Have a Nice Read!

.

-Red Thread-

.

.

.

St. Mary Seoul

Sebuah Foto hasil x-Ray di layar, Jin perlihatkan pada Mr. Dan Mrs. Kim.

"Hanya Retak dok?! Bukankah uri Namjoon terkena bom?! Harusnya ada penanganan lebih lanjut bukan?!" protes Mrs. Kim. Pada Jin.

Jin menunjuk monitor dengan ballpoinnya "Dari hasil pemeriksaan kami, luka retak ringan seperti ini, kemungkinan besar karena terbentur benda keras atau mungkin beberapa khasus karena terjatuh. Jika terkena bom kemungkinan luka akan merusak jaringan daging disekitar tulang yang retak."

Mr. Kim mentap Jin penuh tanya "Jadi maksud dokter anak kami tidak terkena bom?"

Jin menggeleng, memberikan senyum ramahnya. "Saya yakin Tuan Kim Namjoon hanya terjatuh!"

Mr. Kim dan Mrs. Kim menghela nafas lega

"Syukurlah kalau begitu."

"kalau begitu apa kami sudah bisa melihat putera kami?"

"ne! tentu saja."

Jin menatap kepergian kedua orang tua itu. "Waah! Berapa usia putera mereka? Samapai mereka begitu sayang dan perhatian pada puteranya seperti itu?"

.

-RT-

.

Sepulang kantor Tae mengajak Jimin makan diluar. Di restoran daging sapi dekat kantor, tempat makan langganan mereka. Tae bercerita tentang mimpinya siang tadi. Jimin kesulitan mencerna kalimat Tae karena apa yang Tae ceritakan berbeda dengan mimik wajahnya. Tae bercerita dengan senyuman bahagia seolah ia mendapat mimpi indah.

"Itu mimpi buruk bukan?!"

"Ani! Itu mimpi indah!" Jelas Tae menampik pertanyaan Jimin.

"bagaimana bisa kau anggap itu mimpi indah?!"

"Di dunia ini aku percaya yang namanya ramalan dan pertanda-pertanda tertentu. Seperti mimpiku yang jadi kenyataan. Itu pasti bagian dari karma untuk Min Sajang!"

Jimin menatap horror senyum lebar Tae. "Yah! Aku tau kita membencinya tapi, tidakah terlalu kasar menertawakan sebuah musibah?!"

Tae berfikir dengan wajah blank yang membuat Jimin ilfil "Benar! Tak seharusnya aku bahagia!" Tae mengangguk, memakan dagingnya kemudian menatap Jimin "Tapi kenapa aku merasa senang?!"

"Makan saja! makan!" Jimin kini mengomel. Heran dengan pemikiran Taehyung yang aneh sejak lahir.

"Oh iya. Kami sudah membagi untuk company gathering."

"benarkah?! Kemana tim pemasaran akan pergi?!"

"Nayoung membaginya dengan baik. Team kita akan ke Jejuuuu~"

Jimin dan Tae tersenyum dan tertawa bersama seperti orang mabuk. Mereka senang karena setelah lama bekerja di IbigHit, akhirnya mereka bisa liburan bersama terutama ke Jeju.

"Erik bagaiman?!"

"Entahlah! Sepertinya dia berniat mencampakanku!"

"Aku tau tempat peramal yang bagus ayo kita kesana!"


Jungkook menghela nafas, menatap sedih pada tiket pesawatnya. Harusnya besok pagi ia terbang tapi, musibah kali ini mengharuskannya tinggal di seoul lebih lama karena pasti besok bosnya akan kembali kerja, karena tak jadi menikah. Jungkook membuka lemari pendinginnya dan tak ada bahan makanan apapun. Hanya tinggal air mineral, dua butir telur dan satu buah tomat. Ia lupa untuk belanja bulanan. Jungkook walau dia sibuk tetapi ia tetap masak sendiri untuk sarapan maupun makan malam atau kadang noonanya akan memasakan sesuatu dan disimpan di lemari pendingin. Merasa harus mengisi lemari pendinginnya, ia mengambil kunci mobil lalu pergi ke mall.


