Mr Actor and Ms Actor
Seventeen © Pledis Ent dan emak babehnya.
Mingyu milik Wonwoo dan Wonwoo milik Mingyu, udah itu aja.
WARN! : YAOI, Light OOC, Polos!Wonwoo, Mesum!Mingyu(?), alur gak jelas, TYPO BERTEBARAN, alay, de el el.
Happy Reading!
.
.
.
Kalian percaya takdir?
Kalau Wonwoo tidak, baginya, takdir itu tidak pernah ada karna yang menentukan hidupnya adalah dirinya sendiri.
Tapi itu dulu.
Sekarang Wonwoo mulai percaya jika takdir sedang mempermainkan dirinya.
.
.
.
"Aku tidak menyangka hyung, kau tega menipuku!"
Seungcheol menutup kedua telinganya, kombinasi suara berat Wonwoo dan suara yang berusaha ditinggikan itu tidaklah indah. Wonwoo langsung saja menyembur penuh amarah setibanya mereka di ruangan Seungcheol, tidak ingin menunggu terlalu lama lagi untuk mencecar sepupunya itu.
"Wonwoo, tenang dulu─"
"TENANG APANYA?!" Ucapannya kembali dipotong Wonwoo, Seungcheol hanya dapat menghela nafas pelan. Dia memilih untuk mendengarkan semua ocehan Wonwoo sebelum menjelaskan segalanya.
"Kau tahu, jika saja aku tidak segera kabur mungkin saja tadi aku sudah diperkosa oleh orang itu!"
Seungcheol menepuk dahinya, bergumam lebih untuk dirinya sendiri "Astaga, Mingyu. Dia memang selalu seenaknya."
"Aku baru kali ini bertemu dengan orang yang tidak bermoral seperti itu! Memangnya dia tidak disekolahkan, apa?!"
"Sebenarnya dia memang lebih kecil darimu, Won." Seungcheol mencicit.
Wonwoo berujar tajam, "Seharusnya mulutnya itu juga disekolahkan!"
Belum sempat Seungcheol membuka mulut, Wonwoo sudah kembali berkoar. "Aku ini masih normal, hyung! Aku masih ingin menikah dengan wanita dan memiliki anak tapi sekarang kau malah menjerumuskanku ke dalam hal semacam ini? Kau keterlaluan!"
Seungcheol sampai mempertanyakan kekuatan pita suara Wonwoo dan nafasnya yang belum habis juga setelah berteriak sepanjang dan sekeras itu.
"Aku ingin membatalkan kontrak itu! Aku tidak peduli. Pokoknya kau harus membatalkannya!"
"Wonwoo, pertama-tama duduk dulu, aku kasian melihatmu berdiri. Lihat, nafasmu sudah pendek-pendek karna terlalu banyak berteriak."
Wonwoo entah kenapa menuruti Seungcheol, mungkin karna memang pembawaan Seungcheol yang tenang dan dewasa.
Setelah Wonwoo duduk dikursi terdekat yang dapat digapainya, Seungcheol langsung menatap Wonwoo penuh belas kasih. "Percayalah, Won. Kau satu-satunya malaikat penolongku. Hanya kau yang dapat menolongku saat ini." wajah Seungcheol semakin dibuat menyedihkan.
Baru saja Wonwoo mengatakan jika Seungcheol itu memiliki aura tenang dan dewasa.
"Tidak, aku tetap tidak mau hyung, pokoknya aku mau membatalkan kontrak itu!"
Seungcheol mengusap wajahnya pelan, "Kau sudah menandatanganinya, dan itu adalah bukti secara tertulis. Kontrak itu tidak dapat dengan mudah kau batalkan, Won."
Wonwoo mendelik, menatap Seungcheol tidak percaya. "Kau menyuruhku untuk menjadi gay, hyung?!"
"Hanya di film saja, Won. Aku tidak menyuruhmu menjadi gay di kehidupan nyata," Seungcheol menghela nafas, memang semua ini tidak semudah yang dipikirkannya. "Kau tidak lupa dengan janjiku, kan? Jika kau ingin bermain dalam film ini aku benar-benar akan melunasi hutang orangtuamu. Bahkan kau masih tetap dibayar untuk peran ini."
"Tidak dan tidak! Aku tidak mau melakukan semua ini. Lebih baik aku bekerja sampai mati saja daripada harus bermain film dengan orang itu!"
Seungcheol memandang pemuda manis dihadapannya, kilat amarah terpancar jelas pada kedua mata sipitnya. Ini akan sulit. Seungcheol sudah terlalu lelah jika harus mencari pemain pengganti yang baru, urusannya bukan hanya soal Mingyu, tapi selalu saja Mingyu yang paling menyusahkannya.
Seungcheol lama-lama mulai yakin jika sekarang posisinya sudah berganti menjadi pengasuh pribadi seorang Kim Mingyu.
