.
.
-Red Thread-
.
.
Jimin memasukan segala macam barang yang berhubungan dengan mantan kekasihnya. Jimin tak bisa menyimpannya karena ia memang tak pernah suka melihat barang-barang yang bisa mengingatkannya akan hal buruk masalalu. Jimin bukan jenis wanita yang mudah terpuruk, ia tipe wanita yang mudah bangkit. Hubungannya sudah jelas berakhir maka ia juga berfikir untuk berhenti memikirkan Erik meski sulit. Tapi tak akan sesulit masa dimana orang tuanya meninggal bukan?!
Tae muncul dari pintu ia menatap tumpukan barang didalam kardus. "Sebenarnya daripada kau buang, lebih baik kau jual saja!" Tae memberi saran dengan mulut masih mengunyah apel.
Mendengar saran bodoh sahabatnya, Jimin mencibir, menatap orang mana yang meiliki pemikiran konyol. Taehyung yang diberi tatapan membunuh dari Jimin malah tersenyum dengan wajah bodohnya lalu pergi. Jimin membuang kardus berisi tumpukan barang ke dalam tempat pembuangan sampah. Jimin sebenarnya ingin membakarnya, tapi ia tak tau dimana ia bisa mendapatkan minyak. Lagipula apa jadinya kalau ia membakar sesuatu di dekat gedung, ia pasti akan terkena teguran dari security.
Jimin merebut gelas yang baru diisi air putih oleh Taehyung. Kali ini taehyung yang mencibir dan menatap Jimin seolah ingin membunuhnya. Jimin cuek dan bersandar pada dinding didekatnya. Jimin tiba-tiba berfikir tentang Jeon Jungkook yang ia robek bajunya, ia merasa bersalah dan malu. Dia merasa harus melakukan sesuatu sebagai permintaan maaf. Tapi jimin tak tau dimana ia bisa membeli pakaian yang sama seperti pakaian Jungkook yang ia robek. Bersama Taehyung, Jimin pergi ke mall terdekat. Toko barang mewah ada dilantai satu, mereka terus berjalan menuju deretan pakaian pria dengan berbagai merk. Jimin sedikit bingung melihat sebuah pakaian berbahan katun berwarna merah dan hitam. Ada dua corak yang mirip disana, Ia mencoba mengingat yang mana yang paling mirip dengan pakaian Jungkook yang ia robek.
Tae yang melihat sahabatnya bingung menunjuk salah satu pakaian yang Jimin pegang. Ia ingat betul setiap bagian pakain Jungkook yang sobek kala itu. "Yang ini!"
Jimin melihat Tae "Yang ini? Kau yakin?!"
"Aku bahkan bisa ingat begitu detile bahkan bagian mana saja yang kau sobek. Itu korban mabukmu yang paling parah Park Jimin. Kau harus memberinya langsung dan meminta maaf!
Jimin menunduk malu, menyalahkan dirinya atas kebodohan yang ia buat, ia bahkan menjambak rambut Jungkook. "Arghhh! Ini sangat memalukan!"
...
Tae yang baru kembali dari toilet melewati toko perhiasan yang kemarin dan matanya menatap anting itu penuh harap. Itu anting yang secantik harganya dan ia tak akan pernah bisa membelinya. Dengan uang satu juta dollar ia lebih memilih untuk membeli tanah dan membangun rumah di atasnya. Tae pergi mencari toko lain berharap bisa menemukan anting dengan gantungan bintang lain, tapi tak ada.
"Dari semua toko perhiasan disini kenapa tak ada yang memiliki anting dengan gantungan bintang merah selain si satu juta dolar itu?! Arhggg..."
.
-RT-
.
3 unit bus berhenti depan hotel. Pintu bus itu terbuka, membuat semua orang dari dalam bus keluar dan teriak bahagia. Akhirnya sampai Jeju. Mereka langsung masuk ke dalam hotel begitu Nayoung meminta seluruh staf masuk ke hotel untuk pembagian kamar. Tae membantu sekertarisnya membagikan kunci kamar dan tentu Tae mengatur agar ia bisa sekamar dengan Jimin. Tae tersenyum manis tak seperti biasanya dan memberikan sebuah kunci kamar Vip pada Direkturnya. "Panthouse, Vip Sir. Have a nice day!"
