-Red Thread-

Yoonmin Gs

Rate M

Minyoo93


Undangan pernikahan Min Yoongi dan Jung Hoseok telah disebar ke seluruh keluarga, kolega, teman, dan semua orang yang mereka kenal. Mrs. Jung dan Mrs. Min kembali memeriksa kembali rencana pernikahan putera-puterinya yang tinggal seminggu lagi. Mereka memastikan agar semuanya berjalan baik ketika hari H, terutama ramalan yang buruk tentang api. Mereka berusaha keras untuk mencegah semua kemungkinan yang bisa menimbulkan api. Mereka berfikir, adanya api berarti kebakaran, dan itu sangatlah fatal. Bahkan di gerejapun, Mrs. Jung meminta agar tak ada lilin.

BigHit

Yoongi menatap Jungkook lega Karena sudah masuk kerja. Hari-hari tanpa asisten membuatnya pekerjaannya terasa kacau balau. Bahkan ia sering lupa mandi. JungKook dengan sigap melihat ulang jadwal bosnya dan merapikan semua pekerjaannya. Ia sudah dinyatakan sehat total setelah demam kemarin dan ia merasa sudah sangat siap untuk bekerja.

Min Yoongi ada jadwal seminar bisnis di hotel BigHit. Jungkook yang tau Bosnya belum mandi sejak kemarin, ia membawakan Yoongi pakaian lengkap dengan peralatan mandi. Setelah Yoongi selesai, mereka segera berangkat. Di lobi kantor mata Jungkook terbelalak melihat Jimin dibantu sahabatnya keluar kantor, wajahnya terlihat pucat yang membuat Jungkook khawatir. Yoongi yang melihat asistennya memperhatikan Jimin, merasa risih dengan wajah khawatir Jungkook yang terlihat berlebihan.

"Kau suka pada nona Park?" tanyanya penuh selidik.

Jungkook kaget dan memandang bosnya tak mengerti . "Maksud anda Sajangnim!?... Bagaimana mungkin?" mereka masuk mobil dan bernagkat.

"Aku sering melihatmu memperhatikannya, dan itu terlihat seperti kau menyukainya."

"Tentu saja tidak. Saya hanya merasa khawatir. em... Sebenarnya, saya melihat nona Park dari dokter kandungan. Saya hanya berfikir tentang berbagai kemungkinan."

"Dia tidak hamil. Dia sendiri yang bilang."

Sepanjang presentasi Yoongi memikirkan kejadian pagi tadi. Jimin memegang perutnya dengan wajah pucat dibantu temannya kedalam taksi. Ia merasa membenarkan Jungkook mengenai berbagai kemungkinan. Bisa saja Jimin berbohong padanya. Fikiran negatif Yoongi muncul dari berbagai kemungkinan. Kemungkinan Jimin berbohong dan tetap merawat bayinya, sementara ia akan menikahi Hoseok. Itu bisa menjadi masalah rumah tangganya dengan Hoseok suatu saat nanti. Begitu seminar selesai, Yoongi meminta Jungkook mengatur jadwal janji dengan Jimin.

Sementara, orang yang membuat Min Yoongi was-was, kini sedang terbaring lemas di kamarnya. Gara-gara sup sapi pedas yang kemarin Jimin makan, ia kembali sakit. Sakitnya sangat menyebalkan dimana seluruh makanan yang ia cerna tak dapat tinggal lama di perutnya. Jika tak m*nt*h seharian maka ia akan membuang makanan yang sudah ia cerna lewat b*r*k. Jimin memaksa masuk kantor dan sialnya penyakitnya muncul. Ia kembali m*nt*h hingga membuatnya harus bolak-balik toilet lemas. Jimin merasa harus kembali ke rumah. Ia menelfon Tae begitu merasa benar-benar tak kuat lagi ke toilet.

...

Jimin melihat ke arah jam dinding kamarnya. Sudah pukul 12 siang. Ia pergi ke dapur melahap buah pisang dimeja dan meminum obatnya yang tersisa sedikit. Jimin merasa harus kembali ke dokter nanti sore dengan Erik untuk membeli obatnya lagi. Jimin kembali ke kamarnya dan berbaring namun rasa mual itu muncul, ia merubah posisinya menjadi bersandar ditepi ranjang. Merasa lebih baik dengan posisinya, Jimin mulai mengantuk lagi. Ia memejamkan mata sebelum sebuah panggilan telfon membuatnya kembali membuka mata. Jimin mengangkat panggilan tersebut dengan lemas. Itu Jeon Jungkook, asisten bosnya yang meminta waktu sore nanti untuk melakukan tes kesehatan.