"Tapi Wonwoo─"
"Aku tidak peduli, hyung! Hutang-hutang itu pasti akan kulunasi, tapi tidak dengan bermain film semacam ini dan dengan orang seperti itu!"
"Wah, coba kita lihat siapa yang kutemui disini."
Sebuah suara menginterupsi disela-sela perdebatan seru Wonwoo dan Seungcheol saat itu.
Kedua manik Wonwoo melebar, suara itu...
"Kau?!" mata Wonwoo melotot seperti ingin keluar, menatap tajam ke arah sumber suara barusan.
Mingyu berdiri di ujung ruangan Seungcheol, menatap Wonwoo dengan tatapan penuh percaya diri, Wonwoo benar-benar ingin meninju wajah Mingyu. Jadi ia segera saja melangkahkan kakinya mendekat ke arah pemuda itu dan tanpa berpikir panjang langsung melayangkan sebuah kepalan tangan.
Sebelum kepalan tangan itu dapat melukai wajah tampan Mingyu dengan cepat sang aktor sudah menahan tangan Wonwoo, mencengkram pergelangan tangan kurus itu erat. Mingyu memang gesit.
"Hey, pemuda manis sepertimu tidak boleh bersikap kasar seperti ini."
Wonwoo memandang Mingyu penuh amarah, menepis tangan besar itu secara kasar. "Kau tidak memiliki hak untuk mengaturku, dan juga aku itu tidak manis!"
Mingyu tertawa gemas saat mendengar jawaban─makian Wonwoo, seolah itu adalah kalimat yang terucap dari anak umur lima tahun. "Aku suka sekali yang tidak ingin mengakui posisinya seperti ini. Biasanya yang seperti ini lebih menantang."
"Apa katamu?!"
Wonwoo baru saja ingin kembali memukul wajah(tidak tampan) itu, namun sebuah tarikan tangan membuatnya memberhentikan pergerakannya.
Semua itu terjadi hanya sepersekian detik. Mingyu menarik Wonwoo mendekat dan melingkarkan lengannya disekitar pinggangnya. Dia dapat dengan jelas merasakan detak jantung milik pemuda manis itu yang berpacu tidak normal.
Ah... memang Wonwoo itu sangat manis.
"Kau itu manis, apa sekarang aku boleh menciummu?" Wajah Mingyu terlalu dekat hingga Wonwoo dapat merasakan hembusan nafasnya saat ia berkata-kata.
"KIM MINGYU!"
Seungcheol berteriak jengkel, pantas saja Wonwoo langsung mendampratnya barusan.
Wonwoo langsung mendorong tubuh besar itu. Mingyu dengan tidak rela kali ini melepas tangannya karna menyadari keberadaan Seungcheol. Tiba-tiba rasa malu menyergapi Wonwoo saat sadar jika Seungcheol sedari tadi menonton mereka berdua.
"Kau!" Wonwoo menatap sangar dan menunjuk wajah Mingyu dengan tidak sopan. "Aku akan membuat perhitungan denganmu nanti!"
Setelah kalimat itu selesai diucapkannya, Wonwoo keluar membanting pintu dengan aura membara-bara.
Seungcheol menatap kepergian Wonwoo diam, pandangannya beralih pada sosok tinggi dihadapannya.
"Astaga, bisakah kau menjaga sikapmu itu! Kau benar-benar harus mempelajari norma kesopanan, tidak semua orang ingin dipegang-pegang seperti itu olehmu. Mingyu!"
Seungcheol sangat jengah, Mingyu itu benar-benar tidak tahu sopan santun, bisa-bisanya dia bersikap seperti itu di hadapan orang lain, lebih-lebih dihadapan Seungcheol yang lebih tua darinya.
Mingyu menatap Seungcheol sebal dengan wajah cemberut, "Kau menggangguku, hyung."
"Kau yang mengacau di ruanganku! Disini saja kau sudah seperti itu, bagaimana Wonwoo tadi saat berada di ruanganmu?!"
Mingyu menjawab cuek, "Aku kan sedang membangun chemistry dengannya. Lagipula dia tidak ku apa-apakan kok, yah, setidaknya, belum," pandangannya teralih ke arah jendela besar yang menampilkan landscape gedung-gedung pencakar langit. "Hyung, apa kau perlu kuberikan bonus karna telah menemukan Wonwoo?"
Ini juga sifat jeleknya yang lain, Mingyu selalu berpikir jika dengan uang dan popularitas ia bisa mendapatkan segala hal yang diinginkannya dengan mudah.
Seungcheol mengusap wajah untuk yang kesekian kalinya, berusaha berujar dengan tenang dan terkendali. "Aku tidak butuh uangmu, Kim. Jika kau ingin memberikanku bonus kau hanya perlu bersikap baik kepadaku dengan tidak mengacau lagi. Kau tahu berapa uang perusahaan yang kau habiskan kemarin?"