"Thanks!" ucapnya singkat dan langsung pergi bersama bellboy yang membawakan kopernya.
Yoongi heran kenapa ia dipisahkan sendirian padahal karyawan lain di lantai bawah. Yoongi tak pernah ikut Trip sebelumnya jadi ia berfikir jika pangkat tinggi memang diberi fasilitas baik. Tapi sungguh, kamarnya terlalu tinggi dan ia benci sesuatu hal yang tak efisien, meski ada untungnya juga, karena ia bisa menikmati malam berdua dengan Hoseok.
Tae cekikikan di balkon dengan Jimin. Tae bilang lw ia sengaja ngatur itu biar Yoongi naik turun lift yang lama untuk mencapai kamarnya. Tae tertawa sedangkan Jimin hanya mengangguk puas. Mereka tak sadar seseorang disamping balkon mereka sedang tersenyum mendengar pembicaraan mereka.
"Tapi aku jadi harus repot ke atas untuk menemui deirektur!"
Suara Jungkook dari balkon sebelah sukses membuat kaget Taehyung hingga kursinya jatuh, membuatnya terjungkal ke belakang. Balkon yang hanya dibatasi pagar besi membuat Jungkook dengan mudah loncat dari balkonnya menuju balkon sebelahnya untuk menolong Tae.
"Mianhae Kim-ssi! Aku tak bermaksud mengagetkanmu. Aku tak tau kalau kau akan sangat terkejut. Mian!" Jungkook membatu Tae berdiri. Tae terlihat meringis memegangi kepalanya yang membuat Jungkook merasa bersalah sekarang.
"Ani! Kamilah yang harus minta maaf karena terlalu kekanakan!"
"anio! Aku tau kalian hanya kesal. Aku akan meminta kompres. Kim-ssi tunggulah sebentar" Pinta Jungkook dan langsung pergi.
Jungkook segera kembali dengan sebuah kompres dan memberikannya pada Taehyung. "Maafkan aku Kim-ssi!"
"Ani! Gwenchana, ini hanya terbentur biasa."
Ini bisa karena kepala Taehyung memang sering terbentur karena kecerobohannya, entah itu terbentur pintu, ataupun lantai saat jatuh dari dari tempat tidur. Jimin datang dengan paper bag berisi kaos yang ia beli bersama Taehyung, kebetulan Jungkook disini maka Jimin memberikanya.
Seluruh staf makan malam dan diberi sambutan dari Yoongi. ia tak banyak bicara, hanya menyampaikan point-point penting dan kembali duduk. Hoseok yang mendengar itu mengatai Yoongi bahwa dia terlalu kaku. Jungkook hanya tersenyum dan matanya beralih menatap meja Jimin, dan tersenyum padanya. Tae yang melihat itu merasa ada sesuatu diantara Jungkook dan sahabatnya. Kini Tae duduk sendiri dekat taman, ia kesepian. keputusannya benar-benar salah karena memisahkan kamar direktur yang justru membuat direkturnya bahagia karena bisa berduaan dengan tunangannya. Taehyung Juga merasa Jungkook sedang mendekati sahabatnya. Ia bisa melihat mereka dari arah kolam, mereka sedang ngobrol dari balkon mereka masing-masing yang terlihat romantis dimata Tae.
Tae menghela nafas, ia tak ingin kembali ke kamarnya karena takut mengganggu moment sahabatnya. Sahabatnya harus memiliki seseorang yang bisa menghapus kenangannya bersama Erik bukan ?. Tae menatap bulan kemudian bertanya "Lalu siapakah pangeran bintang merahku?!"
Pagi yang cerah untuk mulai trip mereka, Jungkook sedah siap-siap dengan Yoongi yang masih terlihat kesal karena Hoseok baru saja pergi karena ada masalah kontrak di managementnya. Jungkook jadi merasa kasihan dengan bossnya.
