Yoo Punya penyakit yang sering lupa nama orang dan sering nuker-nuker nama orang. Serius! Nama semua teman seangkatan Yoo aja belum tentu Yoo hafal semua. He he he. (Teman macam apa aku ini) Saya mau Konfirm kalau di RT pakai nama asli member Bts. Jadi kalau penulis menulis nama panggung mereka itu berarti kesalahan penulis. Jin disini pakai marga Kookie, dan marga Kookie itu Jeon. Aku terus ketuker sama Kim Jungkook Running man.

Salah Lagi! Fiuh...

Itulah kenapa aku minta bantuan chingu deul untuk review tulisan Yoo yang berantakan.

Trimakasih untuk Reviewnya! Itu sangat membantu.

Chapter ini penulis berharap gx ada kesalahan penulisan lagi.

Ok mian karena banyak bicara. Silahkan membaca!

.

.

.

RT

.

.

Tim pemadam kebakaran terlihat sibuk berusaha memadamkan api yang membesar dari dalam gedung suci itu. Namjoon memijit keningnya menyalahkan kebodohan yang ia lakukan. Hoseok dan Yoongi hanya pasrah menatapi hari yang seharusnya bahagia bagi mereka. Semua keluarga terlihat sedih kecuali satu orang yang berdiri di pinggir jalan menatap dua pasang pengantin tersebut. Itu adalah Kim Taehyung. Dia sedang menertawakan nasib buruk bosnya, itu disebut karma bukan?!.

" Nona Kim!" panggil suara familiar seorang gadis, Tae menoleh dan mengerutkan kening. Itu Jeon Jungkook, asisten Direktur Min.

"Ne!"

"Saya membawa pembagian jadwal untuk company gathering yang kemarin anda minta." Jelas Jungkook membuat Tae bingung. ia bingung mendengar suara Jungkook. Tae jelas mendengar Itu bukan suara Jeon Jungkook tapi Nayoung, sekertarisnya.

"Menejer Kim!?" Tegur Jungkook dengan suara Nayoung lagi. "Menejer Kim anda tertidur?"

Ada apa dengan ini semua? Kenapa aku harus datang ke gereja? Kini Taehyung bingung dengan keadaan sekitarnya.

Ting! bak sihir mata Tae terbuka, ia melihat sekeliling dan melihat sekertarisnya berdiri dengan sebuah map di depan mejanya. "Nayoung-ssi?!"

Nayoung tersenyum dan meletakan map itu di meja Tae. "Saya membawa pembagian jadwal untuk company gathering yang kemarin anda minta. Saya fikir anda tidak tidur karena menjawab pertanyaan saya tadi. Maaf!" Jelas Nayoung ramah.

Tae mengumpulkan kesadarannya. "Aku tadi mimpi? ya sepertinya Mimpi!" Tae mur-mur lalu menatap sekertarisnya "Ya Trimakasih Park Nayoung-ssi. Kau boleh kembali ke mejamu!" Perintah Tae langsung dipatuhi sekertarisnya tersebut yang pamit kemudian pergi keluar ruangannya.

"Mwoya?! Tadi aku hanya mimpi?!" Tanya Tae pada dirinya sendiri. Ia membuka map dari Nayoung dan berfikir. "Benar! Aku pasti terlalu membencinya sampai aku bermimpi indah tentang Min Yoongi."

.

-RT-

.

"Wah!" Seorang dokter terkagum melihat catatan yang ia baca. "Ini seperti keajaiban. Kesehatan Jantung anda terus meningkat setiap kali check-up. Jika seperti ini. Ada kemungkinan anda bisa sembuh!"

Yoongi dan Jungkook tersenyum puas.

"Trimakasih Dokter!" ucap Yoongi bangga.

Jungkook sedang menyetir untuk mengantar bosnya pulang ke kediaman Jung untuk persiapan menikah besok.

"Saya senang mendengar anda bisa sembuh." Ucap Jungkook tulus.

"Ini karena aku punya keyakinan untuk sembuh Dan semua berkat Jung Hoseok." Jelasnya bangga. Yoongi tersenyum menatap udara, membayangkan cantiknya Hoseok saat mencoba gaun pengantin kala itu. "Setelah aku menikah. Kau bisa libur saat aku berbulan madu."