Mingyu menatap Seungcheol, tatapannya semakin cuek. "Hanya sepuluh juta, kok."
Kesabaran Seungcheol hampir habis. "Hanya sepuluh juta? HANYA?! Kau tidak tahu jika aku di marahi habis-habisan oleh ayahmu dengan alasan aku tidak dapat mengatur pengeluaran perusahaan dengan baik? Kau bahkan menggunakan uang perusahaan untuk berpesta seenaknya!"
"Aku bisa saja menggunakan uangku sendiri, tapi menghambur-hamburkan uang perusahaan dan membuat marah ayah itu terlihat menarik. Jadi, yahhh, begitu." Dia mengangkat bahu cuek dan itu benar-benar menyulut amarah Seungcheol yang sudah tersiram bensin sekali.
Dia ingin sekali memukul kepala bocah satu ini, tapi dia terlalu malas bergerak, dan juga dia lebih tua, jika amarah Seungcheol meledak lebih dulu berarti dia yang akan kalah dalam perdebatan ini.
Seungcheol menarik nafas dalam-dalam, denyutan di kepalanya ini akan semakin menjadi jika dia meladeni Mingyu lebih lama lagi.
"Terserah kau saja, Mingyu. terserah."
Mingyu tersenyum, "Nah, hyung. Aku datang kesini bukan untuk membicarakan dirimu yang kesusahan ataupun ayah yang mengoceh. Jadi... Kau menemukan pemuda itu dimana?"
"Dia itu sepupuku."
Senyuman di wajah Mingyu semakin lebar, "Ah... Kenapa begitu kebetulan, aku tidak menyangka kau memiliki sepupu semanis itu, hyung."
"Sudah kukatakan jangan seenaknya pada semua orang, Mingyu! Dia itu masih menyukai wanita kau tahu? Dan bahkan dia ingin membatalkan kontraknya." Seungcheol mengacak rambut frustasi. Masalah ini akan berlangsung lama sepertinya.
"Aku juga terkadang masih menyukai wanita, kok," Mingyu bergumam, tersenyum penuh arti kepada Seungcheol. "Aku tidak ingin pemain lainnya selain dia, aku hanya menginginkan pemuda itu."
Sebelum Seungcheol sempat membalas Mingyu sudah kembali berujar. "Sudahlah tidak baik mengganggumu terlalu lama, Bye-bye Seungcheol hyung sayang, selamat bekerja lagi. Aku pergi dulu~"
Seungcheol menatap punggung Mingyu yang sudah menghilang dibalik pintu, Mingyu selalu seenaknya, masuk tanpa ijin, dan pergi begitu saja sesuka hatinya.
Yang sekarang berada dalam pikiran Seungcheol hanyalah Wonwoo. Ia mengusap wajah pertanda keadaannya sedang tidak baik sekarang.
"Bagaimana cara aku membujuk Wonwoo?"
.
.
.
Siapa yang tidak mengenal Mingyu?
Badan tinggi, kaki panjang seperti model, wajah tampan dan harta yang tidak dapat habis.
Oh, tapi jangan kira Mingyu itu adalah pemuda manja yang hanya memanfaatkan harta orang tuanya untuk dihambur-hamburkan. Uangnya tidak kalah banyak dibanding milik ayahnya, Mingyu bisa saja membeli sebuah apartemen berserta perabotannya dengan uang cash langsung.
Dia menikmati kehidupannya, Mingyu bukanlah orang yang dapat dikatakan baik.
Mingyu memanfaatkan segala kelebihan yang ia miliki sebagai penunjang kehidupannya. Kebiasaan bermain dengan wanita penghibur di club malam, meniduri dan mengasari mereka. Lalu berakhir dengan meninggalkan mereka sendirian di kamar hotel esok paginya.
Mereka sudah menginginkan apa yang mereka mau, kan? Ini toh bukan sepenuhnya salah Mingyu.
Dia dapat menjadi seorang pria yang membuat hati para wanita meleleh dengan sosok pangerannya. Dia juga dapat menjadi sosok pendominasi yang dengan mudah membuat semua lelaki merintih di bawahnya─kalau ini kata Junhui sebenarnya.
Mingyu menjadi aktor dalam perusahaan film milik ayahnya sendiri, perusahaan itu mungkin salah satu yang terbesar di Korea. Tidak usah ditanya popularitas Mingyu, mungkin seperempat film yang diproduksi disana pemainnya adalah Mingyu.
Tawaran film dari perusahaan ini, tawaran film dari perusahaan itu. Mingyu dalam sebulan bisa menerima lebih dari sepuluh tawaran film yang menginginkannya menjadi pemeran utama.