Karyawan lain bermunculan keluar pintu hotel dengan t-shirt putih dengan bordiran bertuliskan IbigHit di dada kaos, selintas semua terlihat sama, rata-rata dari mereka mengenakan bawahan hot pants atau jeans, dan high hells yang membuat Jungkook menatap kaki gadis-gadis yang memakai heels. Jungkook berfikir bahwa mereka akan trip dan mereka mengenakan hells yang akan menyakiti kaki mereka. Namun seorang gadis dengan keluar mengenakan jeans hitam, kemeja pinstrips warna hitam merah, dan sepatu Creepers berwarna merah dengan sol berwarna hitam, membuat Jungkook tersenyum. Itu adalah Kim Taehyung, gadis yang terlihat fun dimatanya. Taehyung mengikat rambut lebatnya yang memperlihatkan wajah mungilnya, dan gaya berpakaiannya membuat ia terkesan imut dan berani.
"Kau serius akan mengekoriku kemanapun?!" pertanyaan itu muncul ketika Jungkook mengikuti Yoongi naik bis dan duduk diampingnya. "ini liburan Jungkook! Kau tak harus mengekoriku dan memenuhi seluruh kebutuhanku! Kau bebas sekarang, lakukan apapun yang kau mau huh ?!" Jungkook membeku di tempat duduknya, ini pertama kalinya bosnya terlihat risih ia ekori. Jungkook merasa tak enak, ia malah bingung, dan takut ia melakukan kesalahan.
"Haruskah saya pindah bus?!" Jungkook bertanya dengan hati-hati.
"Lakukan apapun yang kau suka Jeon jungkook! Ini liburan bukan kerja!"
Jungkook mencoba berfikir positif mungkin bosnya ingin sendiri, dan ya, Jungkook pergi dengan tasnya ke mobil belakang, ia masuk dan membuat semua orang menatapnya terkejut. "Apakah ada satu kursi kosong untukku?"
Jimin melambaikan tangan dan menunjuk kursi desebrang tempat duduk Tae dan Jimin. Jungkook tersenyum karena kebetulan ia bisa melihat dua gadis menyenangkan yang bisa ia ajak mengobrol.
Yoongi mencibir, melihat dua orang yang asyik memilih gantungan kunci beruang yang dimata Yoongi sama saja. Dibelakang Yoongi, ada Taehyung yang menatap Jungkook dan Jimin curiga. Ia berfikir mengenai ramalan Lee Hakseng tentenag Jimin. Seseorang yang selalu ada didekat Jimin dan selalu Jimin fikirkan. Seolah mendapat penerangan ia sadar sesuatu. Kim Jungkook adalah orang yang belakangan ini ada saat sahabatnya. Saat mabuk Jimin sering bertemu Jungkook secara kebetulan, Jimin selalu memikirkan pria itu, dan Jimin juga terlihat bingung memikirkan pakaian Jungkook yang dirusaknya, dan entah bagaiman, Taehyung tak sadar membuat kamar mereka bersebelahan hingga Jimin dan Jungkook jadi lebih akrab. Taehyung tersenyum penuh maksud.
"Jika Jungkook adalah takdir Jimin, maka aku perlu bertanya siapa orang yang selalu bersamanya setiap saat."
Taehyung menatap Jungkook seolah ia mencium mangsanya semakin dekat. "Siapa dia Jeon Jungkook?" Yoongi berbalik membuat Taehyung terkejut dan ia jatuh ke belakang. Yoongi yang melihat itu membantu Taehyung berdiri.
"Gwenchana?!" Yoongi lebih terdengar seperti menghina daripada bertanya.
Bukan! Bukan dia! Dia mungkin kaya tapi dia bukan pria yang baik. Tae menampik fikirannya. Seseorang yang 24 jam ada bersama Jungkook itu berarti Min Yoongi. "Gwenchana!?" Tae mengangkat tangannya mengisyaratkan kalau Yoongi tak usah khawatir.
