.
-Red Thread-
.
.
"Lalu menurut anda, apa yang harus saya lakukan?! Meminta anda bertanggung jawab jika saya hamil?!"
Park Jimin terlihat menyesali kalimatnya tadi, sedangkan Yoongi jelas marah. Ini bukan hal baik. Yoongi tidur dengan wanita di depannya dan Yoongi menumpahkan seluruh kesalahan pada gadis itu. Jungkook menatap heran, ia berfikir tak mengenali bosnya dengan baik.
"Itu tak akan mungkin!" Jawab Yoongi penuh penekanan.
Entah mendapat kekuatan dari mana Jimin berani menatap Yoongi, ia tau itu kesalahannya tapi ia berfikir bahwa Yoongi adalah pria yang tak bertanggung jawab.
"Maka dari itu saya meminta maaf dan berharap masalah ini dapat kita lupakan."
"Lalu jika kau hamil?"
Jimin berfikir keras. 'Bagaimana kalau aku hamil?'. Masalah besar menantinya jika itu terjadi. Jika Jimin hamil itu akan celaka. Setan berbisik membuat Jimin berfikir jahat, kemudian ia menggeleng. Setan dalam hatinya mengatakan untuk aborsi. Tapi hatinya menolak. 'Itu sama saja aku jadi pembunuh!'.
"Aku akan merawat bayi itu sendirian."
Yoongi melipat kedua tangannya di dadanya. "Kau fikir aku akan percaya?" Ia mengeluarkan sebuah amplop dan meletakan di depan mejanya.
"Lagipula belum tentu hamil. Kita sama-sama tak tau, aku mengeluarkannya di... kau faham maksudku," Jimin mengangguk. "aku tak suka ada masalah dan jika kau benar akan membesarkan anak itu. Itu sama saja kau mengancamku!" Yoongi mendorong amplop tersebut kearah Jimin. Jungkook melotot mengikuti kemana arah ampop itu bergeser kemudian menatap Yoongi terkejut.
Jimin menatap nyalang bosnya. Ia tak sangka bahwa bosnya itu tak punya perasaan. Jimin bukan orang bodoh yang tak tau maksud Yoongi. Jimin membuang muka muak. Cara klasik yang benar-benar basi, cara yang paling hina dari seorang laki-laki. Jimin menatap muak amplop yang ia yakini berisi uang, sebagai sogokan untuk Jimin. Agar ia tak melahirkan bayinya jika ia hamil.
"Kesalahan ini bukan hanya masalahmu! Ini akan berdampak buruk. Bukan hanya padaku maupun anda nona Park, tapi juga orang-orang yang ada disekitar anda. Itu jalan terbaik yang bisa saya berikan. Aku tau kau menganggapku kejam sekarang," Yoongi menatap datar wajah Jimin yang terlihat jelas menahan marah. "jika benar kau ingin bertanggung jawab maka lakukan apa yang aku sarankan nona Park. Percayalah! Jika sampai kau hamil bukan hanya aku yang akan hancur tapi kau juga."
Jimin tertunduk merenung. Kata-kata Yoongi memang benar. Itu adalah jalan terbaik. Jimin menatap Yoongi dan mengetuk amplop yang ada di depannya "Memang benar tapi ... anda tak harus melakukan ini padaku, Sajangnim."
"Aku harap kau bisa menerimanya. Aku terbiasa melakukan ini. Hal seperti ini bukanlah yang pertama bagiku," Yoongi melihat Jimin mendecih "aku melihat bahwa nona Park adalah wanita yang cukup pintar, mungkin saja kau memang tak sengaja karena mabuk, tapi semuanya sudah terjadi. Aku biasa melakukan tes kesehatan setelah melakukan itu dengan setiap gadis. Aku percaya nona Park bersih tapi Ini menyangkut kesehatan kita. Aku harap kau tak tersinggung."
'Tak tersinggung pantatmu!' Jimin mengumpat dalam hati. Ia menghela nafas berat, menahan diri untuk tidak menyiramkan seluruh isi gelas ke wajah pria didepannya. "Baiklah!" Jimin hanya ingin masalah cepat selesai.