Jungkook memintanya dengan sopan tadi, membuatnya mengerti, tetapi Jimin menangis sekarang. Ia menangis bukan karena sedang sedih atau kesakitan. Tetapi ia merasa marah dan tak bisa melakukan apa-apa untuk menghajar bosnya. Sungguh Jimin sangat lemas, bahkan tenaganya untuk mengumpatpun sudah habis. Tak peduli itu perintah bos atau bukan tapi, Jimin merasa sangat kesal sekarang. Bagaimana bisa ia yang sakit begini tiba-tiba dengan penuh perasaan bosnya memintanya untuk tes padahal ia sudah bilang hasilnya negatif. Kesimpulannya adalah Yoongi tak percaya pada Jimin dan sunguh Jimin sangat lelah. Jimin sangat muak dengan masalah ini. Ia hanya ingin tidur siang, tapi iblis tak mengizinkannya istirahat.

...

Jin melihat jam tanganya setelah turun dari taxi, Tulisan IbigHit terlihat jelas berdiri kokoh di sebuah taman indah di depan kantor yang memiliki nuansa putih dan metalik itu. Ia menelfok Jungkook, mengatakan kalau ia sudah di depan kantor tempat adiknya bekerja sekarang. Ia membawakan makanan untuk Jungkook. Khawatir kalau adiknya melewatkan makan siangnya, padahal Jungkook baru saja sembuh. Jin mendekati kantor depan untuk akses izin masuk.

Setelah mendapatkan cocard bertuliskan Visitor dan nama lengkapnya ia berjalan menuju lift. Jin yang tak tau mana lift karyawan dan direksi, ia hanya masuk begitu saja ke dalam Lift yang pertama terbuka. Ada dua orang berpakaian rapi menyusul masuk ke dalam lift yang Jin masuki. Dia adalah sang CEO dan asistennya. Asisten Namjoon ingin menegur kalau itu lift direksi tapi decegah Namjoon. Ia tak ingin banyak bicara masalah hal sepele, atau mungkin tak ingin wanita yang menarik perhatiannya ini pergi dari lift tanpa ia tau namanya. Ponsel Jin berbunyi. Sebuah panggilan dari Jungkook memintanya menitipkan makanannya ke sekertaris karena Jungkook ada meeting. Jin mendengus kesal.

",,,,mianhae! Tolong mengerti noona! Bye!" Jelas Jungkook ingin mengakhiri sambungan. Namun niatnya hilang begitu mendapat bentakan dari kakaknya

"YACK!" Bentakan Jin bukan hanya mengagetkan Jungkook tetapi dua orang yang berada satu lift dengannya. Jin sudah emosi sekarang. "Jeon Jungkook! Aku benci kau mengabaikan kesehatanmu. Kau tau itukan?! Mana bosmu?! Biar aku bicara denganya!"

"Dia sedang istirahat noona! Dia sudah tak tidur beberapa hari."

"Apa katamu?" bisiknya tak percaya. "dia tidur sementara kau meeting padahal di tau kau baru saja sakit?. Jeon Jungkook! aku tak ingin kau membela si brengsek Min Yoongi lagi. Diam disitu!" Perintahnya penuh penekanan dan memutus sambungan telfonnya dengan Jungkook.

Merasa nama sepupunya disebut bersama umpatan, Namjoon melirik Jin penuh selidik. Ia baru ingat Jeon Jungkook adalah asisten sepupunya, dan orang yang satu lift dengannya berarti kakak perempuannya. Ia mengintip cocard yang dikenakan wanita itu. Jeon Seok Jin, namanya tertulis rapi.

"Aku tak mengerti kenapa ada orang segila dia. Aku yakin dia pria kesepian yang tak pernah dapat kasih sayang dari kekasihnya. Jung Hoseok sama gilanya karena bisa tahan memacari orang gila kerja macam Min Yoongi."

Namjoon menahan tawa mendengar Jin menggerutu. Namjoon setuju dengan pandangannya tentang sepupunya. Dimatanya, Jin terlihat menarik dengan analisisnya. Ia menggeleng mencoba tak tersenyum, menatap Jin samapai lantai 11 lift berhenti dan mata Namjoon mengekori tubuh gadis itu keluar.

'Jeon Seok Jin. Sangat menarik!'. Batinnya.

-RT-

RS St. Mary Seoul

Jimin dapat teguran lagi dari dokter karena tak mengikuti perintah dokter untuk hati-hati mengisi perutnya. Yoongi yang berada disamping Jimin merasa lega. Test Kehamilan Negatif, dan mereka sedang mendengar teguran dokter sembari menuliskan resep obat untuk Jimin. Dokter itu kenal Jimin, berarti Jimin tak bohong mengenai lambungnya, Yoongi menganalisa.