Penjelasan Yoongi membuat Jungkook tersenyum senang "Trimakasih sajangnim!". Ia senang karena ia akhirnya bisa liburan. Jungkook terus memikirkan pulau Jeju dari sebulan lalu. Selesai mengantar bosnya ke rumah. Jungkook langsung memesan tiket pesawat untuk penerbangan lusa pagi sesampainya ia di apartemennya. Ia berencana pergi setelah menghadiri resepsi pernikahan bosnya besok malam. Selesai memesan tiket kakanya menelfon untuk mengajaknya ke bar langganan mereka untuk menemaninya mabuk dan Jungkook juga kebetulan ingin memberi tau kakaknya perihal liburannya. Jungkook pergi setelah berganti pakaian yang lebih santai.


Mrs. Jung melihat seluruh gedung yang sudah dihiasi bungan dan berbagai macam benda penghias ruangan dengan nuansa putih dan anggun. Deretan meja dan kursi yang ditutupi kain putih dengan hiasan pita terlihat memenuhi seisi ruangan. Mrs. Jung tersenyum puas.

"Buket bunga mawar putih dan lili akan dihias disetiap sudut ruangan dan meja tamu. Rangkaian bunga tersebut akan datang besok." Jelas sang WO.

"ya! Ini bagus." Mr. Jung puas. Tetapi api,,, "Ingat hindari segala macam hal yang bisa menimbulkan api! Mengerti?" Mrs. Jung tak pernah bosan mengingatkan Wonya karena ia takut hal buruk terjadi. Ia takut bahwa api bisa membuat kebakaran dan menghancurkan pernikahan puterinya.

"Baik bu!"


Hoseok terus tersenyum memandang pantulan dirinya dikaca. Ia tersenyum puas melihat betapa anggunya dia mengenakan gaun model mermaid full lace dengan veil cathedral yang terkesan sangat anggun.

"Wah noona kau sangat cantik! Aku hampir saja jatuh cinta padamu noona!" ucap Jung woozi adik Hoseok begitu masuk kamar kakaknya. Ia baru pulang dari les.

Hoseok tersenyum mendengar rayuan adik manisnya. Terlihat jelas kegugupan Hoseok di balik senyumannya.

"Noona kau terlihat sangat gugup! Bukankah harusnya kau tersenyum bahagia?" Woozi baru menginjak kelas tiga Junior High School sehingga ia tak begitu mengerti banyak mengenai hal2 yang orang dewasa fikirkan.

"Setiap pengantin akan gugup."

"weo?!"

"Entahlah! Mungkin karena besok hari besar untukku seumur hidup."

"Seumur hidup? Bisa saja kau menikah dua kali!"

"Yack! Jaga bicaramu bocah." Hoseok melempar bantal yang ada di sofa pada adiknya.

"he he mian! Aku hanya bercanda!"

Hoseok meminta adiknya keluar karena ia akan berganti pakaian. Sekilas ia melihat tumpukan surat dari fansnya, ia yakin mereka ingin mengucapkan selamat. Hoseok berganti pakain dan membaca surat-surat dari fans yang merupakan kebanggaannya. Hoseok bukan siapa-siapa tanpa dukungan dari fansnya. Sebuah amplop merah dengan gambar hati yang manis mencuri perhatian Hoseok, tak ada nama pengirim, ia tetap membukanya dan membaca isi surat tersebut. Sebuah kalimat yang membuatnya tersenyum.

Kau miliku selamanya

Kata itu tertulis seperti tulisan tangan yoongi. Hoseok mencium kertas tersebut.

"Aku tak tau kau bisa semanis ini!" Hoseok tesenyum tersipu.

Lain Jung Hoseok yang sedang bahagia menunggu hari paling bersejarah dalam hidupnya esok. Park Jimin murung menatap ponselnya.

"Kau berani mengacuhkanku?!" ucapnya sebal. Detik berikutnya Jimin merengek "Dimana kau Oppa~?"