Terkadang Mingyu menerima tawaran film dari perusahaan lain dan menolak milik perusahaan ayahnya sendiri, gagasan mengenai saham perusahaan yang akan turun jika Mingyu menerima tawaran perusahaan rival ayahnya itu terkadang membuat Mingyu terhibur.
Mingyu sebenarnya tidak sudi jika disuruh menjadi aktor dalam perusahaan milik ayahnya. Jika bisa Mingyu ingin sekali membuat perusahaan ayahnya itu bangkrut dengan pendapatan yang anjlok.
Tapi pemikiran itu tidaklah mudah, Mingyu tidak menyukai hal-hal merepotkan─Mingyu orang yang begitu tidak sabaran. Lagipula, jika dia bekerja dalam perusahaan ayahnya─yang menurut hukum juga akan menjadi miliknya di masa depan. Dia dapat meminta hal apapun yang membuatnya senang.
Mingyu suka mengubah sekenario seenaknya, dan juga suka menambahkan adegan yang tidak perlu sesuka hatinya, sutradara tidak akan berani dengannya karna Mingyu itu adalah aset yang sangat berharga.
Itulah yang membuat Mingyu senang bermain film dari perusahaan ayahnya sendiri, dia dapat memilih, mengganti, dan menghapus adegan apapun dalam naskah sesuka hatinya. Toh film itu akan laris juga, bahkan lebih laris lagi.
Biasanya lawan mainnya dalam film jenis ini adalah Jeonghan─dia adalah primadona perusahaan untuk genre ini.
Tidak ada yang tidak menyukai Jeonghan, berbagai jenis pria dari yang biasa-biasa saja hingga luar biasa kaya pernah mendekatinya, tapi tidak ada satupun yang diterimanya. Jeonghan itu terkenal sekali dengan sifat jual mahalnya.
Jeonghan juga selalu digosipkan berpacaran dengan Mingyu─ini salah satu hal yang membuat beberapa pria berpikir ulang untuk mendekatinya. Tapi Mingyu bahkan sama sekali tidak pernah berpikir untuk menjadikan Jeonghan salah satu mantan kekasihnya.
Mingyu merasa kehidupannya terlalu monoton, dia dekat dengan banyak orang terkenal. Mingyu bosan, dia ingin sesuatu yang berbeda untuk dinikmatinya.
Dia butuh hal lain, Mingyu sudah terlalu sering bermain film dengan Jeonghan, dan Jeonghan ini terkenal sekali dengan sifat profesionalitasnya. Mingyu butuh sesuatu yang lebih menantang, seseorang yang baru pertama kali bermain film semacam ini.
Di sela-sela suara dentuman musik club yang begitu memekakan telinga, sebuah ide brilian muncul dalam kepala tampannya.
Saat itu Jihoon sibuk seperti biasa di ruangannya dan tiba-tiba tanpa mengetuk pintu Mingyu masuk ke ruangan serba putih itu, memberikan Jihoon sebuah berkas, berkas itu merupakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh perusahaan jika ingin merekrutnya dalam film terbaru mereka.
Bukannya sombong, tapi kan ini perusahaan orang tuanya sendiri, Mingyu bisa meminta apapun sesuka hatinya, kan?
Jihoon membolak-balik kertas dalam map yang diberikan Mingyu.
"Kau menyuruh Seungcheol dan aku untuk mengurus pemain baru? Yang sama sekali tidak memiliki pengalaman dan bukan dari kalangan dunia perfilman? Astaga apa-apaan ini. Bahkan itu bukan urusan kami. Kau benar-benar menyebalkan Mingyu, tidak bisakah kau tidak menyusahkanku sekali saja?"
Jihoon menggerutu, diantara semua pegawai disini, mungkin Jihoon dapat dikatakan sebagai seseorang yang paling jengkel jika berurusan dengan Mingyu.
Mingyu tidak tersinggung dengan ucapan sinis Jihoon, malah memberikan senyum akrab. "Aku ingin suasana yang baru, Jihoon-ie. Lagipula aku ingin kalian yang mencarikannya, kalian kan yang paling mengerti diriku."
"Paling aku hyung, bocah!"
Tuh kan, Jihoon sangat tidak menyukai segala aspek yang berhubungan dengan Mingyu.
Mingyu hanya terkekeh, "Sudahlah hyung, kabari Seungcheol hyung secepatnya ya, aku tidak punya banyak waktu untuk ini. Bisa saja aku menerima tawaran dari perusahaan lain."
Jihoon merengut sebal saat mendengar panggilan hyung yang diselipkan Mingyu setelah namanya itu diberi nada mengejek yang kentara sekali dimaksudkan untuk menghina tinggi badannya.
"Aku tidak mau tahu, jika Seungcheol sudah menemukannya, kau yang urus sendiri bagaimana supaya dia menjadi layak untuk bermain film, ini bukan sinetron receh, Mingyu."