Jin kembali kontrol pasyennya hari ini, dan ia sekarang sedang menuju ruang rawat Kim Namjoon. Baru Jin masuk, ia melihat pasyennya sibuk dengan banyak sekali tumpukan dokumen bersama pria yang lebih tua dari Namjoon. Jin yakin pria itu adalah asistennya, dan mereka sedang menjadikan ruang pasyen jadi kantor mereka. Jin menggeleng, 'Apakah semua keluarga IbigHit itu gila kerja?' Fikirnya.
"Selamat Siang Kim Namjoon-ssi!" Jin menyapanya mencoba tersenyum seramah yang ia bisa. "Anda terlihat lebih sehat dengan pekerjaan anda!" jelas itu kalimat sarkasme.
"Aku tak bisa membuat karyawanku kebingungan karena tak ada ceonya tak ada di kantor, dan aku juga tak ingin sahamku turun. Itu sama saja pertanda kalau aku ceo yang buruk." Namjoon menyanggahnya, ia berharap bisa memancing seberapa bodoh namjoon akan dikalahkan malaikat tak bersayap di depannya.
"Bagaimana bisa perusahaan akan lebih baik jika memiliki ceo yang bahkan tak bisa menjaga kesehatannya?!" semua mendadak diam, ini pertama kalinya perawat mendengar seorang kim seokjin berkata terlalu jauh pada pasyennya. "Aku tau kau mencoba yang terbaik, tapi dari laporan yang aku dapat kau sering lupa dengan obatmu dan lupa dengan waktu tidurmu karena pekerjaan."
Namjoon merasa kembali menjadi anak-anak, masa dimana ibunya memarahinya karena telalu banyak belajar. Ia memang terlalu menyukai sesuatu yang bisa membuatnya terus berfikir. "Sorry Miss Jeon!"
"Aku tak melarangmu bekerja! Hanya saja, ingat kesehatanmu tuan Kim Namjoon!"
'Ibu tak melarangmu belajar! Hanya saja, ingat kesehatanmu Kim Namjoon!'. Ingatan kata-kata ibunya terngiang kembali, membuat namjoon tersenyum. Memikirkan hal yang sedikit mustahil tapi nyata di depannya. Seorang gadis secantik malaikat yang bisa menghentikan waktu dan bisa membawa Namjoon pada masa kecilnya yang penuh dengan cinta ibunya. 'Dia harus jadi isteriku!'
...
Jin kehilangan akalnya, bagaimana bisa dia begitu kasar dengan Kim namjoon. "Apa aku tadi berlebihan?" tanyanya pada perawat disebelahnya begitu keluar ruang Namjoon. Perawat itu hanya memaksakan senyum. "Aku berlebihan!" ucapnya dan memukul kepalanya dengan pensil. Ia bukan orang bodoh yang tak tau pertanda apa yang membuat dirinya kehilangan kontrol. Itu cinta, sudah jelas. Tapi Jin terlihat tak peduli dan mengabaikan perasaannya. Dikepalanya hanya ada pasyen yang juga harus diberi cinta olehnya.
Selesai dari museum, mereka kini menikmati hiburan sambil makan malam. Berbentuk lingkaran ditengah-tengah ruangan itu membuat Taehyung memikirkan ide untuk bermain Truth and dare. Taehyung naik ke panggung dan memanggil semua staf.
"Guys! bagaimana kalau kita bermain truth and dare?! Truth and dare batle ship bagaimana?"
Banyak dari mereka yang setuju.
"Aku akan menjelaskan permainannya! Botol akan diputar dua kali dan dua orang yang mendapat giliran harus maju ke atas panggung dan memilih truth or dare. Jika memilih jujur kalian akan bertanya satu sama lain dan jika dare kalian harus melakukan apapun yang ada di dalam kotak challege ini. Yang kalah akan meminum satu botol beer besar, Bagaimana?"
"Setujuuuu!" teriak semua staf
"Kalau begitu semuanya yang ingin ikut berdiri melingkari panggung ini!" ketika memastikan semua sudah berdiri taehyung meletakan botol bear kosong tepat di tengah-tengah panggung. "Allright kita mulai!"