Park Jimin sedang telah kehilangan akalnya karena mabuk. Ia sedang meminum gelas irishnya yang ke empat. Sepulang ia kerja, ia berbelok begitu saja begitu melihat tulisan bar. Entah bar milik siapa, Jimin hanya butuh mabuk. Ia sudah sangat tertekan dengan kekasihnya. Ponselnya berbunyi dan Jimin buru-buru mengangkatnya ketika ia berkhayal bahwa panggilan itu dari Erik.

"Oppa~!" rengeknya manja!

Taehyung yang mendapat jawaban panggilan dan dipanggil oppa oleh sahabatnya mengerutkan kening. Ia baru saja pulang lembur dan tidak menemukan sahabatnya. Ia hanya khawatir karena Jimin baru sembuh dari sakitnya.

"Ini aku Taehyung!" tegas Tae.

"Iya, aku tau oppa. Aku benar-benar minta maaf! Aku dan si Yoongi brengsek itu hanyalah kecelakaan. Itu tak seperti yang oppa fikirkan. Aku tau kesalahanku tak jujur. Aku hanya takut oppa akan memutuskan hubungan denganku."

Tae sedih mendengar penuturan sahabatnya. Ia tau sahabatnya pasti sedang mabuk sekarang. "Kau dimana Chim?!" Tanya Tae yang akan sia-sia. Sahabatnya punya hobi mabuk di bar manapun yang menarik perhatiannya, ia akan mabuk disana, dan Tae akan bingung mencari sahabatnya itu, dan benar saja. Tae menjawab pertanyaan Tae dengan jawaban ngawur perihal kekasihnya. Tae menghela nafas dan mengambil mantelnya yang baru ia gantung. "Diam disitu Chim! Aku akan kesana!"

"Terimakasih Oppa! Aku akan menunggumu!" Jawab Jimin riang dan mengangkat tangan bahagia. "Yeaa! Oppa akan kemari menjemputku!" teriaknya, membuat pengunjung bar menoleh ke arahnya. Termasuk Jungkook yang baru tiba.

Jimin yang tak seimbang duduknya terjungkal ke belakang lalu dengan sigap Jungkook menahannya dan membetulkan posisi duduk Jimin.

"Kenapa Oppa lama sekali?!" rengeknya mebuat Jungkook khawatir. Wanita yang pernah mendapat masalah dengan bossnya kini sedang mabuk sendirian dan ia tak tau harus apa.

"Nona Park anda sendirian?!" Jungkook melihat seluruh Night bar dan melihat kakaknya melambaikan tangan. Jin terlihat menatapnya penuh tanya pada Jimin.

"Ne aku sendirian, aku kesepian karena kau terus mengabaikanku belakangan ini!" kali ini Jimin sedah memeluk Jungkook. Membuatnya panik. Jin terlihat berdiri dan mendekat.

"Nona Park!"

"Kenapa kau panggil aku nona park oppa?!" detik berikutnya Jimin menangis "Kau betul-betul marah padaku?! Oppa mianhae! Aku tau aku salah, hanya saja maafkan aku Oppa! Aku tak bisa kau abaikan seperti ini. Aku bisa mati!" Raungnya membuat Jin yang medekat kesal.

"Kau kenal pemabuk ini?!" Tanya Jin mencibir menatap Jimin.

"Dia kepala bagian desain di kantorku Noona!"

"Oppa dia siapa?" Jimin menangis lagi "Jangan katakan kau kesini mengatakan putus karena menemukan pacara baru! Oppa Andwe!" Jimin kembali merengek dan menarik-narik jaket Jungkook. "Oppa aku sangat mencintaimu!" teriaknya, membuat Jin mendorong Jimin menjauh dari Tubuh adiknya.

"Yack apa yang kau lakukan?!" bentak Jin.

"Noona. Nona Park sedang mabuk." Jungkook menggapai uluran tangan Jimin yang ingin memeluknya lagi.

"Mwoya?! Kau kenal dia seperti apa? Apakah kau punya felling dengannya?."

"Ania noona, hanya saja dia pernah ada masalah dengan Min sajang. " ucapan Jungkook berhenti ketika Tae datang dan memisahkan Jimin dari Jungkook.