Yoongi menatap wajah pucat Jimin, gadis itu terlihat lemas duduk disampingnya. Tiba-tiba, ia merasa bersalah karena tak mempercayai karyawan yang sudah bekerja bertahun-tahun dengannya. Seketika anggapan negatif Yoongi pada Jimin hilang. Yoongi melihat sisi jujur dan bagaimana Jimin menyelesaikan masalah, serta sikap sabar Jimin menghadapinya, Yoongi salut. Mereka keluar ruangan dokter spesialis penyakit dalam dan Yoongi menatap sinis Jungkook yang menahan tubuh Jimin yang lemas untuk berjalan menuju lobi. Lalu Jungkook melakukan pembayaran sementara Yoongi dan Jimin duduk di kursi tunggu.

"Kau puas Sajangnim?!," Jimin membentak Yoongi, membuat Yoongi menoleh. "tolong berhenti mencurigaiku dan mari kita hidup masing-masing dengan profesional." Jimin berniat menasehati Yoongi tapi posel handphonenya berbunyi tanda ada sebuah pesan masuk. Jimin membuka pesan tersebut. Sebuah pesan dari sahabatnya Kim Taehyung.

'Kemana kau?! Erik di rumah sekarang.'

Jimin membalas pesan tae segera. Tak ingin Erik khawatir. Jimin membatalkan janjinya meminta bantuan Erik untuk mengantarnya ke rumah sakit. Jimin membalas pesan sahabatnya kemudian melirik Yoongi yang sibuk dengan tabnya. Mulut Jimin komat kamit mengucapkan sumpah serapah pada Yoongi.

Erik ke apartemen Jimin dengan membawa kepiting untuk Jimin. Tau kekasih sahabatnya menjenguk, ia mengirim Jimin pesan untuk memberitahunya kalau Erik di rumah. Tae juga sempat khawatir tak melihat Jimin begitu pulang kerja. Tae mengawasi Erik dari dapur. Ponselnya berbunyi ia lalu membaca pesan dari Jimin.

'Si brengsek Min Yoongi tak percaya kalau aku bilang aku negatif hamil, dan dia memintaku test lagi bersamanya. Aku akan segera pulang. Katakan pada Erik untuk menunggu.'

"Mwo?!" bisiknya menatap balasan pesan Jimin. "Min Yoongi benar-benar Brengsek." Ia mengumpati bosnya. "Jimin sedang pergi ke swalayan. Dia sedang perjalanan kemari. Kau tunggu disini"

"Bukankah dia sedang sakit?! Aku akan menjemputnya!" Erik berdiri membuat Tae kaget.

"Ani, dia baikan tadi. Dia bilang agar kau tak usah khawatir." Bohongnya, dan Erik percaya.

Tae mencoba menutupi kegugupannya karena berbohong dengan pergi membuang sampah. Walaupun Tae memang berniat membuang sampah sebelum Erik datang. Erik tentu tak membiarkan sahabat kekasihnya membuang sampah sebanyak itu, Jadi ia membantunya.

Yoongi melirik Jimin yang bersandar dengan tak nyaman disampingnya. Mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat tinggal Jimin. Merasa bersalah karena memaksa Jimin yang sakit untuk test, Yoongi meminta maaf.

"Saya meminta maaf karena meminta nona Park melakukan test lagi. Saya hanya khawatir karena akan segera menikah. Saya telah berprasangka buruk. Maaf!"

"Saya sekarang faham betul sifat anda. Jadi jangan khawatir. Hanya Hiduplah bahagia masing-masing dan mohon untuk tidak membahas pembicaraan mengenai hal ini lagi. Karena saya sangat tidak suka mendengarnya."

"Masalah ini tak akan muncul jika kau tak menggodaku." Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut Yoongi. Ia tak sengaja, sungguh. "maaf! ehm." Ia memalingkan wajah menyembunyikan rasa bersalahnya.

Yoongi baru saja menyalakan api di kepala Jimin dan Jimin menatap Yoongi tajam. "Apa Sajangnim akan terus menimpa seluruh kesalahan pada saya dan terus menginjak-nginjak saya. Sajangnim! Saya diam karena saya masih menghormati anda. Lagipula, anda juga menikmatinya bukan. Siapa yang menyeret saya ke dalam hotel huh?!"

Yoongi mendecih. Baru saja ia menganggap Jimin baik sekarang wanita yang duduk disampingnya mencercanya. Yoongi tak pernah ingin kalah. "Aku tak tau kalau kau adalah karyawanku dan Pria mana yang akan menolah ditawari lampu hijau?! Kau yang tau aku bosmu, bukankah harusnya kau menolakku bukan?!. Kecuali kau memang sengaja ingin tidur denganku!" Yoongi menatap kedepan dengan angkuh. "Semua ini tak akan.."