Mingyu mengibaskan tangan, "Ya ya ya, jangan khawatirkan hal itu. Itu mudah." Lalu ia tersenyum lebih untuk dirinya sendiri.
Seminggu kemudian Mingyu mendapatkan telepon dari Jihoon yang mengatakan Seungcheol sudah menemukan pemain yang diinginkannya, Mingyu yang saat itu masih tidur-tiduran malas di dalam kamarnya seketika bangun.
Mingyu jarang sekali keluar apartemen di siang hari jika sedang dapat waktu libur, biasanya dia lebih senang keluar setelah matahari terbenam. Dan mendapati dirinya menyapa sinar matahari cerah hari itu terasa begitu asing di kulitnya.
Sepanjang perjalanan menuju perusahaan Mingyu terdiam mengendarai mobil sambil menerka-nerka seperti apa penampilan lawan mainnya. Manis? Cantik? Imut? Atau ketiganya? Dia tersenyum-senyum sendiri memikirkan apa yang harus dilakukannya untuk menyambut calon lawan mainnya itu.
Langkah kakinya konstan menyusuri koridor, menuju ruangannya, mungkin aneh jika seorang aktor memiliki ruangan sendiri di dalam perusahaan tempatnya bekerja, tapi toh ini juga adalah perusahaan ayahnya.
Mingyu bahkan bisa membangun gedung untuk dirinya sendiri jika ia mau. Sebuah ruangan kecil bukanlah hal yang berlebihan, bukan?
Hal pertama yang dilihat Mingyu saat membuka pintu ruangannya adalah seorang pemuda dengan sweater pink kebesaran, menatapnya dengan pandangan panik. Menanyakan suatu pertanyaan yang benar-benar menunjukkan dirinya saat itu sedang kebingungan.
Mingyu terdiam menatap pemuda di hadapannya, manis, tidak, dia sangat manis. Mungkin dia tidak secantik Jeonghan, tapi Mingyu sangat suka dengan raut polos yang terpancar dibalik kedua mata sipitnya, Mingyu tahu pemuda di hadapannya ini tidaklah sepolos tatapan matanya.
Mungkin saja Mingyu dapat mengeluarkan sisi lain pemuda ini dan menguasainya di bawah tubuh telanjangnya saat sedang bercinta nanti, mungkin.
Sepasang manik hitam kelamnya menatap Mingyu, "Aku sebelumnya disuruh seseorang untuk datang kesini, tapi itu semua tidak jadi, aku ingin segera pergi dari sini. Bisakah kau memberitahuku dimana jalan keluar tercepat?"
Dahi Mingyu berkerut, dari nada suaranya yang bergetar jelas sekali dia sedang kebingungan, seseorang menyuruhnya ke ruangan ini? Jangan-jangan dia ini...
"Kau Jeon Wonwoo?" Mingyu bertanya untuk memastikan keadaan yang ada saat ini.
Pemuda manis itu mengerjapkan matanya, "Kenapa kau bisa tahu?"
Ah...
Mingyu telah menemukan mainan baru, sesuatu yang berbeda dari biasanya.
Dan Mingyu sama sekali tidak menyesal telah membuat permintaan pemain baru itu kepada Jihoon.
.
.
.
Semua ini karna Seungcheol─bukan, semua karna orangtuanya─tidak, orangtuanya tidak dapat disalahkan dalam masalah ini.
Semua ini lebih tepatnya adalah salah Wonwoo sendiri.
Setelah kejadian mengenaskan siang itu Seungcheol menelepon Wonwoo ratusan kali untuk menanyakan kabar dan suasana hati Wonwoo. Dan selama itu juga dia memohon kepada Wonwoo untuk tidak membatalkan kontraknya.
Wonwoo merutuki kebodohannya yang dapat dengan mudah langsung menandatangani kontrak itu tanpa berpikir panjang, Wonwoo juga merutuki bagian lain dirinya yang dengan mudah menggali paksa cita-citanya yang telah lama terkubur itu.
Dia merasa benar-benar bodoh, dan kini ia harus terjebak dalam lingkaran kehidupan makhluk mesum bernama Kim Mingyu itu.
Malam itu Wonwoo bergumul di dalam selimut tebal miliknya, mengubah dirinya yang sudah kurus menjadi bentuk kepompong, kejadian seminggu lalu benar-benar membuat dirinya tidak habis pikir. Wonwoo yakin jika hidupnya kemarin masih tergolong biasa, dan kini kehidupannya sudah berubah seratus delapan puluh derajat.
"Setidaknya dalam waktu cepat akan ada pertemuan pertama para pemain, aku harap kau akan datang, Won. Jika kau tidak datang aku akan mendapatkan masalah besar. Kumohon kau mendatangi pertemuan itu dulu. Kita akan bicarakan lagi hal ini nanti."