Botol berputar dan berhenti pada Jeon Jungkook yang berdiri disamping Jimin. "Ok! Jeon Jungkook-ssi! Ayo naik ke panggung" Tae memutar botol lagi, Jungkook terlihat gusar membuat Taehyung tersenyum. Dan botol itu berhenti tepat menunjuk sekertaris Taehyung, itu adalah Im Nayoung.
Nayoung berdiri berhadapan dengan Jungkook. "Truth or Dare?" tanya Taehyung dan dijawab Truth oleh keduanya. "Ok kalian mulai!"
"Jeon Jungkook-sshi katakan padaku apa saja yang kau benci dari Min Sajang!" tantang Nayoung dan membuat semua orang bersorak. Ayolah, semua staf tau betapa menyebalkannya Min Yoongi.
"Tidak ada!" dan semua orang jelas tak percaya.
"Miss. Tae! Dia berbohong!" tunjuknya pada Taehyung.
"Aku tak berbohong! Min Sajang orang yang baik, bagaimana aku bisa membencinya?" semua orang menatap Jungkook muak.
"Siapa yang akan percaya?!" Ucap Nayoung berharap ia akan menang dan memberi hukuman pada Jungkook.
"Jika aku membencinya aku tak akan kerja dengannya bukan?" jungkook mengawasi semua orang yang diam "Dan bagaimana denganmu Im Nayoung-ssi? katakan padaku apa saja yang kau benci dari Nona Kim Taehyung!"
"Banyak!"
"Yack Im Nayoung!" bentak Taehyung mengancam.
"Miss Tae selalu bertingkah aneh. Semua orang tau itu! Kim Jungkook apakah kau dan miss Park Jimin berkencan?!"
"Tidak!"
"Dia seperti pembohong!" Tunjuk Nayoung lagi pada audience. "Semua orang melihatmu dekat dengan Miss Park"
"Kami hanya berteman! Nona Im sendiri bekerja di HR cukup lama, pasti ada seseorang yang diam2 kau sukai. Katakan padaku siapa itu?!"
Nayoung diam, lalu mengangkat tangan "aku tak bisa mengatakan itu!"
Nayoung meminum beer itu langsung dari botolnya. Ia seorang alkolic, semua orang di team Hr tau itu. Nayoung dan Jungkook turun dari panggung. Taehyung memutar lagi botol itu dan berhenti pada Jimin. Jimin naik panggung dan sudah siap-siap memilih Trurth untuk mengalahkan siapapun, tapi yoongi tiba2 muncul dan botol itu berhenti di tempatnya. Membuat semua orang langsung memebeku. Tae meminta Yoongi naik panggung satu orang keras kepala dan satu orang gila kini berada dalam satu panggung, membuat semua penasaran apa yang akan terjadi.
Jimin dan Yoongi bertatapan. "Truth or dare?" tanya Taehyung yang sudah pasti tau jawabanya.
"Dare!" jelas mereka tak bisa memilih truth karena rahasia mereka.
"U~ dare~!" Taehyung mengambil kertas di dalam box dan membukanya. "Ini Ship!"
Yoongi mengerutkan kening bingung. "itu berarti kalian harus melakukan tantangan bersama dan jika kalah kalian bisa dihukum bersama!" jelas Taehyung yang langsung dapat anggukan dari Yoongi. "Kalian harus melakukan adegan Titanic. Adegan fenomenal dikapal."
Sontak semua orang bersorak. Jimin dan Yoongi saling tatap. Yoongi melangkah dan Jimin menggeleng.
"Aku tak bisa minum lebih dari satu gelas beer!" ucap Yoongi.
Jimin ingat kalau Yoongi punya penyakit jantung. Ini kesempatan Jimin untuk membunuh Yoongi bukan? Jimin menatap beer dan Yoongi bergantian. Jimin berfikir lagi, kalau Yoongi mati itu akan dipenjara karena ia tau Yoongi punya penyakit jantung, maka ia bisa dituduh sebagai pembunuhan berencana. Jimin menatap Taehyung "Kami akan melakukannya!"