Peramal Cinta Lee Guk Joo

"Tak ada!" ucapnya tegas pada kedua wanita yang sedang meminta petunjuk darinya "Bahkan tahun depanpun tak ada!"

Kedua wanita paruh baya itu tak lain adalah Mrs. Jung dan Mrs. Min. Setelah apa yang diramalkan Guk Joo jadi nyata, mereka datang kembali untuk mendapat petunjuk. "Lalu bagimana?! Mereka saling mencintai." jelas Mr. Min berharap akan ada keberuntungan.

Guk Joo mendengus "Mereka berdua bukan pasangan yang baik, mereka sama-sama saling berhianat, tak ada takdir cinta bagi mereka berdua di masa depan. Jadi, berhentilah memaksakan takdir anjungma! Kalaupun mereka menikah, mereka akan bercerai dalam hitungan hari."

"Bagaimana ini !?" Mr. Jung terlihat khawatir.

"Berilah waktu puteramu liburan Mrs. Min, dan Mrs. Jung aku rasa karier Hoseok Unie akan jadi sorotan media tahun ini, ia harus berjuang dengan kariernya."

Setelah memberikan Guk Joo amplop mereka pergi dengan putus asa. Guk Joo memandang tanggal terhitungan milik Yoongi dan ia melemun. Ada sesuatu dalam tanggal lahir dan nama Yoongi yang terasa familiar. Tak lama kepergian Mrs. Jung dan Mrs. Min, ia dikagetkan dengan tanggal lahir seseorang didepannya, seseorang dengan mata sipit yang manis. Guk Joo mengambil coretan Min Yoongi, dan menyingkirkan tanggal lahir pria bernama Eric Nam yang Jimin ingin peruntungkan. Kemudian, ia menghitung kedua tanggal lahir tersebut. Tae yang melihat Guk Joo yang penuh ekspresi membuatnya merasa penasaran, lain halnya Jimin yang menatap bingung sang peramal.

"Sesange! Bagai-bagaimana mungkin dunia kalian jadi sesempit ini?! Wahhhh... nona Park Jimin. Takdir anda sangat dekat, dia ada di depan matamu!"

Jimin tersenyum memikirkan Erik. "Benarkah!? Lalu apakah aku dan Erik akan berbaikan?!"

"Ania! Aku bukan bicara tentang kekasihmu!" Guk Joo membentak Jimin.

" Kau dan kekasihmu,,," Guk Joo melempar kertas perhitungan Erik sembarang.",,,Kalian akan putus!"

Tae dan Jimin Terlonjak kaget lebih kaget daripada bentakan Guk Joo tadi. mereka ketakutan dengan ramalan Guk Joo.

" Dalam waktu dekat dia akan mencampakanmu!" Jelas Guk Joo lagi.

Tae menatap Jimin sedih, ia merasa kasihan. Kemungkinan mereka akan putus memang besar. Jimin terkejut, ia hampir menangis.

"Tak ada yang harus ditangisi! Takdirmu semakin dekat dengannya."

"Dengannya siapa?!"

"Seseorang yang selalu ada didekatmu dan kau fikirkan tiap hari."

'Bukankah itu Erik?!' batin Jimin.

Tae memposisikan duduknya lebih maju "Lalu aku Bagaimana Lee hakseng?!,,," Tae menatap Guk Joo antusias. ",,Aku belum juga dapat pacar!"

Guk Joo mengangguk mengerti kemudian menghitung tanggal lahir Tae.

"Kalian memang sahabat! Bahkan dia sangat dekat dengan takdir sahabatmu!... Dia pria yang sangat baik, cukup mapan, dan menyukai warna merah."

Tae tersenyum lebar dengan mata yang berbinar menatap Guk Joo "Benarkah?!" ia semangat sekarang.

"Belilah sebuah anting dengan gantungan berbentuk bintang kecil berwarna merah dan sering-seringlah memakai baju merah! Warna itu akan memancingnya melihatmu!"

"Ne!" Jawab Tae dengan senyum ceria.

Melihat temannya diberi petunjuk Jimiin merasa iri "Lalu apa jimat untukku?!"