"YACK! Saat itu aku mabuk bodoh! Berhenti menyalahkannku dan Tutup mulutmu!" bentak Jimin membuat Yoongi menghentikan ucapannya, ia melirik Jimin nyalang. Ia baru saja dikatai bodoh oleh karyawannya. Tapi melihat kobaran api dimata Jimin, Yoongi sedikit ciut. Sedangkan Jungkook membeku seketika. Ia menelan ludah. Seumur ia bekerja dengan bosnya baru kali ini ada orang yang berani membentak dan mengatai bosnya.

Sampai di depan apartemen Jimin, Jungkook membukakan puntu untuk Jimin yang mendapat tatapan membunuh dari Yoongi. Jimin keluar mobil dengan lemas, tapi Jimin berbalik menatap Yoongi yang duduk di dalam mobil.

"Tolong sajangnim! Berhenti menyinggung kejadian itu dengan kehamilan. Lupakan masalah ini huh!" tegas Jimin membuat Yoongi mendengus sebal. Jimin menutup pintu yang dipegang Jungkook dan berbalik. Mata Jimin terbelalak. terkejut melihat orang dibelakang Jungkook. Itu Erik, kekasihnya. Menatapnya dalam kebekuan bersama Tae yang meringis takut. Seketika suasana disitu menjadi beku.

Beberapa waktu lalu, Erik dan Tae baru saja selesai membuang sampah ia melihat mobil parkir di depan gedung dan seorang pria keluar dari mobil membukakan pintu untuk Jimin. Melihat Jimin yang terlihat lemas Erik mendekat namun percakapan Jimin dengan seseorang di dalam mobil membuatnya beku seketika. Tae pun terkejut dengan situasi kacau tersebut.

...

Tae mengendap-endap lalu bersembunyi dibalik rumput taman. Ia sedang mencoba mendengar pembicaraan dua orang yang duduk di kursi taman. Terdengar kata maaf dari Jimin. Lalu Jimin menceritakan semuanya. Erik hanya menghela nafas, meminta Jimin seharusnya lebih jujur. Erik pergi dengan wajah terpukul. Tae menatap sedih melihat kepergian kasihan sahabatnya. "Semua gara-gara Min Yoongi!" gerutunya.

Jimin terus mencoba menghubungi Eric tapi tak diangkat. Ia juga mengirim pesan untuk meminta maaf tetapi tak ada balasan. Sudah lima hari Erik mengabaikan Jimin. Bahkan Erik tak bisa ia temukan baik di Bar maupun Apartemennya. Jimin berjalan gontai di trotoar jalan yang ramai, ia merasa sedih. Matanya menangkap sebuah berita di layar TV gedung mengenai pernikahan model terkenal Jung Hoseok. Jimin mendecih. Baik dikantor maupun dijalan semua ramai membicarakan pernikahan Hoseok dan Yoongi. Mereka menikah setelah sekian lama menjalin hubungan. Sementara Jimin, terombang ambing dalam sebuah hubungnan. Semua terasa semua tak adil bagi Jimin.

-RT-

RS St, Mary Seoul

Yoongi berlari di atas trade mil dengan masker dan berbagai macam kabel terhubung dari mesin tersebut ke dada Yoongi. Ia sedang ckeck-up kesehatannya, karena besok ia akan menikah. Ia tak ingin ada masalah. Yoongi memang orang yang pintar menyembunyikan perasaanya, dia menahan gugup hanya dengan mengontrol nafasnya.

Sampai di hari dimana ia tunggu-tunggu tiba. Namjoon dan Jungkook menjadi pengiring Yoongi. Ia sudah berdiri di altar menunggu sang pengantin wanita datang. Yoongi bisa melihat anggota keluarga Jung dan Min menyatu, membuatnya tersenyum penuh bahagia. Sampai pintu terbuka dan suara alunan musik terdengar, Hoseok muncul dengan balutan kain putih panjang yang sangat elegan. Yoongi terpesona. Rapmon tersenyum melihat pengantin Yoongi yang cantik. Namjoon yang merasa posisinya kurang pinggir bergeser, namun naas. Ia tak sengaja menyenggol lilin yang akhirnya menyebabkan kebakaran di altar. Keadaan kacau dimana semua orang bertubrukan keluar gereja.

Pemadam kebakaran sedang mencoba memadamkan api. Hoseok dan Yoongi hanya pasrah memandang gereja yang terbakar habis.

Taehyung menahan tawa melihat kedua pengantin tersebut.

.

.

.

Tbc.

.