-RT-
Yoongi mengerutkan keningnya melihat Jungkook memakaikan mantel bahan velvet hitamnya pada Jimin. Ia baru saja keluar ruang test. Mereka ke rumah sakit begitu selesai makan malam. Jimin mendapat giliran pertama dan Yoongi yang berikutnya. Namun Yoongi risih melihat bagaimana Jungkook begitu perhatian pada Jimin. Yoongi tau asistennya itu adalah pria yang gentle, tapi perlakuannya terhadap Jimin tidak seperti biasanya. Belum lagi tatapan mata Jungkook. Bibir kanan Yoongi terangkat menciptakan seringan, membayangkan mereka berdua dalam sebuah hubungan. Suster keluar setelah Yoongi.
"Hasil test akan keluar sekitar empat puluh lima menit! Kami akan memanggil anda setelah hasil testnya selesai, silahkan menunggu di lobi kantor depan !" Jelas sang perawat pada Yoongi.
Jungkook menelfon supir untuk bersiap dan Yoongi pergi meninggalkan Jungkook dan Jimin di lobi. 45 menit artinya melewatkan uang begitu saja. Jungkook yang faham betul bagaimana bosnya yang workaholic itu menganggap uang adalah emas. Oleh karena itu ia telah menyiapkan mobil seperti biasanya.
"Pria brengsek," umpat Jimin menatap kepergian Yoongi. Ia terkejut begitu menoleh ke belakang. Sepertinya Ia lupa kalau asisten bosnya masih bersamanya. Jimin menggigit lidahnya. Jimin yakin Jungkook mendengar umpatannya barusan."maaf!" ucapnya dan Jungkook hanya tersenyum ramah memaklumi. Jungkook duduk setelah mempersilahkan Jimin dengan Body Language yang begitu berwibawa.
"Trimakasih! kau sangat sopan Jungkook-sshi. Bagaimana bisa kau bekerja dengan Min sajangnim?" Jimin sebenarnya tak ada niatan bertanya, ia lebih tepatnya ingin membuat pernyataan, tetapi mengingat kesopanan ia mencoba menggunakan nada yang sesopan mungkin.
"Min Sajangmin, dia orang sangat baik. Itulah kenapa saya menyukai bekerja dengannya," Jungkook tersenyum penuh keyakinan pada Jimin yang menatapnya tak percaya. " Min Sajangnim memang terlihat keras. Itu karena disiplin adalah caranya menunjukan tanggung jawabnya pada karyawan. Percayalah! Dia orang yang sangat baik."
Jimin tersenyum paksa pada Jungkook. Jimin tak habis fikir ada pria sebaik Jungkook di dunia ini. Ia mungkin mengagumi bosnya itu, tapi kejadian barusan membuat semua rasa sukanya hilang begitu saja. Kalau saja bukan pria sopan yang mengatakan itu ia akan menampik kebenaran itu.
"Park Jimin-sshi! Min Yoongi-sshi!" panggil kedua petugas di meja bersebelahan bersama. Jungkook segera bangkit menuju konter panggilan milik Yoongi, sedangkan Jimin ke konternya. Ia melakukan pembayaran lalu mengambil map berisi hasil medis Jimin dan bertukar hasil medis Yoongi pada Jimin. Jungkook mempersilahkan Jimin untuk berjalan di depannya dan membukaakan pintu untuk Jimin.
"Saya akan mengambil mobil. Mohon tunggu sebentar."
"Baik!"
Jungkook penuh kesopanan meminta. Bahkan ketika mobil tiba di depan Jimin, ia sempat membukakan pintu belakang mobil. Sampai dirumah Jimin.
...
"Kau dari mana? Bukankah tadi kau pulang lebih awal?" Taehyung bertanya sambil melakukan posisi yoga.
Jimin ke dapur mengambil minum, lalu duduk mengistirahatkan punggungnya di sofa."Aku bertemu dengan Min sajangnim."
"MWO?," Taehyung langsung loncat duduk di sebelah sahabatnya. "bagaimana bisa ? lalu apa yang terjadi?" tanyanya penuh antusias.
"Dia memberiku uang untuk menggugurkan bayiku jika aku hamil."
"MWO? Dia pria brengsek!"
"Dan dia memintaku test kesehatan."