Guk Joo terlihat berfikir dan membuat kedua wanita ini menanti jawaban dengan rasa penuh penasaran.

"Mabuk!"

Sebuah kata yang membuat Tae tertawa terbahak. "Benar! Dia sangat stress. Mabuk adalah cara yang paling bagus!" Tae tertawa lagi yang langsung dapat tatapan membunuh dari Jimin.


Berita mengenai pengeboman gereja telah diketahui akibat tindakan fans fanatik dari model Jung Hoseok yang tak rela idolanya menikah. Namjoon membaca artikel tersebut dan terkejut dengan satu korban yang kritis karena pengeboman tersebut.

"Eoma siapa yang kritis dari pengeboman itu?! Bukan salah satu keluarga kitakan?!"

"Itu kau! Semua orang berfikir kaulah yang terkena bom karena, satu-satunya orang yang ada di dalam saat kejadian itu kau. Itu benar-benar membuat eoma hampir mati"

Namjoon tertawa, mendengar penuturan omong kosong yang dibuat media "Aku hanya Jatuh eoma!"

"Ara! Dokter Jin memeriksamu dan memberi tahu bahwa lukamu hanya karena terjatuh."

" Dokter Jin ?!"

" Dokter Jeon Seokjin. Dia dokter spesialis tulang disini! Dia sangat cantik!"

Namjoon yakin yang eomanya maksud adalah Jeon Seokjin yang ada di lift. Penuturan ibunya membuat Namjoon berfikir sejenak. Selintas wajah Jin muncul dalam bayangannya, mata indah, merasa kalau jin sangat cantik meski menggunakan masker saat operasinya.


"Aku tak bisa memutuskan hubungan dengannya! Aku mencintainya."

Erik mengeluh meminum segelas whisky. Ia terlihat stress.

"Kau yakin mencintainya?!" tanya Kevin yang duduk disebelahnya.

Erik merenungkan kata-kata sahabatnya, ia memandang gelasnya. Sudah hampir sebulan ia meninggalkan kekasihnya begitu saja. Erik bukan kesal dia hanya tiba-tiba merasa malas dengan Jimin karena merasa bahwa kekasihnya tak bisa jujur padanya. Ia kesal karena merasa dibodohi.

"Aku sudah hampir sebulan menghindarinya. Apa itu bisa berarti aku mencampakannya?"

"Ya dan Itu berarti kau pria yang pengecut!"

"Lalu aku harus bagaimana?

"Jika kau ingin putus maka katakan putus di depannya dengan baik-baik, bukan dengan cara menghindarinya seperti ini."

Setelah mendengar pendapat sahabatnya ia baru sadar bahwa ia memang pengecut. Erik menelfon Jimin dan memintanya bertemu.


Hoseok menangis dikamarnya, ia merasa kesal dengan kejadian yang menimpanya kemarin. Dengan keadaan seperti itu ia tak memiliki kekuatan untuk menghadapi media. Bahkan ia juga mengabaikan Yoongi yang memanggilnya memohon dari luar pintu. Semuanya terasa memalukan baginya. Hoseok meatap ponselnya, ia melihat banyak pesan dan pangilan. Tanpa peduli, ia melempar poselnya dan kembali menangis.

Yoongi tentu saja khawatir karena setelah dari rumah sakit, Hoseok mengurung diri dikamar. Ia berkata bahwa Hoseok merasa malu dan bersalah dengan kejadian kemarin. Yoongi langsung datang ke kediaman Jung begitu Mrs. Jung menelfonnya untuk membujuk Hoseok keluar kamarnya. Tetapi tak ada hasil, Hoseok bahkan mengabaikan Yoongi.

" Hoseok-ah ! " Panggil Yoongi lagi.


Jimin menatap ponselnya. Tae tau bahwa yang menelfon tadi adalah kekasih sahabatnya. Tae mendengus melihat Jimin.

"Akhiri Saja!" Kata-kata Tae sontak membuat Jimin menatapnya horror. ",,,Aku yakin dia memintamu bertemu untuk meminta putus! Maka sebelum kau dicampakan kau mintalah putus duluan."