Wonwoo ingat perkataan terakhir yang diucapkan Seungcheol saat pemuda itu datang mengunjungi rumahnya─untuk memohon, kemarin malam.
Di malam yang dingin tapi mengesalkan itu ponselnya berdering berisik, Wonwoo dengan malas mengambil ponselnya yang terletak di sebelah kepalanya dan menjawab panggilan itu dengan nada malas.
"Halo. Siapa ini?"
"Apakah ini Jeon Wonwoo-ssi?"
Wonwoo mengerutkan alisnya, jarang sekali ada orang asing yang meneleponnya.
"Ya, ini siapa?"
"Ah, Aku Jeon Somi dari perusahaan. Aku hanya ingin memberitahumu jika besok adalah jadwal pertemuan pertama para pemain."
Kalimat itu seolah membuat amarah Wonwoo naik lagi, dia hampir akan memutuskan sambungan itu, tapi Wonwoo teringat wajah frustasi Seungcheol kemarin malam.
Hati kecilnya sedikit tidak tega dengan pemuda Choi yang satu itu, ia bahkan sampai datang ke tempat Wonwoo untuk memohon, Wonwoo tahu pasti dia sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Ia menghela nafas pelan, semua ini membuat kepalanya berputar-putar pening.
"Wonwoo-ssi? Apakah kau masih disana?"
"Ah iya," Wonwoo menggaruk kepalanya dengan kasar, membiarkan surai kelamnya berantakan. "Aku akan datang besok."
"Baiklah, aku harap kau bisa datang tepat waktu Wonwoo-ssi. Selamat malam dan maaf telah mengganggumu."
Kau memang benar-benar mengganggu.
Wonwoo menekan tombol end dengan kasar dan langsung melempar ponselnya ke sembarang arah.
"Oke, kau hanya perlu datang besok, Won. Kau tetap akan membatalkan kontraknya, semua akan baik-baik saja. Aku yakin dengan hal itu." Wonwoo mengulang-ulang kalimat itu di dalam kepalanya dan menggumamkannya sekali dua kali, dengan kalimat mantra itu ia berusaha untuk tertidur.
Tapi ternyata tidak semudah yang dipikirkannya.
Wonwoo mendengus kasar setelah setengah jam penuh gagal berjuang untuk menutup kedua kelopak matanya.
Matanya menyusuri langit-langit kamar yang tidak ada indah-indahnya, berbagai macam pikiran dan hipotesis bergumul acak di kepalanya seolah mereka sedang berkelahi. Bayangan tentang Mingyu, bayangan tentang dirinya yang akan bermain film percintaan sesama jenis itu, bayangan tentang dirinya yang akan menjadi gay...
"TIDAKKKKKKKKKKKK." Wonwoo berguling-guling frustasi, tidak kuat membayangkannya lebih lanjut lagi. Dia sudah dipermainkan takdir, Wonwoo benar-benar merasa dirinya begitu menyedihkan saat ini.
"Aku akan membatalkan kontrak itu secepatnya!"
Wonwoo berusaha untuk tidur kembali, namun kedua matanya menolak untuk menuruti perintah saraf motoriknya. Disela-sela malam itu, tiba-tiba wajah Mingyu kembali terlintas dikepalanya, entah sudah berapa kali wajah tidak tampan itu mengganggu Wonwoo.
Tapi kali ini berbeda, ada setitik rasa pernasaran Wonwoo mengenai si Mingyu ini, siapa dia hingga semua orang menuruti perkataannya? Lalu tiba-tiba ia teringat dengan kalimat Jihoon yang mengatakan jika Mingyu adalah aktor super terkenal.
Meskipun Wonwoo yakin itu adalah kalimat sindiran, tapi pasti ada maksud dibalik kalimat itu.
Dan entah sejak kapan Wonwoo kini sudah berada di depan laptop miliknya dan menelurusi dua kata yang sangat memengaruhi kehidupannya seminggu terakhir.
Saat Wonwoo menekan enter, belasan berita terbaru muncul dengan cepat.
Kim Mingyu, aktor muda berbakat yang baru saja memenangi penghargaan sebagai aktor terbaik untuk yang ketiga kalinya berturut-turut
Jadi Mingyu itu benar-benar aktor terkenal? Kenapa Wonwoo tidak mengenalinya? Apakah Wonwoo terlalu sibuk bekerja sehingga melupakan dunia luar, Wonwoo seketika merasa dirinya benar-benar tinggal di dalam goa atau hutan.
Aktor terbaik saat ini, Kim Mingyu berencana akan memainkan judul film baru yang akan diproduksi tahun ini.
Kim Mingyu di duga menjalin kasih dengan lawan main 'langganannya' Yoon Jeonghan?
Mata Wonwoo terhenti pada satu judul berita yang entah kenapa begitu menarik perhatiannya, jemari panjangnya menggerakan mouse dan membuka berita itu.