"Kalian ingat naskahnya?!"
Yoongi menggeleng, Jimin Juga. Itu film lama, dan siapa yang akan mengingat-ngingat naskah adegan tersebut?. Taehyung Browsing dan menunjukan adegan tersebut. Jimin dan Yoongi meringis ketika melihat adegan ciuman di menit ke dua scene cut video tersebut.
"kami harus melakukan semua adegan scene cut ini?!" Yoongi menatap Taehyung tak percaya.
"Tentu saja!" jawab Taehyung. Ia belum melihat scene cut video tersebut.
"Yack! Kim Taehyung ada adegan ciumna disitu, bodoh!" teriak Jimin membuat semua orang tertawa.
Taehyung melihat Video tersebut. "Ups Mian! Kalau begitu sampai menit ke 1. Ingat! Kalian akan kalah Jika melakukan kesalahan lebih dari tiga kali!"
"Mwo?!" mereka berteriak bersama.
"ok?! Music!"
Instrument music My heart will go on milik Celine dion terdengar. Jimin memejamkan mata dan mencoba tersenyum. Semua orang bersorak ketika Yoongi mendekat dan mendorong pinggang Jimin.
"Hold on to the railing! Clouse your eyes, dont peek!" semua orang tertawa karena Yoongi mengucapakan sekenario tak selembut Jack, dia terdengar seperi bos yang memerintah bawahannya.
"im not!" kalai ini Jimin terdengar seperti protes.
"Step up the railing!,,, doyou trust me?"
"I trust you!" Yoongi mengangkat tangan Jimin dan memegang pinggang Jimin lagi.
"open your eye!"
"Im flying, Jack"
Mereka semua serius menahan tawa melihat dua orang yang beradegan tersebut. Hingga tiga kali adegan mereka tetap saja terlihat kacau.
"Harusnya tadi kita minum saja!"
"Kau ingin membunuhku?!"
"ne!"
Perdebatan mereka membuat semua orang diam. Mereka bertengkar seolah ada sesuatu dibalik kata-kata mereka.
"Aku ada penyakit jantung Taehyung ssi. Jadi segelas saja ya!"
Yoongi meminum hanya segelas, dan Jimin meminum satu botol, Jimin juga tak kuat minum. Baru gelas kedua semuanya terasa berputar, Jimin menghabiskan semuanya. Ia jelas tak bisa berjalan, jadi Jimin dibantu Yoongi. Jimin menatap Yoongi dan mengumpat membuat Yoongi melotot kaget. Taehyung membekap mulut Jimin
"Dia selalu mengumpat ketika mabuk!" jalas Taehyung.
Jungkook sedikit trauma dengan Jimin, jadi ia tak berani mendekat. Akhirnya Yoongi memutuskan untuk mengantarnya, sementara yang lain melanjutkan acara. Yoongi menggendong Jimin yang terlihat tidur, meninggalkan Tae yang khawatir melihat mereka. Taehyung memutar botol lagi. Jungkook yang akan menyusul mereka sudah terlanjur dipanggil Taehyung lagi.
Dan karena permainan Taehyung semuanya mabuk...
.
-RT-
.
Sinar mentari pagi menyilaukan mata Yoongi. Pagi ini tubuhnya terasa berat, tapi ia tetap harus bangu pagi. Yoongi memaksa untuk membuka mata. Jantungnya tiba-tiba sakit terkejut melihat seseorang yang tidur sebelahnya. Itu Park Jimin, dia tidur telanjang di kasurnya. Yoongi mengambil selimut di lantai dan menutupi tubuh Jimin. Yoongi memakai bathrobe lalu meminum obatnya dan mencoba mengatur nafas.
"Sial! Apa dia menggodaku lag?"
.
.
.
Tbc
.
Maaf mepet. Seharian aku disminor jadi baru bisa update skarang. aku yaki banyak typonya, karena aku langsung post.