"Tae-ah! itu membuatku terlihat jahat. ada apa denganmu?! "

" karena aku khawatir. bukankah sudah jelas ia sudah mengabaikanmu? bukankah itu tanda bahwa ia ingin mengakhiri hubungan?."

Penjelasan Tae seketika membuat Jimin khawatir, ia merasa belum siap mengakhiri hubungannya dengan Erik, dan benar apa kata Tae, sekarang Erik mengatakan sebuah kejujuran yang membuatnya cukup sakit hati. Jimin pergi ke taman dimana Erik yang memintanya.

"Aku hanya merasa bahwa semua hubungan yang kita jalani terasa salah."

"Aku mengerti!" Jimin menunduk. Ia faham maksud Erik.

"Aku berharap kita masih bisa berhubungan baik."

Jimin sakit hati sekarang. bagaimana bisa ia masih bisa berhubungan baik dengan Erik setelah Erik memutuskan hubungan dengannya. Seketika Jimin berfikir bahwa Tae benar, Harusnya ia memutuskan hubungannya dengan Erik lebih dulu tadi. Jimin menghela nafas dan membuang muka.

"Aku tak bisa! Aku juga tak ingin berlama-lama disini. Jika memang itu yang oppa mau, maka sudahi percakapan ini sekarang juga!" Jimin pergi tak menghiraukan permintaan maaf Erik.

Mobil Jimin berhenti saat lampu merah menyala. Ia menatap orang-orang yang menyebrang dengan tatapan kosong. Detik berikutnya ia bisa merasakan matanya berair, Jimin menangis. Begitu lampu merah berganti hijau, Jimin kembali melaju, ia menghapus air matanya kasar. Selintas kata-kata peramal tadi membuat Jimin menghentikan mobilnya disebuah bar. Jimin butuh mabuk. Paginya, Jimin merasakan pening dikepalanya, ia membuka mata dan berfikir mengapa ia bisa pusing. Jimin yakin semalam ia mabuk ke sebuah bar. Jimin yakin sahabatnya menemukannya dalam kondisi mengenaskan tadi malam karena ia mabuk berat.

...

Jimin merasa sumpek dengan suasana bar dan pergi keluar setelah membayar. Ia berjalan seolah semua jalan berlubang. Tanpa sadar Jimin berjalan menuju jalan raya, ia linglung memikirkan erik dan hanya berdiri. Sampai sebuah Mobil hampir menabraknya dan ia lalu berjongkook menangis. Ia kesal dengan Erik.

"Nona Park! Anda baik-baik saja?!" panggil Jungkook memastikan.

Jimin menatap Jongkook kemudian ia berdiri dan menampar Jungkook. "Yack! Kau pria brengsek!"

Jungkook melotot kaget mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi, seumur hidupnya baru kali ini ia ditampar dan dikatai oleh seseorang, dan itu oleh seseorang yang bahkan Jungkook tak tau kesalahannya apa.

"Kau! Pria prngrcut yang tak tau malu!" Jimin mencoba memukul Jungkook tapi ia malah terjatuh dan tertidur dijalan "Berani-beraninya kau mengakhiri hubungan kita! Akulah yang harusnya berkata putus duluan!"

Jongkook yang sempat marah kini malah menatap Jimin iba. Kini ia tau apa masalahnya. Sepertinya Jimin memang selalu mabuk ketika stress dan itu sebelumnya terjadi ketika ia menemukan nona Park mabuk dan memohon padanya, sekarang wanita yang sama mengumpat dan menamparnya karena berani memutuskan hubungan dengannya. Jungkook membangunkan Jimin tapi Jimin hanya mengucapkan kata-kata yang tak jelas lalu Jungkook terpaksa membawa Jimin ke dalam mobil dan mengantarnya pulang. Jimin tertidur di mobil Jungkook, sampai Jungkook mencoba membangunkannya kekacauan terjadi lagi. Rambut Jungkook ditarik Jimin.

"Aaaa... Nona Park!" Jungkook berteriak kesakitan.

"Yack! Berhenti menggangguku brengsek. Aku bilang, aku tak mau berurusan lagi dengan pria brengsek macam kau!".Merasa tak tahan, Jungkook menelfon sahabat Jimin, Kim Taehyung. Untuk meminta bantuannya.