"Jadi dia benar-benar gay? Dan... dia sudah memiliki pacar?"
Wonwoo tidak sengaja melihat sebuah link tautan yang membawanya pada salah satu film yang Mingyu mainkan, film ini belum lama, mungkin sekitar enam bulan yang lalu dirilis.
Jemarinya menekan tombol play untuk memutar film itu, saat ia melihat Mingyu yang mulai berakting pandangannya tak teralihkan sedikitpun dari layar laptop itu.
Mingyu di sana, di dalam laptop milik Wonwoo. Dengan peran yang sedang dimainkannya, Wonwoo nyaris hampir lupa dengan sifat asli pemuda itu. Mata tajam Wonwoo memandang fokus layar laptopnya, memerhatikan setiap gerak-gerik yang diciptakan oleh tubuh sempurna Mingyu.
"Aktingnya... benar-benar bagus."
Seolah pemuda itu sedang meninggalkan dirinya yang asli dan menjadi orang lain.
Wonwoo melipat lututnya dan membenamkan wajahnya diantara lutut yang sedang dipeluknya itu. Masih fokus dengan laptop di hadapannya, sesekali ia tertawa karna adegan lucu di film itu, sesekali ia nyaris membentak karna adegan lainnya yang membuatnya kesal.
Malam itu Wonwoo habiskan dengan menonton beberapa film yang Mingyu mainkan, dan berakhir tertidur tepat di depan laptop miliknya yang masih memutar film terakhir.
.
.
.
"Sebelah sini Wonwoo-ssi," Somi memimpin Wonwoo berjalan.
Wonwoo dibelakang melangkah dengan malas, pagi ini ia terbangun dengan punggung yang begitu sakit, lebih buruk dibandingkan salah bantal, rasa sakitnya tidak separah terkilir, tapi cukup mengganggu aktivitas mandi paginya tadi.
Ia ingat jika semalaman waktu tidak bisa tidurnya dihabiskan dengan menonton film, lebih-lebih itu adalah film yang dimainkan Mingyu, Wonwoo merasa dirinya sudah benar-benar gila.
Wonwoo terlalu banyak berpikir sampai-sampai ia lupa jika Somi sudah memberhentikan langkahnya dan nyaris menabrak wanita cantik itu, Somi tersenyum ramah kepadanya. Mendorong sebuah pintu hingga engselnya bergerak.
"Silahkan masuk, Wonwoo-ssi."
Wonwoo berjalan masuk, udara dari penyejuk ruangan yang menyambutnya pertama kali. Wonwoo merasakan hawa dingin yang lebih rendah dibandingkan luar ruangan.
"Halo, kau pasti Wonwoo."
Wonwoo belum sepenuhnya melihat isi ruangan, namun ia sudah disambut dengan nada kelewat ceria dari seseorang.
Seseorang itu tersenyum kelewat bahagia di sofa yang sedang didudukinya, Wonwoo hanya memandangi dirinya diam sebelum menganggukan kepalanya dan berujar. "Ya, senang bertemu denganmu."
Dia memasang wajah terkejut yang kentara sekali tidak sedang dibuat-buat. "Astaga, apakah kau tidak mengenaliku?"
Wonwoo memandangi pemuda bahagia dihadapannya bingung, lalu menggeleng.
"Kau memang tidak terkenal, Seokmin. Akui saja jika popularitasku lebih dibanding dirimu."
Wonwoo memandang ke arah sosok lainnya yang kini sedang duduk sambil menyilangkan kakinya dengan santai, oke, dari kesimpulan pendeknya Wonwoo tahu jika pemuda bahagia yang sebelumnya menyapa itu bernama Seokmin.
"Enak saja, walaupun aku tidak sepopuler Mingyu, fansku tidak kalah banyak, tahu!" Pemuda bahagia─bernama Seokmin itu menatap jengkel yang diberi perisa cemberut kepada pemuda di sampingnya.
Namun ia tidak mengindahkan perkataan Seokmin seolah itu bukanlah prioritas utamanya, ia berdiri dan melangkah mendekat ke arah Wonwoo. "Hai, namaku Wen Junhui jika kau tidak mengenaliku, senang bertemu denganmu."
Kedua mata Wonwoo membola, nama itu, ia ingat jika teman wanitanya pernah menyebut-nyebut dan memekikan nama itu. Wen Junhui! Aktor China yang kini lebih senang bermain film di Korea itu, Wonwoo tahu dia!
"Kau Wen Junhui pemain film China itukan? Astaga, teman-temanku pernah membicarakanmu!"
Junhui terkekeh, "Lihat kan, aku bahkan lebih terkenal dibandingkan dirimu, Seokmin."
Seokmin memutar bola matanya jengkel dengan raut cemberut dan tidak memberikan komentar apapun lagi.