Taehyung memukul sofa "MWO?," ia teriak lebih kencang "bagaimana ada pria sebrengsek dia? Waahhh... dia baru saja melumuri wajahnya dengan kotoran! Jangan katakan kau menerima uangnya!"
"Itu gila. Tentu saja tidak."
"Lalu keputusanmu bagaimana?"
"Aku memintanya melupakan kejadian ini, dan jika aku hamil tentu akan menggugurkan kandunganku. Aku lelah dengan semua ini. Aku ngantuk. Aku mau tidur!" Jimin pergi ke kamar meninggalkan Tae yang bengong.
"kasihan!" ia sedih mengingat bayi yang akan dibunuh sahabatnya.
Baik Jimin yang ada di kasurnya maupun Yoongi yang masih terjaga di ruang kerjanya membaca hasil medis masing-masing. Jimin mengerutkan kening melihat hasil medis milik Yoongi.
"Hypertrophic cardiomyopathy*?! Min sajangnim?!"
Setelah Yoongi melihat hasil medis Jimin yang 100% sehat, ia membuang hasil medis Jimin ke tempat sampah saat hendah keluar menuju kamar tidurnya.
...
"Kau tau?! Sudah satu bulan lebih kita tak bertemu!" ucap pria yang sudah memengang pinggang Jimin, menciuminya penuh kerinduan.
"Salahmu pergi!" Jimin mengelus rambut kekasihnya penuh rindu. Erik pergi ke LA untuk membuka cabang baru As Club disana. Segerombolan orang lewat melirik mereka, terkikik geli.
"Hentikan Erik!" tegurnya saat tangan nakal pria itu masuk kedalam pakaiannya, mencoba melepas pengait bra dipunggung Jimin. Tapi pria itu tak mau tau, terus melanjutkan kegiatannya. "Kita tak bisa melakukannya disini!" tegurnya lagi.
"Kenapa?! Bukankah ini cukup menantang?!" Eric mencoba membuka pakaian Jimin tapi dicegah pemiliknya.
Jimin kini melototi Erik. "Setidaknya cari tempat sepi."
Jimin memohon. Erik akhirnya melepaskan Jimin dari pelukannya. Mereka kini berada di parkiran As Club dimana orang hilir mudik. Erik menyeringai "Ok!," menyetujui Jimin. Ia segera menyalakan mobil "sungai han. Bagaimana?!"
"Ya tapi beri aku makan dulu!" Tuntut Jimin sambil memasang pengait branya yang tadi dilepas Eric.
Erik terseyum lalu mengelus pipi lembut Jimin dengan punggung tangannya. "Aku sangat merindukanmu!"
"Aku juga." Jimin menoleh, menangkap tangan Erik yang menyentuh pipinya lalu memberikan kecupan manis yang membuat Erik menarik nafas panjang.
"Hentikan itu, sebelum aku memakanmu di restorant nanti."
Jimin tertawa mendengar ancaman Erik. Ia melepas tangan Erik yang mengemudi tak nyaman.
"Aku ingin Foie Gras Welldone!"
"Beef steak. Medium."
Sang pramusaji mengulangi pesanan mereka lalu pergi dengan buku menu ditangannya. Jimin tersenyum menyambut tangan Erik. Selama dua tahun pacaran belum pernah Jimin serindu ini. Ia hanya tersenyum memandang Erik yang sedang bercerita tentang cabang barnya, menikmati wajah dan suara pria yang dicintainya. Senyum Jimin hilang ketika ia hendak makan asparagus.
"Kau baik-baik saja ?" Tanya Erik khawatir.
"Aku permisi" Jimin segera lari ke toilet sebelum isi perutnya keluar.
Jimin menatap wajah pucatnya dicermin. Fikiran itu muncul, fikiran dimana kemungkinan ia hamil. Ia memengang perutnya. Pagi tadi Jimin juga muntah. Jimin tak enak badan hari ini, namun karena kekasihnya sudah tiba di korea ia tak bisa menolak ajakannya untuk bertemu. Sudah tiga bulan sejak kejadian itu. Dalam hubungannya dengan Erik biasanya mereka sama-sama akan jujur jika terjadi sesuatu termasuk tidur dengan orang lain tapi kali ini Jimin tak bisa, entah kenapa. Jimin pernah ingin berkata jujur sebelum Erik pergi ke Jepang, tapi ia tak cukup berani. Ada suatu hal yang membuatnya khawatir dan sekarang ia tau. Kemungkinan ia hamil. Jimin segera kembali setelah merapikan make-upnya.