Tae yang mendapat panggilan dari Jungkook yang berkata bahwa ia ada diluar bersama sahabatnya yang sedang mabuk, tanpa fikir panjang segera turun kebawah.

"Yah! Park Jimin!" bentak Taehyung ketika melihat Jimin di luar mobil sedang menarik-narik kaos Jungkook sambil memakinya.

Jimin yang merasa dipanggil menoleh dan menangis menatap sahabatnya "Tae-ah~!" rengeknya.

"Yah! Apa yang kau lakukan?!" Tae menyambut pelukan Jimin dan menatap Jungkook iba. Pasalnya ia melihat kaos Jungkook robek. ",,,Jeon-ssi! Aku benar-benar minta maaf! Apa kau baik-baik saja?!"

Jungkook mengelus kepalanya yang sakita karena jambakan Jimin tadi "ya! Saya baik-baik saja."

"Mampirlah kedalam dulu! Aku akan mencarikanmu Pakaian ganti!" Jimin seperti biasa tertidur Jika mabuk dipelukan sahabatnya.

Jungkook menolak tawaran Tae dan permisi pergi dengan tampilan yang kacau.

...

Jimin memukul kepalanya "Park Jimin kau gila!" bentaknya begitu ingat kejadian diamana ia mabuk semalam.


Junkook pasrah melihat kaos kesayangannya robek. Dengan perasaan tak rela, Jungkook memasukannya ke tong sampah yang ada di kamar mandinya. Ia menghel nafas kemudian melamun memikirkan kejadian dimana ia baru pulang dari spa saran kakaknya. Malam itu Jungkook hampir menabrak seseorang tiba-tiba muncul di jalan. Jungkook yang mengenal siapa orang itu langsung keluar mobil dan naas, ia yang berniat menolong Park Jimin yang sedang mabuk malah dimaki dan ditempeli habis-habisan. Sampai Jungkook mengantar Jimin ke rumahnya, Jungkook masih ditarik-tarik kasar hingga pakaiannya robek.


Yoongi melihat surat pemberitahuan Company Gathering untuk Teamnya. Yoongi tak pernah suka acara liburan bersama stafnya. Tapi, Ia ingat Jungkook yang pernah mengatakan akan pergi ke Jeju dan secara kebetulan acara kantornya setujuan dengan Jungkook. Karena kegagalan pernikahannya asistennya juga terkena imbasnya. Ia merasa harus mengganti liburan Jungkook di acara itu, meskipun Jungkook pasti tak akan berangkat jika ia tak ikut.

"Jungkook-ah!"

"Ne Sajangnim?!"

"Ayo kita pergi ke Company Gathering tahun ini!" ajak Yoongi.

Jungkook memandang Yoongi memastikan kalau ia tak salah dengar "Sajangnim serius?! Bukankah anda tak pernah ikut?!"

"Aku dan Hoseok mungkin butuh liburan. Jika pergi bersama ke Jeju aku berharap bisa membuat Hoseok merasa lebih baik." Yoongi berkata penuh keyakinan, meski hatinya tidak.

"Baik Sajangnim. Akan saya persiapkan segala keperluan anda!" uacap Jungkook terlihat antusias. Yoongi hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih.

.

-RT-

.

Jin masuk ke ruangan Namjoon untuk pemeriksaan rutin pasyennya.

"Slamat Pagi Kim Namjoon-ssi! Apakah anda tidur dengan nyaman semalam?!" sapa Jin dengan senyuman yang ramah seperti layaknya dokter lain. ia berdiri didekat jendela, menatap Namjoon.

Melihat siapa yang menyapanya, Namjoon terpaku. Pertama kali dalam hidup Kim Namjoon ada sesuatu yang bisa membuatnya lebih tertarik daripada memeriksa pasar saham yang selalu ia lakukan setiap pagi. Sinar matahari pagi dari jendela membuat Seragam putih yang dipakai Jin terlihat bersinar. Namjoon bengong, terhipnotis oleh senyuman manis sang dokter. Jin menyibak rambutnya kebelakang dan mendadak waktu menjadi melambat. Entah muncul darimana, lantunan musik harpa dan piano yang berjudul 'River Flows in you' milik Yiruma terdegar. Lagu itu mengiringi setiap gerakan lambat tangan Jin yang menyentuh rambut panjangnya yang berkilau.