"Mwoya Jimin-ah! Ah memalukan!" Tae melihat siapa pria itu dan memandanggnya heran "Mian! Jeon Jungkook-sshi?"

"Nona Kim!" Jungkook menyapa kembali Tae dengan ramah. "Aku melihat nona Park hampir jatuh tadi jadi saya mendekatinya. Apakah nona park belum baikan dengan kekasihnya?" tanya Jungkook khawatir. Jimin kini tidur sembari duduk dalam pelukan Tae.

"ya! Sejak kejadian terakhir. Erik, maksudku kekasihnya belum juga menghubunginya." Tae menjelaskan dengan lesu, menatap Jimin ironis.

"Maafkan saya nona Kim untuk apa yang terjadi"

"kenapa kau meminta maaf?! Inikan salah si Yoongi breng," Tae menghentikan kalimatnya, sadar ia akan mengatai Yoongi brengsek di depan asistenya. Tae tersenyum kecut. Sedangkan Jin yang mendengar nama bos adiknya hampir dimaki, ia melihat Tae penuh rasa tertarik. Jin merasa mereka dalam perahu yang sama dengannya.

"Maaf! Maksudku kesalahan Min sajang bukan salahmu. Pokoknya terima kasih sudah menolong Jimin!" Tae berterimakasih sungguh-sungguh sambil berusaha membangunkan Jimin dengan menepuknya.

"ya! Sama-sama." Melihat Tae kesusahan jiwa kesatria Jungkook muncul "Biar saya bantu membawa nona Park ke dalam mobil!" Jungkook tanpa basa-basi menggendong Jimin "noona tunggulah sebentar ne!"

"m!" Jin hanya menganguk.

"Terimakasih Jeon Jungkook-ssi!"

Jin menatap kepergian mereka

"Apa lagi yang dilakukan si Yoongi brengsek itu?! Apapun itu, pasti cara yang sangat tak manusiawi. Dia terlihat sangat stress, Ck ck Kasihan sekali gadis itu!"


Hari pernikahan tiba. Seluruh keluarga Jung dan Min sedang mengobrol sembari menunggu kedua pengantin muncul dari pintu. Namjoon sedang diluar menemani sepupunya yang terlihat gugp meski ia terlihat diam. Yoongi menarik dan mebuang nafas untuk menghilangkan geroginya.

"Easy dude!"

Terdengar Mc menyebutkan nama Yoongi dari dalam gereja. Pertanda ia harus masuk. Namjoon dan Woozi masuk mengiringi Yoongi lalu mereka berdiri disamping kanan altar, disamping altar. Berikutnya Mc mempersilahkan Hoseok untuk masuk, membuat Yoongi tambah gerogi.

Dengan Pengiring pengantin anak-anak kecil yang lucu sembari menebari bunga, Hoseok muncul dengan wajah tertutup Veil dengan motif lace yang elegant. Veil yang tipis itu tetap memperlihatkan wajah Hoseok samar. Tapi Yoongi yakin Hoseok sangat cantik dibalik kain itu. membuatnya tak sabar membuka veil tersebut dan ingin menciumnya. Begitu Hoseok mendekat Yoongi mengulurkan tangannya untuk membantu Hoseok naik ke altar, sementara pengiring wanita berdiri di samping kiri altar. Mereka sudah berdiri di depan pastur. Seluruh keluarga tersenyum bahagia menatap kedua pasang pengantin tersebut.

PRANGGGG!

Belum sempat pastur membimbing kedua pasangan untuk saling mengucap janji kaca patri yang bergambar bunda maria itu pecah membuat pecahan kaca itu jatuh menimpa beberapa orang. Yoongi reflek langsung melindungi Hoseok. Lalu entah bagaimana api muncul membakar Gorden yang menghiasi gereja. Semua keadaan kacau, orang-orang berhamburan keluar. Namjoon dengan sigap mengambil ponselnya dan menelfon polisi, ia tau ini sabotase.

Namjoon dan Woozi juga membantu beberapa orang yang tadi terkena kaca untuk keluar gereja. Namjoon bertindak paling lugas, setelah mengevakuasi orang-orang seisi gereja ia melihat sekeliling untuk memastikan tak ada orang, ia hendak keluar namun sebuah ledakan muncul membuat Namjoon kaget dan terjatuh.