"Kau baik-baik saja?! Kau terlihat lemas dari tadi."
Jimin duduk di kursinya memegang kepalanya sedikit pusing. "Ini musim libur, kami membuka banyak cabang dan kami sering bergadang, bahkan tidur di kantor." Jimin berbohong. Ia menutupi wajahnya frustasi, memandang Erik lelah.
"Oh god! Kenapa kau tak bilang kalau kau sakit?! Kita bisa rumah sakit sekarang!" Erik mendekat pada Jimin, menyentuh kening Jimin.
"Aku sudah ke dokter tadi," Sekali kau berbohong maka kau harus menutupi kebohongan itu dengan kebohongan lainnya. "aku hanya butuh istirahat."
Erik bersimpu menatap Jimin khawatir "Kita pulang sekarang! Oh god, ini pertama kalinya aku melihatmu sakit. Berhentilah terlalu memaksakan pekerjaan."
Jimin meminta Erik pulang dengan alasan takut tertular. Kini ia duduk memegang keningnya. Taehyung memberikan beberapa buah benda panjang yang masih terbungkus didalam kotak plastik.
"Aku membelinya saat pulang kerja tadi. Sudah dua hari kau muntah setiap mencium bau makanan tertentu. Aku khawatir!" Taehyung mengelap kening Jimin yang berkeringat.
Jimin menatap benda itu. "Apa benda itu 100% akurat?" tanyanya tak yakin. Lebih tepatnya ia takut jika benda itu menunjukan hasil positif.
"Aku meminta yang paling akurat." Tae melihat sedih sahabatnya yang terlihat masuk ke dalam toilet.
Jimin memasukan semua test pack itu pada gelas berisi cairan urinnya. Ia menunggu bersama Taehyung. Ia menyandarkan kepalanya lelah. Taehyung memeluk Jimin berharap bisa menghilangkan rasa sedih sahabatnya.
...
Jin menyuapi Jungkook bubur yang ia buat. Jin segera datang begitu Jungkook mengatakan kalau ia sakit. Orang tua mereka tinggal di Jepang sehingga Jin merasa Jungkook jadi tanggung jawabnya. Meski Jungkook sudah berumur 25thn tapi Jin tetap khawatir jika Jungkook sakit. Jungkook selalu tidur banyak ketika sakit, sehingga ia sering melewatkan makan dan obat sehingga sakitnya sering lama sembuh.
"Sudah berapa hari kau bergadang huh?! Apa bosmu berfikir bahwa semua orang bisa gila kerja sepertinya?! Jungkook-ah keluar saja hm?"
"Noona! Aku sakit karena kecerobohanku tidur dengan rambut basah di sofa, kenapa kau menyalahkan Min Sajangnim?!"
"Kau fikir kenapa kau bisa tertidur di sofa huh?! Kalau dia memberimu waktu tidur setidaknya 5 jam per hari, kau tak akan sering ketiduran begitu. Apakah selain bekerja dia tak punya hal lain yang ia sukai? Aku tau gajinya besar tapi jika itu malah membuatmu sakit bagaimana?! "
Ponsel Jungkook berdering, tertulis Min Sajangnim di layar dan ia segera mengangkatnya, mengabaikan kakaknya yang memutar matanya kesal. "ne sajangnim ... Baik, saya akan mengirimnya pada sekertaris Ahn ... Oh! Itu ada di dalam laci meja anda yang paling bawah ... ne, terimakasih Sajangnim." Jungkook meletakan ponselnya dimeja.
"Demi tuhan! Dia menelfonmu dengan pekerjaan saat kau sakit seperti ini? Aku yakin pacarnya akan meninggalkannya kalau saja dia tak kaya."
"Min Sajang itu baik, noona!"
"Kau membelanya? Oh Jungkook! Aku tak mengerti dari sisi mana kau memandang, sehingga berkata kalau dia itu bos yang baik."