Di dalam ruangan itu baru ada dua orang pemain─ada tiga jika ditambah dengan Wonwoo, Wonwoo menatap sekeliling, beberapa kru sibuk dengan berlembar-lembar kertas di tangannya, mungkin sutradara akan tiba sebentar lagi, ini memang pertemuan para pemain, tapi─
"Dimana pemain lainnya?" Wonwoo bertanya penasaran kepada Seokmin dan Junhui. Jika dilihat-lihat dalam ruangan besar ini, bahkan ruangan ini terlalu besar untuk jumlah orang sesedikit ini.
Junhui mengedikkan bahu, "Jeonghan sedang dalam perjalanan, Mingyu? tidak tahu, dia biasanya sih tidak ingin menghadiri pertemuan semacam ini."
Wonwoo menganggukan kepalanya pelan, setidaknya ia senang karna tidak akan bertemu dengan makhluk mesum yang satu itu.
Tidak ada percakapan yang berarti diantara mereka, disamping Seokmin yang terus menerus berusaha akrab dengan Wonwoo. Beberapa menit kemudian pintu kembali terbuka, menampilkan sosok seorang wanita─
"Jeonghan hyung, kenapa kau lama sekali?!" Seokmin dan suara berisiknya.
─ternyata adalah seorang lelaki, Wonwoo menatap pemuda dihadapannya, cantik, terlalu cantik untuk ukuran seseorang yang memiliki jakun.
Wonwoo baru ingat jika ia pernah melihat pemuda ini dalam video promosi film dalam layar monitor besar yang biasa terpampang di pusat perbelanjaan─dan dia baru ingat jika disana juga ada Mingyu sebagai lawan mainnya.
"Kau tidak tahu betapa macetnya kota Seoul di siang hari usai jam makan siang seperti ini? Di luar panas sekali kalau kau mau tahu." Suaranya cukup lembut, untuk ukuran seorang lelaki. Tidak seperti Wonwoo yang sangat─kelewat berat.
Jeonghan memasang wajah sebal, tangannya bergerak cepat mengubah fungsi menjadi sebuah kipas darurat, jari-jari panjangnya bergerak teratur, Wonwoo masih terdiam memandangi pemuda itu.
"Ah, siapa dia?" Pemuda cantik itu baru sadar jika ada sosok lain yang tidak dikenalinya, ia memandang Wonwoo kemudian mengalihkan arah pandangnya kepada Seokmin dan Junhui.
"Jeon Wonwoo, lawan mainnya Mingyu nanti." Junhui yang menjawab pertanyaan Jeonghan.
Wonwoo yang namanya disebut-sebut akhirnya buka suara, "Halo, aku Jeon Wonwoo, senang bertemu denganmu, Jeonghan-ssi."
"Panggil saja aku Jeonghan, jangan terlalu formal begitu." Jeonghan menatap Wonwoo ramah diiringi tawa renyah yang keluar dari belah bibir tipisnya.
"Jadi... dia pacarnya Mingyu?" Wonwoo bertanya dalam dirinya sendiri, matanya tak kunjung berhenti menatap pemuda berambut panjang dihadapannya. Cantik, wajah yang ramah, dan juga senyum yang anggun. Pemuda ini memang cantik.
"Biasanya Jeonghan yang menjadi peran utama bersama Mingyu, tapi sekarang kau sudah menggeser posisi legendaris dia, Wonwoo." Seokmin berceloteh ringan berbanding terbalik dengan Wonwoo yang menatap Jeonghan segan.
Jeonghan hanya menaikan bahu, "Begitulah."
Jadi dia akan menggantikan posisi pemuda cantik ini?
Entah kenapa Wonwoo merasa rendah diri saat melihat Jeonghan dan mengetahui fakta tersebut. Bukan karna Wonwoo menyukai Mingyu, jangan salah paham. Wonwoo masih lurus selurus jalan tol, ingat?
Lagipula Wonwoo akan membatalkan kontraknya setelah ini, mungkin saja pada akhirnya mereka akan bermain bersama lagi.
.
.
.
TBC
.
.
.
Tabok saya coba tabok /ditabok beneran/ bilangnya mau apdet cepet. Ahahahahahahahaha maap ya :'D
Oke aku gamau bikin Wonu labil karna orang ketiga, dia udah cukup labil sama hidupnya yang mau lurus ato belok itu (?) jadi aku bakalan bikin Mingew yang labil kali ini. Ayo jadikan emak sebagai orang ketiga dalam hubungan meanie! (?)
Siapa yang bilang Mingew mesum? Siapa! Dia bukan mesum, dia itu napsuan! /Ditonjok/
Aku hampir kena webe, untungnya ga bener-bener jadi webe, jadi review lagi coba biar webe aku gak nongol-nongol lagi :'D
Mind to RnR?
