalian ngeklik itu semua, jangan ada siders diantara kita ya ;;;;
Mind to RnR?