Yoongi membuang laporan kerja tour eropa didepan para menejer "Kau sebut ini laporan? Menejer Jung! Berapa kali kau sering melakukan kesalahan?," Pria bermarga jung itu hanya menunduk. "aku berharap surat pengunduran dirimu besok dimejaku!"
Manager perencanaan itu melotot kaget "Sajangnim saya..."
"kita cukupkan sampai disini!" Sela Yoongi menghentikan menejer Jung bicara.
Yoongi memasuki kantornya menelfon Jungkook untuk menanyakan kontrak kerjanya dengan pihak agen tour and travel Eropa."Jungkook!... aku butuh grafik kerja lima tahun terakhir yang sedang kau kerjakan kemarin itu, biar aku yang lanjutkan ... dan dimana kau letakan berkas untuk penandatanganan kontrak dengan Kingdom Mall?! Aku tak menemukannya di mejamu!," Yoongi sedang mencari sampul warna cokelat dengan logo Kingdom di laci Jungkook. Ia segera masuk ruangannya begitu jungkook memberitahunya kalau kontraknya ada di mejanya sendiri. "baiklah! Cepatlah sembuh! Aku tak bisa apa-apa tanpa orang kompeten sepertimu!." Ia menutup telfon.
Sudah empat hari Jungkook sakit, sehingga Yoongi benar-benar kerepotan. Yoongi bukan orang yang mudah menyerahkan pekerjaannya pada orang lain. Jika itu bukan asistenya maka ia lebih memilih mengerjakannya sendiri. Ia benci kesalahan dan selama Jungkook bekerja dengannya belum pernah sekalipun ada kesalahan. Jungkook orang yang sangat memperhatikan resiko sekecil apapun, hal yang Yoongi tak punya. Jungkook juga mengerti semuanya tanpa ia harus berkata apapun, itulah mengapa ia menyukai Jungkook. Yoongi sadar bagaimana ia sering membuat Jungkook kewalahan, maka ia memberikan Jungkook tunjangan lebih dengan memberikan fasilitas dan kenaikan gaji. Ia melihat jadwalnya ke eropa besok. Yoongi mendengus kesal. Ia akan tidur di pesawat dan ia tak suka itu.
...
Jimin melihat hasilnya dan terduduk lemas "Oh terimakasih Tuhan!," ia merasa lega. "lalu kenapa aku muntah? aku fikir itu morning sick."
Tae memperlihatkan giginya yang rapi dengan senyum kotaknya yang cute. "Aku juga berfikir begitu. He he untung saja. Kalau begitu kau harus periksa ke dokter"
Dokter membacakan hasil pemeriksaan Jimin. Tae dan Jimin berpelukan senang. "Gejala yang anda timbulkan akibat dari asam lambung, pola makan dan makanan yang anda konsumsi. Apakah anda sering makan sebelum tidur? Atau makan sambil tiduran?"
"Iya dok. Aku sering melewatkan sarapan dan makan siang, jadi aku lapar setiap pulang lalu tertidur."
"Pencernaan anda juga sedang tidak baik. Mohon untuk memperhatikan pola hidup anda!"
"Baik Dok! Trimakasih banyak."
Jimin dan Taehyung menangis bersamaan begitu keluar dari ruang dokter. "Aku benar-benar takut kalau akau hamil. Ah syukurlah!" mereka mengusap perut Jimin penuh rasa lega.
Jungkook memperhatikan dua wanita itu dari sebrang ruangan dimana Jimin keluar, ia mengerutka kening melihat Jimin menangis memegangi perutnya. Jin yang sedang bertugas kebetulan lewat dan melihat Jungkook memperhatikan sesuatu, ia lalu mengikuti arah pandangan Jungkook "Kenapa kau melihat ke arah spesialis kandungan?"
"Spesialis Kandungan?" Jungkook menatap Jimin terkejut. Apa nona Park baru saja aborsi?.
.
.
Tbc
.
.
*Hypertrophic cardiomyopathy :
Kondisi ini sebagian besar diakibatkan oleh kondisi genetik yang menurun di dalam keluarga dan dapat terjadi pada segala usia. Gangguan timbul akibat menebalnya otot jantung secara abnormal, khususnya pada ventrikel kiri jantung. Penebalan ini mengakibatkan jantung menjadi sulit untuk memompa darah.