Mendengar ledakan dan tau sepupunya didalam, Yoongi datang masuk meyeret Namjoon yang tak bisa berjalan. Tim SAT datang dengan cepat. Tim pemadam mencoba memadamkan api, sementara Polisi memasang police line di sekeliling gereja. Para korban segera dibawa ambulance. Ambulance yang hanya beberapa membuat keluarga Min dan Jung membawa korban dengan mobil mereka masing-masing mengikuti ambulane dengan dikawal polisi.

Seolah ikan yang melihat makanannya, jurnalis dari berbagai media berdatangan menambah suasana menjadi lebih ricuh. Dengan cepat kejadian yang menimpa model terkenal Hoseok menyebar diberbagai media. Orang-orang mulai heboh mencari informasi lebih dari internet.


IBigHit

"Mwoya?! Terjadi sesuatu dipernikahan Min Sajangnim!" teriak salah satu karyawan membuat gaduh seluruh kantor. Ibighit jadi kacau sekarang, Tae yang keluar ruangannya heran melihat karyawannya berkumpul di satu meja. Tae bukan orang yang mentolerir pekerja yang tak disiplin.

"Yack! Apa yang kalian lakukan!?" bentak Tae.

"Terjadi pengeboman di Gereja tempat Min Sajang menikah!" Jelas Nayoung dan langsung membuat Tae ikut heboh lari mendekati karyawannya.

"WOW Daebak!" teriak Tae antusias. Ia melihat photo kebakaran di gereja tersebut sama persis seperti api yang ada dalam mimpinya. Ia mengirimi Jimin pesan, dan begitu Jimin menerimanya ia juga ikut searching dan dalam hatinya ia sedikit merasa puas. Sejenak Jimin merasa itu adil.


Cnj Ent.

"Apa yang terjadi dengan Hoseok?" kali ini kantor manajement artis Hoseok yang geger.

"Mwoya?!" semua kantor ricuh.


Sekolah

Berita itu menyebar membuat ramai public termasuk para siswa di sekolah.

"Daebak! Ada pengeboman saat pernikahan Jung Hoseok!"

"Mwo?"/"Mwoya?" siswa siswi itu heboh dan sibuk membuka poselnya. Berbeda dengan siswa gemuk yang santai merapikan kuncirannya.

"Aku sudah bilang tak ada hari baik! Benang merah itu sudah terikat kuat dan semakin dekat dengan takdirnya." ucap siswi bernama Lee Guk Joo itu dengan sanatai masih menatap cermin.

.

-RT-

.

Seoul

11:34 Kst

.

Jin berlari menuju ruang operasi begitu mendengar berita darurat.

"Apa yang terjadi?" tanya Jin pada beberapa perawat yang sama-sama pergi menuju ruang ICU.

"Terjadi pengeboman di gereja saat acara penikahan model Jung Hoseok!"

Jin terkejut langsung mempercepat langkahnya, pasalnya adiknya juga disana. Hatinya lega melihat Jungkook berdiri di depan ruang ICU bersama Yoongi dan keluarganya. Jungkook menatap kakaknya, dan Jin langsung mendekati adiknya

"Gwenchana?!" tanyanya khawatir.

Jungkook mengangguk "Gwenchana!. Noona tolong Kim Sajangnim dia satu-satunya orang yang terkena bom." Jelas Jungkook.

"Aku akan berusaha semampuku!" Jin berlari masuk ke dalam ruangan ICU.

Jin masuk dan melihat siapa orang yang berbaring kesakitan di sana.

"Terjadi keretakan di tulang kaki dan tangannya!" jelas dokter lain.

Jin melihat Namjoon yang menatapnya kaget.

'Rasanya aku pernah melihatnya!' Batin Jin

'Wanita yang ada di lift?!' Batin Namjoon

Mata mereka bertemu sesaat sebelum perawat memberinya bius.

.

.

.

RT

.

.

Terimakasih untuk pembaca yang baik hati mereview tulisan saya yang masih berantakan.

Love U Guys

.