"Angel!" ucap Namjoon terpana, ia memejamkan mata menikmati alunan musik dan hangatnya mentari.

"Namjoon-ah Gwenchana?!" tanya Mrs. Kim Khawatir melihat Putera tunggalnya melamun dan menyebutkan kata malaikat. Ia takut yang dimaksud Namjoon adalah malaikat yang bisa membawa pueranya pergi. "Namjoon-ah!" Mrs. Kim memanggil puteranya sekali lagi.

Namjoon membuka mata dan seketika Jinnya hilang. ia tengok kanan kiri tapi hanya melihat ibunya. "Eoma? Dimana malaikat tadi?!"

"Namjoon-ah!~" Mrs. Kim memeluk puteranya menangis "Gwenchan! Gwenchana! Eoma ada disini bersamamu!"

Namjoon mengerutkan kening melihat tingkah aneh ibunya. Memikirkan kata aneh ia justru merasa aneh dengan kejadian barusan yang ia alami. 'Aku Pasti mimpi!' ucap Namjoon dalam hati.

Sementara itu seorang dokter magang berjalan mengikuti Jin dalam kebingungan. "Apakah Pasyen tadi mengalami semacam traumatik dok!? Dia terlihat melamun dan tatapannya juga kosong seperti menatap sesuatu dibelakang dokter Jeon!"

Perawat disebelahnya berfikir "tapi kemarin pasyen Kim Namjoon masih baik-baik saja!"

"Mungkin dia sedang memikirkan perusahaanya! Kalian tak lihat Tab yang berisi grafik pasar saham yang ia pegang tadi?!" Jelas Jin menjelaskan hipotesisnya. Membuat para dokter dan perawat dibelakangnya mengangguk faham.

.

.

-RT-

.

Kingdom Mall

Flash back

Setelah Jungkook belanja bahan masakan untuk mengisi lemari pendinginnya, mata Jungkook tak sengaja menatap sebuah giwang dengan gantungan sebuah bintang kecil berwarna merah. Itu terlihat simpel, manis, dan lucu. Ia membayangkan seorang gadis cantik dengan perawakan mungil akan cocok dengan aanting tersebut.

Tak lama kepergia Jungkook, Tae yang baru pulang dari peramal langsung pergi ke Mall. Matanya terus mencari, sampai apa yang ia cari ketemu barulah Tae tersenyum lebar. Benda itu, anting jenis giwang dengan bintang kecil berwarna merah menggantung di ujungnya.

"Waaa Cantik! aku tak tau ada jimat secantik ini!"

"Selamat Siang Nona!" sang sales melihat arah mata Tae dan membawa display anting tersebut dalam kotak kaca untuk diperlihatkan pada Tae. "Anting ini adalah sebuah karya seni dari seniman lokal yang terbuat dari emas potih. Produk ini sangat ekslusif karena satu-satunya perhiasan dengan hiasan batu Almandine garnet diukir membrntuk bintang kecil, dengan teknik yang rumit dan produk ini hanya satu-satunya didunia yang sudah memiliki hak ciptanya sendiri."

Tae memperhatikan detailnya. "Wah ini sangat detail sekali! Bagaimana seniman ini membuatnya!?" Tae hanya menggumam kagum.

"Anting ini dibuat sang seniman dengan harapan bisa membawa pemiliknya pada cinta sejatinya!"

Penuturan sang sales membuat Tae terkejut. "Wah! Peramal Lee Guk Joo sangat hebat!" ia menggumam menutup mulutnya. "Berapa ini?!"

"Karena ini prodak eksklusif kami, kami menghargainya dengan harga dolar. Untuk anting ini memiliki harga $ 999.000,-"

"Heeee!?"

.

.

.

-RT-

.

Chapter ini lebih panjang. -_- Fiuhh...